BEHIND ( PART 2 )

April 3, 2012 at 11:22 AM 1 comment

 

Author : Ejyn

Title : Behind ( Part 2 )

Type : Chaptered

Genre : Romance, Friendship, Family

Rate : PG13

Cast :

– Kwon Ginny (OC\You)

– Lee Jinki

– Kim Jonghyun

– Choi Minho

– Lee Taemin

– Kwon Gissy (OC\Ginny’s young sister\Taemin’s Girlfriend)

– Kim Kibum

– Lee Jieun, IU

and other support cast.

—————————————————————————————————

Sebelumnya…

“Azzzzz dimana yaaaa?” Onew mengeluarkan semua isi tas nya, nampaknya mencari sesuatu. Onew keluar dari kamar nya dan mulai mencari di ruang tengah. Diangkatnya semua bantal-bantal kecil yang ada si sofa
“Aigooooooo! Dimana buku ituuuuu” Onew mengacak-ngacak rambutnya sendiri sambil menungging-nungging mencari ke bawah meja atau sofa berharap buku yang dimaksud itu terjatuh disana.

Klek,
Onew seketika menoleh ke arah pintu -masih dengan posisi menungging.

“Aku pulang”

“Oh Jonghyun-ah, kau sudah pulang” Onew langsung berdiri membenarkan posisinya sambil menepuk-nepuk celananya yg terkena debu.

“Heem” jawab Jonghyun dengan pandangan menyeledik.

Onew hanya tersenyun simpul lalu bergegas ke kamarnya. Jonghyun langsung merebahkan badannya di sofa, lalu menyalakan televisi.

“Penyanyi sekaligus aktor Jang Woo Young…”

Tiiit
Jonghyun langsung mematikan kembali tv nya.

“Yya mengapa selarut ini masih juga ada berita seperti ituuuuuuu” Jonghyun berbicara sendiri sambil memegang kepalanya dan menengadahkannya di sofa.

“Hhm. Onew tadi mencari apa ya? Sepertinya benda yang serius, apa ku tanya saja ya, barangkali aku melihatnya” Jonghyun pun berjalan menuju kamar Onew, tiba-tiba handphonenya bergetar.

Jonghyun mengamati nama yang tertera pada layar handphone nya. Hmm Eomma, ada apa dia menelepon jam segini, gumam Jonghyun dalam hati.

“Yobseo? Eomma?”

“Jjongie, belum tidur?”

“Iya belum, ada apa Eomma menelfon jam segini?”

“Tidak, aku hanya rindu pada kalian berdua, Hyung mu apa sudah tidur?”

“Em? Onew? Baru saja aku mau ke kamarnya”

“Yyaa! Jjongie, kau harus memanggilnya Jinki Hyung, bukan Onew seperti itu”

“Ne eomma, hehe, maaf, aku terbawa-bawa oleh temannya Onew, eh maksudku Jinki Hyung”

“Kau ini, coba berikan telfon nya pada Jinki, Eomma ingin bicara padanya”

“Eomma!! Belum satu menit kau bicara denganku sekarang sudah ingin bicara dengan Onew..”

Klek.
Onew keluar dari kamarnya

“Yang anakmu itu aku atau Onew sih?”
Jonghyun menghentikan kalimatnya ketika melihat Onew yg baru keluar kamarnya.

“Onew-ah” Ucap Jonghyun sambil melongo menatap Onew. Sedangkan Onew hanya memandangnya sekilas lalu pergi toilet yg tak jauh dari kamarnya

“Jjongie.. Jjongie.. Apa kau masih disana?” Jonghyun Eomma berteriak-teriak di telfon.

“Oh, ne, eomma”

“Ah kau ini, yasudah Eomma mau tidur, sampaikan salam Eomma pada Jinki ya, Eomma mencintai kalian berdua”

“Ne eomma” telefon pun terputus.

Jonghyun berjalan mendekati toilet dengan langkah yang hati-hati, Jonghyun lalu menempelkan telinganya ke pintu toilet, entah apa maksudnya tapi sepertinya dia ingin tahu apa yg dilakukan Onew didalam. Tiba-tiba, Onew membuka pintu dan Jonghyun pun hampir jatuh karena kehilangan keseimbangannya. Onew menatapnya heran,

“Apa yg sedang kau lakukan?” Tanya Onew dingin,

“Ani. Oh iya, ada salam dari Eomma” jawab Jonghyun agak gugup. Onew hanya mengangguk dan langsung pergi. Tapi Jonghyun menahan pundaknya dari belakang, Onew pun sontak berbalik dengan pandangan ‘ada apa?’

“Soal yg tadi mmm, aku tidak bermaksud bicara seperti itu pada Eomma, maaf” Ungkap Jonghyun dengan perasaan menyesal.

“Kau tidak perlu menyesal, yg kau katakan adalah kebenaran, kau lah yg anak Eomma, bukan aku” Jawab Onew agak sinis.

“Tapi….”

“Sudahlah, aku mau tidur” Onew pun berlalu meninggalkan Jonghyun.

Jonghyun menatap sebentar ke layar handphonenya lalu memasukannya kedalam saku celana. Dia pun masuk ke kamarnya

¤¤¤

Sudah hampir larut malam tetapi Ginny masih sibuk dengan buku-bukunya. Suasana kamar Minho memang sangat nyaman sehingga jam segini Ginny masih bertahan dengan tugas-tugas kampusnya.

Kriiiiiing…Kriiiiiing…

Alarm di handphonenya berbunyi, menandakan bahwa waktu sudah lewat tengah malam. Ginny selalu memasang alarm di handphonenya supaya dia tahu kapan waktu untuk segera tidur. Ginny pun membereskan buku-buku yg harus dibawa besok, ketika akan memasukan buku-buku tersebut ke dalam tas, Ginny menemukan sebuah buku catatan kecil yang bukan miliknya. Ginny lalu mengeluarkan buku itu, dia tidak membukanya, hanya menatap sampulnya. Mungkin punya Minho, ujar nya dalam hati. Ginny pun lalu menyimpan buku itu di tempat buku-buku milik Minho yang tertata rapi. Saat akan menaruh buku tersebut Ginny melihat ada sebuah buku diary berwarna merah muda. Ginny pun mengambilnya. Inikan diary milikku, bagaimana bisa Minho menyimpannya, tanya Ginny dalam hati.

Ginny pun membuka buku diary nya itu, di halaman pertama terdapat foto Ginny saat masih berusia 4tahun dengan Umma dan Appa nya serta Gissy yg masih bayi. Ginny tersenyum melihatnya, lalu dia membuka lembar-lembar selanjutnya, tiba-tiba ada 11 amplop kecil yg diselipkan di buku diary itu berjatuhan, Ginny pun memungutinya satu-satu.

“Ini kan amplop keinginan milikku” Ginny menggumam sendiri sambil tersenyum.

*Flashback*

“Minho-ah, kita buat amplop keinginan yuk?” Ujar Ginny sambil memainkan pensil warnanya.

“Amplop keinginan? Apa itu?” Tanya Minho yg sedang asik menarik ulur layang-layang nya.

“Kemarilah” Ginny lalu mengambil sekotak amplop dari tas nya, Minho pun menurunkan layang-layangnya dan duduk disamping Ginny.

“Jadi begini, kita tulis apa saja keinginan kita, kita buat 10, kita jgn saling memberitahu apa yg kita tulis di amplop tersebut, kecuali jika keinginan yg kita tulis sudah tercapai, oke?” Terang Ginny panjang lebar.

“Mengapa harus 10? Kenapa tidak 100 atau lebih gitu, kan asyik?” Canda Minho

“Ishhh, kau ini, 1 amplop untuk 1 tahun, kau mengerti? Jadi amplop pertama kau tuliskan keinginanmu untuk tahun depan, setelah keinginanmu tercapai kita saling tukar amplop, kau simpan punya ku, dan aku simpan punyamu. Begitu seterusnya sampai 10 tahun kedepan”

“10 tahun kedepan? Berarti saat kita berumur 18 dong?”

Ginny mengangguk

“Lalu bagaimana jika ada keinginan yg belum terpenuhi dalam 1 tahun? Jangka waktu satu amplop itu satu tahun kan?” Tanya Minho yang masih tidak mengerti.

“Amplop nya jangan dulu dibuka kalau begitu, sampai keinginan kita benar-benar terpenuhi, dan ini, aku sudah mempersiapkan kertas khusus, jadi kita tidak bisa menukar atau mengganti keinginan kita dimasa depan nanti” Ginny menyerahkan 10 kertas yang sudah diberi tanda berupa tanda tangan khas anak SD yang masih terlihat acak-acakan.

“Oh, jadi aku menulis disini? Baiklah” terima Minho,

“Eh tunggu tunggu, kau tanda tangani dulu kertas milikku, nih” Minho pun menandatangani kertas-kertas milik Ginny.

“Nah, sekarang kita tulis keinginan kita masing-masing, ditanggal yg sama setiap tahunnya kita harus saling menukar amplop ya” oceh Ginny menyiapkan alat tulis nya

“Iya iya aku tahu”

10 tahun kemudian

“Yya Minho-ah, mana amplop milikmu?” Pinta Ginny sebelum memberikan amplop miliknya.

“Keinginanku yg ini belum terpenuhi” jawab Minho santai

“Ah mana mungkin, setiap tahun keinginan mu terpenuhi, masa yg terakhir tidak sih” keluh Ginny

“Yya, memang kenyataannya seperti ini, kalau kau mau aku melanggar aturan main ini, kau buka lah amplop milikku” jawab Minho sambil merebut amplop milik Ginny yg akan dibukanya “Mari kita buka ini” ucap Minho sambil mengacungkan amplop milik Ginny

“Aku ingin bisa berkuliah di Universitas Seni Cheondang jurusan Fotografi” Minho menyuarakan isi tulisan yg ada di amplop milik Ginny

“Chukkae!” Teriak Minho sambil memeluk Ginny dengan gemas.

“Aaaahhh hentikan” Ginny melepaskan pelukan Minho. Ekspresi Ginny tidak sesumringah Minho, dia justru terlihat khawatir.

“Minho-ah, ku kira diterima di univ cheondang ini juga merupakan keinginanmu”

“Hhhhhmm, ini termasuk keinginanku kok, tapi bukan yg aku tulis di amplop hehehhe”

“Oh aku tau” tiba-tiba Ginny tertunduk lesu

“Apa?”

“Yang kau tulis pasti ingin masuk Univ Cheondang jurusan menyanyi ya? Tapi karena aku kau malah masuk jurusan fotografi”

“Anniyo”

“Yya Minho-ah, aku tahu kau suka menyanyi”

“Memang, kau juga kan? Tapi benar, yg aku tulis di dalam amplop itu bukan kuliah dengan jurusan menyanyi, aku yakin pasti keinginanku itu akan terpenuhi dalam waktu dekat”

“Mmm jinjja?”

“He em” jawab Minho sambil tersenyum

*Flashback end*

Ginny menatap amplop milik Minho yang masih ter-lem rapi. Ginny terlihat sangat penasaran dengan isi amplop itu.

“Hhhm, ini kan sudah 1 tahun lebih dari dibukanya amplop terakhir milikku, kira-kira apa ya yang diinginkan Minho? Hhhm”

Ginny lalu membereskan amplop-amplop tersebut dan menyelipkannya kembali ke dalam buku diary miliknya, lalu Ginny kembali melihat buku catatan yg tadi dia temukan di tas nya itu. Ah sudahlah, nanti ku berikan langsung saja pada Minho, gumamnya dalam hati. Ginny memasukan buku diarynya dan buku catatan itu kedalam tasnya dan bergegas tidur.

¤¤¤

*Minho’s POV*

Akhir-akhir ini aku selalu merasa bahagia, semenjak Ginny tinggal di rumahku rasanya sangat berbeda. Tapi kulihat Ginny tidak merasakan hal yang sama, dia bahkan ingin pindah dari rumahku. Aku memang tau bagaimana sifat Ginny, dia paling tidak suka merepotkan orang, makanya aku agak berbohong sedikit padanya, paman dan bibinya tidak menitipkan bekal sepeser pun untuk Ginny dan Gissy. Eomma ku sebenarnya sangat keberatan menampung mereka, tapi aku terus-terusan memohon padanya supaya mau menerima Ginny dan Gissy dirumah dengan bilang bahwa Ginny dan Gissy akan membayar sewa, tapi disini lah masalahnya, bagaimana aku bisa membayar uang sewa pada ibuku? aku tidak tega jika membebankan ini pada Ginny. Aku tau Ginny pasti akan menyulitkan dirinya jika dia mengetahui soal ini, belum lagi biaya kuliah Ginny dan biaya sekolah Gissy, rasanya aku sudah seperti berkeluarga saja.

Hari ini hari libur, aku akan mengajak Ginny jalan-jalan.

*Author’s POV*

Pagi-pagi sekali Onew sudah pergi ke kampus, menganehkan sekali di hari libur seperti ini Onew malah pergi ke kampus. Di tengah perjalanan dia menelfon Taemin.

“Yobseo, Taemin-ah, bisa kau temani aku ke kampus?”

“Hah? Ini kan hari libur Onew-ah, ada apa? Pagi-pagi seperti ini kau sudah ganggu hidupku” omel Taemin yang sepertinya terbangun dari tidur karena telfon dari Onew.

“Buku catatan milik appaku, aku menghilangkannya!” Jelas Onew dengan nada gelisah.

“Yya! Bagaimana bisa? Bukankah kau baru mendapatkan buku itu dari Jonghyun omma belum ada 1 minggu yg lalu?” Taemin terkejut dan jadi ikut gelisah karena mengetahui bahwa buku itu sepertinya penting bagi Onew.

“Maka dari itu, kau harus bantu aku mencarinya. Ku tunggu kau dikampus sekarang!” Tit, Onew mematikan telefonnya.

*Flashback*

“Jinki-ah, kemari” Panggil seorang wanita yang sudah berumur kepada Onew yang sedang sibuk dengan laptopnya

“Ne, omonim” Onew pun langsung menghampiri wanita itu.

“Apa kau menyayangi Jonghyun?” Tanya wanita yg dipanggil omonim itu

“Ne, tentu saja, aku sudah menganggapnya seperti adik kandungku sendiri” jawab Onew

“Jinki-ah, kau tahu? Kau sangat mirip sekali appa mu, begitu pun dengan Jjong, dia sangat mirip appanya, mereka berdua adalah orang yang sangat berarti untuk ku” Wanita itu menepuk-nepuk paha Onew yang duduk disampingnya.

“Mmm aku tidak mengerti, apa omonim mengenal orang tua kandungku? Bukankah kalian mengadopsiku dari panti asuhan?” Tanya Onew tidak mengerti.

“Aniyoo, aku ingin kau dan Jonghyun akur seperti appa-appa kalian, aku tahu kau dan Jonghyun tidak pernah saling bicara meski sudah ku tinggalkan kalian untuk hanya tinggal berdua di rumah, setiap aku melihatmu, aku melihat appa mu Jinki-ah” Wanita itu menitikan air mata

“Omonim” Onew memegang tangan Omonim nya.

“Jinki-ah, aku ingin memberi tahumu sesuatu, tapi aku takut kau akan tambah membenci Jonghyun”

“Omonim, aku tidak pernah membenci Jonghyun, bagaimana aku bisa membencinya jika aku tinggal dan dibesarkan oleh orang tuanya” Sergah Onew dengan mata berkaca-kaca

“Aku minta maaf jika selama ini kau banyak mengalah untuk Jonghyun, tapi aku berusaha adil terhadap kalian berdua, tapi bagaimana pun aku tidak pernah bisa adil..” Wanita itu mengusap air matanya, lalu dia menyentuh pipi Onew, sejurus kemudian dia mengeluarkan sebuah buku catatan dari tasnya.

“Aku mohon, kau jangan membenci Jonghyun, aku hanya merasa kau berhak tahu siapa appa mu dan aku berharap kau dan Jonghyun bisa seperti mereka, bawalah ini” wanita itu menyerahkan bukunya pada Onew

*Flashback end*

Taemin langsung bergegas ke kamar mandi dan mencuci asal mukanya, dia langsung meraih kunci motor dan handphone nya lalu meninggalkan rumahnya. Tiba-tiba handphone nya bergetar, Taemin lalu menyisikan motornya dan mengangkat telfonnya.

“Yobseo” ucap Taemin sambil menyelipkan handphone kedalam helm yang dipakainya

“Selamat pagi sayang” terdengar suara sumringah dari seorang perempuan di dalam telfon

“Ah sayang, maaf aku lupa begitu bangun tidak langsung menelfonmu, temanku menelfon mendadak memintaku menemaninya, jadi aku lupa, maaf ya”

“Ah aniyoo, mengapa minta maaf! Mmm, memang mau kemana? Apa oppa sudah sarapan?”

“Ke kampus, belum sayang tidak sempat”

“Mmm yasudah, sepertinya oppa sedang buru-buru, jgn lupa sarapan ya jika urusannya sudah selesai”

“Iya, aku akan menelfon secepatnya, gissy-ah?”

“Ne?”

“Saranghae, mwah” Taemin menutup telfon nya dan langsung kembali mangemudikan motornya, dalam 10 menit Taemin sudah sampai di kampus, dia melihat Onew yang masih di dalam mobilnya

Tok..tok..tok.. Taemin mengetuk kaca mobil Onew. Onew pun langsung keluar dari mobilnya.

“Yya, apa kau sudah baca buku itu?” Tanya Taemin sambil terus berjalan mengikuti Onew, Onew hanya menggeleng.

“Pabo!” Gerutu Taemin, Onew tidak berkomentar apa-apa, dia hanya terus berjalan.

“Mau mencari kemana kita?” Tanya Taemin mulai kesal karena sedari tadi Onew hanya diam saja

“Auditorium” jawab Onew singkat.

Mereka berduapun sampai di auditorium dan berjalan melewati deretan-deretan kursi penonton. Tiba-tiba Onew berhenti dan menepok jidatnya

“AH benar! Gadis itu!” Ucapnya

“Gadis siapa?” Tanya Taemin penasaran.

“Jadi kemarin ada seorang gadis sedang bernyanyi disini, tiba-tiba dia menangis, begitu ku datangi dia, dia malah pergi dan menjatuhkan beberapa barangnya, lalu aku membantunya memunguti barangnya..”

“Dan buku itu terbawa olehnya?” Lanjut Taemin

“Bingo!” Onew mengangguk yakin

“Kau tahu siapa gadis itu?”

“Tidak”

“Apa dia tau siapa kau, dan apakah ada kemungkinan dia mengembalikan buku itu padamu?”

“Aku sempat mengatakan siapa namaku, tapi aku tak yakin dia mengingatnya” jelas Onew dengan tampang polos.

Taemin mendengus kesal.
“Yya, kalau begitu ucapkan lah selamat tinggal pada buku itu, aku pergi” Taemin berjalan meninggalkan Onew. Onew pun langsung mengikutinya.

¤¤¤

“Kau baru menelfon siapa?”

“Eh Ahjussi, aku baru menelfon temanku, waeyo?” Jawab Gissy yg masih memegangi handphone nya.

“Oh begitu, ini hari libur, mengapa kau tidak ikut keluar dengan Minho dan Ginny?” Ahjussi itu pun mendekati Gissy, Gissy yg didekatipun merasa risih

“Mm ne, aku akan keluar nanti siang bersama temanku, emmm ahjussi aku mau ke kamar dulu ya” Gissy sebisa mungkin mencari alasan untuk menghindari Ahjussi yang tidak lain adalah Ayah nya Minho.

“Yyyaa, kau mau kemana Gissy-ah, kau sudah besar ya sekarang” Ahjussi itu mengelus lengan Gissy, Gissy pun langsung menyingkirkan tangan itu dari lengannya, tetapi yang ada tangan Gissy malah balik di tarik oleh Ahjussi itu, dia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Gissy, Gissy pun mulai ketakutan, keringat dingin pun mengucur di dahinya

“Yya ahjussi apa yg mau kau lakukan” Gissy melawan segala gerakan yg dilakukan oleh Ayahnya Minho, tapi Ayahnya Minho mengunci gerakan Gissy dengan menyenderkannya ke tembok, dia lalu menyentuh wajah Gissy dengan jarinya, Gissy memalingkan wajahnya ketakutan, kini dia pun mulai menangis.

***

“Kau mau pesan yang mana?” Tanya Minho kepada Ginny sambil menyodorkan sebuah papan menu eskrim.

“Mmm aku mau yang coklat saja” jawab Ginny sambil tersenyum

“Baik lah, ahjumma kami pesan 2 ya, yang satu coklat satunya lagi cappucino” ucap Minho pada ahjumma penjual eskrim, tak lama eskrim itu pun sudah ditangan Minho dan Ginny.

Mereka duduk di motor Minho yang di parkir di pinggir jalan sambil makan eskrim, tiba-tiba Ginny terperanjat seperti mengingat sesuatu, dia lalu merogoh tas nya

“Oh iya Minho-ah, apa buku ini milikmu?” Ginny mengeluarkan sebuah buku catatan dari tas nya

“Mmm aniyo” kata Minho sambil melihat bolak balik buku itu tanpa membukanya

“Benar bukan punya mu? Lalu punya siapa ya? Mengapa bisa ada di tas ku kemarin?” Tanya Ginny heran sambil mengambil kembali buku itu, lalu mengambil satu buku lagi yg berbeda dari tasnya

“Coba kau lihat saja mungkin didalamnya terdapat nama pemiliknya” saran Minho

“Ah sudahlah nanti saja kita cari tahu buku siapa itu, sekarang aku ingin bertanya padamu, mengapa buku ini ada padamu?” Ginny mengacungkan sebuah buku diary miliknya yang dia temukan di kamar Minho. Minho pun tersenyum,

“Ah itu, sudah lama sekali buku itu ada padaku, mengapa kau baru sekarang menanyakannya?” Komentar Minho santai sambil melahap eskrim nya

“Yyyyaaaa!!! Ini pencurian namanya” Ginny memukul-mukuli pundak Minho dengan buku diary nya itu sambil tertawa-tawa.

“Hehehe, aku hanya penasaran dengan apa yg kau gambar waktu itu, ternyata kau menggambar kita berdua sedang menikah hahaha” terang Minho dengan sambil membuka buku diary tersebut dimana Ginny menggambar itu. Wajah Ginny memerah karena malu, dia lalu merebut buku itu.

“Itu kan hanya gambar anak kecil, lagipula aku hanya iseng menggambar itu” sergah Ginny menutupi malunya.

“Apa kau mau menikah denganku?”

“Apa?” Ginny kaget dan tiba-teba terbatuk-batuk karena eskrim nya

“Aku bercanda, hehe” Minho tersenyum nakal sambil terus menjilati eskrimnya

“Isssssshhhhh” Ginny mendengus kesal lalu kembali menjilati eskrimnya lagi sambil tersenyum.

“Oh iya, kau masih berhutang ini padaku” Ginny menyodorkan sebuah amplop yang ternyata adalah amplop keinginan milik Minho yg kesepuluh.

“Oh itu, aku masih belum berhasil mendapatkannya” jawab Minho santai sambil memandang lurus ke jalanan.

“Yyyyaaa, masa sudah sepuluh tahun lebih kau belum bisa mencapainya sih?”

“Memang seperti itu kenyataannya”

“Apa kau ingin menjadi seorang penyanyi?” Tanya Ginny dengan nada yg terdengar seperti perasaan bersalah. Minho lalu menatap Ginny dia lalu mengangguk,

“Aku memang ingin menjadi penyanyi, tapi bukankah kau bilang menjadi penyanyi itu buruk?” Minho menaikan kedua alisnya

“Ah, tidak seperti itu, tidak buruk sih, kalau kau ingin menjadi penyanyi kau tinggal jadi penyanyi saja, tidak usah pedulikan apa kataku” Ginny menundukan kepalanya

“Shiro!” Jawab Minho sambil mengangkat wajah Ginny yang tertunduk. “Jika kau benar apa yang kau bilang tadi maka kajja, bernyanyilah bersamaku” Minho langsung membalikan posisinya duduknya dan lalu menstater motornya

“Eh eh.. Mau kemana?” Ginny pun reflex turun dari motor itu.

“Yya mengapa kau turun, ayo naik” Minho menarik tangan Ginny keatas motor dan menyerahkan sebuah helm.

“Kita berkaraoke” ucap Minho sambil mentancap gas motornya dan membaurkan motornya ke jalan raya bersama motor yang lainnya.

Ginny tersenyum sambil memegang pinggang Minho, bentuk jok motor Minho membuat posisi itu seperti Ginny sedang memeluk Minho dari belakang.

***

“Kau sangat cantik seperti ibu dan kakakmu ya” Ahjussi itu lalu berusaha mencium bibir Gissy, tapi Gissy sebisa mungkin menghindarinya. Ahjussi itu seperti sedang dirasuki setan, dia malah tertawa dan terus melancarkan segala hasratnya kepada Gissy, Gissy menangis meraung-raung meminta tolong. Tapi pada waktu itu keadaan rumah keluarga Choi sedang sepi, tidak ada siapa-siapa kecuali mereka berdua.

“Berteriak lah sekeras mungkin gadis cantik, tak akan ada yang mendengarmu” ucap ayahnya Minho sambil membuka kancing-kancing kemejanya lalu melucuti pakaian Gissy dengan paksa. Gissy memukul dan menendang sekuatnya ke segala arah menolak sentuhan demi sentuhan yang dilancarkan Ayahnya Minho. Tapi sekuat apapun Gissy adalah seorang wanita dan Ayahnya Minho adalah seorang pria bukan hal yang sulit bagi Ayahnya Minho untuk melumpuhkan Gissy, apalagi dengan keadaan penuh nafsu seperti ini.

*Gissy’s POV*

Aku terduduk melihat darah yang mengalir di selangkanganku. Ahjussi yang kuanggap malaikat karena telah mau menampung aku dan kakak ku ternyata tak lebih dari seorang bajingan yang tak punya hati dan fikiran. Dia mengancingkan kemeja nya sambil menghisap sebatang rokok, setelah berhasil merenggut segalanya dariku dia hanya berkata “Jangan pernah berkata apapun tentang ini, atau kau dan kakakmu harus keluar dari rumah ini, atau mungkin kakakmu juga akan merasakan hal yang sama” Dia lalu tertawa terbahak-bahak, nampaknya dia memang sudah gila.

Aku tak beranjak dari posisiku, sampai laki-laki gila itu meninggalkanku. Handphone ku terus bergetar, Taemin oppa sedari tadi menelfonku terus. Apa yang harus aku lakukan? Aku menangis sejadi-jadinya berharap akan ada sesorang yang datang, tapi tidak ada yang datang. Dunia serasa mau runtuh, apa yang harus aku katakan pada Taemin oppa? Dan bagaimana reaksinya mengetahui gadis yang dicintainya sudah kehilangan kepererawanannya? “Gissy-ah, saranghae” aku teringat kata-kata terakhir yang disampaikan Oppa di telfon. Aku ingin mengadu padanya, aku ingin memeluknya saat ini, tapi aku takut begitu dia kuceritakan ini semua dia akan meninggalkanku.
“Oppa..oppaa..” Aku menangis sejadi-jadinya, mengapa aku harus mengalami ini? Aaaaaaa omma, appa, rasanya aku mau mati saja.

Ayahnya Minho kembali datang, masih dengan rokok di mulutnya. Dia melemparkan sebuah handuk ke arahku “Bersihkan dirimu, anggap saja yang tadi itu adalah pengganti uang muka sewa rumah untuk kau dan kakakmu, dan untuk bulan berikutnya mungkin kau bisa membayar dengan cara yang sama, hahahahaha” aku lekas bangkit dari tempatku tadi. Aku merasa sangat jijik pada Ayahny Minho yang bajingan itu. Aku tiba-tiba terfikir untuk menelfon kakakku.
Ginny. Call. Tuuuuuut…. Tuuut.. Ah mengapa dia tidak mengangkat telfonnya. Unni, tolong aku, apa yang harus aku lakukan.

¤¤¤

Jonghyun terbangun karena mendengar suara berisik seperti suara orang bermain playstation. Jonghyun lalu bangkit dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar.

“Kau baru bangun?” Tegur Key yang ternyata sedang bermain playstation di rumahnya. Jonghyun pun mendapati Ji Eun ada disana.

“Jjong-ah” sapa Ji Eun dengan sumringah lalu memeluk Jonghyun

“Ya! Ya! Lepaskan aku” tolak Jonghyun

“Key-ah apa yg sedang kau lakukan disini hah? Mengapa membawa gadis ini pula?” Jonghyun terlihat sangat jengkel.

“Aku tidak membawanya, dia yang memaksaku untuk datang kesini” jawab Key dengan santai sambil tetap asyik memainkan playstation nya.

“Jjongie apa kau masih marah padaku? Maafkan aku, tolooong” Ji Eun kembali memeluk Jonghyun yg langsung dilepaskan oleh Jonghyun.

“Ji Eunna, apa yg semalam kurang jelas? Sudahlah aku mohon kau pergi sekarang, kau juga key, aku pusing sekali” tegas Jonghyun pada Ji Eun sambil menendang Key yg masih asyik terduduk sambil main playstation.

“Ya ya ya, sebentar jjong, sebentar lagi raja terakhir” Key tetap pada posisinya. Jonghyun lalu menarik Key berdiri lalu mendorong Key dan Ji Eun dari rumahnya. Ji Eun terus memanggil-manggil nama Jonghyun, tapi tak sedikit pun diperdulikan oleh Jonghyun. Dia pun kembali ke kamarnya, tidur lagi.

¤¤¤

“Noona kau menyanyi sangat bagus, mengapa noona tidak menjadi penyanyi saja?” Minho menggoda Ginny yang baru saja menyelesaikan lagu nya.

“Yya bicara apa kau ini, eh Minho-ah, sudah 2 jam, mari kita pulang?” Tanggap Ginny sambil melirik jam tangannya.

“Aaaah, kita tambah 1 jam lagi yayaya? Ayooo?” Pinta Minho dengan puppyeyesnya.

Ginny membuka handphonenya “Eh ada misscall dari Gissy, mungkin kta berdua harus segera pulang, yuk?” Terang Ginny sambil menunjukan layar hpnya kepada Minho.

“Mmm, baiklah, ayo”

¤¤¤

“Kau kenapa Taemin-ah? Kulihat dari tadi kau gelisah sekali?” Tenya Onew pada Taemin yang terlihat sedang manelfon seseorang dengan wajah khawatir.

“Mm? Anii, pacarku, kenapa dia tidak mengangkat telfon ya?” Jawab Taemin masih dengan mimik khawatir.

“Mungkin dia sedang tidur” jawab Onew santai.

“Mmm bisa jadi, yasudahlah, akan ku telfon lagi dia nanti. Oh iya, aku ingin mengenalkan mu pada unni nya Gissy, pacarku, dia cantik loh” seketika mimik khawatirnya menghilang, kini Taemin seperti ingin menjodohkan Onew dengan seorang yeoja.

“Oh ya? Rasanya aku sudah tidak ingin mengenal wanita lain lagi selain wanita yang ku temui di auditorium kemarin..” Jawab Onew sambil merebahkan diri di kasur.

“Tsk, memang gadis seperti apa yang kau temui waktu itu?” Selidik Taemin.

“Dia cantik, suaranya merdu, tapi sayang mata indahnya ku lihat sedang berair mata” Onew bicara dengan nada berangan-angan

“Aisssshhh, unninya pacarku juga seperti itu, dia cantik, suaranya bagus, tp sayang, pacarku bilang dia sangat benci menyanyi, padahal suaranya indah sekali” Taemin masih kekeh dengan pendiriannya.

“Ah apa sih kau ini, sudah ah” Onew mengubah posisi tidurnya menjadi terlungkup

“Yya! Aku hanya kasihan melihat kau selalu sendirian, tidak pernah punya pacar, aku sih mana tahan” komentar Taemin sambil melempar bantal ke arah Onew.

“Yasudah, aku mau pulang dulu. Besok aku bantu lagi kau mencari buku mu itu” Pamit Taemin sambil meraih kunci motornya yang terletak di meja.

“Hoh, gomawooo” jawab Onew masih dengan posisi terlungkup kali ini sambil mengacungkan tangannya mengisyaratkat tanda “ok”

¤¤¤

Ditengah perjalanan menuju rumahnya, Taemin terus-terusan memikirkan pacarnya Gissy. Sampai akhirnya Taemin memutar arah menuju kediaman keluarga Choi, tempat Gissy tinggal saat ini. Begitu sampai di rumah keluarga Choi, Taemin bertemu dengan Ginny dan Minho yang baru saja pulang.

“Annyonghasseyo” sapa Taemin sambil membungkukan badannya yang langsung dijawab oleh Minho dan Ginny bersamaan.

“Kenalkan saya Taemin, Lee Taemin, temannya Gissy” Taemin mengulurkan tangannya mengajak Minho berkenalan

“Choi Minho” jawab Minho ramah sambil menjabat tangannya Taemin.

“Mencari Gissy kah?” Tanya Ginny kepada Taemin

“Oh, iya, sedari tadi Gissy tidak bisa dihubungi, hanya mau memastikan apakah dia baik-baik saja” jawab Taemin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Mmm begitu, baiklah, tunggu sebentar ya, aku panggilkan Gissy dulu” ucap Ginny sambil masuk ke dalam rumah.

“Mau menunggu di dalam?” Tawar Minho

“Mmm, tidak usah, saya menunggu disini saja, lagian tidak akan lama kok” tolak Taemin dengan halus

Mereka berdua pun terlibat obrolan-obrolan ringan antar lelaki, mulai dari sepak bola hingga band-band yang sedang hits akhir-akhir ini. Obrolan mereka terhenti ketika sosok Gissy muncul dari dalam rumah.

“Minho oppa, terima kasih sudah menemani Taemin mengobrol” ucap Gissy kepada Minho sambil tersenyum

“Ah ne, tidak usah berterima kasih. Baik lah aku tinggal ke dalam ya Gissy-ah, Taemin”

“Ne” jawab Taemin sambil tersenyum. Minho pun masuk ke dalam rumah.

Kini di teras rumah hanya ada Taemin dan Gissy.

“Yya! Mengapa tidak mengangkat telfon?” Tanya Taemin

“Mianhae oppa, aku kehilangan ponselku di minimarket” jawab Gissy, bohong.

“Ha? Bagaimana bisa?”

“Na do molla”

“Kau baik-baik saja?” Taemin menyentuh dahi Gissy memastikan bahwa dia baik-baik saja. Gissy hanya mengangguk-ngangguk.

“Mengapa matamu sembap? Habis menangis? Kenapa? Beritahu aku?” Taemin menatap Gissy dengan wajah khawatir lalu memegangi kedua pipi Gissy.

“Aku tidak apa-apa oppa, aku baik-baik saja” jawab Gissy sambil melepaskan tangan Taemin di pipinya lalu menggenggamnya

“Lalu mengapa matamu sembap seperti itu, suara mu juga seperti yang kurang sehat”

“Aku hanya kebanyakan tidur oppa, ini saja unni membangunkanku” jawab Gissy. Bohong lagi.

“Oh begitu yah” komentar Taemin mungkin agak tidak percaya.

“Oh iya oppa, oppa kuliah di Cheondang kan?” Tanya Gissy, mengganti topik pembicaraan.

“Iya, memangnya kenapa?”

“Mmm tidak, Unni ku juga kuliah disitu”

“Oh iya, Ginny-ssi? Kuliah ditempat yg sama denganku? Jurusan apa?” Taemin penasaran karena dia ingin menjodohkan Ginny dengan Onew, maka dari itu ini kesempatan yang bagus.

“Fotografi. Tapi aku rasa dia seharusnya mengambil jurusan menyanyi. Yah seperti yg pernaha ku ceritakan tempo hari oppa, dia benci menyanyi”

“Oh ya? Lalu Minho-ssi apakah di kampus yang sama juga?”

“Iya, oppa, sudah mau malam, pulanglah”

“Mmmm, sebentar” Taemin merogoh kantongnya lalu mengeluarkan sebuah ponsel “Ini bawalah dulu supaya aku tetap bisa menghubungimu”

“Ah tidak, biar nanti saja aku yg menghubungi oppa, aku bisa pinjam ponsel unni” tolak Gissy sambil mengembalikan ponselnya Taemin

“Benar ya kau akan menghubungiku? Kau tau rasanya tidak tenang sekali jika tidak mengetahui kabarmu, bisa gila jika sekarang aku tidak bertemu denganmu, tapi dengan begini aku sudah tenang” Taemin mengelus-ngelus kepala Gissy.

Gissy tersenyum simpul. “Maaf sudah membuat khawatir seharian, eh tidak, maaf selalu membuat oppa khawatir”

“Kau ini bicara apa?! Saranghaeyo” ujar Taemin sambil mencium manja kening Gissy. Gissy hanya diam dengan wajah datar tanpa ekspresi. Taemin lalu menstater motornya dan menghilang diujung jalan.

¤¤¤

“Unni”

“Yya! Mengagetkan saja” Ginny terperanjat di meja belajarnya.

“Habisnya serius sekali” goda Gissy.

Ginny menutup buku yang sedang dibacanya, ia lalu memutar kursinya menghadap Ginny.

“Wae?” Tanya Ginny penuh selidik.

“Tidak” Gissy menggeleng, lalu ia mengambil kamera polaroid milik Ginny yang terletak di meja belajar.

“Yyyaa, mau apa kau dengan kameraku?” Ginny berusaha merebut kamera itu dari tangan Gissy, tapi Gissy berhasil menghindarkannya dan menyembunyikannya dibalik punggungnya.
“Pelit sekali” cemooh Gissy
“Unni, bisakah kau memotretku? Di sekolah disuruh mengumpulkan foto untuk buklet tahunan” pinta Gissy sambil menyerahkan kamera kakaknya itu.

“Mm, baiklah”

Gissy lalu memasang senyumnya yang cantik dan click, Ginny memotretnya. Dalam hitungan detik foto tersebut sudah jadi. Ginny lalu memberikannya pada Gissy.

“Satu kali lagi, boleh?” Pinta Gissy sambil memasang wajah puppy nya, Ginny pun tak banyak bicara, dia lalu memotret Gissy lagi dan memberikan hasilnya. Kini 2lembar foto ada di tangan Gissy. Dia tersenyum getir lalu beranjak ke tempat tidur. dia berbaring membelakangi kakanya yang kini telah fokus kembali pada bukunya. Tiba-tiba air mata menganak sungai di pipi Gissy, dia berusaha tidak menyuarakan tangisannya. Dia, tidak mau mengganggu kakaknya.

¤¤¤

*Ginny’s POV*

Pukul 5 pagi aku terbangun oleh bunyi alarm dari handphone ku yang benar-benar mengganggu. Kulihat Gissy baru saja keluar dari kamar dengan seragam yang lengkap. Ada apa ya dia berangkat sekolah pagi buta seperti ini. Aku lekas berjalan menuju balkon, aku melihat Gissy dari atas, dia terlihat meninggalkan rumah dengan mengendap-ngendap. Sungguh menganehkan. Yasudahlah mungkin dia memang mau berangkat lebih awal. Aku pun segera mandi, dan menyiapkan sarapan. Ya, menyiapkan sarapan kini adalah tugasku, bagaimana mungkin aku tinggal secara gratis dirumah orang tanpa melakukan apapun. Fiuhh. Semuanya sudah beres, kini aku, Minho dan kedua orangtuanya berada dalam meja yang sama. Entah mengapa suasana pagi ini begitu kikuk. Minho tak sedikitpun kudengar bersuara. Aku pun fokus pada sarapanku sampai Minho Omma membuka sebuah pembicaraan.

“Ginny-ah, mengapa Gissy tidak ikut sarapan

Jonghyun terbangun karena mendengar suara berisik seperti suara orang bermain playstation. Jonghyun lalu bangkit dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar.

“Kau baru bangun?” Tegur Key yang ternyata sedang bermain playstation di rumahnya. Jonghyun pun mendapati Ji Eun ada disana.

“Jjong-ah” sapa Ji Eun dengan sumringah lalu memeluk Jonghyun

“Ya! Ya! Lepaskan aku” tolak Jonghyun

“Key-ah apa yg sedang kau lakukan disini hah? Mengapa membawa gadis ini pula?” Jonghyun terlihat sangat jengkel.

“Aku tidak membawanya, dia yang memaksaku untuk datang kesini” jawab Key dengan santai sambil tetap asyik memainkan playstation nya.

“Jjongie apa kau masih marah padaku? Maafkan aku, tolooong” Ji Eun kembali memeluk Jonghyun yg langsung dilepaskan oleh Jonghyun.

“Ji Eunna, apa yg semalam kurang jelas? Sudahlah aku mohon kau pergi sekarang, kau juga key, aku pusing sekali” tegas Jonghyun pada Ji Eun sambil menendang Key yg masih asyik terduduk sambil main playstation.

“Ya ya ya, sebentar jjong, sebentar lagi raja terakhir” Key tetap pada posisinya. Jonghyun lalu menarik Key berdiri lalu mendorong Key dan Ji Eun dari rumahnya. Ji Eun terus memanggil-manggil nama Jonghyun, tapi tak sedikit pun diperdulikan oleh Jonghyun. Dia pun kembali ke kamarnya, tidur lagi.

¤¤¤

“Noona kau menyanyi sangat bagus, mengapa noona tidak menjadi penyanyi saja?” Minho menggoda Ginny yang baru saja menyelesaikan lagu nya.

“Yya bicara apa kau ini, eh Minho-ah, sudah 2 jam, mari kita pulang?” Tanggap Ginny sambil melirik jam tangannya.

“Aaaah, kita tambah 1 jam lagi yayaya? Ayooo?” Pinta Minho dengan puppyeyesnya.

Ginny membuka handphonenya “Eh ada misscall dari Gissy, mungkin kta berdua harus segera pulang, yuk?” Terang Ginny sambil menunjukan layar hpnya kepada Minho.

“Mmm, baiklah, ayo”

¤¤¤

“Kau kenapa Taemin-ah? Kulihat dari tadi kau gelisah sekali?” Tenya Onew pada Taemin yang terlihat sedang manelfon seseorang dengan wajah khawatir.

“Mm? Anii, pacarku, kenapa dia tidak mengangkat telfon ya?” Jawab Taemin masih dengan mimik khawatir.

“Mungkin dia sedang tidur” jawab Onew santai.

“Mmm bisa jadi, yasudahlah, akan ku telfon lagi dia nanti. Oh iya, aku ingin mengenalkan mu pada unni nya Gissy, pacarku, dia cantik loh” seketika mimik khawatirnya menghilang, kini Taemin seperti ingin menjodohkan Onew dengan seorang yeoja.

“Oh ya? Rasanya aku sudah tidak ingin mengenal wanita lain lagi selain wanita yang ku temui di auditorium kemarin..” Jawab Onew sambil merebahkan diri di kasur.

“Tsk, memang gadis seperti apa yang kau temui waktu itu?” Selidik Taemin.

“Dia cantik, suaranya merdu, tapi sayang mata indahnya ku lihat sedang berair mata” Onew bicara dengan nada berangan-angan

“Aisssshhh, unninya pacarku juga seperti itu, dia cantik, suaranya bagus, tp sayang, pacarku bilang dia sangat benci menyanyi, padahal suaranya indah sekali” Taemin masih kekeh dengan pendiriannya.

“Ah apa sih kau ini, sudah ah” Onew mengubah posisi tidurnya menjadi terlungkup

“Yya! Aku hanya kasihan melihat kau selalu sendirian, tidak pernah punya pacar, aku sih mana tahan” komentar Taemin sambil melempar bantal ke arah Onew.

“Yasudah, aku mau pulang dulu. Besok aku bantu lagi kau mencari buku mu itu” Pamit Taemin sambil meraih kunci motornya yang terletak di meja.

“Hoh, gomawooo” jawab Onew masih dengan posisi terlungkup kali ini sambil mengacungkan tangannya mengisyaratkat tanda “ok”

¤¤¤

Ditengah perjalanan menuju rumahnya, Taemin terus-terusan memikirkan pacarnya Gissy. Sampai akhirnya Taemin memutar arah menuju kediaman keluarga Choi, tempat Gissy tinggal saat ini. Begitu sampai di rumah keluarga Choi, Taemin bertemu dengan Ginny dan Minho yang baru saja pulang.

“Annyonghasseyo” sapa Taemin sambil membungkukan badannya yang langsung dijawab oleh Minho dan Ginny bersamaan.

“Kenalkan saya Taemin, Lee Taemin, temannya Gissy” Taemin mengulurkan tangannya mengajak Minho berkenalan

“Choi Minho” jawab Minho ramah sambil menjabat tangannya Taemin.

“Mencari Gissy kah?” Tanya Ginny kepada Taemin

“Oh, iya, sedari tadi Gissy tidak bisa dihubungi, hanya mau memastikan apakah dia baik-baik saja” jawab Taemin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Mmm begitu, baiklah, tunggu sebentar ya, aku panggilkan Gissy dulu” ucap Ginny sambil masuk ke dalam rumah.

“Mau menunggu di dalam?” Tawar Minho

“Mmm, tidak usah, saya menunggu disini saja, lagian tidak akan lama kok” tolak Taemin dengan halus

Mereka berdua pun terlibat obrolan-obrolan ringan antar lelaki, mulai dari sepak bola hingga band-band yang sedang hits akhir-akhir ini. Obrolan mereka terhenti ketika sosok Gissy muncul dari dalam rumah.

“Minho oppa, terima kasih sudah menemani Taemin mengobrol” ucap Gissy kepada Minho sambil tersenyum

“Ah ne, tidak usah berterima kasih. Baik lah aku tinggal ke dalam ya Gissy-ah, Taemin”

“Ne” jawab Taemin sambil tersenyum. Minho pun masuk ke dalam rumah.

Kini di teras rumah hanya ada Taemin dan Gissy.

“Yya! Mengapa tidak mengangkat telfon?” Tanya Taemin

“Mianhae oppa, aku kehilangan ponselku di minimarket” jawab Gissy, bohong.

“Ha? Bagaimana bisa?”

“Na do molla”

“Kau baik-baik saja?” Taemin menyentuh dahi Gissy memastikan bahwa dia baik-baik saja. Gissy hanya mengangguk-ngangguk.

“Mengapa matamu sembap? Habis menangis? Kenapa? Beritahu aku?” Taemin menatap Gissy dengan wajah khawatir lalu memegangi kedua pipi Gissy.

“Aku tidak apa-apa oppa, aku baik-baik saja” jawab Gissy sambil melepaskan tangan Taemin di pipinya lalu menggenggamnya

“Lalu mengapa matamu sembap seperti itu, suara mu juga seperti yang kurang sehat”

“Aku hanya kebanyakan tidur oppa, ini saja unni membangunkanku” jawab Gissy. Bohong lagi.

“Oh begitu yah” komentar Taemin mungkin agak tidak percaya.

“Oh iya oppa, oppa kuliah di Cheondang kan?” Tanya Gissy, mengganti topik pembicaraan.

“Iya, memangnya kenapa?”

“Mmm tidak, Unni ku juga kuliah disitu”

“Oh iya, Ginny-ssi? Kuliah ditempat yg sama denganku? Jurusan apa?” Taemin penasaran karena dia ingin menjodohkan Ginny dengan Onew, maka dari itu ini kesempatan yang bagus.

“Fotografi. Tapi aku rasa dia seharusnya mengambil jurusan menyanyi. Yah seperti yg pernaha ku ceritakan tempo hari oppa, dia benci menyanyi”

“Oh ya? Lalu Minho-ssi apakah di kampus yang sama juga?”

“Iya, oppa, sudah mau malam, pulanglah”

“Mmmm, sebentar” Taemin merogoh kantongnya lalu mengeluarkan sebuah ponsel “Ini bawalah dulu supaya aku tetap bisa menghubungimu”

“Ah tidak, biar nanti saja aku yg menghubungi oppa, aku bisa pinjam ponsel unni” tolak Gissy sambil mengembalikan ponselnya Taemin

“Benar ya kau akan menghubungiku? Kau tau rasanya tidak tenang sekali jika tidak mengetahui kabarmu, bisa gila jika sekarang aku tidak bertemu denganmu, tapi dengan begini aku sudah tenang” Taemin mengelus-ngelus kepala Gissy.

Gissy tersenyum simpul. “Maaf sudah membuat khawatir seharian, eh tidak, maaf selalu membuat oppa khawatir”

“Kau ini bicara apa?! Saranghaeyo” ujar Taemin sambil mencium manja kening Gissy. Gissy hanya diam dengan wajah datar tanpa ekspresi. Taemin lalu menstater motornya dan menghilang diujung jalan.

¤¤¤

“Unni”

“Yya! Mengagetkan saja” Ginny terperanjat di meja belajarnya.

“Habisnya serius sekali” goda Gissy.

Ginny menutup buku yang sedang dibacanya, ia lalu memutar kursinya menghadap Ginny.

“Wae?” Tanya Ginny penuh selidik.

“Tidak” Gissy menggeleng, lalu ia mengambil kamera polaroid milik Ginny yang terletak di meja belajar.

“Yyyaa, mau apa kau dengan kameraku?” Ginny berusaha merebut kamera itu dari tangan Gissy, tapi Gissy berhasil menghindarkannya dan menyembunyikannya dibalik punggungnya.
“Pelit sekali” cemooh Gissy
“Unni, bisakah kau memotretku? Di sekolah disuruh mengumpulkan foto untuk buklet tahunan” pinta Gissy sambil menyerahkan kamera kakaknya itu.

“Mm, baiklah”

Gissy lalu memasang senyumnya yang cantik dan click, Ginny memotretnya. Dalam hitungan detik foto tersebut sudah jadi. Ginny lalu memberikannya pada Gissy.

“Satu kali lagi, boleh?” Pinta Gissy sambil memasang wajah puppy nya, Ginny pun tak banyak bicara, dia lalu memotret Gissy lagi dan memberikan hasilnya. Kini 2lembar foto ada di tangan Gissy. Dia tersenyum getir lalu beranjak ke tempat tidur. dia berbaring membelakangi kakanya yang kini telah fokus kembali pada bukunya. Tiba-tiba air mata menganak sungai di pipi Gissy, dia berusaha tidak menyuarakan tangisannya. Dia, tidak mau mengganggu kakaknya.

¤¤¤

*Ginny’s POV*

Pukul 5 pagi aku terbangun oleh bunyi alarm dari handphone ku yang benar-benar mengganggu. Kulihat Gissy baru saja keluar dari kamar dengan seragam yang lengkap. Ada apa ya dia berangkat sekolah pagi buta seperti ini. Aku lekas berjalan menuju balkon, aku melihat Gissy dari atas, dia terlihat meninggalkan rumah dengan mengendap-ngendap. Sungguh menganehkan. Yasudahlah mungkin dia memang mau berangkat lebih awal. Aku pun segera mandi, dan menyiapkan sarapan. Ya, menyiapkan sarapan kini adalah tugasku, bagaimana mungkin aku tinggal secara gratis dirumah orang tanpa melakukan apapun. Fiuhh. Semuanya sudah beres, kini aku, Minho dan kedua orangtuanya berada dalam meja yang sama. Entah mengapa suasana pagi ini begitu kikuk. Minho tak sedikitpun kudengar bersuara. Aku pun fokus pada sarapanku sampai Minho Omma membuka sebuah pembicaraan.

“Ginny-ah, mengapa Gissy tidak ikut sarapan?” Kulihat mimik mukanya berbasa-basi

“Gissy sudah berangkat sekolah pagi-pagi sekali” jawabku dengan nada sumringah, bermaksud mencairkan suasana kikuk ini.

Kulihat Minho tak sedikitpun ingin bergabung dalam percakapan ini. Aku merasa ada sesuatu yang terjadi.

“Apa kau betah tinggal disini Ginny-ah?” Minho omma kembali melontarkan pertanyaan padaku. Kini Minho mendongakan kepalanya, dia menatapku.

TBC

otte otte otte ? dont forget RCL yaaaa. kamshaa🙂

Entry filed under: Chaptered, Family, Friendship, Indonesia, IU, Romance, SHINee. Tags: .

BEHIND ( PART 1) LOVE AND FATE

1 Comment Add your own

  • 1. syifapuspitasari  |  June 9, 2012 at 10:13 PM

    itu kenapa ada bagian yang diulang deh thor?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 513,030 hits

Day by Day

April 2012
M T W T F S S
« Mar   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: