100 Days of Love [Part 1]

July 5, 2013 at 12:13 PM Leave a comment

Title     : 100 Days of Love

Author : Anastasia (@keiichiro_nana)

Genre : Friendship, Romance, Family, Life

Rating:  AG (All Age) / T

Cast     :  Park Chanyeol (EXO-K), Kim Nara (OC)

Type    : Chaptered

Forever you, I’m coming to you soon.

Until the day we can smile face to face I want to protect you.

Love you love is the beginning of forever

(Juniel – Forever)

 

[AUTHOR]

“hei kalau jalan pakai mata!!”

“yaa!! kau yang pakai mata!!”

“sudah salah… malah…”

“kau yang salah!!!”

 

Nara dan Chanyeol adalah murid yang cukup cerdas disekolah mereka. tapi tidak cukup cerdas untuk meredam emosi yang mereka rasakan setiap kali berpapasan. Ketika upacara penyambutan kelas 1 SMP, mereka sudah bergulat hebat di lapangan dan membuat kehebohan di antara murid dan guru lainnya. Sejak saat itu hingga sekarang mereka terkenal sebagai ‘rival’ di sekolah, dan itu membuat hubungan di antara keduanya semakin buruk. Saat ini mereka tidak tau hal besar dihadapan mereka untuk menjadikan mereka dewasa.

 

“mau berkelahi? hah!” Teriak Chanyeol sambil mendorong Nara hingga terhuyung-huyung (?) “sini, kemari!!!”

“siapa takut!!!” Nara menendang kaki jenjang Chanyeol dan membuat Chanyeol meringis kesakitan

“eerrggh!!!” Chanyeol mulai marah dan mengangkat kerah leher Nara. jika sudah ribut, Chanyeol sering lupa jika nara adalah wanita, dan…

 

“hentikan!!!!”

“aduh sudah besar, masih saja ribut”

“kalian kapan dewasa?!” teriak Baekhyun (teman Chanyeol), begitu keras

“yaa!! sudahlah!!” beberapa murid melerai mereka. tapi semakin dilerai mereka semakin bringas “stop!!”

 

“appa!!!” “eomma!!!”

seluruh murid yang menyaksikan keributan Nara sontak menatap seorang anak kecil super mungil di bawah kaki jenjang Chanyeol dan Nara. keadaan menjadi super hening “bangapta…”

 

**BGM: OMG – Girls’ Generation TTS**

 

“heee??” syok teman-teman yang berada di pinggir lapangan

“hey itu apa maksudnya?” imbuh Baekhyun dari tepi lapangan “siapa appanya?!”

 

“mworagoyo???” Nara berteriak dan sedikit menjauh

“Nara… ini an.. anakmu? YAA!!!” Chanyeol berlari mendekati Nara meninggalkan anak tersebut yang hampir jatuh

“sembarangan!! aku masih original tahu!!” Nara langsung berkacak pinggang di hadapan Chanyeol “anakmu kali!”

“sembarangan!! aku masih disegel”

“lalu kenapa dia memanggilmu appa?”

“kan dia juga memanggilmu eomma?”

“tapi dia mendekatimu tadi!!”

“bukankah kau juga? hah!!”

 

anak kecil itu perlahan mendekati mereka dan terus menatap sedih Chanyeol dan Nara yang terus bertengkar  ”Kim Nara eomma!! Park Chanyeol appa!!!” ujar anak itu. ia tau nama mereka dengan lengkap dan membuat Nara, Chanyeol, Baekhyun, bahkan murid-murid syok mendengarnya

 

“hyaaah…..”

“woaaah!!!”

“Chanyeol… eottohkaji??”

“itu bagaimana??”

 

“woaah, ayo kembali ke kelas”

“woah gawat-gawat!”

“panggil ssaem!!”

“ssaem!!!”

seluruh murid termasuk Baekhyun berlari masuk sekolah karena cukup kaget dengan kehadiran anak kecil itu. sedangkan Chanyeol dan Nara tak bergeming melihat anak tersebut

 

“appa!! eomma!!!” anak itu berlari ke arah mereka dan mengangkat kedua tangannya, seraya meminta digendong

“Nara gendong tuh!”

“ya sialan! kenapa harus aku?”

“dia yang merengek kepadamu”

“cih! dia mirip denganmu itu!!”

“tidak! kau!”

“bukan! kau!”

“dia kan anakmu!!”

“enak saja, anakmu!!”

 

“aku anak kalian!!!” anak kecil itu teriak dan membuat syok Nara “jangan bertengkar” anak itu mulai menangis dan menunduk

 

“………” Nara dan Chanyeol menatap anak tersebut dengan sangat bingung

“eomma… appa…”

 

“berhenti memanggilku appa!!! Aku bukan appamu” ujar Chanyeol. Nara melotot ke arahnya seperti member isyarat utuk diam “cih… kenapa kau jadi marah padaku!”

“tutup mulutmu!”

“kenapa harus aku!!”

“………” anak tersebut hanya bisa diam mematung di hadapan kedua orang bodoh ini

“hyaah, sini kita cari orang tuamu”

“geurae! orang tuamu dimana??”

 

“didepanku!!!” anak kecil tersebut jadi galak dan menendang kaki mereka berdua “kalian orang tuaku!! Bagaimana sih!!”

 

“aduh sakit…..”

“sialan!! mau ku bunuh ha??” Chanyeol mengangkat kakinya hendak menendang anak kecil di depannya “yaa!!”

“Chanyeol hentikan!!” Nara menghalangi Chanyeol “kau bisa membunuhnya sekali tendang. Pikirkan sebelum bertindak!!” bisik Nara di telinga chanyeol

“anak ini mengesalkan!!” Chanyeol sudah uring-uringan tidak jelas, sedangkan Nara berlutut dihadapan anak ini dan tersenyum

“adik kecil, namamu siapa sayang?”

 

“Park hyunjo imnida” Jo, anak kecil itu, berkacak pinggang sama persis seperti Chanyeol dan membuat Nara cukup familiar dengan tingkahnya

“chanyeol.. oke ku akui, tatapan anak itu mirip denganku” bisik Nara di telinga Chanyeol

“tuh kan!!!” teriakan Chanyeol membuat Nara syok dan menjewer telinga Chanyeol spontan “ah sakit..”

“sssttt… tapi lihatlah tingkahnya!! mirip kau bodoh!!”

“hee??”
**BGM: Twinkle – Girls’ Generation TTS**

 

“ini serius chanyeol….” Nara terus menerus mengusap dahinya

“mollayo….”

“mana mungkin dia anak… kita..”

“arasseoyo….” jawab Chanyeol seraya paham maksud Nara

 

“eomma… appa…” anak ini terus saja menempeli Chanyeol. dan membuat Nara iba melihatnya. baru kali ini ia melihat sesuatu hal yang sangat sulit di percaya setelah rusaknya persahabatannya karena hal yang sepele dan kebodohan orang intern

 

“Nara….”

“Chanyeol….”

 

“uriga eottohkkaji??”

 

“You approached me with an unfamiliar face

Everything was taken from me by that first glance

I have changed, you have switched everything”

(Shinee – strange)

 

[CHANYEOL]

disaat aku ribut besar dengan Nara, datanglah anak kecil bodoh yang mengaku anak kami.

tak mungkin! bagaimana bisa!!

kedatangan anak itu membuatku dan Nara harus bolos sekolah dan berpikir di apakan anak kecil ini. kenapa ini harus terjadi pada kami di saat….

 

**TAMAN**

“dia tidur lelap sekali…”

“hmm….”

karena terlalu banyak berteriak anak itu, Jo, tertidur di pangkuan Nara. percaya atau tidak, aku dan Nara duduk berdampingan. hal yang sudah sangat lama tidak pernah terjadi. ya, sangat lama, hingga aku lupa kapan hal ini terakhir kali terjadi…

 

“hey bodoh, anak itu… bagaimana?” ujar Nara dengan wajah stres

“aku tak tau, idiot!!” aku mulai emosi dengan keadaan ini dan akhirnya mengeluarkan kalimat kasar. yang menjadi pikiranku adalah, bagaimana bisa dia menjadi anak kami kalau bersentuhan saja kami tidak pernah, apalagi… ah sudahlah…

 

“Yeolie….”

“apa?” eh? Yeolie? dia tak pernah memanggilku seperti itu lagi sejak…

“……….”

“waeyo?” aku mengerutkan dahiku dan ia tetap menatap Jo

“aku bingung….”

“anak itu, hmm, Jo. aku…”

“aku juga tidak tau Yeolie. kasihan jika ia kita tinggalkan. tak mungkin juga kan” ujar Nara ketika ia terus menatap Jo tertidur pulas

 

“mengapa ia bisa tau apa yang ku pikirkan, bahkan sebelum aku mengeluarkan kalimat itu. dengan siapa saat ini aku berbicara? Nara?” bathinku menatap wajah sedihnya. Apa aku tidak tahu bahwa ia sudah tumbuh dewasa?

 

“kalau di rawat??”

“kalau di rawat??” ujarku mengulangi kalimatnya

“bagaimana??”

“bagaimana??”

“ya kita merawatnya Yeolie”

“kita merawatnya…” aku menganguk, tapi… “mworago!!!” merawatnya? aku saja tak bisa merawat diriku “mana mungkin bodoh!!”

 

“appa dan eommaku tidak ada di rumah”

“appa dan eommaku juga tidak ada di rumah. keluar negeri beberapa minggu”

“……….”

“apa yang kau pikirkan?”

“nah, kita tinggal bersama!!!” ujar Nara serius “bagaimana?”

“kau.. kau gila?!”

“apanya??”

“kita… tinggal bersama?” Nara mengangguk dan tersenyum “bodoh! itu tak mungkin!!”

“ah iya ya” ujarnya pasrah “tidak mungkin” Nara menampakan wajah lesu, dan aku merasa janggal dengan wajahnya yang seperti tadi.

 

“appa… eomma…” Jo mengigau sambil memeluk bonekanya. dia sangat lucu ketika tidur, mirip Nara. ya dia benar, ada kami di dalam diri anak ini. tapi bukan berarti dia….

 

“kepalaku pusing ini” aku pusing memikirkan nasib anak ini, ergghh!

“kau punya ide yang lebih baik?” Tanya Nara, dan aku menggeleng

“bahkan aku terlalu kaget untuk berpikir!”

“hari ini, biar aku yang bawa ke rumah” ujar Nara sambil menggendong Jo di bahunya. tak ku sangka ia begitu.. peduli

“kau yakin membawanya pulang?”

“aku tak ada pilihan chanyeol. Jika ku tinggalkan hanya berdua denganmu, maksimal satu jam kemudian anak ini hanya tinggal nama”

“kau pikir aku sebodoh dan sekejam itu?”

“nee, geurae!”

“………”

“kita beli makanan dan susu untuknya dulu. kita patungan”

“patungan??”

“lusa aku baru dikirimi uang. jangan pelit” gerutunya dengan wajah yang begitu familiar

“baiklah….” aku mengangguk dan menatap Jo. Benar juga, jika anak ini hanya berdua bersamaku, aku berani bertaruh bisa lebih parah lagi kelakuanku. eerrgghh

 

“appa… eomma…” Jo tetap mengigau di pelukan Nara tanpa sekalipun membuka mata mungilnya

 

“Ya Tuhan, masa mudaku…” Nara menggelengkan kepalanya pelan sambil terus tersenyum menatap Jo

 

“Nara begitu perhatian… mengapa….” bathinku saat melihat Nara begitu sabar membelai rambut Jo “kau seperti itu?” kau bukanlah gadis yang seperti itu kan? bagaimana mungkin kau….

 

“Nara…”

“waeyo?”

“aku… aku akan tidur bersamamu”

“mworago!!”

“ah maksudku, di rumahmu”

“……..”

“setidaknya… Jo juga tanggung jawabku juga”

“kau yakin??”

“hmm…” ya antara yakin dan tidak. aku tidak mau dibilang pengecut. tanggung jawab tetaplah tanggung jawab. Setidaknya sampai aku merasa tidak bisa lagi menjaganya, ah tidak, menjagamu

 

@ NARA HOME

“appa ayo main…”

setelah bangun tidur, Jo sangat hiperaktif. rasanya ingin ku cekek saja dia!! ketika kami masih kecil & Nara berisik, pasti ia langsung ku tendang tanpa ampun!! lalu ia akan berlari dan menangis. errgghh

“panggil aku hyung….” gertakku padanya tapi ia malah berkacak pinggang!

“hyung aniragoyo. neo neun uri appa”

“kau…”

 

“hentikan Park Chanyeol!!!!” oke, lagi!! hampir saja aku menginjak anak ini jika Nara tidak menyadarkanku “kau bisa membunuhnya!!!” gerutu Nara sambil mengacungkan mangkuk yang ia pegang “jangan melakukan hal bodoh!”

“arasseo” ya ternyata maksud Nara adalah ini. sikapku yang tidak mudah ku kendalikan bisa saja membuat anak ini tinggal nama. Sepertinya harus ku rubah jika aku tak mau masuk penjara.

 

Jo syok mendengar suara keras Nara dan aku terus melotot ke Jo, matanya berkaca-kaca, namun tiba-tiba dahinya mengerut

“eomma!! appa nakal!!” gerutunya saat mengadu pada Nara “tuh, marahi dia eomma!”

astaga!! suaranya!! benarkah dia menganggap kami….

 

anak itu otaknya kesetrum listrik berapa ribu volt sih jadinya bisa begini. ku bawa pikachu saja biar ia bisa kembali seperti semula bagaimana ya? tapi ada tiga kemungkinan. pertama ia kembali normal, kedua ia cacat mental, dan terakhir ia mati seketika.

 

“Chanyeol… bawa Jo kemari”

“mau apa?”

“tentu saja makan”

“kenapa harus aku?”

“kau pikir aku bisa teleport?!”

“……..”

“sekarang CHANYEOL!!!”

“………..” aku menyeret Jo yang sedang asik memutar bola, dan membuat dia menggerutu hebat! Persis Nara!

 

“eomma… makan apa??” tanya Jo pada Nara. ia langsung berjinjit berusaha melihat apa yang ada di meja makan, dan membuatku tergelitik. dasar namja bodoh

“kau makan bubur sayur”

“aku tidak suka sayur!!!” teriak Jo, dan Nara menghela napasnya, lalu mencoba tersenyum dan  menekan amarah yang menumpuk. ia bisa melakukan itu? Waaw hebat!

“dulu aku juga tidak suka, tapi harus. kau juga harus makan, karena saat masih kecil kau harus banyak nutrisi yang baik”

“benarkah??”

“hmm…. umurmu berapa?”

“emm, empat”

“nah masih sangat butuh nutrisi”

“eomma dan appa makan apa??”

“kami makan mie instan. sudah makan buburmu”

“eomma….”

“DIAM DAN BERHENTI MEMANGGILKU EOMMA!!!” ujar Nara tegas, dan Jo bersembunyi di belakangku. seriously her face’s so…

 

“sini.. huuup” aku menggendong Jo ke meja makan “makanlah”

 

“Jo, berdoa dulu” Nara mengingatkan Jo seperti seorang ibu “dan kau Chanyeol, makan yang benar. habiskah makanan kalian!!!”

“nee!!!” kalimat itu… mulai lagi!

“ah kalau tidak habis?” Tanya Jo lugu dan Nara tersenyum. Kesan galaknya hilang saat tersenyum seperti itu

“kita harus bersyukur bisa makan. Jadi makanan jangan di sia-siakan”

“bersyukur?”

“di luar sana ada lho yang tidak bisa makan karena tidak punya uang”

“apa mereka tidak lapar?”

“tentu saja. mereka kelaparan, dan tidak tau mereka harus makan kapan. Sekarang kau harus menghargai makanan, dan bersyukur apa yang Tuhan berikan” jelas Nara pada Jo dan suksesnya Jo mulai memakan buburnya perlahan walaupun terlihat Jo tidak menyukai sayur sama sekali

“arasseo…” sahut Jo sambil terus memutar-mutar sendoknya sambil terus berusaha makan

“…….” Aku terus saja menyimak apa yang Nara katakan. Hahaha. Astaga

“jadi harus habis ya eomma?” imbuh Jo yakin

“betul. Jadi sekarang makan dan habiskan ya”

“nee, eomma”

 

“sekilas kami seperti sebuah keluarga” bathinku saat melihat Nara menggunakan celemek dan penjelasan Nara tentang makanan itu “ah! apa-apaan aku!!”

“hey bodoh, apa yang kau pikirkan!?” teriak Nara saat melihatku melamun. Astaga!

 

*GLEK*

“ah aniyo!!” next jangan melamun dihadapan Nara! bahaya

 

“Tuhan terima kasih atas makan malam ini, bersama appa dan eomma yang menjagaku disini. selamat makan”

 

*DEG*

anak ini.. aku dan Nara saling melihat karena ucapan Jo barusan.

Aku melihat guratan senyum terpancar di wajah Nara saat melihat Jo.

Are you really Kim Nara?

 

Even though you were smiling unenthusiastically.

On the other side of phone. You answered. Didn’t you?

When we started getting to know each other, even by just a bit

That kind of joy I’m feeling it. I will love you.

(Yui– I Will Love you)

 

**Next Day**

**Sunday Evening**

“aku mau menonton itu!!

“tidak boleh!!”

“mau, pokoknya yang tadi!!”

“tidak boleh! Masih kecil!!”

“eomma selalu menonton!!”

“kau belum boleh!!”

“errghh….”

 

Hari libur ini terasa bodoh, karena sedari tadi mendengar Nara dan Jo yang ribut masalah menonton acara tv. Kepalaku bisa pecah kalau begini!

 

“DIAAAM!!!” teriakku spontan, lalu merebut remote tv dan mematikannya, mereka diam tak berani melihatku

“….”
“apa tak ada kerjaan lain hingga kalian bertengkar masalah tv??” aku tau ini salah. Berteriak, memaki, dna berbicara kasar di depan anak berusia 4 tahu. tapi…

“…..”

“sudah kita ke taman saja!!” aku langsung menggendong Jo “Nara taruh remot itu!!! ayoo~” teriakku lagi saat aku melihat Nara ingin menyalakan tv lagi

“nee~ arasseo” dengan langkah malas, ia berjalan di belakangku. Sebenarnya aku tidak mau berteriak, tapi mereka sangat menyebalkan

 

“……..” suasana apa ini! hening sekali!!

 

**TAMAN KOMPLEK**

“Jo….” Tegur Nara pada Jo, dan ia mengerutkan dahinya

“……” Jo mengabaikan Nara dan langsung masuk ke dalam kotak pasir

“……” Nara terlihat kesal dengan kelakuan Jo “dasar!!!”

“apanya?” tanyaku pada Nara yang terus menerus menggerutu

 

“aku tak tau harus apa jika anak sekecil itu ngambek”

“cih! Kau kan dulu suka seperti itu” gerutuku saat melihat Jo ngambek pada Nara

“kapan!!!” tatapan kesalnya mengatakan ‘aku tidak ngambekan’, tapi sayang kau adalah pengambek ulung Kim Nara bodoh

“sering. Karena terlalu sering, setiap hari, hal kecil saja membuatmu marah!!”

“………” ia memalingkan wajahnya dan pasti sedang menggerutu, ya, kebiasaan

“tuh lihat saja sekarang.. dasar…”

 

“Nara…. Chanyeol…” tegur seorang namja, ia berjalan dengan tegap ke arah kami

 

“Bacon?” Nara sigap berdiri dan tersenyum melihat Baekhyun, teman kami

“wajahmu santai saja bodoh!” aku menoyol pelan kepalanya dan membuatnya mendecak kesal

“kau sedang apa disini??” tanyaku dan Baekhyun mengalihkan matanya ke serombolan anak kecil di ujung “mengajar anak-anak jalanan itu?” ia mengangguk dan tertawa

“hanya hari ini saja. Hyung sedang berhalangan hadir”

“memang kemana Kyungsoo oppa?”

“pergi menemui menteri luar negeri”

“oh…”

“ajari dia juga deh” ujarku sambil mengalihkan pandanganku ke Jo yang tersenyum melihat kami

“baiklah. Bawa saja ke sekolah. ahaha” ujar Baekhyun sambil menepuk bahuku

“yakin boleh?” tanyaku penasaran

“ssaem tidak punya pilihan kan? Hahaha”

“……..” aku dan Nara saling melihat dan mengangguk

 

“eomma….” Jo berlari ke arah, dan aku melihat sedetik wajah Nara merasa tidak suka di pangil eomma dihadapan Baekhyun. Namun ia tersenyum lagi

“apa Jo?”

“woaa, ini ya Park Hyunjo” Baekhyun berusaha menyamakan tinggi dengan Jo “annyeong Jo. Aku Byun Baekhyun. Teman appa dan eomma-mu”

“annyeong ahjussi… Park Hyunjo imnida” ujar Jo ramah, dan Baekhyun langsung memegang wajahnya

“apa aku setua itu ya Chanyeol?” Baekhyun melihatku dengan tatapan polos. Terkadang ia bisa begitu datar, ramah, bodoh, dan lain-lain “……”

“aigo bacon…”

“bhahaha, umur kita dan dia memang jauh, dan pantas di panggil ahjumma atau ahjussi” jelasku dan membuat Nara tersenyum

 

“ah Nara.. bisa bicara sebentar?” pinta Baekhyun dan Nara mengangguk

“Jo, kau ikut Chanyeol sebentar ya”

“eomma mau kemana?” Jo memegangi rok Nara seraya tidak suka Nara pergi. Dasar anak kecil, tadi saja mendiami Nara. ckckck

“aku ingin bicara dengan Baekhyun sebentar. Chanyeol hati-hati”

“nee~”

 

Nara dan Baekhyun berjalan menjauhi kami. Mereka akhirnya duduk di bangku yang letaknya cukup jauh dari tempatku sekarang. Namun masih bisa terlihat dengan jelas. Nara tersenyum semanis itu melihat Baekhyun. Dasar gadis bodoh

 

Jo terus menatap Nara dari jauh. Ia tidak mengalihkan tatapannya dari Nara

“hey, dia tak akan hilang. Matamu santai saja”

“eomma begitu ramah ke orang itu” celetuk Jo dan membuatku tertawa “tapi tidak ke appa??” imbuhnya lagi dan aku langsung berhenti tertawa “waeyo??”

mana mungkin aku mengatakan ‘aku dan Nara kan musuh bertahun-tahun’ atau ‘tak mungkin aku dan dia bisa seperti dia dan baekhyun’ “tak usah banyak Tanya. Jika mau lihat, ya lihat saja”

“appa payah!!” gerutunya dan membuatku sedikit kesal. Anak sekecil ini mengataiku payah “jangan berisik yaa”

“fiuuhh… sabar chanyeol… sabar….” Gumamku mensugesti diri sendiri agar relax dan tidak terpancing emosi “ingat.. ingat…”

 

**15 minutes later**

“sampai kapan kau mau melihat dengan mata bodoh begitu Jo?”

“sampai eomma kembali kesini…..”

“merepotkan….”

“biarkan…”

 

Jo terus menatap mereka dengan wajah sedih. Awalnya aku tidak peduli, tapi Jo terus menatap Nara yang ku rasa tidak menyadari tatapannya sekarang. Apa yang anak ini pikirkan sih?

“apa yang kau pikirkan?”

“eomma tidak pernah tersenyum seperti itu kepadaku, appa”

“nee?”

“apa eomma marah padaku?”

“….”

“aku sayang eomma…”

“kalau masalah sayang sih aku tidak tau. Tapi aku yakin ia tak mungkin marah padamu Jo”

“….”

“jangan tunjukkan wajah begitu padaku!”

 

“Nara eomma sangat cantik ya tersenyum seperti itu”

“anak kecil, tau apa tentang cantik!!”

“di drama yang di tonton eomma, setiap ada gadis yang tinggi, putih, kurus, dan tersenyum, eomma selalu bilang ‘aigoo yeppeoso’ berulang kali” ujarnya jujur sambil menirukan gerakan heboh Nara dan membuatku geli. Nara memang wanita yang tidak pernah bohong perihal kecantikan seorang gadis yang lebih cantik atau lebih hebat darinya “cantik itu apa sih appa?”

“hmm… suatu saat kau akan belajar sendiri apa itu cantik. arasseo?”

“……”

 

**3 Days Later**

sudah 4 hari ini aku tinggal dirumah Nara dan sama-sama menjaga Jo. setiap pagi sebelum sekolah, dan sepulang sekolah ia selalu memasakan kami berbagai masakan. Selain itu mencuci, mengajari Jo membaca dan menulis, dan kegiatan-kegiatan yang biasanya eomma ku lakukan di rumah. ia seperti ibu rumah tangga. tapi…

 

**NARA HOME**

@ Balkon Depan

Nara tertidur di kursi, mungkin ia kelelahan mengurus urusan sekolah dan rumah. tak ku sangka anak manja ini sudah berubah. anak manja yang jika pulang sekolah selalu minta gendong dan minta peluk, ia sudah mulai dewasa. dan menjadi ibu? ayolah, umurnya…

“kau akan menjaga Jo?” ujar Nara tiba-tiba dan membuatku kaget

“ha?” aku gelagapan karena pada saat ia menegurku aku sedang fokus melihatnya “ma.. maksudmu?”

“saat ia mengatakan ‘eomma’ padaku, entah mengapa, aku menyukainya. aku merasakan….”

“sesuatu yang berbeda??” ujarku menyela dan ia tersenyum. Jujur aku juga merasakan hal yang sama saat Jo memanggilku appa

“selama beberapa hari ini, kau lihatkan Chanyeol. dia begitu manis, penurut, rajin belajar dan membantuku. nampaknya ia benar-benar menganggapku eommanya”

“si Suho saja tidak menurut”

“mana mau oppa menurut padamu!!! dasar bodoh!!”

“…”

“aku tak tau harus bagaimana Chanyeol. bagaimana mengatakan kalau aku bukan orangtuanya”

“….”

“aku takut anggapan orang terhadapnya bisa membuatnya sedih”

“…”

“bagaimana ya hidupnya?”

“kau punya kehidupan juga. tak seharusnya kau menjaganya, dan maksudku, kita tak wajib menjaganya. kita serahkan ia pada pihak yang berwajib”

“….”

“jika kau terus menjaganya, kapan kau akan punya pacar dan menikah? semakin lama ia semakin besar dan memilki cerita tersendiri”

“he?” ia syok dan memalingkan wajahnya dariku

“semua orang akan mengira, Jo anakmu” ujarku lantang dan ia hanya diam menatap langit hitam

“Chanyeol…” Nara bangkit dari duduk santainya dan menatapku “jika memang ada yang mencintaiku dengan tulus, ia tidak akan melihatku dari sisi ‘punya anak’ saja. Ia pasti akan melihat hatiku”

“………”

“jika tak ada yang menyukaiku, kan aku bisa menikah denganmu”

“……..” what the…

“bukankah kau juga mulai terbiasa dengan Jo? mulailah terbiasa lagi denganku”

“mworagoyo??”

“hahaha…. Just kidding”

“………”

 

**NEXT DAY**

‘jika tak ada yang menyukaiku, kan aku bisa menikah denganmu’

‘bukankah kau juga mulai terbiasa dengan Jo? mulailah terbiasa lagi denganku’

 

“ah mikir apa aku!!” sejak ia mengatakan kalimat itu, aku terus saja memikirkannya “dasar bodoh!!”

 

“siapa yang bodoh appa?”

“woaah!!” Jo sudah tepat di sampingku dengan mata tajamnya dan membuatku syok

“waeyo??”

“Jo-ya, kau sedang apa disini.. eh?” anak ini tiba-tiba naik ke pangkuanku dan menyandarkan kepalanya di tubuhku “ada apa Jo??”

“appa….”

“hmm…”

“aku mengantuk”

“dikamar saja sana, panggil eomma” ujarku sambil mengelus rambut tipisnya

“woaah… eomma??” bocah ini mengerling dan membuatku sadar atas ucapanku barusan ‘eomma’

“eh itu, emm, iya. cari Nara noona dan….”

“appa~”

“nee?”

“eomma membenci kita ya?” aku kaget dengan kalimat Jo yang terkesan menyudutkan “ia selalu saja membentakku dan appa”

“….”

“ saat ia membentak appa, seperti monster, huaaaw! dan saat berteriak ‘CHANYEOL!!!’ wajahnya seakan-akan ingin meledak”

“ppfft….” aku menahan tawa atas ucapannya. ia begitu ekspresif, jujur, dan lucu. pantas Nara begitu menyayanginya “hahaha…”

“ia selalu marah-marah”

“iya benar…”

“tapi….”

“tapi apa?” aku diam menatap matanya

“pelukan eomma, senyuman eomma, dan tatapan eomma, sangat hangat. eomma, jeongmal saranghaeyo”

“begitukah?”

“appa juga menyayangi eomma kan??”

“nee?” aku kaget dengan ucapannya barusan ‘menyayangi’ Nara??

“….”

“itu.. hmm.. eh?” tertidur? Jo sudah tidur ternyata

“anak ini kenapa habitnya sepertiku” gumamku melihatnya benar-benar tertidur di pangkuanku

 

tunggu… menyayangi Nara?

tidak pernah terpikirkan sebelumnya tentang ini.

mana mungkin… tapi apakah iya?

 

“Chanyeol??”

“tidak! tidak!”

“kau ini kenapa??”

“Nara? aigoo~ jantungku berantakan!!”

“iya ini aku. errghh….”

“sampai kaget aku!!”

“Jo tertidur??” ujarnya santai dan aku mengangguk pelan “biar ku pindahkan ke kamar” ia menggendong tubuh Jo sangat hati-hati “dia mengantuk sekali sepertinya”

“Nara…”

“waeyo??”

“aniyo… sudah, taruhlah Jo di kamar”

“…”

“kau istirahat saja. baju biar aku yang mengangkat dan menyetrikanya”

“kau serius??”

“nee”

“kau yakin bisa melakukannya?”

“aku juga pernah membantu eomma di rumah”

“hmm… baiklah” ia berjalan menuju kamar dengan hati-hati

 

“apa yang ku pikirkan sebenarnya” gumamku menatap jarum jam yang terus saja berputar

 

** 3 hours later **

ini pertama kalinya aku mencuci dan menggosok baju sebanyak itu! sangat amat lelah ternyata!! yap! semua baju sudah ke setrika. kecuali underwear Nara. astaga!!! mimpi apa aku hingga jadi begini. dan harus melihat sesuatu itu. ayolah…

 

“Chanyeol?”

“aaaaa!!!”

“waeyo!!??”

“kau!! cukup mengagetkanku hari ini Kim Nara~” aku membentak hebat Nara dan ia terlihat syok. bukan karena bentakanku tapi teriakanku sebelumnya “ah ma.. maaf”

“tak apa-apa Yeolie” ujarnya sambil memisahkan baju Jo “kau ada apa hari ini??”

“tidak apa-apa” ya kurasa, tidak apa-apa “ah Nara, maaf pakaianmu yang itu…”

“hahaha, kau tidak harus mengangkat yang itu bodoh” Nara tertawa kecil. ia mengambil underwearnya dan menaruhnya di bak cucian “terima kasih sudah menggantikanku hari ini” ujarnya ramah

“ya.. saling membantu” ujarku tanpa menatap wajahnya. aku merasa jantungku berdegup cukup kencang saat melihat wajahnya

 

“appa!!!!, eomma!!!”

“eh Jo sudah bangun. mau mandi??”

“tidak ah dingin”

“mandi bersamaku mau??”

 

*DEG*

man.. mandi? Jo bersama Nara?

ige mwoya!!!

 

“kau kan namja, mandi denganku saja!”

“eh?”

“appa kan jarang mandi sore!” gerutu Jo dan Nara tertawa keras, “bau!!!”

“bau ya??” ujarku datar dan ia mengangguk cepat, “nih bau!!” aku mengejar Jo mengitari Nara

“aaaa, appa!!!”

“hahaha, kalian hentikan~”

 

hari ini berakhir begitu saja.

rasanya begitu hangat.

akan tetapi….

 

NARA

** Few Days Later **

**Rumah Sakit**

Atas saran Baekhyun, akhirnya kami melalukan tes DNA.

Walaupun sebenarnya rasanya super kikuk, dan hmm, malu.

Kenapa hari ini laboratotium sangat penuh sih!!!

 

“bagaimana ini…”

“…”

 

“agassi~ silahkan isi formnya. jangan lupa nama ayah & ibu dari anak harus disertakan”

“nee, gamsahamnida”

 

nama ayah dan ibu Jo? bagaimana ini?

“Nara…. sudah?” tegur Chanyeol sambil menggendong Jo

“hmm.. ini…” aku memperlihatkan form dan chanyeol kaget. wajahnya seakan-akan bertanya ‘bagaimana ini?’

“ini apa, eomma??” tanya Jo dengan suara lantangnya dan membuat seisi lorong ini melihat kami

 

“ppsstt…”

“anaknya ya. aduh, psstt….”

“masih muda, ppstt….”

“psst……”

 

“mereka membicarakan kita!!” bisik Chanyeol dengan wajah paniknya

“isi nama kita saja??” tanyaku pasrah, dan Chanyeol mengangguk

 

“nama ayah: Park Chanyeol, umur?” tanyaku berbisik pada Chanyeol

“18 lah…” ujarnya santai “eh tunggu…” ia menahan pulpenku “tak mungkin anak umur 18 tahun punya anak umur 4 tahun” ah iya dia benar

“kita samakan saja, 26. how?” usulku dan Chanyeol mengangguk

“tua sekali sih. tapi ya sudah, begitu saja”

“Chanyeol, berarti kita bohong ya?”

“punya ide lain selain itu?” ujar Chanyeol menyudutkanku dan membuatku panik. Lalu aku menggeleng pelan “ya sudah tulis saja begitu”

“arasseo” aku mulai menulis data form “nama ayah: Park Chanyeol, umur: 26 tahun. nama ibu: Kim Nara, umur 26 tahun. nama pasien: Park Hyunjo, umur 4 tahun” gumamku saat mengisi form yang diberikan. aku gerah mendengar bisikan ibu-ibu di belakangku! Namun saat mengisis form itu, rasanya aku merasakan sesuatu yang berbeda

 

“agassi, sudah??” tegur suster tadi, dan aku menyerahkan formnya “umur kalian berdua 26 tahun, anak kalian 4 tahun?”

“nee~”

“wah walaupun sudah 26, kalian masih terlihat sangat mudah ya”

“ah nee, gamsahamnida~”

“baiklah, tunggu sebentar ya. duduk saja dulu”

 

“eomma, mau biskuit” ujar Jo manja. kenapa ia harus manja di saat begini!!

“dihabiskan ya”

“……….” Jo diam dan menatap kepingan biskuit di tangannya, seakan-akan mengatakan ‘kan aku belum tentu habis’

“Jo, makanan tidak boleh???”

“di sia-siakan dan di sisakan” ujarnya semangat menyauti kalimatku, dan sukses membuat ibu-ibu penggosip tersenyum melihat kami “mari makan….” ujar Jo lucu dan membuatku cukup bangga

 

“eomma…”

“ne??”

“appa centil!!”

“ne?” Jo menunjuk ke arah Chanyeol yang sedang berbicang dengan para ibu-ibu muda. hmm, rasanya aku juga tidak suka ia begitu. tapi wajah Jo membuatku sedikit segan untuk marah

“appa!!!” teriak Jo dan membuat Chanyeol kaget melihat kami “kemari!!” aku juga kaget mendnegar teriakannya yang spontan

 

“Jo-ya, Chanyeol-ssi, kalian bisa tidak, sehari saja. atau paling tidak disini, jangan ribut” ujarku pelan menatap mereka berdua

“arasseo….” campuran suara Jo dan Chanyeol sangat ‘manly’ terdengar di telingaku. this kid really like as Chanyeol when he was at this age

 

Both of you are so precious to me, even my friend who is next to you

But why is it you who happened to take everything?

Everything that I ever dreamed of.

Tears fall when I see you- I can’t have you but I want you

Why did you touch my heart?

(Infinite- Feel So Bad)

 

“Kim Nara, Park Chanyeol, Park Hyunjo, silahkan masuk” ujar suster dari pintu masuk, dan kami bergegas melakukan pemeriksaan

“kajja~” ujar Jo sambil menarik tangan kami semangat. mengapa Jo sangat exited hari ini?

 

**20 Minutes Later**

“silahkan datang 3 hari lagi. semoga hasilnya sudah selesai” ujar suster saat kami hendak keluar dari ruangan

“nee, terima kasih”

“bye Hyunjo~” suster itu mencubit pipi chubby Jo “hati-hati”

“bu~ bye~”

 

**perjalanan pulang**

Jo memainkan bola pemberian dokter tadi begitu semangat.

kau ini anak siapa sih? mengapa begitu lucu

 

“appa~ mengapa kita harus menghormati orang lain?” tanyanya tiba-tiba

“mengapa tanya begitu??” chanyeol menatap Jo dengan tatapan tidak sukanya

“tadi di ruang tunggu ada drama yang kalimatnya ‘kita juga harus menghormatinya’, itu maksudnya apa?”

“nee?”

Chanyeol menatapku datar seakan-akan ingin menendangku

“tadi ada suster yang menyetel drama” ujarku pasrah, karena ini bukan inginku menonton drama “bukan salahku”

Chanyeol tersenyum dan langsung menggendong Jo, “hmm, kenapa ya?”

“kenapa??” Tanya Jo lagi dan membuatku tersenyum dengan tingkahnya

“saling menghargai sesama manusia. ah tidak hanya manusia. kau juga harus menghargai binatang dan tumbuhan, bahkan benda mati lain” ujarku sederhana

“benda mati apa eomma?”

“ah iya, bagaimana ya menjelaskannya Chanyeol??” bagaimana menjelaskan pada anak berusia 4 tahun!! aarrgghh~

“hmm, begini” Chanyeol menghentikan langkahnya dan jongkok untuk menyeimbangi tatapan  Jo “bukumu, sepatumu, bajumu, rumah kita, sekolah, dan jalanan ini adalah benda mati. Walaupun begitu, mereka tetap harus??”

“di hormati….”

“goodboy….”

“dan satu lagi, menghormati orang yang lebih tua dari kita itu sangat wajib. ingat ya…”

“seperti appa, eomma, Baekhyun ahjussi, Seo ahjumma, ahjussi di mini market, noona di restaurant bubur, lalu….”

“Jo, intinya kau harus bisa menghormati siapapun. Bahkan jikaa ia masih bayi sekalipun. Paham?”

“oh begitu ya. nee, arasseo”

 

ku rasa ia anak yang sangat cerdas. orangtua kandungnya pasti bangga padanya.

semoga aku memiliki anak seperti Jo suatu saat nanti.

tapi kenapa aku merasa sedih ya?? it just can’t explain

What if we couldn’t see him anymore. it would be a bad day maybe…

 

You come into me, faintly, shyly, you come upon me

You softly shake me, as usual, connected through the memories

Again and always, I’m living in longing

Already, already, I’m locked up in the memories

(Infinite – In The Summer)

 

TO BE CONTINUED

 

yuuk di comment :3 :3 

Entry filed under: Chaptered, EXO-K, Family, FanFiction, Friendship, Indonesia, Life, Romance, T. Tags: , , , .

THE REASON [UNTOLD – Part 3] 100 Days of Love [Part 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,956 hits

Day by Day

July 2013
M T W T F S S
« Jun   Aug »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: