Because I Love You

February 7, 2013 at 11:12 PM Leave a comment

Because I Love You

Title     : Because I Love You

Author : Anastasia (@keiichiro_nana)

Genre : Friendship, Romance, Family

Rating:  AG (All Age) / T

Cast     :  Han Nara, Taeyeon, Chanyeol, Myungsoo, Taemin and the other casts

Type    : Oneshoot


‘AKU DISINI UNTUK MENGINGAT MASA LALU. NAMUN JIKA MASA LALU MEMBUAT MASA SEKARANG RUSAK. HARUSKAH AKU MELUPAKANNYA?’

 

SEOUL, SOUTH KOREA, 2013

setelah 10 tahun pergi, kini aku kembali lagi. Ya memang sudah sangat lama aku  meninggalkan Seoul. Kota dimana aku dilahirkan dan memiliki masa kecil yang sangat bahagia. Di atas semua itu, aku bersyukur. Di Seoul, aku menemukanmu…


KYUNGHEE UNIVERSITY

POST MODERN MUSIC CAMPUS

*Class 1-B*

“annyeonghaseyo, cho neun Han Nara imnida. Bangapseumnida”

 

Hari pertamaku di kampus cukup baik. aku pun bisa berteman dengan banyak mahasiswa dengan mudah. Aku bertemu seorang gadis bernama Shin Raekyung. Hari demi hari ku lalui dengan berteman dengannya. Banyak yang mengatakan Raekyung orang yang sangat menyebalkan. Tapi melalui Raekyung, aku bertemu dan mengenal banyak mahasiswa lain. Perlahan aku mulai mengerti bahwa anggapan mereka semua salah

 

“kau yakin tidak mau ikut kami?” ujar Kyuhyun. Ia salah satu sunbae yang ku temui 4 hari yang lalu. ia sangat baik dan pintar. Menurut Raekyung, ia sangat menyebalkan. Tapi sepertinya aku belum bisa berspekulasi. Hahaha

“tidak usah oppa. Aku harus pulang” jawabku ramah. Lalu Kyuhyun dan yang lainnya mengangguk

“kau yakin? Kau akan bertemu banyak mahasiswa lain disana” imbuh Changmin oppa. Sunbae tingkat 3 yang juga kekasih Raekyung.

“tidak oppa. Terima kasih”

“ya sudah. Jika butuh apa-apa hubungi aku saja ya Nara” ujar Raekyung sambil mengacungkan ponselnya

“atau mau no ponselku?” imbuh Kai sambil mengedipkan matanya. Ia salah satu teman sekelasku

“berisik!” Raekyung menjewer telinga Kai dan berjalan menjauhiku “hati-hati pulangnya ya Nara” Raekyung melambaikan tangannya padaku, begitu yang lainnya

“nee. Terima kasih”

 

Setelah mereka pergi, aku tiba-tiba merasa sendiri di kampus ini. syndrome mahasiswa baru mungkin. sebenarnya aku sudah mengenal cukup banyak orang-orang di sekitarku. Berkat Raekyung dan sunbae lainnya. Namun untuk memulai pembicaraan rasanya begitu sulit. Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini dan pulang

 

**di jalan pulang**

“aaaaa jangan tarik rambutku! Sakit”

“wee.. wee…”

“hyunjo!!”

“dasar hyuna cengeng!”

“kau nakal!!”

“wee.. wee..”

 

Di jalan pulang, aku melihat sepasang anak bermain. Lebih tepatnya, anak laki-laki itu membuat anak perempuan tersebut menangis. Mereka seperti diriku dan ….

 

**tiiiiin**

“hey, jangan melamun di jalan nona” sentak seseorang dan membuatku kaget. Kedua anak tersebut terhenti dan menatapku

“maaf aku tidak sengaja” aku segera meminta maaf, dan orang itu akhirnya pergi

 

Baru dua minggu di Seoul, aku hampir meregang nyawa karena kebodohanku “lho mana mereka?” kedua anak tadi menghilang entah kemana

 

SHINHWA ELEMENTARY SCHOOL

Di sekolah ini, aku menuntut ilmu hingga berumur 9 tahun. Aku ingat, dan masih ingat dengan jelas masa-masa menyenangkan dulu. Makan siang, bermain, mengerjakan tugas bersama, dan melakukan banyak sekali hal.

Di sekolah ini aku menemukan semua. Teman yang baik, guru yang perhatian, senior yang menyenangkan. Termasuk cinta pertama.

 

“aku rindu padamu…” gumamku saat melihat sebuah pohon besar yang masih berdiri kokoh di tengah lapangan. Dulu, di dekat pohon itu, ada lapangan rumput yang cukup luas. Aku  dan teman-teman lainnya suka sekali makan siang di bahwa pohon itu. bermain, mengerjakan tugas, bahkan menangis karena mendapat nilai yang jelek. Semua kenangan, masih tersimpan rapi di memori otak dan hatiku. di pohon kenangan itu…

 

“maaf anda mencari siapa?” ujar lelaki separuh baya. Aku berbalik dan menyapa lelaki itu. ternyata penjaga sekolah

“ah tidak, saya hanya lewat”

“kerabat anda bersekolah disini?”

“bukan. Tapi saya”

“anda? Sebesar ini?”

“ah aniya. sekitar 10 tahunan lalu”

“kau ingin masuk ke dalam dan melihat-lihat sebentar?”

“bolehkah?”

“silahkan…”

 

Lelaki tersebut membuka gerbang utama dan mempersilahkanku masuk. Tidak terlalu banyak perubahan di sekolah ini. semua masih tampak sama. Aku rindu semua teman-temanku. Aku merindukan Chanyeol, Taemin, Taeyeon, Myungsoo, dan yang lainnya

 

*FLASHBACK*

SEOUL, 2003

SHINHWA ELEMENTARY SCHOOL

 

“selamat pagi…” teriak Chanyeol dari arah pintu

“selamat pagi” ujar Nara, Taemin, Taeyeon, Myungsoo, dan murid lainnya

 

**makan siang**

“kalian bawa makan siang apa?” tanya Myungsoo sembari membuka bekal makan siangnya. Pembicaraan menu makan siang selalu menjadi topik wajib saat makan siang di mulai

“aku bawa soup dan ayam cincang” ujar Nara

“kimbab!!” ujar Taeyeon dan Chanyeol bersamaan “ish…”

“aku bawa omelet” imbuh Taemin sambil membuka bekalnya

“aku sosis gulung”

“aku pancake”

“aku bulgogi dan kentang”

“aku telur dadar dan ayam panggang” satu persatu murid pun menyaut. Mereka membawa bekal mereka ke rerumputan belakang sekolah. mereka selalu makan bersama. Kelas yang hanya terdiri dari 20 orang ini selalu bersama-sama

 

“jangan lupakan tempat ini ya teman-teman” ujar Nara tiba-tiba. Murid lain menghentikan makan siangnya dan mendengarkan Nara

“benar. Jika sudah smp nanti, kita maish berkumpul disini yaa” imbuh Chanyeol, dan langsung di-iya-kan murid-murid lainnya

 

‘Even if we’re just a kid. But our friendship will be everlasting. Right?’

**FLASHBACK END**

 

Setelah hampir setengah jam mengitari sekolah, aku melihat seorang laki-laki yang duduk di taman belakang sekolah. ia terus melihat ke arah pohon kenangan. Sebenarnya aku juga tidak tahu itu pohon apa. karena pohon besar itu sudah ada sejak aku masuk ke sekolah ini, dan juga banyak kenangan di pohon itu, maka kami sepakat menamakan pohon itu pohon kenangan

“wah tamannya sudah jadi. Bagusnya” gumamku pelan. Dulu taman ini hanya ada sebuah kursi panjang itu dan beberapa bunga. Kursi yang ku maksud itu adalah kursi yang sedang di duduki seseorang itu. aku rindu masa lalu

“astaga, aku harus pulang” jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Aku harus segera pulang. aku langsung berlari ke pos penjaga tadi dan berterima kasih karena mengizinkanku masuk ke sekolah ini.

Rasanya lelaki tadi tidak asing “siapa ya?”

 

KYUNGHEE UNIVERSITY

POST MODERN MUSIC CAMPUS

*Class 1-B*

 

“ya cukup sekian kuliah hari ini. semoga hari ini bermanfaat. Terima kasih” ujar dosenku, Kim Jaejoong

 

“Nara, kemarin ada yang melihatmu di Shinwa” ujar Raekyung sembari membenahi bukunya

“Siapa yang melihat?”

“Sehun. Apa yang kau lakukan disana?”

“aku hanya mengunjungi sekolahku dulu”

“wahh jadi kau alumni Shinwa. Shinhwa adalah sekolah yang sangat bagus. Pendidikannya juga istimewa. Setiap tahun yang masuk hanya 30-40 orang saja, itu untuk dua kelas barunya”

“kau tahu itu?”

“tidak ada yang tidak tahu Shinhwa. Haha. Itu benarkan?”

“nee. Ah iya Sehun itu siapa?”

“Sehun? hmm, itu Sehun” ujar Raekyung sambil menunjuk ke arah seorang pria tinggi jauh di sebrangku. Ia cukup manis. Aku hanya bingung. Aku belum pernah bertegur sapa dengannya. Bagaimana ia tahu namaku?

“ia tahu aku?”

“kau adakah temanku. Jadi semua orang harus mengenalmu, Nara. aku akan selalu menjagamu dan jika ada apa-apa, datanglah padaku”

“nee. Terima kasih banyak”

 

Shin Raekyung… ia sekelas denganku. bagaimana ia bisa mengenal hampir semua murid di kampus ini? mulai dari seangkatan, senior, ibu kantin, bahkan hampir semua dosen mengenalnya. Walaupun kekasihnya adaah sunbae tingkat 3. Tapi bagaimana mungkin? Siapa anak ini?

 

**Backsound: I Got a Boy – GG**

‘A-YO, GG’

 

‘Yeah Yeah shija-khae bol-kka?

eo-meo! yae jom bwahra yae,

museun ili isseotkillae meoril jallat-dae? eung?

eo-meo! tto yae jom bora-go!

meoribu-teo bal-kkeut-kkaji seutayili bakkwiiyeosseo

waeh keuraet-dae?

kunggeumhae jukke-nne waeh keuraet-dae?

marhae bwahbwah jom’

 

Aku melihat segerombolan gadis di tengah lapangan menari begitu riang. Di kelilingi oleh banyak mahasiswa lain. Mereka sangat cantik dan lentur saat bernyanyi. ini pertama kalinya aku melihat yang seperti ini. they are looks capable…

 

“ji-ga mwonde? utkyeo. neomu kot-dae sen geo ani?

nabogo pyeongbeomhadanda yae.

eo~~ keu namja wahnjeon mame deu-reo-nna bwah!

maldo andwaeh! maldo andwaeh!”

 

tarian mereka begitu sulit untuk ku ikuti. Walaupun hanya tangan dan kaki, aku pusing sendiri melihatnya. Sekitarku mulai bergerak dan menyanyi bersama mereka. Hmm… perlahan aku mulai ikut menikmati tarian dan nyanyian mereka yang sungguh easy listening. Raekyung pun menggerakan tangan dan kakinya. Aku pikir Raekyung kaku. Tapi…

 

“I got a boy meotjin! I got a boy chakhan!

I got a boy handsome boy nae mam da kajyeo-gan

I got a boy meotjin! I got a boy chakhan!

I got a boy awesome boy wahnjeon banhae-nna bwah”

 

“Raekyung siapa mereka?” tanyaku pada Raekyung

“mereka dari UKM Dancer, Girls’ Generation”

“oh.. mereka artis?”

“bukan. Tapi mereka trainer di beberapa Dance & Vocal center ternama di Seoul”

“dance & vocal center…”

“kau mau gabung?”

“ah tidak tidak. terima kasih”

“ku pikir kau ingin gabung. Hahha”

“aniya…”

 

Salah satu gadis dengan rambut pirang menatap ke arah kami dengan tatapan tajam.

Suaranya sangat membuatku kagum.

 

Who’s that girl!?

Why I can’t get off my eyes from her?

I’m normal of course. But…

 

“salah satu anggota mereka, Yoona, adalah saudaraku” ujar Raekyung sambil menunjuk salah satu gadis tinggi yang sangat cantik

“kpop sedang merebak dimana-mana”

“di amerika juga?”

“hahaha tentu saja. kau tahu, teman-temaku disana selalu menonton konser, belajar hangul, dan lain sebagainya”

“kau?”

“aku tidak terlalu tertarik. Karena aku memang orang korea. Haha”

“ah kau benar. Hahaha”

 

I got a boy meotjin! I got a boy chakhan!

I got a boy handsome boy nae mam da kajyeo-gan

I got a boy meotjin! I got a boy chakhan!

I got a boy awesome boy wahnjeon banhae-nna bwah

 

**Few Weeks Later**

“Nara, kau sudah hampir bulan disini. Apa kau tidak mau mencari teman lain?” tanya Raekyung

“teman?”

“kau bilang, kau pernah bersekolah di Shinhwa. Maksudku, kau tidak mau bertemu teman sekolahmu dulu?” ujarnya. Aku langsung terdiam mendengernya berbicara seperti itu. Aku baru mengenalnya dan ia terkesan sombong, angkuh, dan menyebalkan. Tapi di balik itu, ia adalah teman yang peduli. Ya setidaknya itu yang ku rasakan

“Nara?” ujarnya lagi dan membuyarkan lamunanku “kau itu gadis aneh. Hahaha”

“aku? Hahaha” aku tersipu malu atas ucapannya. Mungkin jika aku mengatakannya, ia bisa membantu. Mungkin.

 

SHINHWA ELEMENTARY HIGH SCHOOL

Sekitar 2 minggu lalu, aku datang ke sekolah ini. Mengingat kembali kenangan bersama yang lainnya. Aku kembali karena mereka. Aku kembali karenanya. Aku disini karena janjiku padanya. Sekarang, aku tidak tahu bagaimana bertemu dengan mereka

 

“anda?” tegur seseorang. Ah paman ini “anda datang lagi?”

“nee. Maaf merepotkan”

“ah tidak. Kau mau masuk ke sekolah? Akan ku buka gerbang utama”

“tidak usah paman. Lagi pula aku hanya lewat. Haha”

“hahaha. Ya sudah. Kalau begitu, aku harus berkeliling sekolah dulu”

“silahkan paman”

 

AUTHOR

walaupun paman itu masuk ke dalam lapangan, Nara masih saja berdiri melihat pohon kenangan itu. Ia masih tidak bisa melepaskan kenangan bersama teman-temannya dulu. Menurut Nara, mereka adalah sahabat pertama mereka. Namun Nara sadar bahwa tidak ada harapan baginya untuk bertemu para sahabatnya itu. walaupun sebenarnya….

 

*kriing-kriing*

“ya halo?”

“yes mom. I’m on my way”

“ok. See you there”

*klik*

 

Nara mendapat telepon dari ibunya di restauran.

Ia harus segera datang

 

*bruuk*

“aduh… ma.. maaf” Nara menabrak seseorang hingga mereka sama-sama terjatuh. Nara tidak mendengar sepatah katapun keluar dari mulut seseorang itu

“mati aku. Ia pasti mengamuk” bathin Nara ketika ia sadar bahwa yang ia tubruk itu adalah seorang lelaki

“maaf aku tidak sengaja” ujar Nara lagi. Bukan balasan suara yang ia dapat. Namun uluran tangan dari seseorang itu. Nara menyambut uluran tersebut dan berdiri. Nara terus menatap pemuda di hadapannya ini. Pemuda itu terus diam menatap Nara tanpa suara. Hal itu membuat Nara takut

“ka.. ka.. kalau begitu saya permisi” Nara membungkuk lalu berlari secepat kilat meninggalkan pemuda itu.

 

“siapa gadis itu?” gumam pemuda itu saat melihat Nara berlari menjauhi diirnya. Terbesit rasa sedih saat ia mengingat gerakan tubuh Nara saat menjauhinya “kenapa aku di jauhi…”

 

“hey!!” seru seseorang, yang ternyata paman penjaga sekolah. Seseorang yang bernama Seungho “sejak kapan disana? Cepat kemari. Hahaha” pemuda ini mengangguk dan segera berlari ke arah paman Seungho

“gadis yang kau tabrak tadi ternyata lulusan sekolah ini. Tapi aku tak tahu siapa namanya” ujar paman seungho dan pemuda ini hanya membulatkan mulutnya ‘o’

“hey dia cantik yaa” paman Seungho menggoda pemuda ini hingga tersenyum.

 

Sedangkan di lain sisi, Nara yang terlambat menghadiri acara makan keluarga dimarahi oleh ibunya. Nara yang terbiasa mendengar omelan dari ibunya pun lebih memilih diam seperti biasa. Di pikiran Nara adalah pemuda itu. Ia sama sekali tidak berekspresi saat ia meminta maaf ataupun izin pergi. Tidak mengangguk, tersenyum, apalagi mengucapkan kalimat tertentu

 

NARA

**Backsound: Illa Illa – Juniel**

First love is beautiful, first love is flower. If spring comes, your dazzling eyes are like a flower.

First love is like a kid, first love is clumsy. You shower me with love. I cant take it.

That time was so difficult, that time I didn’t know oh~ I think I know it now

I’m missing you….. so I Try to calling you…

 

**Next Week**

*Namsan Park*

Masih ku ingat senyumanmu dengan jelas

Kau katakan kita akan selalu bersama dankita bisa sering ke tempat ini

Lambat laun aku mengerti, aku yang salah

Aku yang pergi dan meninggalkanmu disini

Aku akan mengambil semua kenangan itu.

Tapi dimana?

Raekyung mengajakku ke Namsan hari ini. Tentu ia bersama Changmin oppa. Ada Sehun, Kai, dan yang lainnya. Bermain air, berpoto, dan menghabiskan waktu bersama. Aku merasa aku memiliki teman baru. teman yang sangat menyenangkan dan menerimaku apa adanya. Terutama Raekyung dan Sehun. Aku tak mengerti tapi…

 

“Nara, kau terlihat begitu senang. Ada apa?” tanya Sehun. Ia baik, pintar, dan tampan. Tapi aku tidak bisa menyukainya. Kenapa? Karena ….

“Nara?” ujarnya lagi dan membuat tertawa “dasar gadis aneh. Hahaha”

“ya semua juga bilang begitu. Hahaha”

“tapi kau selalu cantik bagiku” Kai mendekat dan merangkul lenganku.

“eish. Hahaha”

 

“kau memang aneh. dan bodoh” imbuh Jonghyun oppa. Salah satu sunbae kami. Lee Jonghyun. Ia sangat baik, pintar, dan juara Judo. Sayang, ia sudah punya kekasih

“tidak bodoh hanya terlalu lemot” Kyuhyun oppa tiba-tiba datang dan membuat gelak tawa mereka. Ya mereka. Karena mereka semua menertawakanku. Menyebalkan. Tapi aku sangat menyayangi semua teman-teman baruku. Terima kasih sekali untuk Shin Raekyung

 

**3 Hours Later**

“kau yakin tidak mau ku antar?” ajak Kai, salah satu temanku

“tidak usah. Aku mau ada urusan sebentar” ujarku menolak halus

“kau mau pulang bersama Sehun” tanya Raekyung sambil mengedipkan matanya. Ia tahu bagaimana membuatku tersipu malu

“memangnya tidak mau denganku saja?” gerutu Kai padaku dan Sehun mendekat padaku

“mau pulang bersamaku?” ujarnya dan aku tertawa

“aku ingin pulang sendiri saja. aku sedang ada urusan”

“baiklah. see you tomorrow chubby…” ujar Raekyung sambil melambaikan tanganna

“kami pulang ya” imbuh Sehun

“baiklah aku duluan ya Nara”

“nee”

 

Sekitar 5 menit setelah semua temanku pergi. Aku baru sadar sesuatu

“astaga!!!” bahwa aku lupa jalan pulang. Aku memang sangat sering ke tempat ini. Tapi itu dulu, 10 tahunan yang lalu. Sekarang aku lupa. Benar- benar lupa

“pantas raekyung mengatakan aku lemot” akhirnya ku putuskan untuk terus jalan menikmati pemandangan. Kanan dan kiri penuh dengan bunga yang sedang mekar. Begkitu cantik

“eh…”

 

*FLASHBACK*

“nachan~ ayo kesana” Chanyeol menggandeng tanganku ke arah salah satu pohon yang bunganya sedang bermekaran

“wah cantik sekali…” Myungsoo, Taemin, dan taeyeon mengikuti kami dan terlihat senang melihat bunga yang berterbangan ke arah kami

“tahun depan kita kesini lagi ya” pintaku dan mereka mengangguk

“tentu. Janji?” Myungsoo mengulurkan tangannya, di ikuti taeyeon, chanyeol, dan taemin

“janji. Yeaah” aku pun mengulurkan tanganku seperti mereka

*FLASHBACK END*

 

“pada akhirnya, aku yang tidak bisa memenuhi janjiku”

Aku pindah 2 hari sebelum bunga di taman bermekaran. Aku baru menyadarinya setelah muncul berita di tv amerika tentang indahnya bunga di Seoul. Sangat cantik

Tanpa sadar aku sudah cukup lama disini. Hampir malam “aku harus pulang”

 

**Backsound: BABY MAYBE – GG**

*bruuuk*

“aduh sakit..” aku menubruk seseorang. Lagi. “maaf aku tidak seng… aja…” aku kaget saat aku melihat siapa yang baru saja ku tubruk. Pemuda ini

“maaf aku sungguh tidak sengaja” aku membungkuk. Berulang kali. Aku takut ia membenciku karena kecerobohanku. Namun lagi-lagi aku tidak mendengar sedikit pun suaranya

Akhirnya ku beranikan melihat wajahnya “he?” dia tersenyum padaku. Tampannya!!!

“kau tidak apa-apa? Tidak marah?” tanyaku, lalu ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan “jika kau tidak marah, mengapa kau diam saja?” tanyaku. Ia tetap tersenyum dan kemudian mengangkat sedikit bahunya. Ia kemudian berbalik dan meninggalkanku

 

“kenapa ia tidak mau bicara sih?” gumamku sendiri saat melihatnya pergi. Mungkin ia memang tidak mau bicara padaku. Ya sudah “astaga jalan pulang!!”

“hey tunggu….” aku menyamakan langkahku dengannya “namaku Han Nara. Kau?” aku mengulurkan tanganku padanya. Ia menggapai tanganku, tapi tidak menjawab pertanyaanku tentang namanya

“oppa…” ia melihatku dengan matanya yang sangat bening “aku memanggilmu oppa saja ya?” ia tersenyum dan mengangguk

 

“kau sering kesini?” tanyaku semangat, lalu ia mengangguk

“selalu ramai ya. Sendiri atau bersama teman?” pertanyaanku ini membuatnya diam. Akhirnya aku punya cara lain agar bisa berkomunikasi dengannya “angka 1 bersama teman, angka 2 sendiri, angka 3 kadang bersama teman kadang sendiri” ujarku saat mengangkat jariku 1, 2, dan 3. Tiba-tiba aku merasa bodoh. tapi hanya ini satu-satu jalan agar aku bisa mengerti

“bagaimana oppa?” tanyaku Ia tersenyum dan melihat ke arah pohon. Ia menatapku, lalu mengangkat 3 jarinya. Kemudian aku menangguk “arasseo…”

Aku ingin sekali mendengar suaranya. Tapi hingga 2 jam kebersamaan kami, ia tidak mengucapkan sepatah katapun. Walaupun begitu, aku sangat senang bertemu dengannya disini. Ya aku punya teman baru di luar teman kampusku. Meskipun tanpa suara, oppa sangat baik dan menyenangkan. Ia juga mengantarku sampai Shinhwa. Jika sampai sini aku pasti bisa pulang dengan baik. Terima kasih banyak

 

**2 Months Later**

Sudah sekitar dua bulan aku mengenal oppa. Ia lelaki yang bisa ku katakan sempurna. Ia baik, ramah, perhatian, pintar, dan tampan. Saat aku berjalan-jalan dengannya, semua gadis pasti melihatnya. Itu menandakan oppa ku tampan. Hanya saja, ia tak pernah mau berbicara sedikitpun padaku. Aku sering melihatnya mengangkat telepon. Tapi ia tetap saja tidak mau mengucapkan sepatah katapun padaku. Itu membuatku cukup sedih. Di luar semuaitu, aku sangat nyaman di sampingnya.

 

**bruuk**

“ah maaf aku tidak sengaja” ujar seseorang yang menubrukku. Suaranya, wanita. Untung.

“iya, tidak apa-apa” aku bangun atas bantuan tangannya. Kami bertatap muka dan mata kami saling melihat. Bukankah ia adalah salah satu dari anggota GG itu?

“aku jarang melihatmu di gedung ini. Dan kau kan yang sering bersama Sehun?” ujarnya ramah

“aku mahasiswi pindahan, namaku Han Nara. Ya aku sering bersama Sehun, karena aku dan sehun sekelas”

“ya aku tahu. aku sering melihatmu bersama Raekyung juga”

“nee”

 

“Park Taeyeon!! Kemari cepat”

 

“ah aku duluannya. Semoga kita bisa bertemu lagi”

“nee”

 

Ia berlari menghampiri seseorang yang memanggilnya tadi

Tunggu. Taeyeon? “TAEYEON?”

 

“ah di seoul yang punya nama Taeyeon itu banyak” ujarku pasrah “lagi pula ia Park Taeyeon”

 

“hei cantik…” Kai menepuk bahuku dan membuatku tertawa “ada apa?”

“tidak apa-apa Kai. Kajja~”

“saranghajja??”

“animnida oppa.. hahaha”

“eish.. haha”

 

Jujur aku merasa tatapan gadis tadi mengingatkanku pada taeyeon. Mungkin karena namanya mirip dengan taeyeon-ku, aku jadi berpikiran bahwa ia memang taeyeon-ku

 

‘Taemin, taeyeon, Chanyeol, Myungsoo. Kalian ada dimana?’

 

**2 Weeks Later**

Tiba-tiba aku ingat kalau keluarga Chanyeol memiliki restauran di daerah Jung-gu. Setelah berkonsultasi dengan oppa dan bercerita tentang Chanyeol dan restaurannya, akhirnya aku putuskan untuk mendatangi restaurant tersebut. Setelah sampai, aku tidak melihat keanehan di bangunan restauran ini. Warna, bentuk, dan berbagai macam ornamen sama sekali tidak berubah. Hanya lebih besar dari sebelumnya

“nothing changes….” gumamku bahagia. Lalu aku melihat seorang wanita cantik sedang merapikan meja restauran yang berada di luar

Ia adalah Chanyeol noona. Aku ingat sekali saat aku masih disini, ia sudah besar. Jadi wajahnya tidak berubah. Ya ia adalah Yura eonni!! Aku mendatanginya dan berdiri di depannya “permisi”

“ya. Ada yang bisa ku bantu” ujarnya ramah seperti biasanya

“apa Chanie masih tinggal disini” ujarku. Di kalangan teman-teman, hanya aku dan Taeyeon yang memanggilnya Chanie. Ah dan Yura eonni tentunya

“Chanie?” Yura eonni mengernyitkan dahinya

“ah maksudku Park Chanyeol” aku meralat ucapanku barusan. Kemudian ia tersenyum dan mengangguk “bisa aku bertemu dengannya?” ia menyuruhku menunggu sebentar, kemudian ia masuk ke dalam rumah.

Tak lama ia masuk, datanglah seorang pemuda tinggi dan lumayan tampan keluar. Ia memakai topi koki di kepalanya, sumpit di tangan kanannya, dan serbet di tangan kirinya. Ia melihatku bingung. Ia tidak mengeluarkan sepatah katapun, begitu juga aku. Aku terlalu kaget melihatnya setelah 10 tahun. Sejak kecil, ia memang yang paling tinggi. Namun aku tidak mkenyangka ia bisa menjadi setinggi ini. Uri Park chanie…

 

“maaf, apa kau yang mencariku” ujarnya. Ia mendekat hingga akhirnya kami hanya berjarak satu meja. Benarkah ini Park Chanyeol?

“nee. Kau masih mengingatku?” tanyaku membuka pertanyaan. Dan wajahnya menampakkan kebingungan

“hmm…”

“lama tidak bertemu… Chanie…”

“eh?”

“jangan bilang kau lupa padaku?!”

“yang memanggilku Chanie di dunia ini hanya tiga. Yura noona, Taeyeon, dan Nachan. Sebenarnya ibuku juga memanggilku Chanie. Tapi tak mungkin kau ibuku. Kau juga bukan Yura noona, karena ia sudah tua, sedangkan kau masih muda. Kau juga bukan taeyeon, karena kau lebih tinggi darinya. Aku baru bertemu Taeyeon kemarin, dan ia tidak setinggi ini. Jadi kau…”

“kenapa kau lama sekali mengingatku Chanie…”

 

“KOUZUKI NARA!!!!” Chanyeol melempar sumpit dan serbetnya lalu berlari memelukku. Pelukannya begitu erat hingga aku pikir aku bisa mati karena di peluk olehnya

“Chanie aku sesak…”

“ah iya, maaf. Astaga. Sudah 10 tahun aku tidak bertemu denganmu. Apa kabarmu Nachan??”

“aku baik. Kau, Myungsoo, Teyeon, dan Taeminie apa kabarnya??”

“kami semua baik-baik saja. Astaga, aku masih tidak menyangka aku bisa bertemu denganmu lagi. Bagaimana kau bisa mengingat restauran ini?”

“sebenarnya aku sudah sekitar 4 bulan di seoul”

“dan baru menemuiku sekarang? Yang lain sudah kau temui?” gerutu Chanyeol

“eish.. baru ini yang ku ingat. Dan kau tahu selama itu aku hanya bolak-balik Shinhwa dan mengingat kenangan kita di pohon itu. Namun aku tidak mendapatkan titik temu keberadaan kalian. Lalu tadi pagi entah bagaimana aku mengingat restauran ini”

“hee?”

“bertanya ke puluhan orang dan akhirnya aku bisa sampai disini. Sudah lama sekali, dan ternyata bangunan ini tidak berubah sedikitpun”

“aku rindu padamu Nachan. Sangat” ujar Chanyeol. Ia memeluku lembut, dan aku sangat sangat nyaman. Ya… ini yang aku rindukan, ia yang aku rindukan. PARK CHANYEOL

“let’s take some photos” ujarku

“hei hei, ini Korea, gunakan bahasa yang baik yang benar. Ini pakai ponselku saja”

“hahaha. cheosunghamnida Chanyeol

 

Setelah aku bertemu dengan Chanyeol keesokan harinya aku bertemu dengan oppa. Aku menceritakan semua perubahan yang terjadi. Oppa hanya tersenyum dan mengirimiku pesan ‘selamat ya atas keberhasilanmu’

“nee. Aku bersyukur bisa bertemu denganmu dan menceritakan semua ini”

‘benarkah?’ ia mengirimiku sebuah pesan lagi, dan aku mengangguk

“ini aku dan Chanyeol. Lucu ya kami. Hahha” aku menunjukkan sebuah photo yang ku ambil bersama Chanyeol di restaurannya kemarin. Oppa mengangkat ibu jarinya dan tersenyum

‘kau menyukainya ya?’

“aku menyukai temannya.hahha” ujarku malu-malu dan ia tersenyum

‘hahaha. baiklah. oh iya ada apa mengajak bertemu? Hanya bercerita?’

“bukan. Sebenarnya aku mau beli dress, nanti bantu memilihkannya ya” aku menggandeng lengan oppa, dan kali ini ia tersenyum sambil mengangkat ibu jarinya. Tak lama ia mengernyitkan dahinya dan melihat ke arahku

“dressnya untuk apa?” ujarku, dan ia mengangguk “ulang tahun temanku. Hehe” ia mengangguk dan mencubit pipiku

‘teman atau teman? Haha’

“ulang tahun Raekyung. Eh kau tampan sekali hari ini?” godaku dan oppa mengangkat bahunya bergaya cool. Itu sungguh membuatku tertawa “jangan begitu di depanku. Haha”

“aku suka 3 warna. Pink muda, Biru muda, dan Ungu muda. Aku bagusnya pakai yang mana?” tanyaku padanya dan ia mengangkat 1 jarinya “pink muda? Haha okelah”

 

Kalian tahu. Kita bisa berkomunikasi walau tanpa suara dan kata-kata. Seperti yang aku lakukan pada oppa. Aku tidak pernah bertanya dimana ia tinggal, dimana ia kuliah atau bekerja, dan bahkan sampai detik ini pun, aku tidak tahu namanya. Nama tidak penting. Aku sudah bahagia dengan menyebutnya oppa. Asal ia di sampingku, ini sudah cukup. Aku sudah sangat bahagia.

 

“oppa aku bersyukur bisa bertemu denganmu. Apakah kau juga merasa hal yang sama?” tanyaku padanya. Ia tersenyum dan menggangguk. Ia menggenggam tanganku

‘aku sangat beruntung bertemu denganmu Nara’

“apa kau ingin aku selalu disini??” ia lagi-lagi tersenyum dan menganggukan kepalanya

“terima kasih” aku memeluknya, dan ia juga membalas pelukanku. Lalu ia melepasku dan menggandeng tanganku “kajja~”

 

**3 Days Later**

 “CHANYEOL!! Lama sekali…” aku menggerutu karena aku sudah hampir satu jam menunggunya

“maaf.. aku mengumpulkan 2 buah lagi”

“dua buah?”

“tapi yang ku bawa baru satu, yang satunya menyusul”

“ha?”

 

Aku bingung dengan apa yang ia maksud. Ia mendekat perlahan dengan wajah yang aneh. hmm, dari kecil wajahnya memang aneh. tapi harus aku akui, ia memang jadi sangat tampan. Dan aku sangat menyukainya. Hahaha

“taraaa…” ujar Chanie. di belakangnya muncul seorang pemuda yang, hmm, tampan. Aku kaget dengan kemunculan seseorang itu. Begitu juga ia. Pemuda itu melihatku kaget dan tersirat kelegaan di matanya. Bahagia.

“kalian tidak saling ingat??” imbuh Chanyeol. Ia mendekatkan ku dengan pemuda itu. Sudah cukup lama mata kami berpandangan. Tak lama ia tersenyum dan matanya berkaca-kaca

“Kouzuki Nachan?” ujarnya. Hanya ada satu yang memanggilku seperti itu

“Myungsoo??” tanyaku ragu-ragu dan ia mengangguk

 

“astaga lamanya berpikir!” gerutu Chanyeol. Dan tanpa babibu lagi, aku langsung memeluk Myungsoo. Kim Myungsoo, sahabatku

“aku merindukanmu Nachan. Kami semua rindu padamu” ia melepaskan pelukannya dan menatapku. Kemudian aku menangguk setuju. Aku juga merindukan kalian. Sangat

 

“ia sudah lebih tinggi ya” goda Myungsoo dan chanie tertawa. Ya waktu kecil aku memang pendek. Bahkan lebih pendek dari Taeyeon. Namun aku ingat perkataan chanyeol bahwa aku lebih tinggi dari taeyeon. Astaga, aku mulai tidak sabar!!

“ah iya, kau kuliah atau bagaimana?”

“aku kuliah di Kyunghee”

“jurusan apa?”

“Jurusan Post Modern Music” ujarku, lalu mereka diam dan saling pandang “ada apa?”

“kalian tidak bertemu?”

“bukanlah ia juga disana?”

“lalu mengapa ia bilang begitu?”

“aku tidak tahu”

 

Tiba-tiba aku tidak mengerti apa yang mereka berdua katakan. Aku menjadi asing dan tidak tahu aku berada dimana. Aku seperti berada di tengah-tengah daerah dan keadaan yang membuatku…

 

“HAI…” teriakan seseorang membuyarkan lamunanku. Ia mendekat terlihat familiar

 

Ha?

Park Taeyeon?

 

“Nara… apa yang kau lakukan disini?” Taeyon menepuk bahuku dan tersenyum padaku “apa kau mengenal dua manusia hina ini?” imbuhnya sambil berkacak pinggang

“hee?” aku mulai bingung

“ya PENDEK!! Jangan sembarangan!!” gerutu Chanyeol, dan Myungsoo tertawa. Aku tidak mengerti

“manusia hina. Baiklah kau lebih hina, Kim Taeyeon” imbuh Myungsoo

 

KIM TAEYEON?

 

“ah hampir lupa… kau mengingatnya?” ujar Chanyeol dengan rasa percaya diri

“tentu, aku malah mengenalnya”

“jeongmalyo!?” ujar Myungsoo dan Chanyeol bersamaan

“Ia Han Nara, jurusan yang sama denganku, tapi kelas 1-B” jelas taeyeon, lalu karena aku setuju maka aku mengangguk dengannya

 

“ha?” Myungsoo dan Chanyeol menganga bersamaan

“hei bibi pendek… apa kau tidak sadar?”

“ya Park Chanyeol, jika aku tidak sadar bagaimana aku kemari!”

“maksudnya kau tidak mengenali…nya?” imbuh Myungsoo sambil melihatku “dia Nachan…” ujar Myungsoo dan Chanyeol mengangguk

“apanya? Dia Han Nara. Bukan Kouzuki Nara” ujar Taeyeon.

 

Ha? Dia tahu nama jepangku? Nada yang tepat saat mengucapakan dua nama itu.

Berarti selama ini aku sudah bertemu dengan Taeyeon. Hanya saja aku tidak tahu?

 

“annyeonghaseyo, uri taeng…”

“annyeonghaseyo, uri Na… Chan? Nachan?” Taeyeon mengingatku “kau Nachan??”

“nee. Kouzuki Nara adalah Han Nara, Han Nara adalah Kouzuki Nara” air mataku mengalir, begitu juga air mata sahabatku, Taeyeon

“selama ini kita begitu dekat dan kita tidak menyadarinya?” ujarnya dan aku mengangguk “aku merindukanmu nachan. Sangat”

“nado… nado…”

 

“bagaimana bisa temanmu dikampus memanggilmu Park Taeyeon?”

“karena ada sunbae yang bernama Park Jungsoo yang dekat denganmu” ujarnya malu-malu

“Park itu namaku. Taeyeon dan Chanyeol. Yeaah” Chanyeol mengangkat ibu jarinya

“kasih tak sampai” ujar Myungsoo, dan kami semua tertawa

 

Empat bulan kemudian, aku bisa bertemu ketiga sahabatku. Kurang satu, taemin.

Dimana ia? Mengapa mereka tidak membicarakan taemin?

 

“kemana Taemin?” tanyaku dan mereka yang awalnya tertawa keras, diam seketika

“Tae..min..” Taeyeon tiba-tiba mengunci rapat mulutnya dan terlihat sayu

“hmm…” begitu juga dengan Chanyeol dan Myungsoo. Apakah sesuatu terjadi?

 

“apa dia baik-baik saja? Sesuatu terjadi padanya?” aku langsung mencengkram lengan Myungsoo. Lalu Chanyeol menepuk bahuku. Aku baru sadar, mereka semua tersenyum santai

Chanyeol menyamakan tinggi matanya denganku “ia baik-baik saja. Aku sudah memberitahunya kalau kau pulang. tapi ia harus ke suatu tempat”

“huh..” cukup sedih mendengarnya. Taemin tidak bisa datang

“ia sedang sibuk” ujar Myungsoo

“nanti aku akan ke rumahnya dan mengatakan kau sudah pulang. Oke?” imbuh taeyeon dan aku mengangguk

“hei pendek! Kan tadi aku sudha bilang kalau aku sudah ke rumah taemin dan mengatakan kalau Nachan sudah pulang” Chanyeol menjitak taeyeon penuh emosi

“oh begitu ya? ya sudah ayo kita jalan-jalan”

“maaf ya Nachan. Otaknya sering tergeser” Myungsoo menggandengku dan meninggalkan mereka

“hei hei…” Chanyeol dan Taeyeon menyusul

“ayo~ makan siang…”

“Chanie!!” aku dan Taeyeon berteriak bersama “hahaha”

 

Aku tidak merasakan sesuatu yang ganjal. Hanya saja, aku ingin sesegera mungkin bertemu dengan Taemin. Aku merindukan senyumannya. Aku yakin, senyuman itu tidak akan banyak perubahan

 

**Backsound: Happy Ending – Jay Park*

**2 Days Later**

Jadwal hari ini bertemu dengan oppa! Ah akhirnya aku bisa bercerita kalau aku bertemu dengan sahabatku. Yeaay. Ah itu dia! “uri oppa!!”

Aku berlari ke arahnya secepat mungkin “oppa.. oppa.. aku sangat bahagia” ujarku lalu ia mengirimi ku pesan

‘ada apa? Sesuatu yang menyenangkan terjadi?’

“lebih dari itu! Hal luar biasa yang pernah terjadi!!” aku semangat menunggunya membalas ceritaku lewat pesan singkat

‘ayo ceritakan. Aku penasaran. ayo duduk saja’

“nee”

 

Aku ingin lebih bicara banyak dengan oppa. Akhirnya aku merencakan komunikasi yang lebih baik. Jadi aku akan mengatakan sesuatu hal, dan jika oppa ingin membalas mengatakan sesuatu, ia tidak perlu terus menggeleng, mengangguk, mengernyitkan dahi, mengangkat bahunya, dan lain-lain. ia cukup mengirimi pesan singkat saja. Jadi aku bisa tahu apa saja yang ia pikirkan tanpa harus bicara. Itu sama saja kan? Hehe. Minggu-minggu yang menyenangkan

 

‘sekarang katakan ada apa?’ oppa mengirimiku pesan lagi

“lihat photo ini oppa…” aku menunjukkan photoku dan sahabatku kemarin

Ponselku bergetar ‘itu photomu dengan siapa?’

“mereka adalah sahabatku. Sahabat kecilku. Ini Chanyeol, ini Myungso, dan ini Taeyeon” aku antusias bercerita padanya oppa. Dan oppa mendengarkanku dengan sabarnya

Ponselku bergetar lagi, ‘itu dimana?’

“di taman bunga. Hehe. Tapi kurang satu”

‘siapa? Bunganya?’

“bukan oppa. Sahabatku yang satunya, Taemin. Ini photonya ketika kecil. Tampan ya”

‘hahaha. iya. Itu yang kau suka’

“nee. aku penasaran dan sangat merindukannya” ujarku semangat dan oppa mengangguk. Ia mengelus rambutku dan menepuk pelan bahuku. Ia mengatakan dengan bahasa tubuh bahwa aku harus sabar “ya aku selalu sabar oppa” ujarku. Lalu ia mengetik sesuatu

‘mau makan siang?’ isi pesan dari oppa, dan aku mengangguk. Ia menggandeng tangan dan menberi sinyal untuk mengikutinya

“mau makan apa??” tanyaku. Ia kemudian menunjukku dan menganggukan kepalnya. Itu artinya terserah padaku, ia akan mengikutiku

“oke! kita makan bulgogi. Yeaah!!” aku mengangkat tangannya dan ia tersenyum seperti biasanya

 

Oppa… terima kasih kau selalu disini dan bersamaku. Walaupun selalu aku yang bertanya, selalu aku yang bicara, dan selalu aku yang menyatakan sesuatu. Aku tidak keberatan. Karena walaupun tanpa kata, kau sudah menjawab semua yang kutanyakan. Without word, you tell me everything about you

 

**malam harinya**

“oppa aku senang sekali hari ini” aku mengetik sebuah pesan dan kemudian aku kirim ke oppa

‘aku juga… terima kasih’ 5 menit kemudian oppa membalas pesanku

“untuk apa?”

‘karena kau selalu di sampingku dan memberi dukungan untukku’

“karena kau selalu di sampingku. Hehehe. Aku menyayngimu oppa”

‘aku juga. Sudah malam, besok kau harus kuliah bukan?’

“iya aku baru saja selesai mengerjakan tugas kampusku”

‘jadi gadis yang pintar dan selalu semangat ya’

“tentu. Terima kasih untuk selalu mengingatkanku”

‘selalu nara. Boleh aku bertanya?’

“bertanya apa?”

‘selama dua bulan ini, apa tidak apa-apa bagimu untuk selalu memanggilku tanpa nama? Apa kau tidak mau tahu mengapa aku tidak mau bicara, dimana rumahku, dan lain-lain’

“aku sangat ingin tahu semua tentangmu. Siapa namamu, dimana rumahmu, apakah kau kuliah atau bekerja, dan lainnya. Tapi semakin kesini aku merasa tidak terlalu penting”

‘kenapa?’

“karena tanpa semua itu, kau sudah sangat berarti untukmu. Dan keberadaanmu disisiku sudah lebih dari cukup oppa”

‘terima kasih banyak nara. Ya sudah kau tidurlah, besok jangan sampai terlambat’

“nee. Kau juga ya oppa”

‘Nara…’

“ada apa?”

‘suatu saat aku akan menceritakan semuanya padamu. Namaku, rumahmu, kehidupanku. Semuanya’

“aku akan menunggunya oppa”

‘ya sudah. Tidurlah. Good Night’

“good night”

 

“lusa cepatlah datang. Aku ingin bertemu oppa lagi. Hehehe” gumamku saat melihat photoku dan oppa yang ku jadikan wallpaperku

 

**Backsound: ONE – DBSK (Korean Vers)**

TAEMIN POV

Sejak Nachan pindah keluar negeri dan tidak ada kabar lagi, hatiku sakit. aku tidak mengerti mengapa aku begini, hingga aku sadar bahwa aku menyayanginya lebih dari sahabat. Dia cinta pertamaku. Cukup lama aku hidup tanpanya. Hingga seseorang yang luar dan dalamnya mirip dengan Nachan datang. Ia bernama Nana. Aku sangat menyayanginya dan akhirnya kami memutuskan menjalin hubungan. Namun 4 bulan kemudian Nana meninggal karena penyakit kanker otak. Aku harus kehilangan dua kali. Dan rasanya seperti di tusuk-tusuk.

Sudah lebih dari 2 tahun sejak kecelakaan itu terjadi. Sejak itu, aku tidak bisa berbicara. Dokter bilang, ini tidak permanen karena aku hanya shock. Tapi sudah selama ini, aku tidak pernah berbicara. Hingga aku putus asa dan menjalani kehidupan, dan berusaha normal. Minho hyung berusaha mencari terapi yang paling baik untukku. Semenjak kecelakaan yang membuat kedua orang tua kami meninggal, aku dan Minho oppa berusaha semangat

Dua bulan yang lalu aku bertemu dengan seseorang yang bernama Nara. Aku merasa hidup. Ia tidak menuntut siapa namaku, dimana rumahku, mengapa aku tidak mau bicara, mengapa aku selalu diam, dan apa yang aku lakukan sekarang. Ia bercerita tentang apapun yang membuatnya sedih dan bahagia. Kami sering bertemu dan berjalan-jalan. Ia membuat pertanyaan yang bisa ku jawab dengan angka 1, 2, 3, 4, dan bahkan 5. Ia selalu bisa membuatku tersenyum dan membuat hatiku lega. Lalu ia memberi usul agar aku bisa bicara banyak, dengan menggunakan pesan singkat. Ia bertanya, lalu ia menunggu jawabanku di ponselnya. Aku jadi bisa bercerita apapun dengannya. It’s more than words

Chanyeol, sahabatku, mendatangi rumahku, ia mengatakan bahwa sahabatku yang lainnya, Nachan datang. Tentu saja aku membalas ucapannya dengan tulisan di kertas. Ia memperlihatkan phtoonya dengan Nachan. Sedikit blur. Tapi aku merasa itu adalah Nara. Han Nara. Keesokan hariaya aku bertemu Nara, dan ia menceritakan hal yang sama tentang Chanyeol. Bahkan sebelumnya saat ia memperlihatkan photo-photonya dan photoku semasa kecil, aku merasa kaget. Apakah ia Nachan? Selalu saja hal itu dalam pikiranku. Dan setelah Nara menceritakan ini itu tentang Chanyeol. aku merasa, ya ia adalah Nachan. Uri Nachan. Namun aku tetap diam

Beberapa hari kemudian Chanyeol, Taeyeon, dan Myungsoo bersama-sama datang ke rumahku mengatakan hal yang sama. Mereka menceritakan tentang Nachan. Aku sangat amat bahagia, karena jujur aku sangat merindukannya. Ia adakah cinta pertamaku. Walaupun aku tidak tahu, apakah perasaan ini masih ada. yang jelas, aku pernah sangat menyayanginya.

Taeyeon menunjukkan photo kebersamaan mereka. Ternyata Nachan yang mereka maksud benar-benar Nara. Aku syok dengan photo tersebut. Aku berusaha santai agar mereka tidak curiga. Mereka bercerita kalau sekarang Nachan bernama Han Nara. Ia kuliah di Kyunghee jurusan Post Modern Music. Ya, semuanya sangat persis dengan apa yang Nara katakan. FIX! KOUZUKI NARA atau yang biasa ku panggil Nachan adalah HAN NARA! Hal itu membuatku serba salah. Namun aku tidak bercerita ke mereka kalau aku juga mengenal dan bahkan sudah bertemu dengan Nachan dua bulan terakhir. Aku simpan sendiri semuanya.

Hari ini Nara menceritakan pertemuannya dengan sahabatnya. Sahabatnya adalah sahabatku. Ia terlihat sangat bahagia. Aku pun berusaha bahagia seperti yang ia katakan. Jujur setelah tahu Nara adalah Nachan aku juga sangat bahagia. Karena selama ini ia sudah bersamaku, hanya saja aku masih belum siap jujur. Aku masih terlalu kaget dengan semua ini 

 

Bagaimana aku mengatakan bahwa aku adalah Taemin. Sedangkan Aku tidak bisa bicara!! Aku hanya berusaha menjalani seperti biasa dengannya. Dan saat ia menunjukkan photo itu, ada rasa sedih terlibntas di pikiranku. Jika aku jujur, apakah ia akan tetap menganggapku oppa-nya. Dan jika aku sebagai taemin apakah ia akan tetap menganggapku sahabatnya? Aku ragu mengenai hal ini. aku harus segera jujur atau sesuatu yang buruk terjadi. Ah tidak, bahkan lebih dari itu. aku takut kehilangan lagi…

 

“jadi Nara adalah Nachan?” tanya minho hyung dan aku mengangguk. Aku menulis sesuatu dan memberikannya pada hyung ‘bagaimana ini?’

“kau tahu, kau dan Nachan sangat amat dekat waktu kecil. Dan sekarang walaupun kau tidak mengatakan dirimu taemin dan Nachan sudah mengubah namanya menjadi Nara, kalian tetap dekat. Apa kau tidak merasa kalau kau keterlaluan?” ujar Minho hyung. aku menyembunyikan semua ini darinya dan sahabatku yang lain selama ini. aku hanya takut

“jangan takut jika kau ingin melakukan hal yang benar. Walaupun nantinya kau harus kehilangan Nachan atau Nara…”

‘aku tidak mau kehilangan siapapun. Aku… Aku sangat menyayanginya’ air mataku jatuh membasahi kertas tulisku. Minho hyung hanya menepuk bahku

“seseorang datang, seseorang pergi. Ingat itu Taemin”

 

The days i’ve been dreaming of, are already here.

I feel it through your hand that i’m holding now.

Because you might have been too far away, i couldn’t tell you anything.

Without knowing my hidden feelings.

 

NARA (Nachan)

**Few Days Later**

Sudah 3 hari, oppa tidak membalas pesanku satupun. Telepon ku pun tak di angkatnya. Saat aku datang ke Shinhwa, aku tidak melihatnya. sayang aku tidak bertemu paman Seungho. Andai kemarin aku bertemu dengannya, mungkin aku bisa tahu dimana dia berada

“rasanya kesepian tanpa oppa” ujarku sambil melihat wallpaperku bersamanya “kau selalu bisa membuatku tenang, walaupun tanpa kata-kata”

 

“itu Chanie kan?” gumamku saat melihat Chanie di ujung jalan itu “Chan…” teriakkanku tertahan ketika aku melihat Taeyeon dan Myungsoo bersama seseorang

“siapa lelaki bertudung itu?” aku mendekat ke arah mereka perlahan. Ah tidak, bisa di bilang diam-diam. Aku juga tidak tahu mengapa aku mengendap-endap seperti maling begini

 

“baiklah, besok aku akan menghubungi Nachan…”

“kau tunggu kabar kami ya” ujar Chanyeol dan Myungsoo. Lalu lelaki bertudung itu mengangguk. Tak lama mereka semua tertawa dan tersenyum. Apa yang mereka bicarakan

“jantungmu tidak karuan ya? hahaha” goda Taeyeon sambil menyenggol bahu lelaki itu, dan ia menggaruk-garuk kepalanya

“sudah seperti hantu saja. lepas tudungmu Taemin!” Myungsoo membuka tudung lelaki itu.

 

“Taemin..” gumamku pelan. ternyata ia adalah Taemin. Uri Taeminie… akhirnya…

 

“nah begini kan tampan” taeyeon mencubit pipi Taemin

“aigoo~ uri hyung kyeopta! Haha” Chanyeol membalikkan tubuh Taemin, dan ia tersenyum

 

Ketika Taemin berbalik, aku akhirnya melihat wajah taemin ketika dewasa. Betapa terkejutnya aku melihat siapa yang bersama mereka

 

“OPPA…” gumamku shock melihat siapa yang meraka panggil Taemin “itu oppa…?”

 

“beberapa minggu ini Taemin sangat ceria. Hahaha”

“wah ada apa?”

“mungkinkah mau bertemu Nachan?”

“aaa ia tersenyum…”

“hey Nara yang maksud itu…”

“ah iya, gadis yang kau ceritakan itu siapa?”

“alumni Shinhwa tahun berapa??”

“alumni??”

“gadis apa? kenapa aku tidak tahu”

 

chanyeol, myungsoo, dan Taeyeon terdengar sedang membicarakanku. lalu oppa menggoreskan penanya pada sebuah buku. aku penasaran dengan apa yang ia tulis, karena tak lama oppa memberikan tulisannya pada mereka, mereka tertawa dan Taeyeon langsung memeluk oppa.

jadi mereka belum tahu bahwa aku dan oppa, ah maksudku Taemin, sudah bertemu. apa Oppa tidak membicarakanku? apa mereka tidak mengatakan pada oppa, ah maksudku Taemin, tentang pertemuan kami tempo hari? aku tetap mengulang kata oppa. Padahal aku sudah tahu bahwa itu Taemin. Rasanya aneh…

bukankah aku sudah jujur bahwa akhirnya aku bertemu sahabatku? Oppa tahu siapa saja sahabatku. tapi mengapa ia tidak jujur bahwa ia adalah Taemin? mengapa aku di permainkan seperti ini? mengapa ia diam?

 

“woaah Taemin… haha”

“lain kali bawa Nara itu pada kami”

“lusa beritahu Nachan tentang ini. pasti seru”

“aku jadi tak sabar menunggu lusa”

“kau juga kan Taemin?”

 

mereka begitu semangat membicarakanku. mengapa Taemin diam saja? dan mengapa ia tersenyum dan mengangguk saat mereka mengatakan ingin bertemu dengan Nara dan Nachan. hey, kami adalah satu orang….

 

aku tidak tahan. aku harus selesaikan hari ini. akhirnya aku keluar dari tempat persembunyianku, dan mereka terkejut

“tidak usah menunggu lusa. hari ini pun bisa” ujarku dengan nada sinis saat menghampiri mereka. oppa terlihat kaget dengan kehadiranku

 

“Nachan… Nara… annyeong” Chanyeol, Myungsoo, dan Taeyeon menyapaku semangat

“annyeong Chanie, Myungsoo, Taeyeon. ah annyeong oppa…”

“oppa??” Chanyeol nengernyitkan dahinya

 

“atau boleh ku persingkat, Lee Taemin?” ujarku sinis dan Taemin tampak kaget

“kau heran aku disini? heran aku bisa tahu?” imbuhku semakin datar. lalu Taemin menulis sesuatu dan memberikannya padaku dengan panik

 

‘aku bisa jelaskan’

 

“oppa… kau tahu betapa bahagianya aku saat mulai mengenalmu?” ujarku ketus. dan teman- temanku yang lain tampak bingung “oppa…” imbuhku, lalu oppa mengangguk pelan. Ia tidak menatap mataku

“maksudnya apa Nara? ia adalah Taemin. bukankah kau sangat ingin bertemu dengan Taemin?” ujar Taeyeon. Myungsoo pun mengangguk

“Nachan…”

 

“aku memang sangat ingin bertemu dengan kalian.terutama Taemin. Kalian tahu kenapa?”

“karena dulu kau menyayangi Taemin kan?” jawab Taeyeon. Taemin dan yang lainnya langsung melihatku dan Taeyeon bergantian. Lalu aku mengangguk mengiyakan ucapan Taeyeon

 “tapi tanpa aku ketahui, aku sudah lebih dahulu bertemu dengan Taemin” ujarku menlanjutkan ucapanku tadi “atau yang biasa ku panggil oppa”

“……” Taemin diam tanpa melihat kami. Tatapannya kososng mengarah ke bawah

“Nara yang kalian bicarakan adalah aku. Nachan dan Nara adalah satu orang. yaitu aku”

“ha?”

“kau serius??”

“tanya padanya… oppa neo waegeurae!!” aku menangis dan berteriak sekeras mungkkin. Taeyeon dan yang lain hanya bisa diam

“Taemin…” Myungsoo mencengekram lengan Taemin. Namun ia tetap diam.

 

“aku tidak masalah tidak tahu namamu, tidak tahu dimana rumahmu dan kehidupanmu pun tak apa. selama ini panggilan ‘oppa’ juga tidak masalah. aku bahagia, dan sangat bahagia” ujarku pelan “kau benci padaku? Kau tidak mau melihatku lagi? Atau kau malu bahwa aku adalah Nachan? HAH?!” Tanyaku dan Taemin menggeleng cepat. Taemin menatapku dengan mata berkaca-kaca

“kau pegang ponsel?” tanyaku dan ia mengangguk “lalu balas semua pertanyaanku oppa!! balas!!” aku menangis hingga tubuhku lemas. Chanyeol menangkap tubuhku hingga ikut terduduk “jelaskan padaku oppa…!?” ujarku. namun ia tetap diam

 

“hari dimana aku bertemu dengan chanyeol dan ketika akhirnya aku bertemu dengan Taeyeon dan myungsoo, apakah Taemin tahu?” tanyaku pada mereka “jawab…”

“hari dimana kau mengunjungiku, malamnya aku ke rumah Taemin dan mengatakannya. Aku juga memperlihatkan photomu. lalu sepulang dari bermain denganmu, kami juga ke rumah Taemin” jawab Chanyeol

“kami menunjukkan Photo kita di taman dan…”

 

*plok-plok-plok*

“bagus… sandiwara yang sempurna Lee Taemin…” aku bangkit dan mendekati Taemin. aku marah. sangat marah padanya. ia tahu bahwa Taemin-lah tujuan utamaku kembali dan bertemu yang lainnya. tapi mengapa ia menutup diri?!

“maksudmu apa?!”

“Chanie… hari dimana aku bertemu denganmu. Jauh sekali aku sebelumnya bertemu dengan Taemin. Bukan sebagai Taemin. tapi sebagai oppa. Oppa yang ku kenal selama lebih dari dua bulan. Dan sebelum berangkat menemuimu, pagi hari aku bertemu dengannya dan mengatakan aku ingin pergi kerestauran  milik sahabatku Park Chanyeol di daerah Jung-gu. ku tunjukkan photo kita semasa kecil dulu. dan kau tahu, ia tidak merespon apapun. ia bilang ‘semoga cepat bertemu chanyeol. kau harus hati-hati. jika perlu bantuan, hubungi aku’. ia sudah tahu kalau aku adalah Nachan saat itu!!! tapi ia diam saja….” aku menangis sambil mengenggam tangan Taemin. aku terduduk dan terus mengeratkan genggamanku “mengapa kau diam saat itu. katakan Taeminie…” lalu aku bangkit dan terus menatap mata Taemin

 

“maafkan kami. kami tidak tahu…” Taeyeon menangis di pelukan Myungsoo

“aniya. tidak ada yang salah disini. satu-satunya yang patut di salahkan adalah aku…” Taemin mendekat dan langsung memelukku. ia menggelengkan kepalanya berkali-kali, lalu memukul-mukul dirinya

“hentikan oppa” aku menggenggam tangannya. astaga tangannya bgitu dingin “jan… janjiku sudah selesai” ujarku pelan

“janji?”

“janji untuk bertemu dan bermain dengan kalian. dan juga menepati berjalan-jalan dengan Taemin juga sudah ku penuhi. sekarang saatnya aku kembali”

“kem…”

“bali??”

“awalnya aku menolak keinginan ibu untuk kembali ke amerika. karena aku masih ingin disini dan ingin bertemu Taemin. tapi ternyata aku berubah pikiran”

“apa maksudmu?”

 

“setelah selesai semester ini, aku akan kembali ke amerika”

 

“yaa mworago!!”

“Nara jangan bercanda!” Taeyeon menangis

“kami butuh kau disini”

“Nachan…”

 

*kring-kring*

‘jika aku meminta kau jangan pergi, apakah kau tetap akan pergi? Ini salahku. Tolong jangan pergi lagi’

 

Taemin mengirimiku pesan seperti biasanya. air mataku terus jatuh. hatiku sakit. aku merasa di permainkan oleh sesoerang yang sangat aku cintai. aku mencintainya sebagai oppa dan sebagai Taemin. Bahkan sampai detik ini aku masih sangat mengharapkannya. tapi mengapa ia memperlakukanku begini?

 

aku membelai pipi Taemin. dan aku bisa merasakan air matanya yang jatuh membasahi pipinya. ia terus menggelengkan kepalanya. ia melarangku pergi. tapi…

“maaf jika selama aku bersamamu, aku menjadi adik yang menyebalkan” ujarku terisak “tapi kau harus tahu, bahwa aku benar-benar menyayangimu oppa. kau adalah semangatku disini”

 

“aku pergi…” aku melangkahkan kaki menjauhi mereka. menjauhi sahabatku yang sangat aku sayangi dan meninggalkan cinta pertamaku, lee taemin.

 

Aku tidak tahu rasanya akan sesakit ini…

Kenapa harus aku yang merasakan sakit?

Ia adalah seseorang yang membuatku bertahan hingga sekarang

Jika seperti ini akhirnya, lebih baik aku tidak pernah kembali.

 

“tak bisakah aku di cintai dengan sewajarnya?”

 

**Backsound: ONE – SHINee**

** 6 Days Later **

*KYUNGHEE UNIVERSITY*

hampir seminggu aku sudah tidak lagi bertemu Taemin. aku juga tidak ke Shinhwa. bagiku sama saja jika aku ke Shinhwa, maka aku akan mengingat kebohongan yang Taemin lakukan padaku.

kau tahu, rasanya sangat sakit. aku rindu oppa yang perhatian padaku, aku rindu oppa yang selalu sabar saat mengatakan sesuatu padaku. namun aku mulai kecewa ketika aku tahu yang sebenarnya. Saat aku tahu bahwa oppa yang selama ini aku kenal adalah taemin, jujur aku bahgia namun kebohongan itu membuatnya berubah. ia sudah tahu bahwa aku adalah Nara, sahabat kecilnya saat aku menunjukkan photo kami ketika kecil. aku juga mnceritakan semuanya. Tentang Shinhwa, Taeyeon, Chanyeol, Myungsoo, dan pohon kenangan itu. bahkan aku bercerita bahwa aku ingin menemui sahabat yang paling aku sayangi. Taemin. itu adalah ia sendiri. dan setelah 3 kali peristiwa itu ia tetap tidak jujur siapa dirinya, hingga aku yang melihat dan mendengar semuanya secara tidak sengaja.

mungkin aku bukanlah sosok Nachan yang Taemin pikirkan 10 tahun ini. mungkin ia ingin bahwa aku tidak tahu siapa dia. berarti jika aku tidak tahu dengan sengaja pada hari itu, maka bisa saja Taemin akan terus berpura-pura sebagai oppa dan tidak akan jujur mengenai dirinya. Such a good liar.

 

Please tell me that you cherish me

Please don’t blankly erase me
Because you’re my everything

 

aku merasakan seseorang berdiri di belakangku. tak berapa lama aku merasakan wangi yang familiar. parfum. ya ini adalah parfum oppa. atau sahabatku sendiri, yaitu Taemin. aku tak berniat bicara, pergi dari dudukku sekarang ini, ataupun melihat ke belakang. selama beberapa lama, kami terus berdiam diri seperti ini

 

Taemin menempelkan telapak tangannya di bahuku. namun aku tetap diam. tak lama ia memelukku dari belakang, dan aku merasakan dagunya di bahuku. walaupun aku tidak bergeming, aku bisa melihat bahwa menutup kedua matanya saat memelukku. akhirnya ku tengokkan kepalaku ke arahnya, dan ia membuka matanya.

 

ia melihatku dengan tatapan sayu, dan menggerakan mulutnya hingga membentuk kalimat ‘cheosunghamnida’ ke arahku.

Aku tersenyum “tidak ada yang perlu di maafkan. tidak ada yang salah” ujarku perlahan

ia menggelengkan kepalanya ‘seharusnya aku jujur padamu’ ujarnya perlahan tanpa suara

 

“pasti ada alasan hingga kau tidak mau jujur. sudah ya” aku bangkit dan tersenyum melihat ke arahnya

ia menggenggam tanganku dan melarangku pergi dengan menggelengkan kepalanya. ia mengetik sebuah pesan dan tidak lama aku menerimanya.

 

‘apa kau tidak mau tahu alasannya? alasan aku diam dan menikmati kebohongan sebagai oppa-mu selama ini? tidak mau kah kau tahu mengapa aku tidak bicara?’

 

setelah cukup lama berpikir. aku memang harus tahu mengapa ia begini. aku sangat yakin ada alasan kuat hingga ia begini. namun moodku hari ini sedang tidak baik. Jadi ku putuskan untuk tidak mendengarkan alasannya

“kau pulanglah… aku harus pulang” ujarku. aku kemudian berlalu meninggalkannya mematung disana. ia tidak pergi, tidak juga mengejarku. ia masih diam hingga aku sudah tidak bisa melihatnya lagi

 

‘Taemin… jangan memaksaku untuk mendengarnu. jangan pula memaksaku untuk melihatmu. aku hanya butuh sedikit waktu untuk berpikir itu. membutuhkan waktu untuk mencerna apa yang terjadi. aku tidak marah padamu. hanya saja aku kecewa dengan semuanya. jika kau terus memaksaku, jangan salahkan aku jika aku pergi dari hidupmu selamanya. jangan tanyakan mengapa, karena kau sudah tahu jawabannya. maafkan aku… oppa’

 

** Rooftop of Management Faculty **

“aaaa…. aku rindu oppa” gerutuku pada Raekyung yang bahkan tidak tahu apa-apa. selama lebih dari seminggu Raekyung menemaniku di atas atap sekedar untuk bercerita hal ini. ia tidak bertanya siapa oppa, alasan mengapa aku tidak boleh menemuinya, dan sebagainya. ia hanya diam dan sesekali tertawa atau menenangkanku jika aku sudah sampai batasku

“sudah hampir 2 minggu kau begini. Kyuhyun oppa, Kai,Sehun, dan lainnya kawatir padamu”

“kau tidak?” ujarku sambil mengernyitkan dahiku ke arah Raekyung, dan ia memandangku datar

 

“ya Han Nara. ini lantai 6, jika kau mau mati, sini ku dorong” ujarnya datar. aku tahu ia salah satu yang sangat khawatir padaku. Buktinya ia rela untuk tidak masuk kuliah pelajaran kesukaanya demi mengantarku jalan-jalan. kalimat dan tatapan tajam sering ia lontarkan kepadaku dan memua orang. namun perlakukan hangat akan selalu ia tebarkan pada semua yang mengenalnya dengan baik

“hahha bercanda… Terima kasih Raekyung”aku langsung memeluknya

“nee. Ah kau dan Taeyeon adalah sahabat saat kecil. mengapa tidak bercerita padanya?”

“hmm…”

“kau juga bilang masalahmu ini juga berhubungan dengan Taeyeon dan sahabatmu yang lain”

“karena aku tidak bisa”

“oh… okai”

“Raekyung mengapa kau tidak penasaran? bukankah kau tipe orang yang kritis?”

“itu bukan urusanku”

“nee?”

“urusanku adalah jika ada yang berani macam-macam denganmu, itu baru urusanku”

“terima kasih”

“Ya Han Nara. apa kau tidak bosan berterima kasih padaku?! aku saja bosan mendengarnya”

“tidak akan bosan. Raekyung-ssi” aku kembali memeluknya. ia tertawa dan tersenyum padaku. mungkin jika ada yang menganggap Raekyung angkuh, sombong, dan menyebalkan. maka aku akan mengangguk. namun setelah itu akan ku hajar orang itu karena ia menilai Raekyung salah. she is not suppose to be like that. she very kind and good girl to me

 

**Sepulang Kuliah**

“Nara…” Taeyeon menghadangku dan tersenyum

“annyeong Taeng…”

“lusa aku, chanyeol, myungsoo, dan Taemin ingin jalan-jalan. Kau ikut ya”

“lusa? Bukankah aku harus mengurus dataku”

“mahasiswa pindahan ya?”

“ya, dan mahasiswa yang akan kembali pindah”

“kau ingin pergi lagi? Meninggalkanku?” ujarnya datar

“hmm…”

“maafkan karena tidak jujur mengenai kondisi taemin. Karena…”

“kondisi?”

“jadi ia belum mengatakannya?”

“mengatakan apa?”

 

Akhirnya Taeyon menceritakan tentang Taemin. Sekitar 2 tahun yang lalu Taemin dan orangtuanya mengalami kecelakaan. Orangtua Taemin meninggal dan Taemin jadi tidak bisa bicara. Ia shock. Sudah berbagai macam terapi dilakukan tapi tidak membuahkan hasil.

 

“apa ia tidak bercerita padamu tentangku?”

“Ia tidak bercerita padaku jika ia bertemu dengan Nara yang kuliah di Kyunghee. Ia hanya brcerita pada Chanyeol. Tentang Nara yang selalu semangat dan membuat Taemin tersenyum, Nara yang selalu memnggilnya oppa tanpa harus tahu namaya, dan Nara yang ternyata adalah Nachan. Ia sudah tahu. namun ia lebih memilih diam karena takut kau akan pergi. Ia sudah menyayangimu sebagai Nara lebih dari ia menyayangimu sebagai nachan, sahabat kecil kami”

“kau kan tahu aku benci kebohongan. Seharusnya ia tidak bohong”

“Nachan… kau tidak akan mengerti rasanya bagaimana kehilangan”

“aku kehilangan ayahku! itu membuatku harus mengganti nama menjadi Han Nara”

“taemin lebih sengsara”

“maksudmu?”

“Ia kehilanganmu, kehilangan gadis yang pernah ia cintai ketika SMP, kehilangan orangtuanya sekaligus. Dan sekarang saat ia tahu bahwa ia akan kehilangan jika ia jujur, maka ia lebih memilih untuk diam. Ia tidak mau kehilanganmu. Lagi”

“lagi…”

“temui kami lusa jam 9 pagi di namsan jika kau ingin gabung. Paling tidak, anggap ini pertemuan terakhir jika kau tetap ingin pindah” taeyeon memelukku dan langsung pergi meninggalkanku

 

Ia sudah lelah dengan kehilangan…

kehilanganmu…

kehilangan gadis yang pernah ia cintai ketika SMP…

kehilangan orangtuanya sekaligus…

Dan sekarang saat ia tahu bahwa ia akan kehilangan jika ia jujur, maka ia lebih memilih untuk diam. Ia tidak mau kehilanganmu.

Lagi…

 

**Next Day**

“Nara ada yang mencarimu” ujar Kai dengan wajah menyebalkannya

“siapa?”

“laki-laki. tinggi. tampan. seorang dokter sepertinya”

“dari mana kau tahu?”

“ia memakai pakaian dokter”

“ia dimana?”

“di gerbang fakultas”

“oh baiklah. terima kasih”

“nee”

“jangan kau tekuk wajah tampanmu” ujarku pada Kai “aku tidak suka itu”

“ah baiklah….” seketika rautnya berubah. haha. ia sangat unik, dan aneh

 

aku berjalan santai ke arah gerbang, dan aku melihat sesosok laki-laki tinggi menggunakan jubah dokter. sama seperti apa yang di katakan Kai .

“siapa dia?” gumamku saat hampir mendekatinya

 

“maaf apa anda mencari saya?” tegurku. lalu ia berbalik dan tersenyum padaku.

“annyeong Nachan. lama tidak bertemu” ujarnya. ia tahu nama kecilku?

“nee. maaf anda siapa?”

“kau tidak ingat padaku?” ujarnya. Aku sungguh clueless. Aku memiringkan kepalaku dan ia tertawa

“ingat kalimat ‘oppa… kau adalah oppa yang paling tampan sedunia’ tidak?” ujarnya. ya aku ingat. itu adalah kalimat yang selalu aku katakan pada….

“astaga….”

“ingat padaku?”

“Minho oppa…. astaga!!” aku tertawa saat ia mengangguk. ya pantas aku pernah melihatnya.

“sekarang Nachan sudah menjadi Nara yang dewasa dan cantik. kau menjadi yang kau inginkan”

“iya. sekarang aku Han Nara. tapi Nachan tidak akan berubah”

“ucapanmu saat TK masih berlaku tidak?”

“ucapanku?”

“kau bilang aku harus semangat menjadi dokter yang hebat, dan saat itu tiba, kau akan menjadi istriku yang paling cantik”

“ah yang itu? hahaha” ujarku malu

“aku sudah jadi dokter hebat. mau kah menjadi istriku?” ujar minho oppa sambil mengangkat alis kanannya lalu tertawa

“hatiku milik orang lain oppa. ahaha”

“milik Taemin?”

“nee?”

“sejak kecil kau dan Taemin selalu berkhayal, kalian berpacaran, lalu sekolah bersama-sama. kuliah bersama, lalu menikah dan punya anak. myungsoo yang selalu berpesan sebagai anak kalian. haha”

“itu cerita masa lalu haha”

“masa sekarang??”

“hmm…”

“mau berbagi?” ujar oppa sambil menyalakan mobilnya dengan kunci otomatis di tangannya “jika kau ada waktu”

“kau?”

“aku baru saja selesai bertugas. aku sengaja mampir. selain itu aku ingin bercerita banyak padamu”

“padaku?”

“nee”

 

**Backsound: In My Dream – SJ KRY**

**DI TAMAN**

“bagaimana strawberry nya enak?” tanya Minho oppa sambil menyeruput kopinya

“nee, enak. Ah iya kau ingin cerita apa padaku?”

“itu…”

“katakan saja… tidak apa-apa”

 

“semua di mulai sejak kau pergi”

“sejak aku pergi?”

“saat itu Taemin mulai murung dan menyendiri. Saat bersama yang lainnya ia tersenyum. Namun itu hanya senyum palsu. Karena ketika sudah di rumah, yang ia perhatikan adalah photonya saat bersamamu”

“hmm…”

“dan sewaktu smp kelas 1, Taemin pernah jatuh cinta dan berpacaran dengan seorang gadis yang secara fisik dan psikis mirip denganmu. ia bernama Nana. namun kebahagian itu tak bertahan lama. 4 bulan kemudian Nana meninggal karena kanker yang di deritanya. Taemin sangat shock dan membuatnya depresi. setelah itu ia terpuruk kembali”

“kembali?”

“ya. kembali mengingatmu. mengharapmu kembali, dan kembali mencintaimu. semua terlihat buruk. namun sekitar 2 tahunan lalu membuatnya lebih buruk lagi. ia dan kedua orangtuaku kecelakaan. orangtuaku meninggal dan Taemin kehilangan kemampuannya bicara karena sangat shock”

“maksudmu? Ia benar-benar tidak bisa…”

“ya, bicara. Sedikitpun”

 

*DEG*

Aku shock mendengar apa yang di katakan Minho oppa.

Taemin… benar-benar tidak bisa bicara.

Air mataku jatuh…

 

“apa… apa tidak ada terapi yang…”

“sudah. Ku coba berbagai cara dan terapi untuk menyembuhkannya. tapi sama sekali tidak ada hasil. menurut dokter yang merawatnya, ia memiliki beban mental yang sangat besar. ia terlalu takut untuk kehilangan dan mulai menutup diri”

“apa ia tidak ada keinginan untuk sembuh?” air mataku kembali jatuh dan hatiku tambah sakit

“ada. namun sepertinya hanya sedikit. Jika ia seperti ini terus kemungkinan ia sembuh hanya 30%”

“30% oppa?”

“nee. tapi beberapa bulan lalu seorang gadis datang dan membuatnya kembali bersemangat dan mudah tersenyum” ujar Minho oppa. Aku tahu yang ia bicarakan adalah aku “gadis itu mampu membuatnya mengobrol melalui pesan singkat. mungkin aneh. tapi Taemin sangat berbeda. ia menunjukkan kemajuan yang sangat pesat dalam terapinya. Ia mau menkonsumsi obatnya kembali dan aku sangat bersyukur dengan keajaiban ini”

“Taemin…”

“dan Gadis itu adalah kau. Han Nara” ujar Minho oppa. Aku menunduk sedih “kau membuatnya kembali seperti Taemin 10 tahun lalu. Ceria, semangat, dan selalu tersenyum”

“aku…”

“saat kau pergi 10 tahun lalu, sadar atau tidak, kau mengambil separuh hati dan hidupnya. Ia sangat terbiasa denganmu, Han Nara”

 

“cukup oppa…”ku kepalkan tanganku menahan sedih. Kau tahu, rasanya sangat sakit

“Nara…”

“cukup ku bilang”air mataku tidak berhenti mengalir setelah Minho oppa menceritakan kisah ini padaku. rasanya sakit. sakit sesakit-sakitnya sakit “aku tahu itu… aku tahu…”

“kemari…” aku memeluk Minho oppa dan terus menangis. semakin ia menelukku erat,semakin keras tangsanku “jangan menangis”

“bagaimana bisa aku seperti ini… aku jahat”

“kau tidak jahat”

“maafkan aku Taemin. Maaf…”

“Nachan…”

“Taemin… Taemin… Taemin!!!!” aku berteriak sekeras-kerasnya di pelukan Minho oppa.

 

aku ingin menemui Taemin. sebenarnya aku tidak peduli seperti apa ia sekarang. karena aku sudah sangat mencintai Taemin sejak dulu. walaupun ia tidak bisa bicara karena keelakaan itu. aku akan terus mendukungnya hingga ia bisa bicara kembali. andaikan ia tidak akan pernah bisa bicara. aku akan tetap di sampingnya. karena hatinya yang tuluslah yang akan bicara.

 

**4 Days Later**

aku tahu Chanyeol, Myungsoo, Taeyeon, dan Taemin gagal pergi karena aku tidak bisa hadir. aku harus mengurus masalah kampusku. maafkan aku. aku memiliki tanggung jawab yang harus ku selesaikan.

hari ini, Minho oppa mengirimi aku pesan yang isinya mereka dan teman-teman SD ku lainnya akan berumpul di Shinhwa siang ini. akhirnya aku putuskan untuk menemui mereka. bisa bertemu dengan semua teman-temanku sungguh sangat beruntung

 

SHINHWA ELEMENTARY SCHOOL

aku  melihat seseorang duduk di sebuah bangku halte Shinhwa. ia termenung dan pandangannya terlihat begitu kosong. wajah ceria sama sekali tidak nampak pada dirinya. Yang ada hanya raut gusar dan kesedihan

 

“Oppa… apa kabar?” teriakku dan membuyarkan lamunannya. Taemin. atau yang biasa ku panggil oppa. Ia bangkit dari duduknya dan menatapku. aku makin dekat dan tersenyum “sedang apa disini?” imbuhku “mana ponselmu?”

ia mengangkat ponselnya dan tersenyum “nah balas pertanyaanku. biasanya cepat?”

‘aku baik-baik saja Nara. kau bagaimana?’

“tidak begitu baik. kau sendirian di luar? yang lain mana?”

‘ada di dalam. ada apa? pelajaran? atau temanmu?’

“temanku”

‘apa ia menyakitimu?’

“nee”

 

aku dan Taemin mengobrol seperti biasa. menggunakan  pesan singkat dan emoticon. ini yang paling aku rindukan darinya

saat aku bilang ada teman  yang menyakitiku. wajah Taemin menjadi merah. ia seperti marah atau apalah, aku tidak tahu. ia jarang dan bahkan tidak pernah seperti ini. jantungku berdegub kencang

 

‘siapa orang itu?! aku mengenalnya?’

aku kaget dengan ucapannya. lalu aku pun menangguk

‘apa ia memukulmu? dimana? sakit!?’

 

“sakit. sangat sakit. bahkan aku pikir aku akan mati” ujarku lagi. lalu wajah Taemin tambah memerah. tangannya mengepal. dan entah mangapa aku langsung tersenyum. Ia memiringkan kepalanya

‘kenapa tersenyum? apa aku aneh?’

 

“tidak apa-apa”

‘sakit dimana?’ selesai ku baca pesannya ia langsung memegang tanganku, wajahku, langanku dan terlihat panik.

“hatiku yang sakit. di bohongi oleh sahabatku yang sebenarnya aku sayangi. sangat aku sayangi” ujarku pelan dan Tamin langsung menunduk. ia sedikit menjaga jarak. Dan aku langsung tertawa

 

‘aku tidak bermaksud menyakitimu. aku menyayangimu Nachan’

“kenapa tidak bilang dari awal siapa dirimu? mengapa harus bohong?” ujarku tanpa tekanan. Aku sudah tidak marah. Hati dan pikiranku sudah sepenuhnya netral

 

ia mengetik sesuatu. Hmm, cukup lama. lalu ia bangkit dan memunggungiku. dan ponselku berbunyi. pesan darinya,

 

‘andai saja ku bisa bicara. aku akan katakan semuanya. akan ku luapkan kebahagianku bertemu denganmu. aku akan berteriak. Aku akan segera jujur, dan jika kau marah, aku akan mengimbangi suaramu dan memintamu untuk mendengarkanku dulu. namun aku sadar bahwa aku tidak bisa bicara. mengeluarkan bunyi saja tidak. jika aku jujur sekarang dan kau marah, maka aku hanya bisa mengangguk dan menggeleng. Semua ini ku lakukan karena takut hilangan lagi. jika memang aku harus kehilanganmu lagi sekarang, aku siap. aku memang menyayanginu sejak kecil dan sangat berharap bisa selalu menjagamu. namun aku sadar, aku tidak bisa apa-apa. menjaga hatimu saja tidak becus. semoga kau tidak melupakanku’

 

air mataku jatuh tak terbendung membaca pesanya. hatiku sakit  ia mendengar kejujuran ini darinya sendiri. ku hapus air mataku hingga tak Nampak lagi ada air mata membasahi mata dan pipiku. lalu aku bangkit dan menggenggam tangannya

“ini bukanlah jujur yang menyakitkan. aku bahkan beruntung, aku tak harus memberi dua hatiku karena aku hanya mncintai satu orang. Lee Taemin”

ia memandangku. air mata jatuh membasahi pipinya dan aku hanya bisa tersenyum “gunakan ponselmu untuk mengatakan apa yang kau rasakan”

 

‘Nara… aku sangat mencintaimu. sejak kecil aku selalu berharap kita selalu bersama. walaupun aku belum bisa bicara. aku akan berusah terapi agar aku bisa bicara dan mengatakan dengan mulutku sendiri bahwa aku mencintaimu, Han Nara. maukah kau menemaniku dan selalu mensupportku?’

 

“sudah ku lakukan sejak aku bertemu seseorang yang ku panggil oppa. aku akan selalu disini untuk mensupportmu. aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu,dan yang lainnya” ujarku dan ia memelukku erat. Ya Tuhan aku sangat bersyukur

 

“benarkah??” ada suara ramai dari samping kami. astaga betapa terkejutnya kami ketika melihat teman-teman mendengar semuanya

“aku seperti menonton drama yang berakhir bahagia” ujar Chanyeol dari sela pohon dan diangguki Taeyeon yang sudah banjir air mata

“kau akan tetap disini kan Nachan?”

“jangan pergi”

 

“aku tidak pergi. karena takdirku adalah berada di samping Taemin. Nee?”  ujarku. Ponselku berdering, dan saat ku lihat Taemin mengirimi ku pesan lagi,

 

‘kau tidak malu mempunyai kekasih yang tidak bisa bicara?’

“kau malu tidak punya kekash sepertiku?”

‘tentu saja tidak. aku sangat bersyukur dan bangga memilikimu’

“begitu juga aku Taemin oppa…” aku langsung memeluknya

 

“romantisnya…” Taeyeon mengerlingkan matanya pada kami

“sini.. sini.. aku peluk” chanyeol memonyongkan bibirnya dan mengejar Taeyeon

“hentikan! Tidak sudi.. tidak sudi…”

“Taeng…”

“hanya Nachan yang boleh memanggilku itu!!”

“Taeng…” Myungsoo pun mulai menggoda taeyeon

“kalian dua manusia hina berhenti bersikap manis!!!”

“Taeyeonie…”

 

kalian tahu. kebohongan memang tetaplah kebohongan. tapi kebohongan demi kebaikan itu ternyata di perlukan. untuk mengetahui banyak hal. salah satunya kesungguhan dan pengorbanan.

jangan lepaskan orang yang mencintaimu. karena belum tentu di luar sana ada orang yang bisa mencintai dan menghagaimu sepertinya. keep your love until the end.

 

Entry filed under: EXO-K, Family, FanFiction, Friendship, Indonesia, Infinite, Kim Shin Yeong, One Shoot, Romance, SHINee, SNSD, T. Tags: .

[FREELANCE] Mianhae [FREELANCE] The Unexpected – Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 513,030 hits

Day by Day

February 2013
M T W T F S S
« Jan   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: