Enter The Darkness [PART 5]

October 13, 2012 at 7:41 PM Leave a comment

Author                  : Yanlu

Length                   : Chaptered

Genre                     : Dark, Fantasy, Romance, Mystery dll

Main Cast            : Byun Baekhyun, Kai, Sehun, Luhan, Hwang Minyoung (OC), Kim Chanra (OC), Song Jisun (OC)

Minor Cast          : find it by yourself

Rating                   : PG 15

Pandangan matanya terfokus untuk terus mengamati dua orang yang sedang meributkan sesuatu. Lalu namja yang bersama yeoja itu menyematkan sesuatu  diantara jari-jari yeoja itu. Yeoja itu tak bergeming, pandangannya juga bukan terkejut melainkan sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedetik kemudian yeoja itu berlalu mendahului namja itu yang menampakkan senyuman lega setelahnya.

“Luhan, aku menemukan batu itu di cincinnya dan batu itu berpendar saat yeoja itu berada diambang maut.” Bisiknya, Luhan hanya mengamati tak merespon kemudian Sehun mengikuti Jisun, yeoja yang kini berada di fokusnya. Konsentrasinya hanya pada cincin yang dikenakan Jisun, saat cincin itu dilepas oleh Jisun dan hendak di serahkan pada namja itu Sehun tersentak. Ia terus berharap semoga cincin itu tidak berada di tangan namja itu karena akan lebih sulit jika cincin itu berada pada seorang namja. Ia mendengar percakapan namja itu meski jarak mereka agak jauh. Di pikirannya namja itu dekat dengan Jisun, ia memperhatikan gerak-gerik mereka berdua sembari mengawasi cincin yang kini berada di tangan namja bertubuh tinggi tersebut. Saat Euhnye berlalu akan meninggalkannya namja itu menahannya kembali.

“Ok, aku akan segera menyelesaikannya tapi tolong kau tetap memakai cincin ini. Dan meski kita berpisah aku ingin kau tetap mengenakan cincin ini, jebal?” ia memohon pada Jisun. Permintaan itu mengganjal di benak Sehun. Ia heran dengan maksud perkataan namja itu tapi ia tak menghiraukan lagi ucapan tadi dan terus mengawasi Jisun.

“Sekarang, ikut aku ke suatu tempat” namja itu mengajak Jisun tapi yang di ajak justru berbalik tak peduli dengan ajakannya membuat namja itu menghela nafas berat. Sehun mengikuti kemana mereka pergi. Ia masih ingin memastikan bahwa cincin itu masih terjaga di tangan Jisun.

“Sehun, kau mau kemana?” Luhan dengan cepat mengikuti Sehun.

“Kalau kau ingin ikut, ikut saja”

Luhan mengangguk dan segera mengikuti langkah Sehun. Ia ikut mengawasi arah pandang Sehun pada Jisun, yeoja yang menjadi fokusnya saat ini. Jisun masuk ke dalam rumah diikuti namja itu. Sehun dengan sigap mengendap-endap di balik tembok mengikuti langkah Jisun. Sesaat namja yang bersama Jisun menengok ke luar jendela merasa ada sesuatu di luar sana. Namun beruntung Sehun dan Luhan peka terhadap instingnya, mereka bersembunyi sebelum namja itu melihat keberadaan mereka. Setelah dirasa cukup aman Sehun kembali mengendap dan ia menemukan sosok Jisun di ruang kamar. Ia bernafas lega saat Jisun mengunci pintu kamar menghindari namja tadi. Sekarang ia hanya perlu mencari tahu namja yang bersama Jisun.

“Luhan, kau bisa membantuku?” tatapan Sehun seperti sebuah keharusan sehingga membuat Luhan mengangguk setuju.

“Baiklah, aku tahu kau merencanakan sesuatu.” Timpalnya lirih, Sehun menyeringai mendengarnya.

*EARTH*

“Bumi sudah tidak aman, kami penjaga atmosfir bumi ingin berterus terang bahwa segerombol orang dari kami mati saat menjaga atmosfir itu entah ia berada di belahan bumi yang mana. Makhluk lain telah menyerang mereka dan merusak pertahan atmosfir, bumi…dalam bahaya” jelas salah seorang makhluk penjaga atmosfir bumi dengan muka tegang menghadap Tao.

“Maksudmu? Apa…mereka mati tak berbekas? Raut datar Tao terlihat was-was.

“Benar, mereka mati tidak meninggalkan wujud. Dan kami menemukan benda ini” salah seorang dari mereka menunjukkan pada Tao benda apa yang mereka bawa. Mata Tao membulat tiba-tiba melihat benda yang berada di hadapannya. Kontan matanya berkilat penuh geram, para penjaga itu sedikit menunduk takut melihat kilatan benci di matanya.

“Penjagaan ekstra dikerahkan mulai dari sekarang. Buka pintu portal lebar-lebar!” perintahnya. Para penjaga itu justru heran dengan perintah Tao, mereka mengangguk ragu namun tetap berlalu untuk melaksanakan perintahnya.

“Kita dalam bahaya, bagaimana dengan mereka bertiga yang turun ke bumi?” tanya Young yang tiba-tiba keluar dari kamar mendapati suara tegas Tao dari luar.

“Entahlah, aku belum bisa melindungi mereka karena belum ada perkembangan selanjutnya dimana batu itu berada. Kalau kita memberitahunya bisa dipastikan mereka akan pergi kembali ke sini. Aku akan memperingati mereka jika bahaya sudah mengancam mereka.” Tao gelisah dan mulai sedikit tak tenang.

“Tapi, siapa makhluk yang turun ke bumi?” tanyanya.

“Salah satu musuh bebuyutan kita, Quaoar” Ucapan Tao telak membuat Young ikut menegang lalu pikirannya berangsur gelisah sebagaimana gelisah yang dirasakan Tao sekarang ini.

*HEMMA*

Identitas kartu dan lain-lain yang berada di sekitar ruang kamar yang mereka tempati sekarang berserakan. Sehun mengacak laci dengan teliti. Matanya menelusuri setiap identitas yang tertulis mengenai namja yang sekarang ia tahu namanya Kris. Kartu identitas menunjukkan ia orang China dan sekarang berusia 22 tahun. Paspor juga berada disana. Di bagian kolong laci lain ia menemukan kotak kecil. Merasa penasaran dengan isi kotak itu ia membuka dan mendapati cincin yang sama dengan apa yang dilihatnya pada milik Jisun. Ia memutar kembali kejadian tadi menghadapi kebingungannya. Cincin tadi bukannya berada pada Jisun? lalu kenapa berada disini?. Ia menatap cincin itu mengamati sekilas batu emerald itu namun ia menemukan perbedaan yang ada di batu itu. Batu itu tidak mengkilap dan sedikit berwarna gelap. Batu emerald magis yang sedang dicarinya berwarna bening mengkilap bukan seperti itu. Ia mengembalikan posisi cincin tadi dan tak memperdulikan hal itu lagi.

“Sehun, mereka berdua telah bertunangan. Kris adalah tunangan yeoja tadi” ungkapnya sembari melihat sebuah buku kecil. Sehun mengerutkan dahinya lalu menghampiri Luhan mengambil catatan itu. Ia melihat tulisan ‘catatan hidup’ di bagian sampulnya.

“Apa kau tahu maksud bertunangan?” selidiknya, Luhan mengangguk.

“Ikatan sebelum pernikahan terjadi.” Jawaban Luhan membuat perasaan Sehun sedikit terguncang, ia tahu istilah pernikahan karena pernikahan ada di dunia mereka tapi pertunangan asing baginya. Ia menelan ludah yang kering mengetahui itu. Ia masih penasaran apakah pertunangan itu hampir sama seperti pernikahan atau hubungan suami istri itu diperbolehkan.

“Apakah pertunangan sama seperti pernikahan?”

“Anio, tidak sama tapi kita hanya memiliki sebuah ikatan seperti pacaran namun diperjelas saja ikatan itu” terangnya. Mereka segera menghentikan aktifitas. Instingnya mengatakan bahwa mereka harus cepat-cepat pergi atau bersembunyi.

Cklek…

“Oh, Sial!”

*EARTH*

Jisun berdiam diri bertahan sampai petang tiba. Ia mendengar bunyi cacing yang merongrong di dalam perutnya. Daritadi ia menahan rasa lapar demi menghindari namja yang telah menjadi tunangannya, Kris. Sesekali kakinya ragu untuk melangkah lalu tangannya berusaha menggapai gagang pintu hendak membuka kenopnya tapi ia urungkan. Kakinya lebih memilih kembali meringkuk di atas kasur. Perintah otaknya tak sejalan dengan syaraf.

Kruyuk…kruyuk..

“Aish! Biarlah, ada Kris atau tidak aku tak peduli.” Jisun membuka pintu memberanikan diri untuk keluar ke dapur. Satu tujuan, ia hanya mengambil makanan cepat saji di dalam rumah. Ia tak pernah mau memasak yang lumayan sulit karena di rumah tidak pernah ada yang menyiapkan makanan. Kulkas telah di hadapannya tapi sebelum membuka pintu ia melihat secarik kertas tergantung disana.

Jangan makan makanan cepat saji terus, tidak baik untuk kesehatanmu sebagai gantinya kubuatkan dobokki untukmu, eat well!

Kris

“Tsk… mian Kris aku bukannya tidak menghargai buatanmu tapi aku lebih suka makanan siap saji, sudah menjadi kebiasaanku”

Ia menemukan sepiring makanan di meja dapur tapi ia tak berniat memakannya. Saat ia hendak membuka bungkus mie ramen tiba-tiba tangannya berhenti lalu ia menimbang-nimbang melihat antara bungkus yang ia pegang dengan makanan yang telah di buat oleh Kris. Dengan decakan kecil ia memutuskan untuk memakan makanan yang di buat oleh Kris. Perutnya sudah tidak bisa di kompromi lagi, ia langsung melahap makanan itu secepat mungkin di meja dapur.

“Nafsu makan yang baik” celetuk seseorang. Jisun menengadah untuk melihat siapa yang telah mengatainya. Kris. Dia berdiri menyangga tubuhnya di tembok menatap Jisun yang sedang makan. Jisun seketika langsung menghentikan aktiftas makannya dan memilih diam menatap sinis Kris.

“Aku tidak punya waktu untuk memasak makanan jadi kuputuskan untuk memakan apa yang ada” dalihnya.

“Oke, makanlah sebanyak mungkin. Tidak perlu berhenti.” Kris tersenyum meminta Jisun melanjutkan kembali aktifitasnya tapi Jisun malah berdiri mengambil minuman di kulkas dan meneguknya dengan cepat.

“Hey, kenapa tidak kau habiskan? Tidak baik makan setengah-setengah”

“Sudah tidak bernafsu”. Ketusnya. Kemudian ia melengos pergi dari dekat Kris.

Kris berdecak “Dasar yeoja, kalau begitu akan ku bersihkan makanan ini, setelah ini aku akan keluar. Kau sendiri di rumah tak apa? Hanya sebentar.”

Yang di ajak bicara tidak mempedulikan apa-apa yang terlontar dari mulut Kris. Ia menutup pintu kamar dengan suara debaman keras yang di sengaja. Kris menggeleng mendapati sikap yeoja itu. Ia segera membersihkan piring kotor itu dan membilasnya.

Namja itu keluar dari rumah memakai jaket hitam elegannya lalu mengendarai mobil hitam membelah jalanan kota. Perasaannya mendadak merasakan sesuatu terjadi di rumahnya sehingga ia memutuskan untuk mengecek keadaan rumah. Sampai di pintu rumah langkahnya tiba-tiba berhenti saat mendorong pintu rumah. Pintu terbuka begitu saja. Rupanya password  rumahnya terlacak oleh seseorang. Ia segera masuk ke dalam mengecek siapa yang telah berani melacak password dan masuk ke dalam rumahnya. Ia melangkah dengan gerakan hati-hati membuka pintu. Meletakkan sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah. Matanya dengan tajam mengedarkan pandangan di setiap penjuru ruangan. Selanjutnya ia mendekati pintu kamar. Telinganya mendengar suara gaduh di dalam. Langkahnya sedikit tertahan untuk memastikan suara yang di dengar benar-benar berada di dalam kamarnya.

Cklek…tangannya dengan cepat membuka pintu. Berharap sesuatu di dalamnya terkejut dengan pintu yang terbuka secara tiba-tiba tapi dugaannya salah. Saat ia mencermati setiap sudut ruangan lagi-lagi ia tak menemukan siapa-siapa disana. Ia menghampiri meja berlaci dan mengacak sesuatu di dalamnya. Pencariannya berhenti saat mendapatkan kotak hitam kecil berisikan cincin berhiaskan batu hijau.

*EARTH*

“Minyoung, aku pulang dulu ya? annyeong!” Minyoung menunggu di halte dan rupanya temannya itu telah mendapat jemputan. Ia melambaikan tangan membalas lambaian temannya yang kini akan masuk ke dalam mobil. Senyum yang mengembang di bibirnya memudar seketika saat pikirannya memaksa membuka ingatan tentang nasib hidupnya sendiri. Ingatan bahwa dirinya merasa menjadi orang paling malang saat ini juga. Nasib yang sudah menderanya selama 3 tahun terakhir yang sangat buruk. Ia menghela nafas panjang sebentar melepas pikiran itu, saat itu bus belum juga datang membuat ia menunggu dengan tak sabaran. Beberapa kali ia mengendus kesal lalu memanjangkan leher menengok kanan-kiri mencari kedatangan bis. Lima menit kemudian barulah bis sampai di tempat. Dengan segera ia naik ke dalam bis. Waktu menunggunya terbayar ketika memasuki bis mendapati banyak bangku penumpang yang kosong. Menjelang petang seperti ini memang bis seringkali sepi. Ia sering mengalami itu karena mungkin pergantian hari membuat beberapa orang merasa enggan untuk keluar. Setelah duduk ia menatap ke arah luar jendela.

“Annyeong! Bolehkah aku duduk di sampingmu?” seseorang mencoba memecah lamunannya. Minyoung menengok dan sedikit terkejut karena ucapannya tiba-tiba.

“N…ne?” ucapannya, terdengar keraguan di nadanya. Seorang namja yang tiba-tiba berada di sampingnya membuat ia bingung. Ia merasa tadi tidak ada seorang namja muda di dalam bus. Semua penumpang yang di jangkau oleh pandangan matanya hanyalah beberapa ahjussi dan ahjumma serta seorang yeoja muda. Pikiran itu segera menghilang saat pemuda itu menunjukkan senyumannya membuat Minyoung menatap kaku. Entah kenapa menurutnya pemuda di sampingnya  kini yang berpenampilan cukup aneh mempunyai senyuman yang mengerikan di matanya. Senyuman yang tidak hangat seperti kebanyakan orang menyapa.

“Wae?” tanya namja itu mengejutkan kebisuannya saat menatap namja tersebut dengan pandangan sedikit-takut.

“Aniya, t..tadi…aku ti…dak melihatmu berada di bis ini” ucapku sedikit terbata-bata saat di tatap dalam olehnya.

“Haha, oh itu mungkin kau tidak terlalu memperhatikan. Hm…namamu Hwang Minyoung?” namja itu menatapnya lagi tapi kali ini matanya beralih pada bagian leher Minyoung. Minyoung tak menyadari itu ia hanya menatap namja itu dengan pandangan terkejut.

“B…bagaimana kau bisa tahu?” Minyoung semakin terkejut. Namja itu mengembangkan senyumnya kembali yang terlihat sedikit menakutkan di mata Minyoung.

“Badgemu, aku benar kan?”

“Ne. majayo”

Setelah percakapan itu berhenti Minyoung beralih menatap pemandangan jalan lewat kaca jendela bis. Keheningan tercipta dan tak membuat keduanya  sedikitpun. Namun yang terlihat aneh adalah saat tatapan namja itu tak beralih dari leher Minyoung. Kalung yang tergantung di sanalah yang menarik perhatiannya untuk terus mencermati benda kecil yang berada pada bandulnya. Tanpa disadarinya mata namja itu berubah warna. Irisnya menjadi putih menyerupai kilat. Setelah Minyoung bergerak dan barulah warna matanya berubah normal. Tampaknya perjalanan itu telah berakhir untuk Minyoung sehingga ia berdiri dari bangkunya dan tepat saat itu bus berhenti. Namja yang ada di sebelahnya tersenyum kembali dan memberi ruang untuk keluar. Sementara Minyoung keluar namja itu juga ternyata ikut turun dari bis.

“K…kau ikut turun?” Minyoung masih terkejut dengan kesamaan tujuan namja itu yang juga turun dari bis sama seperti dirinya.

“Aku memang turun di sini. Kau ke arah mana? Aku akan ke sana.”

“Aku juga”

“Oh, baiklah kita jalan bersama, ne?” tawar namja itu yang di balas anggukan oleh Minyoung. Mereka berdua jalan bersama. Salah satu dari mereka tampaknya menjadi agak gugup terlihat dari langkahnya yang tersendat-sendat. Minyoung beberapa kali tak memperhatikan jalan di depan. Otaknya terus berpikir mencari kata-kata yang tepat untuk mencairkan suasana ini sehingga menjadi tidak fokus berjalan

“Hm…kau tinggal di sekitar sini, dimana itu?” akhirnya Minyoung membuka suara.

“Hm…untuk apa kau menanyakan itu?” ia justru balik bertanya dan membuat Minyoung bingung tak tahu harus menjawab apa.

“Baiklah…rumahku agak jauh lagi ke sana. Kau tidak ingin menanyakan namaku?” ujarnya lagi yang terlihat seperti sebuah permintaan.

“Well, namamu siapa?”

“Kim Jongin”

*EARTH*

Dua orang namja yang masih meringkuk di bawah kolong tempat tidur mulai terengah-engah kehilangan suplai oksigen. Beberapa menit telah berlalu dan mereka masih khawatir kalau-kalau Kris masih berada di sekitar rumah. Setelah memastikan suara mobil berderu kembali barulah mereka keluar dari kolong tempat persembunyian. Keduanya menghirup nafas sebanyak-banyaknya. Luhan meniup poni merapikan sejenak sedangkan Sehun hanya mengipasi diri yang sedari tadi merasa gerah.

“Apa kau mendengar dia bilang sesuatu? Entah kenapa meski namja itu berada dekat di sekitar kita aku tak bisa menangkap suara atau gumaman apapun dari mulutnya.” Ucapan yang terlontar dari Luhan hanya di tanggapi Sehun dengan alis saling bertautan tak mengerti. Luhan berdecak kesal dengan respon Sehun yang tidak memecahkan teka-teki dalam pikirannya.

“Ku rasa dia orang yang tidak penting untuk kita perhatikan, kajja!” Sehun pergi dari ruang kamar dan kemudian melompat keluar lewat jendela. Luhan mengikutinya dan menutup jendela itu seperti posisi semula. Sehun berjalan mendahului Luhan. Luhan masih berjalan di belakang Sehun sibuk dengan pikiran tentang Kris yang masih terus bersarang di otaknya. Ia masih merasa ganjil dengan kejadian tadi yang tidak biasanya ia alami selama mempunyai pendengaran yang tajam.

Di lain tempat Baekhyun sedang menyeruput jus di salah satu tempat makan sambil menatap lalu lalang orang. Matanya berkeliaran seperti memburu sesuatu. Sudah setengah jam ia duduk di situ memperhatikan orang yang lewat di sekitarnya maupun di luar tempat itu selama terjangkau oleh matanya. Bunyi gemerincing terdengar saat pintu terbuka yang menandakan ada pengunjung. Baekhyun yang awalnya tak peduli tiba-tiba tersenyum simpul mendapati Minyoung masuk dari pintu. Ketika Baekhyun hendak melambaikan tangan padanya tiba-tiba seorang namja menyejajari Minyoung. Sesaat ia ragu untuk melakukan hal tadi hingga akhirnya ia hanya mengawasi Minyoung bersama namja itu. Melihat kedekatan Minyoung dan namja itu entah mengapa ia merasakan hawa panas menjalari tubuhnya. Matanya berangsur menjadi hijau tajam namun beruntung keadaan sekitar tidak terlalu ramai dan tak ada yang memperhatikan dirinya.

“Siapa namja itu? Apakah dia kekasihnya? Ani…ani…mungkin saja ia temannya” gumamnya meyakinkan diri.

Mereka berdua terlihat tak berminat untuk duduk menikmati makan di sana. Minyoung hanya membeli sesuatu yang di bungkus sedangkan namja di sebelahnya hanya membeli minuman. Lalu mereka berdua keluar bersama. Baekhyun yang sedari tadi matanya tak lepas dari mengawasi segera mengikuti kemana mereka akan pergi. Minyoung tampaknya masih sedikit kaku pada namja itu namun namja itu tak lama kemudian membuat Minyoung tertawa entah hal apa yang mereka bicarakan. Perasaan yang sedari tadi di tahannya tiba-tiba meletup menyaksikan pemandangan dihadapannya. Ia tak sekalipun pernah mendapati Minyoung tertawa setulus itu padanya. Minyoung lebih banyak bersikap tak acuh padanya daripada menunjukkan sederet gigi atau senyumannya. Sesampainya di ujung jalan rumah Minyoung mereka berdua berhenti, mungkin mengucapkan salam perpisahan karena tampaknya namja itu akan melangkah ke arah berlawanan. Namun mata Baekhyun kembali memanas saat melihat gerakan tiba-tiba dari namja itu yang hendak mendekatkan diri pada Minyoung walau posisi mereka hanya terlihat dari punggung namja itu di mata Baekhyun. Kakinya memerintah untuk mengacaukan situasi itu sehingga mereka berdua terkejut secara bersamaan.

“Minyoung, kau baru pulang? Aku mencarimu tadi tapi ternyata kau baru pulang sekarang.” Baekhyun mencoba merusak suasana mereka yang posisinya berhadapan. Minyoung mengerutkan dahi tak mengerti dengan kehadiran Baekhyun yang selalu tiba-tiba. Namja itu juga melirik Baekhyun dengan tatapan yang sulit di artikan. Seperti menemukan sesuatu di manik matanya saat menatap Baekhyun.

“Hey, Kau! kenapa kau akhir-akhir ini sering berada di sekitarku? Aku bosan melihatmu! Aku memang baru pulang, kau sudah tahu kan?!” sentaknya membuat Baekhyun sedikit kesal lalu menarik lengannya paksa membuat Minyoung merintih kesakitan.

“Minyoung, aku lebih baik pulang, annyeong! Sampai ketemu lagi” ujar namja itu diselingi tatapan menang pada Baekhyun tapi Baekhyun tak menyadari tatapan aneh darinya. Baekhyun masih sibuk dengan ketidaknyamanan Minyoung saat ia mencengkeram tangan Minyoung.

“Lepaskan!! Apa kau sekarang sedang menjadi stalkerku? Kenapa kau sering muncul akhir-akhir ini dan melakukan hal yang aneh!” ujarnya masih kesal pada Baekhyun tapi nadanya sedikit melunak. Baekhyun segera melepas tangannya dan menatap Minyoung menuntut penjelasan.

“Siapa namja tadi?” ia justru balik bertanya dan tak menghiraukan pertanyaan Minyoung barusan.

“Oh, dia te-man de-kat-ku, memangnya kenapa? Hey! Kau tadi belum menjawab pertanyaanku!” sahutnya sambil tersenyum menyelidik.

“Aku bukan stalker. Aku hanya ingin memastikan sesuatu” akunya tanpa berani menatap Minyoung lagi karena takut Minyoung akan bertanya lebih lanjut dan kemudian membongkar misinya.

“Ah, Maja! Aku rasa kau memang mengikutiku karena ada sesuatu. Apa itu? Ayo katakan!” desaknya membuat Baekhyun terdiam tapi sedetik kemudian Minyoung menepuk jidatnya dan berbalik terlihat buru-buru karena melupakan sesuatu.

“Aku harus pergi!” Minyoung berlari. Baekhyun mendesah lega saat ia yakin Minyoung sudah jauh dari jangkauannya. Hampir saja ia kebingungan jika saja Minyoung tidak segera pergi. Identitasnya tidak ingin secepat itu terbongkar kecuali situasi darurat dan mendesak.

*EARTH*

Headline News

Beberapa tempat clubbing atau bar malam dan minimarket 24 jam di laporkan telah porak poranda. Barang-barang berserakan dan membuat resah banyak orang. Adapun yang menjadi pusat perhatian adalah beberapa dilaporkan banyak orang menghilang. Banyak laporan sampai di kepolisian bahwa saudara dan teman-teman mereka menghilang seminggu yang lalu dan jadwal kehilangan mereka persis antara satu dengan yang lain. Polisi hanya mampu menduga bahwa ada serangan malam atau  teror malam. Beberapa orang yang menghilang tak meninggalkan bekas apapun. Beberapa hanya menemukan jam tangan atau perhiasan seseorang yang hilang itu tertinggal di tempat. Ini menjadi sebuah misteri dan tampaknya sulit untuk dipecahkan hingga sekarang. Apa yang sebenarnya menimpa sebagian orang-orang yang hilang tersebut?. Lalu siapakah yang telah melakukan kerusuhan semacam itu? Tidak ada jejak. Tidak ada bukti apapun yang menguatkan fakta.

“Ck…kenapa ada berita aneh seperti itu!” komentar Chanra yang sedang mendengarkan acara TV tanpa menontonnya.

“Chagi, bisakah kau matikan TV dan tutup bukumu?. Ini sudah malam. Ayo tidur!” seorang yeoja yang berumur sekitar 40 tahunan memerintahnya untuk meninggalkan TV dan bacaan bukunya. Chanra berdecak kecil lalu menurut mematikan TV dan naik ke atas kasur. Eomma memeriksa kamar kemudian menyelimuti Chanra dan mematikan lampu tidur.

“Kau dalam bahaya, jika tahu penyebab hal itu.” Ucapnya tiba-tiba namun masih bisa di dengar oleh Chanra.

“Apa maksud perkataannya?” Chanra sesaat sibuk dengan pikiran itu namun tak lama kemudian ia tertidur.

Entry filed under: FanFiction, Fantasy, Mysteri, Romance. Tags: .

Destiny Of Love Part 3 “Saranghandago”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,956 hits

Day by Day

October 2012
M T W T F S S
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: