Greatest Love [Part 7]

July 6, 2012 at 6:39 PM 3 comments

Title                 : Greatest Love

Author             : Yanlu

Genre              : Sad Romance

Cast                 : Yoo Seung Ho, Park Jiyeon, Choi Minho, Krystal

Rating             : PG-15

Disclaimer       : Plot is Mine! But cast belongs to God. Don’t plagiat please

PrologPart 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6

Hai, hai, karena liburan panjang author berusaha secepatnya nih nyelesaiin nih FF coz nanti selama bulan puasa author mau hiatus dulu. Biasanya kalo bulan puasa sibuk nih! Hehe *sok sibuk loe!. Oh ya dibagian tengah kalau mau denger lagu yang dinyanyiin Jiyeon puter aja ya ok!

Comment ya, biar nambah semangatku nulis, gomawo🙂

“Mianhae…jeongmal mianhae” isaknya.

Seung Ho tidak tahan untuk tetap pada posisinya. Ia melenggang pergi dan meninggalkan Jiyeon seorang diri. Ia tak tahu dan tidak mau peduli bahwa tangisnya mulai meledak saat itu juga. Jiyeon berusaha untuk berdiri dan mengejar Seung Ho tapi kakinya tak kuasa untuk berjalan beberapa langkah saja menuruni tangga. Akhirnya ia hanya bisa meringkuk dan menangis lirih di sudut tangga.

“Don’t cry…” suara berat seseorang menghentikan aktifitas Jiyeon untuk menangis, ia memandang sapu tangan yang disodorkan padanya. Belum sempat Jiyeon menengadah untuk melihat siapa orang itu ia sudah duduk di samping Jiyeon. Ia adalah Bryan, teman Seung Ho yang tanpa sengaja melihat Seung Ho dengan tingkah yang tidak biasa keluar melalui tangga. Saat terdengar isakan tangis ia memutuskan untuk melihat siapa yang sedang meringkuk di tangga dan menangis. Ternyata yang ditemuinya adalah Jiyeon.

“What should I do?” tanyanya lirih lalu membuang ingus yang sedari tadi mengganjal hidungnya dengan meraih sapu tangan Bryan.

“I don’t know but Suho not easy forgot the mistake that you make” sahutnya.

Jiyeon menghembuskan nafas berat. Tidak terpikir olehnya peristiwa yang sudah lama terpendam itu terungkap kembali dan lagi orang yang ditabrak itu adalah satu-satunya seseorang yang sangat berharga untuk Seung Ho. Ia merutukki diri dan menyesal telah menjadi orang yang pengecut dan tidak mau bertanggung jawab atas kesalahannya. Ia sadar telah melakukan kesalahan paling fatal seumur hidupnya.

“Mungkin satu-satunya cara agar Suho bisa memaafkanmu adalah bangkitkan semangatnya kembali. Buat dia kembali meneruskan cita-citanya supaya dia bisa meraih cita-cita itu berdasarkan impian terbesarnya” sarannya kemudian ia bangkit dari duduknya dan menatap Jiyeon dari atas.

“Baiklah, aku punya keperluan lain. Pulanglah sebelum petang datang”

“Terima kasih untuk saranmu” Jiyeon berusaha tersenyum di depan Bryan lalu kembali mengeluarkan airmata setelah punggung Bryan mulai tidak nampak. Setelah awan petang mulai bermunculan aku melangkah pergi keluar dari halaman kampus. Keadaan kampus cukup sepi, hanya berisikan beberapa anak yang mungkin sedang kuliah sore dan baru saja akan pulang. Sekeluarnya aku dari gerbang kulihat taksi putih sedang melaju mendekati tempatku berada. Kulambaikan tangan sebagai tanda butuh tumpangan dan taksi itu berhenti tepat didepannya. Langsung saja ia menempati jok dengan kepala bersender di belakang jok melepas lelah.

Montparnasse, please!” ujarnya memberitahu tujuan pemberhentian. Sembari memandang pemandangan jalanan, ia menutup mata sedetik kemudian lalu tertidur.

✿✿✿

            Beberapa film yang berisikan foto-foto satu persatu ia simpan di kotak kecil yang berada dalam laci. Ia ingin mengubur semua foto-foto yang selalu mengingatkan kepedihan mendalam semenjak kematian eommanya. Rencana membuat gallery ikut terkubur dalam-dalam. Padahal beberapa foto terbaik yang pernah diajukan pada teman-teman dan dosen universitas yang mengapresiasi karya itu menurut mereka sangat bagus. Seung Ho tidak ingin berpikir lebih lama lagi dan ragu untuk membereskan foto-foto itu. Sekarang yang ia inginkan hanya menjalani hidup apa yang sudah digariskan dan ada di depan mata yaitu kembali ke Korea untuk melanjutkan pekerjaannya. Kertas-kertas foto dalam album juga ia simpan di dalam kardus. Saat menata berkas-berkas itu Seung Ho kembali menemukan foto masa lalunya. Saat-saat bersama eomma dan satu adalah saat bersama seorang gadis gendut. Ia kembali mengingat foto dirinya bersama yeoja itu. Yeoja itulah yang selalu mendengar keluh kesahnya tanpa harus ia ungkapkan dengan kata-kata. Cukup saling menyalurkan pikiran ia merasa bisa berbagi cerita dan masalah padanya.

Tiba-tiba pintu terketuk lalu terdengar suara Bryan yang meneriakkinya untuk segera turun. Karena Seung Ho tidak terlalu merespon, Bryan melangkah masuk dan melihat kamar Seung Ho yang sekarang berubah menjadi kapal pecah.

“Oh God! Apa yang sedang kamu lakukan Suho? Mencari-cari sesuatu atau membereskan?” tanyanya, matanya mengintari setiap kertas dan barang-barang yang berserakan. Ia mengambil satu kertas foto yang menarik perhatiannya. Foto seni memotret dari Seung Ho dengan objek siluet seorang gadis sedang berdiri dekat tepi sungai di terpa cahaya sunset. Simple tapi penyudutan yang dilakukan olehnya sangat bernilai tinggi menurutnya.

“Astaga! Apa kau berniat ingin membuang foto-foto ini?” Bryan menghentikan aktifitas Seung Ho. Ia menatap foto dengan pandangan aku-tidak-memerlukan-foto-itu-lagi.

“Kenapa tidak kau pajang saja, dibuat poster lalu membuka gallery sendiri?” sarannya.

Seung Ho mengambil sebuah album yang berisikan foto-foto ‘ajaibnya’ yang terbilang sangat bagus disodorkan pada Bryan. Bryan benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Suho. Ia menggeleng tanda tidak mau menerima tapi Seung Ho memaksa tangan Bryan untuk menerimanya. Terpikir juga dalam benak Bryan foto ini sangat bernilai jika ia jual dengan media lain tentunya. Akhirnya Bryan mau menerima karena jika Seung Ho benar-benar membuangnya sungguh sayang. Ini benar-benar berharga dan bisa-bisa orang yang menemukan sampah ini membuat hak cipta atas nama dirinya sendiri dan mengaku-ngaku padahal bukan asli karyanya sendiri.

“Ok, don’t regretted if you give me great probability”

Seung Ho menggeleng pelan sambil membereskan berkas-berkas tanpa menoleh ke arahnya sekalipun. Semua barang-barang akan di simpan dan mungkin hanya akan ia tinggal disini kecuali berkas dan foto pentingnya.

Setelah selesai membenahi barang-barang ia menghempaskan diri ke kasur, membuang nafas berat dan memejamkan mata. Terbayang Jiyeon lagi dipikirannya. Kali ini ia membiarkan pikirannya berkelana dan ujung-ujungnya hanya Jiyeon yang ia pikirkan. Mengingat sikapnya yang terlampau dingin padanya. Jauh dalam hati ia ingin memaafkan Jiyeon tapi saat itu juga ia teringat dengan pernikahan Jiyeon dan perlakuan terhadap eommanya yang tidak mau bertanggung jawab. Ia terbayang gurat muka Jiyeon yang sepertinya berbeda. Seperti ada kesedihan dan kepedihan di dalamnya sejak ia bertemu Jiyeon kembali di sini.

“Suho, kau tidak memasak untuk makan malam? Cepat turun, masakan makanan!” teriakan Bryan dari luar membuyarkan lamunanku.

Aku bangkit dari kasur dan berjalan kea rah dapur untuk menyiapkan makan malam. Jadwalku memasak adalah hari ini. Sejujurnya aku tidak bisa memasak tapi untuk beberapa masakan yang memakai bumbu sederhana lumayan sudah kukuasai. Ditengah kegiatannya menyiapkan makanan tiba-tiba Bryan mendekati dapur, menenteng tas dengan jaket dan celana jeans yang cukup rapi. Seung Ho yang melihatnya mempertautkan alisnya mempertanyakan apa yang Bryan lakukan disana.

“Suho, maaf sebelumnya b..but my girlfriend want to go out with me, jadi kau tidak perlu memasak makanan untukku, bye!” Bryan melambaikan tangan dan buru-buru mengambil sepatu dan keluar dari pintu. Seung Ho mencibir sambil berlagak akan melempar spatula yang ada di genggamannya pada Bryan yang sepertinya mulai mengicir ingin cepat-cepat kabur sebelum Seung Ho benar-benar melemparnya dengan spatula.

Ck…siapa juga yang mau memasakan makanan untukmu? pikirnya.

✿✿✿

Agustus,2012

Tahun kelulusan sudah lama berlalu, kini ia memutuskan untuk menetap di Korea dan melanjutkan pekerjaannya. Semua yang ia pelajari selama di Paris nampaknya sia-sia sudah ketika Seung Ho dengan tekad bulat berniat menjalani hidupnya ke tempat asal dan tidak akan mengharapkan impian besarnya lagi. Ia memutuskan untuk mengikuti kemana dirinya akan mengalir sesuai garis hidup yang digariskan untuknya.

Waktu istirahat yang diberikan oleh perusahaan cukup leluasa untuknya karena ia bisa makan di tempat lain. Ia berhenti direstoran yang cukup mewah dengan design interior yang dibuat classic namun tetap bergaya. Tidak perlu dipertanyakan lagi tentang keadaan Seung Ho yang kini sudah mapan. Sepulang dari Paris berbagai perusahaan memberondonginya untuk masuk menjadi salah satu fotografer beberapa majalah ternama dan iklan-iklan untuk poster. Terutama majalah High Cut, Vogue, dan CeCi ia dikontrak menjadi fotografer majalah itu. Awalnya ia memang menolak mentah-mentah tawaran mereka tapi dipikir-pikir kembali tawaran itu adalah tawaran langka yang hanya bisa diperoleh oleh orang-orang tertentu dan berbakat tentunya. Sayang kalau tawaran itu harus ia tolak hanya karena semangatnya untuk menjadi fotografer turun.

Pintu berkaca bening secara otomatis membuka menerima kedatangannya saat masuk ke dalam diikuti pelayan seorang yeoja yang tampak anggun dan manis merekahkan senyumnya dan menyapa sebagai tanda keramahan pada pelanggan yang baru saja tiba. Dia, Seung Ho hanya membalasnya dengan senyuman dan kemudian ia dipersilahkan duduk berdasarakan kenyamanan yang ia dapatkan. Meja berbahan dasar marmer menjadi keindahan tersendiri bagi restoran ini. Air hujan buatan yang turun dari kaca jendela dan lampu-lampu dengan kain memanjang seperti api biru berjejer rapi di sekitarnya semakin membuat suasana malam hidup. Selesai menjelajahi furniture dan hiasan di sekitarnya kini matanya beralih menatap layar TV yang lebih menyerupai bioskop mini dengan lebar 55 inchi dengan tampilan mewah dan suara yang begitu jernih. Dengan perhatian penuh ia menonton acara TV yang sedang berlangsung. Tiba-tiba wajahnya membentuk sebuah guratan di dahinya, melihat acara TV yang kini menyala di hadapannya. Disana terdapat panggung megah dengan jutaan kursi di belakangnya. Ia kenal betul tempat ini.

Matanya mulai terbelalak saat ia melihat seseorang menari di atas panggung dengan sangat bagus, Modern dance. Gadis itu, sudah sekian lama ini dia melupakannya.

“Pemirsa, malam indah dan agung ini telah di buka dengan tarian seorang perempuan berbakat, Park Jiyeon. Untuk penampilan spektakulernya kita beri applause meriah padanya…sekarang, Korean Music Award telah dibuka!” ucap sang pembawa acara diikuti tepuk riuh penonton.

Korean Music Award? Park Jiyeon kau

Belum selesai ia membatin tiba-tiba pelayan restoran datang membawa beberapa makanan yang tersaji cukup mewah. Kemudian ia beralih menatap beberapa makanan dan menaruh celemek di bawah. Piring-piring putih mulai beradu dengan sendok ketika ia menjumput lauk. Kemudian setelah ia menghabiskan makanan, ia kembali melihat siaran itu tapi tidak ada hal menarik lagi baginya setelah Jiyeon tidak ada dalam layar kaca. Ia memutuskan untuk pergi dari restoran itu. Mengendarai mobil sedan hitam kembali untuk bekerja. Tapi ia menghentikan mobil secara mendadak ketika sepeda motor dengan ceroboh menyelip tanpa melihat arah belakang.

Aish…kenapa dengan kepalaku? Aku jadi tidak fokus begini! Umpatnya membanting setir.

Ia mengirim pesan ke Soo Hyun rekan kerjanya untuk ijin pulang lebih awal dengan alasan capek. Kemudian mobil itu kembali melaju kencang membelah jalanan kota Seoul.

Sesampainya dirumah, ia turun. Rumah yang ada dihadapannya masih sama. Hanya beberapa yang berubah hingga memberikan kesan baru dan modern di dalamnya. Langkahnya menjadi gugup saat membuka pintu dan masuk ke ruang santainya. TV besar yang hampir seukuran dengan yang berada di restoran tadi ia nyalakan dengan cepat. Ia segera mencari channel yang sama. Channel TV yang terputar masih seputar pemberian award pada kategori bintang rookie terbaik. Sampai Jiyeon kembali muncul dalam festival tersebut dengan membawa penghargaan sebagai Best Dance & Electronic Song  di ajang bergengsi tersebut. Rasa bangga mulai mengintari Seung Ho. Jauh dalam hatinya terselip rasa rindu tapi kejadian setahun silam masih membekas di benaknya. Jiyeon sedang mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang mendukungnya selama ini, kuperhatikan lamat-lamat apa saja yang ia bicarakan.

“Terima kasih untuk Tuhan, my beloved family and my friend that long time no see, who was make me though that physic not imped aspiration but to get up, Suho hope you can hear me from there!” Jiyeon melepas senyumnya saat mengakhiri pernyataanya. Mendengar itu hatinya berdebar hebat terlebih saat ia mengucapkan France name-nya.

“I want to sing a song. This is about day by day that I left alone without confidence and expectation. My dream which slowly disappear in every night…

Hening sejenak lalu mulai terdengar tepuk tangan penonton. Panggung mulai gelap dan hanya menyoroti posisi gadis itu berada.

I have a dream 

that I’ve had for a long time… ♪

When will I be able to meet it? ♪

But I…at any time…at the same place… ♪

Tears from lack of confidence

dampen my cheeks. ♪

If day after day passes by, ♪

losing the way with the wind… ♪

Day after day, being carried by the wind… 

my dreams fill me up…. 

Like I’ve promised a long time ago, within my diary… 

I wish that you didn’t get exhausted 

day after day. 

I wish that you didn’t get exhausted 

day after day. 

Lagu itu…

Lagu yang pernah di tampilkan oleh Jiyeon di acara Opera itu tapi kali ini versi Koreanya. Lamat-lamat ia mencermati lirik lagu tersebut. Hatinya kembali merasakan kepedihan ketika melihat airmata Jiyeon perlahan-lahan mengalir membanjiri pipinya. Sampai lirik bagian tengahnya tiba-tiba screen yang ada di belakang Jiyeon menampilkan sesuatu yang sukses membuat Seung Ho terbelalak dan tersenyum diselingi ringisan haru. Kumpulan foto-foto yang sengaja ia tinggalkan di Paris dan diserahkan pada Bryan ditampilkan satu persatu namun berbingkai dan foto-foto itu tercetak sangat besar. Beberapa foto Close-up Jiyeon juga terpampang rapi disana. Ia tak dapat membendung tangisnya lagi, sedari tadi matanya berkaca-kaca melihat semua itu. Seperti sebuah gallery. Pikirannya menerka-nerka bahwa apa yang dilihatnya hanya sebuah foto bukan gallery yang ia impikan. Sekarang music sudah berhenti berbunyi, Jiyeon menyeka airmatanya lalu menampilkan senyumannya dihadapan para penonton.

“Aku berharap, dia melihat ini semua. Kalian bisa melihat hasil karya seseorang yang sekarang ini telah berhenti untuk mengejar impiannya hanya karena keterpurukan menimpanya lalu dengan mudah ia membuang segala kenangan itu untuk melupakan impian besarnya yang tinggal sejengkal lagi dapat ia raih. Padahal dahulu saat Hellen Keller seorang wanita buta, tuli, dan bisu sekaligus telah mampu mengguncang dunia. Walaupun dunia sarat dengan derita, ia pun sarat dengan perjuangan untuk melampaui derita itu. Begitulah kata wanita hebat itu. Apapun penderitaan dan kepedihan yang baru saja kita alami bukanlah menjadi penghalang masa depan yang akan kita tuju. Apalagi sejengkal lagi kau akan meraih itu. Lihatlah perjuangan yang kau lakukan sebelum kau benar-benar menyia-nyiakan sesuatu lalu menyesal.”

Kata-kata Jiyeon membekas di hatinya. Ia menangis sejadi-jadinya melihat penampilan Jiyeon yang dibarengi dengan terbukanya Gallery fotografer di Paris sana. Gallery yang dibuka bersama─Bryan dan Jiyeon─untuk dirinya dan sekarang semua impiannya terwujud. Ia tidak menyesal karena ia tidak membuang semua itu melainkan mempercayakan itu semua kepada Bryan. Ia memang menyerah untuk melanjutkan cita-citanya tapi bukan berarti ia harus membungkus semua yang sudah ia usahakan dengan susah payah. Ia sadar akan kata-kata yang dilontarkan oleh Jiyeon dan begitu mengena di benaknya.

Mianhaeyo Jiyeon-ssi! Aku tidak bermaksud membuatmu sedih.

Seung Ho membiarkan airmatanya membasahi pipi meskipun matanya terpejam.

Diluar sana Jiyeon merasakan perasaan lega. Ia sangat berharap kalau Seung Ho menyaksikan itu semua meskipun tidak langsung. Mewujudkan impiannya dan itu semua berkat saran Bryan dan usahanya selama ini. Di Paris ia mengerahkan seluruh tenaga untuk mengumpulkan uang demi membuka gallery untuk memajang hasil karya Seung Ho. Ia tidak ingin melihat semangat hidupnya menurun dan kemudian mengubur dalam cita-cita terbesarnya hanya karena kesalahan yang diperbuat oleh dirinya.

“Hallo? Bryan? Ne…ne…jaga baik-baik gallery itu, aku sudah memperlihatkan gallery besar itu disini. Tinggal bagaimana dengan Suho, mungkin dia tidak menonton acara TV tadi karena dia menjadi orang sibuk.” Jiyeon menutup panggilan dengan mata berbinar dan senyuman yang tidak pernah selega ini sebelumnya. Ia merasa telah melakukan hal terbaik dan semoga saja Seung Ho bisa memaafkannya kembali.

✿✿✿

            Seung Ho mendapati dirinya tertidur namun jam di dinding masih menunjukkan pukul 11.30 malam. Ia beranjak dari sofanya dan kemudian mengambil jaket serta mengenakan sepatu dengan tergesa-gesa. Ia membuka pintu kemudian keluar dan masuk ke dalam mobil. Malam ini juga setelah melihat apa yang Jiyeon baru saja lakukan buru-buru ia ingin menemui Jiyeon. Perasaannya membuncah hebat, ia kagum sekaligus terharu dengan apa yang Jiyeon lakukan. Kenapa ia bisa tahu impian terbesarnya sedang ia kubur dalam-dalam dan tidak akan diungkit olehnya kembali.

Jalanan tetap bising dengan kendaraan meskipun tengah malam, kota padat selalu begitu, di tengah jalan suara sirine terus berbunyi, itulah yang membuat macet. Di depan sana sepertinya telah terjadi sesuatu. Cukup lama macet memakan waktu, padahal Seung Ho tengah buru-buru. Ia menjadi tidak sabar dan kemudian keluar dari mobilnya. Kecelakaan baru saja terjadi dan sebuah mobil tersangkut di tepi jembatan dan hampir saja jatuh. Lalu truk besar juga tengah berhenti tidak jauh dari situ. Mobil itu rusak parah terlihat dari kaca dan badan mobil yang remuk di bagian kirinya. Sepertinya korban kecelakaan sudah diselamatkan. Seung Ho mendekat penasaran. Ia melihat darah berceceran di bagian kepala seorang yeoja berambut panjang sedikit menutupi wajahnya. Ia tidak bisa melihat dengan jelas karena keadaan sesak mengerubungi korban tersebut. Namun pemandangan ganjil membuat matanya tak bisa lepas dari korban itu. Baju dalam yang masih membungkusnya berwarna emas yang membuat Seung Ho terperangah, ia gelisah. Jantungnya mulai berpacu cepat saat matanya menangkap sosok yeoja yang ada di sana. Tubuhnya terlihat familiar di matanya. Jiyeon!

“Ji…jiyeon!!” tanpa disadari suara itu keluar dari mulutnya.

Seung Ho segera membawanya. Tepat saat itu mobil ambulan datang. Ia menggendong tubuh yang kini berlumuran darah disekitar kepala Jiyeon. Benaknya dipenuhi tanda tanya. Beberapa perawat mondar-mandir di ruangan menangani serta dokter yang terlihat panik.

“Maaf, tapi anda tidak diperkenankan masuk ke dalam demi kelancaran penanganan” ucap salah seorang perawat saat Seung Ho berniat masuk kedalam. Ia terlalu panic dengan keadaan ini. Dadanya bergemuruh, pikirannya tidak tenang sedikitpun. Ia menggertakan gigi berkali-kali. Keringat mengucur deras seiring dengan airmatanya yang telah jatuh membasahi pipi mulusnya. Tangannya tidak berhenti menggenggam satu sama lain sambil mengucapkan doa memohon keselamatan. Penyesalan sekaligus cemas berbaur menjadi satu.

“Mianhae, Jiyeon-ah. Babo! Seung Ho kau sungguh bodoh!” rutuknya pada diri sendiri.

Tubuhnya terhempas lemah di depan pintu UGD. Matanya kian berair kemudian ikut mengabur. Beberapa jam kemudian ia tidak kunjung bangun dari duduknya menunggu kepastian dokter. Derit pintu mulai terdengar, sepertinya dokter dan para perawat sudah selesai mengurus pasien. Seung Ho mengambur diri ke dokter tersebut. Mata yang sudah sembab sedikit menghalangi pandangannya namun ia masih bisa melihat wajah bersih dokter itu meskipun rautnya tidak tertangkap jelas oleh matanya. Ia mencoba menggunakan isyarat untuk menanyakan dokter itu dan langsung dipahami olehnya. Dokter itu menepuk pundak Seung Ho lemah. Tepat saat tangan itu menyentuh pundaknya perasaannya kalut. Ia semakin was-was dan urung untuk mendengar kata yang akan dilontarkan oleh dokter.

“Dia mengalami pendarahan banyak dan sekarang dia butuh istirahat. Perkembangan selanjutnya nanti saya periksa setelah ia sadar.” Ucapnya, aku sedikit bernafas lega setidaknya ia tidak mengalami hal terburuk dalam hidup.

Kapan ia sadar? Apakah saya diperkenankan masuk? Seung Ho mengetik beberapa kata di HP dan dokter itu segera membaca.

“Entahlah, bisa sampai satu, atau dua hari. Anda sudah boleh masuk, Josong hamnida tapi saya permisi dulu.” Tuturnya. Seung Ho membungkuk lalu memberi jalan untuknya lewat. Kakinya membawa tubuhnya masuk ke ruang UGD namun setengah hatinya merasa cemas jika saja ia tahu keadaan Jiyeon nanti. Perlahan pintu terbuka. Disana terbaring lemah seorang Jiyeon dengan perban mengelilingi kepalanya menutupi kening dan rambutnya. Beberapa alat bantu pernafasan mengintarinya serta infus ditangan. Seung Ho duduk di sebelah Jiyeon menggenggam tangan itu seerat mungkin. Ia menatap wajah damai Jiyeon dengan perasaan teriris dan iba bersamaan. Ia kembali menangis meski matanya sembab. Hampir saja ia mengguncang tubuh Jiyeon agar terbangun karena suhu Jiyeon mulai memanas di bagian telapak tangan tapi nihil. Jiyeon tetap menutup mata dengan wajah tenang tanpa beban. Hal ini karena hari ini dia sangat lega membawa Seung Ho menampakkan kembali impiannya tapi Seung Ho tak tahu. Ia justru merutuki Jiyeon yang bertingkah ceroboh kelewat bahagia hanya karena mewujudkan impiannya. Padahal ia sudah mengubur dalam-dalam impian itu dan hendak melupakannya.

Babo! Jiyeon kau Babo! cercanya pada Jiyeon yang terbaring lemah. Ia tidak menyadari bahwa pasca kecelakaan itu Seung Ho mulai mengeluarkan suara dari mulutnya. Kepala Seung Ho mulai menyandar di ranjang Jiyeon. Rasa pening menuntutnya agar ia tertidur. Perlahan-lahan pandangannya tidak lagi mengabur tapi pekat. Ia memejamkan mata yang masih berbulir airmata.

✿✿✿

Di sebuah bangunan besar ia berdiri. Gallery foto ada di depan matanya. Tiba-tiba tangannya tersentuh oleh seseorang. Ia mengenakan kursi roda dan kepalanya masih diselimuti perban.

“Apa yang kau pikirkan, Seung-ssi?” suara seorang yeoja yang tengah menyentuh tangannya membuyarkan lamunannya.

“Ani, aku kagum dengan karya itu” ucapnya seraya menunjuk foto-foto yang sesungguhnya merupakan karyanya sendiri. Ia melihat ke arah yeoja itu. Pandangan matanya polos dan rasanya ia tak tahu apa-apa. Segalanya, tentang dirinya, kecelakaan, musibah, dan cinta hilang begitu saja dibenak yeoja itu. Semua hal dianggap baru dan asing olehnya begitupun dengan namja yang berada disampingnya. Ia memandang yeoja itu dengan tatapan sesal. Matanya berair. Setelah ia tidak bisu kini giliran kesempurnaan yeoja ini yang diambil. Ingatannya hilang. Semuanya asing bagi yeoja itu.

“Apakah semua ini bisa memulihkanku? Apa yang harus aku ingat? Ah…kenapa sakit sekali!” tiba-tiba yeoja itu menepuk-nepuk kepalanya lalu berkali-kali ia memegang kepalanya yang mulai pening.

“Berhenti Jiyeon-ah, jangan paksa dirimu! Aku tidak pernah menuntutmu untuk mengingat apapun. Biarkan semua berjalan seiring dengan waktu” pintanya melepas tangan Jiyeon dari kepalanya sendiri lalu Seung Ho mendekap kepala Jiyeon membenamkannya di tubuh. Hatinya ikut teriris menyaksikan keadaan Jiyeon. Kenapa ia harus sembuh sedangkan Tuhan justru mengambil kesempurnaan Jiyeon seperti menggantikannya. Perasaan menyesal terus membuatnya ingin segera menjauh dari Jiyeon tapi jika ia meninggalkan Jiyeon siapa yang akan menjaganya?.

“Minggir! Jiyeon lebih mengingatku ketimbang kau!” suara berat seseorang menyadarkan Seung Ho yang masih dalam posisi memeluk Jiyeon. Dia, Choi Minho kembali lagi membawa kenangan pahit itu. Seung Ho melepas pelukan itu dan mundur perlahan-lahan dari hadapan Jiyeon. Ia tahu siapa yang berhak menjaganya sekarang. Dia memang belum berstatus suami namun Seung Ho cukup sadar bahwa Minho adalah orang yang pantas saat ini untuk Jiyeon selain sebagai kekasih juga ingatannya pada Minho tidak hilang. Namun ingatan tentang dirinya menghilang begitu saja tanpa sedikitpun Jiyeon ingat. Ia pasrah saat Minho mengambil alih Jiyeon dan mendorong kursi roda itu bersama dirinya. Lalu mereka berdua berjalan jauh meninggalkannya seorang diri sambil menatap sendu pada foto-foto hasil karyanya.

“Semua ini tidak berguna” ungkapnya lirih.

Seung Ho menutup Gallerynya rapat-rapat menguncinya namun ia terkejut saat suara familiar itu terdengar memanggilnya kembali.

“Seung, aku menemukan foto ini!” tunjuknya, melambaikan foto di kejauhan. Seung Ho sedikit penasaran. Ia mengambil foto itu dari tangannya sesampainya ia dihadapan Jiyeon.

“Dan aku ingat dengan foto ini…

“Chogiyo, tuan…tuan…pasien harus segera diperiksa kembali. bangunlah” perintah suster sambil menggoyangkan tubuh Seung Ho. Namja itu mendongakkan wajahnya yang langsung berhadapan dengan jendela terbuka. Matanya menyipit mendapat pantulan sinar matahari yang menyilaukan matanya.

“Mi…mianhae! Aku akan pergi dulu sebentar, tolong rawat dia baik-baik ya” pintanya lalu memegang kening Jiyeon memeriksa keadaan sebentar sebelum ia berbenah diri untuk pergi.

Sesampainya dirumah ia langsung membersihkan diri, mandi di bak. Pikirannya kembali pada mimpi tadi. Ia merasa mimpi tadi bukan sekedar mimpi belaka. Namun ia menepis pikiran itu dan meyakinkan diri bahwa tidak akan terjadi apa-apa nantinya.

Apapun yang terjadi dengan Jiyeon. Aku akan selalu berada disampingnya.

Air hangat memenuhi kepala Seung Ho. Matanya terpejam sejenak sekedar menikmati resapan air. Beberapa menit kemudian ia bangun dan merapikan diri untuk berpakaian. Hari ini ia berencana seharian di rumah sakit. Oleh karena itu di jalanan ia berhenti sebentar ke minimarket membeli makanan ringan dan cepat saji untuk bekal di rumah sakit. Di tengah jalan saat ia membeli makanan di kedai jalan ia menangkap sosok Krystal bersama Minho. Awalnya ia tidak begitu yakin dengan pandangan matanya tapi saat mereka mulai mendekat ia tidak salah lihat. Mereka berdua memang Minho dan Krystal. Kepalanya mulai terasa panas dan bunyi gemeletuk gigi terdengar bersama geraman kecil. Ia tidak percaya apa yang ada dilihatnya kini.

Kenapa mereka berdua terlihat semakin mesra? Bukankah Minho masih tunangannya?

Seung Ho mendengar kabar bahwa Jiyeon memang belum menikah. Apa karena ini ia tidak jadi menikah. Sungguh ia benci dengan Minho. Ia tahu cerita Krystal bahwa Minho lebih mencintainya lalu kenapa Minho menerima pertunangan itu?. Ia berniat menghampiri Krystal dan belum ia mendekat Krystal sudah melambaikan tangan padanya.

“Seung Ho-ya!!” teriaknya. Tepat! Ini saat yang tepat untuk tahu kebenarannya.

Bangapseumnida, Krystal-ssi! Ekm…mian aku ingin bicara sebentar dengan namjachingumu, boleh kupinjam sebentar?

“Oh, baiklah tidak usah formal begitu Seung…”

“Kau? Kita memang pernah bertemu sebelumnya tapi apa kau mengenalku?, lalu apa yang ingin kau bicarakan?”

Bisakah kau jelaskan hubunganmu dengan Jiyeon? Aku penasaran dengan kelanjutanmu dan sampai sejauh mana kau berhubungan? Tulisnya to the point.

“Awalnya kami memang pacaran tapi kami putus setahun yang lalu. Aku tidak mencintainya seperti aku mencintai Krsytal. Kami berdua dipersatukan oleh orang tua kami masing-masing. Bisa dibilang perjodohan. Dengan adanya perjodohan itu tampaknya Jiyeon mulai tertarik denganku dan menyukaiku tapi tidak denganku. Aku hanya mencintai Krystal dari dulu sampai sekarang. Sebenarnya aku tidak ingin menceritakan ini tapi sepertinya kau orang yang dekat dengan Jiyeon bukankah begitu?” jelasnya. Seung Ho mengangguk mengerti. Ia tidak mengira bahwa Minho sebenarnya hanya mencintai Krystal. Tapi ia tidak terima dengan perlakuan Minho yang telah menyakiti Jiyeon. Minho tetap salah karena telah membuka harapan untuk Jiyeon.

Jika kau tidak benar-benar serius dan mencintainya kenapa kau tidak katakan saja yang sebenarnya. Kenapa kau justru membuka hatinya, membiarkan dirimu masuk memenuhi pikirannya? Kalau kau mau tahu hal itu sangat kejam dan menyakitkan baginya!

Tulisnya penuh penekanan setelah itu ia pergi dari hadapan Minho. Minho hanya menunduk lemas, ia sadar kesalahan itu ada pada dirinya yang saat itu sedang bimbang.

Seung Ho masuk ke dalam kamar Jiyeon. Perasaannya gembira menyeruak memenuhi relung hatinya. Jiyeon sudah bangun dan sekarang ia duduk diranjang. Dengan gerakan otomatis atau terlampau senang Seung Ho memeluknya. Sangat erat sampai-sampai Jiyeon merasa tidak nyaman. Saat ia melepas pelukan bukannya tersenyum senang raut muka Jiyeon berubah menjadi bingung. Tapi Seung Ho masih tidak menyadari itu.

“Eodi? Eodiga? Nugu shimnika?” tanyanya.

Pertanyaan itu memudarkan senyum kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah Seung Ho. Ia tidak menjawab pertanyaan Jiyeon sehingga membuat yeoja itu bangkit. Seung Ho menahan tubuh Jiyeon saat akan bangun karena keadaan belum memungkinkan dia untuk bangun.

Ini di rumah sakit. Apa kau tidak tahu namaku? Atau jangan-jangan kau tidak tahu apa yang menimpamu saat ini?

Seung Ho mulai antusias saat Jiyeon membaca tulisannya. Ia menghela nafas lega saat Jiyeon sepertinya paham.

“Tapi aku benar-benar tidak mengenalmu. Aku juga tidak ingat apa yang menimpaku. Tapi…Aish!! Ah…kepalaku…kenapa…nyeri sekali!” Jiyeon mulai mengerang kesakitan. Tampaknya ia berusaha mengingat apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Seung Ho segera menghampirinya lalu memeluk kepalanya berusaha menenangkan. Jiyeon sudah mulai tenang beberapa saat.

Kau disini dan jangan kemana-mana. Aku akan memanggil dokter

Seung Ho keluar dari kamar dan pergi menemui seorang dokter. Ruangannya tidak kosong, dokter ada disana. Dokter dengan badge name Yesung itu mempersilahkannya duduk.

Bagaimana keadaan Jiyeon. Apa yang terjadi? Kenapa ia tidak mengingatku?

Yesung hanya menggelengkan kepalanya lalu menatap Seung Ho dengan tatapan prihatin. Seung Ho benar-benar tak sabar menunggu jawabannya. Dokter itu menunjukkan scan computer ke Seung Ho. Ia memperlihatkan hasil ronsen kepala Jiyeon.

“Seperti yang kau lihat pasien mengalami pendarahan disekitar sini namun yang lebih parah lagi akibat benturan yang terjadi karena kecelakaan itu otaknya mengalami amnesia.”

Tenggorokan Seung Ho tercekat saat itu juga. Ia terbayang mimpi yang menhantuinya semalam.

Lalu? Apakah ia mengalami amnesia total?

Dokter itu menghela nafas sejenak lalu kembali menengadah.

“Saya tidak yakin, tapi lihat perkembangan pasien nanti. Amnesia total atau tidaknya berdasarkan benturan itu dan saya belum memeriksa sejauh itu. Sekarang yang perlu anda lakukan adalah usahakan ia tidak mengingat terlalu banyak dan perbanyak istirahat supaya otaknya tidak bekerja terlalu keras.”

Seung Ho mengangguk paham. Kembali ia berpikir akan mimpi itu. Hati kecilnya terus berharap semoga tidak semua mimpinya benar. Setelah keluar dari ruangan dokter ia mengecilkan langkahnya menuju kamar pasien. Perlahan ia membuka pintu

“Minho…

Tbc~~~

Come to my blog in here, gomawo tapi maaf masih sedikit isinya hehe…

Entry filed under: Chaptered, Drama, f (x), Indonesia, Life, PG, Romance, Sad Romance, SHINee, T-ara, Yo Seung Ho. Tags: .

I Remember You ( Forbidden Love ) – Chapter 2 [FICLET] Regret

3 Comments Add your own

  • 1. Yong dae  |  July 19, 2012 at 10:08 PM

    FF nya bagus ,,,
    cerita nya bagus bangett … I like it

    Reply
  • 2. Windy  |  July 21, 2012 at 1:12 PM

    Mian, baru bza comen di part nie,, tapi aku baca semua koq dari part 1 – 8
    FF nya keren

    Reply
    • 3. yanluwritinganything  |  July 21, 2012 at 9:03 PM

      Cheonmaneyo, but last comment is important for me

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,956 hits

Day by Day

July 2012
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: