BEHIND ( PART 1)

April 3, 2012 at 10:46 AM 2 comments

 

Author : Ejyn

Title : Behind ( Part 1 )

Type : Chaptered

Genre : Romance, Friendship, Family

Rate : PG13

Cast :

– Kwon Ginny (OC\You)

– Lee Jinki

– Kim Jonghyun

– Choi Minho

– Lee Taemin

– Kwon Gissy (OC\Ginny’s young sister\Taemin’s Girlfriend)

– Kim Kibum

– Lee Jieun, IU

and other support cast.

—————————————————————————————————

[Ginny’s POV]

Cahaya blitz kamera terus mengenaiku, jika kubisa membagi dua tubuhku juga akan ku lakukan hal yang sama, aku ingin mengabadikan momment ini. Aku tidak tahu bagaimana ini terjadi, tapi lihatlah, siapa yang berada di depanku?! Ellen! Kau pasti tau siapa Ellen! The Ellen Show. Bukan kah hebat? Riuh tepuk tangan mulai berhenti ketika lampu kamera yang mengarah padaku berubah merah dan bertuliskan “On Air” Sutradara pun memberi tanda dimulainya acara ini. Ellen membuka acara ini,

“Ya selamat datang di The Ellen Show”

lalu  seorang crew mengangkat papan bertuliskan ‘APLAUSE’ dan ruangan ini kembali riuh dengan tepuk tangan, lalu crew itu mengangkat papan bertuliskan ‘SILENT’ tepuk tangan pun berhenti.

“Kali ini kita mengundang seorang gadis muda yang berasal dari Korea, Kwon Gin Yi atau lebih dikenal dengan Ginny, siapa yang tidak mengenal gadis bersuara emas ini? Karirnya begitu cemerlang di usianya yang masih terbilang muda. Baiklah Miss Ginny, bisakah kau memperkenalkan dirimu?”

Waw, entah ini apa yang terjadi tapi aku sangat menikmatinya.

“Hai, namaku Kwon Gin Yi, aku berumur 19 tahun, aku……..”

Kalimat ku terhenti ketika aku melihat bibiku duduk dideretan penonton sambil melambaikan tangan dan berteriak

“Ginny-aaaaaaaaaaaaah… Kwon Ginny”

¤¤¤
“Ginny-ah.. Ginny-ah.. Ayo bangun”

kurasakan seseorang sedang mengguncang-guncang badanku. Aku pun membuka mataku dan langsung terduduk kaget. Ha! Dimana aku? Kemana Ellen yang tadi sedang mewawancaraiku? Penonton-penonton? Dan mengapa tidak ada satu set kamera pun.

“Apa yang sedang kau cari Ginny-ah?”

Aku menoleh ke asal suara itu. Ffffffuuuu, rupanya ini hanya mimpi.

“Ani.”

Aku menjawab sekenanya saja, entah mengapa mimpi barusan itu terasa begitu nyata. Kalimat Ellen dalam mimpi itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Suara emas, hhhmm sampai sekarang aku hanya menjadi seorang penyanyi kamar mandi. Errrr mengesalkan.

“Ginny-ah, ikut aku”

ku lihat wajah bibi ku, sepertinya ada hal serius yang ingin dia sampaikan, sampai-sampai membangunkanku, aku refleks melihat jam yang ada di meja belajarku, APA? Masih jam 1 pagi.

“Ya ahjumma, ada apa? Ini masih tengah malam”

kekesalanku bertambah ketika mengetahui jam berapa ini, ku kira ini sudah pagi.

“Eh eh mwoyaaaaaa?”

Bibi menarik tanganku keluar kamar.

¤¤¤
Aku terheran-heran, bibi membawaku ke ruang tengah dan semuanya berkumpul disitu, adikku Gissy dan sepupuku Hyun Ri  juga, mereka kan besok harus sekolah, mengapa jam segini semuanya berkumpul diruang tengah? Itu kan Minho dan kedua orang tuanya, mengapa mereka juga ada disini? Jika ini kejutan ulang tahun mengapa tidak ada kue dan ucapan selamat yang menghamburiku? Lagi pula ulang tahunku sudah lewat. Aku masih sangat bingung sampai akhirnya Bibi ku menyuruhku duduk.

“Ginny-ah”

Pamanku membuka obrolan, tiba-tiba jantungku berdegup sangat kencang. Aku tatapi wajah semua orang yg ada saat itu, aku menatap Gissy, dia menggeleng sama bingungnya sepertiku. Aku lalu memfokuskan tatapanku pada Pamanku yg telihat sangat tegang, telihat tangannya sangat bergetar.

“Sebelumnya paman minta maaf karena membangunkanmu tengah malam seperti ini, tapi aku rasa ini waktu yang tepat.”

Tsk, waktu yang tepat? Seberapa pentingkah hal yang akan disampaikannya sehingga tengah malam begini disebut ‘waktu yang tepat’ aku lihat dia mengambil nafas panjang untuk melanjutkan kalimatnya, sepertinya ini semua sudah dipersiapkan dengan matang-matang, terlihat dari caranya bicara, sangat hati-hati.

“Baiklah, aku akan langsung ke pokok masalahnya, karena aku yakin kau akan sangat mudah untuk mencerna dan mengambil inti dari masalah ini. Ginny-ah…”

Kata-katanya terpotong lagi, dia menggosok kedua telapak tangannya lalu meniupnya dan lagi-lagi dia menarik nafas panjang.

“Mulai sekarang kita harus meninggalkan tempat ini”

mataku terbelalak ketika pamanku baru menyelesaikan kalimatnya yang sedari tadi terpotong-potong.

“Apa?”

Pertanyaan yg aku lontarkan itu bukan berarti aku meminta omongan pamanku itu di ulang, telingaku masih cukup normal untuk mendengar meski ditengah kantuk yang sangat berat. Tidak ada yang bicara. Paman dan Bibiku hanya menunduk, Minho beserta ayah dan ibunya sedari tadi hanya diam seribu bahasa. Gissy dan Hyun Ri terlihat terkejut pula

“Ada apa ini? Mengapa begitu mendadak?”

Aku berhak atas sebuah penjelasan dari kalimat pamanku yang sangat gantung.

“Sebenarnya ini tidak mendadak, kami sudah memikirkannya sejak 3 bulan yang lalu”

“3 bulan yang lalu?”

aku membuang muka dengan kesal, bagaimana bisa mereka memikirkan ini semua dalam waktu 3 bulan dan baru sekarang mereka ceritakan padaku? Konyol! Mereka sangat konyol.

“Ada apa ini?”

Aku mengulangi pertanyaanku

“Kau tau kan Ginny, selama 14 tahun ini kita semua bergantung dari harta peninggalan orang tuamu, kau dan Gissy juga tidak pernah kekurangan apapun. Tapi kalian tidak pernah tau menau tentang perusahaan milik orang tua kalian yg kita kelola. Sudah 1 tahun ini perusahaan itu tidak beroperasi, kami terpaksa menjual beberapa saham untuk memenuhi kehidupan kalian..”

Tunggu, rasanya tidak adil jika Paman hanya menyebutkan aku da Gissy dalam kalimatnya tadi, mengapa Hyun Ri dan Bibi tidak disebutkan? Aku masih tertegun menatapnya tanpa berkomentar apapun.

“Lalu aku tertarik dengan sebuah tawaran untuk mengikuti program undi  saham yang ditawarkan oleh temanku, awalnya memang membuahkan hasil, tapi bulan2 berikutnya saham ayahmu habis. Maafkan aku Ginny…”

Ternyata itu! Aku tersenyum sinis.

“Jadi maksud paman perusahaan ayah ku bangkrut? Kita harus meninggalkan rumah karena rumah ini akan disita? Begitu maksud paman?”

“Ini… Tidak seperti itu Ginny-ah..”

Aku agak sedikit lega mendengarnya. Tak terbayang rumah ini sampai benar2 disita.

“Ini lebih parah”

paman ku melanjutkan kata-katanya, sekejap kelegaan ku berubah panik.

“Lebih parah? Bagaimana bisa?”

Aku mulai kesal karena pamanku mengulur2 kata sehingga membuatku bingung.

“Setelah saham ayahmu habis aku mulai meminjam dana sana sini untuk tetap menghidupi kita semua, sampai akhirnya aku tidak bisa membayar lagi. Rumah ini pun tak cukup untuk melunasi hutang itu. Kami sudah mengulur-ngulur waktu si penagih hutang itu sampai dia kesal dan berubah menginginkan kepala kami.  Maka dari itu kami harus segera pergi dari sini”

paman ku memandang kesegala arah menyembunyikan kegugupannya.

“Jadi, kemana kita akan pindah?”

Paman dan bibiku bertatap-tatapan.

“Ginny-ah, kau tau kan aku dan bibimu ini tidak punya apa-apa, untuk membesarkan Hyun Ri  ditempat yang baru saja kami masih ragu apakah kami sanggup atau tidak, jadi untuk itu, kau dan Gissy tetap tinggal di Seoul saja.”

“Apa?!”

Kali ini aku menyuarakannya setengah berteriak.

“Jadi kau akan mengorbankan kepalaku dan Gissy untuk semua ini hah? Apa kau sudah gila?”

Emosiku benar2 tidak tertahan. Minho menghampiriku dan menyuruhku tenang, dia lalu menatapku

“Kau tidak perlu khawatir Ginny, kau dan Gissy akan tinggal bersama keluargaku, dan kami tidak akan membiarkan siapapun menyentuh kepala kalian berdua”

Minho terus menggenggam tanganku dan mengusap2 punggungku, aku tak kuat lagi menahan kekesalanku. Aku beranjak dari tempatku duduk, aku maju selangkah dan…BRUK semuanya tampak gelap.
¤¤¤

Cahaya matahari pagi menusuk mataku yang masih mengatup dengan rapatnya, nampaknya seseorang yang bangun lebih dulu dari aku sengaja membuka jendelanya. Aku pun bangun. Kepalaku begitu berat sampai aku menyadari langit-langit yang kutatap sekarang ini berbeda dari biasanya, kupandangi sekeliling kamar ini. Semuanya berwarna biru serta pernak pernik club sepak bola Chelsea yang mendominasi hampir disetiap warna biru yang ada. Tak perlu berfikir lama apalagi bertanya dimana aku sekarang, ya aku tau, ini kamar tidurnya Minho. Aku menengok jam yang tergantung di dinding kamar, hmm sudah jam 9 pagi. Aku mengingat2 kejadian semalam, aku ingat semuanya sampai semuanya berubah gelap, dan begitu terbangun, aku sudah berada disini. Aku beranjak dari tempat tidur menuju balkon kamar Minho. Kamar Minho terletak di lantai 2, dan balkon kamarnya berseberangan dengan balkon kamarku. Rumah ku tampak jelas dari sini, dan orang-orang berjas serta berkaca mata hitam itu pun terlihat jelas. Mereka membawa semacam walkie talkie, dan jumlah mereka sangat  banyak, hampir satu lusin mungkin. Rasanya aneh ya melihat rumah sendiri dijaga super ketat seperti itu. Tapi menurutku, gaya mereka terlalu rapi jika untuk memburu kepala, tsk.

“Ginny-ah.. Apa kau sudah bangun?”

Aku mendengar seseorang membuka pintu, aku pun langsung berbalik badan dan mendapati Minho tengah berdiri diambang pintu dng nampan berisikan susu dan roti.

“Ya Minho-ah, belum juga 24 jam aku tinggal disini aku sudah merepotkanmu”

keluhku tak enak. Minho hanya tersenyum tidak menggubris ucapannku.

“Gissy sudah berangkat sekolah tadi pagi, kau cepatlah siap-siap, kita ada kuliah kan jam 10″

Minho malah mengganti topik.

“Iya aku tau”

aku melihat ke arah balkon,

“Minho-ah, apakah kau sudah melihat mereka?”

Minho mengikuti gerakan mataku ke arah balkon dan berjalan kesana, aku pun mengikutinya.

“Paman dan Bibi ku benar-benar sangat mengerikan, aku tak mengerti apa sudah mereka lakukan”

aku mendengus sambil memukul2 pagar balkon. Minho lalu menatapku, astaga tatapannya Minho ituuuu….

“Yasudah, berdoalah untuk mereka, supaya diluar sana mereka bisa hidup dengan baik, terutama Hyun Ri..”

“Tapi..”

Belum sempat kulanjutkan kata-kataku, Minho menarik tanganku

“Ayo sudah sana mandi, aku tidak mau terkena detensi hanya karena kau mengulur2 waktu untuk mandi”

Minho pun berlalu.

Minho, Choi Minho, dia adalah sahabatku sejak kecil. Minho adalah laki-laki yang sangat baik, juga sangat tampan. Banyak sekali perempuan di kampus yg katanya mau membayar jutaan won untuk menempati posisiku sebagai satu-satunya perempuan yang dekat dengan Minho, tapi kami hanya bersahabat saja. Minho pernah bilang padaku bahwa dia tidak akan pernah berpacaran sampai dia masuk Universitas, tapi sekarang kami sudah semester 3 dan aku tidak pernah melihat Minho mendekati perempuan. Ya, sama sepertiku, sudah 19 tahun tapi aku pun belum pernah pacaran. Ini adalah bahan paling ampuh yg biasa digunakan Gissy jika sedang mengejekku “Bagaimanapun kau tidak akan pernah mendapatkan pacar, kau sinis dan menyebalkan, aku tidak tau apa yg ada difikiran Minho Oppa, betah sekali dia berteman dg mu” aku tiba-tiba teringat perkataan Gissy sewaktu kita bertengkar beberapa waktu lalu. Aku hanya mengingatkannya untuk tidak berganti-ganti pacar, dia malah menuduhku iri dan berkata seperti itu. Tsk! Gissy lah yang menyebalkan, bukan aku.

¤¤¤

-Universitas Seni Cheondang, Seoul-

Aku turun dari motor sport yang dikendarai Minho sambil merapikan rambutku yang terangin-angin sepanjang perjalanan menuju kampus. Aku sungguh tidak biasa menaiki motor, tapi mulai hari ini aku harus membiasakannya. Tak ada lagi mobil dan hidup mewah. Zzzzttt aku selalu berharap ini adalah mimpi buruk! Tapi ini bukan mimpi sampai aku merasakan sebuah kaleng minuman mendarat dikepalaku

“Aww”

Minho menoleh kepadaku sambil melepaskan helmnya.

“Wae?”

Aku menunjuk kearah mobil yg rupanya sumber dari mendaratnya kaleng minuman di kepalaku. Warna mobil itu sangat mencolok, warnanya kuning seperti kuning telur. Jika bicara soal mencolok, aku tau siapa pemilik mobil ini.

Pintu mobil itu terbuka ke atas, keluar lah dua orang dengan pakaian yang tidak kalah mencolok. Yang satu berpakaian tshirt tanpa lengan dan astaga bagian punggungnya pun terbuka, nampaknya laki-laki ini ingin memperlihatkan otot2nya itu. Dan yang satunya lagi berpakaian dengan model apa itu entah aku tak tahu namanya, tapi ku lihat iti sangat aneh. Lalu, laki-laki yg bertshirt tanpa lengan datang menghampiriku

“Maaf sekali aku tidak melihatmu waktu aku membuang kaleng minumanku, aku benar-benar minta maaf”

Aneh. Aku kira laki-laki seperti itu akan berlalu tanpa minta maaf, atau bahkan tidak akan menyadari bahwa dia sudah menimpuk seorang gadis. Tapi dia lain, dia membungkuk-bungkukan badan meminta maaf. Dia….. Tampan.

“YAA!! Apa kau fikir kampus ini adalah rumahmu? Bisa seenak saja membuang sampah? Kau tau pagi ini sudah 2 kesalahan yang kau buat! 1 kau membuang sampah sembarangan, 2 kau menggangguku!! Bagaimana bisa kau mengawali harimu dengan kesalahan?”

Ups, ini lah aku, tidak bisa mengontrol emosi, benar apa yg dikatakan Gissy, aku sinis dan menyebalkan. Laki-laki itu menatapku dengan tatapan bersalah, tetapi temannya..

“Ya! Kau ini gadis apa? bagaimana kau mengawali harimu dengan marah2? Sudah bagus dia mau minta maaf. Siapa kau berani berteriak seperti itu? Ayo Jjong-ah, kita pergi, tak usah kau hiraukan gadis aneh itu”

mereka berjalan meninggalkanku dan Minho. Laki-laki yg ku dengar namanya Jjong itu terus membungkuk dan meminta maaf sambil berlalu.

¤¤¤

*Author’s POV*

2 orang laki-laki tampak sibuk dengan gitar ditangannya masing-masing. Salah satu dari mereka melirik jam tangannya.

“Onew-ah, kajja. Kelasku akan dimulai 15 menit lagi”

laki-laki yang dipanggil Onew pun meletakan gitarnya,

“Yya Taemin-ah, mengapa kau tidak memilih kelas menyanyi saja, ini benar2 mengganggu waktu ku bermain gitar” ujar Onew ketus.

“Datanglah lebih pagi kalau begitu, dan tetaplah disini sampai kelasmu mulai, aku pergi dulu”

Taemin langsung beranjak meninggalkan Onew yang langsung diikuti Onew dengan langkah yang malas.

“Yya tunggu aku!”

Onew dan Taemin adalah 2 orang sahabat, tetapi mereka mengambil jurusan yang berbeda di Universitas Seni Cheondang ini. Taemin memilih jurusan menari sedangkan Onew lebih ke tarik suara. Onew adalah tipe yang pendiam, sehingga tidak banyak teman yang ia milikki. Mungkin hanya Taemin temannya, itu mengapa ia terlihat sangat keberatan jika ditinggal Taemin karena kelas menari memang mulai lebih awal daripada kelas menyanyi.

¤¤¤

Jam menunjukan pukul 13.00 KST, kelas fotografi baru saja usai. Minho pun membereskan kameranya, begitu pula dengan Ginny. Mereka berdua pun meninggalkan kelas.

“Ginny-ah, kita makan dulu, ok?” Tanya Minho diikuti anggukan dari Ginny.

Minho melajukan motornya dan berhenti tepat di sebuah kedai mie kecil dipinggiran jalan.

“Aku ingin makan ramen” ungkap Minho sambil melepas helmnya.

“Dan kata temanku ramen disini enak, tak apa kan kita makan disini?”
Lagi-lagi Ginny hanya mengangguk.

Dalam beberapa menit 2 mangkuk ramen sudah terhidang diatas meja, Minho langsung menyantapnya lahap. Sedangkan Ginny hanya memain-mainkan ramennya dengan sumpit.

“Yya Kwon Gin Yi, kenapa kau tidak makan? Apa tidak lapar?” Tanya Minho dengan mulut yg tengah mengunyah.

“Jangan panggil aku dengan nama keluarga ku, kau tau kan aku tidak punya keluarga” jawab Ginny ketus sambil memulai suapan pertama ramennya.

“Kau ini! Jangan mulai!” Tanggap Minho sambil menunjukan sumpit ke mukanya Ginny.

Tiba-tiba handphone Ginny bergetar, ada sebuah sms yang masuk
From : Gissy
“Bisakah kau lakukan sesuatu untuk kita?”

Ginny pun meletakan hp nya kembali.

“Ada apa?” Tanya Minho penasaran.

“Tidak, itu tadi Gissy”

“Oh, apa katanya?”

“Sesuatu yang tidak penting”
Minho pun sudah menyelesaikan suapan terakhir ramennya, sedangkan ramen di mangkuk Ginny masih penuh.

Minho sudah mengerti gelagat Ginny, tapi dia tidak banyak bertanya.

“Minho-ah, aku ingin bicara”

“Eh, yah, bicaralah” Tuh kan, tanpa ditanya pun Ginny akan bicara sendiri.

“Sepertinya aku dan Gissy akan mencari rumah kontrakan saja”

“Apa? Tidak tidak! Paman dan Bibi mu sudah menitipkanmu dan Gissy pada orang tua ku. Lagipula Appa dan Eomma ku tidak akan mengijinkannya”

“Aku tidak mau merepotkanmu, aku juga sudah memutuskan akan berhenti kuliah”

“Ginny-ah, apa yang sedang kau fikirkan hah? Jangan kekanak-kanakan seperti ini”

“Kekanak-kanakan? Justru aku sedang berbicara sebagai orang dewasa, aku akan mencari pekerjaan untuk menyekolahkan Gissy”

“Aku yakin Gissy tidak akan mau sekolah jika dia tau kau mengorbankan kuliahmu”

“Mengapa tidak? Daripada dia yang putus sekolah?”

“Entah mengapa fikiranmu itu sangat sempit Kwon Gin Yi, inilah yang tidak kusukai darimu, sudah ayo kita pulang” Minho beranjak dari tempat duduknya dan menarik Ginny. Tetapi Ginny menolaknya, dia malah membenamkan wajahnya ke meja.

“Aku malu Minho-ah, aku malu” Minho langsung kembali duduk, kali ini dia duduk disebelah Ginny.

Mata Ginny terlihat berkaca-kaca.

“Aku malu padamu Minho-ah, aku malu pada orang tuamu, aku malu pada diriku sendiri. Mengapa semuanya tiba-tiba seperti ini” perlahan air mata Ginny mulai membasahi pipinya, air mata itu semakin deras.

“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, memikirkannya pun aku tidak berani, tapi aku benar-benar malu jika merepotkan kalian. Kurasa Gissy pun merasakan hal yang sama” Ginny melanjutkan kalimatnya kini dengan suara yang terbata-bata.

“Kau tidak perlu malu Ginny-ah, ini semua bukan salahmu. Kau tau paman dan bibimu juga tidak meninggalkan kau dan Gissy secara cuma-cuma. Mereka menitipkan bekal yang disimpan Eomma dan Appaku, jadi kau tidak perlu merasa merepotkan. Kita sekarang tinggal serumah kau tahu, bukankah ini yang kita inginkan dari kecil? Jadi kita tetap bisa bermain bersama meski sudah larut malam sekalipun. Kau ingat?” Minho mengusap air mata Ginny sambil tersenyum.

“Kajja” tanpa berkata apa-apa Ginny langsung beranjak dari tempat duduknya mengikuti Minho meninggalkan kedai, tetapi begitu sampai di pintu kedai, Ginny menghentikan langkahnya,

“Minho-ah, pulang lah duluan, aku ingin berjalan-jalan sendiri dulu” Pinta Ginny.

“Mmm, baiklah, kalau ada apa-apa kabari aku ya” jawab Minho tanpa bertanya kenapa.

Ginny mengangguk lalu melambaikan tangan

“Hati-hati”

¤¤¤

“Jangan menungguku pulang, aku mungkin akan pulang malam sekali. Jangan beritahu Eomma. Oh iya, tidurlah dikamarmu, jangan disofa, dan berhentilah mengigau” Jonghyun baru saja mengirimkan sebuah voice note.

“Yya, mengapa kau tidak bicara langsung saja? Kalian satu kelas kan?” Komentar Key.

“Ah kau seperti tidak tahu saja bagaimana sifat Onew” jawab Jonghyun singkat.

“Aku masih tidak mengerti, kalian berdua kan bersaudara dan tinggal dirumah yang sama, tapi sama sekali aku tidak pernah melihat kalian bicara langsung”

“Hal itu seharusnya kau tanya pada Onew, jangan padaku” Jonghyun dan Key berjalan ke arah mobil ‘kuning telur’ nya Key.

“Kau yang menyetir ya” ujar Key sambil melemparkan kunci mobil kepada Jonghyun.

Hap! Jonghyun pun menangkapnya dengan tepat.

¤¤¤

“Jangan menungguku pulang? Kau menunggui Jonghyun jika pulang malam?” Komentar Taemin ketika Onew membuka sebuah voice note yang dia terima.

“Sudah ku duga kau memang peduli padanya. Ya kan? Sudahlah berdamai sajaaaa!” Taemin terus-terusan berbicara dengan nada dan mata yang mengejek.

“Aku tidak dan dia tidak bermusuhan, untuk apa pula berdamai” Onew hanya menjawab dengan dingin sambil terus berjalan ke parkiran.

“Ah terserah lah apa katamu itu, Onew-ah, bisa kah aku meminjam mobil mu untuk sore ini? Hari ini aku mau menemui pacarku, kasihan dia, keluarganya baru ditimpa musibah”

“Tanpa kau bilang keluarga gadismu sedang ditimpa musibah juga akan ku pinjamkan mobilku, tak perlu banyak berbohong Taemin-ah, kasihan malaikat sudah terlalu cape mencatat dosa-dosa dari kebohongan mu” kali ini Onew yang memegang kendali sindir-menyindir, Onew tertawa dalam hati.

Taemin memang dikenal sebagai laki-laki yang senang berganti pacar, dan meminjam mobil Onew adalah kebiasaannya.

“Bicara apa kau ini hah? Sudah, nih bawa motorku, oh iya lupa, helm nya ku tinggal di loker, ambil ya, maaf, hehe” Taemin mengambil kunci mobil ditangan Onew dan menukarnya dengan kunci motor miliknya, dan pergi berlari meninggalkan Onew.

Onew pun berjalan kembali memasuki kampus dengan langkah gontai, dia tiba-tiba berhenti dan membuka tas nya. Dia merogoh tas nya lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil. Onew menatap buku catatan itu, sejenak dia terdiam lalu melanjutkan langkahnya lagi.

¤¤¤

*Ginny’s POV*

Kau tau bagaimana rasanya jadi aku? Hidup selama 15 tahun tanpa orang tua. Kau tau rasanya? Rasanya tidak enak, sangat tidak enak. Tapi jika membandingkannya, perasaan tidak enak ini lebih terasa oleh Gissy. Dia bahkan tidak pernah diantar ke sekolah oleh Ibu dan Ayah. Tapi yah, hidup memang tidak sepenuhnya tidak adil. Kami berdua tumbuh dan hidup dengan sangat baik. Fasilitas-fasilitas yang mewah semuanya terpenuhi, setidaknya sampai kemarin malam. Kejadian kemarin malam itu merupakan sebuah kenyataan yang benar-benar ingin aku hapus dari garis takdirku, tapi itu tidak mungkin. Itu sudah terjadi, sekarang bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Apa ini karena aku bermimpi menjadi seorang penyanyi? Apa sebegitu buruknya menjadi seorang penyanyi? Sehingga memimpikannya pun bisa mengubah hidupku menjadi seperti ini? Jauh didalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku sangat suka menyanyi. Tapi memang benar, menjadi seorang penyanyi itu membawa nasib buruk. Ibuku, jika pada malam itu dia tidak melanjutkan tour concert nya, mungkin dia masih berada disini. Dan Ayah pun tidak akan meninggal dengan sebegitu mengenaskannya. Tapi, dengan menyanyi kurasakan emosiku berbaur dengan suara demi suara yang ku keluarkan..

¤¤¤

Onew berjalan sambil menenteng sebuah buku kecil. Onew hendak menuju auditorium kampus. Tempat itu terlintas begitu saja difikirannya ketika dia mengambil buku kecil dari tas nya tadi. Jika sedang tidak ada event-event khusus, biasanya auditorium itu kosong. Onew pun masuk ke auditorium lewat pintu masuk audience. Ketika Onew melangkah masuk, Onew melihat ada seseorang berdiri di tengah panggung sambil memegang sebuah mikrofon.

“Siapa itu? Sepertinya aku tidak pernah melihat dia” Onew berbicara dalam hati.

Sang gadis yang berdiri di panggung itu pun mulai bernyanyi. Dia beraccapella.

“…would you tell me i was wrong? Would you help me understand? Are you looking down upon me? Are you proud of who i am?..”

Gadis itu menghentikan nyanyiannya, dia terduduk.

Onew memandangnya lekat-lekat. Samar-samar terdengar isakan pelan. Gadis itu menangis. Onew melangkah hati-hati mendekati gadis itu, tiba-tiba gadis itu melihat Onew yang berjalan menghampirinya.

“Siapa kau?” Gadis itu bertanya dengan nada tidak ramah

“Aku? Aku Onew. Kau siapa?” Jawab Onew dengan polos.

Gadis itu tidak menjawab, dia langsung mengambil kamera beserta barang-barangnya yang dia simpan dipinggir panggung. Ketika dia berjalan meninggalkan panggung, dia tersandung dan jatuh, barang-barangnya pun jatuh berhamburan. Onew yang melihatnya pun langsung menghampirinya.

“Kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?” Tanya Onew khawatir sambil membantu gadis itu membereskan barang-barangnya, tanpa sadar buku catatan kecil yang dibawanya tadi turut terbawa oleh gadis itu.

“Aku tidak apa-apa, terima kasih” gadis itu menjawab dengan dingin dan berjalan meninggalkan auditorium.

Onew pun terduduk dipinggir panggung dan terhanyut dalam sebuah lamunan. Siapa gadis itu ya? Suaranya bagus sekali. Tapi aku tidak pernah melihatnya di kelas menyanyi. Mmmm kamera! Ya dia membawa kamera tadi, apa dia anak fotografi? Tapi mengapa dengan suara sebagus itu dia memilih fotografi? Dan mengapa dia menangis? Sepertinya wajah seperti dia bukan tipenya wanita yang suka menangis, karena apa yang harus dia tangisi dengan wajah secantik itu. Aishhhhh. Onew senyum-senyum sendiri, tanpa menyadari buku catatan kecil miliknya tadi kini terbawa oleh gadis yang bahkan Onew pun tak tau namanya.

¤¤¤

Ginny berjalan pulang, sesekali ia memotret apa saja yang dia temui di jalan. Wajah Ginny terlihat sangat tidak bersemangat, rambutnya yang hitam dan lurus itu dibiarkannya tergerai tertiup angin sore hari. Langit mulai berubah merah ketika Ginny hampir sampai ke tempat yang akan di tuju, rumah keluarga Choi, rumahnya Minho. Ya, tentu saja kalian masih ingat kan bahwa Ginny dan Gissy kini tinggal dirumah tetengga mereka.

Dari kejauhan Ginny melihat ada sebuah mobil dan dua orang -satu pria dan satu wanita- sedang berbicara satu sama lain. Ginny melangkah semakin dekat dan mulai mendapati bahwa itu adiknya, Gissy.

“Eh, eonnia-ah, baru pulang kah?” Tanya Gissy kepada Ginny.

“Ne” jawab Ginny singkat sambil menatap selidik laki-laki yang bersama adiknya itu.

“Oh iya, eonnie kenalkan ini temanku, Taemin. Oppa kenalkan ini eonnie ku, Ginny” Gissy mengenalkan laki-laki yang bersamanya itu kepada Ginny.

“Annyonghasseyo, Lee Taemin imnida” Taemin mengenalkan diri sambil membungkukan badan dan mengulurkan tangan yg langsung disambut oleh Ginny

“Kwon Ginny” jawab Ginny singkat dengan ekspresi yang dingin, Taemin pun mengangguk dan tersenyum. Ginny lalu meninggalkan mereka berdua tanpa berbicara apapun lagi.

“Oppa, mianhae, eonnie ku memang seperti itu, dia dingin, tapi sebenarnya dia baik kok” Gissy meminta maaf atas sifat kakaknya yang takut akan menyebabkan Taemin tersinggung.

“Gwenchana, yya, kalian berdua sangat mirip, cantik” Taemin mencubit gemas pipi Gissy.

“Aissssshhh, oppa, sakit” Gissy memegangi pipinya sambil tersenyum manja.

“Gissy-ah, apa kalian berdua akan aman tinggal disini? Apa keluarga mmm siapa tadi?”

“Choi”

“Ha, yah keluarga Choi, apa mereka orang baik?”

Gissy hanya mengangguk

“Gissy-ah, entah mengapa rasanya aku tidak tenang jika kau tinggal disini, kabari aku setiap saat ya, aku sangat khawatir”

Taemin memegangi pipi Gissy dengan kedua tangannya, Gissy tersenyum lalu memegangi tangan Taemin yg masih memegangi pipinya.

“Tak usah khawatir oppa, aku akan baik-baik saja”

Taemin memaksakan tersenyum dalam kekhawatirannya, dia pun memeluk Gissy dan menciumi kepalanya.

“Gissy-ah, kau tahu? Aku sangat sangat sangat mencintaimu”

“Oppa!! Kau jangan buat aku maluu” wajah Gissy memerah, dia memukul mesra pundak Taemin.

“Ini benar, berjanjilah padaku”

“Janji apa?”

“Jangan pernah meninggalkanku untuk apapun, ya?”

Gissy mengangguk, lalu Taemin mencium kening Gissy.

“Gomawo” ujar Taemin sambil melepaskan pelukannya.

“Tidak usah berterima kasih oppa, ayo pulanglah, ini sudah mau malam”

“Baiklah, aku pulang dulu oke?”

“Oke, hati-hati, telfon aku jika sudah sampai dirumah”

Taemin hanya mengangguk dan tersenyum lalu masuk ke dalam mobil dan berlalu. Gissy mengamatinya sampai mobil Taemin menghilang diujung jalan, dan dia pun masuk ke dalam.

¤¤¤

*Jonghyun’s POV*

Hoammm, ada apa dengan hari ini ya? Mengapa aku tiba-tiba malas menemui Ji Eun ya. Ah tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur berjanji akan menemuinya malam ini. Aaaaaaaa tapi aku malas sekali.

Dddrrrrttt…ddddrrrttt…

Ah tidak, pasti ini sms dari Ji Eun.

From: Lee Ji Eun
Dimana? Aku sudah disini 10 menit yang lalu, cepat lah, waktuku tak banyak.

Kan! ‘Waktuku tak banyak’ tsk, begini lah rasanya berpacaran dengan seorang artis. Selalu sembunyi-sembunyi. Yah, mau bagaimana lagi, aku tak bisa berlama-lama diam di dalam mobil sambil memeluk stir. Bintang-ku sudah menunggu. Tancap gas! Dan sampai lah aku.

Dari dalam mobil aku sudah melihat Ji Eun sedang menunggu dan melambaikan tangannya. Dia tersenyum, ya dia itu cantik sekali. Aku hampiri dia, dia langsung memeluku

“Bogoshippo.. Bogoshippo..”

“Na do” ku cium saja keningnya, aku suka sekali saat-saat seperti ini.

Ji Eun tiba-tiba melepaskan pelukannya. Dia merogoh-rogoh tas nya dan mengeluarkan handphone nya, nampaknya dia menerima telefon.

“Chakkaman” Ji Eun berjalan menjauhiku, tampaknya dia tidak ingin aku mendengar percakapannya. Gelagatnya terlihat sangat berbeda, dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Hmmm

“Aniiyaa. Aku dirumah. Aarro aroo, keureeesoo, hooo,  nanti ku telfon balik aku ingin ke kamar kecil ya, bye”

Itu lah yang kudengar dari percakapan Ji Eun dengan seseorang di telfonnya.

“Siapa?” Ku tanya saja dia

“Bukan siapa-siapa?”

“Benarkah?”

“Iyaaaaaa” dia memasang senyum yang sangat imut

“Baik lah, kemana kita sekarang?” Aku tidak mau membahas hal-hal yg tidak penting seperti ini..

“Kemana saja”

“Kita ke tempat sushi saja yuk?”

Ji Eun menyetujui usulan ku, kita pun langsung beranjak ke tempat sushi terdekat. Aku memilih duduk yang bisa langsung melihat ke arah televisi yang dipajang di tempat sushi ini, dan Ji Eun yang memesan makanan ke meja kasir.

“Penyanyi cantik Lee Ji Eun atau yang lebih dikenal dengan nama IU kepergok sedang kencan dengan salah satu member 2PM, Jang Woo Young. Netizen juga mendapatkan foto mereka tengah berciuman. Sumber mengatakan bahwa kejadian ini baru terjadi beberapa jam yang lalu, kali ini tim kami sedang mencari tahu kepada pihak IU dan Uyoung…”

Berita di televisi itu benar-benar membuat hatiku seperti dipukuli oleh 25 orang tanpa berhenti.

“Chang! Sushi nya datang” Ji Eun datang dengan senampan sushi.

“Yya, jjong-ah, kenapa kau cemberut seperti itu?”

Aku sudah tidak bisa menahan mataku untuk tidak berubah sinis. Errrrr, aku kesal sekali.

“Siapa yg tadi menelfon sebelum kita kemari?”

“Itu teman. Benar, hanya teman”

“Teman? Mengangguklah jika telfon itu dari Jang Woo Young!!” Aku sudah tidak bisa berpelan-pelan lagi, sebenarnya aku tidak biasa berteriak pada wanita, tapi aku mohon berilah pengecualian untuk kali ini, ya?

“Jjjjjaang…. Woo.. Young..”

“Iya, Jang Woo Young! 2PM’s Jang Woo Young! Dia kan yang menelfon tadi? Dia juga kan yang menciumu sebelum ini? Jujur saja lah”

“Jjong-ah, ini tak seperti yang kau kira..”

“Bukan ini yg tidak seperti yg ku kira, tapi kau, kau yg tidak seperti yg ku kira, ini akan lebih baik jika kau berkata langsung padaku jika kau berpacaran lagi dengan artis sepertimu! Miris sekali aku mengetahui ini semua dari infotainment, dan kau tau, ini sangat memalukan”

“Infotainment?” Ji Eun lalu melihat ke arah TV yang kutunjukan dengan gerakan mata.

“Sudah tidak ada, tadi iklan” kataku ketus. Entah mengapa Ji Eun jadi terlihat tidak cantik dimataku. Hhhmmm

“Ji Eunna, rasanya aku sudah tidak bisa lagi melanjutkan ini semua, kau tau berpacaran sembunyi-sembunyi itu tidak enak. Dan kau tahu kan aku menyayangimu, dan kau juga harus tahu bahwa aku sangat sakit hati. Tsk! Jang Woo Young! Jalani lah bersamanya, aku pergi.”

Aku sudah tak tahan lagi melihat Ji Eun. Aku merasa sakit hati juga kesal, juga sedih. Bagaimana pun aku menyayangi Ji Eun. Dia sudah menjadi kebiasaan bagiku.. Rasanya akan sulit untuk melupakannya..

“Jjong-ah”

Ah, please Ji Eunna jangan memanggilku, aku akan merasa berdosa jika aku tidak menoleh, tapi aku tak bisa menoleh. Maaf.

“Kim Jonghyun”

Aku percepat saja langkahku sebelum aku memutuskan untuk menoleh. Ku kemudikan mobilku dengan kecepatan yang lebih, rasanya ingin cepat2 berada di rumah. Ji Eunna, mengapa kau lakukan ini?

TBC

Otte? :p

Comment nya yaaa please, 1 comment mean so much buat aku, kamsha🙂

 

Entry filed under: Chaptered, Family, Friendship, Indonesia, IU, Romance, SHINee. Tags: .

Two Is Better Than One (Oneshot) BEHIND ( PART 2 )

2 Comments Add your own

  • 1. crazymo0od  |  April 5, 2012 at 5:26 AM

    Reblogged this on crazymo0od.

    Reply
  • 2. syifapuspitasari  |  June 9, 2012 at 9:42 PM

    well, ceritanya bagus, tapi jong sama onew kan beda marga? Kenapa ga onew sama taemin aja ? #plaak *digampar author* -_- ya karena ini fiction kali ya hihi lanjutkan xoxo

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,714 hits

Day by Day

April 2012
M T W T F S S
« Mar   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: