[FREELANCE] The Unexpected – Part 3

February 12, 2013 at 2:53 PM Leave a comment

the unexpected cover

  • Title/Judul                 : The Unexpected – A Zayn Malik Love Story
  • Main Cast/Pairing     : Zayn Malik and you as Lia
  • Author                        : RAR. [@rurimadanii]
  • Genre                          : Romance
  • Rating                         : PG-13
  • Length                        : 6 chaptered
    • Disclaimer                  :
      Original buatanku sendiri tapi, zayn dan 1D punya ibu mereka masing-masing😆 Terpublish di blog saya dan Alhamdulillah banyak yang ngaku nangis baca ceritaku ini. Sebelnya, sempet diplagiat sama orang dan sampai sekarang belum izin sama sekali sama saya. Ohya, setel lagu yang sedih-mellow-galau ya biar suasanya semakin mendukung buat menitikkan air mata. Komen/mention ke twitter saya gimana reaksi kalian baca ini. Saya butuh kritikan untuk mengukur gimana kemampuan saya😀

 

(—-0—-)

31 Desember 2011 | 05.30 p.m.

“Lia? Li, wake up! Wake up!” bisik seseorang dengan suara.. amat kau kenal. Sangat kau rindukan dan sangat kau nantikan. Yeah, Zayn di sini. “Li, wake up! C’mon! Wake up, Li!” katanya lagi seraya mengguncangkan tubuhmu. Membuatmu terbangun dari awang-awang dunia mimpi. Sebentar.. mengapa suara itu tiba-tiba berubah? Berganti menjadi suara orang yang kau kenal, tapi bukan Zayn. Suara itu terdengar lebih berat bahkan sekarang semakin jelas berbeda dari suara lelaki yang kini sedang kau nanti.

Tapi.. Siapa? Siapa orang lain selain Zayn yang mengenal kau di sini?
Siapa? Siapa orang lain selain Zayn yang menyapamu di sini?
Siapa? Siapa orang lain selain Zayn yang kau kenal dekat di sini?
Siapa? Siapa orang lain selain Zayn yang selalu membuat janji di sini?
Siapa? Siapa orang lain selain Zayn yang selalu menemuimu di sini? Tepat di hari dan jam ini?
Siapa?

Kau heran siapa gerangan itu. Orang dengan suara berat yang masih mengguncangkan tubuhmu. Orang yang terus-menerus menyebutkan namamu. Orang yang kau sangka sebagai Zayn.

Perlahan kau buka kelopak matamu yang tertutup. It’s already 05.30 p.m. dan itu berarti kau telah menunggu Zayn selama setengah hari ini. Bagimu waktu menunggu Zayn tidaklah penting. Yang terpenting adalah kau akhirnya bisa bertemu dengannya. Karena kau percaya kata-kata yang pernah ia lontarkan “It’s not about how long I’ve waited you. It’s all about you. If I have to wait for many hours to meet you, then I’ll do.” Sebuah kalimat yang ia ujarkan ketika ia menanti kehadiranmu di sini. Tetapi kau yang saat itu terhalang orangtuamu akhirnya menemui Zayn lima jam kemudian dari waktu yang kalian sepakati.

Setengah hari ternyata kau lalui dengan tidak sengaja tertidur di bangku tempatmu duduk. Memimpikan masa-masamu bersamanya, bersama orang yang mengisi lembar-lembar kosong hidupmu. Tapi seketika, ketika suara itu datang.. mimpi itu kandas. Berubah menjadi sesuatu berwarna hitam dalam benakmu. Hitam dan kelam. Menyiratkan hal buruk yang berbekas di fikiranmu.

Hingga akhirnya, manikmu mengerjap melihat bayangan orang yang masih terlihat samar di sampingmu. Kau masih berusaha mengakomodasikan matamu kembali normal, sedangkan bayangan itu makin berbentuk seiring dengan getar suaranya yang kian tertangkap jelas oleh telingamu.

“It’s me, Liam.” Ujarnya singkat dengan nada panik dalam ritme suranya.

“Liam..? Why are you here?” tanyamu lemas masih dengan kesadaran manusia yang baru saja bangun dari tidur. Dialah Liam-teman Zayn-yang telah mengguncangmu tadi. Kau baru sadar sepertinya Liam tengah menyamar. Dengan topi-yang menutupi seluruh rambutnya, kacamata nerd dan syal tebal, sepertinya sukses membuat orang yang berlalu-lalang tak menandai kehadirannya. Ia adalah salah satu personil 1D-bentukan X-Factor, dimana boyband tersebut sedang naik daun dalam kancah perindustrian musik dunia. Boyband yang memasukkan Zayn sebagai salah satu personilnya-juga. Yeah, Zayn mencapai puncak kesuksesan karir keartisannya melalui itu.

Tapi ia.. ia masih selalu ada untukmu. Tak peduli sesibuk apa dia. Ia masih menepati janji itu. Bahkan mungkin, kaulah yang terlewat egois. Selalu memikirkan diri sendiri, tanpa memikirkannya. Selalu menuntutnya ada untukmu, sedangkan jika ia membutuhkanmu kau tiba-tiba saja menghilang. Terhanyut dengan kesibukanmu sebagai mahasiswa universitas. Kau sadar. Kau salah. Sial, mengapa kau baru sadar hal itu sekarang?

“Li, getting your conscious first! Zayn! Zayn.. Zayn..” ucap Liam mengakhiri kalimatnya tergagap. Ketika nama malaikat pelenyap kekelabuan hidupmu disebut, kesadaranmu langsung pulih 100%. Mengaktifkan seluruh syarafmu, meningkatkan tekanan darahmu dan membuat gemuruh hebat di dadamu.

“What? Where is he?” tanyamu panik. Ia tak menyahut pertanyaanmu. Liam hanya memandangmu penuh arti dengan raut mukanya yang terlihat sedih. Teramat sedih. Bekas tangisan terlihat membekas di kelopak matanya, membuat bagian bawah alat penglihatannya itu sedikit membengkak. Hidung mancungnyapun turut memerah. Memperjelas kesenduan yang ia alami. Ada apa dengannya? Apa hubungannya dengan Zayn?

“Zayn.. He.. Jesus, how can I tell you about that? God..” Gumamnya sendiri yang kian membuatmu lebih panic dari sebelumnya.

“Liam, be serious! Where is he now?” tanyamu lagi dengan rasa cemas teramat sangat yang tiba-tiba hinggap dalam hatimu. Sebersit pemikiran negatife-pun mengisi benak fikiranmu. Tapi semua itu berusaha kau tepis secepat mungkin. Karena kau masih yakin, bahwa Zayn.. tak kenapa-napa.

“Hospital..” jawabnya dengan nada setenang mungkin. Seketika kau gelisah. Salah satu organ tubuhmu mengalami keterjutan mendadak yang entah mengapa menjadikan perasaanmu tidak enak pada Zayn.

“Hospital? Is he sick?” tanyamu khawatir.

“No..” Jawab Liam pelan dengan hembusan nafasannya yang memberat. Seolah-olah ia menahan beban berat dan menyembunyikannya dalam kesedihan yang ia alami.

“Then?”

“..He.. He dead..” sontak kalimatnya membuat dadamu bergemuruh seru. Nafasmu tertahan. Kau tak percaya padanya. Tadi pagi kalian masih berkomunikasi. Kau masih dapat melihat mukanya, mendengar suaranya, tawanya, gurauannya.. Tapi, mengapa Liam tiba-tiba berkata seperti itu? Tidak. Dia hanya mempermainkanmu. Kau mencoba untuk menetralkan hembusan nafasmu yang tiba-tiba saja tidak teratur dan mulai meyakinkan dirimu sendiri bahwa Zayn.. baik-baik saja.

Tiba-tiba kau tertawa kecil. Tawa yang dipaksakan. Tawa yang menurut Liam sama sekali tak lucu. Tawa yang tiba-tiba membuat dadamu kian perih dari sebelumnya.

“Stop that nonsense, Liam. I still could talked with him just mor-”

“I’m serious, Li.” Sela Liam cepat. Membuatmu menganga tak percaya.

“…Zayn?” Kau menyebut namanya. Berharap kejelasan yang lebih baik dari Liam.

“He fell from floor and getting a serious injured in around his head. His cranium..” jelasnya singkat dengan suara tertahannya.. Lalu Liam melanjutkan.. “He can’t be helped.” Sontak jawabannya semakin menciptakan rasa cemas dan khawatir berlebih pada Zayn. Tidak, mungkin kau shock. Yeah, kau masih shock. Kau dapat memercayai perkataannya.

“You lie.”

“Do I look like telling you a funny story?” Tanyanya kesal.

“Bring me to him. Give me prove that you are not lying. Prove it to me, Liam.” Pintamu serak. Liam tidak menjawab permintaanmu. Cowok itu lalu meraih tanganmu cepat dan memerintahkanmu mengikutinya tanpa berkata apa-apa lagi.

Debaran dadamu semakin bisa kau rasa, pelupuk matamu tiba-tiba memerah menahan air mata, nafasmu mulai tercekat seiring dengan berjalannya waktu. Detik yang kau lalui bersama Liam bagai slow motion yang tidak kau inginkan untuk mencapai akhir.

Kau kehilangan kata-kata. Kau membisu. Kau speechless. Kau tak berbicara apapun dengan Liam. Meskipun hati kecilmu mulai resah dan khawatir. Tidak, hati kecilmu amatlah resah. Sama resahnya dengan fikiranmu. Dalam benakmu terisi penuh oleh sosok lelaki yang kau cemaskan keadaannya saat ini.

Kau tak mau punya akhir dengan Zayn. Kau ingin melanjutkan cerita bersamanya. Kau tak rela menutup lemabaranmu bersamanya. Pengakhiran ini sangatlah miris. Tidak, kau tak mau punya akhir yang seperti ini. Banyak yang belum kau katakan, kau lakukan dan kau rasakan bersama Zayn. Amat banyak.

Kau takut, amat takut. Menghadapi realita yang terjadi. Kau tak siap, kau tak kuat, kau tak rela. Kau masih membutuhkan sosok itu. Teramat butuh. Sosok yang selalu mengulurkan tangannya padamu. Sosok yang buatmu selalu bahagia. Sosok yang menjadikanmu seperti hari ini.

Kau butuh… Zayn.

Apa ia tega meninggalkanmu di antara janji dan kenangan yang telah kalian pilin?
Apa ia tega meninggalkanmu sendirian?
Apa ia tega memisahkan dirinya dari dirimu?
Apa ia tega mengabaikan perasaanmu yang harusnya hari ini tersampaikan kepadanya?
Apa ia tega membiarkanmu kembali ke masa surammu?
Apa ia tega membuatmu jatuh kembali dalma keterpurukan?

Setega itukah ia..?

(—-0—-)

31 Desember 2011 | 07.25 p.m.

Bau antibiotik menusuk hidungmu tajam. Dinginnya menggemertakkan tulangmu dan membuat bulu-bulu kulitmu meirnding. Entah mengapa suasana ini terkesan mencekam dan memacu jantungmu lebih cepat dari biasanya.

Kau masih menautkan tanganmu dengan Liam. Yang entah mengapa genggamannya semakin erat seiring mendekatnya kalian ke tempat yang kalian tuju. Tempat yang tidak kau inginkan. Sebuah tempat mimpi buruk yang sebentar lagi akan menentukan masa depanmu. Tanpanya atau masih bersamanya.

Selama perjalanan, satu diantara kalian tak ada yang membuka topik pembicaraan. Keheningan menyelimuti situasimu dengan Liam. Karena tercampur aduknya fikiranmu dengannya tentang berbagai hal. Hal yang membuat kecemasanmu semakin bertambah seiring dengan perjalanan singkat yang kau tempuh bersama Liam.

Hingga akhirnya, terlihatlah anggota 1D lain di sudut lorong dengan beberapa bodyguard yang bersiap di sekeliling mereka dan dokter yang baru saja keluar di sana. Sekilas, suasana yang menyelimuti mereka sama dengan raut yang ditunjukkan Liam padamu sampai saat ini. Raut kehilangan, kesedihan, kekecewaan.

“Lia? You are Lia, right?” Tanya Niall parau dengan air muka mirisnya. Kau menatap matanya dalam. Mata itu terlihat memerah, sembap dan sedikit bengkak. Sorot maniknya.. tak bisa tergambarkan. Sangatlah sendu di malam tahun baru yang harusnya diisi dengan tawa, bukan duka. Mimik dan bahasa tubuh Niall seperti mengisyaratkan kepadamu bahwa Zayn.. “Satisfied? Have you felt satisfied looking him gone? Ha? You even never besie him when he needs you! What a kind of friend of you?!” bentaknya dengan luapan amarah dari kepedihan yang ia alami. Kau terluka, hatimu tercabik, batinmu perih. Bukan karena ia membentakmu. Tapi karena kenyataan yang ia ucapkan. Kau baru menyadarinya di saat seperti ini. Momen-momen yang menurutmu bukanlah suatu lelucon lagi.

Kau bergeming, terdiam di tempat menatap Niall yang setelahnya ditenangkan oleh Louis dan Harry. Niall merupakan seorang yang terlihat amat terpukul di antara anggota 1D lain. Meskipun Louis dan Harry menunjukkan raut kesedihan yang mendalam juga.

Hatimu semakin kuat meyakinkan dirimu sendiri bahwa Liam tak berbohong. Dengan potret-potret fakta lain yang kau lihat sendiri. Mereka jelas terlihat sedang menduka. Kehilangan seseorang yang menurut mereka amat penting hingga membuat mereka terlarut dalam kesedihan yang mendalam seperti ini.

Tapi.. Tidak. Liam berbohong. Tidak.. ia tak berbohong. Tidak. Liam tak mungkin menipumu. Tidak. Mungkin ini masih lelucon mereka. Tidak! Fikiranmu amat kacau menganalisis hal ini. Hal yang benar-benar amat tak kau nanti kehadirannya. Sesaat pelipis kananmu sakit. Sakit karena terlalu memikirkan momen ini untuk mengambil kesimpulan akan apa yang sebenarnya terjadi. Tidak, ini terlalu pahit untukmu.

Liam menutup mulutnya rapat. Ia sama sekali tidak merespon perlakuan Niall padamu. Seperti patung yang tak berkutik dan bergeming di tempat. Hanya itu yang ia lakukan sekarang. Setelah dirasa cukup tenang, Liam lalu menunjukkan pintu di sebelah tempatmu berpijak. Ia mengantarkanmu ke titik jelas itu. Menyilahkanmu membuka pintu itu.. Memberimu kesempatan untuk menguak titik pokoknya. Ya, semua ada di balik pintu itu.

KRIEEET

Kau menyapukan pandangan ke seluruh ruangan yang berdominasi warna putih itu. Terlihat beberapa benda medis rumah sakit terletak di sana. Dan..

(Turn On the Avril – When you’re gone!)

Jantungmu hampir terlompat keluar..
Matamu membelalak lebar..
Rahangmu mengeras..
Tenggorokanmu tercekat..
Nafasmu tertahan..

Dan relung hatimu seakan terhantam benda berat dan meninggalkan pedih yang amat menyiksa.

Cowok yang kau nanti hari ini..
Cowok yang amat kau rindukan..
Cowok yang berarti segalanya bagimu..
Cowok yang telah merebut hatimu sejak lama..
Cowok yang merupakan malaikat hidupmu..
Cowok yang mencerahkan hari-harimu..
Cowok yang kau cintai..

Terkulai lemas di atas ranjang dalam kamar itu. Dengan perban putih yang membalut dahinya dan sebagian kepalanya. Diam, tenang, tak bergerak. Seakan ia tidak akan pernah bangun lagi. Tidak. Ia akan bangun. Kau amasih percaya ini semua lelucon. Meskipun nyatanya hatimu berkata sebaliknya, menghadapi pemaparan fakta di hadapan mata.

Perlahan kau langkahkan kakimu medekati ranjang tersebut. Setiap langkah terasa amat berat dan berjalan lambat bagimu. Kakimu bahkan bergetar hebat seiring jalan yang kau tempuh. Dan itu menyiksamu. Menahan semua perasaan khawaitrmu dengan kenyataan di hadapanmu, merupakan suatu beban berat yang tiba-tiba saja membuatmu seperti kehilagan tenaga untuk hidup.

“I told the truth, Lia.” Ucap Liam lirih yang berdiri di belakangmu bersamaan dengan semakin panasnya hatimu.

Manik hitammu menatap nanar seorang yang tertidur pulas di atas ranjang. Meneliti setiap inci mukanya tanpa melewatkan satu centipun. Namun, yang kau temukan di batinmu.. Malah sebuah rasa perih yang teramat, membayangkan segala cerita yang telah kau pilin bersama orang yang kau tatap saat ini.

Kelopaknya tertutup rapat, air mukanya menyiratkan ketenangan, alisnya terlukis tegas, bibir tipisnya menyunggingkan seyum samar yang selalu kau suka, hidung mancungya.. Tak bekerja. Alat pernafasan itu tak bergerak. Tak kembang-kempis seperti biasa. Lelaki itu tidur dengan muka terindah yang pernah kau lihat. Muka surga, suci layaknya makhluk adam yang baru dilahirkan ke bumi. Muka yang selalu menemani dan membayangi hari-harimu..

Kau masih menatapnya. Masih dengan tatapan ketidak-percaya-amu. Ini semua masih bagian dari lelucon bukan? Perlahan, kau raih tangannya lembut. Kau telungkupkan kedua telapkamu menutupi jemari besarnya. Jemarinya..

Jemari lembutnya. Jemari hangatnya. Jemari penuh perhatiannya. Jemari yang selalu memainkan rambutmu. Jemari yang mengelus punggungmu lembut. Jemari yang selalu mengahpus air matamu. Jemari yang menggegam tangamu erat. Jemari kenangan itu..

“..Zayn?” bisikmu lirih seakan kehilangan suara untuk bicara. Kau waspada. Berharap ada pergerakan berarti pada tangan yang kau sentuh. Tapi.. tak ada reaksi. Hatimu perih. Kau masih tak percaya ini “..Zayn?” ucapmu normal dengan guncangan lembut pada tangannya. Dan lagi, Zayn tetap diam tak mempedulikanmu. Kau masih belum menyerah. Tidak, Zayn pasti sebentar lagi akan teriak di hadapanmu. “Zayn?” panggilmu lebih tegas. Seiring dengan meningkatya tenaga dalam guncanganmu pada tangannya. Tapi seperti dua panggilan sebelumnya.. ia bergeming. Hatimu kian perih mengetahui ini. “Zayn? Wake up, Zayn!” panggilmu lebih keras dengan disusulnya tanganmu yang mengguncang kedua pundak Zayn. “Zayn, c’mon. Stop this shit. Open your eyes! Zayn!” ucapmu setegah meneriakinya. Dan kau masih mengguncang pundaknya. Lebih kuat dari sebelumnya higga membuat tubuh bagain atasnya bergeser sedikit dari tempatnya semula. Kau kalut. Fikiranmu benar-benar kacau. Kau tak mau menghadapi kenyataan. Tidak. Tak mungkin Zayn.. “Zayn, you just got to be kidding! C’mon! Open your eyes Zayn!” Teriakmu putus asa. Dan satu bulir air mata menetes dari kelopak matamu. Menusukkan beribu sembilu yang memilukan hatimu. “Zayn! Don’t leave me! Zayn! Zay-”

“Lia, please stop it.” Liam menarik tubuhmu dari ranjang Zayn dan menghamburmu dalam pelukannya. Ia merengkuhmu erat. Membiarkan Kristal-kristal kepedihanmu menetes dari kelopakmu yang kian sayu. Kau meronta. Berusaha melepaskan diri dari Liam. Kau masih ingin membangunkan Zayn. Kau masih ingin melihat kelopak mata itu terbuka. Kau masih ingin melihat senyumnya. Kau masih ingin mendengar tawanya. Kau masih ingin merasakan sentuhannya. Kau masih ingin.. DIA!

“Z-za-ayn. Za-ay-yn,” panggilmu serak. Tapi Liam tak membiarkanmu pergi. Ia malah membekapmu dalam pelukannya yang lebih dalam lagi. Menyilahkanmu menangis tersedu akan kejadian ini. Kau mencengkram coat belakang Liam erat. Teramat kuat hingga Liam menyadari bahwa gadis yang tengah dipeluknya sekarang amatlah terpukul akan kematian sahabatnya. “Why? B-but, why Liam? Wh-hyy?” rintihmu terbata di sela-sela senggukanmu. Kau mulai kehilangan suaramu. Suaramu berubah menjadi desahan putus asa yang terdengar menyakitkan, menyedihkan dan memilukan hati siapapun orang yang mendengarnya.

Liam melepaskan pelukannya dan berbicara padamu. “Listen, it’s the last time, Lia. Last.. You should use this chance. Tell everything you want to be heard by him. Everything. Eventough he can’t listen. Eventough he can’t reply. Eventough he can’t respond. Just tell him.” Ucapnya bijak dengan tetesan air mata yang mengalir lembut di pipinya.

Perasaanmu hancur. Dan kau mencoba untuk mengontrolnya. Untuk kali ini saja. Kali ini kau ingin mengucapkan kalimat terakhir untuk Zayn. Agar ia bisa mendengarnya senang sebagai pengakuanmu atas semua kenangan yang telah kau lalui bersamanya. Ya, semua kenangan manis itu.

Kau menarik nafasmu dalam-dalam.menghapus jejak air matamu dan beringsut mendekati ranjang Zayn. Ranjang terakhir yang ditiduri Zayn.

“Zayn, I hate.. I hate to hide it off. I’m tired to show it off. I tried to neglecting it, but it can’t be happened. It do grows bigger and I don’t care about you and other people think. The one and the only you should know.. is my feeling. Yeah, I love you, Zayn. I love you as a man. I love you as a friend. I love you as a dad. I love you as.. everything. Yesterday, today.. even maybe.. forever.” Dan kau mengecup kening putihnya untuk kali pertama. Kau mengecupnya lama. Bibirmu merasa dingin ketika mendaratkannya pada dahi Zayn yang tak terbalut perban. Ini.. ini kecupan pertama dan terakhir yang kau berikan pada lelaki yang tengah tertidur damai dalam kalbu Tuhan.

Kau menjauhkan dirimu dari ranjang Zayn. Usai sudah pengakuanmu di hadapannya. Melakukan itu memanglah teramat berat untukmu. Meskipun ia tak akan pernah tahu perasaanmu. Meskipun ia tak bisa mendengarnya. Meskipun ia tak bisa membalasnya.. Kau ikhlas. Kau teramat ikhlas meskipun hatimu telah berubah wujud menjadi puing-puing kecil keperihan.

Dan meneteslah air matamu lagi. Tetesanmu kian menderas dan bahkan.. Bahkan kau melihat mata Zayn yang menteskan air mata juga. Sebuah buliran bening terakhir yang menuruni pipi kirinya lembut. Buliran yang semakin menyayat hatimu tajam. Buliran yang semakin membuatmu tak bisa mengatasi kepedihan yang kau alami sekarang.

Dan tangisanmu pecah.. kau bahkan merasa tak sanggup menumpukan tubuhmu pada kedua kakimu hingga Liam harus menahan kedua lenganmu supaya kau tidak jatuh. Untuk kali ini lagi, Liam merengkuhmu erat. Disusul dengan beberapa dokter dan suster yang masuk. Mereka mengelilingi ranjang Zayn dan mendorong benda itu keluar. Keluar dari ruangan itu. Keluar dari kedukaanmu. Keluar dari kesedihanmu. Keluar dari kehidupanmu. Keluar dari riwayatmu.

Zayn telah tiada.

~END OF THIS CHAPTER~

Entry filed under: Chaptered, FanFiction, Freelance, Indonesia, PG, Romance. Tags: .

[FREELANCE] The Unexpected – Part 2 [FREELANCE] The Unexpected – Part 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 513,030 hits

Day by Day

February 2013
M T W T F S S
« Jan   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: