Greatest Love [Part 1] – On Rainy Days

May 6, 2012 at 1:36 PM 5 comments

Title                 : Greatest Love

Author           : Yanlu

Genre              : Sad Romance

Cast                 : Park Jiyeon (T-ara), Yoo Seung Ho, Krystal (Fx)

Rating             : PG-15

Note : Yey…akhirnya ngepost juga part 1, pada nunggu nggak? #sembunyidikolongkasur ^_^. aku nggak tahu mau sampai berapa part tapi yang pasti aku nggarap FF agak lelet jadi harap maklum kalau ngepostnya nggak cepet.

NO BASHING

NO SIDERS!! this FF pure my imagination.

Samwol, 2004 (Maret)

Terkadang apa yang menjadi kekurangan kita semakin membuat kita terus berjuang untuk mendapatkan apa yang orang normal dapatkan.

Jpret…Jpret…!!

Bunyi kamera bertautan. Sebuah pemandangan senja menghipnotisku untuk mengabadikan moment penting ini. Apa lagi kalau bukan landscape matahari terbenam.

Jpret…Jpret… Cizz!

Seseorang dengan santainya berpose di depan kamera yang hendak aku fokuskan pada pemandangan di belakang tubuhnya. Aku memiringkan wajah memperingatinya. Ku kibas-kibaskan tangan padanya karena setiap kali hendak memfokuskan kamera dia selalu muncul. Mengganggu aktifitas yang sedang aku lakukan

Jpret…Hhwa!!

Ku angkat sepatu dan melemparkan padanya sebagai ancaman hingga berhasil membuatnya terdiam. Dia menyingkirkan diri dari tempat sekitar aku mengambil gambar. Dia duduk di kursi kayu lalu yeoja gendut itu menggembungkan pipi serta mengerucutkan bibir. Aku melihatnya dan membuatku membayangkan ikan gelembung yang biasanya ada di aquarium. Lalu dengan gerakan cepat aku mengabadikan gambar lucunya itu.

Jpret…

“Hai! Mwo Haseyo? Berikan padaku, pasti jelek sekali!” teriakknya lalu menghampiriku berusaha merebut kamera milikku.

Aku menjulurkan lidahku mengejeknya dan langsung berlari setelah berhasil melepas kamera dari tangannya. Aku tahu kalau sudah begini dia tidak mungkin mengejarku. Badanya saja cukup gemuk bagaimana dia kuat lari jauh-jauh.

 “Chakkaman!!” dia berteriak lagi.

Cukup kasihan melihatnya seperti itu tapi aku sebal padanya sehingga ku biarkan saja dia disana menggerutu sendiri yang penting kameraku selamat dan gambar-gambarku tak terhapus. Ku pelankan langkah ketika jarakku berlari cukup jauh dan rumahku sudah terlihat. Dari kejauhan bisa kulihat eomma bersih-bersih di depan rumah. Keringatnya mengucur deras mungkin karena ia baru saja pulang dari menawarkan barang-barang rongsokannya. Memasuki latar eomma menyambutku dan mengantarku kedalam. Ia bergegas masuk menuju kamar mandi. Sudah ku lihat gurat kelelahan di wajahnya tapi senyuman untukku tak pernah ia lewatkan. Setiap aku pulang sekolah ia akan menyambutku dan merapikan diri. Aku tahu kalau hal itu dia lakukan agar menutupi kelelahannya supaya aku tidak terus menerus mengkhawatirkan dirinya. Bagaimanapun itu aku tetap mengetahui keadaan sebenarnya. Semenjak kami di tinggal oleh sosok Appa setahun yang lalu eomma bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Aku ingin sekali membantunya tapi dia bersikeras agar aku sekolah saja supaya cita-citaku menjadi fotografer terwujud. Sejak saat itu pula aku berjanji bahwa aku serius untuk menggapai apa yang aku impikan selama ini. Tidak sama sekali untuk berhenti dijalan.

Ketika aku hendak menuju ke kamar eomma telah rapi. Eomma menyuruhku untuk makan. Sebelumnya aku sudah makan tapi melihat eomma yang membuatkannya aku tetap makan dengan lahap. Dia sudah begitu capek. Aku harus menghargai usahanya.

“Seunggie… makanlah pelan-pelan nanti tersedak”

Aku mengangguk tanda mengiyakan. Hanya bahasa isyarat yang aku tunjukkan setiap kali berbicara. Aku memang anak yang terlahir cacat. Aku bisu dari lahir. Kemungkinan untuk sembuh sangat sulit. Seperti sudah permanen jika cacat dari lahir.

“Bagaimana dengan aktifitas disekolah? Kamu tidak membuat masalah, kan?”

Eomma bertanya dan aku mengankat kelima jari lalu menggoyangkan tanganku sebagai bahasa isyarat. Eomma tersenyum senang lalu makan dengan hati-hati.

Setelah makan aku membereskan barang-barangku dan membereskan kamar. Saat terbaring di kasur kulihat cahaya bulan bersinar cantik. Bayangan masa depanku di Paris terus mengisi otakku. Ingin rasanya aku terbang ke Paris melalui bulan itu. Sedang indahnya melayang tinggi tiba-tiba ponselku bergetar menandakan satu pesan. Tertera nama ‘gadis balon’ di layar. Ku buka pesan masuk itu dan kutahu isinya pasti tak jauh berbeda dari sebelumnya. Dia selalu menulis pesan itu.

From : gadis balon

Jangan banyak melamun. Lebih baik mimpi indah bersamaku. Have a nice dream

“Cih…” batinku.

✿✿✿

Sawol (April)

Akhir bulan ini, aku merasa kehilangan sesuatu. Ya. ‘gadis balon’ itu sudah tidak bersamaku beberapa hari ini. Informasi yang aku terima dia dipindahkan oleh orang tuanya. Tapi yang menjadi tanda tanya kenapa ponselnya sulit sekali untuk dihubungi. Padahal baru dua hari dari keberangkatan waktuku menghubungi sudah tidak aktif. Akhirnya ku biarkan saja tapi semakin kesini aku jadi penasaran sebenarnya dia kenapa. Apakah aku penyebabnya, aku tidak tahu. Dia juga tidak memberitahuku kemana dan karena apa dia pergi.

Senja kali ini aku sendirian. Cukup memotret sudut-sudut tertentu aku sudah senang. Setiap kali hendak memotret entah kenapa aku merasa sesuatu mengganggu pandangan fokusku untuk memotret. Seperti ada sosok yang biasa menampakkan diri tiba-tiba di kameraku. Tapi setelah ku perhatikan kembali tak ada apapun disana. Mungkin aku hanya terbayang ‘gadis balon’ yang suka mengangguku saat memusatkan kameraku ini. Ketika aku duduk di bangku tempat senjaku berada, tanah yang aku pijakan terasa mengganjal. Karena penasaran aku melihat bawah jejak telapak sepatuku. Menyingkirkan dedaunan yang bertumpuk-tumpuk banyak. Aku melihat foto diriku dan ‘gadis balon’ itu. Dia menjatuhkannya disini padahal sudah kuberi dia foto ini sebagai kenang-kenangan. Dan sekarang dia sudah tak kembali. Aku tak yakin kalau dia akan ingat dan kembali kesini. Aku pikir lebih baik aku menyimpannya. Aku memang tidak terlalu menyukainya tapi dia adalah satu-satunya teman terbaikku. Aku senang jika dia menjadi penyemangatku saat aku sedih.

Senja sudah berganti menjadi malam. Sekelompok anak namja dari sekolah yang dahinya dipenuhi keringat menghampiriku. Salah satu dari mereka menjitak kepalaku. Ditengah mengadu kesakitan mereka semua menertertawaiku.

 “Hai, anak bisu! Sudah akan malam begini apa yang sedang kamu lakukan di sekitar sini, huh? Pulang sana!” celetuk salah seorang anak.

Malas meladeni bocah-bocah menyebalkan itu aku mendesah kesal dan segera berlalu dari hadapan mereka. Tapi tiba-tiba seseorang menahan tanganku.

“Tunggu, kau belikan kami minuman di dekat sini…Palli!”

Aku menggeleng kepala dan segera pergi dari hadapan mereka. Tapi seseorang menahan tanganku kembali dan memutar tanganku kebelakang lalu kameraku di ambil oleh salah satu dari mereka. Aku meraih-raih kamera itu tapi satu tanganku di tahan oleh mereka. Ketika aku mulai panik akan kamera yang dipegang oleh namja itu aku menyerang dan mengambil kamera. Dengan gerakan cepat aku berhasil meloloskan diri dan berlari secepat mungkin. Mereka juga hampir saja mengejarku sebelum salah satu saem  meneriaki namja-namja tadi. Kamera yang tadi hampir saja dirusak kuperiksa barangkali terjadi apa-apap pada kameraku. Untung saja masih berfungsi seperti biasanya.

✿✿✿

Ferbruari, 2005

Tahun kenaikan kelas sudah berlalu lama. Akhir tahun kemarin aku mendapat tawaran yang sangat langka yaitu pertukaran pelajar ke Paris. Tak dapat dipungkiri jika aku memang pintar dalam akademik. Paris adalah impianku untuk belajar fotografi.

Aku mendapat tawaran pertukaran pelajar disana, tapi bagaimana dengan eomma? tanyaku menggunakan bahasa isyarat.

 “Gwechana. Itu impianmu. Bukankah eomma menyuruhmu untuk bersungguh-sungguh mengejar cita-citamu? Lalu untuk apa eomma mengumpulkan uang membelikan kamera untukmu jika kamu tidak berangkat. Ini kesempatan langka, nak” ujarnya.

Mengingat perjuangan eomma membelikanku kamera aku mengangguk mengiyakan. Bulan ini pemberangkatan ke Paris dilakukan. Rasanya tak sabar aku menantikan kota mode itu.

Teman-teman yang senasib denganku ada dua orang. Mereka juga akan ke Paris tapi adapun mereka tetap tidak mempengaruhiku. Mereka akan bersama-sama sedangkan aku? Aku tidak punya teman lagi. Mungkin mereka akan menghiraukanku begitu saja disana. Tapi aku tak peduli. Hal penting sekarang yang aku lakukan adalah mempersiapkan diri dan mengumpulkan uang untuk menuju Paris. Tidak mungkin jika aku berangkat tanpa membawa apa-apa. Meskipun sekolah tetap memfasilitasi tetap saja terbatas dan tidak sepenuhnya memuaskan.

 “Lihat! Si bisu itu ikut dengan kita, oh aku tak mau satu kamar dengannya nanti” ucap salah seorang namja pada yeoja yang juga ikut dengannya.

 “Haha…pasti satu kamar! Tapi aku akan selamat karena aku yeoja jadi tidak mungkin dengan si bisu itu”

“Aish…enak sekali. Semoga ada peluang lain disana” harapnya.

   “Ya sudah jangan terlalu dipikirkan. Lagian dia tidak mengganggu kan? Dia kan bisu nggak berani macam-macam”

            “Ya maka dari itu aku malas karena dia hanya bisa diam dan sibuk dengan dunianya sendiri.” Komentarnya.

Jelaslah aku mendengarnya. Tapi apapun itu aku tidak peduli. Telinga ini sudah kebal dengan penyaring kotoran yang berfungsi dengan bagus. Ya. Menyaring omong kosong tentangku lalu keluar melalui telinga satunya.

✿✿✿

Samwol (Maret), 2005

Bangunan gedung pencakar langit membuatku kagum akan karya para desain arsitekturnya. Benar-benar terlihat seperti di film. Gedung-gedungnya sangat tinggi dan desainnya indah.

Aku mengambil notes dan menulis sesuatu pada supir taksinya untuk berhenti di sini saja. Kutunjukkan padanya dan taksi berhenti tepat di depan sekolah yang sangat luas. Gayanya yang klasik dan megah meskipun bangunannya berbentuk arsitektur tua. Kulangkahkan kaki menuju latar sekolah dan terlihat beberapa siswa khas eropa dengan kulit putih sedikit bercak merah dan paling aku suka dari mereka adalah khas lensa matanya yang berwarna-warni.

“Hai” salah seorang murid perempuan menyapa kedatanganku. Aku sedikit membungkuk memberi hormat seperti yang biasa orang Korea lakukan. Mereka sepertinya tahu akan diriku yang transfering student dari Negara lain sehingga membiarkan hal itu sebagai penghormatan. Salah seorang guru menuntunku untuk masuk. Aku mengikutinya hingga depan ruang yang merupakan ruang khusus para pertukaran pelajar. Disana berbagai ras bangsa terlihat mulai dari Jepang, Korea, Indonesia, Afrika, dan lain lain. Guru yang menuntunku menyuruhku untuk masuk ke dalam dan memilihkan tempat duduk. Beruntung aku duduk dengan ras yang mungkin berasal dari Asia tenggara.

“Hey, who are you from?” tanyanya padaku.

Segera ku tulis nama korea di note kecilku. Dia mengerti dan mengangguk. Setelah itu kami semua diam dan mendengar penjelasan tentor dengan seksama.

Waktu istirahat dimulai. Ketika istirahat kami diperbolehkan keluar dari sekolah. Ini kesempatan bagiku untuk mencari bagian fotografer di sekolah ini. Jika ada ini adalah kesempatan yang bagus bagiku. Sekalian bisa belajar di dekat sini. Ku beranikan diri bertanya-tanya pada siswa sekolah ini. Dengan note kecilku kutunjukkan pada beberapa siswa yang kutemui. Mereka menunjukkan kelas bagian seni fotografi berada di ujung koridor sana. Aku berjalan menelusuri koridor dengan perasaan senang. Lalu sesampainya di depan ruangan entah seperti laboratorium seorang anak laki-laki menyapaku dan bertanya apa yang sedang aku lakukan disini. Jujur ku berkata padanya bahwa aku ingin mengikuti kelas fotografi.

“In here…” tunjukknya lalu menyuruhku masuk.

Aku sempat malu saat memasuki kelas. Untuk mengatasi itu aku menyapa mereka semua mengucapkan terima kasih pada mereka. Awalnya mereka sedikit bingung karena aku menggunakan papan tulis untuk menulis sesuatu. Aku bebicara dengan jujur bahwa aku tidak dapat berbicara. Mereka semua pun mengangguk mengerti.

Hari-hariku kemudian sangat membuatku nyaman. Meski kebanyakan orang eropa tidak terlalu ramah tapi tanggapan itu segera kutepis karena mereka semua berbeda dari dugaan kebanyakan orang timur yang menyebut bangsa barat tidak ramah seperti mereka. Kuakui orang timur lebih ramah tapi dalam hal akademi orang barat sangat hebat dalam hal ilmu pengetahuan. Terlihat dari cara mengajar di dalam kelas yang sedang aku ikuti sekarang ini. Mr. John sedang menjelaskan seluk beluk fotografer professional.

Fotografer professional perlu melakukan eksperiment dan keliling kota untuk mendapatkan subjek yang baik dan juga belajar mengedit foto yang mereka dapatkan. Hasil yang terbaik adalah ketika penyudutan yang dilakukan tepat dan akurat oleh si fotografer.

“Awal tahap ini kalian boleh melakukan potret cepat pada suatu objek yang tiba-tiba menarik untuk di abadikan. Potret cepat (Flash snapshot) membutuhkan kemampuan mata yang jeli dan peka dengan keadaan sekitar. Ketika ada objek yang tampak berbeda dari biasanya atau melesat dengan cepat kalian langsung memotret tanpa perlu memfokuskan terlebih dahulu. Fokus sebelumnya sudah harus diperkirakan sebelum objek ada.” Jelas Mr. John pada murid-murid fotografer.

“Baiklah kita beralih ke pengukuran fokus dan sudut sebagai pemula. Perhatikan baik-baik dan jangan sampai melewatkan sedikitpun karena ini inti memotret yang baik.” Paparnya lagi.

“Yes, sir” aku mengikuti jawaban mereka.

✿✿✿

Angin dingin mulai menerpa kota Paris dengan kencang diiringi awan mendung yang mulai bergerumul menutupi langit biru. Jalanan masih tetap ramai oleh deru mobil yang melaju cepat karena cuaca tiba-tiba memburuk. Sepulang dari membeli makanan hendak menuju losmen aku lari. Ketika jarak masih juga jauh gerimis mulai turun dan cepat sekali berubah menjadi hujan deras. Jaket yang aku kenakan semakin basah. Mungkin lebih baik aku mengalah untuk menepi daripada membiarkan jaket tebal ini ikut basah. Padahal jarak losmen masih jauh. Langkahku berhenti tepat di depan toko yang sedang tutup karena bajuku sudah basah kuyup. Dingin begitu menyeruak menyelubungi kulitku yang sudah putih, kini semakin dibuat pucat. Cukup lama aku berdiri sendiri sambil memandang jalanan kota Paris ketika hujan turun. Mobil yang berlalu lalang mengundang hatiku untuk menaikinya tapi aku harus bertahan disini. Lalu seorang yeoja ikut berdiri menjajariku. Dia memelintir rambutnya yang basah. Rambut panjangnya benar-benar membuatnya tampak kesulitan. Lalu dia beralih ke tas kecil yang tergantung dibahunya dan mengeluarkan sapu tangan kecil. Sapu tangan itu dipergunakan untuk mengusap rambutnya yang setengah basah. Diperhatikan dengan baik-baik mungkin awalnya rambut dia tertata dengan rapi terlihat dari gelombang-gelombang yang ia buat dengan rajin dan sangat bagus. Riasannya juga lumayan tebal untuk orang biasa. Sepertinya ia pekerja di dunia entertainment. Entah itu artis atau penari aku tidak tahu.Tapi kulitnya yang putih dan matanya sipit tak asing dimataku, dia tampak seperti orang Korea. Setelah dirasa belum juga kering dia melirik ke arahku. Dia mengangkat tangan menunjukkan kelima jarinya. Aku bingung akan apa yang di isyaratkan. Dia menunjukkan sapu tangan yang basah. Aku masih mengerutkan kening.

“Aren’t you France people?” dia bertanya, aku cukup mengangguk sebagai jawaban.

“What thing you have to make my hair dry enough?”

Ternyata dia memintaku untuk meminjaminya sesuatu supaya rambutnya tidak lagi basah. Aku mencoba merogoh saku jaket dan kutemukan sebuah sapu tangan, kuserahkan padanya lalu ia tersenyum dan sibuk dengan rambutnya lagi. Aku pikir dia orang yang benar-benar lupa cara berterima kasih dengan seseorang. Terlihat saat dia pergi begitu saja ketika taksi sudah berhenti didepannya. Satu hal yang dia lupakan yaitu sapu tanganku yang terbawa olehnya. Saat aku akan menghampirinya dia sudah menutup pintu dan taksinya segera melaju cukup kencang. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Kupikir itu tidak masalah kalau hanya sapu tangan.

Hujan perlahan-lahan surut. Ini kesempatan bagus untuk segera sampai di losmen. Taksi sudah banyak mengundang lalu lalang orang untuk segera menungganginya. Aku hanya dapat menatapnya dan menghindari bunyi deru mobil yang mulai memadati jalanan. Bukannya aku tak ingin memakai taksi tapi keterbatasan biaya yang kumiliki di negara bermata uang tinggi inilah yang aku pertimbangkan. Sesampainya di losmen aku segera mencuci rambut dan celana yang basah di bagian ujungnya.

Malamnya saat berada di ruang santai ku istirahatkan diri meminum kopi. Di meja bertumpuk buku-buku tentang fotografi. Aku mengambil satu dan membacanya kembali. Kuangkat kacamata di meja dan melihat kalender disana. Sudah hampir sebulan aku di Paris. Terhitung tinggal lima hari aku meninggalkan Paris dan pulang ke korea. Hari-hari disini ternyata lebih menyenangkan dibanding saat di Korea. Namun belum terasa lengkap tanpa eomma. Aku ingin mengajak eomma tinggal di Paris suatu saat nanti.

Setelah jenuh membaca buku-buku teori kuedarkan pandangan keluar kaca jendela. Lampu-lampu indah menghiasi deretan jalan setapak depan rumah. Awal Januari saat berangkat salju masih turun tapi sudah tipis. Aku kira musim salju sudah berakhir sekarang setelah musim hujan datang. Kulangkahkan kaki menuju depan halaman. Aroma tanah basah menusuk hidungku. Daun-daun mint juga menyejukkan nafas yang aku hirup. Suasana lembab yang sejuk ini akan menjadi detik-detik terakhir aku di Paris. Ku nikmati sekali lagi udara kota Paris sesudah hujan turun.

“Seandainya eomma disini menatap jalanan dan gedung-gedung tinggi disana” batinku.

✿✿✿

Ferbruari

          Malam hari di bandara Incheon aku tiba. aku bergegas pergi mencari bis . Untungnya bis cepat datang dan lumayan sepi penumpang. Aku mendapat kursi yang kosong lalu menoleh ke kaca jendela. Ketika mataku bertemu jalanan Incheon tiba-tiba bayangan eomma melintas di benakku. Sudah lama aku tidak bertemu. Aku rindu padanya dan berharap ia baik-baik saja selama aku pergi. Satu jam kemudian sudah nampak jalanan menuju tempatku tinggal. Sebuah palang jalan terpampang nama jalan Cheongdam dan bis pun berhenti sesuai intruksi yang ada. Turun dari bis aku berhenti sejenak menatap lurus jalan di depanku. Perasaanku sedikit cemas sekaligus bahagia. Benakku sudah penuh dengan tanda tanya apakah terjadi sesuatu di rumah. Sampai didepan rumah pintunya tertutup. Ku ketukkan pintu tapi sudah lebih dari tiga kali belum juga ada yang menyahut. Aku memutuskan melihat situasi di samping rumah lewat kaca jendela. Namun tak juga aku menemukan siapa-siapa disana. Apakah eomma pergi? Ini sudah cukup malam. Perasaanku mulai tidak enak barangkali sesuatu terjadi pada eomma. Ku coba melihat-lihat situasi rumah lagi tapi memang sepi tapi lampu masih menyala. Aku mencoba mengetuk daun pintu kembali. Tiba-tiba aku mendengar suara terbatuk-batuk dari kejauhan. Ternyata eomma yang menimbulkan bunyi itu. Ketika akan kuhampiri langkahku tertahan melihat plastik yang di bawa oleh eomma. Disana terpampang toko obat yang ku tahu berada di ujung jalan sana. Apakah eomma sedang sakit? Ketika aku sedang berargument dengan pikiranku sendiri tiba-tiba eomma memanggilku dengan nada yang sangat kurindukan. Dia sangat bahagia meskipun suara batuk masih terdengar saat memelukku.

“Akhirnya kamu pulang, nak! apakah kamu baik-baik saja?” Eomma menatapku gembira.

Aku mengangguk mengiyakan. Kegembiraan yang terpancar dari eomma meragukanku untuk menanyakan keadaan eomma yang sebenarnya. Di wajahnya tergambar hal lain. Bukan hanya kegembiraan tapi seperti ada sesuatu yang disembunyikan olehnya. Aku khawatir kalau saja ia benar-benar tidak sehat seperti kelihatannya.

Aku mengisyaratkannya untuk segera masuk ke dalam rumah. Udara di luar cukup dingin bagiku. Eomma menepuk bahuku dan masuk terlebih dulu ke dalam rumah. Aku menghela nafas panjang setelah jarakku dengan eomma agak renggang agar ia tak mendengar desahanku.

✿✿✿

Palwol, (Agustus)

Jangan pikirkan kegagalan pada saat ini . pikirkanlah keberhasilan di hari menjelang.

Blitz…Blitz…

Aku menggoyangkan tangan mengisyaratkan pada model yang ku potret. Keterbatasanku ini hanya bisa dimengerti oleh segelintir orang saja. Sesekali aku menuliskan catatan padanya agar dia paham. Meski seperti itu aku tidak ingin menyerah, nyatanya aku mampu mendapat job tanpa harus ku cari.

Blitz…

Cahaya kamera terus mengambil gambar Framing with Background  yaitu kamera tetap focus pada objek hanya saja latar belakang dimunculkan sehingga tampak indah.

 “Stop” ucap sang pemegang kendali.

Sepulang dari Paris aku mendapatkan tawaran kerja di beberapa perusahaan CF dan majalah. Aku hanya perlu memotret dengan baik juga menggunakan teknik yang kubisa. Awalnya aku menolak karena aku ingin menjadi fotografer freelance. Tapi setelah kupikir-pikir lebih baik mencoba-coba terlebih dahulu karena freelance tidak terlalu menjamin.

“Good job!” ucap salah satu rekan kerjaku.

Aku membungkukkan badan setiap kali bertemu dengan mereka sebagai rasa hormat karena aku baru disini juga karena hal itu merupakan salah satu Manner di dunia kerja.

Saat aku melepas lelah dengan duduk di salah satu kursi dekat jendela sebuah botol minuman melayang tepat di depan wajahku. Tangan seorang yeoja memegang botol itu mencoba menawarkan minumnya padaku. Aku sedikit terkesiap akan perlakuan itu karena aku belum mengenalnya. Kuperhatikan wajahnya. Dia mempunyai wajah yang bagus dan cantik natural.

“Kamu haus kan?” Tanyanya.

Aku segera mengangguk dan mengisyaratkan terima kasih. Aku menulis sesuatu di note. Di tampak tahu apa yang sedang aku lakukan sehingga dia menunggu.

“Oh, ya perkenalkan namaku Krystal.” ucapnya menyodorkan tangan padaku. Aku menulis note lagi dan ia hanya tersenyum sambil memandangiku.

“Itu bukan apa-apa, aku hanya sedang berbaik hati terhadap semua staff kerja disini.” Jelasnya.

Aku mengerti dan berterima kasih padanya sudah mau mengajakku mengobrol. Dia adalah yeoja yang baik. Dilihat dari cara berbicara dan pandangan matanya yang menyiratkan ketulusan.

“Aku pergi dulu, selamat bekerja” dia tersenyum lalu pergi dengan cepat dari hadapanku.

 Jam menunjukkan pukul 3.00, aku harus segera pulang teringat eomma yang sedang sakit. Beberapa hari ini dia terbaring di kamar karena sakit. Penyakitnya tidak bisa ia sembunyikan lagi. Aku tahu semuanya.

Heumb…kayaknya di part ini bikin boring ya? Mian…author sengaja pingin perkenalan dulu di part ini, jadi belum ada tanda-tanda *Apaan? hehe ya udah tetep stay ya buat part 2. satu lagi, mungkin kalian bingung di bagian prolog pake sarung tangan sebenarnya itu bukan sarung tangan tapi sapu tangan aku salah nulis, mian…

Entry filed under: f (x), Indonesia, Life, PG, Sad Romance, Squel, T-ara, Yo Seung Ho. Tags: .

My Shinee Boy chap 3 You Make My Life Complete (Part 3)

5 Comments Add your own

  • 1. kasihwright  |  May 9, 2012 at 2:49 PM

    hayah:D

    Reply
  • 2. Zhaa CloUd YeOngwonhi  |  December 27, 2012 at 8:15 PM

    izin copas yahhh min:)

    Reply
    • 3. yanluwritinganything  |  December 27, 2012 at 9:27 PM

      iya, buat pa chingu?

      Reply
  • 4. Zhafikyo  |  September 14, 2013 at 12:23 PM

    awal permulaan ,,pertemuan seunghoo dgn siapa
    lanjut ^^

    Reply
  • 5. Galuh putry  |  June 22, 2016 at 11:12 AM

    Jujur.. Ini ff nya menurut saya keren lho eonn.. Ide ceritanya itu lho. Bisa bangettt…
    Tapi gimana kabar gadis balonnya seungho. Kemana dia?? Mereka bakal ketemu lagi kan?
    Dan pacaran?? Maybee.. Ijin baca part selanjutnya yaaa..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,626 hits

Day by Day

May 2012
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: