Enter The Darkness [PART 3]

September 16, 2012 at 11:12 AM Leave a comment

Author                 : Yanlu

Length                  : Chaptered

Genre                   : Dark, Fantasy, Romance, Mystery dll

Main Cast           : Byun Baekhyun, Kai, Sehun, Luhan, Hwang Minyoung (OC), Kim Chanra (OC), Song Jisun (OC)

Minor Cast        : find it by yourself

Rating                 : PG 15

TEASERPART 1, PART 2

BACKSOUND – Evanescence Imaginary, Give Unto Me

Kesunyian malam mengikuti langkah kaki seorang gadis bertag name Minyoung di bagian kiri saku blazernya. Ia dengan hati-hati mengecilkan suara ketukan sepatu yang terdengar sangat berisik di tengah kesunyian yang ia hadapi sekarang. Setiap melintasi jalan pasti ada jalan bercabang kecil yang disebut gang dan di situlah tercipta cahaya lampu kuning yang memudar. Melengkapi suasana mencekam. Berkali-kali ia harus berjengit kaget ketika melihat salah satu lampu jalan berkedip membuat jantungnya berpacu lebih dari pada biasanya.

Prang…Meong

Suara kucing jalanan dan kaleng jatuh lagi-lagi membuat ia mengelus dada dan memejamkan mata demi menekan perasaan takutnya. Ia merutuk kesal saat mengingat jabatan dirinya di sekolah sebagai ketua eskul musik. Inilah yang membuat ia harus rela mengurangi waktunya untuk istirahat dirumah demi memenuhi tugas eskul sampai malam di sekolah untuk sebuah lomba. Aktif di kegiatan eskul seperti itu cukup menguras tenaga sebenarnya. Namun terselip rasa bangga saat ia bisa tampil mengikuti lomba meskipun terkadang ia letih dengan semuanya.

Ketika hendak berbelok ke jalan yang lebih gelap ia memejamkan mata sesaat seraya memberanikan diri menatap jalanan didepannya. Setelah mantap ia terus menjaga pandangannya lurus ke depan tanpa mempedulikan keadaan disekitar. Kakinya mulai melangkah lebar demi tercapainya tujuan secepat mungkin. Tiba-tiba ditengah langkah buru-burunya ia berhenti lalu melangkah mundur dan mendapati siluet seorang namja di gang kecil yang berada di samping dirinya. Berkali-kali ia memfokuskan mata dalam gelap agar lebih jelas melihat sosok hitam itu. Cahaya putih seperti listrik keluar dari dalam tangannya dan menciptakan cahaya terang disekitar gang kecil itu. Cahaya elektrik itu semakin besar dan memperjelas apa yang sedang namja itu lakukan. Ia tengah menghabisi seseorang yang hanya tinggal kepala setelah badannya hancur seperti abu tak menyisakan apapun.

“Omo!!” tanpa sadar Minyoung berteriak cukup kencang karena terkejut.

Tenggorokannya tercekat tiba-tiba. Ia tidak bisa mengeluarkan suaranya melihat sosok hitam itu menoleh ke arahnya dengan sorot mata berwarna putih menusuk dan membuat nyalinya turun seketika. Rasa takut sudah melingkar kuat di sekitarnya sampai-sampai ia tak kuasa untuk menahan tangisnya karena saking takutnya. Sosok hitam itu tersenyum mengerikan ke arahnya yang lebih menyerupai seringaian. Minyoung terduduk lemas merangkul kedua kakinya sambil menangis sesenggukan. Kejadian tadi sungguh membuat jantungnya lemas dan tenaganya surut seketika. Tiba-tiba cahaya menyilaukan mengaburkan pandangan matanya yang datang dari ujung jalan sana tapi bukan dari gang sempit tadi. Ia menutup pandangannya dan berteriak sekencang mungkin. Mengira bahwa cahaya itu adalah cahaya elektrik yang berasal dari sosok tadi hingga tubuhnya bergetar hebat. Namun tiba-tiba cahaya itu padam sedangkan yang ada dihadapannya adalah tubuh seorang lelaki yang dirasa menepuk tubuhnya pelan seperti berusaha menenangkan. Minyoung bukannya merasa aman tapi ia justru semakin bergetar sampai akhirnya sosok itu membisiki telinganya.

“Gwechana? Aku Byun Baekhyun, tenanglah!” bisiknya. Minyoung masih takut untuk mendongakkan kepalanya. Alih-alih sosok yang didepannya ini bukan Baekhyun melainkan makhluk tadi.

“Minyoung, tenanglah. Aku disini menjagamu” ucapnya menenangkan sambil terus memeluk Minyoung yang kini sudah berhenti bergetar. Suatu gerakan tiba-tiba dari Minyoung yang mengejutkan Baekhyun saat dengan erat ia memeluk dan meremas bajunya. Tangisnya semakin pecah, Baekhyun kebingungan harus bagaimana. Ia tidak tahu cara menenangkan manusia.

“Mi…mian…hae Baek…hyun-ah” lirihnya dengan suara bergetar. Tanpa terjangkau oleh mata Minyoung Baekhyun menyunggingkan senyum.

“Gwechana! Irona” Baekhyun mengangkat tubuh Minyoung agar berdiri. Minyoung segera menurut dan kemudian menyeka air matanya. Ia menjadi gugup saat hendak menatap Baekhyun. Mereka berdua akhirnya berjalan bersama. Beberapa menit kemudian tidak ada yang membuka suara. Hanya suara langkah kaki mereka yang berpadu. Baekhyun berkali-kali menggaruk kepalanya yang tak gatal. Minyoung hanya berjalan menunduk memandang dua sepatunya sendiri. “Ekhm…” Baekhyun berdeham memecah keheningan yang tercipta. Ia menatap Minyoung sesaat, dan matanya sukses menangkap sesuatu yang berpendar di sekeliling lehernya. Ia ingin melihat lebih jelas dengan cara berhadapan.

“Rumahmu dimana?” tanya Baekhyun memutar tubuhnya ke depan menghentikan langkah Minyoung.

“Er…di depan, sepertinya cukup sampai disini kau mengantarku” akhirnya Minyoung berbicara. Baekhyun mengangguk mengerti, kemudian ia melambaikan tangan pada Minyoung. Minyoung berjalan memunggungi Baekhyun dan masuk ke dalam rumah.

“Batu itu…, sepertinya gadis itu target pertamaku!”

Baekhyun berjalan cepat menghilang di kegelapan malam. Sosok hitam yang ditakutkan oleh Minyoung muncul dari balik semak-semak yang terlihat samar karena mengenakan baju hitam, memandang kepergian Baekhyun. Ia menyeringai kecil lalu menghilang saat itu juga.

*EARTH*

                “Hey, apa kalian sudah menemukan batu itu?” tanya Baekhyun pada dua orang yang berada disampingnya. Mereka bertiga dengan posisi terlentang menghadap pantulan matahari menggeleng pelan membuat Baekhyun menghela nafas berat.

“Sebenarnya aku menemukan batu itu tapi aku belum yakin 100 persen. Hanya sekilas aku melihatnya karena batu itu ada pada seseorang” Baekhyun berbicara lagi, mereka berdua segera bangun dari posisi terlentangnya menjadi duduk setelah mendengar pernyataan Baekhyun.

“Lalu? Kenapa kau tidak mengambilnya?” Sehun melihat ke arah Baekhyun dengan alis mengernyit.

“Aku juga hampir saja menemukannya tap─

“Aish…Kalian ini bagaimana, kenapa tidak diambil?!” sentak Sehun merasa gemas melihat mereka berdua yang benar-benar tidak bisa menghargai kesempatan dan hanya dibalas gelengan kepala secara serentak.

“Keunde, berkat itu aku dekat dengan seorang yeoja” celetuk Baekhyun tiba-tiba dan membuat kedua temannya menoleh cepat dengan tatapan menginterogasi. Baekhyun yang senyum-senyum sendiri jadi memudarkan senyum kala melihat keduanya menatapnya dengan tatapan tajam.

“Mwoya?? Kurasa aku harus mendekatinya supaya aku bisa tahu batu yang tergantung di lehernya adalah batu yang kita incar atau bukan”

“Ne, majayo! Kurasa kita harus menerima saran Baekhyun. Lagipula batu permata itu memang bukan batu biasa. Ia tersembunyi diantara sekian ribuan orang yang mengambilnya lalu menjadikan sesuatu yang dipakai. Batu emerald yang kita cari tidak akan bisa pecah meskipun dengan menggunakan kekuatan kita masing-masing.” Papar Luhan menyetujui perkataan Baekhyun.

“Arasso! Lalu apakah kau sudah menemukan ciri-ciri yang lain? desak Sehun.

“Hmm…belum, aku pikir kita juga akan semakin kesulitan kian hari dan ini memperlambat kepulangan kita ke planet Hemma.” Ucap Luhan lesu.

Mereka bertiga bangun dari tidurannya kemudian berjalan ke arah yang berbeda mencari benda berharga itu. Salah satu dari mereka diikuti oleh seseorang. Ia menghilang melenyapkan diri. Berteleportasi.

*EARTH*

                “Minyoung…chankaman!” teriak salah seorang yeoja menghampiri Minyoung yang kini menoleh ke arahnya.

“Wae? Lihat, aku tidak terlambat lagi, kan?” ungkapnya berbangga diri.

“Ne, aku tahu. Tapi sedikit lagi kau sempurna terlambat. Jay songsaeng tampaknya akan berjalan menuju kelasmu” tunjuknya pada seorang ahjussi berumur yang ternyata Jay songsaeng. Aku menepuk jidat dan segera berlari tanpa mempedulikan keberadaan Chanra. Ia hanya geleng-geleng kepala.

“Tsk, tidak berubah! Memangnya ini sekolah siapa? Tidak sadarkah sekolah ini menjunjung sisi egoisme?” ujarnya pada yeoja yang lari sembunyi-sembunyi supaya tidak ketahuan terlambat.

Minyoung mengendap-ngendap di tembok mencari keleluasaan di sekitarnya. Ia benafas lega saat kelas tinggal selangkah lagi ia tapaki. Untung saja pintu terbuka dan sonsaeng masih berada di belokkan sehingga tidak menyadari keberadaannya.

“Uh oh, hampir saja” Minyoung menghembus nafas lega kemudian menyeka keringat yang sudah mengucur deras di sekitar pelipisnya.

“Yeoja tidak tahu diri! Selalu saja tak konsekuen!” ucap salah seorang yeoja yang termasuk yeoja-yeoja menyebalkan. Kenapa selalu dirinya yang disalahkan? Lagipula banyak namja yang juga terlambat sepertinya. Setelah ini mungkin banyak cercaan lain yang akan menghujaninya jika saja songsaeng datang tidak tepat pada waktunya.

Semua kembali ke tempat duduknya. Begitu juga Minyoung. Belum apa-apa seseorang yang berada di bangku belakang merasa terganggu dengan rambut terurainya. Ia menendang bangku cukup kasar. Minyoung menengok lalu memandangnya kesal. Ia menggulung rambut sekenanya. Kelas ini bagai neraka. Mengingat statusnya yang terancam karena Tiffany kakak tirinya sangat dikagumi dan terkenal dengan sifat baiknya ia tidak mempedulikan hal itu. Meski kenyataannya SMA elit ini lebih menyerupai penjara baginya daripada fasilitas mewah yang diberikan. Kalau tidak ingat posisi dirinya yang selalu terlihat buruk di mata kedua orang tuanya ia tidak akan sudi masuk sekolah elit yang dipenuhi anak-anak pembully dan sombong.

Saat jam pulang ia berencana pulang bersama Chanra. Tapi ia ijin dulu ke Pembina eskul musik supaya tidak mencari. Kalau masalah eskul music bukan kemauannya ia masuk ke eskul itu tapi ia dipilih oleh sonsaeng untuk ikut eskul itu karena ia pintar bermain piano. Ia sedikit trauma juga pulang malam sejak kejadian beberapa hari yang lalu.

“Chanra, kajja! Aku sudah selesai” ujarnya mengajak Chanra untuk segera pulang bersama. Saat melewati halaman depan sekolah sekilas mata Minyoung menangkap sesuatu yang ganjil dari samping pagar sekolah yang menembus gang kecil. Ia melirik sejenak untuk melihat-lihat. Baekhyun pemuda itu benar saja berdiri di samping pagar sekolah menatapnya dari arah sana dan cepat-cepat berlari menghampirinya. Minyoung mulai tahu dan panik. Sesegera mungkin ia berjalan cepat tapi langkahnya terhenti saat Baekhyun tiba-tiba memanggilnya.

“Minyoung…miny..pfft” seru Baekhyun yang segera di tutup mulutnya oleh Minyoung. Ia memandang tajam Baekhyun. Baekhyun melepas bekapannya. Chanra yang melihat itu hanya bisa mengernyit tak mengerti. “Apakah Minyoung sudah memiliki pacar? Kenapa ia tak pernah cerita?” Sangkanya dalam hati.

“Kenapa kau membekap mulutku? Ah ya, apakah kamu baik-baik saja sekarang? Aku ingin tahu apa yang terjadi tadi malam saat…hmmpfft…min..yo..unkk lepas..!” rontanya saat tangan Minyoung membekap kembali.

“Bisakah kau membicarakan ini tidak disekitar sini, temanku akan salah paham” Minyoung membisikinya pelan lalu matanya kembali memandang Chanra.

“ Ekhm..maaf Chanra jangan berpikiran macam-macam dengan namja ini. Aku benar-benar tidak mengenalnya, percayalah!Ayo Chanra katanya kau ingin kutemani” ujarnya lalu berjalan mendekati Chanra. Baekhyun dengan cepat mengikuti Minyoung lalu menepuk pundaknya tapi tidak ada respon, saking kesalnya ia berbalik menghadap ke Baekhyun menatapnya tajam dan tidak mau diganggu.

“Aku ingin mengajakmu jalan dan membicarakan sesuatu, ini penting jebal!” pintanya tapi tatapannya innocent membuat Minyoung geram.

“Mian Baekhyun! Tapi aku ada janji dengan Chanra untuk menemaninya jadi tolong jangan ganggu aku!” sentaknya membuat Baekhyun menghela nafas berat.

“Mm…Minyoung sepertinya aku lebih baik pergi mencari itu sendiri dan kau─

“Andwae Chanra! Aku harus menepati janji, bukan?” potong Minyoung demi menghindar dari namja asing ini.

“Gwechana, lagipula hadiah itu bisa kucari sendiri tanpa bantuanmu, mian merepotkanmu. Aku pergi dulu, jaga diri ya bye…” Chanra sedikit mempercepat langkah kakinya setelah sebelumnya melambaikan tangan.

“Cha..chanra! Aish! Kau─ Minyoung menunjuk tepat depan Baekhyun─ gara-gara kau! temanku jadi sendirian, lagian apa yang ingin kau bicarakan?” Minyoung menatap sebal sembari berdecak kesal. Ia merasa akhir-akhir ini namja asing ini terus mengganggunya.

“Tidakkah seharusnya kau mengucapkan terima kasih padaku? Seharusnya kau ingat kejadian semalam, aku hanya ingin membicarakan sesuatu yang penting” semburnya sedikit sebal.

Minyoung mulai menatapnya normal, tidak menunjukkan muka kesalnya. Kemudian ia mengendikkan dagu lalu berjalan mendahului Baekhyun. Baekhyun tersenyum senang saat Minyoung sudah membalikkan tubuhnya.

*EARTH*

                “Dimana harus aku cari batu-batu sialan itu?! Kalau bukan untuk menghentikan kaum Quaoar aku tidak akan mau” gerutunya saat keluar dari supermarket. Ia meneguk sekaleng soda tapi tersedak karena ia tidak tahu aturan minum soda. Saat tenggorokan kering atau haus sebaiknya ia tak nekat minum soda.

“Akkhh…ssst” Sehun memekik lalu membuang kaleng tersebut ke sembarang tempat.

Sesuatu berkilauan membuat pandangannya teralihkan. Ia menatap benda berkilau jauh disana. Masih samar-samar kilauan itu hingga ia tak yakin kalau sesuatu yang berkilau itu bukannya batu emerald yang ia cari melainkan emas terpaan matahari. Kilauan itu semakin mengundang penasaran. Ia berlari mendekati asal cahaya itu, ternyata kilau cahaya itu tidak dekat. Setiap ia berlari saat itu pula kilau cahaya itu terasa semakin jauh. Ia terengah-engah di tengah jalan saat mendekati jembatan jalan yang dibawahnya mengalir sungai besar. Melihat besi berpagar di tepi jembatan ia menyender lalu menghembuskan nafas berat. Lalu suara rem mobil tiba-tiba terdengar menakutkan di telinganya. Benar saja disana seorang yeoja dengan cerobohnya menyebrang tanpa melihat jalan lalu hanya berhenti mematung disana menunggu maut. Sungguh bodoh!. Sehun bergerak cepat menyelamatkan yeoja itu supaya kecelakaan jalan tidak terjadi didepan matanya. Selangkah lagi ia terlambat, kekuatan angin darinya terpaksa ia gunakan agar jalanan riuh dan melambat. Setelah semua berjalan normal tanpa disadari raganya sudah terdorong ke samping jatuh bersama dengan seseorang.

“Aw…bi…sa…kah..kau…

Sebelum yeoja itu menghentikan kalimatnya Sehun bangkit. Yeoja itu telah menindihnya. Sehun segera membersihkan bajunya yang sudah lusuh terkena aspal. Yeoja itu berusaha untuk berdiri namun tampaknya ia justru mengerang memegangi kakinya. Sehun hanya berdiri tanpa memandangnya. Yeoja itu mulai menyadari bahwa masih ada seseorang disampingnya tapi ia memalingkan muka seperti tak mau peduli.

“YA! Jika kau hanya berdiri disitu lebih baik kau tak usah mendorongku tadi, biarkan mobil itu menabrakku!” teriaknya, nadanya cukup dingin tapi masih tidak melihat rupa namja yang berada disampingnya. Sehun hanya diam menatapnya balik dengan sarkatis dan kemudian kakinya mulai menuntunnya jalan.

“YA! Apakah kau Sehun? Issh…kenapa kau selalu datang disaat yang tidak tepat?” Jisun mendesis kesal. Sehun berbalik dan kini mengulurkan tangannya. Jisun justru mengernyit lalu menepis tangannya kasar. Ia berusaha untuk bangun tapi kakinya tidak sejalan dengan perintah otaknya. Akhirnya dengan terpaksa ia mengangkat tangannya kembali meminta bantuan tapi Sehun malah melengos hendak pergi lagi dengan ekspresi dingin. Jisun menghela nafas berat. Akibat tidak bisa bangun ia terduduk di pinggir jembatan menepi dari jalanan. Kakinya masih terasa nyeri, tangannya terus memegang bagian terperih. Disaat seperti ini entah kenapa jalanan malah terlihat sepi. Ia menggerutu kesal mengacak rambutnya. Saat tangannya turun ke pelipis sesuatu basah mengalir turun dari kepala. Ia merasakan tangannya basah dan kemudian saat tangannya turun terjangkau oleh matanya barulah ia melihat cairan pekat berwarna merah mencemari tangannya.

Sehun dari seberang sana tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia menatap kebelakang sejenak. Cahaya kilau itu masih berada disana. Tepat di dekat seorang gadis yang terlentang dijalanan. Ia menghampiri gadis itu dan mendapati tubuhnya diam tidak merespon kemudian ia membalikkan wajahnya. Matanya terpejam.

“Jisun…!! Aish, merepotkan!” Sehun membopongnya. Sudah dipastikan ia pingsan.

*EARTH*

Minyoung POV

Seorang pelayan membawa beberapa piring berisi sayuran mulai mendekati meja kami. Aneh! Namja yang berada dihadapanku ini benar-benar aneh. Kenapa ia hanya memesan sayuran. Apakah tidak ada menu lain. Aku memang tidak memesan makanan karena perutku belum lapar. Hanya segelas jus alpukat yang aku pesan sedangkan Baekhyun memesan air putih.

“Selamat menikmati!” ucap si pelayan dan sedikit tertangkap pandangan matanya yang berbeda saat menatap Baekhyun. Benar saja ia tersenyum dengan mata berbinar saat Baekhyun membalas perkataannya.

“Hmm…yeoja di bumi ini kenapa ada dua sisi ya? Satu sisi genit, dan satu sisi cuek sepertimu” celetuknya tiba-tiba.

Aku menatapnya dengan tajam, sedetik kemudian ia melahap sayuran itu. Aku mengalihkan pandangan keluar jendela. Sedikit kulihat lewat sudut mataku cara makan Baekhyun yang sangat sopan. Halus seperti tahu bagian mana saja yang tidak pas dilidah. Ia memakannya benar-benar dengan seni. Sempat terlintas dipikiranku jangan-jangan ia berasal dari keluarga bangsawan atau orang berada yang berpengaruh. Namun pikiran itu segera hilang saat kulihat penampilan Baekhyun dari atas sampai bawah. Setelah diperhatikan dari awal ia bertemu Baekhyun selalu menggunakan baju-baju itu saja. Apa dia suka warna biru? Atau ia mempunyai selusin baju berwarna biru dan bermotif sama seperti itu?.

“Ah Molla. Apapun penampilan dia seharusnya kau tak usah peduli Minyoung.” Batinnya berseteru.

“Aku tahu sedari tadi matamu terus melihat ke arahku, ada apa? Kalau lapar bilang saja, aku yang akan mentraktirnya.” Aku segera mengalihkan pandangan saat menyadari ucapan Baekhyun barusan.

“Diamlah, kalau sedang makan sebaiknya tidak bicara, itu aturan!” tukasku lebih supaya ia tidak bertanya-tanya lagi.

Setelah menyelesaikan makan, Baekhyun menyuruhku tetap duduk terlebih dulu. Sebenarnya sedari tadi yang kutunggu hanya sesuatu yang ingin Baekhyun sampaikan tapi ia justru menyuruhku menemaninya makan dulu. Awalnya aku menolak tapi ia terus memaksa. Mata kami bertemu sejenak lalu aku mengalihkan pandangan pada segelas jus yang ada dihadapanku.

“Semalam apa yang terjadi? Kenapa kau begitu ketakutan?” tanyanya memulai percakapan. Aku terdiam sejenak, saat Baekhyun menanyakan situasi semalam aku sudah tidak bisa membayangkan lagi. Kejadian menakutkan itu membuatku tidak bisa tidur semalaman dan sekarang ia ingin membahas itu. Aku benar-benar tidak akan mengungkitnya.

“Mian Baekhyun, ak..aku…tidak ingat” jawabku berbohong.

“Benarkah? Bisakah kau menatapku sebentar ketika aku sedang berbicara denganmu?”

Kuturuti kemauannya setengah hati. Takut-takut kalau Baekhyun melihat kilat kebohongan disana. Sekarang posisiku sedikit miring, tidak menatap lurus ke arah Baekhyun. Benar saja ia terlihat sedang memahami sorot mataku. Mendapati perlakuan itu aku semakin gugup.

“Sudah? Hal itukah yang sebenarnya sedari tadi ingin kau nyatakan?”

“Ani. Aku ingin…bagaimana mengatakannya! Aku ingin melihat kalungmu” ternyata sedari tadi aku sadari ia menatap kalungku saat makan. Mulutku sukses membisu, memangnya kenapa dengan kalung ini?

“Err…kalung ini, memangnya kenapa?”

“Tidak ada apa-apa, bolehkah aku melihatnya? Tenang saja aku bukan penjahat” tepat sekali dia menerka isi dalam otakku. Aku kira penampilannya tidak meyakinkan juga kalau dia orang baik-baik jadi berpikir hal itu tidak salah kan?

“Hmm..baiklah” akhirnya aku memperbolehkan. Baekhyun mengembangkan senyumnya saat kulepas kalung yang menggantung dileher. Kalung ini sedikit sulit kulepas mungkin karena sudah lama sekali aku tak pernah melepasnya. Tiba-tiba Baekhyun bangkit dari kursi berputar ke belakangku lalu kurasakan jarinya menyentuh leherku. Well, sepertinya ia sedang membantuku melepasnya. Hembusan nafas darinya menerpa leher jenjangku. Entah kenapa suhu tubuhku menjadi panas saat ia mendekati leherku.

“Sudah?” tanyaku mulai tidak nyaman.

“mm…sudah, kenapa sulit sekali? Tsk!…aku jadi terpaksa menghirup aroma parfum menyengatmu!”

Aku memberikan tatapan menusuk saat ia mengomentari parfum yang kupakai. Kulihat ia tidak terlalu memperhatikan tatapan menusukku. Kalungku lebih mengalihkan perhatiannya. Saat menatap kalungku matanya benar-benar aneh. Samar-samar irisnya berubah warna hijau zamrud senada dengan kalung. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, lalu mengucek mataku memastikan penglihatanku. Apa aku tidak salah lihat? Tidak-tidak! Kau pasti salah lihat. Kemudian beberapa saat terdengar hembusan nafas putus asa darinya. Seperti tidak menemukan sesuatu yang dicari atau diinginkannya. Aku mendongak berusaha mencermati ekspresinya namun ia segera menyadari lamunannya.

“Eh,…kalung ini sangat berharga buatmu ya?” tanyanya. Aku menatapnya dengan pandangan heran terhadap pertanyaannya barusan. Tentu saja kalung itu sangat berarti bagiku. Selain harganya tinggi kalung ini adalah pemberian salah satu orang tuaku yang kini sudah tiada. Baekhyun mengamati kalung itu sekali lagi tapi matanya tidak berubah warna seperti tadi. Well, ini sedikit tak wajar, mungkin saja tadi aku melihat bias warna kalung itu dimatanya. Bukan irisnya yang berubah warna.

“Gomawo” ujarnya, aku menerima kalung itu kembali lalu kupasang dileher. Tidak lumayan sulit saat ku pasang. Aku menghela nafas lega akhirnya aku akan pergi dari hadapannya. Saat aku hendak bangkit dari kursi tiba-tiba rasa penasaran hinggap dibenakku. Aku ingin tahu kenapa ia menyuruhku menemuinya dan ternyata ia hanya ingin melihat kalung ini meskipun awalnya ia mempertanyakan tentang kejadian semalam. Lalu yang kedua adalah saat ia menatap kalung ini, itu terlihat aneh. Kuputuskan untuk membalikkan tubuh namun tidak kutemukan Baekhyun disana, ia benar-benar cepat menghilang. Akhirnya ku urungkan niatku bertanya dan tetap menyimpan keganjilan dibenakku. Kulirik kalung yang terpasang dileher lalu kemudian berjalan lurus menuju halte.

End POV

Di balik toko café seorang namja berdiri menunggu sesuatu. Tepat saat seorang yeoja melangkah keluar ia cepat-cepat menyembunyikan diri lalu menajamkan pandangan matanya. Yeoja itu menatap ke arah bawah tepat pada hiasan yang tergantung dilehernya. Namja itu mengikuti arah pandang yeoja itu namun ia tidak dapat menemukan sesuatu yang menjadi perhatian gadis tersebut. Ia terus menatap yeoja itu, mencermati wajahnya.

“Bagus, aku menemukannya. Keberadaannya bisa mengancamku” ucapnya berbisik kemudian mulutnya tertarik membentuk seringaian menakutkan.

*EARTH*

Sehun POV

Cahaya berkilau yang ku temukan tepat berada di cincin gadis ini. Aku berusaha mencermati batu berwarna zamrud itu lekat-lekat tanpa menyentuh tangannya. Berarti ini merupakan salah satu kandidat batu emerald yang sedang ku incar. Menurut penuturan Tao saat itu jika batu emerald memancarkan kemilau saat keberadaan seseorang itu terancam berarti batu itu memilih pemiliknya dan juga yang berarti batu itu adalah batu yang tepat.

“Aku harus mendapatkan batu ini, hmm..sepertinya ini bukan tempat yang aman jika aku langsung mengambilnya dari tangan yeoja ini. Bisa dipastikan aku akan menjadi incaran beberapa orang disini. Sebelum memastikan batu ini asli aku tidak boleh sembarangan” batinku.

Mataku beralih melihat-lihat tembok berlapiskan cat putih di sekitarku. Kemudian menuju jendela dekat ranjang. Mataku terhenti saat menatap seorang yeoja bermuka dingin di ranjang tidur dengan mata terpejam dan luka perban dibagian kepala. Tak kusangka dia terluka cukup parah dibagian kepala. Kukira hanya berada di bagian kaki jadi saat itu ku putuskan untuk meninggalkannya namun ternyata dia limbung dan terjatuh di tepi jalan selain itu cahaya kemilau berpendar tepat berada di jari-jarinya. Dengan sigap aku berlari menghampirinya tapi ternyata sudah tak sadarkan diri. Akhirnya niatku untuk membiarkannya karena tidak tega ku urungkan. Cukup lama aku memperhatikan garis lekuk wajahnya. Saat sedang terpejam seperti ini rautnya dia tidak sedingin yang terlihat ketika matanya membuka. Kulit putih namun halus tersembunyi disana meskipun kerut derita dan kepedihan lebih mendominasi menutupi wajah damainya. Perlahan-lahan aku mulai merasakan kedipan matanya yang hendak membuka. Segera kualihkan pandanganku ke luar jendela. Kubuat raut muka sedatar dan sedingin mungkin seperti biasa agar ia tak mengira yang macam-macam. Bisa kurasakan gerakan tubuhnya yang hendak mengubahnya menjadi posisi duduk.

“Ah!” teriaknya, aku menoleh menghadapnya. Kulihat ia terbaring kembali lalu memegangi kepalanya yang mungkin terasa pening. Saat itu juga sebenarnya aku ingin memperingatinya dan menenagkannya agar lebih rileks namun rasa gengsiku lebih menahan perintah alam bawah sadarku untuk tidak melakukan itu.

“Se…hun, benarkah itu kau?” gumamnya sambil meringis masih menahan sakit.

“Aku sudah memperingatkanmu kan untuk tidak berbuat hal bodoh semacam itu? Tapi  kenapa kau masih bersikeras melakukan hal bodoh itu? Aku tidak akan menolongmu untuk kedua kalinya, kau tahu itu!” ujarku mencoba bersikap dingin.

“Hey, Irona Sehun-ya! Aku tidak pernah memintamu menolongku dan kenapa kau selalu datang disaat yang tidak tepat? Apa aku pernah berharap ada seorang malaikat saat aku kecil? Sepertinya ti-dak. Camkan itu TIDAK!” jelasnya menatap kesal yang mungkin ditujukan padaku. Aku menaikkan salah satu alisku menatapnya  dengan pandangan datar. Kulihat perhiasan yang berada di tangan itu berkilau lagi tapi kini dikarenakan terpaan matahari yang berasal dari jendela.

“Kalau kau sudah tidak terluka bangunlah, lalu kau urus biaya rumah sakit, aku tidak mau menanggungnya!” balasku dingin.

“Ige mwoya?! Aku juga tidak memintamu membawaku kesini!” semburnya mulai terpancing emosi, aku menutup telinga pura-pura terganggu dengan ocehannya lalu pergi secepat mungkin menghindarinya. Kalau saja bukan karena batu emerald itu aku tidak akan menolong yeoja menyebalkan seperti dia. Ku dengar teriakkan dari dalam kamar kembali menggema. Aku tak peduli. Saat ini yang aku inginkan segera pergi dari hadapannya sebelum terjadi perdebatan panjang. Urusan cincin itu aku masih bisa menemukan dia dimanapun ia berada dengan bantuan kekuatan dari Luhan.

“YA! AISH…DASAR NAMJA GILA!” teriaknya cukup kencang saat aku melewati kamar kedua dari kamarnya. Aku mulai kesal dan kembali menapakkan kakiku ke ruangan itu. Kulihat ia mulai melepas selang infus dan mengambil jaket yang tergeletak di kursi. Lalu masih dengan mengenakan seragam rumah sakit ia berjalan melewatiku dan berbisik pelan.

“Lebih baik aku pulang daripada harus membayar tagihan, namja gila! Minggir!” ucapnya membentak saat pengucapan terakhir. Sebelum yeoja itu berlalu aku menahan lengannya. Dia berhasil memalingkan mukanya dengan mimic dinginnya seperti biasa. Aku tak kalah menatapnya dengan tatapan glareku. Ku tarik pergelangan tangannya dan membawanya kembali ke ranjang tidur. Tubuhnya ku hempas dengan kasar tapi sialnya tubuhku ikut terjatuh saat tiba-tiba ia menarik tanganku.

Bruk! Tubuh kami kembali ambruk bersama namun bedanya tubuhku berada disamping bukan jatuh dengan posisi bertumpuk seperti sebelum-sebelumnya.

“Kau tidak akan bisa mendahului Ji-sun, Oh-Se-hun!” ucapnya sinis saat posisinya berdiri sambil mengunci tanganku. Sial! Ternyata ia sengaja menarikku supaya aku membayar tagihan.

End POV

*EARTH*

                Baekhyun, namja yang tengah berada di jalan sepi melewati kegelapan malam dengan santai bersiul sambil bermain dengan ketukan sepatunya berusaha menciptakan nada. Seseorang dari jauh tengah memperhatikannya. Lalu ia menghilang tiba-tiba dan sekarang berada persis dibelakang Baekhyun. Tangan panjangnya terulur hendak menyentuh leher Baekhyun atau lebih tepatnya mengunci lehernya namun Baekhyun menoleh merasakan ada sesuatu berada di belakangnya. SHET! Makhluk itu menghilang lagi sebelum Baekhyun sempat menoleh dan mendapati dirinya berada sangat dekat dengan Baekhyun. Tangan Baekhyun menyentuh lehernya memastikan tidak ada apa-apa disana karena ia merasakan sesuatu mengganggu lehernya tadi. SHET! Makhluk itu kembali muncul namun kini berada agak jauh dari jangkauan Baekhyun dan tidak terlihat. Baekhyun melanjutkan langkahnya kembali membunyikan suara ketukan sepatu untuk mengurangi keheningan malam.

“Kita lihat siapa yang akan lebih dulu mendapatkannya”

Mian banget, author baru ngepost part 3-nya yang sebenernya udah ada part 4. Tapi tak apalah maklum author mulai sibuk. Udah kelas 12. Pusing mikirin tugas apalagi kartul yang sebentar lagi mau di uji Aigoo…do’ain ya semoga lancar

Entry filed under: Chaptered, EXO-K, EXO-M, FanFiction, Fantasy, Indonesia, Mysteri, PG, Romance. Tags: .

(Oneshoot)I Can’t Look You…. What Is Love? [Part 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 513,030 hits

Day by Day

September 2012
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: