Greatest Love [Part 8] END

July 14, 2012 at 11:26 AM 1 comment

Title                 : Greatest Love

Author             : Yanlu

Genre              : Sad Romance

Cast                 : Yoo Seung Ho, Park Jiyeon, Choi Minho, Krystal

Rating             : PG-15

Disclaimer       : Plot is Mine! But cast belongs to God. Don’t plagiat please

Ah..akhirnya saya mempost ff ini sampai end, sesuatu banget karena aku kalau bikin cerpen selalu gagal atau berhenti di tengah jalan gara-gara nggak mood atau idenya mentok. Semoga endingnya memuaskan hehe…

PrologPart 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7

Penjelasan dokter sedikit mengguncang hatinya. Ia takut saat ia menemui Jiyeon semua akan berubah. Sikapnya maupun sesuatu yang ia lakukan untuknya terlebih Jiyeon tidak mengenalnya. Perlahan ia mendekati pintu dan membuka engsel pintu dengan gerakan melambat. Ia kuatkan hatinya sejenak untuk mendengar dan melihat sikap Jiyeon selanjutnya.

“Minho…

Kata itulah yang terucap saat Seung Ho membuka pintu. Seung Ho berdiri terpaku di ambang pintu mendengar ucapan Jiyeon. Baru saja ia memanggil Minho, kenapa hanya satu nama yang ia ingat dan lagi itu adalah Minho. Namja yang jelas-jelas menyakiti hatinya. Seung Ho mendekat ke ranjang. Ia mengguncang tubuh Jiyeon. Hal itu mengejutkan Jiyeon. Tatapan takut dari Jiyeon bisa terlihat.

“AAAAA…Pergi!!” teriak Jiyeon saat Seung Ho tanpa sadar mengguncang tubuhnya.

“Minho?? Eodi? Eodiga Minho-ya??!” teriaknya, ia menengok berkali-kali menggelengkan kepalanya mencari seseorang.

Wae? Kenapa Minho justru berada di benaknya saat ini! Batin Seung Ho sesak.

Seung Ho berjalan menuju meja meraih ponsel Jiyeon untuk memanggil Minho. Daftar pertama kontak masih tersimpan Minho disana. Seung Ho menghela berat sesaat kemudian segera memanggil nomor itu. Setelah terhubung ponsel itu diberikan kepada Jiyeon. Jiyeon memandang Seung Ho dengan tatapan heran, tapi ia menerima ponsel itu ditangannya.

“Yeobseyo? Nuguya?”

Suara Minho terjangkau oleh Seung Ho karena sengaja di loudspeaker olehnya. Jiyeon tidak merespon sama sekali, ia justru menangis sesenggukan tanpa menjawab yang diseberang.

“Nuguseyo?” Minho bertanya kembali.

“Minho-ya…” akhirnya Jiyeon memanggil. Seung Ho tersenyum lega namun disamping itu perasaan sesak lebih mendesaknya mendominasi sebagian hatinya.

“Eodiga? Aku ingin bertemu denganmu…hiks…” disela-sela bicaranya masih sesenggukan. Kemudian Seung Ho tidak mendengar apapun dari Minho. Tampaknya Minho terkejut karena tiba-tiba Jiyeon menelponnya. Akhirnya dengan terpaksa ia mengambil ponsel dari genggaman Jiyeon. Ia mematikannya lalu mengetik sesuatu dilayar sentuhnya. Jiyeon yang mendapati itu tidak rela ponselnya direbut begitu saja oleh namja yang asing baginya.

To Minho :

Cepat datang ke rumah sakit, Jiyeon mengalami kecelakaan dan sekarang ia membutuhkanmu, jebal, untuk kali ini saja.

Setengah jam kemudian Minho datang. Kehadirannya membuat Seung Ho harus menahan nafas sejenak untuk melepas Jiyeon bersamanya. Sedikit perasaan tidak rela harus ia tahan mengingat kondisi Jiyeon yang sekarang. Bukan dirinya yang dibutuhkan tapi orang lain dan orang itu adalah Minho yang merupakan mantan calon suaminya.

Dia mengalami kecelakaan parah, dan sekarang hanya kau yang bisa membantunya. Hanya kau yang diingatnya. Ini membuatku frustasi. Tapi demi Jiyeon, aku mohon padamu, jaga dia selama dia masih mengingatmu. Meskipun aku tahu kau telah menyakitinya tapi untuk sekarang ini kesehatannya lebih penting dibandingkan trauma masa lalunya. Aku mohon, Minho-ssi

Secarik kertas ia berikan pada Minho. Minho mengamati kertas itu lamat-lamat dengan pandangan mata yang tenang. Cukup lama ia tidak merespon apapun.

“Seung Ho-ssi, aku tidak tahu harus bagaimana tapi, akan kucoba” akhirnya jawaban yang diharapkan sekaligus dibencinya harus ia terima. Jiyeon terlihat berbeda, ia sangat senang dengan kehadirannya. Seung Ho menatapnya bahagia meski di dalam hatinya terbesit perasaan tidak rela. Namun dengan melihat senyuman bahagia terukir diwajahnya ia ikut merasakan bahagia meski senyuman itu bukan untuknya. Setelah senyum Jiyeon merekah dihadapan Minho cukup sampai disini ia berdiri lalu mempercayai sepenuhnya pada Minho. Perlahan-lahan dengan langkah berat ia keluar dari ruangannya. Menutup pintu sepelan mungkin agar tak mengganggu suasana semi mereka.

Apapun demi melihat senyum kebahagiaan terlukis diwajahmu, aku akan merelakanmu.

✿✿✿

            Hari berikutnya kondisi Jiyeon mulai membaik. Ia sudah bisa pulang tapi ingatannya memang belum kembali.

Mobil hitam milik Minho terpakir persis di depan rumah Jiyeon. Di pintu depan kedua orang tua Jiyeon sudah menunggu. Mereka berhamburan keluar saat mendapati kepulangan putri tercintanya. Seturunnya ia dari mobil satu persatu dari mereka memeluk tubuhnya. Raut kekhawatiran terlukis jelas di wajah mereka apalagi saat Jiyeon tidak membalas pelukan hangat mereka.

“Ji…yeon, kau tidak melupakan kami kan?” tanya ny. Park, eomma Jiyeon

“mm…Minho sudah menceritakan sedikit tentang kalian, jadi aku mengingatnya”

Ny Park menghela nafas berat sedangkan tuan Park menggeleng-geleng kepalanya. Berarti Jiyeon tidak sepenuhnya ingat bahkan mungkin tidak akan pernah tahu jika Minho tidak menceritakannya.

“Minho, annyeong lama tidak bertemu. Silahkan masuk!” ajak tuan Park disertai sambutan Ny. Park.

“Aniya, tidak usah. Aku harus kembali ke kantor, josong hamnida!” pamitnya. Ny. Park mengangguk lalu tersenyum ke arah Minho. Setelah mobil melaju Jiyeon di ajak masuk oleh mereka. Mungkin bagi kedua orang tuannya putri semata wayangnya ini seperti orang asing sekarang ini. Rumah, peralatan dan hal-hal lain terasa baru dikenalnya.

“Duduklah, atau kau bereskan barang-barangmu terlebih dulu dikamar” Ny. Park memerintah, Jiyeon mengangguk lalu ia duduk di sofa berwarna hijau yang berada di ruang tamu. Ia mencermati segala benda dan gaya rumahnya, berharap mengingat sesuatu dengan melihat-lihat. Namun tampaknya segala perabot disekitarnya tidak begitu penting dan berarti baginya. Tidak ada ingatan mengena dibenaknya. Beberapa menit kemudian ia memutuskan masuk kedalam dan bertanya dimana ia harus meletakkan barang-barang yang berada ditangannya. Ny. Park menunjuk kamar di sebelah ruang TV. Setelah tahu kamar mana yang harus digunakan ia masuk kedalam. Kamar berukuran cukup besar dengan sebuah kasur king size menyapanya. Barang-barang itu ditaruh sekenanya. Kemudian peralatan didalamnya lebih menyapu pandangannya. Ia mencoba mencari-cari sesuatu yang membuat ingatannya kembali. Di dalam laci ia menemukan album foto. Dibukannya satu persatu. Halaman pertama berisikan foto dirinya yang sedang berada di panggung. Lalu tulisan note berada di bagian samping bertuliskan Good performance, hwaiting Jiyeon!. Ia membuka lembar berikutnya. Foto tadi tidak membantu ingatannya. Disana tercetak gambar dirinya sedang diatas panggung tapi tidak mengenakan pakaian semewah tadi. Ini berbeda, tatanan panggung lebih berantakan. Di foto ia sedang berakting tidur. So tired? You look sleep than act! Note itu tertulis lagi. Lagi-lagi ia tidak berhasil menemukan sesuatu yang membuat ingatannya kembali. berikut-berikutnya hanya dibuka dengan agak cepat karena ia tidak menemukan foto menarik lagi namun pada halaman menjelang akhir ia menemukan sesuatu yang mengganjal di album itu. Foto itu tidak terpasang dengan benar tapi terbalik, hanya bagian putih yang terlihat. Tapi terdapat tulisan disana. ‘gadis balon’. Ia membalikkan foto segera setelah ia mendapati tulisan itu. Terlihat foto seorang gadis di gendut dengan ekspresi lucu dan menggelikan disana sedang duduk di bawah pohon mengerucutkan bibirnya terlihat kesal.

“Aku merasa… pernah melihat anak kecil ini. Sepertinya…” ia berpikir sembari merogoh tas yang berada di kasur. Mengeluarkan dompet dan membukanya. Lalu ia mengeluarkan foto berposekan seorang anak kecil memakai topi terlihat gendut meski baju itu ketat dibadannya. Mirip.

“Ini, apa mungkin ini fotoku sewaktu kecil? karena foto ini berada di dompet mungkikah ini foto masa kecilku?. Lalu gadis kecil di foto ini mirip. Tidak!, melainkan sama!” pikirnya, saat itu juga otaknya berputar kembali menampilkan putaran memori bagaikan cuplikan film, banyak ingatan-ingatan yang tiba-tiba berkelebat didalamnya. Sampai pada ingatan kecilnya, seorang namja bisu yang ia sukai sewaktu itu meskipun tampaknya namja itu selalu kesal dan merasa terganggu dengannya namun ia tetap menyukainya. Lalu kembali putarannya pada kejadian kecelakaan. Sedetik kemudian mundur saat ia menampilkan gallery dan terus berputar sampai kepalanya pening. Tiba-tiba ia ambruk kembali. Nafasnya sudah tidak terdengar perlahan matanya terpejam. Pintu kamar terbuka. Saat seseorang memanggil namanya Jiyeon sudah tergeletak tak bergeming, sampai panggilan keempat ia mulai cemas.

“Jiyeon…Jiyeon…Jiyeon-ah!!”

✿✿✿

            Mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan rumah sakit. Seorang namja membawa seorang yeoja dengan menggendongnya. Ia─Minho─ bergegas dengan langkah lebar membawanya masuk diikuti oleh tuan dan Ny. Park. Perawat menghadang jalannya dengan membawa bangsal ke hadapan Minho. Jiyeon dihempaskan ke bangsal. Mulai terdengar tangisan lirih dari Ny. Park. Cemas mendera mereka semua saat dokter mulai menutup pintu kamar dan memeriksa dengan cekatan. Minho masih mengintip dari celah kaca yang ada. Kekhawatiran juga ia rasakan meskipun tidak dengan perasaan cinta. Ia khawatir keselamatannya. Ny. Park sudah lemas terlihat menggenggam tangannya sendiri erat-erat. Suaminya menenangkan dengan memberi pundaknya untuk bersandar. Tiba-tiba Minho menghampiri kedua orang tua Jiyeon berbicara sesuatu kemudian ia berlalu agak jauh dari sekitar ruangan itu. Ia berbelok lalu berhenti. Tangannya merogoh saku mengeluarkan ponsel.

“Seung Ho, cepat kemari, Jiyeon berada di rumah sakit” ucapnya berusaha tenang meski hatinya terus mengkhawatirkan keadaan Jiyeon. Ia segera menutup telepon tanpa menunggu jawaban. Ia percaya Seung Ho akan datang. Beberapa menit ia menunggu di depan ruang UGD dokter belum juga keluar. Ny. Park terus menangis dengan mulut berkomat-kamit entah mungkin itu berupa doa yang sedang ditujukan untuk putri satu-satunya. Derap suara langkah kaki seseorang mengalihkan perhatian Minho juga kedua orang tua Jiyeon. Minho segera menghampirinya lalu menepuk pundaknya untuk menyadarkan Seung Ho akan kondisi Jiyeon yang tiba-tiba saja drop.

“Mianhae, Seung Ho. Aku tidak bisa menjaganya, jeongmal mianhae…”

“Gwechana, kau tidak perlu meminta maaf padaku. Aku bukan orang yang pantas kau mintai maaf. Ini semua bukan salahmu melainkan aku. Aku penyebab Jiyeon menjadi seperti ini” matanya sendu seketika. Ingatannya kembali pada saat dulu ia menghindarinya dan ternyata selama ini tingkah laku itu secara tidak langsung menyiksanya.

“Waeyo?” tanyanya.

“Aku membencinya namun aku tidak benar-benar membencinya. Dan aku membodohi diriku sendiri untuk terlihat benci dihadapannya sedangkan jauh di hati tidak. Selama aku membencinya tidak kukira ia akan berbuat sebesar itu hanya untuk meminta maaf padaku. Aku sungguh menyesal. Dan semua itu tampaknya terbayar oleh terhapusnya diriku di dalam ingatannya. Ia hanya mengingatmu, orang yang dulu pernah dicintai olehnya dan sekarang aku tak tahu apakah perasaan itu masih ada.” Seung Ho mengakhiri tulisannya lalu diserahkan note itu pada Minho. Selepas itu ia melihat dokter keluar dari ruangan lalu Seung Ho segera meninggalkan Minho yang masih membaca note darinya. Seung Ho menahan langkahnya sebentar untuk menengok lalu mengajak Minho masuk. Minho segera menghampiri Seung Ho yang berada di tengah pintu menarik Seung Ho agar ikut masuk.

“Masuklah, dia lebih membutuhkanmu…” pintanya lebih seperti keharusan baginya.

Dengan keyakinan setengah-setengah aku masuk lebih dalam ke ruang rawat. Disana hanya ada kedua orang tuanya yang terlihat sedang melepas lega. Terdengar dari nadanya saat Jiyeon sudah siuman. Seung Ho menghentikan diri agak jauh dibelakang orang tuanya. Sedikit memberi jeda supaya keberadaannya tidak terlalu disadari oleh keduannya. Namun keberadaannya tidak lama juga dirasakan oleh keduanya. Terutama Park ahjussi, ayah Jiyeon. Seung Ho membungkuk menyadari dirinya sedang ditatap oleh Park ahjussi.

“Annyeong, apa kau kemari ingin menjenguk Jiyeon?” tanyanya.

Seung Ho mengangguk sebagai jawaban. Kemudian Park ahjussi terlihat membicarakan sesuatu dengan istrinya. Detik berikutnya mereka berdua memalingkan muka secara bersama-sama mempersilahkan Seung Ho. Park omonim yang sedari tadi tubuhnya menutup Jiyeon langsung menyingkir dan tampaklah wajah yang sebenarnya Seung Ho rindukan sekian lama ini. Sesaat hatinya gamang saat akan mendekati Jiyeon. Ia menatap lurus mencoba membaca garis ekspresi Jiyeon namun ia tidak menemukan apa-apa. Ekspresinya datar tidak menampakkan kerutan di dahi maupun raut senang akan kerinduan. Keduannya saling bertemu pandang namun Seung Ho dengan cepat mengalihkan pandangannya seperti mencari sesuatu. Saat menengok kebelakang ia berharap kedua orang tua Jiyeon atau Minho berada disana namun ternyata tidak ada siapa-siapa yang sebenarnya demi mencairkan suasana saat keduanya membisu cukup lama. Seung Ho menulis kembali di note.

Annyeong, sudah baikan? Tulisnya kemudian Seung Ho memperlihatkan tulisan itu kehadapannya. Mulai terlihat reaksi Jiyeon, ia─Seung Ho─ menjadi lega saat Jiyeon memahami tulisannya. Ia mengulurkan tangannya kehadapan Seung Ho seperti meminta sesuatu. Seung Ho menatapnya heran lalu Jiyeon menunjuk pulpen dan note yang ada digenggamannya supaya lebih jelas apa yang dimaksud olehnya. Akhirnya Seung Ho bergerak menyerahkan notenya. Jiyeon tampak mencoret sesuatu terlihat dari gerakan tangannya yang cepat. Seung Ho terlihat tenang meski jantungnya mulai berdetak tak normal.

Gwechana, er…Minho dimana? Kenapa kau datang sendirian? Bukankah kau temannya?

DEG!

Reaksi yang terjadi hanya keheningan yang tercipta saat Seung Ho membacanya . Lalu matanya beradu pandang kembali dengan Jiyeon. Berusaha menemukan sesuatu di dalam manik matanya. Apakah ingatannya masih sama atau ia hanya berusaha terlihat akrab padanya. Sikapnya berbeda, namun ia masih tetap sama yaitu mengharapkan kehadiran Minho berada disisinya. Detak jantung yang sedari tadi berdetak kencang berubah menjadi detakan normal. Binar kebahagiaan yang terpancar redup seketika itu juga. Seung Ho tersenyum masam, ia menolehkan kepalanya ke belakang mencari-cari sesuatu. Lalu melangkah maju ke depan pintu kamar berencana memanggil Minho karena Jiyeon belum sepenuhnya pulih. Jiyeon masih tetap mengingat Minho sebagai satu-satunya orang yang berarti dalam hidupnya. Seung Ho cukup menyadari itu dan ia tidak ingin memaksa Jiyeon untuk mengingat segalanya supaya semua berjalan normal. Lebih baik jika ingatan itu pulih perlahan-lahan tanpa penuh penekanan karena itu hanya akan menyakitinya.

“Seung Ho, mau kemana? Kembalilah ke sini, Minho pasti menyuruhmu untuk menjagaku karena aku cukup tahu kesibukannya.” Ujarnya tiba-tiba membuat Seung Ho berhenti dan mengurungkan niatnya untuk keluar lebih jauh mencari sosok Minho. Akhirnya ia berbalik dan menemani Jiyeon.

Sebenarnya kau mengenalku sebagai siapa? Akhirnya pertanyaan itu terlontar dari benak Seung Ho

✿✿✿

Jiyeon side

Sebenarnya kau mengenalku sebagai siapa?

Pertanyaan yang baru saja dikhawatirkan olehnya terucap dari bibir namja bernama Seung Ho itu. Jiyeon diam sebentar memikirkan jawaban apa yang harus ia lontarkan karena sejak pertama kali ia membuka matanya dan melihat Seung Ho ingatannya sudah pulih.

Kau…teman Minho. Ya! Yang aku tahu kau adalah teman baiknya. Dia sering menceritakanmu saat aku mengobrol dengannya

Tulisan itu adalah kebohongan. Sungguh jauh di lubuk hatinya ia ingin mengatakan hal sebenarnya namun ia terlalu takut. Takut kalau saja Seung Ho meninggalkannya setelah ini karena ia masih ingat terakhir kali Seung Ho sangat membencinya. Terlihat Seung Ho menghela nafas berat. Jiyeon merasa bersalah namun air mukanya tetap terjaga sebiasa mungkin agar Seung Ho tak curiga.

Arasso, kau benar aku teman Minho namun aku tidak dekat dengannya. Oh ya, bagaimana keadaanmu sudah membaik?

Seung Ho menanyakan keadaan berusaha tersenyum dihadapannya tapi Jiyeon tahu kalau Seung Ho masih kecewa dengan perlakuannya yang dikira olehnya masih hilang ingatan. Jiyeon seketika bimbang akan memberitahunya atau tidak. Rasa-rasanya ia tidak tega namun perasaan takut itu terus berada di benaknya menutupi keberaniannya untuk jujur pada Seung Ho. Akhirnya Seung Ho meminta kembali note itu setelah Jiyen menjawabnya dengan anggukan kepala.

Baiklah, aku hanya bisa menjagamu sampai hari ini. Jaga dirimu baik-baik ya! Minho akan menjagamu sepenuhnya kau tenang saja

Note itu diserahkan kembali. Raut wajahnya berubah menjadi tegang saat membaca tulisan Seung Ho. Ia tahu ini tidak bisa diterima oleh hatinya namun ia harus menahan diri untuk melancarkan rencananya sendiri. Rencana yang akan ia lakukan untuk memastikan Seung Ho sudah benar-benar memaafkannya.

Gwechana. Aku bisa menjaga diri sendiri. Kau ataupun Minho tidak perlu lagi datang kemari. Aku sudah baik-baik saja.

Kata-kata itu justru yang diucapkan oleh Jiyeon. Entah apa yang telah dipikirkan olehnya namun saat tulisan itu terbaca oleh Seung Ho ia menyesal. Seharusnya bukan itu yang ingin ia sampaikan. Mungkin setelah ini penyesalannya semakin berlanjut karena Seung Ho tipikal orang yang tahu apa yang harus ia perbuat ketika sudah begini. Beberapa menit lamanya mereka terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing yang terus bergelut dalam kepala mereka namun tidak sampai ke mulut untuk diucapkan.

✿✿✿

Seung Ho kau harus kembali kesini! Gallery hasil karyamu sukses besar. Aku kewalahan disini mengolah sendiri. Ini semua gara-gara Jiyeon yang seenaknya saja membangun Gallery tanpa konfirmasi lebih dulu. Tapi tak apalah yang penting aku dapat jatahnya, oke? Come back soon Suho!

Setelah membaca surat itu Seung Ho tersenyum bahagia lalu melipat surat itu dan dimasukkan kembali ke dalam tas.

“Sorry sir, would you want to drink or eat something?” tawar seorang pramugari cantik bertubuh tinggi yang sedang membawa meja makan beroda. Ia mengangguk menerima tawaran sang pramugari lalu memberi senyuman hangat sebagai tanda terima kasih setelah mengambil beberapa makanan dan sekaleng minuman. Ya! Ia menuruti permintaan Bryan yang mengiriminya surat. Akhirnya ia datang kembali ke Paris tapi bedanya sekarang ia sendiri. Keadaan seharusnya adalah ia pergi bersama Jiyeon tapi karena sepertinya Jiyeon belum bisa mengingatnya dengan baik maka ia memutuskan untuk pergi tanpa memberitahunya. Ia pikir dirinya memang harus merelakan perasaannya dan melupakan Jiyeon meskipun kemungkinan itu sangat sulit. Hatinya masih terus berharap kalau Jiyeon suatu hari nanti bisa pulih dan terbang ke Paris untuk menemuinya. Ia tahu gallery yang ada disana bukanlah semata-mata miliknya namun semua itu adalah milik Jiyeon. Jiyeonlah yang mengubah hasil karya yang awalnya hanya disimpan dan dikiranya tidak berguna ternyata dugaannya salah. Hasil karya itu justru menjadi hasil karya besar seorang fotografer internasional yang ia impikan sejak dulu.

I-pad yang ada digenggamannya sedang menampilkan video tentang keadaan gallery yang berada disana. Tanpa disadari olehnya sendiri air matanya turun membasahi pipinya melihat video putaran tersebut. Ia sangat terharu atas apa yang dilakukan oleh Jiyeon. Yang berarti mengorbankan hasil jerih payahnya demi membuat gallery itu.

Thank you tulisnya lalu menampilkan note itu pada pramugari yang masih berada disampingnya, ia mengangguk tersenyum lalu membungkuk sebelum melewatinya.

Satu jam berlalu, perjalanan hampir mendekati negeri Perancis tinggal menuju bandara yang berada di kota Paris untuk lepas landas.

✿✿✿

            “Jiyeon, long time no see” sapa seorang namja dengan tampang ramah dan mata coklat khas orang barat. Jiyeon melambaikan tangan membalas senyumannya dengan hangat juga. Sudah sekian lama ini memang ia tidak kembali. Ia kini sedang berada di dalam gallery besar yang penuh dengan foto-foto karya seorang fotografer. Namun ada yang berbeda. Suasana disana penuh dengan hiasan-hiasan bunga lalu dinding berwarna coklat serta hiasan lainnya memenuh ruangan itu tampak indah. Sepertinya gallery ini akan dipakai untuk sesuatu yang penting.

“What do you think?” tanyanya yang kini masih berada di dekatnya persisnya berhadapan dengan Jiyeon.

“Excellent!” ucapnya mengacungkan dua jempol sekaligus.

“Ckck aku kagum padamu, kenapa seorang gadis sangat memperlakukan istimewa seorang─

“Sudah tidak perlu permasalahkan hal itu!, Kapan dia akan datang?” tanyanya sekaligus memotong pembicaraan namja yang ada dihadapannya.

“Just wait a minute…

Penumpang berhamburan keluar saat pintu keluar khusus penumpang terbuka lebar secara otomatis. Begitu juga dengan seorang namja yang tengah menenteng tas koper hitamnya disana. Kaus putih dan jaket berwarna coklat yang membalut tubuhnya membuatnya tampak lebih fresh. Seung Ho, namja itu cepat-cepat melangkah dengan tidak sabar saat ia terbayang gallerynya seperti apa. Untung saja taksi masih banyak yang berhenti mencari penumpang di dekat bandara. Ia segera mendapat taksi lalu menaruh koper hitamnya di bagasi kemudian ia duduk merilekskan tengkuk lehernya yang sedikit pegal. Sehingga sedikit menimbulkan suara ‘krek’ saat ia mengendorkan otot tengkuknya. Ia mengeluarkan note menuliskan sesuatu lalu menunjukkan tulisan itu pada supir taksi. Supir itu mengangguk tanda mengerti lalu melaju cukup kencang sesuai permintaan Seung Ho.

Sesampainya di depan latar bangunan gallery ia merasa menemukan keganjilan. Di luar sana tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Sepi. Itulah yang ia lihat saat memasuki bagian depan gallery namun ia masih menemukan beberapa karangan bunga sebagai ucapan selamat.

“Sepertinya mereka sengaja tidak membuang itu” batinnya. Ia melihat-lihat karangan berbentuk ucapan selamat itu. Disamping itu, diam-diam seseorang dari dalam melihat Seung Ho berada disana. Ia lari berbisik ke seorang namja. Lalu semua yang berada di dalam diam seketika. Lampu maupun jendela penyebab cahaya masuk di matikan dan ditutup.

KRITT

Pintu berderit diikuti terbukanya pintu yang mulai melambat. Seung Ho terkejut karena ruang gallery itu bernuansa kecoklatan. Nuansa yang sangat ia sukai. Beberapa detik kemudian ia masih belum merasakan keganjilan lainnya yang sebenarnya ada pada suasana senyapnya. Lalu tiba-tiba lampu bagian tengah yang tergantung megah menyala disertai kilatan kamera yang tiba-tiba menyilaukan matanya.

Blitz…blitz…blitz…blitz…

Di sela-sela itu teman-temannya semasa kuliah datang menghampirinya dengan muka berbinar. Seung Ho dengan sigap langsung memeluk mereka satu persatu. Tawa kebahagiaan ia rasakan meski ia terkejut dengan adanya ini.

“Welcome, best photographer, Suho!” salah satu dari mereka menyambutnya. Seung Ho tersenyum senang saat ia tersenyum lebar seperti itu seorang yeoja memandanginya ikut menyunggingkan senyum. Ia semakin mendekat saat teman-teman Seung Ho memberinya sedikit celah.  Seung Ho tercengang saat itu juga. Seorang yeoja yang ada dihadapannya kini membuatnya ragu seketika. Ia sedikit mencubit lengannya dan ternyata sakit. Ini nyata, kepalanya mulai dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan. Jiyeon, benarkah ini kau?

“Chukae!” kata-kata itu keluar dari mulut Jiyeon tapi Seung Ho masih diam membeku ditempat tak tahu harus bagaimana. Ia masih tidak mempercayai semua ini. Ia pikir Jiyeon belum pulih dan tidak mungkin kembali kesini tapi ternyata kenyataannya ia berada disini, dihadapan Seung Ho. Binar matanya juga menampakkan kebahagiaan disana. Namun tiba-tiba air matanya turun saat Seung Ho tersenyum hangat padanya. Entahlah itu air mata bahagia karena kehadirannya atau sedih.

Seung Ho tidak tahan saat melihat Jiyeon mulai menitikkan air mata. Ia menghambur ke hadapan Jiyeon lalu memeluknya. Pelukan itu meskipun terkesan tiba-tiba namun Jiyeon membalas pelukan itu dengan erat seperti tidak bertemu dalam kurun waktu yang sangat lama. Pelukan itu hangat. Pelukan yang sebenarnya saling mereka rindukan.

“Mian, aku telah berbohong padamu dan maaf selama ini aku membuatmu men─

Tiba-tiba Seung Ho mengeratkan pelukannya membuat Jiyeon sedikit kesulitan untuk bernafas. Beberapa detik kemudian Jiyeon berusaha melepas pelukan itu meskipun sebenarnya ia ingin lebih lama lagi memeluknya namun menyadari keadaan sekitar yang masih berada di depan para wartawan dan  cameramen ia kendalikan keinginan tersebut. Acara ini bukan acara untuk temu kangen saja namun untuk sebuah berita. Gallery yang dibuat oleh Jiyeon sukses besar dengan hasil karya Seung Ho di dalamnya. Para wartawan dengan semangat mulai menyerbu dengan berbagai pertanyaan namun Jiyeon yang menjadi juru bicaranya. Jika ditanya bagaimana perasaannya saat impiannya ini terwujud sekarang adalah ia sangat senang dan bahagia. Ia tidak pernah mengira mimpinya saat ini juga terwujud. Ia sangat berhutang budi pada Jiyeon. Dalam hati ia janji pada diri sendiri untuk membahagiakan Jiyeon bagaimanapun caranya.

Setelah acara penyambutan itu selesai Seung Ho tiba-tiba berdiri ingin mengumumkan sesuatu. Bryan yang menuntunnya bicara. Layar putih turun di belakang Seung Ho berdiri. Lampu mulai sedikit meredup. Seung Ho berdiri di tempat yang lebih tinggi untuk memperlihatkan sesuatu. Video mulai terputar memenuhi layar putih. Kumpulan foto-foto eommanya sendiri beserta keterangan di bagian sampingnya sehingga Seung Ho tidak perlu membacanya. Semua perhatian penonton teralihkan menyaksikan video itu. Gambar selanjutnya adalah gambar seorang gadis gendut. Jiyeon terhenyak melihat gambar itu, teringat akan fotonya saat di album foto itu berada. Saat itu juga air mata Jiyeon merebak keluar dari sudut matanya. Ucapan terima kasih untuknya dari namja kecil yang pernah di sukainya sewaktu ia kecil tidak dilupakan sama sekali oleh namja itu. Namja kecil yang ternyata adalah Seung Ho temannya sendiri. Setelah bertemu dengannya perasaan itu memang tiba-tiba hadir kembali memenuhi ruang hatinya. Apalagi sejak Minho menyakitinya dan ia bertekad untuk melupakan namja itu. Perasaan terdahulunya tidak hilang. Justru berkembang. Firasatnya selama ini juga benar karena tingkahnya yang sama persis dari dulu sampai sekarang dan yang paling aneh ia dapat mengetahui bahasa isyaratnya dalam waktu dekat. Entah kenapa ia juga sering berbagi pikiran dengannya seperti yang dulu ia lakukan bersama namja kecil bisunya dulu.

Gambar mulai berganti menampilkan sosok teman-temannya lalu terakhir adalah fotoku. Pose foto yang paling ku sukai dari sekian foto yang ku dapat darinya. Kesan kuat dan lembut serta penyudutan yang bagus membuatku menyukai foto ini. Kemudian video itu selesai diiringi tepuk tangan penonton yang mulai menggema. Seung Ho tidak melewatkan senyum terutama untuk Jiyeon. Tiba-tiba Seung Ho membisikkan sesuatu pada Bryan, ia menyerahkan catatan yang ada digenggamannya ke tangan Bryan. Kemudian Bryan mencoba berbicara mengutarakan apa yang sebenarnya ingin Seung Ho sampaikan melalui catatan yang diberikan olehnya.

“Terima kasih untuk kalian semua yang telah datang. Terima kasih untuk orang terkasihku dan teman-teman yang sangat ku cintai yang telah memberi dukungan besar sehingga aku bisa mewujudkan impian terbesar yang awalnya tak bisa kuraih namun sekarang aku telah mewujudkan impian itu. Impian yang ku pendam karena sesuatu mengguncang jiwaku. Aku sadar telah melakukan kesalahan terbesar. Egoku muncul begitu saja tanpa pernah ku pikir sebelumnya saat orang yang paling berharga dalam hidupku meninggalkanku. Begitu dia meninggal satu kenyataan pahit juga datang menusuk jiwaku. Seseorang yang menyebabkan dia meninggalkanku adalah orang yang ku cintai. Kenyataan itu bagaikan timbunan perih bagiku hingga aku berhenti berharap. Impian itu runtuh bersama rasa kehilangan itu. Namun seseorang yang ku cintai justru menyadakanku untuk terus maju. Impian yang ku rajut sedari kecil tidak boleh sia-sia hanya karena musibah datang menimpaku. Saat itu aku terlalu marah dan tak bisa berpikiran jernih hingga hanya sisi terburuknya yang terlihat olehku. Namun segala yang kalian bisa lihat, ruangan ini, foto-foto besar di sana adalah ketulusan yang coba ia susun untuk membuka mataku kembali bahwa cita-cita tidak seharusnya berhenti di tengah jalan. Oleh karena itu aku minta maaf telah mengecewakan kalian yang baru kusadari sekarang adalah kalian menyayangiku. Terima kasih telah menuntunku dan menyadarkanku. Tanpa bantuan kalian aku hanya akan menjadi orang paling bodoh yang mengumpulkan sampah berharga hasil jerih payahku sendiri tanpa berpikir untuk memungutnya kembali. Thank you for everyone that have a chance listen my mind!” Sedetik setelah Bryan menutup kata-kata Seung Ho hawa sunyi masih terasa. Semua membeku mendengar penuturan Seung Ho. Satu tepukan tangan dari Jiyeon menyadarkan mereka yang membeku ikut bertepuk tangan. Suara riuh mulai terdengar saat semua orang bertepuk tangan menyuarakan kekaguman.

EPILOG

In the Night

“Seung…aku ingin menunjukkan sesuatu” ungkap Jiyeon, tangannya menopang sesuatu di atasnya. Sebuah album foto yang pernah Seung Ho berikan padanya ternyata masih tersimpan. Buku itu diletakkan di atas meja berada diantara mereka berdua yang sedang duduk berhadapan. Seung Ho menatap album itu, bibirnya tertarik menghasilkan senyum bahagia bercampur terkejut karena album itu ternyata masih disimpan baik-baik oleh Jiyeon. Tangan Jiyeon bergerak membuka lembar demi lembar album foto itu. Namun tampak cekatan lebih condong pada bagian akhir saat ia dengan pelan membukanya. Saat halaman berhenti ia menarik sebuah foto yang posisinya terbalik sehingga bagian putih saja yang terlihat oleh mata Seung Ho. Setelah di lihat-lihat sepasang alis Seung Ho mengernyit mendapati tulisan yang berada di belakangnya, Gadis balon.

“Ah foto ini” pikirnya. Ia membalikkan foto tersebut. Tiba-tiba Jiyeon menyodorkan sebuah foto lagi menutupi pandangan foto yang sedang di genggam olehnya. Ia menatap foto itu sejenak lalu membandingkan keduanya.

“Benar itu fotomu? Aku mendapatinya berada di album yang kau berikan ini” tuturnya menunjuk halaman yang terbuka. Seung Ho tersenyum menandakan jawaban ‘iya’.

“Jeongmal? Kau… benarkah Seungi si kecil bisu itu?” Matanya menatap Seung Ho dengan antusias menunggu jawaban darinya. Seung Ho malah menatap heran dan tak mengerti kemudian berusaha mencermati foto itu kembali. Benaknya mulai dipenuhi pertanyaan. Foto yang disodorkan ini apakah milik Jiyeon? Lalu dia siapa?

Ini milikmu? Foto siapa? Tanya Seung Ho, pandangan antusias Jiyeon seketika berubah menjadi helaan panjang.

“It’s my childhood” jawabnya. Jawaban darinya membuat Seung Ho menggeleng nampak tak percaya namun tatapannya sedikit tak yakin.

Jeongmal? Kau…apa kau si Gadis balon itu? Tulisnya.

“Ne, Aku si Gadis balon gendut dan culun itu” akunya disertai harapan di dalam nadanya. Seung Ho tersenyum bahagia, saat itu juga ia ingin memeluknya. Firasat yang pernah di dapatnya tidak salah. Ia memang merasakan kesamaan tingkah Jiyeon dengan gadis kecil itu.

“Seung Ho-ah, apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu? Gadis balon itu tidak bisa dipercaya ya bisa jadi begini” ungkapnya sedikit kecewa dengan reaksi yang diberikan Seung Ho saat mengetahui hal itu.

“Tidakkah ia tahu bahwa aku setengah mati berubah penampilan agar kau mau melihatku” ungkapnya hanya dalam batin.

Aku percaya kamu adalah dia. Kalau iya aku ingin bukti sekarang, dulu kau menyukaiku kan? Apakah sekarang masih sama, perasaan itu?

Seusai membaca bukannya menjawab ia justru tertawa kecil dan kemudian menatap Seung Ho mempertanyakan balik ‘menurutmu?’. Seung Ho tertawa masam kemudian ia bangkit berpura-pura marah. Jiyeon menatapnya heran bercampur cemas saat Seung Ho keluar dari ruang mereka berada. Tapi masih dalam gallery ia berdiri, Seung Ho hanya berpindah menuju bagian karya foto Close-upnya Jiyeon. Ia melihat dengan ekspresi datar.

“Aku menyukaimu, dari dulu sampai sekarang” akunya tiba-tiba. Ia berdiri tepat disebelah Seung Ho ikut menghadap foto-foto itu namun kepalanya tertunduk. Sepertinya raut mukanya sengaja ia sembunyikan yang malu ia tunjukkan pada Seung Ho. Kemudian wajahnya mendongak saat Seung Ho mengangkat dagunya.

Kalau kau ingin mengatakan hal itu tatap aku. Nyatakan dengan mantap

Jiyeon tidak menjawab, ia memeluk Seung Ho dengan gerakan tiba-tiba. Seung Ho tertawa kecil lalu mengelus punggungnya kemudian semakin mempererat pelukannya. Gerakan tangannya yang mengelus berhenti saat ia merasakan kausnya basah di bagian dadanya. Seung Ho segera merenggangkan pelukan melihat apa yang membuatnya basah. Ternyata Jiyeon menangis namun senyum bahagia terukir disana. Tangis bahagia menurutnya.

“Sa…sarang…nghae” bisik Seung Ho terbata-bata.

“Mwo?” Jiyeon reflek melepas pelukannya. Matanya membelalak mengekspresikan keterkejutan atas apa yang baru saja di dengarnya. Seung Ho, dia bisa berbicara?. Seung Ho mengangguk sebagai jawaban, mengerti apa yang di pertanyakan oleh Jiyeon. Seung Ho tidak menunggu reaksi selanjutnya, ia segera memperpendek jarak dengan Jiyeon. Menyentuh pipinya kemudian mendekatkan wajahnya.

“Jeongmal saranghae” ujarnya di tengah ia menatap Seung Ho dari jarak paling dekat.

Sedetik kemudian hal itu terjadi, mereka menyatu bersama kerinduan mendalam. Bulan yang menggantung di langit malam kala itu berpendar memancarkan cahaya kuning putih hingga menambah suasana roman. Cerita tidak berakhir disitu karena mereka telah menjalin hubungan sebagai suami istri, hanya saja pernyataan cinta yang baru saja sangat jarang terjadi. Salah satu dari mereka lebih sering membisu daripada berbicara karena Seung Ho merasa nyaman jika kebisuannya tetap terjaga meski ia harus mengakui kalau keadaannya sekarang tidak sama seperti dulu. Ia sudah bisa berbicara. Hanya tertentu ia berbicara seperti halnya tadi.

THE END

Gamsahamnida, gomawo yang udah ngikutin FF ini ampe akhir. Sesuai keinginan kalian ff ini akhirnya happy ending

mian ya kalo ceritaku kurang bagus atau mengena, aku baru bisa bikin cerita begini

Bonus proyekku selanjutnya. Aku kasih ni tapi baru poster but rencana ngepostnya nanti sehabis lebaran ya, coz puasa aku hiatus dulu.

Entry filed under: Chaptered, Drama, f (x), Indonesia, Life, PG, Romance, Sad Romance, SHINee, T-ara, Yo Seung Ho. Tags: .

Etre Aime (Be Loved) [CHAPTER 3] The Pain (Part 6)

1 Comment Add your own

  • 1. nissa  |  July 3, 2014 at 12:02 PM

    koq ngegantung sich.endingnya kurang seru.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,714 hits

Day by Day

July 2012
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: