Enter The Darkness [PART 4]

September 20, 2012 at 7:00 PM Leave a comment

Author                 : Yanlu

Length                 : Chaptered

Genre                   : Dark, Fantasy, Romance, Mystery dll

Main Cast            : Byun Baekhyun, Kai, Sehun, Luhan

Hwang Minyoung (OC), Kim Chanra (OC), Song Jisun (OC)

Minor Cast        : find it by yourself

Rating                 : PG 15

TEASERPART 1PART 2, PART 3

Glek…glek…

Kerongkongan seseorang berbunyi saat meminum segelas wine dari bar malam. Lampu disko masih menggema dengan jelas di telinganya meskipun keadaannya mulai menandakan tanda-tanda mabuk. Setelah turun ke bumi ia pikir dirinya tidak akan menjadi seperti manusia ternyata salah. Turun ke bumi tubuhnya secara total berubah menjadi manusia biasa hanya saja kekuatannya masih tetap melekat pada tubuhnya. Pikiran yang biasanya bisa ia gunakan kali ini tertutup begitu saja oleh pikiran kacaunya karena nada bicaranya saja sudah terdengar melantur.

“Wah, kalungmu sangat indah sangat cocok dengan wajah cantikmu.” Pujinya masih setengah sadar. Ia hanya merayu bukan dari hati ia berkata hal itu. Kalung panjang yang tergantung di bawah kaus putih yeoja itu terlihat meskipun Luhan─namja itu sedang mabuk. Keistimewaan yang dimilikinya tidak hilang begitu saja.

“Nampaknya kau suka dengan ini?” tunjuk yeoja itu mengeluarkan sebuah kalung yang menjadi incaran Luhan. Luhan pura-pura tidak tertarik dan mengulum senyum dihadapannya. Yeoja itu terpesona dibuatnya saat Luhan cukup lama tersenyum padanya, tiba-tiba ia tidak  saat Luhan membawa kalung itu pergi tanpa meminta ijin darinya.

“Ah, manusia-manusia pintar, haha!” kekehnya yang lebih merupakan cemoohan. Matanya mulai mencermati kalung itu, batu itu memang berwarna zamrud tapi tidak berkilau dan tampaknya biasa saja. Ia berniat membuang tapi seseorang tiba-tiba meneriakkinya. Benar saja seorang yeoja berteriak cukup histeris ke arahnya. Ia mulai panik dan kepanikannya tidak salah. Tiba-tiba dari arah lain datang seorang namja berbadan cukup besar. Sebenarnya ia ingin sekali menggunakan kekuatannya saat keadaan genting seperti ini namun saat ingat akan pesan Tao ia mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk kabur daripada melawan. Resiko lebih besar akan menghadang jika saja ia sembarangan menggunakan kekuatan itu dihadapan makhluk bumi. Ia lari dari kejaran mereka. Langkah lebarnya memudahkan ia berlari terbukti dari jaraknya yang lumayan jauh dari dua namja itu.

“Hei, kemari kau! pencuri!” teriak salah satu dari dua orang tersebut.

Luhan tetap berlari, namun ditengah larinya tangannya tertarik ke tempat berlatarkan bangunan tak terpakai dengan banyak graffiti terlukis di dindingnya. Tangannya dibekap saat ia hendak mengucapkan sesuatu. Akhirnya ia lebih memperhatikan seseorang yang membekapnya daripada suara langkah dua orang yang mengejarnya. Ia berusaha mencermati, orang yang berada disampingnya meskipun orang itu sedang berusaha mendengar langkah dua orang itu supaya bisa bernafas lega. Namun beberapa detik kemudian terdengar desahan lega darinya. Luhan ikut menghela nafas, ia pusing demi melihat siapa yang telah menariknya tiba-tiba karena tempat itu terlalu gelap untuk bisa dilihat secara jelas.

“Hah, dua orang itu sudah pergi?” tanyanya pada Luhan. Ia hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya. Ia pikir orang ini bukanlah lelaki meskipun rambutnya pendek. Suaranya kecil tidak berat dan ia memakai pakaian santai dengan kaos dan celana jeans selutut.

“Kau? kenapa menarikku ke sini?” ujarnya rasa penasaran sudah tak bisa dibendung olehnya. Ia bertanya kemudian menarik yeoja itu keluar dari tempat gelap tersebut. Benar dugaannya. Dia seorang yeoja, tapi ia kenal dengannya. Ia tahu mata melalui sorotan matanya. Ingatannya kembali pada seorang gadis yang membuang kalung dengan seenaknya sehingga membangunkan tidurnya.

“K-k-kau? Nam-ja i-tu? Terkanya sedikit terbata-bata. Mungkin karena terkejut mendapati Luhan adalah namja yang pernah ditemuinya.

“Kebetulan sekali kita bertemu kembali, senang bertemu kembali” ungkap Luhan seraya menyunggingkan senyum menggoda. Yeoja itu, Chanra tertawa sinis melihat raut mukanya yang menurutnya sedang berusaha ramah namun terlihat menggelikan. Luhan memudarkan senyumnya lalu menatap Chanra dengan pandangan heran.

Mereka berdua duduk-duduk di padang rumput setelah tadi sempat mengobrol. Malam ini bulan purnama menggantung indah di langit memberi cahaya putih kekuningan yang khas. Bintang juga tak kalah meramaikan malam dengan kerlap-kerlipnya. Mereka berdua sama-sama menengadah memandang keindahan langit malam yang hanya bisa didapatkan sebulan sekali dan itu hanya semalam sehingga moment ini sangat mereka nikmati. Apalagi Luhan yang menatapnya tanpa berkedip sama sekali karena ia tidak pernah menjumpai langit seindah ini di planetnya sendiri. Di planet Hemma hanya ada langit berwarna biru dan oranye.

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu” tutur Luhan memulai perbincangan.

“Mwo? Bilang saja” Chanra membalas tanpa menoleh ke arahnya.

“Kalung yang kemarin itu, kenapa kau membuangnya lalu kau minta kembali?” Chanra terdiam sejenak. Mencoba mempertimbangkan apakah ia perlu menceritakan ini pada Luhan.

“Kalung itu sangat berharga bagiku, aku tidak sempat berpikir awalnya karena terpengaruh emosi namun setelah dipikir-pikir kembali hanya kalung itu yang bisa ku gunakan” ungkapnya diakhiri dengan desahan panjang. Luhan mulai menoleh tertarik dengan penuturannya.

“Kalung sejenis itu memang sangat berharga, aku tahu tapi kenapa kau berniat membuang kalung itu?” tanyanya penasaran.

“Tidak hanya berharga tapi mempunyai kisah tersendiri. Kalung itu merupakan pemberian seseorang yang amat ku sayangi. Kalung itu amanatnya. Karena dia sudah tiada aku benci menyimpan kalung itu dan berencana membuang kalung itu tapi sebenarnya aku ragu untuk membuangnya jadi saat aku menemukan kalung itu ditanganmu, aku berpikir untuk merebut kembali kalung itu karena aku menyesal membuang kalung itu.” Chanra bercerita namun matanya memandangi kalung yang ada di genggamannya. Pandangan matanya tiba-tiba berubah menjadi sengit. Luhan menjadi penasaran tapi pikirnya itu bukan masalahnya, ia tidak ingin mengorek terlalu jauh. Sesaat mereka kembali diliputi keheningan karena Luhan tidak merespon apa-apa. Kemudian tiba-tiba Chanra bangkit dari duduknya, ia menatap Luhan mengisyaratkan bahwa ia harus segera pergi. Luhan berdiri dan kemudian sedikit menahannya untuk langsung pergi.

“Mianhae, aku terlalu larut dalam kesedihan sampai-sampai aku mencurahkan semua padamu, padahal kita hanya beberapa kali bertemu.” Akunya.

“Gwechana, bukankah hal itu melegakanmu? Mm…sepertinya sudah malam tidak baik kalau kau pergi sendirian, ayo ku antar” tawar Luhan. Chanra membuat tanda silang dengan kedua tangan di depan dada yang mengartikan ‘tidak perlu’.

“Baiklah,kalau begitu hati-hati” Luhan melambaikan tangan. Ia masih memandang Chanra meskipun sudah jauh, memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa sebelum sosoknya menghilang dari pandangannya. Saat memutuskan hendak berbalik tiba-tiba bayangan hitam muncul di belakang Chanra. Bayangan itu terus mengikuti kemanapun Chanra melangkah. Hal itu mengundang rasa penasarannya. Ia sedikit curiga saat sosok hitam yang berada di dekat perempatan jalan tempat Chanra akan berbelok mengawasi yeoja itu dengan jubah hitamnya

Ia memutuskan untuk mengikuti Chanra, khawatir sesuatu terjadi padanya. Ia berlari menyusul Chanra kemudian berjaga jarak sehingga Chanra tidak mengetahui keberadaanya, Sosok hitam yang di curigai oleh Luhan hilang entah kemana bersama asap putih di sekitarnya. Akhirnya ia menghela nafas lega saat sosok itu menghilang tapi gerak-gerik matanya tetap mengawasi Chanra karena kalung berharga itu masih menjadi incarannya sampai sekarang. Lagipula batu berwarna zamrud itu sangat sulit dicari. Hanya segelintir orang saja yang memakai dan memiliki batu zamrud itu.

*EARTH*

                Jalanan sepi menjadikan dirinya mudah menampakkan diri terlebih saat lampu jalan padam. Saat melihat sesuatu yang menarik di matanya dengan segera ia berlari mengikuti seorang yeoja yang memiliki sesuatu menarik di balik sakunya. Ia masih mencoba melakukan hal yang membuka jalan menuju sesuatu yang berada di balik saku celana yeoja itu. Batu. Pikirannya mulai merumit, sulit menemukan tarikan yang berada di batu itu. Suasana sunyi membuat ia mudah mengikutinya tanpa takut diketahui wujud asli dirinya namun saat beberapa orang menghalangi jalannya ia tak segan-segan menghabisi nyawa mereka tanpa bekas sedikitpun sehingga jejak kematian mereka tidak bisa terlacak. Tiba-tiba sudut matanya menemukan sosok lain berada di ujung jalan di hadapannya sedang berdiri menatap ke arahnya lalu dengan sigap ia menutup diri dengan kerudung. Matanya terlihat mengawasi yeoja yang membawa batu, incarannya.

“Sial! Kalau bukan dia, akan ku habisi dirinya, cih! Aku harus menghilang sebelum ia menyadari keberadaanku” desisnya lirih.

SHET! Asap putih sedikit mengepul disekitar menghilangnya dia. Ia menghilang dengan cara berteleportasi. Teleportasinya membawanya menuju tempat seorang namja sedang berdiri di atas atap.

“Baekhyun, bagus kau disana. Lebih baik kau terjatuh setelah ini” ucapnya sembari menyeringai. Ia berteleportasi lagi sampai di sekitar rumah tempat Baekhyun berada di atap. Baekhyun tidak menyadari keberadaannya. Ia lebih sibuk dengan pikirannya sendiri. Pikiran yang membawanya pada rencana selanjutnya agar ia bisa menemukan batu emerald magis itu. Namja berbaju silver itu menatap nanar pada Baekhyun yang sedang melamun tanpa menyadari keberadaannya, ia menyeringai senang.

“Akan sangat bagus kalau saat ini aku berulah membuatnya penasaran tapi sepertinya bukan saat yang tepat kali ini. Targetku belum sempurna, tunggu saja Baekhyun kau tidak akan menang!” pikirnya. Menyeringai kembali lalu berteleportasi lagi. Kali ini sampai di atap seberang dari posisi Baekhyun berada. Ia terlihat sedikit menjaga jarak meski tangannya gatal ingin mendorongnya agar terjatuh. Picik, itu memang mengalir sempurna pada darah murninya sehingga tanpa perasaan ia akan menghancurkan apa yang mengalanginya kecuali berhadapan dengan makhluk yang hampir sepadan dengannya dan makhluk itu kini ada di hadapannya sedang melamun memandangi awan hitam. Kekuatannya bisa tidak labil jika bertemu dengan kekuatan yang dimilikinya.

“Baekhyun…baekhyun…Kau tidak akan bisa mendahuluiku…” bisiknya dari belakang lalu dengan cepat berteleportasi. Merasa ada seseorang yang berbisik memanggilnya Baekhyun menoleh namun tidak menemukan siapa-siapa disana. Ia mengangkat kedua bahu lalu kembali menatap awan dengan pandangan kosong.

“Pabo! Pabo…” sentaknya namun tetap lirih. Kali ini Baekhyun merasa jengah karena mendengar bisikan itu yang lumayan jelas di telinganya sehingga membuatnya terganggu. Matanya mulai menyelidik menyoroti keadaan sekitar dengan cahaya yang keluar dari tangannya secara otomatis. Ia tidak ingin gegabah berbicara sendiri seperti orang gila sebab itu ia hanya melakukan gerak-gerik saja tanpa membalas bisikan aneh itu.

“Kau tidak akan bisa menemukanku untuk sekarang, Baekhyun!” desisnya pada diri sendiri. Lalu menghilang dengan cepat sebelum cahaya Baekhyun sedikit lagi tepat menyorotnya.

“Sesuatu tidak beres terjadi…” batinnya.

*EARTH*

                Cklek…

Pintu kamar terbuka diikuti dengan masuknya seorang yeoja bermata agak sayu sedang berusaha menahan kantuk. Ia menguap lebar sesaat sebelum menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Saat tubuhnya menimpa permukaan kasur pandangannya beralih menatap langit-langit. Meskipun terlihat lekat namun pikirannya bukan pada langit-langit yang dilihatnya melainkan kejadian pada siang hari tadi yang membuat pikirannya terganggu. Entah kenapa ia merasakan sensasi berbeda saat namja yang mengaku bernama Baekhyun itu sering ditemuinya akhir-akhir ini. Apalagi saat deru nafasnya menerpa leher jenjangnya. Aroma tubuhnya berbeda, sangat kuat melekat di indra penciumannya. Aroma yang tercium bukan parfum melainkan seperti bau basah alam, entahlah sulit dijelaskan menurutnya.

“Apa yang tadi aku lihat tidak nyata kan?” gumamnya pada diri sendiri. Teringat iris mata kehijauan Baekhyun yang tertangkap di matanya saat Baekhyun menatap batu di kalungnya. Minyoung tiba-tiba bangkit dari posisinya menjadi duduk, ia melonggarkan kalung yang tergantung di lehernya menatap batu hijau itu sejenak. Matanya meniti lebih dalam lalu tatapannya berubah tak yakin.

“Ada apa dengan kalung ini? Aku jadi curiga kalau dia mendekatiku semata-mata karena ada sesuatu yang ia inginkan dariku” terkanya yang sesungguhnya benar. Tapi kepalanya menggeleng mencoba mengelak itu.

“Meski ia ada maksud tertentu tapi sepertinya Baekhyun bukanlah tipe-tipe nappeun namja” pikirnya.

Sudah cukup larut malam ia tidak bisa tidur. Tiba-tiba pintunya terbuka oleh seseorang. Ia pura-pura tak mendengar karena ia tahu paling-paling itu adalah orang yang dibencinya, kakak tirinya.

“Minyoung, hmm…” bisiknya lebih pada dirinya sendiri. Kalimatnya terhenti sampai disitu, ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia ─Tiffany begitulah panggilan kakak tiri Minyoung─perlu diketahui bahwa hubungannya dengan Minyoung memang buruk dari awal mereka tinggal satu atap karena Appanya telah menikah dengan Shin Hyejin yang tidak lain adalah Eomma dari Minyoung. Hyejin memang baik pada Tiffany begitupula sebaliknya namun Minyoung tak pernah membalas sikap baik Tiffany. Ia sudah cukup membenci pernikahan antara Eommanya dan juga Appa Tiffany yang kini menjadi ayah tirinya. Appa Tiffany hanya memandang sebelah mata tentang dirinya, ia masih lebih peduli dengan Tiffany. Mereka berdua selalu berbeda di mata Appa mereka sendiri. Tiffany adalah anak penurut dan pintar, ia juga terkenal. Berkebalikan dengan Minyoung yang hampir selalu melanggar aturan sekolah dengan predikat siswa yang selalu terlambat datang dan nilai standar. Apalagi kehidupan Minyoung berubah seratus depalan puluh derajat setelah Appa kandungnya meninggalkan Eomma dan Hwang Appa yang kini menggantikan posisi seorang ‘Appa’ di kehidupan Minyoung yang sekarang. Appa tirinya yang terkesan membeda-medakan itu membuat Minyoung mati-matian ingin membuktikan bahwa dirinya bisa lebih dari Tiffany meski keadaan sekolah seperti neraka. Ia tidak peduli dengan hinaan yang dilontarkan teman-temannya, ia hanya ingin membuktikan pada semuanya bahwa mereka semua salah menilai dirinya. Tiffany juga bukan yeoja baik seperti yang terlihat dari luar. Ia selalu menghina Minyoung di belakang lalu dengan caranya sendiri ia mengutarakan kejelekan Minyoung di depan Appanya apalagi Appa sepenuhnya lebih mempercayai dia daripada Minyoung. Perlu diketahui hanya dengan Shin Hyejin, Eommanya ia berbuat baik didepan Minyoung, selebihnya tidak. Tapi apapun itu ia ingin telihat lebih meski berbeda.

Cklek…

Pintu tertutup kemudian setelah Tiffany mematikan lampu kamar.

“Cih! Akting yang memuakkan.” Cibirnya di balik selimut tebalnya.

Tengah malam rembulan berbentuk sabit itu mulai menghilang tertutup awan. Baekhyun segera  dari tempatnya berjalan melewati atap satu ke atap lainnya seraya turun ke bawah tanpa sedikitpun khawatir kakinya terkilir. Padahal ketinggian atap rumah disekitarnya tak dikira bisa di loncati dengan selamat oleh manusia biasa.

Buk! Bunyi benturan terdengar cukup keras saat sepatunya menyentuh pemukaan tanah setelah ia meloncat. Ia menyampingkan diri sedikit mengendap-ngedap disekitar rumah yang ditujunya. Jendela kamar menjadi tempat pemberhentiannya. Ia memfokuskan matanya lebih tajam menembus tirai biru yang menutup pandangannya di balik jendela tempat ia berdiri. Setelah mampu menerawang ia melihat sekilas seorang yeoja yang tertidur cukup pulas tepat menghadap jendela. Ia hanya memastikan matanya terpejam sehingga dengan mudah ia bisa menemukan sesuatu yang sedang dicarinya. Sorotan matanya menelisik setiap sudut kamar menembus lorong dan tempat-tempat tersembunyi. Setelah tak menemukan apa yang dicari ia dengan sedikit risih mulai menajamkan mata tapi tidak menyoroti tubuh yang terbungkus dengan selimut itu. Matanya hanya fokus pada bagian leher mencari kepastian. Belum sempat ia menemukan sesuatu yang sangat ingin ia ketahui pintu kamar terbuka secara tiba-tiba membuat fokusnya normal kembali. Ia mendesah nafas berat lalu berlalu pergi sebelum seseorang memergokinya berada di sana sedang mengintip lewat jendela.

“Aish! Jinja! Padahal tinggal sedikit lagi aku bisa melihatnya!” geramnya.

Setelah itu ia tidak berniat melancarkan aksinya kembali, ia lebih memilih kembali ke atas atap dan tidur terlentang di sana. Menghadap langit malam yang kelabu.

*EARTH*

Minyoung POV

Pagi hari yang lumayan dingin menyapa hariku saat aku selesai mandi. Badanku sedikit kedinginan dengan cuaca yang berangin, padahal jendela kamar sudah tertutup rapat namun tampaknya angin lebih halus menyusup ke celah-celah kecil yang ada sehingga dinginnya masih terasa sampai ke dalam.

“Minyoung, turunlah…kau tidak berangkat sekolah? Ini sudah jam tujuh kurang sepuluh.” Teriak Eomma dari luar pintu. Aku melihat jam dengan santainya. Kebiasaan burukku yang tidak pernah bisa bangun lebih pagi dari jam setengah tujuh selalu menyusahkanku. Alarm jam, hape atau apapun tampaknya tidak mempan. Aku selalu mematikannya dan menganggap itu pengganggu tidurku.

“Ne, sebentar lagi aku berangkat” aku menyahut dengan lantang agar terdengar.

Saat aku hendak ke meja makan kulihat Appa dan Tiffany yang sedang beres-beres hendak berangkat. Hal itu sudah biasa dan membuatku mempunyai alasan untuk bangun lebih terlambat karena aku tidak ingin makan satu meja dengan mereka.

“Minyoung…kau belum sarapan, cepatlah duduk ini sudah hampir terlambat, kau mau kami tinggal?” sapa Tiffany mengembangkan senyum palsunya padaku. Kulihat Appa tak terlalu menghiraukan keadaan sekitar, dia mulai menenteng tas dan baru saat itu ia menatapku seperti biasa.

“Tiffany, Appa buru-buru. Tak mungkin mengantar anak malas seperti dia. Kau bisa dihukum gara-gara adikmu itu, kajja!” ucapnya jujur yang di tanggap olehku biasa saja karena aku memang menolak berangkat bersama mereka. Tiffany mulai berakting lagi, ia menarik tanganku yang justru ku hempaskan karena aku tidak tertarik untuk ikut dengan mereka berdua.

“Minyoung…kau selalu terlambat, ikutlah bersama mereka biar sarapannya Eomma bungkus jadi kau tinggal makan di sekolah” Eomma sudah mengepak kotak makan dan memasukkan itu di dalam tasku. Aku mendesah pelan kemudian tersenyum manis di depan Eomma demi tidak membuatnya kecewa. Aku lantas mengikuti mereka tapi saat keluar dari pintu gerbang aku memisahkan diri dari mereka berdua─Appa dan Tiffany─setelah Eomma tidak melihat kami tentunya. Tiffany berpura-pura lagi membuka jendela dan mengajakku masuk tapi aku menghiraukannya dan tetap berjalan lurus. Sedetik kemudian mereka melajukan mobil tanpa menungguku naik karena mereka sudah tahu kebiasaanku seperti ini.

“Cih! Ratu acting, hanya pada Appa dan Eomma kau begitu!! Selebihnya di luar mereka kau lebih memuakkan dari ini!” umpatku menggerutu tak jelas selepas peninggalan mereka.

“Minyoung-ah, kau tidak takut terlambat, kajja ikut aku” ku dengar suara seorang namja yang tak asing lagi setelah beberapa hari ini aku bertemunya. Ya, dia Baekhyun berdiri di dekat belokan rumahku dengan mengenakan motor spot hijaunya menawariku tumpangan sepertinya.

“Tidak, gomawo!” sahutku berusaha menolak meski kenyataannya saat ini aku sangat membutuhkan tumpangan agar kebiasaan terlambatku ini berubah sekali-kali.

“Oh, ayolah! Kau tidak perlu bersikeras menolak, aku tahu saat ini kau ingin cepat-cepat datang ke sekolah, kajja!” Great! Dia bisa mengetahui isi pikiranku dengan baik. Ia menarik tanganku ke dekat motor. Dia naik ke jok motor lalu melepas gas, aku sedikit bimbang namun kupikir sekali saja aku tidak menahan keinginanku untuk menerima tawaran. Aku naik ke atas jok dan dia mulai melepas gas dengan cukup kencang. Aku terkejut saat itu juga dan hampir saja terjatuh karena posisiku sengaja ku jauhkan dari badannya.

“Kalau kau tak ingin datang terlambat, pegang kuat-kuat pinggangku, atau lingkarkan tanganmu di perutku.” Pintanya yang lebih terdengar seperti sebuah keharusan untukku. Sesaat setelah itu ia semakin mengencangkan kecepatannya. Oh tidak! Ini membuatku tak nyaman apalagi saat aku semakin mengeratkan peganganku di bagian pinggang. Jantungku berpacu cepat saat ini juga. Bukan karena kecepatan yang ia lajukan melainkan karena peganganku yang terlampau erat. Dia menambah kecepatan lagi saat di jalanan besar. Great! Sepertinya hari ini hari buruk untukmu Minyoung!. Aku semakin merapat melingkarkan tanganku ke perutnya. Setelah hal itu ku lakukan jantungku benar-benar tak bisa berkompromi. Entah itu karena ketakutanku akan kecepatan yang ia lajukan atau karena tubuhku sukses menempel pada tubuhnya, aku tak tahu persis yang mana. Aku merasa ia mengucapkan sesuatu di sertai kekehan kecil. Mungkin ia juga merasakan detakan jantungku saat ini sehingga ia tertawa kecil. Aku mendengus kesal meski mungkin tak terdengar olehnya. Oke setelah ini aku tidak akan lagi mau menyetujui tawarannya yang menyebalkan ini. Sesampainya di depan sekolah aku mulai bernafas lega dan segera menjauhkan badanku darinya, melonggarkan pegangan yang membuatku panas seketika.

“Sudah sampai, turun!. Kau harus segera ma─” belum sempat menyelesaikan kalimatnya aku berlalu pergi dari hadapannya tanpa mengucapkan apa-apa, tidak ada waktu untuk itu. Aku segera masuk mengingat beberapa detik lagi gerbang menutup. Setelah masuk aku bisa menghembuskan nafas lega seraya berlari cepat menuju kelas.

End POV

Selama perjalan mengantar Minyoung Baekhyun terus mengembangkan senyum, sekali-kali ia tertawa kecil merasakan sebuah tangan menyentuh perutnya. Perasaannya membuncah bahagia apalagi saat mendengar detakan jantung Minyoung saat tadi merapat ke tubuhnya. Sesampainya di sekolah Baekhyun segera melepas helm dan kemudian membereskan rambut poninya di depan kaca spion.

“Sudah sampai, turun!. Kau harus segera ma─” ucapan namja itu terpotong setelah melihat Minyoung berlari kecil menuju gerbang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia mendengus pelan lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Dasar, yeoja! Kalau tidak karena kalungmu yang berharga itu aku tidak akan begitu perhatian padamu” ujarnya tiba-tiba namun terdengar nada keraguan di dalamnya. Pasalnya ia sedikit menyukai hal itu, jantungnya juga entah kenapa berdetak cepat padahal selama ia hidup tidak pernah sekalipun jantungnya berdenyut kencang seperti ingin melompat. Baru kali ini ia turun ke bumi merasakan hal-hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya selama tinggal di planet Hemma.

“Baiklah, aku belum menemukan kepastian kalung itu benar atau tidak, tapi secepat mungkin aku akan menemukannya” gumamnya lirih lalu kembali melajukan motornya.

*EARTH*

                “Luhan, apakah kau sudah menemukan batu emerald itu?” tanya Sehun. Seperti biasa mereka berdua terlentang menghadap matahari di atas rumput hijau. Jika orang normal melihat posisi seperti ini sudah dipastikan akan terkejut tidak percaya apa yang dilihatnya karena menghadap pantulan sinar matahari bukankah itu menyakitkan mata?. Namun mereka tampaknya tak peduli dengan keadaan sekitar karena markas yang mereka pilih memang jauh dari jangkauan manusia sehingga dengan leluasa mereka bertindak di luar logika manusia.

“Entahlah aku belum yakin karena batu hijau itu sudah ku temukan dua kali namun belum ku pastikan keasliannya” Luhan berkata sambil melayangkan tangannya ke atas langit menggerakkannya seperti menggambar sesuatu.

“Nado. Tapi aku menemukan batu itu berkilau di tangan seseorang saat ia terancam. Bukankah itu salah satu syaratnya?” tanyanya sedikit menghadapkan mukanya ke arah Luhan.

“Benar begitu? Ah, mungkin saja itu karena efek pantulan sinar matahari” kilahnya.

Perkataan Luhan hanya di tanggapi dengan kedua bahu terangkat oleh Sehun menandakan ia juga tidak tahu. Namun pikiran untuk segera mencari tahu keaslian batu itu terus menguasai otaknya. Secepatnya ia ingin menemukan batu itu. Merasa lebih nyaman untuk segera kembali ke tempat asalnya. Bagaimanapun mereka tidak leluasa menggunakan hal-hal di luar logika manusia sehingga mempersulit mereka untuk melakukan segala hal yang merupakan hal normal di planetnya sendiri.

“Pagi yang hangat ya! Kalian sudah lama disini?” tanya seseorang dari arah belakang. Mereka berdua bersamaan menengok ke belakang mencari pemilik suara itu.

“Ah, kau Baekhyun. Hey! Kau mengendarai apa, mm..itu namanya?” Luhan mencermati kendaraan yang dipakai oleh Baekhyun seturunnya Baekhyun dari motor.

“Motor, manusia bumi menamakannya itu”

“Jangan bilang kau mendapatkannya dengan cara yang…err…tidak umum?” Luhan sedikit cemas. Sehun juga akhirnya ikut menoleh curiga meski tatapannya dingin.

“Kau tidak perlu khawatir, percaya padaku!. Aku mempunyai otak cerdas jadi ku gunakan caraku” sahutnya membanggakan diri. Baekyun berdiri di sebelah mereka berdua. Ia menghirup nafas dalam-dalam. Merentangkan tangan sembari memejamkan mata dan mulai menyerap panas matahari.

“Kau sudah menemukannya Baekhyun? Aku rasa kau secepatnya harus menyelesaikan misi ini. Kalau tidak kau akan semakin tertarik tinggal disini” Baekhyun berdecak lirih menanggapi perkataan Sehun. Sudah barang tentu ia juga ingin secepatnya menyelesaikan ini. Tapi tidak semudah itu batu emerald bisa ia dapatkan.

“Batu itu tidak mudah didapatkan kalau memang punya keistimewaan. Dari sekian batu permata di bumi ini bukankah hanya berjumlah satu yang punya keistimewaan seperti itu?” jelasnya yang tidak di respon apa-apa lagi oleh Sehun. Perkataan Baekhyun ada benarnya. Ini bukan misi seperti halnya permainan hide and seek yang begitu mudah di temukan dengan hanya ketelitian tapi ini lebih seperti puzzle yang harus di persatukan kandidat terkuat dari pecahan-pecahan fakta yang diperkuat sehingga menjadi satu dan terungkap seperti apa batu itu sebenarnya.

“Hm…selama pencarian aku merasakan hal-hal yang tidak wajar di sekitarku dan itu datang setiap malam.” Ujar Baekhyun tiba-tiba membuat keduanya─Luhan dan Sehun─ menoleh bebarengan.

“Maksudmu? Aku rasa selama ini kita baik-baik saja, identitas kita sebenarnya juga belum ada yang tahu kan?” tanya Luhan tak mengerti.

“Bukan begitu. Beberapa hari ini setiap malam saat aku akan melancarkan aksiku tiba-tiba aku merasa seseorang mengikutiku tapi ia kasat mata.”

“Benarkah? Lalu?”

“Cukup Baekhyun, kau tidak perlu mengada-ngada. Lebih baik kau cepat lancarkan aksimu daripada kau peduli lingkungan sekitarmu. Itu memperlambat misi kita.” sergah Sehun cepat.

“Aku tidak mengada-ngada Sehun-ssi! Tadi malam aku benar-benar mendengar bisikan seseorang walaupun tidak terlalu jelas tapi aku mendengarnya dan…itu terjadi saat aku berada di atas atap.” Jelasnya penuh penekanan. Sehun hanya memandang tanpa ekspresi ke atas langit. Baekhyun menjadi sedikit kesal, menunjukkan desisan panjang.

“Terserah kau saja, tapi aku akan berhati-hati mencari batu itu meski memperlambat waktu.” Baekhyun berdecak kesal. Setelah itu ia pergi mengendarai sepeda motornya meninggalkan teman-temannya.

“Benar! Kita harus lebih waspada mencari batu itu, karena bagaimanapun identitas kita tidak boleh diketahui sebelum kita menemukannya” gumam Luhan.

Mendengar kata-kata Luhan Sehun jadi berpikir keras bagaimana cara menemukan batu itu secepatnya. Ia benar-benar tak ingin lama berada di bumi. Otaknya terus berpikir sampai-sampai ia berdecak kesal saat tak menemukan ide di dalamnya. Pikirannya masih blank. Merasa frustasi akhirnya ia bangun dan hendak pergi sebelum Luhan menahannya.

“Hey, kau mau kemana?”

“Mencari lagi”

“Aku ikut!”

*EARTH*

                “Annyeong hasimnika, bangapseumnida” sapa seorang namja yang berdiri di ambang pintu yang kini muncul seorang ahjumma dari balik pintu. Senyumnya mengembang saat mendapati kedatangannya.

“Annyeong, uri Kris! bagaimana keadaanmu? Oh, ya kau kemari ingin menemui Jisun kan?” tanya ahjumma pada namja yang berdiri di ambang pintu. Namja bernama Kris itu membalasnya dengan anggukan dan tersenyum ramah.

“Jisun! Kemari, ada tamu untukmu” yeoja yang menjadi Eommanya itu berteriak memanggil Jisun. Tak ada sahutan apapun dari anaknya itu sehingga membuat ahjumma atau lebih tepatnya Eomma dari Jisun kesal dan membuka kasar pintu kamar Jisun.

“Chagi…, Eomma akan pergi ke luar kota sehari penuh. Jadi Kris yang akan menjagamu dan menemanimu hari ini. Kalian boleh pergi jalan-jalan jika suntuk” Eomma sedikit berkata lunak pada Jisun dan itu membuat Jisun mendesis kecil menampakkan raut datarnya seperti biasa. Hari-hari tanpa Eomma dan Appa sudah biasa ia jalani. Keduanya sama-sama sibuk dan pulang pergi tanpa diketahui olehnya. Tetapi jika sampai Kris yang menemaninya ia tidak bisa tinggal diam. Kris adalah namja yang ia benci sekaligus ia hindari karena perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Jisun tidak ingin di temani olehnya. Saat Jisun akan mengutarakan ketidaksetujuannya dengan adanya Kris Eomma terlanjur pergi keluar pintu. Ia mendengar panggilan Kris tapi tak ia hiraukan. Ia menatap sinis pada Kris dan segera menjauh darinya. Kris mengejarnya tepat sebelum Jisun meraih gagang pintu kamar Kris menghadangnya dan ikut masuk ke dalam. Jisun berdecak kesal. Ia menghindari keberadaan Kris disana dan memilih pergi ke ruang lain tapi tiba-tiba Kris menarik tangannya hingga posisi mereka berhadapan dan saling bertatap muka. Jisun menatap datar sekilas lalu membuang muka, malas menghadapinya. Kris bersungut kesal.

“Jisun, aku tahu kau tak menyukai perjodohan ini tapi bisakah kau tidak menyikapiku seperti ini?” pintanya.

Jisun menatap tangannya yang di tahan oleh tangan Kris.“Sudah? Bisa kau lepaskan?” Kris melepas genggamannya setelah itu. Jisun berlalu dari hadapannya kemudian berjalan menuju pintu keluar untuk keluar dari rumah menghindari Kris. Kris mengikutinya dari belakang lalu sedikit berlari mencoba menyejajari Jisun.

“Aku bertugas menjagamu jadi kemanapun kau pergi aku akan mengawasi dan mengikutimu hari ini.” Terangnya, Jisun hanya memunculkan ekpresi datarnya tetap berjalan tanpa terpengaruh akan adanya Kris.

“Cincinmu?, baguslah kau masih mengenakannya.” Ujarnya. Jisun berhenti sejenak memandangi cincin yang tersemat di jarinya lalu kembali berjalan tak tentu arah namun Kris hanya mengikutinya.

“Kalau kau tak berniat menyetujui perjodohan ini cepat selesaikan semuanya sebelum orang tuaku berencana lebih gila lagi!” ketus Jisun.

“Well, aku akui aku cukup menyukai perjodohan ini. Jadi aku tidak ingin menyelesaikan ini cepat-cepat. Kurasa lama kelamaan kau akan berubah” Jelasnya membuat Jisun menatap dingin ke arahnya kemudian tangannya melepas cincin yang ada di jari kanannya. Cincin itu berpindah tangan ke Kris kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan pertanyaan bagi Kris kenapa ia menyerahkannya.

“Chakanman!” Kris sedikit berteriak karena Jisun sudah agak jauh. Setelah dekat ia meraih pergelangan tangan Jisun dan berhasil membuatnya berhenti.

“Ok, aku akan segera menyelesaikannya tapi tolong kau tetap memakai cincin ini. Dan meski kita berpisah aku ingin kau tetap mengenakan cincin ini, jebal?” Kris tiba-tiba memohon pada Jisun. Hal itu membuat Jisun mengangkat kedua alisnya tak mengerti. Permohonan itu terasa aneh dipikirannya. Tanpa menunggu, Kris segera menyematkan cincin itu di jemari Jisun namun Jisun tidak menepis sama sekali. Permintaan konyol Kris tadi terlalu mengusik pikirannya hingga tak sadar Kris telah menyematkan cincin itu lagi di jarinya.

“Sekarang ayo ikut aku ke suatu tempat” Kris mencoba mengajaknya tapi Jisun justru memutar langkah untuk kembali melewati jalan pulang menuju ke rumah.

*EARTH*

Dua namja berparas tampan memukau beberapa yeoja di jalan yang mereka lewati. Keadaan ini tak di hiraukan oleh satunya─Sehun─tapi Luhan terus menyapa mereka dan membuat Sehun muak melihatnya. Ia beberapa kali menepuk punggung Luhan keras yang di tanggapi Luhan dengan cengiran khasnya. Jalan yang mereka tempuh mulai sepi dari lalu lalang orang. Tiba-tiba Sehun menghentikan langkahnya membuat Luhan otomatis ikut menghentikannya. Ia menatap heran pada Sehun tapi setelah itu ia menemukan jawabannya saat mengikuti arah pandang Sehun.

“Gawat!” batin Sehun.

Entry filed under: Adventure, Chaptered, EXO-K, EXO-M, FanFiction, Fantasy, Indonesia, Mysteri, PG, Romance. Tags: .

You Make My Life Complete (Part 7) History Of Love 1st Love In Café

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 513,074 hits

Day by Day

September 2012
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: