Greatest Love [Part 4]

June 9, 2012 at 1:29 PM 6 comments

Title                 : Greatest Love

Author             : YanluSarang_Yanlu

Genre              : Sad Romance

Cast                 : Yoo Seung Ho, Park Jiyeon, Choi Minho, Krystal

Rating             : PG-15

PrologPart 1Part 2 Part 3

NO SIDERS!

Mian…Mian banget ya! ngepos ininya telat, coz aku lagi dirundung Ulangan Semester nih, terakhir kali waktu itu juga masih banyak tugas jadi baru sempet memperbaiki tulisan dan ngepos ini. Doa’in ya biar author dapet nilai bagus. author pingin grafik rapot meningkat jadi biar dapet jalur undangan buat kuliah *Lho? jadi curhat deh!. yaudah daripada author terus nerocos wasting time gitu mending langsung aja deh. Happy read ya! ^_^

Sudah sekitar 4 bulan aku selalu menghindari yeoja bernama Jiyeon itu. Aku benar-benar tidak ingin bertatap muka dengannya. Rasa sakit itu masih terasa jauh di dalam lubuk hati. Padahal kami sudah berteman baik sebelumnya namun saat malam itu datang, saat aku melihatnya bersama dengan namja lain aku tidak tahan dan mengubah sikapku padanya. Mungkin Jiyeon tidak terlalu menyadari penghindaraanku karena ada seseorang yang lebih penting dalam hidupnya dibanding aku yang berstatus hanya seorang teman. Hari ini aku libur kerja dan memilih menemani eomma yang masih terbaring koma. Sejak kecelakaan itu eomma tidak pernah bangun dari tidurnya sampai sekarang. Hal itu sangat menyedihkan dan aku berjanji akan membenci seseorang yang telah menyebabkan ibuku menderita mati otak sehingga tidak dapat bangun entah sampai berapa lama.

“Umma, kapan kau akan bangun? Sampai kapan akan terus begini?” batinku menatap sendu pada eomma.

Di dalam kamar aku menata koleksi film di pojok kamar. Mataku terpaku menatap rentetan foto Jiyeon yang sampai sekarang masih menjadi model di perusahaan CF tempatku bekerja. Mata kucingnya seolah menatapku hangat. Hatiku masih berdesir mengingatnya. Setiap helaian rambutnya dan gurat wajahnya serta senyumnya hampir di setiap waktu terus terbayang di benakku. Otakku mulai dipenuhi bayangan Jiyeon. Jujur saja aku merindukannya. Sudah hampir 4 bulan tak mendengar celotehannya, senyumnya, dan segala keistimewaan dari dalam dirinya.

Telepon dari arah kamarku berdering tanda pesan masuk. Aku tak ingin menghiraukannya terlebih dulu. Itu cuma pesan singkat jadi aku bisa membukanya nanti. Aku ingin mandi dulu karena sudah sore. Kunyalakan kran bersuhu hangat dan mulai ku redam tubuhku saat air memenuhi bak mandi. Air itu mulai meresap dalam pori-pori kulitku. Kehangatan yang meresap mampu melepas segala kepenatanku. Benar apa yang dilakukan beberapa orang yang sehari-harinya bergelut dengan pekerjaan yang membutuhkan pemikiran. Mereka selalu menyempatkan sehari untuk pergi ke sauna. Mungkin dengan mandi air panas  adalah cara terbaik  untuk meredam kepenatan dan menjernihkan kembali pikiran mereka.

Selesai mandi baru aku teringat pesan singkat yang belum ku buka. Di atas meja HP tersebut tertulis pada bagian casing  nama Jiyeon. Sedikit penasaran saat nama itu tertera di HPku dan alangkah terkejutnya aku saat membuka pesan itu. 10 kali panggilan dan 5 sms darinya tidak terespon sama sekali olehku. Aku ternganga mengetahui isi pesan itu. Jiyeon meminta bertemu denganku dan sekarang ia tengah menunggunya. Bodohnya aku tidak segera membuka pesan singkat itu yang mungkin saja sudah setengah jam yang lalu ia tengah menungguku. Ku kenakan kaos seadanya, celana jeans panjang dan jaket tebal yang ringan. Aku harus lari kalau tidak ingin membuatnya menunggu dengan menggunakan sepeda yang ada ku kayuh secepat mungkin ke jalan menuju Sungai Han. Tempat favorite Jiyeon. Sekarang bukan saat yang tepat jika aku berpikir ingin menghindar darinya agar aku cepat-cepat melupakannya. Dia sudah lama menunggu dan aku cukup mengkhawatirkan keberadaannya sekarang. Seekor kucing jalanan melintas dengan seenaknya di depan jalan yang hendak kulewati. Sedikit terhuyung dan kucing sialan itu sukses membuatku terjatuh. Gesekan antara aspal dengan kulit mulai terasa dan menyebabkan nyeri di bagian lutut. Aku cepat-cepat berdiri menahan luka di lututku. Lagipula ini hanya luka ringan.

Jembatan sungai sudah aku lewati. Sekarang harus menuruninya dengan hati-hati. Sesampainya di tepi sungai aku mengedarkan pandangan. Namun tak seorangpun disini.

Sudah kuduga dia tidak akan menungguku selama itu, Babo! Kenapa aku masih terus menghampirinya. Padahal aku sedang berusaha untuk melupakannya. Kenapa aku sangat peduli!  Batinku merutuk sendiri.

Tiba-tiba sebuah tangan mendarat di pundakku menepukku, reflek aku berbalik. Jiyeon tengah tersenyum memegang kamera.

Jpret…

Gambarku di abadikan tanpa aba-aba darinya. Aku memasang ekspresi tanda tanya sedangkan ia hanya tersenyum jahil padaku. Disaat seperti ini aku merasakan kembali pacuan jantungku yang berdebar-debar, setelah sekian lama tidak berdebar secepat ini. Senyum yang kurindukan meski hanya beberapa bulan aku tidak melihatnya terukir indah di bibirnya. Tetapi saat itu juga terlintas perasaan sakit yang menderaku akhir-akhir ini. Rasa sakit mendapati kenyataan bahwa dia sudah memiliki namjachingu.

“Hey, What’s up?” ucapnya dalam aksen bahasa Inggris Eropa.

Telingaku dengan cepat menyerap dan mengenali aksen seperti ini. Ah, aku sedikit mengingat kejadian di Paris dua tahun yang lalu. Pertemuan dengan gadis cantik yang tidak tahu terima kasih dan menghilang begitu saja. Aku menoleh kea rah Jiyeon menatap dan menyelusuri wajahnya sambil mengingat-ngingat saat itu. Aku tahu sekarang. Matanya sekilas mirip dengan gadis itu. Apakah Jiyeon adalah gadis itu?

Kamu mengambil potret tanpa aba-aba itu tidak sopan! Ada apa kau memanggilku kesini?  Tanyaku padanya.

“Ah, ini fotomu sudah tercetak jelas, Um…aku hanya ingin melihat Sungai Han bersamamu. Hasil jepretanmu kan selalu bagus jadi aku mengajakmu kesini dan aku membawa kamera Polaroid ini supaya aku bisa mengabadikan potretku disini. Mungkin ini terakhir kalinya.” Ungkapnya seketika mukanya menunduk menatap sedih ke air sungai Han. Aku mulai penasaran dan dihinggapi perasaan tidak enak.

Apa maksudmu?  Tanyaku. Ia menatapku balik menghembuskan nafas sebentar lalu menatap ke Sungai Han kembali.

“Sebentar lagi, aku kembali ke Paris, tapi aku masih ingin disini oleh karena itu aku berencana keliling Korea untuk terakhir kali. Sebenarnya tidak bisa dbilang terakhir kalinya sih, tapi aku akan tinggal di Paris entah sampai beberapa tahun karena aku juga punya tanggung jawab disana”

Apakah kamu bekerja di dunia hiburan? Dan benarkah gadis yang aku temui di Paris itu kamu?  Kuserahkan note itu dan ia tersenyum malu lalu mengangguk. Entah kenapa mendengar ini aku menghela nafas. Beberapa hari yang lalu aku ingat kalau Krystal pernah menyerahkan sapu tangan itu padaku. Lalu kenapa ada pada Krystal?.

Apakah kau masih menyimpan sapu tangan itu?

“Mian…aku menjatuhkannya saat terburu-buru waktu itu aku berada di rumah sakit” jelasnya. Pernyatannya membuatku lega. Ternyata Krystal tidak salah kalau ia memang menemukan sapu tangan itu dirumah sakit.

“Peganglah, ambil gambarku disini” Jiyeon menyerahkan kameranya padaku. Aku mengamati suasana pengambilan gambar dulu lalu aku menyuruhnya menyesuaikan gerakan tanganku kea rah mana ia harus berpose.

Jpret…

Senyuman manisnya…

Jpret…

Matanya yang khas

Jpret…

Wajah cerianya…

“Wait!! Seung Ho, lututmu mengeluarkan banyak darah!” pekik Jiyeon tertahan sambil menunjuk lututku. Aku memeriksa lututku yang ternyata sudah berlumuran darah.

“Aw!!” ringisku. Rasa sakit itu baru terasa tepat saat Jiyeon memberitahuku, kusadari ternyata luka itu cukup parah. Memang tadinya sempat bergesekan dengan aspal dan lagi benda tajam memperparah lukaku.

“Gwe..chana?” Tanya Jiyeon panik lalu menempelkan kapas di lututku. Tanpa sadar Jiyeon jongkok menyetarakan tubuhku yang sedang duduk memeluk lutut, jarak kami terlampau dekat. Akibat perbuatan itu aroma shampo Jiyeon menguar, jadi kalau saja jantungku berada di luar tubuh pasti detakannya akan terdengar. Aroma shamponya terhirup lagi olehku membuatku terpaku dalam jarak sedekat ini. Setelah darah mulai berhenti mengalir Jiyeon menjauhkan diri dariku mengambil sesuatu dalam tasnya. Sebuah plester bergambar spongebob ia tempelkan pada lututku. Saat itu juga aku ingin tertawa melihat plester itu. Plester yang seharusnya untuk anak-anak. Tiba-tiba Jiyeon menghentikan aktifitasnya yang sedang membersihkan lukaku. Ia mengernyit bingung dan mulai menyadari tawaku yang mungkin aneh menurutnya

“Wae? Apa yang kamu tertawakan?” tanyanya.

Segera kuhentikan tawa kecilku dan mengisyaratkan tidak apa-apa. Kulihat luka yang sudah dibersihkan olehnya. Aku meringis tertahan. Luka itu lumayan nyeri sekarang. Tiba-tiba Jiyeon mengulurkan tangan mencoba menawarkan bantuan agar aku berdiri. Aku diam tak merespon, hanya melihat telapak tangannya yang kutahu maksudnya ia hendak membantuku berdiri. Tapi aku tidak mau berbesar hati kalau ternyata memang ia sedang membantuku untuk berdiri. Aku mentap wajahnya memastikan maksudnya tapi tiba-tiba ia kembali meletakkan tangannya disamping pinggang. Entah mengapa aku sedikit melihat kegugupan diwajahnya saat aku tidak juga menerima uluran tangannya dan justru menatapnya.

“Apakah kau sudah bisa berdiri? Aku minta tolong padamu” gumamnya.

Aku mulai bangun dan meluruskan kakiku yang masih terasa nyeri tapi mendengar seruan Jiyeon meminta pertolongan ia berusaha sekuat mungkin menahan perihnya. Dia mengambil foto dan memerintahkanku untuk berdiri disampingnya. Aku menggeleng pelan, tampaknya ia menyuruhku mengabadikan moment bersama dirinya. Setengah memaksa Jiyeon menarik tanganku untuk mematuhi perintahnya. Aku terkesiap saat Jiyeon menarik tanganku tiba-tiba dan perasaan itu mulai datang lagi. Merambat memasuki pori-poriku menjadikannya hangat.

Jpret…

Foto kenanganku tercetak keluar melalui lubang kamera. Aku mengambilnya dan mengibas-ngibaskannya di udara. Aku mendesah lirih melihat foto yang sedang kupegang. Tidak mungkin jika foto ini harus ku simpan. Lebih baik Jiyeon yang menyimpan ini. Aku memang ingin sebuah kenangan saat bersama dirinya tapi tidak untuk sekarang. Untuk sekarang setelah aku begitu menyukainya dan terus menerus merindukannya meski baru beberapa bulan tidak bertemu dengannya.

“Ini…” dia menyerahkan padaku namun aku sudah mencegahnya terlebih dulu. Dia mengangguk mengerti dan menyimpannya. Seulas senyum terukir dari wajahnya dan dengan sadar pula aku ikut tersenyum. Ia mengambil hasil jepretannya yang sudah mengeluarkan kertas foto dari dalam.

Saat ini juga, ingin sekali kuutarakan perasaan yang beberapa hari ini terus mengganjal di hatiku sebelum ia pergi dan menyesalinya, tapi itu akan mempermalukan diriku sendiri nantinya karena dia sudah memiliki seseorang yang berarti dalam hidupnya. Dipikir-pikir hubungan kami juga masih tahap awal. Baru saja beberapa bulan yang lalu aku mengenalnya, dan aku rasa mengatakan itu terlalu cepat. Kuurungkan niatku untuk mengatakan perasaanku. Tak pantas jika aku seorang namja bisu bersanding dengan aktris yang sudah tenar sampai Eropa. Biarkan dia pergi meski tanpa ia tahu perasaan ini.

Sepasang tangan menepuk pundakku pelan. Membuyarkan lamunan yang sejak tadi menggelayuti. Aku menoleh, dia menyodorkan foto itu tepat di depan wajahku. Segera kuambil hasil foto itu dari tangannya. Aku melepas sebuah senyuman padanya.

“Seung…Daebak! Aku menyukai hasil potretanmu, aku pikir ada baiknya kau bersekolah di sekolah khusus fotografer” serunya sambil menerawang fotonya dengan perasaan kagum.

Hari sudah mulai larut lebih baik kau pulang. Aku memeriksa jam di tangan yang menunjukkan pukul 09.00 malam. Jiyeon berjalan di depanku. Sesekali ia berjalan dengan gayanya yang unik menurutku dan membuatku harus menahan tawa beberapa kali. Aku melambaikan tangan setelah Jiyeon menunggangi taksi. Kemudian aku berjalan pulang. Di tengah jalan tiba-tiba aku mendengar seseorang meneriakki namaku. Dari seberang jalan kulihat Krystal melambai ke arahku. Aku menunjuk diri dan ternyata benar dia memanggilku. Aku menghampirinya.

“Hey, sedang apa malam-malam begini berkeliaran sendiri?” tanyanya.

Aku hanya mengerdikkan bahu, lalu aku menunjuknya dengan dagu bermaksud menanyakan ‘bagaimana denganmu’. Tampaknya ia paham setelah berpikir sejenak. Ia menoleh ke kanan dan kiri mendongakkan leher mencari-cari sesuatu dan mungkin seseorang. Tak lama kemudian dari arah belakangnya seorang namja mengalungkan tangannya ke leher Krystal. Betapa terkejutnya aku melihat namja itu. Meski malam menutupi cahaya lampu namun sinar rembulan mampu memperjelas bentuk wajahnya. Namja yang menjadi kekasih Jiyeon. Aku berusaha menyadarkan diri kalau itu hanya ilusiku saja tapi kenyataanya sorot lampu kendaraan semakin memperjelas lekuk wajahnya yang merupakan perwujudan darinya.

“Minho, jangan begini tidak enak ada orang lain dihadapan kita” Krystal menyingkirkan tangan Minho dari lehernya.

“Hey, dia kan bukan siapa-siapa. Jiyeon tidak akan tahu” ucapnya mengecilkan volume saat menyebut Jiyeon.

Aku mendengar semuanya dan semakin jelaslah dia adalah Minho namjachingu Jiyeon yang berjalan dengan Krystal. Sepertinya mereka memang berselingkuh terbukti setelah itu Minho menggandeng tangan Krystal.

“Seung, maaf tadi aku memanggilmu kesini karena tadi aku menunggu Minho. Oh ya perkenalkan ini Minho, temanku” ungkapnya menunjuk kea rah namja di sampingnya. Bisa kulihat matanya berkilat bohong.

“Hey, Krystal aku kan bilang dia bu…mmph” Krystal membekap mulutnya sehingga berhenti.

Kekesalanku memuncak dengan terus melihatnya oleh karena itu aku permisi untuk pulang. Bayang-bayang Jiyeon memasuki pikiranku. Bagaimana jika ia tahu semua kenyataan ini?. Apa yang akan terjadi?. Apakah aku harus memberitahunya? Tapi aku takut dia tidak percaya padaku lalu membenciku. Aku bimbang.

✿✿✿

            Hari perginya Jiyeon tiba, aku senang tapi disatu sisi aku sedih. Kejadian beberapa hari yang lalu belum sempat kuberitahu. Kegelisahan semakin menderaku kala Jiyeon berjalan di hadapanku kini. Sebelum penerbangan dimulai kami berdua mampir ke tempat makan di dekat bandara. Jiyeon duduk di hadapanku. Aku menatapnya tapi beralih lagi antara bingung akan memberitahunya atau lebih baik membicarakannya nanti setelah ia pergi. Daripada terus menciptakan perang batin aku menanyaka terlebih dulu siapa sebenarnya Minho itu.

Jiyeon-ssi, kamu kenal dengan namja bernama Choi Minho, kan? Tulisku dengan ragu-ragu. Setelah itu ia membacanya.

“Ne. nae namjachingu, bagaimana kau mengenalnya?” Jiyeon bertanya balik dengan senyum sumringah mungkin mengingat nama Minho.

Ya. Aku mengenalnya, apakah akhir-akhir ini kamu masih sering mengontaknya?

Dia mengerutkan keningnya mendengar pertanyaanku itu. Mungkin ini adalah privasi dirinya tapi aku hanya ingin memastikan bahwa namja yang dicintainya masih sering menghubunginya. Kalau dia masih terus mengontak Jiyeon. Aku tidak bisa memendamnya lebih lama tentang namja brengsek bernama Minho itu. Dia tampak berpikir mungkin menghitung hari kapan terakhir kali Minho menelponnya.

“Hm…sekitar 2 hari yang lalu dia menelponku walaupun memang akhir-akhir ini ia agak jarang menghubungiku. Kami berdua juga hanya sebatas menelpon, jarang sekali kami bertemu dan dia juga tidak mengajakku kencan.” Ia mendesah pelan di kalimat terakhir.

Lalu bukankah sebaiknya Minho yang mengantarkanmu ke bandara? Apakah nanti dia akan datang?  Aku masih penasaran.

“Ani. Dia tidak bisa, urusan bisnisnya belum selesai. Ia juga harus mengadakan meeting di kantornya” ia semakin menghela nafas berat. Sedetik kemudian Jiyeon mendongak menatapku dengan muka berbinar menciptakan tanda tanya di dalam kepalaku. Setelah itu aku memikirkan kata-kata yang pas untuk mengungkapkan kebenaran yang kudapat.

Aku pikir lebih baik memberitahu kenyataan sebenarnya siapa namjachingumu itu sebelum terlambat. Putuslah dengan Minho karena dia bukan namja baik-baik seperti yang kamu pikirkan. Ungkapku sedikit bergetar saat akan menulis. Aku menguatkan diri bersiap-siap untuk di cecar olehnya. Sudah pasti ia akan marah-marah dan membenciku. Aku pikir itu lebih baik daripada memendam rahasia yang semakin membuat kacau pikiranku dengan terus memikirkannya. Lega tentu saja, tapi aku tidak berharap banyak ia akan bersikap sebaik ini setelah aku memberitahunya. Dapat dipastikan ia akan menjauhiku dan tidak akan mau kuhubungi kembali meski aku telah mengirim pesan padanya. Reaksinya adalah terkejut. Ia menatapku tak percaya dengan apa yang baru saja aku ucapkan.

Kemarin malam Minho jalan dengan seorang yeoja sedangkan yeoja itu adalah rekan kerjaku. Aku benar-benar melihatnya disana. Aku mulai memberanikan diri menghadapnya.

Sorotan matanya berubah menjadi tajam lalu mulai terlihat gurat kemarahan di dahinya.

“Jaga ucapanmu Seung-ssi! Aku tidak tahu apa yang Minho perbuat padamu tapi tolong jangan memfitnah dia dengan mengatakan dia bukan namja baik-baik. Aku tahu persis ia setia terbukti dia masih mau menungguku pulang dari Paris meskipun sekarang aku harus kembali lagi. Mungkin setelah kembali nanti aku akan menikahinya jadi jangan menyebarkan isu murahan seperti itu kepadaku!” semburnya dengan nada meninggi. Aku terpaku di tempat tak tahu harus menampakkan reaksi apa. Sepertinya ini akan lebih buruk daripada yang aku kira. Dia berdiri dengan cepat dan kasar sampai kursi yang baru saja didudukinya bergeser jauh menimbulkan decitan keras. Seisi restoran memandang adegan tersebut dengan gelengan kepala. Aku harus menahan malu saat hendak keluar tapi itu tak seberapa dibandingkan dengan reaksi yang ditunjukkan olehnya membuat hatiku berkecamuk frustasi.

Pesawat tujuan ke Paris sudah diumumkan akan segera berangkat. Hal itu menambah kegundahanku. Jiyeon sudah berjalan menjauh di depan sana. Dari cara jalannya ia sudah marah dan aku benar-benar tak tahu bagaimana cara meredamnya. Ia mulai melangkah mendekati pintu larangan-selain-penumpang untuk masuk. Aku berlari mengejarnya dan berhasil meraih tangannya sebelum ia masuk ke dalam dan tak bisa kutemui lagi. Ia berusaha menepis tanganku, tenaganya tak kalah kuat denganku. Tanganku terhempas keras dan dia melengos pergi tak mau memahami maksudku.

Aku masih berusaha untuk terus mengejarnya meskipun melalui jalur lain. Ia tak menoleh sedikitpun untuk membaca tulisanku. Setelah ia menuju ke jalur lapangan dapat kulihat pesawat hampir saja menutup tangga sebelum Jiyeon berteriak meminta menunggunya. Aku menghela nafas berat memandang pesawat itu sudah take off. Di hari terakhir pertemuannya akulah yang mengacaukan pertemananku sendiri dengannya. Seperginya aku dari bandara aku menuju sungai Han tempat terakhir kalinya aku bersama Jiyeon. Disana aku menenangkan diri dan memutar kembali kejadian saat aku bersama Jiyeon. Batu-batu kecil di sekitarku menjadi korban pelemparan ke dalam air sungai. Aku menyesal telah memberitahukannya. Seharusnya biarkan ia mengetahui itu sendiri tapi aku takut dia akan semakin tersakiti. Semoga saja Minho segera sadar diri akan perbuatannya. Aku bisa merelakan Jiyeon jika namja itu benar-benar tulus mencintainya. Namun kenyataannya dia nappeun namja.

✿✿✿

Januari, 2010

Happy New Year

Semua banner dan poster menandai tulisan seperti itu entah itu kecil atau besar. Bunyi-bunyi percikan firework terus bergemuruh di tengah langit malam. Bintang-bintang dilangit semakin menyempurnakan pemandangan kembang api yang terus menyala menyatakan suasana akhir tahun. 10 detik lagi pemandangan menara Eiffel akan menghipnotis semua orang yang melihatnya. Semua orang mulai antusias. Apalagi pasangan muda-mudi di sekitar menara Eiffel merebak seperti semut. Ada yang sedang mengungkapkan perasaan dan ada juga yang bercumbu ria seolah pemandangan itu biasa saja. Menjijikan.

5…4…3…2…1

Spark…blow…

Luncuran kembang api menyeruak keluar di setiap sela-sela menara Eiffel. Puncak menara Eiffel juga tak kalah bagus dengan menyemburkan kembang api bertuliskan Happy New Year dan gambar menara Eiffel itu sendiri. Semua mata tak mau lepas sedikitpun dari pemandangan indah itu. Termasuk aku yang baru kali ini melihat suasana tahun baru di Paris. Ya. Aku telah  menuju ke Paris meneruskan cita-citaku supaya lebih tinggi. Sebulan yang lalu aku berangkat oleh hasil kontrak kerja di perusahaan CF korea untuk belajar lebih dalam tentang fotografi. Sulit dipercaya jalanku akan terbuka selebar ini. Ini adalah impian terbesarku dan ternyata peluang meraihpun tidak mudah namun aku berhasil mendapatkannya. Awalnya aku hanya bekerja sebagai tukang potret untuk setiap iklan tapi lama-kelamaan perusahaan mengetahui bakatku dan membonusiku dengan menyuruhku belajar ke Paris. Masalah biaya hidup juga berasal dari perusahaan tapi hanya sampai setahun. Setelah itu aku harus kembali dan memulai pekerjaanku dengan penghasilan dan kepercayaan lebih tinggi. Mungkin sebagian besar perusahaan CF akan mengontrakku tapi aku harus bersungguh-sungguh jika ingin mendapat perhatian besar.

“Suho, what do you mind?” Tanya salah seorang teman satu sekolahku.

Aku menggeleng pelan. Dia melanjutkan kembali minum-minumnya. Di meja ini berkeliling orang-orang yang bersuka cita mendentingkan gelas wine. Tentu saja aku ikut tapi jangan berpikiran negetif dulu. Aku hanya ikut sebagai simbol saja. Sebatas formalitas merayakan suka cita sesama teman seperjuangan.

“Untuk kesuksesan kita ditahun ini dan masa yang akan datang! Cheer…!” ucap Austin salah satu temanku mengangkat satu gelas diikuti gelas yang lain.

Ting…Ting…

Bunyi dentingan gelas wine menambah kemeriahan suasana tahun baru. Gelas wine  yang kupegang tergeletak begitu saja tanpa berniat untuk meminumnya.

“HAPPY NEW YEAR!!” teriak kami berbarengan.

✿✿✿

            “Suho!!” panggil Bryan. Aku dipanggil Suho sekarang. Karena nama Seung Ho sulit dilafalkan oleh orang Eropa sehingga aku dipanggil dengan nama itu. Lagipula  tidak terlalu jelek.

“Help me to do my work, please!” pintanya. Aku melirik menatapnya dengan syarat. Akhirnya dia mengeluarkan minuman kaleng di kulkas, minuman kesukaanku. Awalnya ia mendesah berat tapi ia tetap menyerahkan minuman itu padaku sebagai bentuk terima kasih. Memilih mengalah aku yang mengerjakan tugasnya daripada terbengkalai. Tugasnya tidak cukup sulit, tapi sepertinya Bryan sedang pusing atau malas mengerjakan pekerjaan ini. Membagi beberapa photo untuk di siap cetak. Kerja sambilanku dengan Bryan yaitu membuka jasa percetakan foto. tidak terlalu besar sih dan tidak pula bisa dikatakan toko. Terlalu kecil untuk ukuran toko tapi penghasilannya lumayan untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Berkutat sampai cukup malam membuatku mengantuk dan menguap berkali-kali. Pekerjaan ini memang simple tapi butuh ketelitian sendiri. Selesai membenahi pekerjaan aku berjalan menuju ranjang tempat tidur dan berbaring terlentang menghadap langit-langit kamar. Sekilas mataku menangkap benda mungil berinisial SH di meja samping tempat tidur. Sapu tangan itu selalu mengingatkanku kejadian beberapa tahun yang lalu. Sampai beberapa tahun ini aku belum bisa melupakan dan berhenti menyalahkan diriku sendiri atas kejadian yang menyebabkan pemutusan hubungan komunikasi antara aku dengannya. Selain itu juga Jiyeon pergi ke Paris, negara yang kini berhasil aku injakkan kembali setelah sekian lama aku menginginkan kembali kesini menempuh studi fotograferku. Laci meja kubuka dan kusimpan sapu tangan berarti itu. Setelah itu aku menutupi diri dengan selimut untuk tidur.

✿✿✿

            Sekolah kesenianku berada cukup dekat dari jarak losmen yang kutinggali. Jadi aku berjalan kaki untuk menuju ke sekolah. Pagi kali ini aku sedikit terlambat untuk memasuki kelas  karena kali ini kuliah jam pagi. Semestinya aku sampai ke sekolah tepat jam 8 tapi sekarang jam ditangan menunjukkan pukul 08.15 dan itu sudah seperempat jam dari sekarang. Karena buru-buru, tanpa sengaja aku menabrak seseorang yang sedang berjalan di depanku. Dia membawa tas selempangan tapi bebannya berat kurasa. Ia terlihat kesulitan membenahi bukunya yang tercecer di trotoar karena mungkin resletingnya terbuka. Dengan sigap aku ikut membantunya karena akulah yang ceroboh tidak memperhatikan jalan. Dia menundukkan kepala, rambutnya tergerai menutupi wajahnya sehingga aku tidak dapat melihat seperti apa wajahnya. Tampaknya ia juga buru-buru terlihat dari caranya merapikan buku dan kemudian langsung berbalik lalu berjalan cepat tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Wajahnya saja tidak dapat aku lihat dengan jelas. Aku mendengus kesal karena waktuku sudah terbuang cukup banyak tadi. Segera kumasuki latar sekolah kesenian tersebut dan ngebut ke dalam kelas fotografer. Sayup-sayup suara sang dosen terdengar dari luar ketika dua kelas lagi harusku lalui.

Sudah kukira ia akan mengubah ekspresinya menjadi tidak suka lalu memandangku dengan tatapan menginterogasi. Aku menundukkan badan seraya berlalu duduk ditempat kosong dekat jendela. Dosen kembali beralih ke materi yang disampaikan. Aku mengamati sample gambar pada layar yang disinari proyektor. Gambar yang sangat perfect dan butuh keahlian dalam pengambilannya. Di tengah-tengah pelajaran berlangsung seketika konsentrasiku terbuyar ketika menatap ujung balkon. Seorang gadis tengah berlari, rambut dan tas selempangnya tidak asing. Dia gadis yang baru saja aku tabrak. Setelah diamati, sesuatu menarik perhatianku. Bukan rambutnya melainkan paras wajahnya yang selama ini ingin kutemui. Aku terhenyak dalam fikiran melihat kejelasan sosok gadis itu dimataku. Aku tidak bermimpi kan? Benarkah kalau ia adalah gadis yang selama ini aku rindukan dan ingin sekali kutemui?. Benarkah itu Park Jiyeon?. Aku mengamati wajahnya dari kejauhan dan benar saja itu Park Jiyeon. Apa yang ia lakukan disini?. Selama pelajaran berlangsung aku tidak bisa konsentrasi. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya.

Jam kuliah berakhir pada siang hari. Pelajaran praktek tadi sedikit menguras tenaga. Aku merasa lelah dan lapar sekarang. Untuk sedikit melepas lelah aku mampir ke kedai makanan di dekat kampusku. Meski makanan kecil tapi cukup kenyang. Ketika aku sedang asyik duduk menikmati jajanan Jiyeon keluar dari halaman kampus menuju kiri jalan jika dari arah gerbang sekolah. Aku berada di posisi kanan sehingga bertolak belakang. Tidak kusia-siakan kesempatan ini untuk berjumpa lagi dengannya, berlari mengejarnya dan akhirnya aku dapat menepuk pundaknya. Ia menoleh ke arahku. Senyumnya hilang saat mengetahui siapa orang yang memanggilnya.. Ia menatap sinis. Masih sama seperti terakhir kalinya aku bertemu. Aku tersenyum samar dan segera menulis note sebelum ia beranjak pergi dari hadapanku.

Jiyeon, senang bertemu denganmu tapi aku mohon maafkan aku, jangan membenciku dan bersikap seperti ini. Jadilah teman seperti dulu.

Segera dibaca olehnya seraya menarik noteku kasar. Ia tidak bergeming dari tempatnya cukup lama masih menahan matanya untuk menatap noteku itu. Aku masih menunggunya antusias. Sedetik kemudian ia menyerahkan noteku. Perasaanku langsung lega dan senang melihatnya tersenyum kembali dan ia tidak sebenci yang aku pikirkan.

“Tapi kamu harus tahu Seung, perkataanmu tentang Minho perlu kau koreksi!. Ia namja yang sangat setia dan perhatian” tegasnya, matanya sarat akan kemantapan.

Seulas senyum pudar menjadi datar. Perasaan berbungahku berubah menjadi kepedihan. Sekarang apa?. Kenapa ia sampai berkata seperti itu tentang Minho. Apakah Minho benar-benar serius padanya? Atau Minho hanya mempermainkan Jiyeon?. Aku masih tidak percaya dan bertanya balik.

Apa maksudmu? Apakah Minho masih mengontakmu?

Kulihat ia tersenyum lebar, senyum yang dapat membuatku merasa hangat hanya dengan melihatnya saja, tapi senyumannya kali ini membuat hatiku mencelos.

“Kami telah bertunangan, Minho datang kepadaku ke Paris. Sebenarnya bukan hanya pertunangan perihal ia datang ke sini tapi juga pekerjaannya dan itu merupakan sebuah kesempatan bisa bertemu dengannya disini dan ia segera melamarku. Saat nanti aku kembali ke Korea, kami akan melangsungkan pernikahan.” Ungkapnya dengan senyum yang masih mengembang.

Aku menahan diri untuk tidak terlihat sedih. Mengulas sebuah senyum yang kenyataannya menyesakkan paru-paruku. Sebentar lagi pasti aku tidak akan kuat berdiri dihadapannya menyesap kata-katanya yang terlontar yang terlalu menyakitkanku. Aku mengangguk dan segera melambaikan tangan padanya. Sudah tidak kuat mendengar kabarnya lagi. Aku berbalik memunggunginya. Mungkin bukan takdirku dia akan bersamaku. Aku harus menerimannya. Dengan langkah gontai aku berjalan pelan menjauhinya.

“Seung Ho, dimana tempat tinggalmu?” tiba-tiba ia berteriak bertanya dimana aku tinggal.

Aku menunjukkan jalan di ujung sana lalu kuragakan dengan tangan hendak belok kemana saja. Ia terlihat bingung dan akhirnya menghampiriku. Aku segera membenahi ekspresiku dan menunjukkan jalan yang kumaksud. Belum selesai aku menjelaskan tiba-tiba ia menarik tanganku untuk jalan. Perasaan berbeda itu mulai kembali aku rasakan melalui sentuhan tangannya terhadapku. Aku tidak terlalu mempedulikannya saat ini. Ia mulai menunjuk-nunjuk jalanan mana yang harus dilewati. Aku hanya pasrah mengkutinya. Losmen hampir terlihat, aku memberhentikan langkah sebelum Jiyeon menarikku lebih jauh lalu melepas genggaman tangannya. Entah kenapa aku merasa tidak nyaman meskipun sentuhan itu hangat bagiku. Setelah ia memberitahukan hal yang membuat semangatku bertemunya merosot jauh. Aku tidak nyaman terus dekat dengannya. Meskipun ia tidak menyadari kurasa.

“Waeyo? Dimana tempat tinggalmu?” ia bertanya sambil memandang jalanan di depan.

Aku menunjuk ke arah kanan ujung sana, sebuah losmen kecil bertingkat dan sejuk. Jiyeon melangkah maju mendekati losmen itu. Sesampainya di depan aku menahannya. Cukup sampai disini ia perlu mengetahui.

“Wah, rumahmu sejuk lain kali aku mampir kerumahmu. Hari ini aku ada jadwal latihan.”

Aku mengangguk . dia melambaikan tangan. Aku hanya tersenyum getir dan melakukan hal yang sama. Kemudian aku berbelok setelah melihat dia melangkah jauh tak terlihat lagi.

✿✿✿

September, 2011

Aku dan Jiyeon sekolah di satu kampus tapi berbeda jurusan. Aku bagian seni Fotografi sedangkan Jiyeon bagian teater dan juga seni tari. Dia memang sangat berbakat dalam menari. Perkataanku tidak mengada-ngada karena aku pernah melihatnya latihan dan semua orang terpana melihat tariannya yang gemulai. Sedangkan bagian teater dia direkrut oleh perusahaan entertainment yang dia ikuti. Sehingga sekolah teater memang dibiayai oleh perusahaan entertainmentnya.

Jam istirahat di kampus seringkali aku pergi menuju perpustakaan untuk mencari referensi untuk karya ilmiahku. Selain harus menyelesaikan karya ilmiah, praktek di lapangan secara langsung bersama pemotret-pemotret handal sering dilakukan. Apalagi menjelang pengujian skripsi. Semua teman-teman sekelas berbondong-bondong melakukan eksperiment sebebas-bebasnya. Mempromosikan hasil pemotretan mereka pada beberapa perusahaan majalah, iklan, commercial, dll. Terkadang sampai ada yang membayar untuk apresiasi hasil mereka.

Aku tidak mengikuti langkah mereka karena setelah pulang dari Paris perusahaan di korea sudah pasti merekrutku. Sekolah disini juga bukan karena biaya dariku.

Sebenarnya cita-citaku untuk menjadi fotografer lebih tinggi lagi. Tidak hanya bertandang di perusahaan tapi aku ingin mendirikan gallery hasil karyaku tersendiri. Menjadi fotografer freelance tentunya. Gallery-gallery yang berisi karya potretku dipamerkan dan dijulan dengan harga tinggi. Keuntungan darinya akan aku gunakan untuk membantu anak-anak penyandang cacat. Menyadari diriku sendiri yang punya kekurangan aku ingin merealisasikan itu. Semoga saja ada kesempatan itu.

Di bangku sebelah meja computer tampaknya kosong. Aku berjalan menuju meja kosong tersebut sambil menenteng buku tentang Double Exposed, Double image, dan Perspektif yang membahas tehnik pengambilan gambar rangkap dan dua tapi menjadi satu gambar serta perspektif gambar tersebut. Bunyi debuman terdengar saat kuletakkan buku di atas meja. Lirih memang tapi terdengar olehku. Kacamata di dalam kotak kukeluarkan dan membenahi posisi di atas hidung. Belum sempat aku membersihkan kaca yang kabur karena kotor seseroang sudah duduk manis dihadapanku sambil membawa buku yang um…bertumpuk banyak setinggi perutnya. Aku menegadah melihat siapa yang duduk dihadapanku. Rambut pendek, berkuncir dua di bagian bawah telinga dan persis aku mengenalnya itu Jiyeon.

“Ugh…buku-buku kuno !” dia menatap buku itu kesal. Lalu duduk di bangku dengan gayanya yang unik. Menyenderkan kepala di tangan sambil membuka buku tak niat. Dari bawah sakunya dia mengembil secuil permen coklat yang membuat giginya menyerupai nenek sihir.

Aku tersenyum lebar menunjukkan sederetan gigiku yang berhasil membuatnya menatap tajam ke arahku. Saat menggerutu sendiri, ia tampak manis sekaligus lucu sehingga aku tidak tahan untuk tidak tertawa.

“Kau meledekku? Ugh…ini gara-gara mau ujian semester jadi begini. Padahal teater kan tidak memerlukan banyak materi. Latihan dan tampil saja sudah melelahkan.” Gerutunya sambil membolak-balikkan halaman.

Haha. You’re so funny. Kenapa kau memilih jurusan teater?

“Itu karena perusahaan yang menyuruhku masuk sekolah teater dulu baru aku bisa menuju tingkat yang lebih atas lagi bersama senior-seniorku yang tentu mahir dalam memainkan peran. Jujur aku bangga bisa bermain diatas panggung drama tapi dengan masuk sekolah seperti ini aku sangat malas” ungkapnya sambil bertopang dagu menatapku.

Oh. Mungkinkah impian terbesarmu menjadi penari?

Dia mulai menatap ke langit-langit menerawang sambil memikirkan sesuatu. Dia menjetikkan jari diikuti anggukan kepala tanda aku benar.

Kenapa tidak jadi penari saja?. Tanyaku masih penasaran.

“Issh…drama juga impian masa kecilku. Aku suka pertunjukkan drama tapi kesukaanku tidak lebih daripada saat aku menari. Perasaan saat menari dan memainkan peran berbeda. Ketika menari aku merasakan gairah dan penjiwaan dalam diriku ada. Namun saat berakting penjiwaanku kurang mendalam tidak seperti menari. Jadi aku kurang di penjiwaan saja.” Paparnya.

Itu sebabnya perusahaan merekrutmu untuk sekolah disini dulu. Pantas saja! Tulisku. Dia mendesah berat.

“Seung, minggu depan aku akan pulang ke Korea untuk sesaat. Mungkin aku akan melangsungkan pernikahan juga.”dia nampak serius.

DEG!

Aku terperangah mendengar kata-katanya baru saja. Apa secepat itu dia harus menikah? Apakah ia benar-benar serius dengan Minho yang jelas-jelas nappeun namja. Aku bungkam tak merespon kata-katanya.

“Bisakah kau datang meskipun jauh?” tanyanya.

Cukup! Cukup kau memberitahukan tentang kelangsungan hubunganmu dengan dia. Ha itu saja sudah mampu menyayat hatiku. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan untuk datang ke sana? Mengulas senyum kebahagiaan, melihatnya mengucapkan sebuah ikrar sehidup semati bersama namja lain. Namja yang akan menjadi cintanya sampai mati. Bagaimana aku mampu bertahan? Saat ini juga ingin rasanya aku menjerit namun pada kenyataannya aku hanya mampu menjerit dalam hati. Demi menyelamatkan harga diriku yang sangat kentara sekali jika raut mukaku berubah sedih saat itu juga aku mengalihkan pandangan mataku. Ia mengikuti arah penglihatanku.

Di balik jendela kulihat awan mendung mulai menebal. Suara Guntur dan kilatan petir mulai menyambar. Segetir perasaan itu semakin melengkapi cuaca dalam hatiku yang bergemuruh. Dadaku sesak.

✿✿✿

Bagaimana reader? Semoga part ini memuaskan jadi bisa ngganti ketelatanku dalam mengepos FF ini. Don’t forget LIKE+COMMENT

Entry filed under: Chaptered, Drama, f (x), FanFiction, Indonesia, Life, PG, Romance, Sad Romance, SHINee, T-ara, Yo Seung Ho. Tags: .

You Make My Life Complete (Part 4) [CHAPTER 1] Ange Gardien (Guardian Angel)

6 Comments Add your own

  • 1. gazasinta  |  June 9, 2012 at 11:01 PM

    Daebak chingu,aku kagum sm klmt2nya,lanjutttt….

    Reply
    • 2. yanluwritinganything  |  June 10, 2012 at 1:11 PM

      gomawo, satu komentar kalian menambah semangatku nulis, semoga nunggu nextnya

      Reply
  • 3. Dear dHiyah  |  June 11, 2012 at 1:13 PM

    semoga jiyeon bakal sadar kLo da seseorang yg jauh lbih baik dr minho ^^

    Reply
  • 4. JullieMinHo  |  June 11, 2012 at 10:25 PM

    Keren chingu. . . Kasian ma seungho *sini ma aq aja*#pletak d’jitak sehun. . .

    Q tunggu next part’x. . .

    Reply
  • 5. Zi xun  |  November 1, 2014 at 8:54 PM

    wah walaupun aku terlambat bagus thir !salam kena

    Reply
    • 6. yanluwritinganything  |  January 19, 2015 at 8:58 PM

      salam kenal juga, terima kasih sudah mampir dan membaca🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 513,074 hits

Day by Day

June 2012
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: