THE REASON [UNTOLD – Part 7]

February 25, 2014 at 11:17 AM Leave a comment

Title     :  THE REASON [UNTOLD – Part 7]

Author :  Anastasia (@keiichiro_nana)

Genre :  Friendship, Romance, Family

Rating:   AG (All Age) / T

Main Cast     :  Park Chanyeol, Park Nara, Jung Daehyun

Other Cast : Found them by yourself  :)

Noted: don’t forget to keep listening the songs ^^

Hari ini kampusku pulang cepat, karena ada beberapa masalah. untung saja aku sudah katakan pada Chanyeol kalau pulang bersama hari ini. jadi tidak perlu menyusahkan ketiga sahabatku itu. haha. tapi aku sudah setengah jam disini, ia tidak Nampak. Kemana dia-

“lho itu chanyeol? Mau kemana”  aku mendekatinya perlahan dan berencana mengagetkannya, “Untuk apa ia pergi ke tempat sepi seperti ini?”

Ia berjalan mendekati seorang gadis. Cantik. aku pernah melihatnya. beberapa kali tepatnya. Namun aku tidak bertanya pada Chanyeol siapa saja teman di kampusnya.

 

*Backsound: If You Loved Me – Zia ft Lee Haeri*

Gadis itu begitu senang melihat Chanyeol. Bukankah ia gadis yang waktu itu menggandeng Chanyeol? Akhirnya aku perlahan lebih mendekat agar bisa mendengar percakapan mereka. oke, aku hanya aman sampai batas ini. tidak terlalu jelas suara mereka. namun setiap inci gerakan, aku bisa melihat dengan jelas. Salahkan aku jika terlalu ingin tahu urusan Chanyeol. Tapi aku hanya ingin ‘cukup tahu’ saja tentang temannya. Aku jarang sekali bertemu apalagi mengobrol di kampus dengan Chanyeol. Hanya bersama jika berangkat dari rumah.

Gadis itu tiba-tiba memegang tangan Chanyeol, dan ia tersenyum. Mendekat, mendekat, sangat dekat, dan-

 

“astaga!!!” gumamku pelan

GADIS ITU MENCIUM BIBIR CHANYEOL!! APA-APAAN MEREKA?!
Chanyeol diam saja setelah di cium gadis itu cukup lama, dan ia tersenyum. CHANYEOL TERSENYUM! WHAT ARE YOU DOING PARK DOBI!! Gadis itu meletakkan tangannya di wajah Chanyeol,

“ia pergi~” aku bersembunyi semana yang aku bisa. sukses. Ia berlari ke dalam lingkungan kampus tanpa melihatku. Chanyeol masih saja di tempat yang sama. tatapannya lurus ke depan, tidak menengok ke arah gadis itu pergi.

Aku masih terus bersembunyi dan melihatnya dari sini. Astaga aku rasanya ingin sekali marah, mengamuk, memukulnya, dan bahkan menangis. HEY, ia bahkan belum pernah menciumku di area itu! paling mentok, ia menciumku di kening saja, dan itu aku sudah BERSYUKUR.

‘Kenapa kau biarkan wanita lain menyentuhmu sejauh itu? Kenapa chanyeol? Kenapa?’

 

Aku berbalik perlahan dan menjauhi tempat dimana aku berdiri, tak lama, aku berlari. Berlari secepat dan sejauh yang aku bisa. menahan tangis semampuku walaupun rasanya sudah sangat tidak terbendung. Aku terus berlari, berlari, dan berlari hingga akhirnya aku sampai di danau ini.

“tidak boleh menangis! kau kuat! Kau kuat!” ujarku untuk mensugesti diriku sendiri. Kuat Nara. kau harus bisa menahan emosi dan amarahmu.

 

“pakai ini” seseorang menyodorkan sapu tangan ke arahku, “jangan menangis”

“Aku tidak apa-apa”

ia jongkok di hadapanku dan menyeka air mataku dengan sapu tangannya, “stop crying”

aku mulai berhenti mengeluarkan air mata, dan menatapnya, “menangis bukan hal yang aneh”

“hmm, aneh melihatmu sedih, apalagi menangis”

“…”

“ulljimayo”

 

Sunbae skateboard!

Ya sekarang ia di hadapanku dan entah bagaimana ia berhasil mengusir semua sakit hatiku hari ini. walaupun tidak sepenuhnya. Tapi aku cukup bisa tersenyum dan mencoba ikhlas atas kejadian tadi. Heem, oke aku berbohong. Aku tidak ikhlas.

 

“oppa, gomawo” ucapku padanya. Namun seperti mayat hidup, ia terus melihat lurus ke danau. Aku menatapnya dengan perasan bingung harus bagaimana. aku ingin sekali menanyakan namanya. Tapi sayangnya aku terlalu takut untuk bertanya namanya karena sifatnya ini. sifatnya yang bisa menjadi sangat dingin saat ku tanyakan namanya.

“jangan cengeng!” ujarnya lantang dan membuatku kaget. Senyum di wajahku beranti rasa sedih lagi karena ucapannya barusan. Menyebalkan

“oppa boleh aku bertanya?”

“…”

“bolehkah?”

“tanya saja”

“apa kau membenciku?”

“maksudmu?”

“setiap kita bertemu, tatapanmu seperti tidak menyukaiku, bahkan aku pikir kau membenciku”

Ia berdiri dan menatapku datar. Apa aku salah bicara? Ia terus menatapku, dan kemudian memunggungiku, “aku tidak mengenalmu, bagaimana mungkin membencimu”

“ah namaku-”

“aku tidak tertarik mengetahui apapun mengenai siapapun. Lagi pula kau sudah terlalu sering menyebutkan namamu. Jangan berisik”

“kalau begitu siapa aku?”

“Nara. Park Nara. cukup?”

“belum”

“…”

“siapa namamu?”

“aku benci saat kau menanyakan hal sama”

“kan aku hanya ingin-”

“berhenti mengusikku”

“…”

“aku duluan”

 

Ia pergi menaiki skateboardnya meninggalkanku sendirian disini. aku hanya tidak mengerti apa maksud sunbae itu, dan mengapa sikapnya sangat tidak bersahabat padaku. Sebelum masuk Kyunghee pun, ia memang terlihat seperti itu padaku.  Akhirnya aku menangis lagi.

“hari ini aku mengalami beberapa kali mental breakdown. Lama-lama jiwaku terganggu jika kuliah disini terlalu lama”

 

*ddrrtt*drrttt*

“Chanyeol?”

Aku reject panggilannya dan memematikan ponselku. Aku masih ingin sendiri dan memikirkan cara bagimana bertanya masalah kejadian tadi tanpa aku harus marah ataupun emosi. Aku tahu ia pasti panik karena aku mereject panggilannya. Aku menangis,dan terus menangis. kalian bisa bayangkan perasaanku saat ini? hancur berantakan! Aku ingin menjadi gadis tegar. Tapi kenyataannya untuk menjadi tegar sangat sulit.

“jika aku mau tetap utuh, aku harus tenang dan berkepala dingin. Maafkan aku”

 

*DAEHYUN HOME*

Nobody home! Great! So cloudy, and I think it’s going~

 

*breeessshhh*

“HUJAAAN!!” aku berlari ke gazebo di rumah Daehyun walapun sedikiit basah, tapi bersyukur aku sudah di gazebo. Suasananya mengapa jadi sendu begini? Dimana kau Daehyun?

 

2 HOURS LATER

*breemm*breemm*

Di tengah tidurku, aku mengdengar suara motor memasuki rumah. perlahan ku buka mata dan duduk. Aku harus meluruskan kabel otakku dulu dan melihat siapa itu

“NARA!!”

Aku tahu itu siapa yang baru datang. Ku buka penuh mataku dan tersenyum melihat siapa yang datang. Ia berlari menempuh hujan dan langsung memelukku

‘I miss you so much my Daehyun’

 

Sekarang kami sudah di dalam rumah, dan aku juga meminjam baju Jessica eonni. HEY jangan berpikiran aneh. bajuku kan tadi basah, aku tidak mau sakit. jadi aku meminjam baju Jessica eonni.

Daehyun tersenyum di hadapanku sekarang. Senyuman dan tatapan mata hangat yang sama sekali tidak berkurang, apalagi berubah. Semua terlihat sama

 

“jika mau bertemu, aku bisa ke rumahmu, atau menjemputmu di kampus” ujar Daehyun sembari menyeruput teh hangatnya

“ah tidak apa-apa” jawabku, “sepi sekali”

“ada apa?”

“apanya?”

“Nara, I know you so well. You cannot hide your sadness in front of me. We-”

“have been friends for years”

“jadi, kau dengan hyeong ada masalah apa?

“jika ku katakan kau jangan tertawa ya”

“tergantung cara bicaramu”

“oke, aku tidak bicara”

“lalu bagaimana aku tahu masalahmu? Na neun minshik anirago!!”

“ah iya benar”

Daehyun menatapku dan menungguku bicara, “malhaebwa”

“aku tidak suka Chanyeol-”

“YAA!! KAU SELINGKUH?” teriak Daehyun, dan aku kaget dengan ucapannya

“YAA!! ANIRAGO! AKU BELUM SELESAI BICARA”

“haha, kau serius sekali bodoh” Daehyun tertawa. Dia selalu bisa merubah moodku, oleh karena itu aku tidak bisa jauh-jauh darinya. Uri Jung Daehyun.

“dengarkan aku”

“oke”

 

Aku menjelaskan tentang kejadian hari ini. beberapa hal yang membuat mentalku breakdown. Selain itu yang membuat aku hampir stress adalah Chanyeol. Saat ku katakan mengenai kejadian itu di luar dugaan Daehyun menggebrak meja ruang tamu begitu keras. Aku sampai kaget. Ia marah pada Chanyeol. Kau tahu matanya seperti ingin keluar, dan akhirnya aku menangis. aku takut pada Daehyun sekarang. Ia menyeramkan.

Tapi kalian tahu, ia bisa mengontrol emosinya. Ia tidak akan pernah membiarkan siapapun memarahi dan menyakitiku. Walaupun ia adalah Minho oppa. Kau percaya itu? Jika kau tak percaya, itu urusanmu sebenarnya. ia selalu menjagaku dengan sangat baik. hmm, Daehyun bilang aku harus bertanya. Namun kontrol emosi, jangan sampai marah dan emosiku meninggi pada Chanyeol. Jangan sampai aku pergi ataupun kesana-kemari untuk menenangkan hati. Aku harus selesaikan sendiri. Daehyun yakin bahwa Chanyeol setia padaku. Aku bahkan masih tidak tahu aku harus bagaimana menyingkapi masalah ini.

 

“Dae~”

“waeyo?”

“boleh aku memelukmu?”

“perlukah aku memberi jawaban?”

“…”

 

Aku langsung memeluk Daehyun erat. Sangat erat. Aku merasa sangat aman saat aku tahu ia di dekatku. Mungkin benar apa yang Minho oppa katakan dulu. Seharusnya aku memikirkannya, bukan malah marah-marah pada Minho oppa. Sudahlah, tidak usah di bahas. Sekarang pembahasannya adalah Chanyeol.

“Nara”

“apa?”

Daehyun menatapku serius, “memang hyeong belum pernah menciummu?”

“sering”

“di bibir maksudnya, haha” ujar Daehyun. ia tahu bahwa Chanyeol tidak pernah mencium bibirku. Kalau sudah tahu kenapa bertanya lagi? Dasar bodoh

“hmm, belum”

“hahaha-”

“memang kau pernah ciuman?” selaku saat ia tertawa, dan ia diam seketika

“ah itu” Daehyun berhenti bicara dan terdiam, “belum sih”

“Jung Daehyun kau begitu bodoh” aku menoyor kepala dan ia mengomel seperti biasa

“ah tidak juga, ckck”

“kau belum memiliki kekasihkah di kampusmu?” tanyaku dan ia tersenyum

“baru satu bulan kuliah. Jadi aku tidak mau macam-macam mencari pacar. Tidak ada yang menarik”

“aku yang paling menarik ya di hidupmu? Haha”

“haha mungkin”

“Daehyun” panggilku, dan ia menatapku, “kalau di pikir-pikir, kita tidak pernah pacaran ataupun ciuman dengan orang lain ya selama sekolah”

“aku menghabiskan waktuku bersamamu hingga-”

“bosan?”

“bukan. hingga kita benar-benar berpisah seperti ini” ujarnya dengan nada sedih, dan aku pun hanya bisa meunduk dan mengiyakannya

“ya kau benar”

“sejujurnya, aku kesepian tanpamu, Nara”

“aku juga”

 

*Backsound: Bad Oppa – Seohyun, Jessica, Tiffany*

Aku ingin sedikit bercerita sedikit mengenai persahabatan kami. Kami sudah sangat akrab saat pertama kali bertemu, dan tahun-tahun berikutnya. Aku merasa sangat aman jika di sampingnya, dan tidak terlalu tertarik memiliki sahabat lain Daehyun. hey kami tetap memiliki teman-teman baik lainnya. namun sahabat Daehyun adalah aku, dan aku adalah sahabat Daehyun.

Kami tidak pernah membicarakan cinta pertama, pacar pertama, ciuman pertama, dan lain sebagainya. Aku bahkan ragu saat itu aku dan Daehyun memiliki perasaan atau pemikiran aku  yang ku sebutkan tadi. Waktu kami hanya kami habiskan berdua untuk sekolah, belajar, bermain, di marahi, ribut, dan lain sebagainya. Semua orang tahu persahabatan kami.

Beranjak dewasa kami tetap seperti itu, hingga akhirnya Chanyeol datang dan aku harus menikah dengannya. Aku tinggal dan bersama dengan Chanyeol, namun  itu tidak merubah persahabatan kami. Hanya saja setiap berangkat dan pulang sekolah, aku sudah tidak lagi dijemput oleh Daehyun. Itu sudah menjadi tangggungjawab Chanyeol. Kami berusaha mengerti. Walaupun sebenarnya Daehyun dan aku ada sedikit rasa sedih dengan perubahan ini. ada rasa tidak terima. Namun kami harus bagaimana lagi?

 

Saat ini, kami berhadapan sambil terus menatap. Aku yakin, apa yang barusan kami bicarakan membuat kami sama-sama sadar. Sadar akan satu hal yang sebenarnya sudah kami rasakan bertahun-tahun lalu. Hal yang seharusnya sudah kami katakan, luapkan, dan jalankan.

 

‘cinta pertama Nara adalah Daehyun, dan cinta pertama Daehyun adalah Nara’

Akhirnya ku putuskan untuk pulang. Daehyun mengantarkanku sampai dekat rumah. Dengan langkah juntai, ku langkahkah kaki di tengah mendungnya langit sore. Di perjalanan pulang, aku terus memikirkan apa yang harus ku katakan pada Chanyeol. Aku hanya tak habis pikir kenapa cobaan begitu berat.

Dihadapanku ada seseorang yang tengah duduk dengan tatapan sendu. Ia terus terdiam dan sambil menggenggam ponselnya. Aura negatif seperti menyelimutinya

 

“Chanyeol” ujarku memanggilnya –suamiku-, dan ia langsung berdiri ketika mendengar namanya di panggil.

“NARA!!” ia berlari dan memelukku. Tubuhnya dingin sekali, “kau darimana?”

Aku hanya diam menanggapi pertanyaannya, “ponselmu mana?” tanyanya lagi, dan aku menunjukkan ponselku yang hampir ‘low-bat’, ia menatapku khawatir, “kenapa tidak menghubungiku?”

“…”

“kau tahu dari siang aku khawatir padamu! ku cari kau di kampus, di rumah, dan sekitar, kau tidak ada!! ponselmu tidak aktif! Kau ini kenapa tidak mengabariku? Tahukah kau khawatirnya aku padamu!?”

Aku tersenyum mendengar gerutuannya yang super, lalu menggandeng tangannya. Namun belum sempat aku berjalan ia menarikku kembali ke dalam pelukannya, “aku mohon jangan begini lagi padaku. Aku bisa gila tanpa kabar darimu. Jelaskan kau kemana?!”

“Ke rumah Daehyun ada urusan. Ponselku ‘low bat’, jadi ku matikan” ujarku sedikit datar. Aku yakin, Chanyeol sudah menangkap gelagatku yang aneh. aku sudah tidak mood jika harus ribut. Aku putuskan untuk diam saja sampai aku siap bertanya atau mood ku sudah baik

“ayo pulang” ujar Chanyeol dan aku mengangguk

 

Suasana sangat hening! Aku mulai tidak nyaman dengan keadaan ini. hmm, mungkin sebaiknya ku kerjakan dulu tugas-tugasku. Aku takut jika aku terus terbentur masalah ini, kuliahku besok berantakan. Aku harus bisa memisahkan masalah pribadi dan kuliahku. Kuliah mahal lho!

Ku buka laptopku, dan mulai mengetik kalimat demi kalimat untuk tugasku. Sebenarnya aku mengantuk dan sangat lelah. Namun mau tidak mau tugas ini harus selesai dan harus di kumpulkan besok.

 

“Nara, tadi kau kemana?” tanya Chanyeol. Aku mendengarnya dengan jelas, sangat jelas karena ia disampingku. Namun aku memilih diam. Chanyeol terlihat menunggu jawabku, namun aku sama sekali tidak menjawab

“mengerjakan tugas apa? serius sekali? Tanyanya sekali lagi, dan ya aku hanya diam

Ia berpindah duduk dan sekarang ada dihadapanku. Aku bisa melihatnya dengan sangat jelas, namun aku memilih mengabaikannya

 

“ada masalah di kampus?” tanya Chanyeol dengan tatapannya yang tajam. Aku akhirnya menggeleng pelan dan tetap fokus pada buku dan laptopku.

“Nara…” panggilnya. Aku tetap fokus pada apa yang aku kerjakan

“Park Nara dengarkan aku!” Chanyeol langsung merebut buku ku dan mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Aku melihatnya, melihat ia seperti marah karena diabaikan

Aku menatapnya tak kalah sinis. Kalian tahu bola mataku besar, jadi jika aku menatap seseorang tajam atau sinis, itu akan sangat terlihat.

“aku mau mengerjakan tugas besok dikumpul” jawabku datar dan aku kembali berkutat dengan laptopku, meskipun tanpa bukuku.

“aku akan membantumu hingga selesai, tapi kita harus bicara sebentar”

“jangan seperti bocah Chanyeol. Aku harus mengerjakan tugas. YAA!!”

Chanyeol menutup laptopku begitu saja. astaga aku belum menyimpan tugas itu!

 

“kau melihatya?” ujar Chanyeol. Matanya begitu merah saat menatapku. Aku tetap diam melihatnya seperti ini. Jika boleh aku ingin mengamuk, marah, dan menangis, “Nara?”

“…”

“kau benar-benar melihatku siang ini dengan-”

Aku berbalik dan memungguinya, “itu hakmu. Kau bebas melakukan apapun dan dengan siapapun”

“itu-”

“bukankah kita masih dalam tahap percobaan?” ujarku menyela bicaranya

“PERNIKAHAN BUKAN UNTUK PERCOBAAN NARA” bentaknya hebat. Aku tetap tidak berbalik

“…”

Chanyeol memelukku erat dari belakang dan aku melepasnya. Akhirnya aku menangis, air mataku tidak bisa lagi ku tahan. Aku ingin marah, tapi tidak bisa.

“maafkan aku Nara. maaf aku tidak bisa tegas padanya. Akan ku jelaskan semuanya-” Aku berbalik dan menatapnya, “ku mohon jangan menangis”

“kau pernah berjanji untuk tidak membuatku menangis. tetapi mengapa kau terus membuatku sakit dan menangis?”

“aku tidak bermaksud”

“aku tidak cukup baikkah untukmu?”

“aniyo Nara. tolong jangan bicara seperti itu”

“apa kau masih butuh yang lainnya untuk membandingankan aku?”

“PARK NARA HENTIKAN!”

“kau yang hentikan”

“…”

“Semua butuh lebih dari sekedar tegas. Kenapa seperti ini?”

“aku…aku…”

“jika kita tidak mungkin jujur mengenai hubungan ini, kau bisa menolaknya dengan cara lain bukan?? atau kau sengaja untuk mengiyakan?”

“tidak! bukan begitu, tapi-”

“KATAKAN!!”

Aku bisa melihat air mata Chanyeol jatuh, ku hapus air matanya dan tersenyum, “maafkan aku”

“aku hanya ingin hubungan kita berjalan sewajarnya. Pelan-pelan agar kita bisa mengerti satu sama lain. Apa itu salah?”

“ia hanya temanku! Ia pindah ke Amerika hari ini dan ia hanya ingin menciumku, pertama dan terakhir kali”

“mworagoo? hanya? Bertingkah seperti itu di depan publik dan kau bilang itu hanya? Woah Park Chanyeol kau keren sekali!”

“Nara-”

“berani bertaruh itu juga ciuman pertamamu kan?”

“…”

“kalian terlihat bahagia sekali tadi. Hebat! Chanyeol hebat sekali” aku bertepuk tangan keras sekali untuk menahan air mataku

Ku lepas cincinku dan ku berikan padanya, “jika di tahap ini kau masih ragu padaku, lebih baik kita mundur saja” ujarku datar dan Chanyeol terlihat sangat marah

“KAU INI BICARA APA!! NARA! PAKAI CINCIN INI!!” Chanyeol berusaha menyematkan lagi cincin itu di jariku dan aku terus menolak

“berikan cincin itu pada yang paling berhak menerimanya”

“KAU YANG PALING BERHAK NARA! NARA DENGARKAN AKU!!”

“kita belum terlalu jauh melangkah, ada baiknya dipikirkan lagi baiknya bagai-”

Chanyeol bersimpuh di kakiku dan menangis, “aku mohon!! AKU MOHON! AKU MOHON!”

“aku tidak bisa memberikan apa yang kau minta”

“kau ingin meninggalkanku? Hah! kau ingin lihat aku terlantar?”

“kau bisa kembali ke rumahmu yang dulu. Lebih nyaman”

“AKU MERASA NYAMAN DIMANAPUN, ASALKAN ADA KAU DISAMPINGKU! MENGERTI?”

Chanyeol bangkit, ia menyematkan kembali cincinku dan memelukku erat, “maafkan aku, Park Nara. kau istriku, hari ini, esok dan untuk selamanya”

“Nara bisa aku minta satu hal?”

“nee?”

“jangan pernah tinggalkan aku, jangan pernah berpikir untuk pergi dariku”

“aku tidak akan pernah pergi kemanapun, kecuali kau yang memintaku pergi. Jika itu terjadi, jangan pernah ingat aku di hidupmu”

Ia mengeratkan pelukannya, “bodoh. aku tidak mungkin sebodoh itu melepasmu!”

“…”

 

Hatiku masih sangat sangat sakit mengingat kejadian itu. Bagaimana tidak? Kau melihat sendiri suamimu bersama wanita lain. Mungkin jika kau jadi aku, kau akan merasakan hal yang sama. Tapi aku tidak mau ini terjadi pada orang lain. Aku berusaha sabar dan ikhlas karena aku ingin mempertahankannya. Aku teringat kalimat Daehyun,

‘jika kau mau mempertahannya, kau coba bimbing dia agar lebih baik lagi. Ada alasan mengapa ia berbuat demikian. Ia setia padamu, kau bisa pegang perkataanku ini. kalian hidup untuk dipertemukan, bersikaplah dewasa dan cobalah untuk menetralkan hatimu. Jangan sampai semua berantakan’

Jangan sampai kau berbuat macam-macam lagi, Chanyeol! Jika tidak, mati kau!

 

 

TO BE CONTINUE

Entry filed under: Chaptered, EXO-K, Family, FanFiction, Friendship, Indonesia, Kim Shin Yeong, Life, Romance, T. Tags: .

THE REASON [UNTOLD – Part 6] THE REASON [UNTOLD – Part 8]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,626 hits

Day by Day

February 2014
M T W T F S S
« Dec   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
2425262728  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: