Greatest Love [Part 2] Jiyeon ver.

May 12, 2012 at 8:11 PM 6 comments

 

Title                 : Greatest Love

Author           : Yanlu

Genre              : Sad Romance

Cast                  : Park Jiyeon, Yoo Seung Ho *on going with every part

Rating             : PG-15

Note : sebelum baca author mohon maaf kalau minggu depan ngepostnya agak telat. Tapi gak tau juga sih. Semoga nggak telat coz tugas pada numpuk menjelang US.

Prolog, Part 1

Hidup di Paris serasa bermimpi. Aku tidak pernah mengira akan berhasil sejauh ini. Impianku menjadi artis teater dan menari sedikit demi sedikit terwujud. Oh ya, namaku Park Jiyeon. Ayahku orang korea tapi ibuku keturunan turki-perancis. Aku tinggal di Paris bersama ibuku dua tahun yang lalu. Sedangkan ayahku berada di Korea mengurus perusahaannya disana.

          Di sudut kamar aku menulis daftar kegiatan yang akan kukunjungi. Seorang artis sepertiku memang lumayan sibuk walaupun belum setenar ‘Lady gaga’ atau ‘Beyonce’ tetap saja kesibukan sehari-hari ada. Aku ikut kelompok teater yang memainkan drama musical. Kalian pasti tahu drama seperti apa musical itu. Salah satunya musical Phanthom of The Opera. Dalam drama aku bukanlah peran utama tapi ketika aku menari akulah yang menjadi lead  mereka. Mataku mulai menyipit merasa lelah ketika lembaran kertas semakin banyak kupenuhi coretan. Menjadwal hal seperti ini sungguh membuat pusing. Sebenarnya ada seorang asisten yang membantuku membereskan hal seperti ini tapi asistenku sedang pulang ke kampung halamannya karena ada sedikit masalah. Aku harus mengatur waktu sendiri untuk beberapa hari ini. Di tengah-tengah menulis aku mengamati fotoku dan Minho sebentar. Lalu terlintas di benakku untuk menelpon seseorang yang sudah lama kurindukan.

“Yoboseyo?” aku menerima panggilan. Samar-samar suara dehaman seorang laki-laki terdengar di telepon.

“Taegun nugu shimnika? (Siapa kamu?)” tanyanya. Aku hanya tertawa kecil dan berteriak memanggilnya. “Minho-YA!”

“Jiyeon, ternyata kamu, ada apa?” sahutku. Aku terdiam. Dia hanya menjawab dengan nada datar. Aku semakin kesal saat dia tidak merespon lebih.

“Wae? Mwo Irago? (kenapa? Apa yang sedang kamu lakukan?)” dia bertanya lagi.

“Nothing, Don’t you miss me? I’m very patient in here and wait for go back quickly” cerocosku. Akhirnya dia tertawa. Hal itu yang sangat kunantikan tadi saat pertama menelpon,

“How is it…? Um I’m okay in here”

“YA! You aren’t miss me?” ungkapku dengan nada kesal.

“Haha…I really miss you but I don’t know when we can meet, you too busy” aku mendengus kesal. Mengingat keadaanku yang seperti ini benar-benar butuh kerelaan dan kesabaran dengan tidak bertemu Minho kekasih baruku. Aku bertemu dengannya di Restoran saat sedang membayar uang makan tapi dompetku hilang. Pertemuan itu meskipun tidak di sengaja menjadi awal cerita kami bermula. Tapi tak lama kemudian Minho memutuskan untuk tinggal di Korea karena ia hanya ingin menitik karier di negeri kelahirannya itu.

“Hey…why just silent? Are you okay?” tanyanya sedikit cemas.

“Ani…berbicaralah seperti biasa tidak usah memakai bahasa Inggris, aku tahu kamu sedang kesulitan membuka kamus, kan?”

“Mwo? Enak saja emangnya aku tidak bisa bahasa Inggris. Lagian kamu yang mulai tadi”

“Haha, kamu nggak ada sense humornya” komentarku.

“Baiklah, aku mengalah”

Eomma memanggilku di depan pintu kamar supaya aku segera keluar untuk makan. Membuatku sedikit tidak rela memutuskan sambungan jarak jauh ini. Akhirnya dia tahu sebelum aku memberitahukan ingin mengakhiri ini.

“Mian, Minho-ya” kataku terpaksa.

“Gwechana, finish your bussines” katanya. Segera ku tekan tombol merah di keypad.

Setelah makan aku merapikan diri untuk keluar menuju Opera garnier yang berada di Boulevard Haussmann dan lumayan jauh dari rumah. Malam ini akan dimulai untuk penampilan theater pertamaku disana. Meskipun belum mendapat peran utama aku sangat senang sekaligus bangga.

“Sir, in Opera garnier”

Supir langgananku hanya mengangguk mengerti. Namanya Creson. Usianya masih muda tapi dia sudah mempunyai istri. Dia sangat patuh dan disiplin terhadap waktu. Kami semua menyukai kerjanya yang cepat dan tepat waktu.

Jam swiss di tanganku menunjukkan pukul 03.00 waktu Paris. Sudah pasti sedikit terlambat tapi menunggu beberapa menit menurutku tidak mengacaukan segalanya karena pertunjukkan itu diawali pembukaan terlebih dulu. Aku sudah siap kalau toh harus cepat-cepat dan aku tidak perlu didandani lebih rapi. Creson menyetir dengan gesit saat tahu aku sudah terlambat untuk sampai kesana. Pemandangan kota Paris semakin indah dengan kecepatan mobil yang kutumpangi. Aku sudah siap segalanya karena sudahku perkirakan akan terlambat sampai sana. Maklum jarakku untuk sampai lumayan jauh serta aku harus melewati kepadatan kota Paris di sekitar Galeries Lafayette, Departement store terbesar dan termegah di Paris. Selain itu banyak pula kantor yang merupakan daerah terpadat di Paris.Setengah jam kemudian kami sampai. Semua kru teater sudah berkumpul kecuali aku yang datang terlambat. Reflek semua orang menoleh kearah pintu yang terbuka. Disana sudah ada sang manajer. Aku mulai bersiap-siap untuk di omeli. Ternyata benar dugaanku sang manajer kesal terhadapku yang datang terlambat dan belum ada persiapan sama sekali.

“Ayo kita menata posisi di panggung sebelum penonton memadati gedung Opera ini” ajak salah seorang pemain bernama Natalie.

“Ya. Come’n” ajakku. Lalu semua para pemain baik utama maupun latar menaiki panggung menata posisi. Saat menyibak tirai panggung perasaanku sudah tak tenang antara senang dan kagum. Panggung yang sedang aku pijak sangat besar. Desain panggung sengaja di rancang menyerupai sebuah puri klasik. Kakiku melangkah kedepan ingin meluaskan pandangan ke panggung dari arah mata penonton. Di bagian background terdapat gambar-gambar yang sangat bagus dan nyata lalu setelah itu ada tangga panjang menjulang dari tepi kanan ke kiri. Di atas langit-langit bangunan ini lampu kristal menggantung di bawah langit-langit berwarna cerah Marc Chagall yang sangat besar dan indah menjuntai rongga-rongga tipis sebagai penghias lampu seperti yang terlihat di pesta-pesta para Upper Class  dan mungkin lebih dari itu. Lalu patung-patung cantik terpahat di sekitar background. Cermin dan jendela menonjolkan dimensi yang luas dan lukisan langit-langit megah oleh Paul Baudry yang menggambarkan tema dari sejarah musik. Panggung ini adalah panggung yang terkadang juga di gunakan untuk pertunjukkan Phantom of The Opera sehingga tidaklah mengherankan jika desain panggung ini begitu indah dan mewah. Jika memasuki halaman ini pun harus membayar beberapa Euro yang sepadan dengan pulang ke korea naik pesawat.

“Hey, what’s up?” seseorang menepuk bahuku. Alisnya naik sebelah mungkin karena bingung dengan tingkahku.

          “Huh? Nothing” sahutku menyadarkan diri.

Latihan menari dimulai. Ini adalah bagianku. Menjadi lead tari walaupun hanya sebagai penari latar saja sudah membuatku senang bukan main. Bisa sampai gedung terkenal di benua Eropa saja sudah berjingkrak-jingkrak senang.

“Dance formation, please!”

Meliukkan badan ke kebelakang lalu kedepan setelah itu memutar kaki seperti gerakan penari balet. Gemulai para penari dimulai.

✿✿✿

Sawol, April 2006

Aku mendapat job di panggung pertunjukkan tari. Awalnya aku pertimbangkan terlebih dulu meskipun sebenarnya aku sangat senang dan tentu saja aku tak menolak. Eomma mengijinkanku mengikuti kegiatan apa saja yang penting tidak lupa jaga diri.

“Jiyeon, apakah kamu sudah yakin?” ucap salah seorang partner kerjaku.

“Sure.” ungkapku.

Aku menandatangani kontrakku selama beberapa hari karena pertunjukkan ini diadakan sebulan sekali. Sejenak ku membaca isi surat-surat perjanjiannya, syaratnya tidak terlalu berat atau membebaniku sehingga kuputuskan untuk menyetujuinya.

“Baiklah. Selamat bekerja, lakukan dengan baik” Seorang pria umur pertengahan menjabat tanganku.

“Ya, dengan senang hati, terima kasih banyak” ujarku tulus sambil membalas menjabat tangannya.

Hatiku terasa ingin menjerit mendapat kepercayaan seperti ini. Usahaku tidak sia-sia selama ini. Kuakui aku pintar dalam menari dan berakting tapi wujud fisikku yang tak memenuhi syarat. Sampai kemudian aku berubah dan tampil lebih percaya diri barulah aku mencari kesempatan untuk mengembangkan potensiku terutama akting. Sedari kecil aku selalu membayangkan bisa bermain diatas panggung berperan sebagai seorang putri. Melihat masa sekarang dan dulu membuatku ingin menangis. Ini merupakan karunia terbesar dalam hidupku. Aku tidak ingin menyia-nyiakan sedikitpun. Semangat!

✿✿✿

Desember, 2006

Appaku yang berada di korea terkena sakit parah beberapa bulan yang lalu sehingga ibu memutuskan untuk kembali ke Korea. Aku masih di menetap disini namun sekarang pekerjaanku sudah lumayan free sehingga kuputuskan hari ini untuk pulang menemui appa.

“Jiyeon, apakah kamu sudah sampai?” Tanya eomma saat aku menelpon.

“Belum, sebentar lagi sekitar setengah jam”

“Baiklah, hati-hati”

Mataku berkeliaran menatap jalanan untuk menemukan papan nama jalan di setap sudutnya. Aku kurang tahu alamat Rumah Sakit Sinchon Pesangon sehingga kuintari setiap sudut jalan sesuai dengan alamat yang ada di GPS-ku.

“Pak, lebih cepat lagi ya”

“Baik” supir taksi segera mempercepat jalannya.

Sesampainya di Rumah Sakit aku segera mencari sosok eomma yang menunggu depan kamar. Karena sedang gugup aku menjatuhkan sesuatu kulirik sekilas ternyata sebuah sapu tangan. Saat hendak ku ambil tiba-tiba eomma memanggilku. Akhirnya aku berdiri dan berjalan menuju eomma. Selang beberapa detik aku mendengar suara seorang gadis menyerukan sesuatu akan sapu tangan tapi tak kuhiraukan karena langkahku sudah cukup jauh lagipula itu hanya sapu tangan. Sesampainya di ruang perawatan aku memeluk appa yang duduk bersender.

“Jiyeon-ah, sudah lama appa tak melihatmu. Ternyata anak appa sudah berkembang sejauh ini. Cantik dan langsing” pujinya menatap dari atas sampai bawah penampilanku.

“Appa, aku rindu padamu. Apakah Appa sudah baikan?”

“Appa baik-baik saja sekarang, kamu tak perlu khawatir. Seharusnya kamu tidak pulang dulu, bagaimana dengan pekerjaanmu disana?”

“Sudahlah Appa tidak usah terlalu memikirkan pekerjaanku. Disana baik-baik saja untuk sementara tanpa aku lagipula aku bukan pemain utama disana” elakku.

“Syukurlah, lanjutkan pekerjaanmu disana ya!”

“Ne. tapi untuk beberapa bulan ini aku tidak kembali ke Paris. Sementara ini aku ingin di Korea dulu.”

Appa mengangguk. Eomma tersenyum padaku lalu menyuruhku untuk beristirahat dulu di rumah Appa. Awalnya aku menolak karena aku ingin menjaga Appa tapi eomma terus menyuruhku untuk beristirahat akhirnya kuputuskan untuk pulang. Kali ini aku menyetir sendiri mobil Appa.

Sudah cukup lama aku tidak bertemu pandang dengan keramaian kota Incheon. Belum terlalu banyak perubahan karena belum terlalu lama aku meninggalkan Korea menuju Paris. Hanya sedikit bangunan-bangunan yang berubah. Kembali focus ke jalanan. Mataku agak berat mungkin karena lelah dan mengantuk. Jalanan lumayan sepi dengan samping-samping pohon jalan yang menjulang tinggi dan teduh semakin membuatku mengantuk. Saat mataku tak sepenuhnya fokus tanpa kusadari seorang wanita tua menyebrang jalanan dan sekarang tepat di hadapanku dengan jarak yang terlampau dekat. Aku sangat terkejut dan panik. Sampai akhirnya aku mengerem ndadak dan wanita tua itu terjatuh. Aku bingung dan semakin panik. Jalanan tampak masih sepi sehingga kuputuskan untuk kabur dan terus berjalan tanpa melihat keadaan wanita tua itu. Kulajukan kecepatan mobil dengan kencang tanpa memiliki keberanian melihat spion mengecek ke belakang. Aku tahu perbuatan ini akan  berakibat tapi untuk sekarang entah kenapa aku tak punya nyali dan lebih memilih kabur saja. Perasaan bersalah terus menggangguku selama perjalanan. Kuputuskan untuk berhenti sebentar saat sudah memasuki keramaian kota kembali. Mobil ku tepikan dan terlintas dalam pikiranku untuk menghubungi Minho berharap ia bisa menenangkanku saat ini.

“Yeobseyo? Nugu?” jawabnya dari sebrang.

“Minho, bisakah saat ini kamu menemuiku di depan restoran Chun-dong?”

“Apakah kamu sudah pulang? Aish…kenapa tidak memberitahuku sebelumnya? Aku bisa menjemputnya”

“Mian…tapi bisakah secepatnya sekarang kesini, aku takut”

“Wae? Apakah terjadi sesuatu? Baik aku akan segera datang”

Ponsel yang ku genggam bergetar. Aku benar-benar takut saat ini. Kenapa dengan bodohnya aku melarikan diri meninggalkannya tanpa mengecek keadaan dan bertanggung jawab. Setengah jam lamanya aku berada di dalam mobil belum berani sedikitpun keluar. Sampai mobil spot putih berhenti di depanku. Seseorang keluar dari mobil dengan tubuh dan gaya yang aku kenal. Aku segera mengetuk kaca mobilku dan dia paham bahwa aku berada di dalam mobil bukan di dalam restoran.

“Jiyeon, ada apa? Kenapa wajahmu pucat dan ketakutan seperti itu?” tanyanya sambil membuka pintu mobil duduk di sampingku.

“Minho, aku takut. Aku menabrak seseorang tapi aku meninggalkannya”

“Jiyeon-ah…kenapa kamu berbuat seceroboh itu disaat pertama kepulanganmu. Lalu kenapa kamu malah melarikan diri?”

“Aku tak tahu Minho, aku terlalu takut tadinya karena aku lengah dan ketika aku melihat jalanan saat mobilku melaju dengan santai ada seseorang di tengah jalan lalu ku rem ndadak” akuku.

“Aigo…Sekarang kamu tenang saja aku akan mengantarkanmu pulang.” Minho memegang tanganku menenangkan.

“Jinjja? Bagaimana dengan mobilmu?”

“Sekertaris di kantorku bisa membawanya”

Sejenak Minho mengusap-ngusap rambutku menenangkanku. Aku menyenderkan kepalaku tepat didepan dada bidangnya. Tanganku masih terus bergetar. Minho yang melihatnya segera menggenggam tanganku erat-erat. Tanganku menjadi hangat dan berhenti bergetar seolah aliran energi dari Minho membuatku merasakan kenyamanan. Kepalaku mulai berpikir jernih dan bernafas lebih tenang daripada sebelumnya tapi perasaanku belum lega. Aku masih terbayang-bayang akan apa yang terjadi pada si wanita tua itu. Apakah lukanya parah atau malah dia sudah tak bisa bernafas. Aku takut kalau tabrakan itu membuatnya tak bisa hidup.

“Jalan sekarang ya!” pintanya.

Aku hanya sanggup menganggukkan kepala. Lalu Minho keluar dari mobil berpindah ke jok kemudi dan aku berpindah dengan hanya bergeser. Dia menelpon meminta seseorang untuk mengambil mobilnya. Setelah itu dia menyalakan kembali mobilku dan melaju memasuki jalanan Incheon.

✿✿✿

Disini memang khusus part Jiyeon, jadi Seungnya belum muncul, part 3 bakalan ada mereka berdua kok. stay to wait ya

Entry filed under: Chaptered, Drama, FanFiction, Indonesia, Life, PG, Romance, Sad Romance, SHINee, T-ara, Yo Seung Ho. Tags: .

You Make My Life Complete (Part 3) The Pain (Part 3)

6 Comments Add your own

  • 1. Dear dHiyah  |  May 14, 2012 at 10:21 AM

    masih bingung , jiyeon temen y seungho wktu kecil bukan sich ???

    Reply
    • 2. yanluwritinganything  |  May 14, 2012 at 5:27 PM

      pada bingung ya? pertanyaannya akan terjawab nanti di part 3 tentang sapu tangan tapi yang teman kecil masih continue..

      Reply
  • 3. baboozubogoshipoe  |  June 15, 2012 at 7:49 PM

    hmmm…. ada ff yang main castnya Minji Couple gak???

    Reply
    • 4. r13eonnie 강 하이에나  |  June 16, 2012 at 11:21 AM

      minho jiyeon bkn?ada..liat az d library,,judulnya message on the bottle…yg oneshoot…

      Reply
  • 5. Zhafikyo  |  September 14, 2013 at 12:27 PM

    wae,, siapa yg di tambrak,,
    emm,,

    Reply
  • 6. nissa  |  July 2, 2014 at 7:05 PM

    aduh koq jiyi cari masalah sich.
    kalai yang ngambil sapu tangan seungho jiyeon kn ?.
    siapa sich thor yeoja gendut yang nganggu minho ?.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,956 hits

Day by Day

May 2012
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: