Love can’t choose one of the both(2/3)

April 23, 2012 at 9:22 PM Leave a comment

Author                     : KasihWright diposkan oleh Yanlu

Rating                      : T

Cast                           : Onew (Shinee)

Aiko (OC)

Minho (Shinee)

Genre                   : Romance, Adventure

Sory banget sebelumnya yah Yanlu, akibat bingung cetak naskah dan kirim naskah jadi ngga sempet nglanjut cerita youkai ini, buat reader2 keren Missfanfic, ini cerita gue tulis berdasar ide in the still of the night jadi agak aneh gimana gitu… tapi percaya deh, seru kok, sedikit sih serunya, tapi intinya serulah…*hhe (maksa banget yah:D)

Well. Hope all of you will be enjoy reading my *Aneh story yua, jangan lupa BCL (baca, coment dan Like:D)

Sepanjang malam Ai hanya memandangi dirinya di cermin, ia sama sekali tidak memikirkan apakah Minho anak baik-baik atau bukan, itu sama sekali bukan hal penting buatnya, dan ciuman itu, luka di punggung tangannya karena terjatuh, bukan hal yang penting.

Di bawah temaram lampu tiffany, Ai menghela napas. Ia berpikir keras untuk melupakan hal-hal sepele tentang Onew dan Nee-san, meskipun sikap Onee pada Onew sama sekali belum apa-apa dibandingkan sikapnya sendiri, hal itu begitu mengganggunya.

Minho duduk di depan meja belajarnya, berusaha mengingat semua yang diajarkan Ai, beberapa saat setelah menyerah karena bahkan tidak satu katapun dapat diingat, ia kembali ke ataas ranjang dan berusaha terlelap.

Kedua matanya terpejam, pikirannya mulai melayang… perasaanya bergejolak, selama ini Minho tidak pernah percaya tahayul dan cerita tentang siluman atau apapun itu, tetapi nyatanya, sekarang ibunya sakit keras dan tidak bisa disembuhkan, sakit aneh.

Menurut seorang kakek tua yang hidup sebagai pengemis kota di Incheon sebelum ia dan ayahnya pindah, ada obat yang bisa memberi kesembuhan, sebuah legenda youkai di Jepang memang sangat mengusiknya, terlebih selama empat tahun terakhir ibunya tidak pernah meninggalkan Konobi.

Ia berpikir jika seseorang bisa meletakan obat semacam itu di dalam hutan atau di dasar samudra, ia sudah merasa cukup kuat mendaki gunung dan menyebrangi lautan. Malam itu bulan bergeming. Minho terlelap dengan seribu harapan yang belum jelas adanya.

Pagi hari di bulan agustus memang selalu terik, belum lagi suara teriakan ibunya, membuat Minho ingin sekali pergi dan menemukannya, obat yang bisa menyembuhkan penyakit ibunya.

Onew menghempaskan napasnya kesal melihat Minho dengan langkah sempoyongannya ynag sangat menjengkelkan dari lorong rumah barunya.

Ia ingin menjauh, tetapi belum sempat ia berbalik untuk kabur dari halaman rumahnnya, Minho sudah berlari ke arahnya dan memanggil namanya beberapa kali.

“Aku sedang tidak ingin dekat-dekat denganmu.” Onew menekuk kedua tangannya di depan dada, menatap Minho tak peduli, bersandar di pagar.

Minho mengatur napasnya, lalu setelah merasa cukup tenang, ia hanya menatap Onew tanpa bicara. Seketika itu, Onew merasa Minho sangat mengerikan. Mungkin cowok cabul memang kadang-kadang mengerikan, pikirnya.

“Kau orang Jepang, kan?” pertanyaan Minho membuat Onew semakin menilai bahwa orang ini benar-benar aneh.

Onew mengangguk yakin.

“Apa kau pernah pergi ke hutan?” Minho menunuk ke selatan, ke arah hutan terlarang di kaki gunung Konobiku.

Onew menggeleng “Itu tempat terlarang, aku pernah ke sana dulu sewaktu kecil, dan aku sakit keras, banyak hantu hidup damai di sana,” jelasnya dengan malas.

“Begitu ya,” Minho menggosok dagunya, berpikir keras.

“Kau mau mati ya?” tanya Onew seketika itu Ai datang menghampiri mereka.

Minho melihat Ai pertama kali dalam balutan pakaian biasa yang sangat manis hampir melupakan niatan yang ia bawa dari rumah.

Ai memandangi Minho, perasaan terpesonanya terlambat datang, seharusnya Ai terpesona saat pertama kali melihat Minho, tetapi bahkan memikirkan itu pada waktu itupun tidak.

“Sudah, sudah!” Onew membuat gerakan silang dengan kedua tangannya, agar mereka segera sadar bahwa dia ada di sana, bersama mereka.

Ai terhenyak sesaat, lalu dengan ceria seperti biasanya, ia mulai mengucapkan selamaat hari sabtu.

Minho melangkah meninggalkan keduanya.

“Minho-kun,” Ai berbalik, memanggil Minho lemah.

Minho hanya berhenti tanpa berbalik. Ia takut konsentrasinya akan berantakan lagi karena melihat wajah cewek di pagi hari.

“Kau mau ke sana?” tanya suara cowok lebih jauh dari jarak Ai di belakangnya.

Minho mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya.

Ai memandangi keduanya, lalu ia mulai bertanya-tanya apa yang akan dilakukan anak baru dari negri asing yang tidak tahu apa-apa itu.

Langkah Minho semakin jauh, sementara Ai dan Onew masih saja bergeming. Dikisahkan bahwa di dalam hutan lebat yangat buas itu, hidup seornag perempuan cantik yang selalu menutup bulan tengah malam dengan rambutnya yang berjuntai sampai ke tanah, ia adalah seorang makhluk kegelapan yang selalu menantikan anak manusia untuk dibunuh, dihisap cinta dan hatinya dengan sangat kejam.

Ia akan memakan hati dan perasaan orang itu dengan sangat mengerikan untuk membuatnya semakin kuat, dahulu, seorang gadis cantik yang tak terbalaskan perasaannya pergi meninggalkan rumah dan berlari sampai jembatan pembatas hutan, pagi hari ketika orang tuanya mencari-cari keseluruh desa, ia tela terkapar dengan dada belubang, jantungnya hilang dan hatinya pecah di bawah tubuhnya.

Setelah kejadian itu, hutan Konobi benar-benar menjadi sangat terlarang.

Setelah mengingat semuanya itu, keduanya, Ai dan Onew berlari mengejar Minho ynag sudah jauh berjalan sampai ujung desa. Langkahnya sangat cepat, ia sangat ambisius dan serius, tetapi kenyataan betapa mengerikannya hutan itu, sungguh tindakan konyol macam apa ynag telah diperbuat anak baru itu.

“Minho kun!” Onew berteriak, orang bodoh semacam apakah sebenarnya anak itu, hantinya mulai bertanya-tanya.

“Onii chan, bagaimana ini?”

“Aku juga tidak tahu,”

Keduanya berjalan ke arah yang berlawanan, Minho mengambil jalan tengah ynag menghubungkan jembatan gadis malang itu menuju kuil kecil ynag sudah ditinggalkan lama sejak kejadian mengerikan itu.

Minho berjalan gamang. Ia mulai bertanya-tanya betapa repotnya hidup di desa yang penuh iblis dan penyakit aneh. Tidak biskah ibunya hanya sakit demam dan segera sembuh tanpa harus meronta setiap hari dan begitu memilukan begitu?

Seharusnya ketika itu, saat ia masih berumur dua belas, empat tahun yang lalu ayah dan ibunya tidak bertengkar hebat sampai ibunya pergi meninggalkan keluarganya di Incheon.

Mungkin legenda gadis itu akan terulang, jika saja ketika itu perasaan mereka benar-benar tidak bisa bersatu lagi, yang ironisnya walaupun begitu, makhluk keparat itu menyita jiwa ibunya hingga selalu meronta seperti itu.

Minho berhenti di ujung jembatan, menyadari kini ia menangis dan sendirian.

Ai berlari mendahului Onew, melompat di bebatuan sekitar hilir menuju ujung kaki jembatan. Onew mengejarnya, memeriksa sekeliling dengan rasa takut yang memaksanya untuk sesekali berteriak memanggil ‘haha’nya berkali-kali.

“Ai, hati-hati!” sesekali ia mengingatkan.

Ai berhenti di kaki jembatan ynag putus di tengah. Ia melihat bayangan seseorang, semu dan sangat aneh, tetapi ia yakin itu adalah Minho. Ia bertekat untuk membuatnya berubah pikiran sebelum tersesat lebih jauh, karena mereka sudah tersesat.

Onew meraih dahan pruce, dan berhenti melenguh semacam sapi setelah melihat sekelilingnya, mereka ada di dalam hutan buas, dan tidak membawa apa-apa untuk dimakan.

“Onii chan, bagaimana kita bisa melewati jembatan ini?” tanya Ai, ia sangat tidak yakin, tetapii perasaan untuk menolong teman barunya dan rasa percaya jika ia disamping Onew, membua hatinya lebih berani melangkah.

“Ai, ini mustahil, lagi pula siapa yang akan kita temukan di sana, kita tidak tahu,”

“Onii chan! Minho kun ada di sana!”

Tatapan Ai membaut kepalanya pening, ia tak punya pilihan.

“Baiklah,” akhirnya ia menggenggam tangan Ai, mereka berjalan menaiki jembatan gadis malang setengah abad yang lalu.

Jika seseorang bertanya kenapa Minho berkeras ingin menemukan obat yang seperti apa wujudnya tidak ia ketahui, adalah, karena penyakit ibunya adalah penyakit kutukan perasaan dari wanita youkai itu, cerita itu berangsur menyebar dengan menyedihkan, sampai ia memutuskan berdiam di pojok kota saat salju desember membiaskan natal terakhirnya di Incheon.

Kakek neneknya tak pernah mengatakan apapun, bahkan selama empat tahun ia sama sekali tak tahu apa yang sedang didera ibunya, begitu ia datang ke Konobi dan melihat keadaan ibunya seperti itu, satu perasaan yang teramat menyakitkan.

Itulah alasan kenapa ia ingin mengakhiri betapa sangat aneh kepercayaan orang desa yang membiarkan makhluk kegelapan semacam itu terus hidup dan bertahan di desa mereka sendiri.

Langkah Minho terhenti di kuil kecil. Ia berbalik mencari kemana sinar matahari bergerak untuk menentukan arah, yang parahnya ia sama sekali tidak tahu di mana letak penawar sakit ibunya.

Ia menundukan kepala, berlutut dan mulai berdoa.

Ai dan Onew sudah setengah jalan sampai pertengahan jembatan yang putus, sangat tinggi dan sangat mengerikan. Entah mimpi apa ynag membuat Onew sampai mau melintasi jalanan menyedihkan hanya untuk anak baru yang cabul itu.

Ai sama sekali tidak berpikir apa yang akan dilakukannya untuk detik berikutnya, apakah yang akan dilakukannya bila ia sudha bertemu dengan Minho dna apa yang hendak ia katakan. Pemikiran yang benar-benar konyol.

Matahari bergeser dan menjelma dibalik awan merah lembayung, perlahan sinarnya tenggelam di  balik rimbun pepohonan. Angin berhembus halus menerbangkan debu dan bau basah. Rintik-rintik gerimis menderu di sertai suara longlongan serigala malam. Mata Minho berkilat-kilat di tengah gerimis.

Seekor kelinci melompat ringan, giginya berkilat, mata kelinci itu merah merona berlinang lumpur hingga nyaris darah dan lumpur menyatu. Detak jantung Minho bertambah cepat, kakinya lemas, tiba-tiba ia sadar betapa konyol dirinya menghadapi youkai seorang diri.

Jembata menjadi sangat licin. Ai dan Onew berjalan dengan susah payah untuk mengindari terjatuh diantara lubang ambruk. Suara bermacam-macam suara sedu sedan hilang dan datang bersama hujan. Ai menggigil, ia bahkan tak mengenakan jaket ataupun pelindung kepala.

Onew berkeras hati untuk mengakhiri semuanya, perjalanan konyol ynag tak mungkin dipirkan anak-anak seusianya, melawan youkai penghisap hati itu, benar-benar mengorbankan nyawa.

Onew memeluk Ai perlahan, merasakan gigi gadis itu bergetar, lalu dengan langkah cepat ia menarik Ai, melompat dari lubang di depannya hingga tubuh mereka melayang melewati ujung persimpangan anatara lubang terakhir dengan penyangga ynag sudah roboh dibawahnya.

Pelukannya terlepas, Ai terjatuh di bawah Phillemon, hujan semakin deras dan tak ada senter atau penerangan lainnya. Mereka benar-bena tersesat.

Wajah AI terbentur pohon besat kokoh di depannya, kepalanya menjadi pusing dan matanya tidak bisa melihat dengan jelas, karena benar-benar gelap.

“Onii chan,” bisiknya pelan.

Onew meraih tangannya, lalu menuntun agar tetap berjalan. Aura youkai benar-benar dapat dirasakan oleh mereka, bau darah berada di mana-mana.

Onew berjalan tanpa petunjuk arah, menuntun Ai dengan perasaan kacau balau.

“Onii chan Apa kita tersesat?” Ai bertanya di tengah kedinginan.

“T, tidak,” jawab Onew lemah, tenaganya hampir habis.

Minho memeriksa sekeliling, langkah kaki perlahan mendekat, ia bersiap melindungi diri, bangkit dan mendekat ke arah suara. Langkahnya kokoh, kakinya sekuat baja, itu bisa menyelamatkannya, pikirnya.

Minho sudah berdiri di balik kuil, ketika itulah kaki kanannya terangkat hingga lurus di kepalanya. Langkah-langkah lain di belakangnya berada sangat dekat, ia mulai mengayunkan kakinya ke belakang hingga mengenai kepala seseorang.

Minho terkesiap mendengar suara Ai setelah seseorng yang ia hajr tersungkur di depannya.

“Onew kun!” ia segera mengangkat kepala Onew, gemuruh halilintar memecah suasana.

“Kitanai!” Onew berbisik pada Minho, kepalanya sakit bukan kepalang.

Ai hanya diam, Konobi adalah desa penuh ancaman yang jauh dari kata aman semenjak kejadian gadis malang itu, tiba-tiba sebersit perasaan takut meyelimutinya.

“Minho kun, Onii chan, aku, a, aku…” Ai bergetar, pembuluh darahnya seakan membeku saat itu juga.

Keduanya menatap Ai lekas. Minho yang sedari tadi menopang tubuh Onew, tangannya melengser hingga menutup wajah Onew, membuat anak itu segera merajuk.

“Kenapa Ai chan?” tanya Onew dengan segera, hampir saja memeluknya, seketika itu ia sadar, Ai bukan sedang ingin dipeluk.

Minho menyunggingkan senyum tanda tanya pada Onew, lalu memegang kedua tangan Ai, ia menatap gadis kecil itu dengan tatapan dalam, lebih dalam dari rasa sesak di dadanya selama ia melewati jalan jalan licin menuju Konobi.

“Aku kesini untuk haha-ku, Ai… aku sangat menyayanginya, dan aku tidak ingin saat aku mencai penawar penyakit haha ku, kau terluka,”

Ai menunduk, kemudian ia menatap Onew “Onii chan,” panggilnya lirih, menatap cowok yang sangat disayangnya begitu kumal dan lusuh, Ai sedikit tertawa geli.

“Kenapa kau tidak menanyakan itu padaku sebelumnya, dasar bodoh!” Onew melirik Minho yang duduk di depannya dengan tak acuh.

“Apanya yang tidak menanyakan, jelas kau meremehkanku pagi tadi!”

“Apanya yang meremehkan? Wajahmu saja yang mesum begitu!”

“Apanya yang wajahku kau saja yang mengantuk dan berwajah tolol!”

“Sudahlah, kalian tak perlu berisik begini, aku ingin keluar dari sini!” Ai memegangi kedua kerah baju cowok tolol di sepannya, mereka saling menatap baru sedetik kemudian mereka terdiam.

Malam kembali hening, titk-titik air sisa hujan berhatuhan di bawah perak sinar rembulan. Onew memimpin mereka, menggali seluruh ingatannya untuk menentukan arah, berdasar kisah para pendeta tua di sekitar Konobii kuil Budha tua, mereka berjalan melintasi sebuah papan yang lebih mirip nisan di samping gemericik sungai.

Tatapan Minho jatuh ke arahnya, ia melangkah mendekat, Onew berhenti dan mengingat apa-apa saja yang belum sempat ia ucapkan. Ai berjalan memeluk lengan Onew, menungggui otak lemot anak itu bekerja, sementara Minho semakin penasaran dengan papan penuh huruf hiragana tertata sesuka hati penulisnya.

Jisatsu shimasu*

(bunuh diri)

Onew berhasil mengingat makan terlarangnya, ia berjalan bersama Ai menghampiri Minho. Sebelumnya, Ai sudah memanggil Minho beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban muncul setelahnya.

Ai terbelalak, tulisan diatas papan hiragana itu hancur, tak ada suara apapun, setelah mereka memerisa tanah becek di bawah kaki mereka, barulah keduanya menyadari Minho terkatung-kaatung di atas lubang sedalam mata memandang.

“Kau memang bodoh dan menyusahkan!” Onew menarik dahan phon pruce dan mengaitkannay dengan batang philemon, langkahnya lihai diatas tanah yang licin.

Ai berdiri tegak, matanya terbelalak melihat sesuatu menarik leher Minho hingga ia kesulitan bersuara. Tangan itu… tangan penuh lumpur dan kemilau darah yang sangat menjijikan.

Wehehe, kalau gaje ngomong aja reader keren, soalnya menurut gue juga gaje, next ceritanya bisa nyusul ceper]t soalnya udah jadi, see u next time yua:D

Entry filed under: Adventure, Chaptered, FanFiction, Friendship, Indonesia, Romance, SHINee, T, Uncategorized. Tags: .

The Pain (Part 1) You Make My Life Complete (Part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 513,030 hits

Day by Day

April 2012
M T W T F S S
« Mar   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: