Enter The Darkness [PART 2]

August 30, 2012 at 8:03 PM Leave a comment

Author               : Yanlu

Length               : Chaptered

Genre                : Dark, Fantasy, Romance, Mystery dll

Main Cast          : Byun Baekhyun, Kai, Sehun, Luhan, Hwang Minyoung (OC), Kim Chanra (OC), Song Jisun (OC)

Minor Cast        : find it by yourself

Rating                 : PG 15

TEASERPART 1

Mian kalo part kemaren terlalu geje dan bikin nggak mudeng. Tapi komen dan Like tetep saya tagih, happy read ya!

Sudah tidak ada celah bagi kegelapan

Mereka saling membaur bersatu disekitar kebenaran

Semua telah terjamah oleh tangan-tangan yang salah

Dan kini mereka datang, waspada!

Pluk…pluk….

Pluk…

Pecahan kerikil terus berbunyi ketika seseorang dengan malas membuang kerikil itu di depan danau yang berada dihadapannya. Danau itu berwarna hijau diterpa kilauan matahari yang mulai membentuk gradient kuning menuju jingga. Ia mencermati riak air di tepi danau lalu melempari kerikil-kerikil dengan kesal di bayangan wajahnya sendiri. Memantulkan bayangan wajahnya yang sedang melamun. Pada lemparan kerikil terakhir tiba-tiba muncul bayangan lain di permukaan air yang ia lihat. Setelah air semakin tenang barulah ia dapat melihat siapa bayangan yang tiba-tiba muncul. Dengan ragu ia menoleh dan mendapati seorang namja berbadan tinggi menyunggingkan senyum ke arahnya.

“Si…siapa kau? Ma..mau apa kau kemari?” Tanya yeoja itu, gelagapan.

Bukannya merespon terlebih dulu pertanyaannya namja itu justru mendekati yeoja itu dan memajukan wajahnya di hadapan yeoja yang sekarang hanya berjarak beberapa centi saja dari wajah manis yeoja itu. Mata mereka dalam sepersekian detik saling bertemu pandang namun tak lama kemudian yeoja itu mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali membuat namja itu sedikit menjauh. Ia menggantungkan sebuah kalung bertahtahkan permata hijau tepat di depan mata yeoja itu tapi ia justru menepis kalung itu dengan tangannya. Ia menundukkan wajahnya kembali menatap riak air danau yang memunculkan bayangannya.

“Hey! Ini milikmu kan? Aku melihat kamu melempar kalung ini jauh disana dan berhasil mengenai kepalaku sampai aku terbangun. Apa kau tidak punya mata?” Semburnya dengan tatapan dingin.

“Sudahlah, itu untukmu saja. Aku tidak ingin berdebat dengan siapa-siapa hari ini!” ucapnya santai.

“Yang menjadi permasalahan adalah kamu mengusik ketenanganku tadi! Dan sekarang bukannya meminta maaf kamu justru tidak ingin mempermasalahkan ini?!Cih…kau harus bertanggung jawab” tegurnya. Yeoja itu menoleh dengan wajah kesal. Ia menatap tajam namja yang sekarang berdiri di sampingnya. Raut muka namja itu tak kalah kesalnya pada yeoja itu. Mereka beradu pandang hendak memulai tatapan firenya.

“Lalu maumu apa?!” yeoja itu mulai meninggikan nadanya dengan tatapan menantang.

“Kalung ini untukku, otte?” namja itu menaikkan alisnya. Yeoja itu mulai mengendorkan otot-otot yang sempat menegang di sekitar pelipisnya.

“Terserah, I don’t need it anymore” ungkapnya pasrah.

Namja itu hanya mengernyitkan alisnya, ia sedikit penasaran kenapa kalung seindah ini dibuang begitu saja, padahal batu permata pada kalung itulah yang sedang diincar olehnya. Batu seberharga itu ia buang dengan sia-sia. Sungguh ia penasaran ingin tahu apa penyebabnya tapi niatnya ia urungkan setelah yeoja itu hendak pergi dari hadapannya.

“Yang penting aku mendapatkannya!” batinnya.

Sebelum yeoja itu terlalu jauh namja itu diam-diam mengikutinya dari belakang. Ketika yeoja itu menyebrang ia ikut menyebrang sampai pada emperan toko yeoja itu tahu kalau dirinya sedang diikuti. Dari kaca besar di sebuah toko ia melihat namja yang baru saja meminta kalungnya berhenti dan pura-pura melihat rak buku yang berada di dalam toko dari jendela.

“Ish…apa yang dia lakukan? Kenapa membuntutiku terus!” gerutunya.

*EARTH*

Di dekat ruang yang menurutnya kotor dan berantakan ia menemukan tempat yang nyaman berada di dekatnya, namja itu tanpa risih tiduran diatas ranjang yang kayunya sudah reyot dan mungkin sedikit rapuh. Ia tak peduli, yang ia inginkan sekarang adalah tidur karena selama sehari penuh ia terus mencari.

Brukk!!

“Dasar, yeoja tak tahu diri! Berantakan dan tak tahu aturan! Pantas saja kakak tirimu itu tak pernah menganggapmu dan selalu membencimu! Harusnya kau bercermin sebelum bersaing dengan kakakmu yang primadona itu!” bentaknya semakin meninggi.

Keributan yang terjadi disekitar gudang sekolah mengusik ketenangan seorang namja yang sedang berbaring di dalam ruangan. Ia mengerang pelan dan mengacak rambutnya kesal. Ia membuka pintu dengan kasar untuk melihat siapa yang tengah mengganggu ketenangannya.

“Bisakah kalian diam?! Kalian mengganggu acara tidurku!” sentaknya tanpa memperhatikan yeoja yang tengah terkejut dengan kemunculannya. Awalnya mereka mengernyit tak mengerti tapi tiba-tiba saja mata mereka sukses tak berkedip menatap namja itu. Sampai seseorang berhasil memecah keheningan itu, dia satu-satunya yang tidak terpesona dan heran dengan namja itu.

“Ka…kau! Kenapa kau ada disini? Jangan bilang kau adalah salah satu murid sekolah ini?” Tanya salah satu seorang yeoja. Namja itu kembali membalikkan badan karena merasa terpanggil. Ia memincingkan mata agar lebih tahu siapa yang bertanya.

“Hai, Minyoung! Kenapa kau bisa ada disini? Ah…aku tahu, kau bersekolah disini, ne?” namja yang Minyoung tahu yaitu Baekhyun tersenyum dengan tampang sok manis padanya.

“Ya! Jawab dulu pertanyaanku, apa kau bersekolah disini?” Baekhyun menggeleng. Minyoung kembali bertanya. “Lalu apa yang kau lakukan disini?!” tanyanya mulai tak sabar.

“Tidak ada, hanya numpang istirahat. Ah…itu aku memang tidak bersekolah disini tapi mungkin aku akan segera mendaftar sekolah disini”

“Jinjayo? Minyoung, apa kau mengenal namja tampan ini? Kenapa kau tidak pernah bilang pada kami?” salah satu yeoja menyebalkan itu mulai menyerbu beberapa pertanyaan padanya. Minyoung memandang sinis lalu melenggang pergi dari tempat itu tanpa menjawab pertanyaan yang dipastikan sebentar lagi akan menghujaninya.

Baekhyun kewalahan setelah Minyoung pergi karena tiba-tiba beberapa yeoja menyerubunginya seperti makanan dan Baekhyun benar-benar tidak tahu harus berbuat apa dengan manusia-manusia bumi ini. Statusnya adalah makhluk asing dari planet Hemma meskipun wujud fisiknya adalah manusia, manusia berparas tampan melebihi batas manusia normal. Oleh karena itu setiap yeoja yang menatapnya cukup lama bisa dipastikan sebentar lagi ia akan luluh dan terpesona olehnya. Tapi lain halnya dengan yeoja yang pertama kali ia perhatikan sejak ada di bumi. Dia Minyoung, bukanlah yeoja biasa yang dengan mudah terpesona olehnya. Ia selalu bersikap ketus padanya sejak awal dan sampai sekarang masih sama.

“Chankaman!! Kau, namamu siapa? Aku harus memanggilmu siapa?” Baekhyun berteriak setelah lolos dari kerubungan beberapa yeoja. Ia sedikit berlari untuk menghampiri Minyoung. Minyoung mendengar suara Baekhyun yang sepertinya sedang bertanya padanya karena arah teriakkan itu menuju padanya. Minyoung justru mulai terlihat panik. Bagaimana jika satu sekolah menuduhnya bahwa ia membawa pemuda berantakan ini ke sekolah tanpa berstatus murid atau siapapun. Ia memutuskan untuk berlari secepat mungkin tapi tiba-tiba Baekhyun telah mencapai tangannya. Minyoung terkejut dan seketika ia tak bisa berkutik. Baekhyun berpindah posisi berhadapan dengannya. Minyoung meronta meminta dilepaskan. Ia semakin panik sekarang setelah Baekhyun berhadapan dengannya, lalu timbul akal licik dipikirannya. Ia mengangkat tangan Baekhyun ke dekat mulutnya lalu menggigit cukup dalam untuk menimbulkan luka yang nyeri.

“Aw…!! Apa yang kau lakukan? Hey! Tunggu!” Baekhyun meronta kesakitan tapi ia masih kukuh mengejar Minyoung yang sekarang berbelok ke toilet wanita. Baekhyun bingung ia berada dimana dan kemudian masuk ke toilet itu karena sepertinya ia melihat Minyoung berbelok ke arah situ. Kedatangan Baekhyun menggeparkan seisi toilet. Ia jadi bingung kenapa semua yeoja berteriak histeris. Ia menutup telinganya rapat-rapat mendengar suara teriakkan itu  jadi ia memutuskan untuk keluar sebelum melangkah keluar tangannya telah di tarik oleh seseorang. Minyoung sedari tadi tahu bahwa Baekhyun salah masuk toilet, oleh karena itu ia mengurungkan niatnya untuk menghindari kejaran namja sialan ini dan membawa Baekhyun keluar sebelum semua yeoja semakin gempar.

“Huh…gomawo, kau telah menyelamatkanku” Baekhyun menggeleng-gelengkan kepala, masih pengang.

“Ikut aku! Kau tahu? seisi sekolah akan segera mengetahui kedatanganmu dan mereka pasti berpikir bahwa akulah yang membawamu kesini karena hanya aku yang kau panggil-panggil!” Minyoung berdecak sebal sambil menarik tangan Baekhyun melewati halaman belakang sekolah yang jarang terjamah siswa-siswi kecuali mereka berbuat senonoh.

“Mianhae, tapi aku benar-benar tidak tahu bahwa kau bersekolah disini.” Sesalnya, ia membuang nafas pelan.

“Sekarang, kau keluar melalui pintu itu dan jangan melihat ke arahku setelahnya, arachi?. Mumpung beberapa siswa belum terlihat disini. Palli!” Minyoung mendorongnya untuk segera pergi. Baekhyun yang paham akan situasi ini hanya bisa pasrah dan kemudian ia pergi sesuai perintah Minyoung.

“Mengganggu saja! Oh God! Jangan sampai aku bertemu namja itu lagi!” gumamnya.

Minyoung menapaki kakinya untuk kembali ke kelas. Saat ia meninggalkan tempat itu seseorang tanpa ia sadari menatapnya dengan penuh selidik.

*EARTH*

                Sore hari saat itu, berdiri seorang perempuan dengan pandangan mata sayu menatap lautan biru dan debur ombak yang memecah tebing hingga menimbulkan bunyi gesekan akibat kerikil tajam. Sekarang ia berada di atas tebing dengan ketinggian yang tidak bisa dibilang aman. Yeoja itu mendongakkan kepalanya memandang lautan jauh disana. Angin mulai memainkan anak rambutnya yang bergelombang berwarna hitam sedikit kemerah-merahan diterpa matahari. Pandangan matanya sangat datar seolah-olah kepedihan yang pernah dialaminya biasa ia lalui dan mampu ia tampung meski di dalamnya terbesit pemikiran ingin mengakhiri hidupnya. Disekitarnya angin mulai menerbangkan rambutnya kembali yang kian berantakan karena angin laut berhembus semakin kencang. Tangannya mulai membentang dan matanya terpejam. Ia melangkahkan kakinya semakin ke tepi tebing. Batu-batu yang tidak terlalu kuat menancap, perlahan-lahan jatuh mengeroposkan bagian ujung tebing yang mulai tak berdasar. Satu kakinya hampir saja menjatuhkan tubuhnya jika ia tidak segera menghentikan langkah yang semakin mengikis bebatuan tebing rawan tersebut. Ia mulai memejamkan matanya kembali dan bersiap-siap dengan posisi terjun dari atas tebing. Angin semakin berseteru melawan tubuhnya tepat saat ia merasa tubuhnya sudah melayang dan ombak siap memangsa tubuhnya yang akan jatuh demi mengakhiri hidupnya. Namun sampai beberapa detik lamanya ia tidak mendengar deburan ombak maupun merasakan hantamannya. Ia serasa melayang diudara tanpa menyentuh daratan maupun lautan.

“Ah…pasti aku sudah mati dan sekarang aku ada di alam yang berbeda dengan bumi” pikirnya, masih belum membuka matanya. Ia tidak kuasa untuk melihat dimana posisinya sekarang tapi ia merasakan hembusan angin yang entah kenapa terasa mengelilinginya saat sedang melayang. Tak ada beban sekarang, ia merasa telah menjadi malaikat dan sekarang sedang diantar menuju surga. Tak lama kemudian badannya perlahan-lahan bergerak dan ia merasakan gravitasi pada tubuhnya.

“Nona! Bangun! Sudah sekian lama kau menindih tubuhku ini!” teriak seseorang tepat ditelinganya membuat yeoja itu tersadar dari khayalannya. Ia membuka mata dan tepat saat itu ia merasakan dirinya terhempas begitu keras di atas batu tebing. Seorang namja menggulingkan tubuhnya yang sedari tadi memang menindihinya. Yeoja itu beberapa kali mengerjap-ngerjapkan matanya antara percaya tidak percaya apa yang baru saja terjadi. Kenapa tubuhnya  berada disini? Bukankah seharusnya ia sudah mati ditelan ombak atau menghantam batu tebing? Tapi kenapa justru ia berada jauh disini bersama seorang namja yang ia tidak ketahui siapa.

“K…kau? si…si..apa? kenapa aku bisa ada disini? Aish!! Kau menggagalkan rencana bunuh diriku?!” tiba-tiba yeoja itu meneriakinya, dengan gemas ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Namja itu menatapnya dingin seolah-olah lautan ini akan menjadi es jika saja ia menatap lautan itu dalam jangka waktu yang lama. Bibirnya tak sekalipun bergerak untuk berbicara satu kata saat keheningan menyergapi mereka berdua. Dia hanya diam memandangi seorang yeoja yang sedang mengacak rambutnya dan menggeram sendiri lalu bergerak seperti orang gila. Setelah dirasa namja itu menatapnya tanpa ekspresi yeoja itu dengan angkuh menatap lautan kembali tanpa melihat namja yang sudah menolongnya. Tak lama kemudian terdengar isakan tangis darinya, yeoja itu memeluk lututnya seraya menggores-nggoreskan tangannya di atas batuan kerikil yang tajam. Ia terus menggesekkan tangannya di atas tepian batu tebing yang terbilang tajam tanpa berhenti sampai-sampai tangannya sudah mengeluarkan cairan merah pekat di sekitar permukaan kulit putihnya. Namja itu menatapnya tak mengerti dengan tingkah manusia itu tapi ia yakin pasti tangannya sedang merasakan sakit karena cairan merah itu keluar begitu saja dari tangannya.

“Kau mengeluarkan…cairan merah itu? Apakah tidak sakit?” akhirnya ia sedikit memperhatikannya meskipun ia kesal setengah mati dengan yeoja ini. Melihatnya berantakan dan melukai tubuhnya sendiri ia merasa iba. Namun sebagian dirinya menahan untuk tidak lebih memperhatikan tingkah yeoja aneh itu.

“Mwoya?! Tentu saja sakit tapi ini tidak seberapa dengan sakit yang kurasakan saat ini!”semburnya sedikit kasar. Namja itu mengurungkan niatnya untuk menyembuhkan luka yeoja sinis itu. Pikirnya lebih baik ia tetap pada posisinya daripada menolongnya kemudian disembur lagi. Martabatnya akan turun jika ia terus mendapat perlakuan seperti tadi.

“Kenapa kau malah menolongku? Tidakkah kau tahu tadi aku…a…ku Aish! Menyebalkan!” suaranya berubah menjadi serak saat ia berteriak. Pikirannya menjadi kacau karena kejadian tadi. Ia melempar kerikil-kerikil tidak bersalah itu dengan kasar ke air laut. Namja itu berdecak sendiri dan kemudian hendak meninggalkan yeoja itu sebelum yeoja itu tiba-tiba menahannya.

“Kajjima! temani aku disini” pintanya. Namja itu menoleh kembali dan mengernyit tak mengerti. Pernyataan yang  barusan mengejutkan baginya. Yeoja itu tiba-tiba berubah 90 derajat dalam sekejap. Ia berhenti untuk mendengar kelanjutannya tapi sepertinya yeoja itu tidak berniat melanjutkan kalimatnya, ia hanya menatap lautan tanpa menoleh ke arahnya. Pikirnya yeoja itu hanya sedang mengingau atau telinganya terlalu peka sehingga ia mendengar panggilan itu. Tapi saat namja itu akan berbalik yeoja itu menoleh dan mengulang kalimatnya.

“Bertingkahlah hanya sebagai seorang pendengar, jebal! Aku ingin mencurahkan semua masalah yang menimpaku tanpa kau sahuti cukup kau dengar saja, jebal ne?” pintanya, ternyata ia memohon pada namja itu. Bukannya menuruti permintaannya namja itu malah menatapnya dingin seperti ingin mencekik yeoja yang menurutnya sangat menyebalkan dan tidak tahu diri itu.

“Andwae!” tegasnya singkat.

Yeoja itu tampaknya kembali menunduk lesu, membuang nafas dengan kasar lalu kembali menatap lautan.

“Siapa namamu?” Tanya yeoja itu.

“Sehun” sahutnya cepat.

“Pernahkah kau merasa diasingkan dari keluargamu lalu tiba-tiba keluargamu menjodohkanmu dengan seseorang tapi kau sama sekali tidak menyukainya? Mereka hanya mementingkan diri sendiri bukan?” ungkapnya masih dengan raut masam. Sehun jelas saja tidak tahu masalah yang complicated seperti itu, ia bukan manusia sedangkan manusia penuh dengan masalah. Ia memilih diam dan pura-pura tak mendengar.

“Ayah ibuku adalah orang sibuk, mereka selalu pergi keluar negeri tanpa pernah menghubungi anaknya untuk sekedar bertanya kabar. Saat pulangpun mereka hanya akan menanyakan kabar tanpa membelaiku atau mengecupku sebagai tanda rindu. Mereka hanya meninggalkan seorang pelayan padaku dan beberapa uang, aku memang tidak menyalahgunakan uang yang mereka berikan seperti kebanyakan anak yang kekurangan kasih sayang tapi aku tidak pernah mengikuti keinginan mereka. Akibatnya aku sering membolos sekolah, lalu mengurung diri di kamar dan kebiasaan menyendiriku tidak bisa ku hindari. Aku tidak peka terhadap lingkungan dan pergaulan sekitar. Aku tidak peduli apapun yang terjaid disekitarku. Aku menjadi egois dan tidak mau memahami diri lalu teman-teman membenciku. Bukankah itu mengenaskan?” dia menghela nafas panjang menghentikan ocehannya sambil menikmati angin laut yang menerpanya dengan lembut.

“Huh, semua orang sama saja. Kebanyakan dari mereka hanya  bisa iba tidak benar-benar mencurahkan kasih sayangnya. Orang tuapun sama!” cerocosnya, terlihat kalau ia sangat kesal dengan keadaannya saat ini.

Sehun menatap jauh ke sana dengan tatapan datar tanpa ekspresi, begitu juga yeoja yang ada didepannya. Mereka berdua sama-sama mempunyai tatapan dingin. Yeoja itu mulai menoleh memandang ke arahnya. Sehun tidak terlalu menghiraukan, ia masih saja menatap dingin pada lautan.

“Gomawo, sudah mendengar keluh kesahku, sekarang kau boleh bicara. Bagaimana menurutmu? Hidupku miris, ne?” bibirnya membentuk senyuman miris. Ia kini berhadapan dengan Sehun tapi tetap saja Sehun tidak merespon tatapannya.

“Sudah? Baiklah aku ingin pergi!” ujarnya dingin. Sehun bangkit dari duduknya berniat pergi dari hadapannya tanpa merespon pertanyaannya.

“Hey, kau! namja menyebalkan kenapa kau tidak menjawab?!” teriaknya, Sehun mulai berjalan membelakanginya.

“Kau lebih menyebalkan, nona!” ucapnya dingin.

“Hey, aku punya nama. Panggil aku Jisun!” teriaknya semakin keras karena kini Sehun sudah jauh berada di daerah pasir pantai entah ia mendengar atau tidak tapi Jisun merasa bahwa Sehun mendengarnya. Seulas senyum kecil terukir di balik wajah datarnya.

*EARTH*

                Pertengahan malam beberapa orang yang berada di ujung jalan sebagai tempat nongkrong serta club-club malam seketika panic. Sesuatu membuat mereka takut dan berlari pontang-panting menghindari sesuatu. Beberapa orang berjubah hitam mengeluarkan gelombang putih menyala seperti sinar laser dari tangan mereka. Satu-persatu orang yang berhadapan dengan mereka melebur menjadi serpihan abu yang menghilang bersama angin.

“Uji coba, 1 mission has been complete”

Di planet yang lain, Quaoar ratu Sarang berdiri dilingkaran meja berpoleskan batu hitam pekat bekilau yang diatasnya berdiri kaca bening menampilkan kekacauan yang terjadi di belahan planet yang lain. Kaum sebangsanya yang berjubah hitam telah berhasil melancarkan serangan pada tengah malam yang tidak diketahui sama sekali oleh penduduk bumi. Kekuatan laser yang diberikan oleh petinggi langit sangat berguna.

“Haha! Sangat mudah…

*EARTH*

                Seorang yeoja sejak tadi berjalan kemudian mengedarkan matanya sambil merutuk tak jelas. Sejenak menghentikan langkahnya untuk memastikan keadaan sekitar tidak ada siapa-siapa. Lalu ia menapaki jalanan tangga yang berada di dekat rumahnya sambil menghela nafas lega entah untuk apa. Satu dari sepasang sepatunya ia lepas tapi saat ia menyentuh sepasang sepatu yang lain suara ketukan langkah terdengar sama-samar ditelinganya. Ia menengokkan kepala kilat ke belakang berharap tidak ada apapun di sana. Memang tidak ada siapa-siapa disana seperti dugaannya namun ia masih saja tidak yakin. Dengan kaki telanjang ia mengintari sisi rumah dan mencari-cari sosok yang ia curigai tapi tetap saja tidak ditemukan siapa-siapa disana. Ia masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan apa-apa lagi yang mengusik pikirannya. Diruang tengah tampak sepi dari penghuni. Sepertinya kedua orang tua yeoja itu sedang pergi bersama. Sempat ia menghubunginya dan berkata bahwa keduanya menghadiri acara pernikahan rekan kerja.

“Huh, perut sudah keroncongan begini tapi tak ada secuilpun makanan, Tsk! apakah persediaan makanan habis?” Ia meneguk liurnya saat melihat isi di dalam kulkas hanya ada segelintir buah dan makanan fast food. Dengan terpaksa ia mengambil minuman dingin dan memakan buah apel. Beberapa saat setelah dirasa perutnya terisi meskipun tidak memberikan efek berarti ia berjalan menuju kamar dan mengunci pintu kamar rapat-rapat. Kakinya dengan lemas menjatuhkan diri ke atas kasur berikut badannya yang sudah lelah karena terus berjalan tanpa arah. Kenyamanan kasur membuatnya sedikit mengingat akan kejadian beberapa jam yang lalu saat dengan mudahnya ia membuang kalung pemberian seseorang tanpa dipikirkan lebih dulu. Setiap kali melihat kalung itu suasana hatinya berubah. Ia masih tidak bisa melupakan peristiwa yang membuatnya harus kehilangan seseorang. Padahal ia tak ingin terus larut dalam kesedihan tapi entah kenapa ia masih tidak bisa meninggalkan kalung milik kakaknya yang ia wariskan untuknya sebelum malaikat mencabut nyawanya.

“Aish!! Baboya!” gerutunya mengacak rambutnya menyesal setelah membuang kalung amanat dari kakaknya.

TOK!

Sebuah batu kerikil sukses menghantam jendela kamarnya hingga menimbulkan suara derit. Ia terpenjat dan segera bangun dari tidurnya memeriksa jendela. Ia menengadahkan kepala keluar dari jendela dan tepat saat itu juga ia menjerit histeris.

“AAA!! Kau??”

“Hush!! Bisakah kau diam?” seorang namja dengan geram menutup telinga dari suara teriakkan. Ia hendak melanjutkan aktifitasnya lagi dengan mengangkat batu yang cukup besar ke arah bawah yang disana terdapat batu emerald.

“ANDWAEEE!” teriakkan itu kembali terdengar dan sekarang semakin kencang sehingga menunda apa yang akan namja itu lakukan pada batu berharga yang berada di bawah kakinya. Yeoja itu menghampiri dan menahan tangan namja itu untuk menjatuhkan batu berat itu. Sedetik kemudian ia mengambil kalung bergandul batu emerald itu kembali dan menggenggamnya erat-erat. Namja itu melepas batu yang sedari tadi terkepal di tangannya. Ia menatap gadis itu dengan pandangan tak mengerti.

“Kenapa kau ambil lagi? Bukankah itu sudah menjadi milikku?!” Namja itu mengulurkan tangannya hendak mengambil apa yang digenggam oleh yeoja itu tapi tampaknya yeoja itu semakin mengeratkan kepalan tangannya dan melangkah cepat ke dalam rumah. Entah dari mana datangnya namja itu sudah berdiri di depan pintu rumah yang akan dilewati olehnya. Namja itu menangkap tangan yeoja itu yang sedang kebingungan mencari jalan lain tapi namja itu justru semakin mengeratkan genggamannya. Terlampau panik ia mulai meronta meminta dilepas sampai akhirnya namja itu melingkarkan tangan yang satu dipinggang yeoja itu. Seketika yeoja itu bergidik merasakan sentuhan namja itu pada pinggangnyaya. Ia terpaku saat itu juga pada sorotan mata namja itu. Namja itu berusaha membaca pikiran yeoja dihadapannya dengan menatapnya tajam supaya ia bisa lebih mendalami. Namun ia justru terhanyut dan mulai mendekati wajah yeoja yang sedang tercengang serta tak bergeming sedikitpun. Ketika sampai hembusan nafas namja itu menderu menerpa kulit yeoja itu tangan yang satunya sukses mendapatkan kembali kalung yang digenggam oleh yeoja itu. Ia segera melangkah mundur menjauhi wajah yeoja yang kini sudah bersemu merah pipinya dan sekarang ia mencium kalung berbatu emerald itu dan mengedipkan satu matanya pada yeoja itu. Yeoja itu entah kenapa segera menyadari tingkah namja yang sembrono itu saat namja itu berlalu dari hadapannya dengan cepat.

“Jebal, kembalikan kalung itu, kau tahu betapa berharganya kalung itu. Aku tidak bisa menghilangkannya, ku mohon kembalikan” ia memohon pasrah namun namja itu sudah melangkah jauh hendak keluar. Tiba-tiba namja itu menghentikan langkahnya dan berbalik menuju yeoja yang bersimpuh itu.

“Irona!” namja itu mengulurkan tangan pada yeoja itu tapi dia malah menepis tangan namja itu.

“Yang aku butuhkan kalung itu bukan bantuanmu?!” ucapnya sinis.

“Baiklah, kalau kau tidak mau bangun, kuurungkan niatku untuk mengembalikan ini” ujarnya melayangkan kalung itu di depan wajahnya.

Bujukan namja itu berhasil membuat yeoja itu menuruti perkataanya, ia bangun dan segera meraih kalung itu. Raut muka yang tadinya sangat lesu sekarang berubah menjadi senang. Ia menjadi ceria kembali dan tersenyum pada namja dihadapannya.

“Gomawo, kau sudah membuatku merasa baikan! Oh ya, sejak kita bertemu aku belum mengenalmu kau─

“Luhan” potongnya sebelum yeoja itu mengakhiri kalimatnya.

“Ish…percaya diri sekali, aku hanya ingin memberitahumu kau aneh, Luhan!” yeoja itu menyunggingkan senyum mengejek dan membuat Luhan kesal padanya.

“Lalu kau siapa?”

“Kim Chanra, panggil aku Chanra”

*EARTH*

Mian typo ya? habisnya udah berkali-kali aku sunting tapi gatau kalau masih ada typonya, komen or like ya!

Entry filed under: Adventure, Chaptered, EXO-K, EXO-M, Fantasy, Indonesia, Mysteri, PG, Romance. Tags: .

[FREELANCE] Stand My Ground S.P.Y *Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,956 hits

Day by Day

August 2012
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: