S.P.Y *Part 1

September 1, 2012 at 8:46 AM 1 comment

Author            : @andinarima

Title                : S.P.Y

Main Cast      :           – Lee Sung Min (Vincent)

– Park Si Ra

– Lee Donghae (Aiden)

Support Cast :           – Park Jung Soo/ Lee Teuk (Dennis)

– Kim Hee Chul (Casey)

– Tan Han Geng/Han Kyung (Joshua)

– Kim Jong Woon/Ye Sung (Jerome)

– Kim Yong Woon/Kang In (Jordan)

– Shin Dong Hee/Shin Dong (Mathew)

– Lee Hyuk Jae (Spencer)

– Choi Si Won (Andrew)

– Kim Ryeo Wook (Nathan)

– Kim Ki Bum (Bryan)

– Cho Kyu Hyun (Marcus)

Genre             : Action, mystery

Rating             : Teen

Length            : Chaptered

Credit poster  : Minmin08

Disclaimer      : FF ini terinspirasi dari MV SuJu yang SPY dan beberapa fanfict bergenre action.

Don’t be plagiarism. Read, Like, and Comment, don’t forget!!

Author note     : author cuma mau ngasih tahu beberapa hal supaya para readers tidak kebingungan.

  1. Oppa-deul Suju kan punya nama western, nama itu akan kupakai pada saat mereka berada di markas S.P.Y atau dalam menjalankan tugas lapangan.
  2. Stagename akan author pakai untuk dialog sehari-hari.

Mungkin nanti ada perubahan tergantung Si Ra mo manggil pake nama apa, hehehe…

Oke, enjoy for reading…

Pernah di posting di My Blog

^^^

Klik. Klik.

Seorang gadis bertubuh semampai memeriksa hasil jepretannya. Ia tersenyum puas. Matanya beralih memandangi jalanan di depannya. Tangannya terangkat lalu ‘klik’. Kameranya beralih ke sebuah gang kecil di ujung jalan. Ia mengangkat wajahnya melihat langit biru. Braak! Seseorang yang menabraknya membuatnya memencet tombol power yang mengakibatkan kameranya mengabadikan sebuah momen.

Gang di ujung jalan itu memang sangat sepi dan gelap. Tapi foto yang dihasilkan sangat jelas. Foto seseorang bermasker sedang membuat karya di wajah seseorang menggunakan pisau yang cukup tajam, menyebabkan wajah korban mempunyai banyak goresan bernoda darah. Bukan itu yang membuat gadis itu terpaku. Melainkan mata orang bermasker itu tertuju pada lensa kameranya. Gadis itu yakin kalau orang itu akan mengejarnya.

“Kemarikan kameramu!” Terdengar suara yang mampu membuat bulu kuduk siapapun berdiri.

Gadis itu terlonjak. Ia berbalik dan mendapati orang bermasker itu sedang berdiri di hadapannya. Tangan kirinya ia masukkan ke saku celana dan tangan kanannya memegang sebuah pisau yang berkilauan.

Gadis itu mundur beberapa langkah ketika pria bermasker itu maju. Gadis itu memandang sekeliling dan meratapi nasibnya ketika taman yang beberapa menit yang lalu ia kagumi menjadi sepi tak berpenghuni. Entahlah apa penyebabnya, itu tidak terpikirkan oleh gadis itu.

“Cepat kemarikan kameramu!” ulang pria itu.

Gadis itu tidak dengan mudahnya memberikan kamera kesayangannya. Pikirannya melayang ke beberapa tahun yang lalu. Ketika ia lulus SMA Oppa-nya memberikannya sebuah kamera karena gadis itu sangat menyukai fotografi. Dan di kameranya juga ada namanya dengan tulisan timbul.

Pria itu kembali mendekat. Gadis itu sepertinya sudah lelah dengan perasaan terintimidasi ketika berdekatan dengan pria itu. Maka ketika ia melihat kesempatan, gadis itu berlari sekencang-kencangnya menuju apartemen Oppanya yang tak jauh dari taman tadi. Sesekali ia menengok ke belakang dan mendapati pria itu masih tetap mengejarnya.

Gadis itu sudah sampai di gedung apartemen. Berlari menerobos pintu masuk dan menaiki tangga darurat karena liftnya sedang mengangkut penumpang. Ia berlari terus hingga di depan pintu apartemen bernomor 199. Gadis itu langsung saja menerobos masuk.

Dua orang pemuda di pertengahan usia 20-an menatap bingung gadis itu yang sedang terengah-engah di depan pintu.

“Si Ra-ya, kenapa kau tampak pucat dan seperti kehabisan napas? Habis dikejar anjing ya?” tanya seorang pemuda yang tampak lebih tua dari yang satunya.

Si Ra tak menggubris nada ledekan di suara kakaknya. Ia menjatuhkan tubuhnya di samping kakaknya itu. Setelah berhasil meredakan kembali perasaan dan menormalkan pernapasannya Si Ra menaruh kameranya di atas meja lalu ia berjalan ke dapur.

Leeteuk mengambil kamera Si Ra. Matanya tiba-tiba melotot tak percaya karena layar kamera itu menampilkan momen pembunuhan yang tak sengaja terpotret. Bukan itu saja yang membuat Leeteuk terpekur tetapi juga mata sang pelaku tertancap di kamera adiknya itu.

@@@

Markas S.P.Y

“Ketua, saya mendapatkan laporan tentang pembunuhan berantai yang terjadi di beberapa negara. Ini laporannya,” lapor Casey seraya menyerahkan map berwarna merah.

“Baiklah. Silahkan keluar.” Dennis meneliti laporan itu. Ia membolak-balik halaman setelah membacanya dengan teliti. Namun di halaman terakhir ia terperangah. Di sana tertera foto dilengkapi sebaris kalimat.

Foto itu adalah foto yang Dennis lihat di kamera adiknya. Di bawah itu tertera kalimat “Park Si Ra, korban selanjutnya!” Astaga, ia tak percaya dengan penglihatannya. Tapi setelah dibaca berulang-ulang tetap saja kalimat itu sama. Tak berubah.

Dennis bangkit berdiri lalu menyambar kunci mobil Porsche merahnya. Ia keluar ruang kerjanya dengan tergesa-gesa membuat beberapa pegawai S.P.Y memandangnya heran.

Dennis membawa mobilnya dengan kecepatan melebihi 100 km/jam. Kadang ia menukik dengan tajam membuat para pengendara lainnya mengumpat kesal. Hatinya sedang kacau memikirkan hal terburuk yang mungkin saja terjadi di apartmentnya.

@@@

Seoul Art University

“Nana nana na nana na,” senandung Si Ra. Hari ini ia sangat bahagia karena sunbae-nya mengajaknya mengobrol. Walaupun Cuma ngobrolin tentang fotografi tapi buat Si Ra itu merupakan sebuah kemajuan.

Ia, Park Si Ra, sangat mengagumi sosok salah satu sunbaenya yang juga anak fotografi. Mereka hanya berjarak dua tahun. Pertama kali masuk kampus sosok sunbae-nya itu sangat menyilaukan mata Si Ra. Ia mulai mencari informasi tentang seniornya itu. Tapi ia tak pernah bicara banyak dengan seniornya dan baru hari inilah ia mengobrol panjang lebar. Sangat menyenangkan kalau kita bisa mengobrol dengan orang yang kita kagumi.

Si Ra memilih berjalan kaki menuju apartemennya. Entahlah, mungkin masih terbawa perasaan senang. Di jalan ia bersenandung kecil. Menyuarakan kebahagiaannya. Di belokan menuju apartemennya ia merasa seperti ada yang mengikuti. Berkali-kali ia menengok tapi tak ada siapapun. Lalu tepat di pintu masuk gedung, gadis itu berjongkok untuk membenarkan tali sepatu kets nya. Pelan-pelan matanya melirik ke belakang. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati seorang pria bermasker–persis orang yang ada di foto–yang membawa pisau di tangan kanannya mendekatinya secara perlahan.

Ketika jarak mereka tinggal lima langkah lagi Si Ra sudah berlari kencang menuju tangga darurat lalu buru-buru mengunci kembali pintu apartemennya. Di dalam ia meringkuk di sofa dengan tubuh gemetar ketakutan. Ia berdoa agar kakaknya segera kembali dari kantor. Si Ra tahu kalau kakaknya adalah ketua dari salah satu agen mata-mata terbesar di dunia yang berkantor pusat di Korea Selatan.

Terdengar langkah kaki yang berjalan pelan mendekat ke pintu apartemen Si Ra. Si Ra memaksakan tubuhnya agar bergerak menuju tempat di balik sofa. Ia menundukkan kepalanya agar tak terlihat. Bibirnya bergerak mengucapkan doa.

BRAAAKK…!!

Omo!” desis Si Ra pelan. Jantungnya semakin berjumpalitan. Tubuhnya semakin gemetaran. Keringat mulai mengucur di keningnya. Kulit putihnya tampak memerah.

“Park Si Ra-ssi, keluarlah!” seru orang itu. Pria bermasker itu berjalan menuju ruangan-ruangan yang berada di dalam apartemen ini bermaksud menemukan gadis yang dicarinya. Ia tampak kesal setelah semua ruangan–bahkan kamar mandi, di bukanya tapi tak menemukan gadis itu.

“Dimana pun kau bersembunyi, aku pastikan aku akan menemukanmu.” Suara desisan yang keluar dari mulut pria itu membuat bulu kuduk Si Ra meremang.

Oppa, cepat pulang.

“Andrew-ssi, apa yang kau lakukan di rumahku?” Si Ra menghembuskan napas lega. Ia sangat mengenal suara itu, namun tak berani keluar dari tempat persembunyian.

“Hhh, kau rupanya. Ketua agen S.P.Y, right?” dengus pria itu. “Aku kemari hanya ingin… memberi pelajaran terhadap adikmu.” Senyuman sinis tersungging di bibir pria itu.

Dada Dennis bergejolak menahan emosi. Ia tahu kalau ia melawan penjahat di depannya dengan emosi itu hanya akan membuat lawan menang telak. Ia merogoh saku celananya lalu keluarlah sebuah pistol keluaran terbaru buatan agen khusus S.P.Y.

Aigoo, aku harus menghubungi siapa untuk membantu Oppa? Si Ra menjentikkan jarinya, lalu mengetik pesan singkat untuk seseorang di sana.

Andrew berjalan mundur hingga menyentuh tembok di belakangnya. Ia menarik sesuatu–seseorang–yang menimbulkan jeritan tertahan. Ternyata ia telah menyandera Si Ra.

Dennis terenyak. Sekarang Si Ra berada di hadapannya sebagai sandera lawan. Ia tak bisa menarik pelatuk pistolnya, karena bisa saja pelatuk pistol lawan yang ketarik lalu langsung menembus otak Si Ra. Atau Dennis memang tidak melawan tapi Si Ra tetap saja bisa mati di tangan Andrew.

“Kalau kau berani menyentuh sehelai saja rambutnya, kau akan …”

DOOR!!

Lalu… kembali terdengar suara tembakan.

Si Ra jatuh terduduk di lantai. Ia tak sanggup menahan kepedihan hati di tinggal kakak tersayang. Ya, suara tembakan pertama berasal dari pistol di tangan Andrew. Dan entah bagaimana caranya Spencer melepaskan Si Ra dari jeratan tangan kiri Andrew dan dari depan Vincent melepaskan tembakan ke kaki penjahat.

Keesokan harinya…

Sabtu, 09.15 KST

Hari ini para pegawai S.P.Y dan Si Ra berada di upacara pemakaman sang ketua. Dennis Park a.k.a Park Jung Soo tewas ketika ingin menyelamatkan adik perempuan satu-satunya. Si pelaku yang menderita luka di bagian kaki sekarang berada di rumah sakit S.P.Y. ia masih belum sadar dan belum dapat diinterogasi.

Sungmin melihat sekeliling. Sedari tadi ia tak menemukan Si Ra padahal tadi ia menjemputnya. Ia khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu pada Si Ra, karena perasaannya masih belum tenang. Dan labil.

“Kau mencari Si Ra? Ia ada di bawah pohon beringin, tak jauh dari sini,” bisik Kyuhyun.

Sungmin tersenyum tipis sebagai tanda terimakasih, lalu mengalihkan tatapannya. Si Ra memang ada di sana. Duduk memeluk lutut dan bahunya sedikit berguncang. Sungmin tahu kebiasaan Si Ra karena ia yang lebih sering mengunjungi Leeteuk di rumahnya. Si Ra lebih senang memendam semua perasaannya sendiri. Kalau ia ingin menangis ia akan berharap hujan turun–kalau di tengah keramaian atau menjauh sejenak agar bisa menumpahkan kesedihannya. Sungmin berusaha menahan diri agar tak memeluk Si Ra. Ia butuh sendiri. Hanya itu. Tak lebih.

Para pelayat sudah mulai beranjak. Sebelum ke parkiran mereka mendatangi Si Ra, yang sudah meredakan tangisnya, untuk mengucapkan belasungkawa dan hanya dibalas senyum tipis. Gadis itu masih enggan berbicara. Alih-alih berterimakasih mungkin ia malah akan emosi.

Setelah tak ada lagi orang yang mengucapkan belasungkawa, Si Ra yang masih berdiri di tempat semula memandang kosong makam kakaknya. Kenangan-kenangan indah mulai berseliweran di benaknya. Pandangannya mendadak buram karena airmata kembali menetes. Mungkin sekarang tangisannya semakin deras. Ia tak memedulikan perutnya yang minta diisi karena sudah hampir 18 jam ia tak mengonsumsi apapun. Kepalanya juga mulai pening. Dan sesaat kemudian ia ambruk. Untung saja Sungmin masih ada disana.

@@@

Markas S.P.Y, Sabtu 15.45 KST

Perlahan Si Ra mulai membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya di ruangan ini.

“Si Ra-ya, kau sudah sadar?” Si Ra memiringkan kepalanya lalu memandang cowok itu heran. “Annyoeng, Jerome imnida, atau kamu bisa panggil Yesung. It’s my Korean name.” Cowok itu tersenyum ramah.

“Oh, annyoeng. Mm.. Yesung-ssi aku ada dimana, kenapa aku bisa ada di sini dan siapa kamu?” Pertanyaan beruntun yang dilontarkan Si Ra membuat cowok itu tertawa ringan.

Aigoo, satu-satu dong nanyanya. Kamu ada di markas S.P.Y…”

“MWO??” Si Ra berusaha bangkit namun kepalanya masih terasa nyeri.

“Dan kenapa kamu bisa berada di sini karena tadi pagi kamu pingsan. Kamu kekurangan nutrisi. Dan aku salah satu agen yang dikhususkan untuk menemukan obat-obatan yang ampuh. Hehehe.” Cowok itu cengengesan.

“Oh. Hei, aku sekarang berada di markas agen mata-mata terbesar di dunia, kenapa ruangannya seperti kamar tidur perempuan?” Mata cokelat Si Ra memandang heran ke seluruh ruangan. Ini benar-benar seperti kamar cewek.

“Kamu memang berada di markas S.P.Y hanya saja di ruang bedrest. Dan ini khusus buatmu. Kata agen Vincent kau menyukai warna merah muda sama seperti agen itu.” Lagi-lagi pria itu tersenyum.

“Ruang bedrest? Bedrest kan artinya istirahat tapi ruangan ini benar-benar seperti kamar dan siapa agen Vincent itu?” Kening gadis manis itu bertaut heran.

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan masuklah Sungmin membawa makanan kesukaan Si Ra.

“Itu agen Vincent,” tunjuk Yesung.

“Si Ra-ya, kau akan tinggal di sini dan menjadi agen S.P.Y.” Sungmin meletakkan nampan makanan di meja di samping ranjang Si Ra.

“Eh?” Si Ra terduduk, tak menghiraukan rasa sakit kepalanya. “Untuk yang tinggal di sini aku mau, tapi… untuk menjadi agen rahasia aku tidak mau.” Si Ra memasang wajah aegyo nya.

Sungmin hampir saja luluh, tapi ia harus tegas untuk yang satu ini. “Tapi kalau kamu di sandera lagi bagaimana?” Sungmin duduk di ranjang Si Ra.

Si Ra menampilkan senyum semaniiis mungkin. “Kan ada kalian. Para agen S.P.Y. Oppa-ku kan ketuanya jadi pasti ia menyerahkan tanggung jawab kepada kalian untuk melindungiku.”

“Enak saja. Kami juga sibuk tahu!” sungut suara dari arah pintu. Si Ra menoleh dan terkejut ketika mendapati semua agen–sepertinya, menerobos masuk ke ruangan pribadinya. Yang tadi berbicara ia yakini sebagai Eunhyuk. “Kamu harus berlatih menembak. Kau tahu?”

Ani. Pokoknya tidak!” Si Ra berdiri lalu berlari ke luar ruangannya. Ia terus berlari hingga pintu masuk dan hampir saja bertabrakan dengan seseorang. “Mianhae, jeongmal mianhae!” Ia terus membungkuk dan baru berhenti ketika tangannya ditahan oleh orang yang hampir ditabraknya. Ia terkejut. “Donghae-sunbae…” Tiba-tiba satu pikiran melintas dikepalanya. Ia kembali berlari menuju ruangan khusus untuknya dan menghampiri Sungmin. Para agen yang lain hanya bisa melongo melihat kedatangan kembali Si Ra. “Aku mau jadi agen,” bisiknya.

Sungmin terbelalak tak percaya. “Kamu mau?” Si Ra mengangguk.

Waeyo?” tanya Eunhyuk.

Belum sempat Si Ra menjawab datanglah Donghae yang menginterupsi keadaan.

“Ada apa ini?” Matanya beralih ke Si Ra yang tersenyum manis.

Annyoeng, Sunbae.” Si Ra masih mempertahankan senyuman mautnya.

“Oh pantas berubah pikiran, ternyata …”

Pletak! Si Ra memutus perkataan Eunhyuk dengan melemparkan bantal.

“Katanya agen lapangan, nangkep bantal aja enggak bisa. Wleee!” ejek Si Ra.

Eunhyuk menghampiri Si Ra untuk menjitak kepalanya namun Si Ra bersembunyi di balik tubuh tinggi Donghae. “Yak! Kesempatan sekali kau.”

“Bodo!”

“Hei, ‘monyet’, sudahlah. Tidak usah seperti anak kecil,” lerai Donghae.

“Hah? ‘Monyet? Hahaha, playboy nama panggilannya ‘monyet’.” Si Ra terbahak-bahak.

Entah kenapa ada perasaan yang lain yang menghampiri Sungmin ketika melihat tangan Si Ra melingkar di pinggang Donghae. Untuk mengatasi perasaan aneh itu, ia menarik Si Ra untuk mendekat kepadanya.

“Si Ra-ya, apa kau sudah mengenal semua agen di sini?”

“Tidak semua. Hanya kau, Yesung, Donghae dan… si ‘monyet’.” Saat menyebut nama ‘monyet’ gadis itu berusaha menahan tawanya. “Tetapi kalian juga harus memperkenalkan diri lagi karena aku enggak tahu apa jabatan kalian.”

“Baiklah…”

“Maaf menginterupsi. Tadi saya mendapat laporan dari agen yang berjaga di sekitar apartemen Nona Si Ra, katanya apartemen itu sekarang telah hangus dan ditemukan sebuah ancaman menggunakan darah di kaca jendela,” lapor Casey.

“Apa? Hangus? Kameraku? Oppa…” lirih Si Ra diikuti isak tangis menyedihkan dari bibirnya.

Semua yang menyaksikan isak tangis yang menyayat hati itu terdiam. Tak mampu melakukan apapun. Si Ra memang menangis namun tak ada air mata yang keluar. Ia hanya mampu menjerit tertahan.

“Maaf Nona Si Ra. Apa ini kamera Nona? Agen kami baru saja menemukannya.” Casey kembali dengan memegang sebuah kamera DSLR yang dibagian belakangnya tertera nama gadis itu.

Si Ra menghampiri lalu mengambil kameranya. Ia mengecek apa sesuatu yang terjadi pada kameranya. Dan benar saja kamera itu sudah rusak. Tak mampu lagi untuk dipakai. Momen-momen pentingnya bersama sang kakak hilang sudah. Gadis itu jatuh terduduk. Ia meratapi nasib sial yang menimpa dirinya. Belum 24 jam tapi ia sudah menerima cobaan beruntun. Apakah gadis berusia 19 tahun mampu melewatinya? Ia tak yakin itu.

Donghae berjalan menghampiri gadis itu lalu mengambil kameranya. Ia mencoba mengutak-atik tapi setelah sekian lama kamera itu belum mampu menyala. Tanpa meminta ijin ia membawanya ke ruang pribadinya untuk membetulkan kamera hoobaenya.

Sungmin yang melihat Si Ra tetap berada di tempatnya menghampiri. Ia mencoba membantu gadis itu untuk bangun. Si Ra memang sempat berjalan tetapi ia sungguh tak punya tenaga hingga akhirnya ia pingsan lagi!

@@@

“Whoaah! Aku dimana nih?” gumam Si Ra yang baru saja membuka lebar-lebar matanya setelah beberapa jam tertidur pulas. “Sepertinya aku ingat. Kameraku!” serunya seraya keluar dari ruangannya.

Di sebuah ruangan yang cukup besar dihadapannya sekarang hanya ada satu orang. Dan ia sangat sibuk dengan komputernya.

“Mmm…” Si Ra ragu-ragu untuk bertanya. “Kyuhyun-ssi, apa kau tahu kemana yang lain pergi?”

Kyuhyun mendongak. Matanya langsung tertuju pada mata gadis di depannya. Dan mata itu bengkak dengan sempurna dan terdapat lingkaran hitam di bawah kelopak matanya.

“Nona Si Ra? Oh, yang lain ada misi di lapangan. Dan yang tersisa hanya ada aku ditambah pegawai yang lain,” sahut Kyuhyun, tetapi pikirannya tak pernah lepas dari mata bengkak Si Ra. Dia pasti sangat kehilangan.

“Kamu tahu dimana ruangan Donghae-sunbae?” tanya Si Ra lagi. Tapi ia buru-buru menambahkan ketika mendapati tatapan curiga dari Kyuhyun. “Eh, aku mau ambil kameraku kok.”

“Ruangannya berada tepat di dekat lift.” Kyuhyun menunjuk satu-satunya ruangan yang berada di samping lift.

Gomawo.” Si Ra berjalan menuju ruangan itu dan langsung memasukinya. Tak ada orang. Ia menghampiri sebuah meja yang atasnya terletak kamera DSLR dengan namanya. Ia mencoba menekan beberapa tombol dan wow kameranya sudah bisa digunakan lagi. Hore! Tapi memory cardnya benar-benar kosong. Tak ada yang tersisa. Si Ra menghela napas lalu keluar dari ruangan itu.

Si Ra mengutak-atik kameranya sambil berjalan menuju sofa di dekat Kyuhyun. Ia menjatuhkan tubuhnya lalu mulai mencoba kameranya. Klik. Klik.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” seru sebuah suara.

Si Ra menurunkan kameranya lalu tersenyum manis. “Mencoba kameranya.” Klik. Klik. Ia malah iseng memotret Eunhyuk. Agen yang tadi pergi sudah pada balik semua. “Kenapa kalian pulang cepat?”

“Enak saja! Siapa bilang cepat?” sungut Eunhyuk.

“Bukankah kalian baru pergi tadi pagi?” Si Ra melempar pandangan heran ke semua agen.

“Kita pergi setelah kamu pingsan,” jawab Sungmin. Eunhyuk terlihat jengkel dengan sikap kekanak-kanakan Si Ra.

“Terus apa yang kalian dapatkan?”

Semua agen berpandangan satu sama lain. Dari pandangan itu tersirat sesuatu yang tak mampu dibaca oleh Si Ra, karena ia masih asyik dengan kameranya.

“Tidak ada.” Sungmin yang menjawab. “Si Ra-ya, cepat ganti bajumu. Kau harus berlatih teknik menembak.”

Si Ra dengan cepat mengalihkan tatapannya ke arah Sungmin. “Eh, di sini tidak ada jendela, ya? Aku mau ke taman. Mau motret.” Si Ra bangkit berdiri namun tangannya ditahan oleh Sungmin.

“Kau… hari ini tidak boleh pergi kemana-mana. Kau harus latihan menembak. Ara?” tegas Sungmin.

“Aku… kan udah bilang kalau tidak mau.” Si Ra terlihat ketakutan karena Sungmin memandanginya begitu tajam.

“Atau kameramu aku sita?” ancam Sungmin.

“Eh… iya deh. Tapi siapa yang akan mengajariku?” Si Ra memandang Sungmin dengan tatapan aegyo-nya. Ia berharap kalau sunbae-nyalah yang akan menjadi tutor nya.

“Agen Spencer.”

“Siapa itu?”

“Lee Hyuk Jae a.k.a Eunhyuk.”

“Eh…?”

Di tempat menembak.

“Pakai ini, ini dan ini!” Agen Spencer memberikan sarung tangan, headphone dan kacamata. Perlengkapan yang dibutuhkan untuk berlatih menembak.

Si Ra menggembungkan pipinya. Ia merasa kesal dan jengkel terhadap Sungmin.. namun ia tetap melakukan apa yang diperintahkan agen Spencer kepadanya.

Di tempat latihan menembak ini tak hanya ada Si Ra dan agen Spencer saja, tetapi ada juga beberapa pegawai dan agen khusus S.P.Y seperti agen Aiden, agen Vincent, agen Mathew dan beberapa agen khusus lainnya.

Si Ra memulai latihannya. Ia diarahkan Spencer untuk berdiri dengan tepat dan pandangan harus tetap focus di target. Si Ra mencoba menarik pelatuk. Dor! Tapi tembakannya meleset. Kedua kalinya ia mencoba, tetap meleset. Ketiga, keempat, kelima dan seterusnya tetap saja tak pernah menembak target. Si Ra menjadi kesal dan bosan. Ia melemparkan pistolnya ke tanah. Dan melepas semua peralatan menembak.

“Tuh, kan. Aku itu tidak bisa menembak,” gerutunya.

“Benar juga, sih,” aku Spencer.

Si Ra tersenyum. Ia lalu melangkah memasuki gedung, meninggalkan Spencer sendiri. Si Ra menuju kamarnya lalu menutup pintu. Menyalakan televisi dan bersantai di ranjangnya. Menikmati drama Korea kesukaannya.

Ia melirik jam yang menunjukkan pukul 11.45 KST.

Mwo? Sudah jam segini? Aku kan belum mandi…”

Dengan langkah tergesa, gadis itu menuju kamar mandi yang berada di dalam ruangannya. Saat ia mengaca, ia terkejut mendapati mata panda di wajahnya.

Aigoo, mataku seperti ini dari pagi? Pasti jelek banget,” gumamnya.

Ia berfikir siapa kira-kira yang akan ia mintai bantuan untuk membuat ramuan yang bisa dipakai di mata bengkaknya ini. Terlintas satu nama.

Tok.tok.tok.

“Masuk!”

“Yesung-ssi, bisakah kau membuat obat untuk mataku ini?” tanya Si Ra di dalam ruangan Yesung.

Yesung menyuruh Si Ra untuk duduk agar ia bisa memeriksanya. “Ah, sepertinya tadi aku sudah memberikannya kepada agen Marcus. Ambil saja di dia.”

Dahi Si Ra berkerut. “Siapa itu?”

“Kyuhyun, si hacker handal.”

Si Ra mengucapkan terimakasih lalu menghampiri meja Kyuhyun. Belum sempat ia meminta Kyuhyun sudah memberikan obat salepnya.

“Bisakah kau membantuku untuk mengoleskannya?”

Kyuhyun menata tajam Si Ra lalu beralih ke computer yang sedang menyala di depannya.

“Eh, iya…iya. Maaf mengganggumu.” Si Ra menghela napas. Tatapan dingin dari seorang hacker sangat menakutkan.

Matanya tertuju pada dua orang pria yang berjalan menuju arahnya. Ia tersenyum licik.

“Eunhyuk-ssi, bisakah kau membantuku mengolesi salep ini ke mataku?” Jangan mau, jangan mau.

Ani, aku tidak bisa. Bagaimana kalau dengan agen Aiden saja?”

Yes, terimakasih Eunhyuk-ssi.

“Eh… tapi aku mandi dulu.” Secepat kilat ia berlari ke kamar mandi di ruangannya.

TBC

Entry filed under: Action, Chaptered, FanFiction, Indonesia, Mysteri, Romance, Super Junior, T. Tags: , , .

Enter The Darkness [PART 2] (Oneshoot)Just For You

1 Comment Add your own

  • 1. lestrina  |  September 2, 2012 at 7:41 AM

    Ceritanya thrill, keren euyyy. Aku suka, hayoo lanjutkan. Aku pngn tau si Ra jadi spy n sptnya ada cinta segitiga ya.,,hayoo lanjutkan ya

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 513,074 hits

Day by Day

September 2012
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: