Greatest Love [Part 3]

May 25, 2012 at 2:40 PM 6 comments

Title                 : Greatest Love

Author             : YanluSarang_Yanlu

Genre              : Sad Romance

Cast                : Yoo Seung Ho, Park Jiyeon, Choi Minho, Krystal

Rating             : PG-15

PrologPart 1Part 2

          Berhubung karena kemaren-kemaren banyak komen yang kayaknya penasaran ma siapa gadis-gadis no name itu aku jelasin disini dikit. Mungkin ceritaku semakin ngebingungin ya? Ini memang masih awal jadi belum tak buat konflik yang rumit, jadi maaf yua

Hehe…selamat membaca

NO BASH!        NO SIDERS!

(Back to Seung Ho POV)

Siang hari ini aku masih melakukan rutinitas pemotretan. Dari pagi aku belum pulang karena kami tidak diperbolehkan pulang sampai kegiatan ini selesai. Selain memotret kami melakukan shooting CF yang tentunya memakan waktu lama.

Saat jam istirahat aku membaringkan tubuh sejenak di sofa yang berada di pojok ruangan. Krystal menghampiriku seperti biasa memberi minuman. Sekarang hal ini sudah biasa dia lakukan padaku dan beberapa pegawai disini, jadi aku menganggapnya sebagai kebaikan pada para pekerja kameramen disini.

“Bagaimana dengan sekolahmu? Ku dengar sebentar lagi kamu akan lulus?” tanyanya seraya mengambil sesuatu dalam tas kecil yang di gendongnya.

Aku menganggukkan kepala lalu meminum air mineral dan menyeka keringat di dahi yang mulai mengucur.

“Ini, seka keringatmu” ujarnya. Dia menyodorkan tangannya memberi sapu tangan. Aku segera mengambilnya tanpa memperhatikan sapu tangannya. Kuseka keringat di dahi dan leher. Saat hendak meletakkan aku mengernyit memandangi sapu tangan itu. Bukan karena aku kagum atau sapu tangannya yang jelek melainkan tulisan berinisial SH dan motif floral yang membuatku teralihkan. Ini adalah sapu tanganku yang dulu pernah kupergunakan. Sudah lama aku tidak melihat sapu tangan ini. Aku berusaha mengingat-ngingat tentang sapu tangan ini mengapa bisa sampai ke tangan Krystal. Kemudian aku ingat bahwa sapu tangan ini dulu telah di bawa oleh seorang yeoja yang berada di Paris. Lalu kenapa bisa sampai ke sini? Aku sedikit ragu apakah gadis itu Krsytal?. Setelah kupikir-pikir lebih baik aku menanyakannya. Ku ambil note kecil yang berada di saku dan menulis sesuatu pada Krystal.

Krytal…darimana asal sapu tangan ini?

“Um…tadi pagi saat aku hendak menemui temanku aku menemukan sapu tangan di lantai”

Aku masih kurang puas dengan jawabannya lalu kutulis lagi beberapa pertanyaan.

Tempatnya dimana? Lalu siapa temanmu itu?

“di Sinchon Pesangon Hospital, wae? Kenapa kau bertanya temanku juga”

Ani. Hanya saja sapu tangan ini persis seperti kepunyaanku dulu sebelum seseorang membawanya pergi tanpa mengembalikan.

Krystal mengangguk paham lalu melihat-lihat sapu tanganku.

“Uh…ada inisial SH. Siapa ya?…Sapu tanganmu juga punya inisial SH? Seung Ho ya, kan? Mungkin saja ini nama yang lain. Nama berawalan SH kan banyak. Aku menemukan sapu tangan ini di lantai saat seorang yeoja menjatuhkannya. Dia tidak mengambilnya jadi kusimpan saja.”

Aku mengerti. Kemungkinan besar itu bukan sapu tanganku. Sapu tangan seperti itu cukup banyak. Aku membelinya di tepi jalan pedagang aksesoris. Saat sedang bergumul dengan pikiranku sendiri manager kami memanggil. Aku dan Krystal segera merapikan diri dan memulai bagian kedua dari pemotretan.

“Sepertinya kita harus kembali, kajja!”

Krsytal meraih kamera yang sedang kupegang lalu berjalan pelan menuju ruang pemotretan. Aku mengikut di belakangnya. Tiba-tiba ponselku bergetar saat hendak menuju ruang pemotretan. Nomor yang tertera bukan nomor yang ku kenal dan sedikit asing namun segera ku angkat sebelum sampai di ruang pemotretan. Suara seorang yeoja. Ia terdengar sangat gugup dan panik saat berbicara. Badanku seketika menjadi lemas mendengar informasi itu.

“Seung Ho…Apa yang terjadi padamu?” Tanya Krystal dari jarak yang lumayan jauh.

Aku berlari seraya mengambil tas di sofa lalu berpamitan dengan cepat pada manager tanpa merespon pertanyaan Krsytal. Pikiranku sudah kacau saat ini untuk menghiraukan keadaan sekitar.

✿✿✿

            “Maaf, dia terluka cukup parah dan sekarang ia butuh suplai darah dari golongan darah yang sama. Dia juga harus mengalami masa koma entah untuk beberapa hari.”

Dok, saya bisa mendonorkan darahnya. Golongan darah kami sama. Tulisku di note yang aku bawa.

“Boleh, tetapi saya perlu memeriksanya terlebih dahulu di Lab” saran sang dokter.

Baiklah. Sekarang juga kan?

Dokter yang berlabelkan Park Junsu itu mengangguk mengiyakan dan segera menuntunku menuju ruangan untuk mengambil sedikit darahku. Indra penciumku sedikit memberontak memasuki ruangan itu. Sejak kecil aku tidak suka bau obat-obatan. Perutku mulas setiap mencium hawa rumah sakit tapi kali ini aku menguatkan diri bertahan sebentar dengan bau-bau pengganggu ini demi eomma. Dokter mempersilakanku berbaring di ranjang yang cukup tinggi. Suster datang saat dokter memanggilnya untuk membantu menangani pengambilan darah.

“Rileks dulu, tarik nafas dalam-dalam tahan sebentar lalu keluarkan lagi” ucapnya menyarankan.

Bagaimana aku bisa menarik nafas sebanyak-banyaknya kalau aku saja tidak sanggup bertahan lebih lama menghirup udara sekitar ruangan ini. Kepalaku mulai cukup pusing. Suster yang berada di samping dokter itu memberikan jarum suntik yang lumayan panjang. Lalu mengusap-ngusap bagian tangan yang akan di tusuk dengan jarum menggunakan cairan yang biasa di gunakan. Setelah selesai aku segera mohon diri untuk keluar dari ruangan penyesak aliran nafasku itu. Aku langsung bernafas lega saat keluar dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Rasa nyeri di bagian yang baru di tusuk mulai terasa saat tanganku bergerak bebas. Ku langkahkan kaki menuju ruang IGD dan saat kubuka pintu kamar itu tubuhku langsung lemah mendapati sosok eomma terbaring berbalut perban di bagian kepala dan tangan. Perban yang membungkus kepalanya hampir menutup setengah kepalanya. Perasaan sesak kembali menghujamku. Mataku berkaca-kaca dan berlanjut dengan tangisan saat tak tahan melihat keadaan eomma yang terbaring koma. Dibaluti banyak perban dan di bantu dengan tabung oksigen.

“Apa yang…hiks, terjadi hiks..kali…ini! Ya Tuhan, berilah kekuatan pada hambamu ini” batinku sesenggukan.

Beberapa hari kemudian aku masih menetap di rumah sakit menjaga eomma. Keadaannya sangat memprihatinkan. Sejak pertama sampai sekarang tak ada perubahan sedikitpun. Eomma tetap diam tanpa ada gerakan tangan setitikpun. Biaya rumah sakit semakin lama semakin bertambah. Entahlah mungkin akan mampu bertahan beberapa hari saja dari sekarang. Biaya hidupku belum seberapa besar walaupun pekerjaanku sudah merupakan proyek yang lumayan besar untuk ukuran fotografer.

Aku meninggalkan eomma sebentar untuk membeli sesuatu di supermarket terdekat. Saat membuka pintu aku sedikit terkesiap melihat Krystal yang berjarak lumayan dekat di hadapanku. Tampaknya ia juga ingin melakukan hal yang sama yaitu membuka pintu tapi kami berpapasan jadi kami berdua sesaat merasa canggung. Krsytal melongokkan wajah melihat ke belakangku. Aku segera mempersilahkannya masuk dan akhirnya aku duduk berdampingan dengannya.

“Mianhae…aku turut prihatin atas keadaan ibumu. Bagaimana perkembangannya?”

Aku menggeleng mengisyaratkan serta mendesah pelan. Krsystal menatapku dengan raut sedih, ikut prihatin. Ia memperhatikanku lebih lama hingga membuatku grogi dan menatap kearah eomma menyembunyikan raut wajahku yang gugup.

“Seung-ssi, kamu pasti kurang istirahat sebaiknya kamu istirahat dulu dan aku yang akan menjaga eommamu.”

Ani. Aku ingin disini saja ucapku mengisyaratkan.

“Sudah, pulanglah! Kantung matamu sudah hitam seperti itu daritadi kamu juga mengoap terus.” protesnya tetap bertekad menyuruhku pulang.

Akhirnya karena dipaksa aku menurut untuk pulang terlebih aku sangat mengantuk dan lelah selama beberapa hari ini. Menjaga sambil sesekali mengawasi membuatku kurang tidur dan alhasil badanku sedikit sakit. Mendekati pintu keluar rumah sakit tapi karena mataku sedikit tidak fokus, aku bersinggungan bahu dengan seseorang. Meskipun hanya sebatas singgungan lenganku nyeri karena lumayan keras.

“Mianhamnida” ucapnya. Aku segera mengucek mata supaya penglihatanku sedikit lebih jelas. Belum sempat aku melihat wajahnya dia sudah berbalik memunggungiku. Sebenarnya samar-samar aku melihat wajahnya yang sekilas tapi membuatku mengernyit bingung karena kami merasa pernah bertemu. Entahlah aku tidak terlalu peduli.

✿✿✿

Januari, 2007

Satu bulan berlalu, eomma tak kunjung sembuh dan menampakkan tanda-tandanya. Dokter mengatakan bahwa eomma mengalami mati otak dan ia tak tahu pastinya kapan semua itu bisa pulih. Aku sedih, gelisah, dan merasa marah pada seseorang yang menabraknya serta tidak bertanggung jawab. Sekarang aku tidak mampu membiayai rumah sakit. Eomma masih berada di rumah sekarang. Sedangkan aku tidak mungkin terus meratapi diri dan menemani eomma tanpa melakukan sesuatu yang berguna. Pekerjaan sehari-hariku tetap kulakukan mengingat cita-citaku belum terwujud sempurna. Aku masih menaruh harap dapat kembali mengunjungi Paris. Tidak, tidak hanya mengunjungi melainkan belajar dan menjadi fotografer terkenal disana.

Seung Ho, kami semua sudah berangkat, tinggal kamu yang belum hadir cecarnya padaku di Short Message.

Maaf, tadi aku mengurus rumah dulu dan sekarang aku akan berangkat. Balasku cepat.

Di tempat kerja, pemotretan dilakukan seperti biasanya. Kali ini di luar ruangan yaitu lapangan terbuka yang dekat dengan hutan besuasana lembab serta ada model pendatang baru. Memang setiap pemotretan model selalu beda-beda tapi baru kali ini aku melihat seorang model yang bisa dibilang cantik dengan tubuh ramping ideal dan uniknya punya mata kucing karena menggunakan celak hitam di sudut mata dan di beri lengkungan lebar. Potret yang ku ambil hari ini berbentuk Close-up sehingga hanya sebatas wajah seperti bagian kedua mata, bibir, tampak samping dll. Kamera kuproyeksikan pada bagian tubuh tertentu pada saat bagian mata aku sempat memperhatikan. Dia yeoja yang sangat manis dilihat dari dekat. Kulitnya juga tampak lembut dan halus tapi senyumannya dingin. Kualihkan pandangan tentang yeoja di proyeksi kameraku ini dan kembali fokus pada kegiatan memotret.

Blitz…blitz… lampu berlomba saling memunculkan cahaya blitz. Sekarang ganti konsep dengan background hutan. Make-up  lebih terlihat natural namun dewasa. Kesan seorang perempuan pedalaman dengan coretan merah di pipi.

Selesai melakukan kegiatan memotret aku berjalan mengintari keadaan. Tiba-tiba aku sedikit terkejut melihat model baru bertampang sinis itu menghapus dandanannya menunjukkan wajah aslinya. Aku merasa pernah mengenalnya dan sudah pernah bertemu entah dimana. Penasaran dengan dirinya aku memberanikan diri mendekatinya. Dia sedang duduk-duduk membaca suatu majalah, lalu segera bangkit begitu mengetahui bahwa aku berada di depannya.

“Oh, annyeong haseyo” sapanya langsung berdiri dari posisi semula.

Aku ikut membungkukkan badan menerima keramahannya. Kulihat dia tampak sedikit memikirkan sesuatu seusai menatapku dari atas sampai bawah. Kemudian ia kembali menunjukkan muka ramahnya dan tersenyum. Matanya menyiratkan seolah bertanya ada apa.

Mianhae sebelumnya kalau aku tidak sopan tapi apakah kita pernah bertemu? Aku merasa pernah melihatmu tapi entah dimana.

Dia menanggalkan alisnya bingung setelah membaca tulisanku. Lalu ia tersenyum manis menanggapinya.

“Aku rasa pernah…” gumamnya.

“Ne? Dimana?” tanyaku masih bingung melebarkan gerakan tangan.

“Kamu tidak ingat? Ah…untung saja!” gumamku lirih pada kata terakhir.

Mwo? Apa yang baru saja kamu katakan?

Dia menggeleng lalu tersenyum menjabat tangan. Sedari tadi kami mengobrol tanpa tahu nama masing-masing.

“Park Jiyeon imnida”

Seung Ho imnida. Balasku dan ikut tersenyum. Melihat kru-kru sudah mulai membereskan peralatan. Aku segera membantu mereka. Kulihat Jiyeon berteduh di bawah meja berpayung. Aku menatapnya lagi dengan rasa penasaran, sebersit perasaan senang menghampiriku.

Gadis bermata kucing itu masih berdiri di tepi jalan. Ia mengedarkan pandangan seperti mencari seseorang. Awalnya aku hendak pulang tapi melihat dia sendirian membuatku terpaku di belakang pohon sembari mengawasi. Bolak- balik ia menatap jam di tangannya tampak gelisah hingga aku jadi ikut gelisah sendiri. Tanpa pikir panjang kuputuskan untuk menghampirinya. Dia melihatku lalu tersenyum kembali berusaha menghilangkan gurat kegelisahannya. Aku menjadi sedikit canggung saat mendekatinya.

“Wae? Tak pulang?” tanyanya.

Aku menggeleng dan menuliskan sesuatu. Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu masih berdiri disini?

“Oh, aku sedang menunggu jemputan.”

Tapi sepertinya jemputanmu lama. Bagaimana kalau kuantarkan pulang?. sebentar lagi matahari akan terbenam.

“Um…Baiklah, kajja!” jawabnya menyetujui tawaranku.

Tanpa kusadari aku tersenyum senang, segera ku jajari langkahnya sebelum menjauh. Jalanan di sekitar kami begitu sepi oleh lalu lalang orang karena tempat pemotretannya mengambil di tempat yang sepi dari khayalak orang. Dekat dengan hutan disertai suasana pedesaan.

“Apa tidak ada kendaraan lewat sama sekali?” gumamnya yang mungkin ditujukan padaku. Aku hanya mengerdikkan bahu tak tahu pastinya karena memang keadaan ini cukup mencekam mengingat matahari perlahan-lahan masuk di telan garis cakrawala. Jiyeon berjalan menunduk, tampak kesal dan kecewa. Aku hanya diam dan terus berjalan mengantarnya. Jarak ke jalan raya cukup jauh. Sudah setengah jam jalan pedesaan ini tak kunjung berakhir masuk ke dalam kota.

Kreek…

“Aw…what the− Aish!!” gerutunya memandangi sepatu yang patah  pada bagian haknya.

Jiyeon, waeyo? Sepertinya kamu harus lepas sepatu. saranku sambil melepas sepatunya,  lecet di kakinya tampak jelas.

“Ani. Apa yang kamu lakukan?Gwechana, kita jalan saja terus” elakknya tapi masih meringis kesakitan. Akhirnya aku jongkok menawarkan diri untuk memberi gendongan. Awalnya dia menggeleng tak mau tapi melihat jalanan masih sepi akhirnya ia mengalah dan naik di atas punggungku. Beberapa menit kemudian kami saling diam. Tak satupun bunyi terlontar baik itu dehaman atau nafas yang berhembus pelan seakan ikut menyeiramakan suasana. Setelah lumayan jauh beberapa langkah dari kejauhan terlihat sebuah kendaraan mulai mendekat. Perasaanku lega sekarang, mungkin itu adalah mobil. Segera ku lambaikan tangan membuat tanda. Mobil truk kecil itu perlahan-lahan menepi dan menanyakan sesuatu pada kami berdua. Aku memajukan dagu menunjuk Jiyeon agar ia mengatakan sesuatu pada supir itu. Jiyeon justru menggeleng tak mau berbicara. Akhirnya aku menunjuk bangku sebelah supir dan memperagakan kami berdua supaya mendapat tumpangan. Untungnya sang supir segera paham. Aku tersenyum dan membungkuk berterima kasih. Aku segera mengajak Jiyeon masuk tapi ia menepis tanganku dengan cepat.

“Seseorang akan menjemputku, silahkan kalau kau ingin duluan” tegasnya sukses membuatku mengernyit tengertiak m. Melihat suasana jalan sesepi ini aku tak yakin akan meninggalkannya sendirian disini. Akhirnya dengan sedikit memberanikan diri ku gandeng tangannya mengikutiku masuk. Kubukakan pintu dan akhirnya Jiyeon mengalah sambil menatapku kesal.

“Kalian dari mana? Kenapa pergi ke daerah pedesaan seperti ini?” Tanya pak supir.

Aku menunjukkan kamera dan foto-foto di dalamnya. Pak supir paham dengan maksudku. Kutolehkan muka tepat saat itu juga aku terhenyak. Jarak antara kami berdua cukup dekat. Untung saja Jiyeon sedang menerawang keluar. Raut wajahnya terlihat sangat kesal. Entah karena aku atau karena seseorang tidak kunjung menjemputnya. Jika aku tidak punya perasaan pasti sudah aku tinggal tapi dia seorang yeoja. Meski seseorang akan menjemputnya tetap saja menunggu di tempat yang lumayan sepi akan berbahaya.

“Kemana kalian akan pergi?” Tanya pak supir.

“Incheon!” Jiyeon menjawab dengan cepat tanpa menoleh.

✿✿✿

Maret, 2007

Sejak pertemuan aku dengan yeoja bernama Park Jiyeon itu tak pernah direncana kami selalu berpapasan. Jiyeon memang bukan model pemotretan seperti yang aku kira waktu itu. Dia hanya mengisi sejenak untuk suatu majalah. Meskipun aku sudah tidak bertemu dengannya di tempat pemotretan dia selalu mampir ke Café dekat tempat pemotretanku.

Sekarang ia sudah di kenal oleh media. Memang awalnya ia pernah tinggal di korea tapi itu dua tahun yang lalu. Ia dikenal oleh media bukan hanya karena kecantikannya tapi karena ia pandai menari, menyanyi sekaligus acting. Kenapa aku tahu semuanya? Karena kami selalu mengobrol saat bertemu. Sekarang kami sudah dekat, entah kenapa aku merasa nyaman bercerita dengannya. Ia begitu memahamiku, gerak-gerikkku meski aku bisu. Seolah-olah ia sudah lama mengenalku dan memahami bahasa isyaratku.

“Jiyeon, kenapa secepat itu kamu menguasai bahasa isyaratku?” tanyaku tanpa basa basi. Tiba-tiba ia berhenti melakukan aktivitas makannya. Biasanya saat aku berbicara atau bertanya di tengah makannya ia tidak begitu menghiraukan tapi kali ini ia tampak terkejut.

“Um…itu…aku hanya tahu saja, otakku kan cerdas bisa menyerap visual secara cepat” jawabnya enteng. Lalu ia kembali melahap makanannya dengan cepat. Tak bisa dipercaya yeoja selangsing dan semanis dia makan begitu banyak dan cepat pula. Hampir 3 piring dengan jenis makanan yang berbeda ia habiskan. Aku saja yang namja tidak sebanyak itu dalam menyantap hidangan.

Ia mulai bangkit dari kurisnya setelah kami berdua cukup lama mengobrol. Dia membayar semua makanan di tempat kasir sedangkan aku menunggunya di pintu masuk. Ia mulai berjalan menghampiriku melalui pintu masuk.

Jobmu sudah selesai kan? Apakah kamu mau kuajak jalan-jalan sebentar?

Tawarku padanya. Ia berpikir sejenak lalu mengangguk meng’iyakan. Kami berjalan beriringan.

Aku ingin ke tempat yang indah sore ini sekaligus memotret, apakah kamu mau menjadi objeknya?

Dia menoleh terkejut padaku. Lalu ia memandang lurus kedepan tanpa menjawab pertanyaanku. Aku sedikit kecewa tapi mungkin dengan cara diam-diam bisa ku lakukan. Sesampainya di dekat sungai Han aku berhenti di bawah jembatan. Mengamati sebentar menimang-nimang objek yang akan di abadikan. Matahari senja mulai menuruni langit cakrawala. Aku mengambil kamera di tas kecil mulai mengatur fokus lalu memincingkan mata memotret melalui lubang kecil disana. Tiba-tiba saja Jiyeon berdiri di depan kamera menghadap matahari senja seperti menerawang. Sepertinya ia sengaja berpose supaya aku mengambilnya. Aku tersenyum menatapnya sejenak dan mulai memotret. Posenya sangat baik, mungkin karena ia memang orang entertainment.

“Seung…apa yang kamu lakukan? Aku belum mengijinkanmu memotretku!” ucapnya tiba-tiba.

Aku mengerdikkan bahu dan mengalihkan kamera kearah bawah jembatan sungai Han. Tiba-tiba ia mendekat kepadaku dan membuat gembungan di pipi. Itu sangat menggelikan bagiku. Dia mengetuk-ngetukkan sepatu kesal dengan tingkahku. Aku tertawa di depannya. Baru kali ini aku bisa tertawa selepas ini. Jujur selama aku hidup belum pernah sekalipun seseorang membuatku bisa tertawa selepas ini. Meskipun tak ada suara yang keluar dari mulutku.

“Apa yang kamu tertawakan?” Tanyanya heran.

Wajahmu sangat lucu. Seperti ikan balon. Ungkapku masih menahan tawa.

“Huh?” mimiknya terkejut. Aku tidak tahu kenapa ia terkesan kaget saat aku mengatakan itu. Aku memilih diam dan kembali memfokuskan diri memotret tanpa menjawab terlebih dulu pertanyaannya. Aku menyenggol lengannya lalu mengangkat tangan menunjuk posisi matahari terbenam. Langit kemerahan menandakan senja telah datang. Aku bersiap memotret tapi tiba-tiba Jiyeon mengagetkanku dengan menongolkan wajah persis depan kamera. Tanganku bergerak mengibas-ngibaskan supaya ia segera menyingkir dari depan kamera. Satu hal yang kuingat saat hendak memotret tadi.

Ia mirip gadis balon.

✿✿✿

            Malam hari saat aku hendak membeli kebutuhan pokok di supermarket aku melewati deretan toko pakaian yang membuatku berhenti sejenak. Bukan pakaian yang ada di bagian kaca depan yang aku lihat tapi background yang berada di belakangnya yang menarik perhatianku. Yeoja yang kuakui aku menyukainya. Lebih, dan sekarang aku mencintainya. Seperti apapun penampilannya ia tetap terlihat sangat cantik meski pakaian itu terlalu dewasa untuknya. Lalu aku melanjutkan jalanku yang tertunda. Satu pemandangan mengejutkan terjadi di hadapanku. Di pinggir jalan sana aku melihat dengan jelas yeoja yang kucintai itu bergandengan tangan bersama seorang namja berperawakan tinggi dan sempurna. Pemandangan itu memang tidak bertahan lama dihadapanku tapi mampu membuatku merasakan sebilah pisau yang mengiris pelan di setiap rongga dadaku. Cinta yang baru saja tumbuh harus tergores secepat itu. Rasanya aku ingin cepat-cepat pergi tapi kakiku tertancap kuat disini. Suhu di sekitarku sudah semakin memanas seiring dua sejoli itu berjalan semakin jauh ke ujung jalan sana.

Tbc

Hmm…aku pasrah deh ama readers mau bilang apa, hehe yang penting jangan siders ya?

oke deh, part 4 aku bocorin ada konflik dikit tapi belum puncak.

Entry filed under: Chaptered, Drama, f (x), Indonesia, Life, PG, Romance, Sad Romance, SHINee, T-ara, Uncategorized, Yo Seung Ho. Tags: .

[Stand Alone] Lollisomnia 3: Uncontrol Mind The Pain (Part 4)

6 Comments Add your own

  • 1. Dhiyah Queen  |  May 27, 2012 at 6:38 AM

    q paham sekarang !!! *author : ea ela, kmna z lo ??!!*

    sabar ea seungho …

    Reply
    • 2. yanluwritinganything  |  May 27, 2012 at 7:47 AM

      haha, ea..
      hwaiting Seungho!! *lho?

      Reply
  • 3. JullieMinHo  |  May 27, 2012 at 9:41 PM

    Anyeong q reader bru naneun jullie imnida. . .
    Nice FF. . .
    Part 4 q tunggu. . .

    Reply
    • 4. yanluwritinganything  |  May 28, 2012 at 1:10 PM

      salam kenal, gomawo..

      Reply
  • 5. Avina ramadhan  |  November 11, 2013 at 12:39 PM

    Penasaran nich! Emank si gadis balon itu jiyon(bener ga’ ya tulisan a)ya.?
    Kerenz bgt thor, bikin org gak bisa brenti bacanya.

    Reply
    • 6. yanluwritinganything  |  December 20, 2013 at 11:32 PM

      mwehehe sapa hayo?
      wah makasih :*

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,714 hits

Day by Day

May 2012
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: