Greatest Love [Part 6]

June 28, 2012 at 8:11 PM 2 comments

Title                 : Greatest Love

Author             : YanluSarang_Yanlu

Genre              : Sad Romance

Cast                 : Yoo Seung Ho, Park Jiyeon, Choi Minho, Krystal

Rating             : PG-15

Disclaimer       : Plot is Mine! But cast belongs to God. Don’t plagiat please

PrologPart 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5

Kembali lagi akhirnya mengepos part 6. Ada yang nunggu nggak?#plak. Mian ya reader kalo ceritanya tambah geje dan ngebingungin gini tapi author tetep berharap kalian masih setia dengan FF saya yang ga jelas ini. Oh ya sekedar info mulai part ini pake sudut pandang author. Yaudah deh check out aja!

Author POV

Taksi berwarna putih turun persis di depan sebuah rumah yang kini tengah ramai dikunjungi orang-orang. Tatapan sedih menyelimuti sebagian besar dari mereka. Rekan-rekan kerja Seung Ho beberapa kali menyeru panggilan di telepon tapi lagi-lagi nomor yang mereka simpan selama ini tidak lagi bisa mereka hubungi. Seorang pemuda turun dengan raut cemas yang sangat jelas terpancar dari wajahnya. Beberapa orang mulai merasakan kehadirannya. Sebagian dari mereka cukup kaget lalu menatapnya dengan tatapan iba. Pemuda itu perlahan-lahan berjalan memasuki latar rumahnya yang hanya beberapa meter di depan bangunan rumahnya. Lalu melihat kedatangan pemuda itu seorang gadis menghampirinya. Bisa terdengar isakan tangisnya yang masih sesenggukan.

“Eomma…di…di..a hiks…hiks…di..a─

Belum sempat gadis itu mengatakan kalimat selanjutnya pemuda itu berlari ke dalam rumah. Diruang tengah yang ia temui adalah peti mati. Ia bersimpuh lemas dihadapan peti  yang berada di sekeliling orang-orang yang memandangnya prihatin. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan tatapan membelalak. Foto yang ada di atas peti ia sentuh perlahan dengan jemarinya. Lalu setelah itu ia menggeleng pelan kembali tanda ia masih belum mempercayai ini. Bahwa foto yang ada dihadapannya ini bukanlah foto eommanya tapi meski beberapa kali ia memejamkan mata dan berpikir keras untuk kembali ke alam sadarnya ia masih tetap menempati kenyataan ini. Ia memang benar-benar berada di hadapan peti besar yang biasanya berisikan mayat.

Ia benar-benar tidak tahu kenapa semua ini tiba-tiba. Ia menggeleng-nggelengkan kepalanya dan beberapa kali mengacak rambutnya frustasi lalu menatap satu per satu orang yang tengah mengelilingi peti besar berisikan mayat tersebut.

“Mian Seung Ho beberapa hari ini kamu sangat sulit dihubungi tapi sebenarnya kami sudah mengirim e-mail dan surat kepadamu seminggu yang lalu karena keadaanya semakin memprihatinkan” suara seorang gadis yang diyakini bernama Krystal mulai membuka semua pertanyaan dalam benak Seung Ho.

Seung Ho tidak kuasa menahan beban terberat dalam hidupnya sekarang ini. Setelah sebelumnya cinta yang kandas sekarang ditambah kematian seseorang yang paling berharga dalam hidupnya. Padahal belum sempat ia meraih cita-cita tertingginya yang kemudian akan ditunjukkan pada eommanya. Harapan terbesarnya pupus begitu saja. Ia putus asa saat ini. Pikiran tentang meninggalkan eommanya untuk menempuh studi di Paris sangat ia sesali. Mengapa ia harus meninggalkan eommanya untuk kepentingan dirinya sendiri padahal ia tahu bahwa sebelum keberangkatan, ia sendiri mulai khawatir akan keadaan eomma yang mulai menunjukkan gejala tidak beres.

Kepalanya mulai terasa pening. Matanya mulai tak fokus lagi menatap jenazah yang ada dihadapannya. Posisinya masih memeluk jenazah tersebut tapi nafasnya kian terasa sesak. Pikirannya mulai berputar-putar lalu dia pingsan saat itu juga.

✿✿✿

Cahaya! Beri aku cahaya. Adalah tangisan tak bersuara dari dalam jiwaku.

Seung Ho yang baru saja kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidupnya mulai kembali menata esoknya. Ia tidak ingin terus larut dalam kesedihan yang mendalam. Dua minggu setelah kematian eommanya ia mulai kembali ke perusahaan di Korea. Ia mulai melakukan aktifitas di fotografernya meskipun semangatnya turun. Seseorang tengah merasa tidak nyaman melihat keadaan Seung Ho yang masih saja kurang fokus dan tidak sesemangat biasanya.

“Seung Ho…kalau kamu masih sakit, kamu boleh ijin tidak masuk dulu untuk beberapa hari. Pulihnya rasa kehilangan seseorang yang paling kita cintai sangat lama tapi kendalikan segala rasa kehilangan itu untuk tetap menjalani kehidupan seperti sebelum-sebelumnya. Aku tahu perasaanmu bagaimana ketika satu-satunya orang yang kau sayangi pergi meninggalkanmu.” Krsytal mencoba menenangkannya

“Gwechana…aku memang belum sepenuhnya pulih dari perasaan itu”

“Seung…bisakah kita berbicara empat mata?” ujar Krsytal tiba-tiba.

“Mwo? Apa yang ingin kamu katakan?”  Seung Ho menyelidik.

“Ikut denganku” tanpa babibu ia menarik Seung Ho ke dalam ruangan kecil dekat dengan jendela dan jauh dari jangkauan orang-orang. Krystal benar-benar ingin berbicara empat mata padanya.

“Aku tahu hubungan Minho dengan Jiyeon. Awalnya kukira Minho benar-benar memutuskan Jiyeon saat ia sudah menjadi namjachinguku namun ternyata tidak. Karena itu aku membenci Jiyeon juga Minho. Kini aku tahu Jiyeon itu siapa” Krystal berhenti berbicara menunggu reaksi Seung Ho.

“Lalu apa permasalahannya. Kenapa aku harus mengetahui ini semua”

Krsytal menghela nafasnya sebentar. Ia menatap keluar jendela dan mulai menerawang.

“Saat itu…

Flashback

Pagi yang cerah saat itu gadis bernama Krystal sedang berlibur di rumah halmoni. Suatu ketika saat siang hari teman dari neneknya datang. Ia tidak setua neneknya tapi guratan diwajahnya membuat ia terlihat tua. Mereka berdua berbincang-bincang sedangkan Krystal sedang menonton TV namun fokusnya tidak pada acara apa yang sedang ia tonton melainkan obrolan yang diutarakan mereka berdua di ruang tamu. Suara-suara meninggi mulai terdengar lalu beberapa kali mereka hening. Krystal merasa bahwa neneknya tidak terlalu menyukai kehadiran si wanita itu. Krsytal merasa tidak enak hati dan menghampiri wanita itu ketika ia hendak keluar dari rumah neneknya.

“Josong halmeonimmnida, josong hamnida…halmoni tidak bermaksud begitu” Krystal membungkuk dua kali. Wanita itu menjadi tidak enak juga. Ia menepuk pundak Krystal dan tersenyum padanya.

“Gwechana…kamu tidak perlu meminta maaf” wanita itu pergi setelahnya.

Beberapa menit kemudian terdengar decitan rem mobil dan debaman keras setelahnya dari arah luar rumah. Krystal yang mendengar itu segera keluar dari rumah mencari asal suara itu. Dari kejauhan terlihat sebuah mobil berhenti tiba-tiba di tengah jalan. Ia penasaran suara yang ditimbulkan oleh mobil itu sangatlah mengerikan. Segera ia berlari menghampiri mobil hitam itu. Belum sampai ia dekat dengan mobil itu tiba-tiba mobil itu belok ke kanan seperti menghindari sesuatu. Lajunya sangat kencang. Ia hanya bisa melihat sosok seorang gadis sekilas di kaca spion yang terlihat sangat pucat. Tangannya bergetar ketakutan. Benar saja setelah mobil itu menjauh seorang wanita tergeletak begitu saja ditengah jalan. Darah begitu banyak mengucur dari balik kepalanya. Wanita itu adalah wanita yang tadinya baru saja berkunjung ke rumah Krystal. Melihat itu ia segera menelpon nomor rumah sakit.

Krystal menjadi gelisah karena identitas wanita itu belum ia ketahui. Akhirnya ia menitipkan wanita itu dirumah sakit. Ia belum tahu juga siapa yang menjadi keluarga wanita ini. Karena tidak mau melewatkan pekerjaannya juga ia meninggalkan wanita itu pada seorang pembantu di rumahnya. Ia berangkat kerja. Sebelum berangkat ia berencana mampir ke restoran Chun-dong memesan makanan. Sekeluarnya dari restoran ia melihat Minho yang notabene adalah namjachingunya tengah masuk ke dalam mobil hitam. Dengan mata telanjang Krystal bisa menangkap seorang yeoja tengah memeluk namjachingunya. Ia terlihat pucat. Meskipun kaca itu hitam Krystal bisa melihat dengan jelas siapa wanita itu. Sepertinya gadis itu baru saja ia lihat. Kemudian ia teringat akan kecelakaan yang menimpa wanita tua itu. Minho terlihat sangat perhatian dengan gadis itu. Ia sampai rela meninggalkan mobilnya kepada seseorang demi mengantarnya. Krystal benar-benar cemburu saat itu. Dia mengingat-ingat rupa gadis itu sebagai penyebab kecelakaan seorang wanita tua itu serta tidak mau bertanggung jawab.

Dua hari kemudian barulah Krystal tahu siapa wanita itu. Wanita itu adalah eommanya Seung Ho setelah Krystal menjenguk Seung Ho di rumah sakit. Pada hari itu Krystal memang tidak memberitahu apa-apa yang terjadi pada eommanya tapi ia tahu bahwa seseorang telah menabraknya.

Sampai suatu saat Krystal melihat kedekatan Seung Ho teman kerjanya bersama dengan Jiyeon yang menjadi tunangan Minho waktu itu. Krystal tahu betul itu dan dengan sengaja ia mengenalkan Minho sebagai kekasihnya dihadapan Seung Ho. Berharap hubungan Jiyeon dengan Minho akan kandas tapi ternyata tidak. Mereka justru direncanakan oleh kedua orang tua mereka untuk menikah setelah Jiyeon pulang dari Paris. Saat itu juga Krystal shock dan sangat tertekan mendapati kabar itu. Ia menjadi kesal dengan Jiyeon yang telah merebut Minho. Padahal jelas-jelas Minho lebih mencintainya dibandingkan dengannya.

Dari hari kehari Krystal berkunjung ke rumah eomma Seung Ho. Ia ingin menanyakan keadaannya dan menyelidiki sesuatu juga. Sampai suatu hari eomma Seung Ho mengalami koma kembali. Dokter mengatakan kalau kondisi pasien semakin parah dari hari kehari. Krystal menjadi khawatir. Ia diantara bingung dan bimbang akan memberitahukan hal ini pada Seung Ho atau tidak. Sampai beberapa bulan kemudian keadaannya bukannya membaik malah semakin buruk.

Krystal menghubungi Seung Ho setelah dirasanya keadaan omonim semakin membahayakan. Tapi sialnya Seung Ho sudah sekian lama ini tidak dapat dihubungi. Lost contact. Lewat e-mail juga pernah dilakukan olehnya. Akhirnya dengan terpaksa ia mengirim surat meskipun memakan waktu lama. Benar saja, ketika Seung Ho kembali omonim sudah tidak kuat lagi menghembuskan nafasnya. Seung Ho datang tepat pada waktunya. Ini sangat berat bagi Seung Ho. Krystal bisa merasakannya itu apalagi jika ia memberitahu kematian omonim yang disebabkan oleh Jiyeon. Oleh karena itu Krystal menunggu saat yang tepat untuk mengungkap ini semua.

Flashback end

“Kau tahu yang ingin aku sampaikan sebenarnya padamu kan?” Krystal mengakhiri pembicaraannya.

Seung Ho menatap Krsytal tercengang. Pikirannya bergemuruh sendiri antara percaya dan tidak. Ia sendiri telah merasa kehilangan dua orang dalam hidupnya. Eomma dan cintanya yaitu Jiyeon.

Apakah semua itu benar? Kamu tidak ingin menghasut Jiyeon kan? Akhirnya Seung Ho bertanya setelah beberapa menit hening tak ada respon apa-apa darinya.

“Aku bisa membuktikannya” ucapnya mantap.

Apa yang baru saja di dengar oleh Seung Ho sudah cukup pahit baginya. Pengakuan sesungguhnya dari Krystal sangat menyayat hatinya.

Dimana rumah sakit itu berada?

“Hallym Medical Center” Krystal membuatnya percaya. Selesai kerja Seung Ho datang ke rumah sakit Hallym. Jarak dari tempat kerjanya cukup dekat karena masih dalam wilayah Incheon. Ia meminta waktu bertemu dengan dokter yang pernah menangani eommanya saat Krystal terakhir kali membawanya.

“Pasien yang anda maksud memang mengalami tulang patah. Mungkin akibat kecelakaan yang pernah menimpanya. Beberapa saat kemudian tulang patah itu mengenai tumor yang berada dekat di bagian belakang kepala dekat tengkuk sehingga memperparah keadaan tersebut dan pada akhirnya ibu anda tidak mampu bertahan lama untuk hidup.” Paparnya menunjukkan detail-detail gambarnya melalui PC dan foto rongsen.

Seung Ho menunduk dan menyerahkan secarik note bertuliskan terima kasih. Akhirnya Seung Ho mengetahui kepastiannya. Ia merasa ia akan segera membenci Jiyeon. Kenapa dia tidak mau menolong eommanya saat kecelakaan itu? Seung Ho benar-benar membenci keadaaan ini.

Rasa kehilangan yang belum sepenuhnya pulih kini ditambah lagi dengan informasi penyebab kematian orang yang menjadi tumpuan hidupnya membuat ia depresi. Tekanan ini terlalu berat. Ia memapah kakinya melewati jalanan seperti mayat hidup. Tatapanya sendu tapi pikirannya kosong. Kebenaran ini tidak mungkin ia hindari. Jelaslah bahwa Jiyeon telah menghancurkan impiannya karena impian terbesarnya hanya untuk eomma. Perjuangan yang selama ini ia lakukan sia-sia sudah.

Angin berhembus lirih lalu berubah menjadi sedikit kencang. Sekumpulan awan mendung menyelimuti langit kota Incheon saat itu juga. Ia tak peduli dengan hiruk pikuk orang-orang yang tengah menepi karena hujan turun tiba-tiba. Pikiran-pikiran tentang kenyataan pahit itu lebih mengusiknya dibanding keadaan sekitar yang sudah menjelma menjadi hujan deras. Perlahan-lahan titik-titik air hujan memenuhi rambutnya mengalir di kepalanya. Kakinya kini bersimpuh di tengah jalan menunduk menangisi nasibnya. Saat kaki itu akan ia papah lagi untuk berdiri, kaki itu tak kuasa menopang berat tubuhnya yang kini lebih berat dengan tekanan batin yang ada didalamnya. Semua memori terputar kembali tapi itu benar-benar membuatnya pusing.

“God, you can punish me like this but I can’t able to live after this”

✿✿✿

          “Suho! Apa kabar? Nice to meet you!” Bryan menyapa Seung Ho saat memasuki losmennya, ia kembali ke kota Paris. Tujuan kembali kesana hanya ingin menyelesaikan studinya yang tertunda. Sudah sebulan ini ia meninggalkan Paris. Semua teman-temannya tahu musibah yang tengah menimpa Seung Ho jadi mereka berhati-hati saat berbicara mengenai keluarganya. Seung Ho mengangkat tangan dengan jari-jari tebuka lebar menandakan ia juga senang bisa bertemu dengan mereka kembali.

“Siapa Bryan?” suara seseorang membuat mereka berdua mengalihkan perhatiannya ke arah dapur. Suara itu sangat familiar bagi Seung Ho. Suara yang membuatnya kembali ingat akan kejadian sebulan yang lalu. Jantungnya mulai berdebar-debar, pikirannya kembali berseteru meyakinkan diri bahwa dia bukanlah yeoja penghancur hidupnya itu. Benar saja beberapa saat setelah itu sosok itu muncul. Park Jiyeon dengan santai membawa nampan berisi dua cangkir teh dan jajanan toples. Seung Ho menatap tak percaya pada Jiyeon, tatapannya sekarang bukanlah tatapan terkejut karena senang melainkan tatapan sinis dan sarat akan kebencian. Jiyeon yang hendak menyunggingkan senyum tertahan melihat ekspresi Seung Ho yang benar-benar berbeda dan diluar dugaannya. Ketegangan menyelimuti suasana diantara keduanya beberapa detik kemudian. Jiyeon terus mengatup mulut tertahan untuk sekedar mengucapkan satu kata karena melihat Seung Ho yang terus menatapnya tajam. Bryan yang menyadari keadaan tidak menyenangkan itu segera mengalihkan perhatian pada Seung Ho.

“Suho…mm…maaf sebelumnya, Jiyeon datang kesini karena dia bertanya padaku tentang kembalinya kamu kesini dan ternyata dia ingin menyambutmu setibanya kamu disini.”

Seung Ho kini menatap Bryan dengan tatapan masamnya. Setelah itu ia berjalan cepat ke kamarnya.

“Seung Ho…

BRAKK

Seung Ho berhasil membanting pintu sekeras mungkin. Mulut Jiyeon sukses menganga mendapati perubahan sikap Seung Ho yang tiba-tiba mengejutkan itu. Belum lagi tatapan sarkatis dan penuh amarah dari Seung Ho yang menyebabkan Jiyeon tidak berkutik sama sekali ketika akan menyambutnya.

“Sorry, Jiyeon I don’t know why Suho being like this. This is the first time Suho phlegmatic[1]” sesal Bryan.

“I’m Fine, maybe he has been angry with someone so that we affected inductance[2] by him” ujarnya. Jiyeon lebih memilih mengalah. Mungkin sekarang bukan saat yang tepat untuk menemuinya.

Di dalam kamar Seung Ho duduk termangu. Perasaannya terbagi menjadi dua. Disatu sisi ia tak menyangka jika Jiyeon adalah penyebab kecelakaan itu tapi disisi lain Jiyeon adalah orang paling dibencinya sekarang mengingat ia tidak mau bertanggung jawab dan eommanya telah lama menderita karena gadis itu. Ia mengacak rambutnya frustasi setelah semua hal terjadi begitu tiba-tiba dan menimpa hidupnya tanpa ada jeda sedikitpun.

“Kenapa semua terjadi begitu cepat?” fikirnya menahan rasa sakit akibat timbunan-timbunan musibah itu.

Semenjak kematian eomma Seung Ho mulai tak bergairah lagi untuk menggapai cita-citanya. Tawaran yang diberikan oleh kampus sekolahnya untuk direkrut perusahaan Prancis terkenal ia tolak tanpa pikir panjang. Padahal kesempatan itu sangat langka dan tidak datang untuk kedua kalinya. Teman-teman Seung Ho juga sangat kecewa dan menyayangkan keputusan yang diambil olehnya. Ia tidak berpikir dua kali dan menolak dengan sangat tegas dalam sekali ucap.

✿✿✿

            Seorang gadis dengan langkah gontai berjalan di trotoar tak tentu arah. Pandangannya tidak fokus pada jalanan meskipun suara klakson berlomba meninggikan bunyinya. Mereka tak tahu bahwa gadis ini tengah rapuh. Ia butuh seseorang untuk menegakkan hatinya kembali tapi orang itu justru menusuknya balik. Pikirannya semakin kacau, luka yang sudah ia tutup dan lupakan jauh-jauh tiba-tiba membuka kembali. Disaat ia butuh pertolongan disaat itu pula ia harus berdiri sendiri tanpa seorangpun yang akan peduli.

“Jiyeon!! Kau sangat PABO!” teriaknya pada diri sendiri. Orang-orang disekitarnya langsung menoleh tak mengerti dan takut-takut melihat tingkahnya. Saat ini juga ia bukan aktris meski faktanya ia adalah aktris teater sehingga tatapan aneh mulai mengintari gadis itu yang dengan frustasi mengacak rambutnya sendiri.

Sebelum kejadian tragis menimpa dirinya saat di Seoul itu ia tidak akan begini. Calon suaminya atau lebih tepat mantan pacarnyalah yang sekarang membuat hidupnya miris. Minho memutuskan dan meninggalkannya begitu saja saat ia kembali ke Seoul. Mendapati itu Jiyeon benar-benar terkejut dan benci sebenci-bencinya dengan Minho. Kenapa disaat ia berharap semuanya mulus dan hubungannya dengan Minho tidak ada penghalang, Minho justru mengkhianatinya?. Terlebih setelah ia mengetahui penyebab Minho memutuskan untuk meninggalkannya. Seorang yeoja!. Seorang yeoja yang tidak asing bagiku karena ia juga seorang artis dan dia adalah artis yang pernah satu tim kerja denganku. Dia teman Yoo Seung Ho, Krystal.

Baru saja, ia mendapat perlakuan aneh dari Yoo Seung Ho. Padahal ia bermaksud menyambutnya sekaligus meminta pertolongannya sebagai seorang teman yang selalu ada saat ia butuh. Baginya Seung Ho adalah teman istimewa dan entah mengapa ketika kembali ke Seoul ia rindu akan kehadirannya. Seung Ho memang namja pendiam tapi ketika ia membagi kesedihan cukup hanya dengan membagi pikiran saja ia merasa beban itu berkurang. Tak mungkin jika ia berbicara dengan Seung Ho layaknya orang normal. Meskipun begitu Jiyeon merasa bahwa hanya dengan Seung Ho ia dapat menyalurkan kegelisahannya lewat pikiran masing-masing.

Gadis berambut panjang itu mulai menepi di tempat duduk dekat pohon yang cukup rindang. Cuaca hangat yang melingkupi jalanan kota Paris seakan tidak mampu menghangatkan hatinya yang sedang dilanda kesedihan mendalam. Ia menghela nafas berat lalu menyeka airmata yang sedari tadi membasahi pipinya.

“Alasanku kembali selain untuk pekerjaan adalah kau! Jiyeon, kau harus kuat. Jangan pikirkan terus menerus masalah itu! Aku pasti bisa melewati ini!” tegasnya pada diri sendiri.

Ia menengadahkan kepala menatap langit yang sedang terik. Bibirnya tertarik kesetiap sudut membentuk sebuah senyuman. Namun semua itu tidak mampu mengalihkan kesedihannya, airmatanya terus mengalir dan berkali-kali tangannya menyeka dengan kasar sampai muncul suara sesenggukan.

✿✿✿

            Matahari menyeruak memasuki setiap kaca jendela kelas. Suara gaduh beberapa siswa terasa mengganggunya. Sejak kembalinya ia ke Paris untuk melanjutkan studi, semangatnya mulai turun. Ia tidak lagi punya harapan setinggi dulu. Keinginannya sekarang adalah melanjutkan hidup dengan mengikuti arus air yang akan membawanya kemana saja. Semua harapan terbesarnya pupus begitu saja setelah semua merubah hidupnya.

“Hey, quiet! Mrs. Doloren upcoming!” celetuk salah satu teman sekelasnya.

Suara gaduh itu tak mempengaruhi sedikitpun tatapan mata yang sedari tadi memandangi buku tanpa ekpresi. Lebih terlihat kosong daripada mencermati setiap halaman. Mrs. Doloren beberapa kali mengetuk mejapun ia tak bergeming.

“Hey, you, can you hear me? What’s going on?” tegurnya pada salah satu siswa yang sedang menatap kosong buku tebal diatas mejanya. Menatap murid bernama Seung Ho dengan tatapan penasaran. Dia terhenyak dari tatapan kosongnya beralih ke seruan yang dilontarkan Mrs. Doloren padanya. Ia menggeleng pelan lalu menutup bukunya memperhatikan Mrs. Doloren.

Pelajaran Mrs. Doloren terlihat cukup menarik sebenarnya tapi Seung Ho hanya mengisi setengah pikirannya terhadap pelajaran itu. Ditengah-tengah pelajaran Seung Ho tak sengaja menangkap sosok Jiyeon yang dirasa sedang memaksa sebuah senyum dibibirnya. Seung Ho segera membuang muka dan menutup tirai jendela saat itu juga. Lucas, teman satu bangkunya yang melihat itu sedikit terkesiap karena tirai menutup dengan suara yang lumayan memekik.

“Apa ia benar-benar lupa sikapku terhadapnya kemarin!” batinnya. Menghembuskan nafas berat.

Jiyeon yang berada diseberang sengaja berjalan melewati kelas Seung Ho tapi apa yang didapat olehnya justru sikap anehnya lagi yang sepertinya berusaha menghindari dirinya. Tirai yang awalnya terbuka saat itu juga ditutup rapat oleh Seung Ho. Ia menelan ludah menyaksikan itu. Tak habis pikir kenapa Seung Ho bersikap padanya seolah-olah dirinya adalah orang yang melakukan kesalahan fatal hingga membuat Seung Ho menjauhinya.

“Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu bersikap seketus ini, jujur aku semakin tersiksa” gumamnya lirih. Saat ini Jiyeon tengah berada di dalam toilet. Ia melihat pantulan dirinya di cermin dan tersenyum miris. Cairan bening mulai turun dari matanya. Ia tak kuasa menahan tangisnya mengingat kembali kejadian yang membuatnya benar-benar terpuruk. Setelah dirasa lama, ia mengeluarkan tisu dari sakunya dan menyeka airmatanya dengan cepat karena sebentar lagi kelas dimulai.

Di dalam kelas pun Jiyeon hanya setengah-setengah menerima pelajaran. Ketika Jiyeon di panggil untuk mempraktekan sedikit aktingnya, ia sama sekali tidak masuk dalam karaketer penjiwaan. Berkali-kali dosen menegur Jiyeon tapi tetap saja ia tidak bisa. Suasana hatinya telah memburuk.

✿✿✿

            Seung Ho menatap kamera tanpa berniat mengutiknya. Padahal ia tengah berada di tingkat paling atas gedung kampus dan disana pemandangan langit jingga sangat indah. Cahaya matahari sore memang cukup menyilaukan tapi suasana tenang di atas gedung ini menjadi alasan lain untuk ia berada disini. Seung Ho mulai tertarik untuk menyalakan kamera. Satu persatu gallery menampilkan recent photo, tangannya berhenti dan matanya terpaku ketika foto itu menampilkan seorang gadis tersenyum lebar ke arah Sungai Han. Mendapati itu tangannya beranjak menekan tombol delete tapi jemarinya tidak menekan tombol itu sedikitpun. Ia gamang, jarinya tetap menyentuh tombol tersebut tanpa menekan. Akhirnya ia hanya meletakkan kamera di atas bangku. Matanya kini beralih menatap langit jingga lalu mendengus nafas, kepalanya tertunduk. Dari arah tangga terdengar derap langkah seseorang. Seung Ho tidak terlalu mempedulikan bunyi itu, pandangannya jauh menembus cakrawala.

“Aku pikir kau sudah pulang? Bagaimana keadaan keluargamu di Korea?” Tanya seseorang. Suara seorang seorang gadis yang familiar mengejutkan dirinya tapi ia tidak menoleh sedikitpun. Pandangannya masih menerawang tapi tatapannya berubah menjadi sarkatis.

“Hmm…pemandangan yang indah bukan?” Ia berbicara kembali.

Dengan cukup sigap Seung Ho menoleh menatapnya tajam lalu diambilnya kamera yang tergeletak di bangku kayu dan pergi dari hadapannya. Jiyeon menolehkan kepala mengikuti gerakan Seung Ho, ia ingin menahannya.

“Chankaman! Wae ironi? Wae?!!” teriakkan Jiyeon terbilang kencang dan berhasil menghentikan langkah lebar Seung Ho. Ia memutar balik tubuhnya menghadap Jiyeon. Tatapannya sangat dingin. Jiyeon sedikit bergidik menatap matanya tapi ia tetap menatapnya meskipun menurutnya itu bukan tatapan biasa.

“Wae? Bilang padaku? Tulis disini!” sentaknya. Seung Ho tidak bergeming sedikitpun tapi semenit kemudian ia merasa semua isi dalam pikirannya harus ditumpahkan saat itu juga sekaligus entah mengapa ia tak kuasa menahan apa yang seharusnya Jiyeon tahu.

Apa kau tidak merasa malu? Apa kau tidak merasa pernah melukai orang lain? Apakah sebenarnya kau pengecut?”

Jiyeon segera mengambil notenya, ia terperangah mendapati kata-kata Seung Ho yang terbilang menusuk. Tidak pernah terpikir olehnya Seung Ho mengatakan kata-kata itu, pasti sesuatu terjadi yang menyangkut dirinya.

“Ak…aku tak mengerti maksudmu?” ujarnya sedikit terbata-bata. Seung Ho mengambil kamera menghidupkan kembali dan memperlihatkan foto yang ada di dalamnya. Foto seorang yeoja tua, eomma dari Seung Ho. Jiyeon hanya mengernyit bingung. Apa hubungannya dengan Jiyeon. Ia berpikir keras dengan apa yang Seung Ho ingin beritahukan tapi percuma ia tetap tidak mengerti apa yang Seung Ho ingin sampaikan.

Kau tak ingat apa yang pernah kau perbuat terhadap wanita tua dijalanan yang meringkuk kesakitan karena sebuah kecelakaan yang menyebabkan wanita tua itu meninggal?!!

Pernyataan Seung Ho telak membuatnya terpaku. Bagaikan petir yang menyambar hatinya dikala gelap berada di atasnya. Ia memang pernah menjadi seorang pengecut saat kecelakaan itu ia tidak sedikitpun menoleh hanya untuk sekedar melihat siapa korbannya. Ia lari begitu saja tanpa sebuah pertanggung jawaban.

Dia adalah eommaku

BAMP!!

Pernyataan itu semakin membuatnya terpuruk. Ia tidak sanggup menatap Seung Ho lagi. Ia berlutut dihadapannya. Airnya matanya mengalir dengan cepat menuruni permukaan kulit mulusnya.

“Mianhae…jeongmal mianhae” isaknya.

Seung Ho tidak tahan untuk tetap pada posisinya. Ia melenggang pergi dan meninggalkan Jiyeon seorang diri. Ia tak tahu bahwa tangisnya mulai meledak saat itu juga. Jiyeon berusaha untuk berdiri dan mengejar Seung Ho tapi kakinya tak kuasa untuk berjalan beberapa langkah saja menuruni tangga. Akhirnya ia hanya bisa meringkuk dan menangis lirih di sudut tangga.

“Don’t cry…” suara berat seseorang menghentikan aktifitas Jiyeon untuk menangis, ia memandang sapu tangan yang disodorkan padanya.


[1] Bersikap dingin

[2] Terkena imbas

Tbc~~~

Entry filed under: Chaptered, Drama, f (x), FanFiction, Indonesia, Life, PG, Romance, Sad Romance, SHINee, T-ara, Yo Seung Ho. Tags: .

Songfict – First Love [Donghae Vers] I Remember You ( Paris I’m in Love ) – Chapter 1

2 Comments Add your own

  • 1. windy  |  July 4, 2012 at 5:00 PM

    critaxa blum hbis kn??
    kluarin part slanjutxa dong..
    please…
    gomawo..

    Reply
  • 2. nissa  |  July 3, 2014 at 11:02 AM

    semuanya udah terbongkar.
    aku benci minho krystal.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 513,030 hits

Day by Day

June 2012
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: