Greatest Love [Part 5]

June 21, 2012 at 8:20 PM 1 comment

Title                 : Greatest Love

Author             : Yanlu

Genre              : Sad Romance

Cast                 : Yoo Seung Ho, Park Jiyeon, Choi Minho, Krystal

Rating             : PG-15

Prolog| Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4

Maret, 2010

Seminggu lagi Jiyeon akan pulang ke Korea. Karena tidak ingin melewatkan saat-saat terakhir, aku sering datang ke tempat latihan dengan alasan ingin memotret sebagai pelengkap karya ilmiahku. Mungkin dia tidak merasa terganggu karena dia tidak tahu siapa potret yang ku ambil. Gambar itu adalah dirinya. Ini sedikit berlebihan kurasa, namun mampu mengobati rasa sakit yang sebentar lagi dipastikan akan berlanjut lebih dalam lagi.

“Suho…” seseorang menepukku tiba-tiba hingga membuatku terperanjat dan menyembunyikan kamera yang sedang kunyalakan.

“Aku tahu, sedari tadi kamu terus mengambil gambarnya, why?” Tanya Bryan yang memang ikut ke tempat latihan Jiyeon.

Aku hanya tersenyum, sekilas kening Bryan mengernyit tak mendapati jawaban apapun dariku. Kemudian ia beralih menolehkan kepala ke pegawai penata panggung yang sedang memanggilnya. Lalu dengan langkah lebar ia berlari setelah sebelumnya menepuk pundakku. Aku melambaikan tangan setelah ia kembali melakukan pekerjaannya. Ia menjadi pegawai penata panggung musical yang akan diselenggarakan hari ini. Musical berlangsung pada malam hari. Jiyeon adalah pemeran utama. Sekarang cita-cita menjadi pemain drama musical sukses ia raih. Meskipun aku tidak terlalu menyukai drama musical, antusiasmeku sama seperti penonton yang baru pertama kali melihat pertunjukkan ini. Untuk pertama dan mungkin untuk terakhir kalinya aku menonton panggung musical.

Demi melihat penampilan spektakulernya yang sekarang mampu ia gapai dengan tinggi. Menjadi actor utama musikal. Aku menunggunya disetiap latihan. Memberi support supaya ia bisa tampil istimewa di panggung nanti. Ini akan mejadi terakhir kalinya aku menonton di panggung maupun di layar kaca. Setelah ini aku tidak mungkin tahan untuk melihatnya, air mataku akan terus menetes mengingat ia bukan lagi seseorang yang pantas dicintai olehnya setelah mempunyai hubungan resmi dan ikatan suci dengan orang lain.

“Melelahkan sekali…tsk!” dia berdecak kesal lalu menerima minuman yang aku sodorkan untuknya. Meneguknya dengan cepat sampai-sampai hanya menyisakan ¼ isi botol dalam sekali tegukan.

“Gomawo…” dia memamerkan deretan giginya tersenyum lebar. Senyuman yang mengisi kehangatan disetiap rongga dadaku. Saat ini aku cukup bahagia, cukup hanya melihatnya berdiri disana, melihat aura keistimewaannya, mendapati binar kebahagiaan lewat matanya saja sanggup mengganti keresahanku tentang perasaanku padanya yang kian dalam.

✿✿✿

          Alunan dawai biola mulai menggema di gedung Opera garnier. Lantunan instrument berubah menjadi sebuah orchestra nan indah yang sanggup membuat ratusan penonton ber‘wah’ ria di acara openingnya. Semua penonton mulai antusias setelah rentetan music perlahan-lahan mengecilkan suaranya berubah menjadi alunan biola saja yang terdengar menandakan sebuah penutup dari lantunan instrument yang baru saja membahana.

Suasana panggung sedikit berubah gelap dengan sorot lampu yang menyorot hanya pada bagian tertentu. Kasur besar dengan rapi tertata di panggung dengan gerakan luar biasa cekatan dan terlihat sangat berirama dengan gerak gerik pemain dan music pengiringnya. Seorang gadis terduduk diatas kasur lalu mulai bernyanyi.

Every day…every night…I always spent night alone without anybody…

Oh~ always like this…always like this…

Until when? I don’t know, but even I spent night alone

I always meet someone in my dream.

I see you but your face always blind my eye

You take me away, run and run again…

Until my foot drew blood

You still keep my hand in your hand

Grip tight behind that run..and then run again

That is my dream…would that dream become true?

Jiyeon mulai tidur terlelap diatas kasurnya setelah ia menutup jendela kamarnya. Panggung berubah mengepulkan asap. Setelah asap mulai menipis tiba-tiba latar berubah menjadi padang rumput diikuti Jiyeon yang sedang di gandeng oleh seorang lelaki. Laki-laki itu menggunakan topeng. Cahaya lighting mengarah penuh dia atas kepala lelaki itu. Sehingga memberikan efek samar terhadap pantulan wajahnya.

“Stop…stop, please. I can’t run anymore again.” Jiyeon meronta meminta dilepaskan ketika lelaki itu terus menariknya. Namun permintaannya tak di gubris sama sekali. Ia terus menariknya sampai masuk ke dalam tirai hitam di bagian kanan panggung. Latar berubah menjadi kerajaan di background. Lalu Jiyeon keluar melalui lubang pintu berlatar kerajaan. Di situ ia terlihat bingung dengan apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Dia mengintari bangunan kerajaan lalu terlihat lelaki itu lagi sedang duduk di tahta kerajaan. Ia menyambut Jiyeon tapi Jiyeon masih memincingkan mata karena wajahnya sangat menyilaukan. Setelah itu lelaki itu membawa Jiyeon ke bagian taman kerajaan. Mereka berdua duduk-duduk di kursi. Pengawal tidak ada yang ikut mengiringi lelaku itu lagi. Laki-laki itu tiba-tiba saja menggenggam tangannya lalu mengusap rambut Jiyeon. Jiyeon tersentak namun lama-lama ia menikmatinya. Jiyeon menutup pandangan matanya karena ia tidak mampu melihat wajahnya pancaran cahaya yang begitu menyilaukan untuk matanya.

This is, that man…

Follow in my dream

Who are you?, I can’t see your face

Face which always cover with the light

Turn off your light, because its blinded me

What are you possible in my life?

Or would you be my future live?

Tiba-tiba cahaya dari laki-laki itu perlahan-lahan meredup. Wajahnya sangat jelas terlihat. Jiyeon terkejut dibuatnya. Ia menatap laki-laki itu dengan mata berkaca-kaca. Ia mendekap erat lelaki itu. Tangannya menyetuh pinggang lelaki itu, terlihat sekali kalau Jiyeon mengeratkan pelukannya.

This is me…

Your future husband

Nice to meet you again…

Lalu lampu panggung perlahan meredup. Mereka berdua tampak menghilang dari pandangan.

Adegan pelukan itu sedikit menggoncang perasaanku. Jantungku mencelos. Seandainya kenyataan di dalamnya adalah aku yang dipeluk. Meski hanya sekali untuk selamanya.

“Oh my…ternyata itu masih mimpi.” Jiyeon terbangun dari tidurnya. Latarnya kembali seperti semula saat Jiyeon sedang berbaring di kasurnya.

Goodness, finally I know his face

While I be his friend, he is my future husband

I’m so happy

While I’m waiting in here…and here

Apparently you will come back again

In my live, fill my heart with your love

It’s only dream, but would it dream come true?

Lagi-lagi Jiyeon bernyanyi sendiri. Menunjukkan muka sedihnya. Ternyata ia dalam penantian panjang terhadap temannya yang sudah lama ia sukai. Harapannya akan berjumpa sangatlah besar.

Panggung kembali berhenti diikuti redupan lampu. Latar panggung kembali berubah. Jiyeon seperti berada di taman lalu tiba-tiba pesawat helicopter menghampiri Jiyeon. Seorang pemuda turun dari helicopter dengan muka berbinar. Jiyeon terlihat agak memincingkan mata karena pemuda itu berada tepat di depan sinar matahari yang terlalu menyilaukan bagi Jiyeon untuk membuka matanya lebar-lebar. Lighting  mulai dimainkan. Setelah mampu menyesuaikan pandangan matanya, Jiyeon beberapa kali mengucek matanya. Ia ternganga dengan sosok di depannya dan berkali-kali menepuk pipinya. Antara rasa tidak percaya dan kaget.

See to me…

come with brightly and shine

Come on, I want to bring you in some place

Reach my hand and fly to the sky

This is me…your dream

Jiyeon tersenyum. Tangannya meraih uluran tangan yang diberikan oleh pemuda itu. Sedikit antusias melihat reaksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Benar saja pemuda itu membawa pergi Jiyeon dengan pesawatnya. Aku yakin pesawat-pesawatan itu tertambat dengan kuat. Talinya saja terlihat sangat besar. Dari kejauhan bisa terlihat.

Pada bagian intinya, Jiyeon bersedih kembali. Mimpi malam yang biasa ia temui perlahan semakin tidak jelas. Biasanya mimpi itu berakhir dengan pemuda itu melambaikan tangannya lalu Jiyeon merasa ia akan pergi jauh dan tidak akan pernah kembali lagi. Ia merasa mimpi itu terlalu nyata dan benar-benar membuat hatinya gelisah apalagi mengingat pemuda yang menjadi lawan mainnya kini berakting sedang mengalami sakit parah yang belum diketahui obatnya. Penyakit yang sangat aneh.

Malam saat kegundahannya memuncak ia terus menyanyi. Diary didalam lacinya di keluarkan. Ia menuliskan sesuatu. Diary yang menjadi saksi hidupnya ketika perjanjian itu berlangsung. Janji suci saat kecil.

I have a dream

that I’ve had for a long time…

When will I be able to meet it?

But I…at any time…at the same place…

Tears from lack of confidence

dampen my cheeks.

f day after day passes by,

losing the way with the wind…

Perlahan-lahan lagu itu memenuhi kepalaku.  Bayangan Jiyeon berkelebat di dalam pikiranku.

I’m afraid that my dreams

will start to disappear.

Like I’ve promised a long time ago, within my diary…

I wish that you didn’t get exhausted

day after day.

I was so nervous…

Even though I’ve even cried…

Perlahan-lahan air mata Jiyeon menetes. Pada saat bersamaan aku menitikkan air mata. Lirik itu terngiang jelas di kepalaku. Entah mengapa aku mudah tersentuh saat ini. Pikiran tentang perpisahanku dengannya benar-benar tercantum dalam lirik itu. Aku takut ini hanya mimpi. Mimpi yang akan menghilang bersama waktu. Akan menghilang selamanya tanpa pernah bisa kuraih dalam kenyataanya.

 

Day after day, being carried by the wind…

my dreams fill me up….

Like I’ve promised a long time ago, within my diary…

I wish that you didn’t get exhausted

day after day.

I wish that you didn’t get exhausted

day after day.

Jiyeon sukses menitikkan air mata ketika lagu itu ia selesai ia nyanyikan. Suara sesenggukan mulai mengisi telingaku. Aku sendiri tak tahan melihat kelanjutan ceritannya. Hingga kuputuskan untuk keluar dari gedung opera ini.

Diluar jalanan lampu-lampu gedung kota menyala kelap-kelip membawa suasana keramaian kota. Mobil terus berlalu lalang, orang-orang berjalan menyibukkan diri. Namun itu tidak membantu membangun suasana hatiku yang sedang dalam perih. Air mataku memang tak mengalir kembali seperti tadi namun perasaan sesak akan Jiyeon terus menggelayutiku. Tinggal 6 hari lagi dari sekarang aku harus merelakannya. Tidak pantas jika dikatakan melepasnya karena aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah seorang teman yang kebetulan bertemu di suatu negara dan tempat kelahiran yang sama.

“Gomawo Jiyeon, kau telah menjadi teman terbaik untukku”

✿✿✿

            Hari-hari berikutnya aku merasa malas melakukan pekerjaan. Karya ilmiah yang seharusnya selesai hari ini pun tidak kusentuh sama sekali. Kertas-kertas dan tumpukan buku-buku berserakan diatas meja.

“Ck…Suho, bangun! Kalau nggak aku siram pake lumpur, mau? Come on, let’s go to campus!” Bryan membangunkanku yang sedang menggeliat malas di kasur. Aku berdecak kesal dan segera bangun karena tidur panjangku diganggu. Sudah dua hari ini aku malas melakukan aktifitas pemotretan. Saat membuka mata aku segera menilik jam di meja samping tempat tidurku. Sudah pukul 08.00 dan itu masih sejam lagi aku harus berangkat. Tapi kenapa Bryan membangunkanku sepagi itu. Merasa kurang puas aku berbaring lagi tapi sebelum seluruh badanku menempel pada kasur Bryan menahan punggungku. Aku berdeham keras padanya lalu membetulkan posisi menjadi duduk.

“Suho! Kau malas sekali, mandi sana!” Bryan berteriak kencang di telingaku. Membuat aku menutup telinga supaya telingaku tidak tuli tiba-tiba hanya karena teriakkannya.

Aku mengambil jam weker, menunjukkan pada Bryan jarum jam di angka 12 dengan memutarnya yang menandakan masih satu jam lagi aku harus berangkat. Tapi dia menggeleng cepat.

“Baiklah, kalau begitu aku harus mengusir Jiyeon” Bryan menurunkan kaki dan berjalan mendekati pintu.

Aku beranjak bangun mendengar nama Jiyeon. Lantas aku menahannya untuk pergi dan berjalan mendahuluinya. Tanpa mengucek mata dan muka setengah kucel karena cuci muka ala kadarnya, aku segera menemuinya. Di ruang tengah kulihat dia sedang menyeruput minuman dari cangkir yang mungkin telah dibuat oleh Bryan.

“Wuah…mukamu belum dicuci ya? Tsk…hmft badanmu juga masih bau, sana mandi dulu” Jiyeon sedikit mendekat kearahku saat mendengus tadi. Menjepitkan hidungnya dengan tangannya sendiri setelah mengendus badanku. Aku menatapnya tajam namun dia malah tersenyum mengejek. Membuatku ingin segera menyingkir untuk mandi dan merapikan diri. Bryan datang dari arah dapur membawakan banyak makanan. Aromanya tercium tajam di hidungku membuat cacing diperutku keruyukan minta makan.

            “Dasar namja! Kalau saja ada gadis kesini baru ia mau menyiapkan dan mengeluarkan semua makanan, tapi kalau teman laki-lakinya sendiri boro-boro memberi makanan memberi cemilan saja kadang-kadang” batinku.

Entah kenapa setelah aku berpikiran begitu sambil memandangi apa saja yang ada di meja, Bryan langsung membalikkan badannya ke arahku dan menyuruhku cepat-cepat mandi. Tsk…Menyebalkan!

Sudah cukup lama aku tidak kunjung keluar dari dalam kamar. Pikiranku terus menahan kaki ini untuk tetap disini. Otakku memerintah untuk tetap berdiam diri disini. Aku dalam misi penghindaran untuk beberapa hari ini. Pasalnya sebentar lagi Jiyeon akan menjadi utuh milik seseorang sehingga aku perlu membiasakan diri untuk tidak melihatnya serta itu mempermudahkanku untuk melupakannya. Untung saja Jiyeon tidak berpikir lagi untuk mengundangku kesana. Jika saja itu terjadi dengan sangat tegas aku sepenuhnya menolak menghadiri acara itu meskipun aku tidak secara langsung aku menolak undangannya.

“Suho!!! Sedang apa kau di dalam? Jiyeon sudah pergi tuh!” Bryan berteriak lagi di depan pintu.

Lamunanku terhenti dan segera menyadari perkataan Bryan barusan. Jiyeon pasti sudah bosan menunggunya. Ku buka kenop pintu dan

HUH…

Sial, ternyata buka Bryan yang berada didepan pintu melainkan Jiyeon yang sedang tersenyum, padahal jarak diantara kami cukup dekat, tadinya aku ingin memukul Bryan karena terus berisik tapi perlakuan itu berubah menjadi canggung saat Jiyeon semakin mendekat lalu dia mengendus-ngendus seperti anak anjing.

“Hm…sudah wangi, kajja!” ajaknya.

Aku mengekor di belakangnya. Kulihat Bryan sedang menenteng tas berjalan menuju pintu depan. Saat Bryan menengok ke arahku ku layangkan tatapan mengancam padanya karena telah mengerjaiku. Dia hanya membalas dengan mengerdipkan sebelah matanya lalu terdengar tawa puas saat ia menutup pintu.

“Dua hari ini kemana saja? SMS tidak pernah kau balas, wae?” Jiyeon bertanya sambil terus berjalan mendekati pintu.

Aku sibuk. Jawabku hanya dengan isyarat. Dia mengangguk paham tapi ketika kulihat ia akan membuka mulut aku mengalihkan lagi supaya tidak bertanya lebih jauh tentang kesibukan apa yang aku kerjakan.

Jiyeon, kita jalan kaki saja ya! Sekaligus olahraga. Kulihat dia mengangguk lalu berlari mendahuluiku sebelum aku mulai berlari.

“Seung Ho, kau lambat sekali” Jiyeon menegok kebelakang saat mendapati aku ketinggalan jauh.

Aku tidak mau ketinggalan. Ku kerahkan tenaga untuk berlari sekencang mungkin. Akhirnya aku jauh di depan. Jiyeon dengan lucunya berbelok ke jalan kecil yang berada di sampingnya lalu berlari-lari kecil mengelilingi bundaran. Aku hanya geleng-geleng kepala.

Ck ck…dasar perempuan! Tidak mau mengalah. Tanpa kusadari senyumku mengembang melihat tingkah lucunya. Dia melambaikan tangan mengucapkan ‘goodbye’ saat aku berlari mengejarnya. Dia kembali lewat jalan raya, menghentikan lari paginya dan memilih duduk di tepi jalan trotoar. Untung saja jalan yang kami lewati lumayan sepi.

“Setengah jam lagi pelajaran dimulai tapi kita istirahat dulu sebentar, aku capek!” dia mengipasi diri dengan tangan. Bulir-bulir keringat berjatuhan di kening dan pelipisnya. Inisiatif, aku merogoh tas mencari sapu tangan. Lagi-lagi sapu tangan kenangan itu yang terbawa. Jiyeon menatap tanganku cukup lama. Menatap sapu tangan itu kurasa. Beberapa detik kemudian ia menerimanya dan mengelap seluruh keringat di wajahnya.

“Gomawo, tapi sekali lagi kau membuatku malu saat mengingat pertemuan pertama kita dengan sapu tangan ini.” Dia tersenyum malu padaku membuatku sedikit gemas. Aku mencubit pipinya. Dia mengaduh kesakitan dan memukul tanganku.

“Appo!” Jiyeon merengut memandangku. Aku tertawa melihatnya tapi hatiku berdesir bahwa tawa ini adalah tawa yang menjadi akhir bagiku untuk melihatnya.

Aku menggandeng tangannya untuk segera bangun dan pergi menuju kampus. Anak-anak mulai berhamburan masuk. Tiba-tiba Lucas dan Bryan menghampiriku dengan mimik senang.

“Aku membawa berita gembira untukmu Suho!” katanya.

“Kau di tawari di sebuah perusahaan iklan produk kosmetik” Bryan menambahkan.

Aku menatap bergantian ke mereka berdua dan juga Jiyeon. Jiyeon memiringkan kepala sekilas yang berarti aku harus mengambil kesempatan itu.

Tapi bagaimana dengan perusahaanku di Korea. Ini tidak permanent kan?. Aku bingung jika saja ini bukan kontrak kerja maka tidak masalah aku menerima tawaran ini.

“Aku pikir ini hanya sementara, lumayan Suho, kau bisa menambah biaya kuliah dan hidup disini, ini kesempatan langka bisa ditawari perusahaan kosmetik tingkat dunia sebelum kau mendaftarkan diri untuk kerja” Lucas berbinar-binar menjelaskannya. Aku turut berbinar, masa depanku semakin dekat untuk kuraih. Jiyeon mengangguk diikuti anggukan yang lain. Mereka terlihat antusias melihat kelanjutan responku.

Well, itu tawaran yang langka. Baiklah aku mau tapi dimana aku harus menemui mereka?. Tanyaku pada mereka berdua.

“Di ruang dekan kau bisa bertanya lebih lanjut”

Aku berjalan menuju ruang dekan guna mencari tahu lebih lanjut. Ini tidak boleh disia-siakan. Selama ada jalan menuju roma kita tidak boleh berhenti di tengah jalan. Di ruang dekan aku berbincang-bincang tentang tawaran ini. Keluar dari ruang dekan, mereka bertiga menghampiriku.

“Otte? Apakah tawaran itu sudah kau pikirkan?” sembur Lucas.

Kupandangi mereka satu persatu dengan ekspresi yang kubuat datar. Mereka semua benar-benar menunggu jawabanku. Tapi aku mengalihkan perhatian melihat jam yang tepat saat itu jam 09.00.

“YA!, Suho kamu mau kemana, daritadi kami menunggu eh kamu malah ninggalin kita!” Bryan berteriak saat aku berlari sambil menggandeng tangan Jiyeon. Tanpa kusadari tanganku menariknya. Sesaat sebelum berpisah di dekat tangga aku melepasnya. Dia sedikit canggung begitu juga denganku.

Mianhae. Geurae…Aku tak sengaja, menunduk tak berani untuk bertatapan dengannya.

“Gwechana, mungkin kamu tidak sadar, um…aku pergi dulu” Jiyeon permisi dan berjalan menjauh tanpa menyunggingkan senyum padanya. Aku jadi merasa bersalah karena telah membuatnya canggung.

✿✿✿

Februari, 2010

Sesudah berakhir bulan Januari, kini tinggal 1 hari waktuku bersama Jiyeon. Malam mini aku mengajaknya keluar untuk jalan-jalan. Jiyeon menyanggupi ajakanku tapi sudah setengah jam lamanya ia belum juga datang. Perasaan khawatir mulai menggelayutiku.

Satu jam kemudian, ku panggil nomor teleponnya. Ia mengangkat panggilan itu, tanpa mendengar suara lebih lanjut aku mematikan ponsel. Tak perlu mendengar terlalu lama karena tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya, hanya saja jalanan menuju kesini padat. Beberapa menit kemudian terlihat dari kejauhan siluet tubuh seorang wanita berbalut kaos pendek dengan rompi jeans dan celana pensil putih menghampiriku. rambut panjangnya dapat kukenali. Ia tersenyum lebar ke arahku.

“Kita mau kemana? Kamu mengajakku bukan untuk proyek kan?” selidiknya.

“Ani. Aku mau ke taman dekat menara Eiffel, hanya ingin menghabiskan waktu” gumamku.

“Ne?” Jiyeon menatapku mengekspresikan keterkejutannya.

“Ani, kajja!” aku mengajaknya untuk naik bis.

Aku memang ingin menghabiskan waktu sesaat. Sesaat untuk pelepasan hati. Sebelum semuanya menjadi penyesalan diakhir. Karena penyesalan selalu datang diakhir. Penat yang mengusikku, perasaan cinta yang terpendam, semuanya. Aku ingin mengungkapkan itu malam ini juga. Aku cukup menyadari resikonya tapi lebih baik jika ia mengetahui semuannya. Mungkin ia akan berubah. Mungkin saja sesungguhnya tak mencintai Minho atau Minho akan menghkhianati dia kembali.

Jinjayo?. Apa yang sedang aku pikirkan. Seharusnya aku benci jika Minho benar-benar mempermainkannya. Batinku berkecamuk.

Semilir angin yang lembut menerpa kulit saat aku duduk di taman. Dikejauhan sana dapat kulihat kokohnya menara Eiffel beserta lampu hiasnya yang membawa keindahan tersendiri saat melihat itu dari kejauhan. Jiyeon ikut duduk disampingku, menatap lurus ke menara Eiffel. Sepertinya ia melamun. Aku ingin membuatnya nyaman lebih dulu sebelum aku menuju tujuan utamaku. Dari sorot matanya ia tampak menerawang memikirkan sesuatu. Mungkin ada sedikit masalah yang mengusik pikirannya.

Menara Eiffel lebih indah ya di malam hari? Aku menulis note. Reaksinya benar-benar menunjukkan kalau ia sedang melamun.

“Eh?Hemb…” jawabnya, sedikit terkejut kemudian kembali pada lamunannya. Tatapanya juga sedang menerawang jauh kemana.

“Daritadi kamu terlihat murung? Apa ada masalah?” dia menengok menatapku cukup lama.

“Aniya, hanya saja aku rindu pada seseorang” tuturnya seraya menatap menara Eiffel.

Pasti Minho, tak perlu kutanya siapa dia. Batinku.

“Entah kenapa tiba-tiba aku ingat masa kecilku, dulu aku pernah punya seorang teman sepertimu, dia bisu. Dulu aku sempat menyukainya tapi akulah yang pergi dari kehidupannya. Mungkin dia sudah lupa bahkan kalau saja kita ditakdirkan untuk bertemu kembali semua itu hanyalah masa lalu. Cinta monyet.” Ungkapnya, Tumben sekali Jiyeon bercerita masa lalunya.

Setelah sekian lama saling diam aku mencoba memecah kesunyian dengan mengambil buku kecil di dalam jaketku. Dia ikut penasaran terbukti saat aku menyerahkan ia langsung membolak-balikkan sampulnya.

“Apa ini?” Jiyeon masih belum mengerti. Padahal disitu ada tulisan album foto.

Huh? Kau ini payah sekali, disitukan ada namanya. Aku menunjukkan label nama yang terpampang disana. Dia mengernyit lalu sedikit memanyunkan bibirnya kesal. Ternyata pendengarannya tajam juga.

“Album? Wah…ini foto-fotoku, bagaimana kau melakukannya. Dimana kau mengambil gambar-gambar ini? Jangan-jangan kamu penguntit ya?”

PLETAK!!

“Aw…appo!” Jiyeon meringis kesakitan, lalu memukul lenganku.

Makanya jangan asal nuduh. Untuk apa aku mengikutimu?. Memangnya aku stalker?

Aku menepis peenyataannya. Tidak bisa dikatakan penguntitlah, sedangkan setiap kali kita bertemu aku selalu mengambil beberapa gambarmu. Hanya saja kau tidak menyadarinya.

“Baiklah…lalu kenapa kau malah menyerahkan ini padaku?” tanyanya. Kentara sekali ia bingung, sepasang alisnya menyatu.

“Ini kenang-kenangan dariku untukmu sekaligus hadiah pernikahan. Dengan foto-foto ini aku harap kamu tidak melupakanku dan pertemanan kita selama ini.” Terangku dengan penuh penekanan mengatakan pertemanan kita.

“Gomawo Seung Ho, aku akan menyimpan ini baik-baik. Aku juga berharap kamu tidak melupakanku meski aku nanti akan menjalin rumah tangga” ungkapnya sembari membalik halaman album.

Apakah selama ini kau merasakan sesuatu keanehan terhadapku? Aku memulai pembicaraan serius padanya. Ia menoleh dari album yang dilihatnya ikut menatapku serius.

“Maksudmu?” tanyanya, alisnya kembali bertaut kebingungan.

Aku ingin menyatakan sesuatu padamu sebelum aku menyesal. Mungkin ini sangat lancang tapi perasaan yang terus menyesak ini membuatku harus mengeluarkan segala sesuatu yang membuatku semakin sesak. Semakin hari perasaan itu tumbuh berkembang, perasaan itu terlalu menyiksaku dan setiap pertemuan itu setiap itu pula aku semakin menyadari bahwa saranghaeyo Jiyeon-ah.

Aku belum mendapati responnya, ia tidak menatapku melainkan menunduk. Bisa kulihat ia menghela nafas berat dan kemudian berusaha menatapku kembali. tatapannya benar-benar serius. Aku mencoba membaca manik matanya tapi aku sendiri yang tak kuasa untuk sekedar menatap membalas tatapanya. Tatapanku justru pada menara Eiffel yang hanya diam membisu, tidak membantuku sama sekali bagaimana aku bersikap padanya setelah ini. Aku terus merutukki diri sendiri terhadap apa yang kulakukan barusan. Ia hendak membuka mulut tapi aku menyerahkan noteku lebih dulu.

Aku cukup sadar jadi kau tidak perlu menjawab. Mungkin malam ini akan menjadi perpisahan kita. Hari-hari berikutnya semoga kamu bahagia dan bisa menjaga perasaan satu sama lain. Aku memilih berdiri kemudian pergi darinya tanpa mendapati terlebih dulu reaksinya. Sampai 5 langkah aku berjalan tidak ada suara yang terdengar. Jiyeon masih mempertahankan posisinya. Aku menoleh kembali ke arahnya berusaha untuk tersenyum namun Jiyeon menatapku dengan tatapan yang seakan aku baru saja memberitahukan hal buruk. Dia diam tanpa mengedipkan mata dan sedikit kesedihan di dalamnya, tapi aku tak mau terlalu percaya diri kalau ia benar-benar menatapnya dengan tatapan sedih.

“Mianhae Seung Ho, Jeongmal Mianhae…”

✿✿✿

Author POV

Seung Ho berjalan memunggungi Jiyeon yang menatapnya dari kejauhan. Jiyeon menggumam sesuatu namun sudah tak dapat dijangkau oleh pendengaran Seung Ho apa yang Jiyeon ungkapkan.

“Mianhae Seung Ho, Jeongmal Mianhae kalau saja aku lebih dulu bertemu denganmu sebelum Minho aku akan memilihmu.” Gumamnya lirih.

Malam itu Seung Ho tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan betapa bodohnya ia dengan mudah mengungkapkan perasaannya sendiri disaat pernikahan mereka tinggal sejengkal lagi. Bukankah itu akan mengganggu pikiran Jiyeon? Ia mengacak rambutnya frustasi. Tapi jujur saja ia merasa sangat lega mengutarakan isi hatinya.

“Lagipula Jiyeon tidak akan terlalu mempedulikan pernyataanku itu karena orang yang spesial di hatinya hanyalah Minho.” Batinnya kembali merasa sesak ketika mengingat Minho adalah calon suami yang akan segera dinikahi Jiyeon.

✿✿✿

April, 2010

Seminggu semenjak kembalinya Jiyeon kampus libur beberapa minggu. Hari ini Seung Ho berencana pulang ke Korea melihat keadaan eommanya. Informasi terakhir yang didapat melalui rekan kerjanya di korea adalah eomma baik-baik saja. Melihat pesawat lepas landas hatinya berbungah-bungah, namun terkadang juga ia kembali ingat tentang Jiyeon. Kepedihan di hatinya belum sembuh. Alih-alih ia akan bertemu dengan Jiyeon setibanya disana tapi bersama Minho.

“Bryan, jangan lupa setiap malam tutup semua jendela dan kunci rapat-rapat pintu kamarku!” Seung Ho memberitahunya saat memasuki pintu masuk passenger. Bryan mengankat tangan kanannya menunjukkan jempol. Seung Ho melambaikan tangan padanya dan segera masuk kedalam antrian.

Suasana bandara Incheon seperti biasa padat dengan penumpang. Seung Ho berlari kecil mendekati pesawat. Ia sedikit terlambat menuju bandara terlihat dari tangga pesawat yang mulai naik. tapi akhirnya ia bisa masuk meskipun sedikit kesulitan tadi. Perjalanan Paris-Seoul memakan waktu cukup lama. Seung Ho benar-benar bosan di dalam pesawat. Sekali-kali ia menguap dan akhirnya tertidur.

Hampir saja satu hari perjalanan dia tempuh. Pramugari sudah menginformasikan pada penumpang bahwa pesawat mendekati bandara Incehon. Satu persatu penumpang pesawat mulai berdiri dan kemudian turun saat pesawat membuka pintunya.

Seung Ho mempercepat jalannya lalu memanggil taksi di dekat pintu keluar bandara. Di dalam benaknya ingin sekali ia cepat-cepat untuk pulang. Mendekati jalanan menuju rumah sesuatu membuatnya cemas. Beberapa orang tampak ramai memarkirkan mobil. Semakin dekat bisa dilihat sesuatu yang membuat ramai ada di dalam rumahnya. Seung Ho mulai merasakan perasaan tidak enak. Jantungnya berdebar hebat saat ia mulai memasuki latar rumah dengan tatapan iba dari orang-orang yang berada disekitarnya. Beberapa rekan kerjanya juga menatapnya dengan tatapan sama. Lalu semua kecemasanku terjawab dengan membawa perasaanku hancur.

“Eommamu…di..a meninggal”

✿✿✿

Tbc~~~

Mian ya, kalo semakin kesini semakin geje, hehe semoga reader setia! *_^

Entry filed under: Chaptered, Drama, f (x), FanFiction, Indonesia, Life, PG, Sad Romance, SHINee, T-ara, Uncategorized, Yo Seung Ho. Tags: .

[DRABBLE] Vanila Ice Cream – Khuntoria Fanfition Phoinex [Chapter 1,A Dream]

1 Comment Add your own

  • 1. nissa  |  July 2, 2014 at 11:39 PM

    yang sabar ya seungho.
    kayaknya no name itu jiyeon dech.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,956 hits

Day by Day

June 2012
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: