[FREELANCE] Stand My Ground

August 29, 2012 at 2:07 PM Leave a comment

 

Author   : Kasihwright (@kasihwright)

Rating    : T

Genre     : Romance

Cast       : Jang Heera (Oc) as senior high school student

Shindong (Suju) as the safety boy

Jonghyun (SHINee) as Heera’s boyfriend

Key (SHINee) as Jonghyun’s friend

Sarang (OC) as Key’s saeng

Setelah bikin dialogue tentang expressing anger, kayaknya kok pas banget gitu lho pas Jjong bilang ‘Bloody hell’, aih… padahal akikah udah baikan sama Jjong oppa kah ya:D

Wkwk, yasud yasud kalo begeto, lets enjoy read read yah!

MINHO SAGT : DONT TAKE IT OUT WITHOUT PERMIT!

(ff ini pernah dipublis beberapa hari yang lalu di ffindo atas nama author Kasihwright)

Jeju, populasi 699.650 jiwa.

September dua puluh dua, salju masih sedikit banyak berjatuhan memenuhi comberan dan lalu lintas makhluk semacam tikus. Dari beberapa kawanan tikus putih yang selalu berkeliaran di bawah bangunan kayu tua, salah satunya mati karena kaget akan gonggongan anjing dan kedinginan. Kawanan tikus hitam yang lain telah dimakan anjing dan sisanya bergerumul ketakutan di bawah balok-balok kayu.

Seminggu sekali sang mantan pemilik tanah luas di seberang sungai kina datang menemui bunga-bunga tepi sungai untuk duduk dan berbincang dengan pemilik lahan baru.

Malam itu, satu tikus kecil yang kedinginan berlari dari gudang dan bertemu dengan seekor marmut cantik yang berlarian membawa sebiji kenari. Rencana pembabatan pohon pruce dan pemusnahan balok-balok itu akan berakibat fatal pada populasi tikus di dunia.

 

*Heera POV

Aku pulang bersama Jjong sore itu setelah cukup lama berbincang banyak sekali di kelas lukis dengan namja eksentrik bernama Key. Sepanjang jalanan berdebu yang kini sudah rapat salju-salju yang bergerumul di atasnya, botku mendadak rusak, sela jemariku tergores pecahan tapel bot hingga berdarah.

“Oh Shit!” aku ingin membuang bot sialan itu, tetapi aku sadar betapa konyolnya berjalan diatas salju tanpa bot.

Jonghyun menatapku, lalu ia tersenyum dan menggendongku hingga nyaris aku terlelap dipunggungnya.

Satu hal yang kutahu setelah sekian lama bersamanya adalah, ia sangat baik. Awal mula hubungan kami bermula pada musim semi empat bulan silam, ketika itu aku duduk tanpa tahu apa yang harus kulakukan, lalu seorang yeoja dan namja yang selalu berdua kemana-mana datang padaku, di belakang mereka ada seorang namja yang tidak terlalu tampan, ia menyapaku dan meninggalkan obrolan yang sangat meneduhkan hatiku.

Yeoja itu—Sara, si bungsu dari dua bersaudara—ia dan Key—kakaknya yang sungguh mati aku iri dengan kasih sayang yang ia berikan pada saeng kecil itu. Mereka berdua yang membawakan semangkuk cinta dari namja hangat bernama Jonghyun ketika matahari menjelang senja.

*end POV

 

Anak si pemilik gudang balok yang baru—seorang namja bergaya santai tanpa tahu membedakan waktu makan dan waktu mengunci mulut, namja itu—Shindong, putra ke sepuluh dari sembilan hyungnya yang sudah menikah dan memisahkan diri dari rumah orang tuanya.

Ia berumur delapan belas—kelas tiga—bersekolah di BukSok. Wajahnya tidak terlalu jelek, dan otaknya tida terlalu bodoh. Sore itu ia duduk di tepi sungai kina ketika dua orang asing yang sudah ia kenali datang menengok bunga-bunga tepi sungai.

“Annyeong,” salah satu dari keduanya—yeoja kecil berusia empat belas, berlari hingga duduk di samping Shindong.

Shindong tersenyum simpul, kedua pipinya terlalu berat untuk bergeser dibalik jepitan bibirnya yang kecil “Ah, annyeong Sara…”

“Lahanmu penuh tikus, yah!” namja yang datang bersama yeoja itu berdiri di belakang mereka.

Shindong menoleh dan tersenyum lagi “Ah, Key… indah bukan?” kedua pipinya mulai bergeser, ia tersenyum dengan lebar.

Namja yang berdiri di belakang mereka—Key memincingkan mata sembari berpikir dalam hati :Shindong, kau ini bodoh atau idiot?

 

*Key POV

Aku dan Sara, aku dan Sara, dan hanya aku dan Sara.

Jeju bukan tempat bodoh meskipun sekolah kami berada di Seoul, aku tidak ingin membicarakan jarak atau apapun, yang terpenting aku bersekolah di sekolah bergengsi dan aku tidak lebih bodoh dari Jonghyun dan Shindong, itu satu-satunya yang membuatku mampu tersenyum saat mendapat nilai E dikertas matematika, saat kedua namja babo itu mendapat nilai F.

“Key oppa,” Sara beranjak memetik bunga-bunga di sekitar sungai kina—semacam bunga comberan yang sangat ia sukai.

Aku hanya berdiri di belakangnya dan memandangi wajah namja gendut yang sangat aneh melantunkan bait-bait lagu yang terdengar seperti lantunan doa gereja.

“Key, kau tahu kenapa terkadang hidup terasa indah?” Shindong masih bernyanyi, disela-sela napasnya yang kembang kempis ia bertanya.

Ia menekankan kata ‘terkadang’ dengan fasih.

“Mollaseo,” jawabku datar, aku memandangi Sara agar ia tidak terpelincir dan jatuh di sungai untuk ketiga kalinya, hingga hanyut dan sangat merepotkan, aku hanya tidak tega jika ia demam berhari-hari karena terlalu banyak membentur batuan sungai.

“Seekor tikus!” wajah Shindong seketika menyeringai. Aku terhenyak dari lurus tatapanku pada Sara, lalu menatap Shindong dengan harapan semoga dunia benar-benar tidak akan peduli pada kebodohannya.

“Mwo?”

Ia menyeringai makin lebar “Tikus yang mencuri marmut betina,” senyumannya mulai terlihat mengenaskan, jelas seringaian minta dipuji.

Aku menatapnya, hatiku kesall bukan main “Lalu?”

“Pemilik marmut itu, aih… cantik sekali.” Shindong mulai manggut-manggut tak karuan.

Aku menghela napas, seketika itu Sara berteriak dan lari cepat-cepat ke arahku, ia memelukku, wajahnya pias “Oppa! Ada selusin tikus di sudut bunga itu!”

Aku mengelus kepalanya, lalu dengan geram memandang Shindong, ia masih saja menyeringai persis orang gila.

“Ayo kita pulang, saeng,” Aku berjongkok, menunggui Sara menaiki punggungku, setelah itu aku meninggalkan Shindong, aku mulai tahu misteri tikus yang ia sebut sebagai keindahan, kesimpulanku, Shindong sudah gila.

Sepanjang perjalanan mengayuh sepeda menuju rumah, Sara terlelap, mungkin ketakutan pada tikus cinta Shindong membuatnya hampir pingsan.

Dari kejauhan, aku melihat seluit tubuh seorang namja menggendong yeoja dibalik mantel tebal, langkah namja itu sedikit berat di atas tumpukan salju, mereka, Heera dan Jjong.

*end POV

Tikus itu berlari menyusuri jalan-jalan kecil di bawah pipa air, ia terngah-engah saat ngeongan kucing melacak keberadaanya, tikus itu—kecil—putih—sedang mencari seekor marmut betina yang berada di dalam kandang kecil di dalam kamar seorang yeoja.

Hampir setiap hari tikus kecil itu memasuki lubang air dan kembali ke gudang balok tanpa berjumpa si marmut, tetapi berbeda dengan malam itu, tikus kecil berwarna putih mengilat yang megap-megap di bawah pipa air sudah berhasil memasuki batas keropos pagar dan berhasil lari sampai ujung jendela.

Ia melihat marmut cantik berlarian di komidi mini di dalam jeruji, perlahan ia memandangi yeoja manis yang membuang tisu sembarangan di sela isakannya. Tikus itu berhenti beberapa saat, lalu mulai menggigit tali pengerat di jerujui kandang marmut putih kinclong berpita merah.

Marmut itu berjalan keluar, ia berbunyi ‘ngik’ sesekali sebelum pergi meninggalkan kamar yeoja cantik yang memliharanya selama empat hari.

*Heera POV

Sepulang dari kelas seni lukis, aku hanya bisa duduk di bawah temaram lampu belajarku. Tadinya kupikir aku akan lebih kuat untuk mencoba merelakan semuanya terjadi, tetapi aku salah, aku salah atas semua yang terjadi padaku.

Aku membuka buku catatanku dan berusaha membaca bait-bait doa, aku berdoa agar bisa merelakan semuanya. Tetapi semuanya itu percuma, doaku mungkin akan terkabul, tetapi jelas ia tak akan kembali.

Aku meraih tissu dan mengelap wajahku sesekai, aku tidak pernah berharap pertemuan dengan Jjong akan secepat itu berlalu. Aku mungkin tak mencintainya seperti ia mencintaiku, tetapi adakah alasan lain—agar aku tidak menangis malam ini?

Tidak.

**

Senja tenggelam, aku nyaris tidur dipunggung Jjong, aku mendengar ia berbicara samar. Saat itu aku memang ingin mengatakan bahwa aku mencintainya. Tetapi belum sempat aku mengatalan itu, aku sudah sampai di depan kabin.

Ia berhenti, menatapku lekat. Aku tak tahu arti tatapan itu, seketika itu ia memelukku.

“Heera, I do love you!” katanya di telingaku.

Aku tersenyum mendengarnya “I do love you too, Jjong oppa,”

Ia masih memelukku tanpa berucap sepatah kata lagi, lalu dari balik saku mantelnya, ia mengeluarkan secarik kertas. Aku menerka mungkin secarik kertas puisi cinta, aku tersenyum dan memeluknya lagi sebelum membuka lipatan itu dan membacanya.

Ia masih diam, sikap kejuatan memang selalu diam-diam, pikirku saat itu.

Lambat-lambat kubaca kalimat-demi kalimat di dalam kertas itu, air mataku mengalir, aku menatapnya, matanya juga berkaca-kaca.

“Kenapa?” aku bergetar.

“Ibuku akan pindah,” katanya pelan, rasa sakit mengejang di saraf otakku. Aku merasa hampir gila.

“Kenapa kau harus pergi? Kenpa? Kenapa? Kenpa?” aku mengguncang bahunya, sakit sekali rasanya, aku baru ingin mengatakan ‘aku mencintainya’, tetapi bahkan ia mendengarkan semua itupun belum, sekarang ia menyerahkan paspor dan berkata ibunya akan pindah ke New Zeland. Hatiku hancur berkeping-keping.

“I do love you, Chagie!” aku memeluknya, aku tidak ingin melepaskannya “Kejamnya kau, kenapa kau tidak bilang sehari sebelumnya? Kenpa? Kenapa?” aku menangis sampai lelah rasanya. Aku ingin pingsan.

“Aku tidak bisa, chagiya… aku gemetar setiap kali ingin mengatakan ini,” ia tertunduk di depanku, perlahan butiran air terjatuh dari pipinya.

“Jjong oppa…”

“Aku mencintaimu,” ia melangkah pergi, meninggalkanku begitu saja.

Aku tahu satu hal; aku terlambat mencintainya.

**

Sampai hampir aku tak sadar sudah berapa banyak tissu kuhabiskan, sebelum suara jeruji kandang marmutku terbuka. Aku berbalik dan mendapati marmutku berjalan di belakang seekor tikus.

“Hei, hei, mau kemana kau!” aku berlari mengejar marmutku.

Sialan, tikus itu menculik marmutku! Sialan!

Aku berlari sejauh satu kilo meter, tidak ada jalan tertutup pepohonan di sekitar jalur yang di lalui tikus sialan itu, hingga cukup mudah mengikuti tikus kecil—pencuri marmut. Napsaku hampir habis. Aku terhenti di belakang banguan lapuk berisi banyak sekali balok-balok kayu.

Gerakan ekor tikus putih di sudut sungai kina membuatku segera berlari ke arah sana. Pandanganku kabur, sepertinya aku sangat ingin menangis lagi.

Beberapa hari yang lalu aku memungut marmut putih di jalanan karena kupikir ia hanya seekor saja dan sangat kasihan. Aku memandikannya dan memberinya seutas pita di kepalanya.

Malam itu, aku berdiri kaku di sudut bangunan di tepi sungai, marmutku, marmut—pita merahku terdiam di samping selusin ekor-ekor marmut kecil, lalu menyusui mereka.

Seketika itu aku merasa, aku adalah seorang penjahat. Aku menculik induk marmut dan menahannya di dalam kamarku tanpa tahu bahwa ia bisa saja sudah memiliki anak untuk diurus.

Aku lemas, saat seperti ini, aku ingin bertemu Jjong oppa, tetapi sejam yang lalu ia sudah meninggalkan Korea, meninggalkan cinta di hatiku. Aku lemas, aku ingin menangis.

*end POV

Sampai sekitar pukul enam lima puluh delapan, Shindong masih memeriksa jumlah balokan kayu di dalam gudang. Ia menelpon ayahnya dan memberi tahu kesiapan menyingkirkan kayu-kayu itu, lalu melangkah beranjak pulang membawa kunci sepedanya.

Langkahnya terhenti, ketika ia melihat sesosok yeoja di sudut bangunan, ia ingin berlari menjauh, siapa bisa sangka kalau dia bukan manusia?

Shindong merinding, ia berlari menjauh ke dalam gudang balok, mengumpulkan keberanian di dalam sana, lalu kembali keluar dan masih mendapati yeoja itu duduk di sana.

Shindong kehabisan akal sampai lupa dan tertidur di dalam gudang. Sepanjang malam ia tak merasa banyak nyamuk berkeliaran dan tikus-tikus berangsur memasuki lubangnya.

Pagi menjelang, matahari naik ke permukaan, sinarnya menyilaukan di balik genteng kaca gudang kayu. Shindong mengerjap sesekali, mengumpulkan pandangan hingga pusingnya hilang.

Ia menyadari bahwa ia tertidur karena ketakutan, lalu ia beranjak keluar untuk pulang, langkahnya terhenti, seketika itu senyumnya mengembang lebih lebar dari biasanya.

 

*Key POV

Hari ini aku mengantar Sara pukul enam dan sampai di sekolah dua jam setelahnya. Shindong duduk termenung sendirian, ia cengar-cengir tak karuan. Aku mulai meragukan kewarasannya.

Selama pelajaran berlangsung, aku memerhatikannya, ia masih saja seperti itu hingga bel istirahat membuatku mual.

“Kau mau kemana?” Shindong masih cengar cengir, aku melengos tanpa menjawab. Aku mulai takut padanya.

Minseuk duduk di bangku panjang di samping kelas Jjong. Aku ingin bertemu namja itu untuk menanyakan jadwal kelas lukis. Aku masuk ke sana begitu saja, dan bertanya pada seorang namja sebangkunya. Namja itu mengatakan Jjong tidak masuk sudah sebulan lamanya.

Aku bertanya-tanya, ada apa?

“Key,” suara seorang yeoja menghentikan langkahku, aku berbalik seketika dan mendapati seorang yeoja cantik sembab menatapku  “Bisa bicara sepulang sekolah?”

Aku mengangguk.

**

“Kau ini kenapa?”

“Aih… cinta itu bukan sekedar takut pada hantu wanita, kau tahu?”

“Aku tahu, semakin hari kau semakin sinting.”

Shindong masih cengar cengir. Aku beringsut dan meninggalkannya untuk memenuhi permintaan yeoja sembab tadi.

**

Ia menangis di bawah pohon pinus. Aku menuntun sepedaku lebih cepat, tetapi aku terlambat dua menit.

Ia menyadari keberadaanku, lalu segera membersihkan air matanya “Key,” ia menyapaku, aku hanya tersenyum, berusaha tersenyum.

“Heera, Jjong kemana?” aku bertanya pada akhirnya.

Ia tak menjawab, malahan bergeming cukup lama.

“Heera, apa yang terjadi, apakah dia kabur dari rumah?” aku makin penasaran kemana Jjong sebulan terakhir.

Ia mulai menangis lagi, aku tidak tahu harus berbuat apa, ia memelukku, aku menepuk bahunya pelan, aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa.

“Ia sudah pindah,” ia masih terisak.

Satu balok es besar seperti jatuh di atas kepalaku “Hah?”

“Sebulan yang lalu, ia sudah pindah ke Selandia Baru…”

“Ssh…” aku melepas pelukannya, manatap kedua bola mata hitam di wajah sayu-nya “Ceritakan padaku,”

*end POV

Sindong menuntun sepedanya hingga jauh di jalan raya, namun ia berbalik lagi, yeoja bermantel di sana masih tertidur. Akhirnya Sindong memutuskan kembali lagi untuk membangunkan yeoja itu.

“Annyeong,” Shindong mulai tahu saat jaraknya dari yeoja itu hanya dua kaki, bahwa yeoja itu bukan hantu. Senyumnya melebar lagi.

Yeoja itu mengerjap “Ah, aku tertidur di sini,” ia beranjak bangkit dan menatap Shindong penuh tanda tanya :siapa orang jelek ini?

“Kau sedang apa di ladang ini?” Shindong ingin berteriak.

Berhari-hari ia mengikuti tikus putih dan marmut berpita merah—yang datang karena dijemput si tikus untuk menyusui anak-anaknya, yang berjumlah selusin  di sudut sungai—tempat Sara berteriak histeris.

Shindong menemukan bahwa tikus itu berhenti di sebuah rumah di sekitar Chersey 12, di balik jendela seornag yeoja cantik yang ia sukai sejak pertama meilhatnya.

Sekarang yeoja itu berdiri di depannya. Shindong—namja tidak terlalu jelek dan tidak terlalu bodoh itu memerah wajahnya.

“Ah, Shindong imnida,” bahkan di saat seperi itu masih sempat berkenalan.

“Ah, Heera imnida,” yeoja di depannya tersenyum menatap wajah aegy Shindong yang tiba-tiba merah jambu.

“Aih… ayo kuantar kau pulang,” dengan getaran di dalam hatinya, Shindong menawarkan diri.

Heera hanya menggelengkan kepala tak tahu harus bersikap bagaimana, lalu ia mulai duduk di boncengan sepeda Shindong dan pulang bersamanya.

*Heera POV

Aku tertidur di sudut sungai kina dan pulang bersama namja lain, sesampainya aku di depan pintu rumah, bayangan Jjong masih terasa sangat dekat, aku ingin menangis lagi. Aku baru saja berboncengan dengan namja lain, aih… betapa brengseknya aku ini!

Aku bahkan berkenalan dengan namja itu, namja itu… namja pemilik gudang balok yang sangat manis dan membuatku frustasi. Aku seharusnya merelakan marmutku pergi tanpa harus mengejar tikus itu dan tertidur di kawasan bangunan lapuk penuh tikus itu.

Aku malah mengejarnya, hingga aku bertemu seorang namja yang berwajah santai, bahkan aku berkenalan dan pulang bersamanya, aih… betapa brengseknya aku!

**

Ingatan-ingatan tentang kebrengsekanku masih sering muncul pada malam hari, aku selalu duduk dan memandangi bintang, berharap Jjong di sana juga melakukan hal yang sama, meskipun itu konyol dan percuma, tetapi rasa bersalahku semakin bertambah besar setiap kali aku melihat namja bernama Shindong di sekolah.

Sudah sejak pertama aku melihatnya, aku memang selalu memerhatikan namja bernama Shindong itu, tetapi apalah dayaku, kedekatanku pada Jjong karena ulah Key dan Sara berakibat aku hampir melupakan perasaanku pada Shindong.

Shindong sangat asing bagiku, ia anak seorang pria tua beranak sepuluh dengan kumis tebal dan cerutu rokok yang mengerikan, aku hampir tidak percaya bahwasanya aku sampai tertidur di ladang orang aneh itu.

Tetapi sejak pertemuanku dengan Jjong senja itu di gubuk kecil di tepi ladang kapas, dan pertemuan-pertemuan lain dengan Jjong sepulang sekolah membuatku sangat menghargai sikap Jjong sampai empat bulan kemudian aku baru menyadari, aku jatuh cinta pada namja baik hati yang pulang mengantarku dari kelas lukis.

Aku jatuh cinta pada Jjong yang memberiku semangat untuk tetap melukis, aku jatuh cinta pada Jjong yang membawakan serutan pensil di kelas lukis, padahal ia anak kelas seni suara. Aku jatuh cinta pada Jjong ynag membawakan botku, aku jatuh cinta pada Jong yang menggendongku—memelukku, dan aku jatuh cinta pada Jjong saat ia pergi.

Aku muak pada diriku sendiri, aku muak!

**

Key hanya menghela napas saat aku menceritakan apa yang sudah terjadi akibat ketololanku, aku merasa bersalah pada kakak-beradik itu, aku merasa sangat bersalah dan menyedihkan.

Sudah sebulan setelah Jjong meninggalkan Korea, sudah selama itu pula aku mengutuki apa yang terjadi pada diriku. Aih… aku tidak boleh memikirkan Shindong hanya karena aku sudah tidak bersama Jjong, aku dan Jjong belum putus… aku dan dia hanya dipisahkan jarak!

Aku menangis lagi, sampai kapan aku akan bertengkar dengan diriku seperti itu?

Aku merasa, aku menghianati diriku sendiri.

*end POV

 

Shindong membantu ayahnya menghitung biaya rencana pembangunan lapangan golf di lahan yang sedang diratakan.

Sesekali ayahnya—pria berkumis tebal—dengan cerutu rokok, dan berkacamata hitam itu memandangi Shindong yang tersenyum sendiri.

Karena penasaran, akhirnya sang ayah memegangi dahi Shindong dan bertanya “Apa kau sakit, nak?”

*Key POV

Dari jaman dulu sampai kapanpun, persoalan cinta pasti akan selalu jadi rangking pertama sebagai permasalahan paling susah diselesaikan.

Aku duduk di kamar Sara, kami termenung sangat lama sampai bintang bersinar lebih terang ketika kota benar-benar mati.

“Jadi, Shindong oppa menyukai gadis pemilik marmut itu, Key oppa?” Sara, dengan wajah polosnya menyalin tugas-tugasku.

Aku mengangguk “Susah sekali menjelaskan kesintingannya, saeng… Jjong padahal sudah di Selandia baru sejak sebulan lalu, seharusnya Heera meluruskan perpisahan itu saja, lagipula ia tidak pernah menyukai Jjong, benar kan?”

Sesekali Sara salah menyalin hingga aku membaca ulang tulisan Shindong—si pemilik nilai F di mapel matematika—yang rajin menyatat materi bahasa Spanyol.

“Kurasa Heera unnie menyukai Jjong oppa, tetapi apa salahnya ia mencoba membuka hatinya lagi, iya kan, Key oppa?” ia kembali menekuri bukunya.

Aku menatapnya sekejap, lalu setelah itu ide brilian muncul di pikiranku.

“Sara,”

Ia menoleh ke arahku.

“Kalau begitu, saatnya kita menyatukan kepingan cinta Tuhan yang lain!”

Aku tersenyum menyadari betapa sangat mungkin Tuhan memertemukan Shindong dan Heera dengan maksud yang lebih baik.

**

Pagi harinya, minggu ke tujuh setelah Shindong mulai sakit gila sangat parah, bukan hanya gila, ia juga menderita penyakit cengeng mendadak.

Aku datang sendirian tanpa Sara ke gudang baloknya yang masih sangat berantakan, ia duduk di tepi sungai kina, wajahnya murung, aku mendekat dan menyadari ia sudah selesai menangis.

“Shindong…”

Ia memandangku, lalu kembali menatap lurus ke depan.

“Ada apa ini?”

Ia bergeming.

Aku bingung, keadaan semakin sunyi.

Suara isakan karena ia menangis sampai hidungnya berair—beringus, terdengar setelah beberapa saat sangat sunyi “Key! Aku babo sekali, kau tahu… ternyata yeoja itu masih memunyai hubungan dengan namja lain yang kupikir sebelumnya dia masih lajang atau sebangsanya…

“Hari itu aku dan dia pulang bersama, aku bertanya apakah dia suka senja, lalu ia menjawab… ia membenci senja karena setelah senja ia akan mengingat semua kenangan tentang namjachingu-nya yang ia terlambat mencintai namja itu…

“Ia bilang, ia sangat bersedih karena ia ingin namja itu tahu perasaannya, tetapi bahkan sebelum ia mengatakan itu, namja itu mengatakan ia mencintai Heera untuk terakhir kali, empat jam sebelum ia meninggalkan Korea bersama ibunya…

Shindong mencabuti rumput di depannya, aku menunduk… sulit sekali memahami perasaan seperti itu, aku tahu Shindong sudah menyukai yeoja itu sejak misteri tikus dan marmut berpita merah, tetapi bagaimanpun juga, Heera masih sangat mencintai Jjong… perasaan yang baru ia sadari beberapa jam sebelum Jjong pergi.

Aku berpikir sejenak, aku ingat saat matahari tenggelam dua bulan setelah ia dan Heera masih sering pulang bersama.

Aku dan Jjong berjalan dari toko air mineral, wajahnya sayu.

“Key,” suaranya merdu, tetapi kesedihan tak bisa a sembunyikan dariku.

“Ya,” aku terus menghimpun langkah, membawa galon air mineral di boncengan sepeda, mengimbangi ia melangkah.

“Aku mencintai Heera, kau tahu… aku rela ia tidak ingin berpacaran denganku, aku rela walaupun ia tak mau menganggapku seperti aku menganggapnya, aku juga bisa mengerti alasan semuanya itu,

“Rasanya aku ingin mati saja mengahadapi sikapnya, tetapi bagaimana lagi, aku sangat mencintainya… sudah empat bulan aku memendam perasaan tak berbalas begini, aku ingin pergi saja… aku ingin melupakanperasaanku saja, aku tidak ingin memaksa Heera menyukaiku, namja jelek yang tak tahu diri semacam diriku.”

Sesekali Jjong tersenyum, aku tahu hatinya sudah robek dan berdarah tak karuan, tiba-tiba aku merasa bersalah karena aku membuka jalan perasaan Jjong pada Heera sebelumnya.

Jjong menatap jalanan lagi “Aku sangat berterimakasih padamu yang sudah memberi dan membantuku merasakan getaran cintaku bergelora, meski akhirnya aku harus mengakhiri semuanya itu, aku berjanji akan segera mengatakan semua ini pada Heera.”

Lalu aku berhenti dan menurunkan galon air, seketika itu Jjong mengambil sepeda yang sedari tadi kupinjam dan mengayuhnya pergi. Hari itu, sehari sebelum aku melihat mereka—Jjong menggendong Heera dipunggungnya.

Hari itu, hari dimana ia mengatakan pada Heera bahwa ia akan pindah ke Selandia baru, hari itu ketika Heera hampir mengatakan bahwa ia mencintai Jjong.

Aih… bersyukurlah aku, karena tak harus jatuh cinta pada Sara, mungkin persoalannya akn lebih mengenaskan dari semua itu.

*end POV

 

Setiap sore Shindong meratapi nasibnya, ia menangis di tepi sungai kina, mengingat yeoja pemilik marmut berpita merah, lalu ingat bahwa yeoja itu pasti akan lebih memilih mati daripada membalas perasaan cinta darinya—namja tidak terlalu jelek dan tidak terlalu pandai.

Berhari-hari sudah ia ingin bunuh diri saat pulang bersama Heera, ia merasa sangat jelek dan hina karena pulang bersama yeoja yang sudah berkekasih, tetapi apalah daya ombak melawan badai?

*Heera POV

Setelah lewat pukul lima, aku membereskan buku gambar di samping kabin. Dua pensil warnaku jatuh dan belum kutemukan hingga nyaris aku sangat pusing mencarinya.

“Kau cari ini?” seseorang menyerahkan pensil warna biru dan merah ke arahku.

Aku memeriksa siapa orang itu, menoleh ke belakang dan mendapati Key tersenyum simpul.

“Ada apa?”

“Eh… Heera, kau punya waktu sebentar?”

Aku mengangguk.

Key mulai berbicara “Sudah tiga bulan Jjong tinggal di Selandia baru, ia pasti mempunyai banyak teman dan punya eskul menarik, ia juga mungkin senang hidup dengan berbicara bahasa Inggris,” katanya, aku masih membereskan buku gambarku dan mengangguk sesekali, meski aku tak menghiraukannya.

“Ia sudah berusaha melakukan semuanya, ia mencintaimu, dan ia berusaha memertahankan perasaan itu, walaupun kau menghindari menjalani hubungan dengnnya, kau tahu… ia mencintaimu dengan darah dan luka di hatinya saat kau mengatakan kau menyukai namja babo semacam Shindong padanya,

“Sejak saat itu, ia mencoba melupakanmu… berbulan-bulan perasaanya terbengkalai hingga saaat ia harus mengatakan bagaimana perasaannya, saat itu pula ia harus pergi. Ia memang namja kuat, tetapi sekuat apapun manusia, ia tak bisa mengalahkan cinta.”

Tanganku berhenti bergerak, napasku seakan putus. Aku kaku seketika.

“Well… kurasa aku tahu sebabnya, mungkin pertemuan dan perpisahan menyisakan banyak kenangan, kenangan yang tak bisa dilupakan meski maut yang harus menghilangkannya,” Key beranjak dari duduknya, aku masih bergeming.

“Tetapi, setip pertemuan yang Tuhan rencanakan, pasti akan menunjukan jalan yang lebih baik,” ia menyentuh bahuku, setengah menunduk memandangiku yang sebentar lagi akan menangis.

“Jadi, jangan sakiti satu hati ynag kaucintai lebih dulu ya,” ia tersenyum mengacak rambutku lalu menghilang saat mataku tertutup karena tangis yang sangat mengilukan tulang igaku.

**

Aku duduk merenung. Aku seharusnya tidak menceritakan masalahku pada Shindong, ia pasti sangat kecewa. Aku tahu ia baik sekali, mengantarku pulang setiap hari, dan tersenyum ketika aku bercertia tentang Jjong, ia juga mengelus kepalaku saat aku mengangis karena mengingat Jjong.

Seharusnya cukup sudah waktuku mengingat semua tentang Jjong, aku lelah mengutuki diri sendiri. Tiba-tiba aku ingat perkataan Sara seminggu yang lalu ‘Jjong oppa mencintaimu, tetapi ia lebih mencintai kebahagiaanmu’.

Sore itu juga aku berlari.

Aku berlari menuju bangunan tua di tepi sungai kina. Aku berlari hingga kakiku bengkak dan napasku hampir lunas.

Aku memadangi kayu-kayu sudah hampir habis dipindah, dan tidak seornagpun ada di tempat itu. Aku berdiri gamang. Mataku meleleh karena perasaanku sendiri. Lambat-lambat suara ‘ngik’—marmutku terdengar.

Suara itu menjadi dua belas kali ‘ngik’ setiap detik. Aku berjalan menghampiri sudut sungai kina, kudengar suara serak tangis seseorang.

“Heera, apa kau lupa pada marmut-marmutmu… sejak pertama aku melihatmu—aku sangat menyukaimu, tetapi aku merasa hina dan tidak pantas karena kau jelas mencintai orang lain, Heera seadndainya kau tahu—perasaanku saat kau menangis karena kerinduanmu, aku sangat ingin membunuh diriku sendiri karena aku tak bisa menjadi yang terbaik untukmu,”

Suaraku pecah. Aku terisak. Namja itu menoleh ke arahku, ia menyadari keberadaanku. Aku lemas, aku tak sanggup berkata-kata. Ia mengelap pipinya dan tertunduk.

Aku melangkah meyusuri rerumputan dan mendekat ke arahnya, aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

“Mianhae” kataku pada akhirnya.

Perasaanku meluap tak tentu arah, jika Shindong mencintaiku… aku tidak boleh pindah… cinta akan hilang tanpa melihat dan merasakan, cinta bukan perkara nafsu atau apapun, karena cinta hanya bisa dilukiskan dengan tatapan dan perasaan.

“Heera, Mianhaeyo…” Shindong bahkan tak mengatakan ia mencintaiku, cukup aku tahu perasaan kami sama satu sama lain.

Aku bergeming dan mendapati semuanya gelap setelah aku benar-benar lemas. Yang kutahu sebelum aku tak mendengar apapun lagi, Shindong berteriak:

“Heera, jangan pingsang, Heera maaf jika aku gendut dan babo, aku mencintaimu… jangan pingsan karena aku mengatakan hal itu! Heera bangun!”

Aku ingat aku tersenyum sebelum aku menutup mata, lalu semuanya gelap, aku lupa makan dua hari yang lalu.

End

Ttd

SARMIN

Entry filed under: FanFiction, Freelance, Genre, Indonesia, Language, One Shoot, Rating, Romance, Super Junior, T, Type. Tags: .

Mysterious School [신비학교] Enter The Darkness [PART 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,956 hits

Day by Day

August 2012
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: