[Stand Alone] Lollisomnia 3: Uncontrol Mind

May 18, 2012 at 12:19 AM Leave a comment

Author: helmyshin1

Main Cast: Lee Chaerin, Yong Junhyung B2ST

Support Cast: Park Hee Hyo (Me)

Genre: Psychology

Rating: PG-15

Lenght: Oneshoot, Stand Alone

Special thanks to: Nadya for all suport and Vira Eonnie for cover ^^

Shin1 Note: Fanfic ini ber-genre Psychology, tentu kalian udah pada tau bahwa memerlukan ‘kerja otak’ yang agak lebih untuk memahami ceritanya.

Maaf Lolli 3 munculnya lama, ada ‘sesuatu’ yang mengganjal dalam pembuatan FF ini😄. Sebagai ganti, Lolli 3 saia bikin lebih panjang.

Mungkin ada yang bingung kenapa FF ini cast-nya berbeda, FF ini seperti series, jadi castnya bisa berubah-ubah. Kali ini saia memakai CL 2ne1 untuk Special Birhtday 2ne1🙂

.

.

PROLOG

Seorang gadis kecil berlarian di tempat terbuka yang dipenuhi berbagai jenis bunga. Di bawah langit biru, gelak tawanya menggema bersama rambut hitamnya yang tergurai. Ia masih berlarian kecil, dress putihnya berkibar direbut udara. Kau tersenyum melihatnya. Seolah kebahagiaan kau rasakan juga.

Tiba-tiba, gadis itu jatuh, kau terkejut karenanya. Dirimu segera menghampiri gadis itu, mencoba menolongnya. Kau genggam kedua bahunya, kau coba bertanya apakah ia terluka. Namun alangkah terkejutnya engkau kala sampai di hadapan gadis tersebut.

Dua bola mata si gadis yang semula hitam berevolusi menjadi merah menyala, merah darah. Ekspresinya sangat mengerikan. Dalam hitungan detik, wajahnya berangsur retak, seolah terbuat dari tanah liat yang sekarang mengering. Rapuh.

Bola matanya jatuh, menggelinding ke arahmu. Retakan itu merambat ke seluruh tubuhnya, merubahnya menjadi serpihan-serpihan kecil. Laksana debu yang diterbangkan angin, serpihan tubuh itu terbang diiringi gelak tawa si gadis yang membahana.

Mulutmu menganga. Proses retakan tadi terus diputar berulang-ulang di otakmu.

Debu tadi seakan menebarkan kegelapan ke dunia, mengubah langit yang semula cerah menjadi gelap juga. Dan suara tawa itu berubah menjadi tangisan, tangisan yang benar-benar memecahkan gendang telinga siapa pun yang mendengarnya. Bahkan darah berhasil mengucur dari kedua lubang telingamu.

Kau memekik kencang. Seakan menyaingi suara tangis itu.

Sejurus kemudian, kau rasakan tubuhmu melayang mengikuti partikel debu. Seolah melayang oleh waktu. Bersama jeritanmu beberapa detik lalu, alam seakan mencoba mengingatkanmu akan suara yang baru saja kau buat.

Entah di mana kau sekarang.

Gelap.

Tak berhawa.

Tak berbau.

Yang bisa kau rasakan adalah, kau tengah menahan peluh di pelipis kanan kepalamu. Dengan ragu kau langkahkah kakimu, rasanya sungguh berat, seperti ada barbel berton-ton yang dirantai dengan kakimu.

CRASH !

Tiba-tiba langkahmu terasa sangat ringan. Kau sadari kau tengah berdiri di atas sebuah cairan yang entah apa jenisnya. Kau sungguh tak dapat melihat apapun, bahkan tanganmu sendiri, terlampau gelap di sini.

Entah mengapa, cairan di bawahmu volumenya meninggi. Yang mula tingginya hanya sampai betismu, sekarang sudah mencapai pahamu, terus merayap hingga ke perutmu. Kepanikan mulai memenuhimu.

Kau coba ‘tuk berlari, kau coba ‘tuk mencari jalan keluar. Tapi air itu lebih cepat darimu, semakin lama, semakin mencapai ujung kepalamu. Kau tenggelam. Keahlian berenangmu seakan sirna direnggut cairan itu.

Melayang di sebuah kolam renang tak bertepi, yang berisi air bervolume tinggi cukup menyita kesadaranmu. Tanpa sengaja, cairan itu mengenai lidahmu, membuatmu mencicipi rasa apa yang terkandung dalam air itu.

Cair, sedikit amis, asin dan anyir. Perumpamaannya, jika kau mengiris lenganmu, maka akan ada sejenis cairan yang mengucur dari situ, rasanya kurang lebih seperti cairan itu. Tidak, sama persis. Ya, sama persis !

Dan rasa aneh itu hampir membuatmu muntah karenanya. Namun bagaimana bisa kau muntah di dalam air? Sedangkan kau bisa merasakan dadamu semakin sesak dan detak jantungmu melemah?

Kau butuh seseorang. Kau butuh seseorang yang akan mengulurkan tangannya dan mengentasmu dari air itu. Kau sangat membutuhkannya.

Dengan susah payah, kau dongakkan kepalamu, berharap muncul seberkas cahaya dari atas sana. Dugaanmu meleset. Kanan, kiri, depan, belakang, atas maupun bawah, semuanya gelap. Seperti tenggelam di dasar palung yang tak pernah terjamah. Tiada cahaya sedikit pun.

Kau tutup matamu. Film. Seperti film yang diputar di proyektor raksasa. Film milikmu. Naasnya, hanya menampilkan kenangan-kenangan buruk. Kesedihan kala orang terdekatmu direnggut nyawanya tanpa permisi, kekecewaan kala sang kekasih  bermain dengan wanita lain di belakangmu, kekesalan kala usaha-usaha kerasmu berbuah kecil atau bahkan tak berguna.

Semua rasa itu memenuhi dadamu, membuatnya semakin dan semakin sesak. Senyum, tawa, keberhasilan, kebahagiaan, kenangan, persahabatan, semuanya hilang bagai di sulut api yang berkobar.

Musnah.

Kau menangis. Ya. kau menangis.

Kau pejamkan kedua kelopak mata indahmu, merasa benci terhadap dirimu sendiri. Merasa benci akan semua ideologi dan persepsi gila yang selama ini menghantui otakmu.

Kau benci itu. Sangat dan sangat. Bahkan kau menyesal mengapa Tuhan menciptakanmu dengan karakter seperti itu.

SALAH !

SALAH BESAR !

..Uncontrol Mind..

Di bawah pagi yang tak seceria hari-hari sebelumnya, di bawah pagi yang menyembunyikan sinar mentarinya, di bawah pagi yang tak menampakkan kabar gembira sedikit pun, Chaerin terbangun dari tidurnya. Ia beranjak, menyeret kedua kakinya menuju pintu kamar.

Tak seperti biasanya, Chaerin merasakan hawa kamarnya begitu dingin dan.. tak berkehidupan.

Tanpa pikir panjang, Chaerin bergegas membuka pintu. Kali ini, gadis itu tak merasakan sisa kantuk yang seharusnya masih menggerayapinya, tak ada kabut yang menghalangi padangannya, tak ada otot lemah yang menghambat kegiatannya.

Ia merasa segar. Aneh.

To un-explain, The unforgivable,
Drain all the blood & give the kids a show
By streetlight, This dark night,
A séance down below
There’re things that I have done…

Perempuan yang terlahir di Seoul itu mendengar ponselnya berbunyi, memaksanya berbalik selangkah sebelum membuka knop pintu. Cherin menggerutu.

Ia mengamati sejenak nomor tak dikenal yang tertera di layar ponselnya. Agak ragu untuk menjawab panggilan itu.

“Yeoboseyo,” ucap Chaerin lirih, ada perasaan was-was yang mulai menggerayapinya. Chaerin menunggu, namun orang yang menelefonnya sama sekali tak memberi respon.

“Yeoboseyo?” kali ini nadanya seperti bertanya. “Siapa di sana?” dan kali ini ia benar-benar bertanya. Terbesit pikiran untuk mengakhiri pembicaraan dengan penelefon yang tak dikenalinya, dan ia pun sungguh memutuskan untuk menekan tombol merah menyala pada tutsnya.

Kreeeeet…

Chaerin nyaris meloncat kala mendengar suara dari seberang telefon. Ia menangguhkan niat untuk mengakhiri pembicaraan. Tiba-tiba jantungnya berdegup lebih kencang. Telinganya mendengar sebuah suara seperti kain yang disobek paksa, atau seperti pintu dibuka yang bergesekan dengan lantai, tidak jelas.

“Lee Chaerin.”

Gadis yang namanya disebut meneguk ludahnya sendiri. Menahan peluh di pelipisnya. Ya. Orang itu menyebut namanya. Nama lengkapnya. Nama aslinya ! Dengan nada yang begitu datar dan terdengar tanpa ekspresi. Suara yang berat dan terdengar seperti sebuah desahan.

Sejurus kemudian, Chaerin merasakan tubuhnya bergetar.

“Ss.. siapa kau..” balas Chaerin ragu. Kedua telapak tangannya berkeringat, jantungnya berdetak lebih kencang, darahnya berdesir.

Tuut.. tuut.. tuut..

Detik ini, Chaerin telah mengakui bahwa ia benar-benar takut.

.

.

Chaerin-ah, Eomma dan Appa pergi ke rumah Aboeji. Kami akan pulang sekita pukul 9 Malam. Maaf tidak memberitahumu sebelumnya, belilah makanan dengan uang di atas meja makan.

Chaerin berjalan dengan gontai ke arah meja makan, meletakkan note yang semula ditempel di pintu kulkas. Chaerin menemukan beberapa lembar uang di atas meja, namun gadis itu tak sedikit pun tertarik untuk menyentuhnya, telefon tadi masih mengganggunya.

Siapa yang menelefonnya tadi? Untuk apa? Iseng? Mencari sensasi? Atau.. benci?

Lee Chaerin belum beranjak, tubuhnya masih mematung. Sejuta pikiran dan dugaan gila mulai mendatanginya, hingga sebuah ringtone menyadarkannya. Lagi.

To un-explain, The unforgivable,
Drain all the blood & give the kids a show
By streetlight, This dark night,
A séance down below
There’re things that I have done…

Baru saja kita berbicara tentang telefon, dan ponsel Chaerin pun berdering kembali. Entah mengapa kali ini Chaerin berlari menuju kamarnya, mencari keberadaan ponsel dengan merk terbarunya.

Beberapa saat kemudian, tak terdengar lagi suara langkah yang beradu, hanya detak jantung yang berusaha distabilkan. Jelas-jelas Chaerin tengah diliputi rasa takut, namun di sisi lain, ia begitu penasaran.

Bersama keraguan yang membuncah, Chaerin menggenggam ponselnya, memejamkan matanya beberapa detik, dan menjawab panggilan tanpa melihat layar ponsel terlebih dahulu.

“Yeo.. yeoboseyo..”

“Chaerin-ah! Cepatlah datang ke sini.. bukankah kita sudah membuat janji jam 8 pagi?” sebuah suara yang sangat Chaerin kenal berkicau di seberang. Sungguh, kala itu Chaerin benar-benar lega, seolah semua beban dan ketakutannya terusir bersama satu hembusan napasnya.

“Chaerin-ah!” suara itu terdengar kembali, menyibakkan tirai lamunan Chaerin. “Oh, iya. Mian, aku akan segera ke sana.” Jawab Chaerin senormal mungkin. “Secepatnya,” tambahnya lalu mengakhiri panggilan.

Gadis kelahiran 26 Februari 1991 itu melesat ke kamar mandi, membersihkan badannya, menyembunyikan apa saja yang baru dialaminya beberapa puluh menit yang lalu.

.

.

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Park Hee Hyo?” tanya Chaerin penasaran. Tidak biasanya gadis bermata kucing itu mengajak bertemu dahulu sebelum berbicara. Hee Hyo yang Chaerin kenal adalah sesosok gadis blak-blakan dan tak peduli dengan dunia sekitar.

Hee Hyo mendesah, nampak memikirkan ucapannya dengan matang, “aku..” dan ia baru bisa menggantungkan perkataannya, membuat Chaerin semakin penasaran. Pasti sesuatu yang penting. “Aku menjalin hubungan khusus dengan.. Junhyung.”

Chaerin memaksa ludahnya masuk ke dalam kerongkongannya sendiri. Ia berusaha mencerna satu kalimat saja yang baru ia dengar. Tapi otaknya bekerja sangat lambat kali ini. Chaerin membisu untuk beberapa detik.

“Kkau.. hahaha.. kau tidak perlu bercanda, Heehyo-ya. Ulang tahunku sudah lewat, mestinya kau menyimpan lelucon itu untuk tahun depan,” Chaerin terbata, bibirnya tersenyum sesekali, namun matanya tak bisa berbohong. Ia tak percaya.

Heehyo yang sudah menebak apa respon Chaerin hanya membuang napasnya, membenarkan letak duduknya. “Chaerin-ah..” kini suara itu terdengar seperti sebuah desahan, “kau tau persis apa yang aku maksud,” dan nampak sangat serius.

“Maaf, Chaerin. Sungguh, ampuni aku,” tambah Heehyo dengan mata berkaca. Heehyo tau bahwa dirinya salah, Heehyo tau bahwa keputusannya menerima cinta Junhyung adalah salah. Salah besar.

“Aku memang tolol,” ada seberkas penyesalan yang tersembunyi dalam nada bicara Heehyo. Ya. Terkadang ia merasa bersalah, namun hatinya tak bisa berbohong, hatinya telah bicara bahwa ia mencintai Junhyung.

Suara gesekan kursi meruntuhkan tembok lamunan Chaerin, gadis itu mengangkat kepalanya, menatap bola mata sang sahabat dengan nanar. “Aku harus pergi,” itulah kalimat terakhir yang mampu Chaerin cerna.

.

.

Gadis itu menyusuri jalanan dengan langkah terseok. Ia nyaris tumbang beberapa kali saat tak bisa mengontrol keseimbangannya untuk berdiri. Biasanya, si gadis akan merapikan rambutnya jikalau tertiup angin, namun kali ini ia membiarkannya berkibar.

Kau pasti bisa menebak masalah yang tersembunyi dari kedua bola matanya, caranya melihat, merespon sesuatu, hingga kelirihannya berbicara.

Ya.

Satu-satunya sahabat yang dibanggakannya, disayanginya, yang menemaninya, selalu ada untuknya selama beberapa tahun, kini mengkhianatinya, mengkhianati dalam masalah cinta.

Perkataan Heehyo terus terngiang di kepalanya. Jujur, ia tidak pernah mengharapkan ini semua, ia tidak pernah membayangkan ini semua. Hatinya remuk, hancur. Pengkhianatan dua orang paling ia sayangi jauh dari dugaannya.

To un-explain, The unforgivable,
Drain all the blood & give the kids a show
By streetlight, This dark night,
A séance down below
There’re things that I have done…

Sungguh, jika ia punya tenaga, maka Chaerin sudah melempar ponselnya ke segala mana pun agar hancur sekalian, sayang, tangan itu terlampau lemah untuk melakukan itu semua.

“Yeoboseyo..” ucapnya parau, serak yang menyedihkan. Sama seperti beberapa waktu yang lalu, tiada bunyi apapun yang ia dengar. Gadis itu hendak memutuskan pembicaraan, namun ia terpaku kembali kala mendengar suara-suara yang asing.

Hanya suara pintu yang diketuk dengan interval beraturan, diiringi dengan bunyi dentingan jam yang menggema. Suara itu makin keras, keras, dan besar. Ia merasakan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya semakin banyak, banyak, hingga dunia pun tak cukup untuk menampungnya. Sangat banyak hingga menghimpitnya, membuat dadanya sesak, sulit bernapas.

Ilusi.

Banyak orang, namun di antara berjuta orang itu, tiada yang ia kenal satu pun, membuatnya merasa sangat dan sangat sendiri, membuatnya merasa terlahir di dunia tanpa siapa pun yang mengenalnya. Membuatnya merasa tiada kebahagiaan yang mengisi hidupnya.

Membuatnya merasa.. runtuh, hancur, musnah.

Ckiiiit… BRAK !

Tiba-tiba, sebuah pekikan jalan membuat ponsel itu lepas dari genggamannya, bersamaan dengan bola matanya yang terpaku pada sebuah kecelakaan di hadapannya.

Kejadian itu terekam sempurna di otaknya. Ketika sebuah truk besar menghantam tubuh lemah Park Heehyo, melemparkan tubuh Heehyo beberapa meter hingga menghantam tembok kosong dan hancur. Meninggalkan darah dan puing-puing anggota tubuh yang berceceran.

Sungguh, saat itu Chaerin ingin memuntahkan segala yang dimakannya kemarin. Sayangnya ia tumbang terlebih dahulu.

.

.

Aku merangkak diantara kehampaan. Mencari sebuah kedamaian yang bisa menyembuhkan kekeringan di kerongkonganku, mencari sebuah kebahagiaan untuk mengisi jiwaku. Aku terus merangkak, menyusuri padang yang gersang nan tak berpenghuni.

Panas.

Kering.

Kosong.

Seperti jiwaku. Satu-satunya alasanku hidup adalah dia, lelaki itu. Namun dia kini telah pergi, pergi bersama sahabatku yang musnah terlebih dahulu.

Tolong.. sungguh siapapun tolonglah aku. Aku kini berada di ambang kehancuran. Siapapun tolonglah aku.. bangunkan aku dari lautan kesedihan ini..

Aku.. aku mau mati.

.

.

Sebuah ringtone bernada ‘mengerikan’ menggema di setiap sudut rumah yang lengang. Seorang gadis yang terkapar di atas tempat tidur membuka matanya perlahan, semampu mungkin mengumpulkan puing-puing kekuatannya yang berceceran, ia menerjap-nerjapkan matanya.

Langit-langit itu nampak jauh lebih rendah dari biasanya, setiap sisi tembok itu terasa menyempit seiring dengan hembusan napasnya, kekosongan itu semakin menghimpit jiwanya, seolah bekerja sama untuk menyiksanya.

Entah mengapa, sang gadis melompat dari tempat tidurnya, sekonyong-konyong mengambil ember dari kolong tempat tidur, memuntahkan segala makanan atau pun minuman yang lama bersarang di tubuhnya.

Ia melakukan itu semua dengan refleks, seolah telah biasa melakoninya, seolah sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari.

Ia tertatih menuju kamar mandi yang satu ruangan dalam kamarnya. Gadis itu mencoba menyalakan keran walau tubuhnya tak mau, walau tubuhnya sudah berontak mau tumbang, namun ia bersikeras untuk membasuh mukanya, melihat sepucat apa wajahnya kini.

Dugaannya sedikit meleset. Wajahnya lebih pucat dari apa yang ia bayangkan. Bibirnya putih seperti telah lama terdiam di samudra atlantik, kulitnya dingin lebih dingin dari es, dan putih pucat melebihi orang yang sudah mati.

“Hhh.. hh..” napas gadis itu memburu, ia amati wajahnya lagi. Pikirannya melayang jauh, mencari memory kejadian yang baru ia alami entah berapa jam yang lalu.

Jam, benar!

Akhirnya, si gadis keluar dari kamar mandi. Masih dengan langkah terseok, ia membuka laci mejanya dengan kasar, seperti mencari sesuatu yang penting. Gadis itu menemukan apa yang ia cari.

Jam digital. Hari ini pukul 9 pagi, hari kamis.

Kamis? Berarti.. dia pingsan selama 4 hari, bukan? Dihantui mimpi buruk selama 96 jam ‘kan? Sungguh malang nasibmu, Lee Chaerin.

Chaerin terkesiap, di mana orang tuanya? Apakah tiada yang sadar akan kehadirannya?

Gadis itu mencoba berjalan menuju pintu, sekali lagi, ia sangat lemah hingga harus tumbang kembali.

.

.

Putih. Kosong. Tiada sesuatu apapun.

Tunggu.

Kau lihat seorang lelaki yang duduk tenang di sana? Duduk di atas bangku yang sama putihnya dengan lantai, tembok, dan langit-langit? Membuatnya terlihat melayang?

Dialah Junhyung. Lelaki bertubuh besar dengan pandangan yang hanya tertuju pada satu arah, yang hanya tertuju pada seorang gadis yang tengah meringkuk kesakitan di sudut ruangan.

“Lee Chaerin..”

Gadis yang namanya disebut mulai tersadar. Ia ingat suara itu, caranya mengucap namanya, nadanya, semuanya, dialah orang itu, orang yang menyebut namanya melalui telefon genggam.

Entah mengapa ia bisa mendongakkan kepala, seolah suara itu memberinya kekuatan tersendiri, seolah suara itu memulihkan luka dengan menambah rasa sakitnya, seolah pemilik suara itu adalah Tuhan, hanya Tuhan-nya, yang mengendalikan dirinya.

“J.. Junhyung..” ucap Chaerin nyaris tak percaya. Ia benar-benar melihat sosok pemuda yang menjadi belahan jiwanya,yang lama menghilang dari hatinya. Perlahan, tangan kanannya terangkat, mencoba menggapai Yong Junhyung, tapi yang ia dapat hanyalah udara kosong.

Tiba-tiba, Chaerin mengangkap bayang-bayang Park Hee Hyo dengan pandangannya, bayang-bayang Heehyo tengah tersenyum kepadanya, bayang-bayang Heehyo yang samar-samar menghilang lalu muncul kembali, dan begitu seterusnya.

Deja Vu.

Chaerin berani bersumpah bahwa ia tak bisa membedakan antara kenyataan dan halusinasi saat ini.

Gadis itu mendekati Chaerin, mengeleminasi jarak 10 meter dalam hitungan detik. Chaerin baru menyadari benda apa yang gadis itu –Heehyo- bawa setelah sampai di depan matanya.

Sebuah pisau.

Sebuah pisau yang akhirnya menembus kulit tubuhnya, mengiris jantungnya dengan kekosongan, kehampaan, kesedihan, kesendirian, dan sejuta perasaan membunuh di ujung mata pisau tersebut. Chaerin tak mampu dan tak sanggup mengelak sedikit pun. Seolah tubuhnya telah dibekukan oleh es, ia mematung.

Namun, di kala pisau itu benar-benar sampai di ujung jantungnya, Chaerin baru merasakan rasa sakit yang luar biasa, membuatnya mengeluarkan semua suara yang dimilikinya.

“Aaaaaaaaaaa..,”

.

.

Kreeeet..

Pintu kayu itu terbuka, menampilkan seorang gadis berambut panjang dengan pandangan setengah kosong. Entah terlalu banyak berpikir atau pun terlalu banyak menggunakan egonya.

Ia terkesiap kala lantai rumahnya dipenuhi darah hingga cairan pekat itu menempel di telapak kakinya. Sosok wanita yang dikenalinya sebagai seorang ibu tergeletak tak bernyawa bersama darah yang menggenang disekitarnya. Sebuah belati tajam masih bersarang di perut si ibu.

“Eomma,” ucapnya datar, diikuti gemuruh petir dan angin yang berhembus semakin kencang, membuat gadis itu baru menyadari bahwa hari sudah gelap.

“Kau tak pantas hidup, Lee Chaerin. Kau hanyalah boneka milikku.”

Ia melangkah lagi, menemukan sang ayah dengan wajah tak berbentuk, dengan darah yang tidak berceceran di lantai, melainkan terlukis di dinding putih, terlukis tak beraturan, namun indah.

“Kau tau, setiap gadis yang pernah menjadi kekasihku harus mati..”

Kali ini Lee Chaerin menyeret kakinya, gema suara yang datar menguasai otaknya.

“..karena tidak ada yang patut merebut hatiku..”

Gadis itu menaiki tangga dengan lambat, seolah menghitung berapa kali ia mencuri okigen dari tumbuhan sekitar rumahnya.

“..termasuk kau. Kau tidak pantas hidup. Layaknya Park Hee Hyo, kau-harus-mati..”

Angin malam berhembus dengan sangat kencang, membawa dedaunan kering dan kertas-kertas ringan berterbangan, memaksa benda-benda itu mengikuti jalurnya walau tak mau.

Chaerin berdiri di balkon tak berpagar rumahnya, berdiri di ujungnya. iA merentangkan kedua tangannya, membiarkan gas apapun meresapi pori-pori kulitnya, meracuni setiap sel dalam tubuhnya, menguasai syarafnya, mengendalikannya. Dress putihnya berkibar, rambutnya seolah nyaris lepas terbawa alunan angin.

Akhirnya, angin itu benar-benar merampas kekuatan Chaerin, membuat sang gadis tak mampu melawannya, dan terbawa udara, jatuh.

BRAGH !

Tamatlah kisah Lee Chaerin.

EPILOG

Dinding itu dipenuhi foto-foto gadis cantik ukuran 4R, sangat penuh hingga kau sulit memastikan apa warna asli cat dinding itu.

Semua foto diberi tanda silang merah, entah merah dari darah atau apa. Tapi ada satu foto yang belum diberi tanda apa-apa.

“Sayang sekali, Lee Chaerin. Tamat sudah kisahmu,” ucap seorang lelaki dengan evil smirknya yang menawan. Lelaki itu mengusap foto Chaerin dengan halus.

Lelaki itu –Junhyung- dapat dengan mudah keluar dari laut lamunannya, Junhyung mengambil sebuah wadah kecil dan silet. Ia menyisingkan lengan bajunya yang panjang, membiarkan pergelangan tangan yang penuh sayatan tertiup udara bebas.

Lelaki berambut hitam itu meletakkan wadah plastik di atas meja, memberi sayatan kecil di pergelangan tangannya sendiri, membiarkan darah memenuhi wadahnya. Merasa cukup, Junhyung menghapus bekas sayatan tadi dengan menjilatinya.

Junhyung menuangkan sebuah carian dari botol kecil ke wadah berisi darahnya itu, mencampurnya dengan telunjuk. Sekali lagi, menjilati telunjuknya yang berlumuran darah. Mencelupkannya ke darah lagi, dan mencoret foto Chaerin dengan cairan itu.

“Beres,” ucapnya puas.

Bayang-bayang gadis itu kembali menghampirinya. Minzi. Gadis yang membuat seorang Yong Junhyung bertekuk lutut kepadanya, menyerahkan jiwa raganya untuknya, tapi sayangnya, Minzi mencampakkan Junhyung, meninggalkan Junhyung tanpa alasan tak berlogika, meninggalkan seberkas luka yang abadi selamanya.

Saat itu pula, serigala-seriagala jahat dari masa lalu menerkam hatinya, mengoyak jiwanya, merusak akal sehatnya. Kini caranya menentukan sesuatu bukanlah dari hati atau pikiran, tapi dari ego, ego yang salah.

Itulah alasan mengapa Yong Junhyung menetapkan tujuan hidupnya untuk membuat gadis yang ia kenal merasakan penderitaannya, merasakan sakitnya dikhianati, dicampakkan, diberi luka.

Tapi ingatlah bahwa Junhyung tak akan membunuhmu dengan cepat, karena dia akan merusak jiwa dan pikiranmu terlebih dahulu hingga kau membunuh dirimu sendiri.

..Uncontrol Mind..

Hey all, aku mau minta pendapat kalian niih.. Enaknya LOLLISOMNIA dilanjut gak ya? atau reader dari Lolli 1 udah bosen? hehehe..

Kalau mau dilanjut, kalian mau yang kaya gimana? Comment aja🙂 Usul kalian bakal aku tampung dulu, kalian juga bisa usul lewat twitter, mention aja aku @helmyshin1

DON’T BE A SILENT READER OR PLAGIATOR !

DILARANG KERAS MEM-POST ULANG FANFIC BUATAN SAIA TANPA IJIN PRIBADI !!

Regards,

helmyshin1

Entry filed under: Angst, BEAST, Boyband, English, FanFiction, Genre, Girlgroup, K-Pop, Language, One Shoot, PG, Rating, Type. Tags: .

CLAP Greatest Love [Part 3]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,714 hits

Day by Day

May 2012
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: