Last Memories [2a]

February 18, 2012 at 7:51 PM 1 comment

Ini masih nyeritain flashback di taun 2007 yah😉

Saia ga akan menuntut komen, untuk sekarang mah silahkan nikmati apa yang ada (?) LOL😄

=======================

===========

Eunhyuk mengepalkan tangannya di balik saku celana, sementara matanya menatap lurus ke arah kaca rias yang memantulkan wajah seorang gadis. Rahangnya mengeras setiap kali mendengar tawa gadis itu. 

Eunhyuk membencinya. Atas segala hal yang telah menimpa kekasihnya, Eunhyuk menjadi antipati terhadap gadis itu. Han Rae Eun, betapa mendengar namanya saja Eunhyuk sudah merasa muak.

Eunhyuk mulai membenci Rae Eun sejak Yeongmi membeberkan segala hal busuk yang pernah dilakukan gadis itu terhadap kekasihnya. Dan kebenciannya itu semakin besar ketika gadis itu bersikap sepolos mungkin setiap kali berhadapan dengannya.

Sejak tiga hari yang lalu, sejak Yeongmi memintanya untuk menjauhi Rae Eun, Eunhyuk sudah mulai menampakkan kebenciannya. Seringkali Eunhyuk mengabaikan sapaannya atau bahkan bersikap sinis setiap kali berpapasan dengannya. Tapi apa yang Eunhyuk terima? Rae Eun tetap bersikap wajar seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Baiklah, Eunhyuk memang tidak berharap Rae Eun membalas sikap acuhnya. Tapi bukankah seharusnya gadis itu bertanya tentang sikapnya yang berubah akhir-akhir ini?

Melihat Rae Eun yang bersikap tidak peduli terhadap perubahan yang terjadi dalam dirinya, membuat Eunhyuk merasa geram juga. Terdengar konyol memang. Tapi itulah fakta yang sedang dirasakannya saat ini.

“Aigo, Oppa~ mulutku sampai pegal karena tertawa terus-terusan!” Eunhyuk mendengus saat mendengar suara Rae Eun yang kembali memenuhi ruang backstage. “Aku mau ke toilet dulu ya!” Dan entah setan dari mana, kaki Eunhyuk tiba-tiba saja bergerak mengikuti langkah gadis itu dari belakang.

=O=

Rae Eun terlonjak kaget saat melihat Eunhyuk sedang berdiri di depan pintu toilet, dengan tubuh yang bersender pada tembok dan kedua tangan yang terselip di balik saku celana. Eunhyuk menatap sinis padanya seolah-olah dia itu adalah buronan yang baru saja tertangkap basah karena sudah melakukan kejahatan.

Rae Eun menelan ludahnya dengan gugup. “Apa yang sedang kau lakukan disini, Lee Hyukjae-ssi?” tanyanya, mencoba bersikap senormal mungkin dan mengabaikan debaran jantungnya yang semakin menggila.

“Memperhatikanmu.” Eunhyuk menatap Rae Eun dengan tajam. Dari sorot matanya saja, Rae Eun sudah bisa menilai kalau pria yang ada di depannya ini sedang menekan emosinya habis-habisan. Dan tentu saja, Rae Eun sudah tau alasan dibalik tatapan tajamnya itu.

“Memperhatikanku? Untuk?” Rae Eun masih tidak bergerak dari posisinya dan mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk membalas tatapan tajam Eunhyuk.

“Untuk melihat wajah aslimu.” Jawab Eunhyuk datar.

“Begitu?” Rae Eun tersenyum simpul. “Lalu, apa kau sudah bisa melihat wajah asliku, Lee Hyukjae-ssi?”

Eunhyuk memalingkan wajahnya sekilas sambil tersenyum sinis. Guratan kebencian itu terpampang jelas di wajahnya. “Menurutmu?”

Rae Eun sudah bisa memperkirakan akan kemana arah pembicaraan ini berjalan. Gadis itu pun lalu maju beberapa langkah, dan ikut menyandarkan tubuhnya di tembok. Posisinya sekarang berhadap-hadapan dengan Eunhyuk. Tangannya bersedekap di atas dada dengan mata yang tetap terarah ke depan, menatap Eunhyuk. “Apa yang sebenarnya ingin kau katakan Lee Hyukjae-ssi? Tidak perlu berbeli-belit seperti ini.”

Eunhyuk kembali memperlihatkan senyum sinisnya. “Kau cukup peka juga rupanya. Baiklah, aku akan langsung ke intinya.” Eunhyuk berhenti sejenak, lalu melanjutkan. “Berhentilah memakai topeng gadis polos untuk mendapatkan perhatian orang lain. Perlihatkanlah wajah aslimu yang sebenarnya. Apa kau bisa?”

“Apa yang sudah Yeongmi katakan padamu?”

Eunhyuk diam. Kaget dan bingung terpancar jelas di wajahnya. Bagaimana mungkin gadis di depannya ini bisa berkata se-frontal itu?

“Apakah Yeongmi mengatakan kalau aku akan merebutmu darinya?”

Eunhyuk tetap diam.

“Apakah Yeongmi memintamu untuk menjauhiku? Dan itulah kenapa kau bersikap sinis padaku akhir-akhir ini?”

Eunhyuk tidak mengerti. Kenapa mulutnya tiba-tiba saja terkunci rapat?

“Apakah Hyeo Yeongmi mengatakan kalau ayahnya jauh lebih menyayangiku dibanding dirinya? Apakah gadis itu mengatakan kalau aku sudah merebut kekasihnya?”

Eunhyuk merasa lemas untuk alasan yang tidak jelas. Bagaimana caranya gadis itu tau semuanya?

“Kenapa kau diam, Lee Hyukjae-ssi?” Rae Eun merasakan jantungnya berdebar semakin cepat. Ketegangan dan emosi yang menggebu bercampur jadi satu. “Apakah pertanyaanku sangat sulit untuk dijawab?”

“Han Rae Eun….”

“Apa? Kau ingin mengatakan apa lagi?” Rae Eun menegakkan tubuhnya.

“Memang benar bahwa aku sudah memisahkan dia dengan kekasihnya. Tapi itu bukan tanpa alasan. Memang benar bahwa ayahnya jauh lebih menyayangiku dibanding dirinya. Tapi itu pun terjadi bukan tanpa alasan. Memang benar juga bahwa aku ingin merebutmu darinya. Tapi itu karena sebuah alasan.”

Rae Eun menarik napas sesaat. “Lee Hyukjae-ssi, terkadang kau tidak membutuhkan mata untuk bisa melihat wajah asli seseorang. Pergunakanlah hatimu. Maka kau akan tau, seperti apa wajahku yang sebenarnya.” Rae Eun segera pergi setelah mengucapkan kalimat itu. Setetes air mata jatuh disusul oleh tetesan yang lainnya membuat kedua pipi gadis itu menjadi basah. Tapi Rae Eun membiarkannya dan terus berjalan. Rae Eun tidak ingin Eunhyuk mengetahui kalau saat ini dia sedang menangis karena sikap acuhnya. Tidak. Rae Eun tidak suka memperlihatkan kelemahannya yang satu ini.

=O=

Rae Eun menelungkupkan wajahnya di antara dua lutut. Tubuhnya bergetar menahan isakan tangis. Kedua tangannya meremas lututnya kuat-kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih. Air matanya semakin deras melewati apa saja yang ada di depannya. Sesak. Perih. Hanya itu yang Rae Eun rasakan saat ini.

Selama tiga hari terakhir, Rae Eun tidak pernah melewatkan satu malam pun tanpa menangis. Sepanjang hari dari pagi hingga malam, dia mampu ceria dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Tapi saat berada di penghujung malam, Rae Eun kembali menjadi dirinya sendiri. Menangis.

Ya. Menangis adalah saat-saat dimana dia menjadi diri sendiri. Menangis adalah bukti kelemahannya yang hanya dia sendiri yang tau. Rae Eun memang paling benci memperlihatkan kelemahannya di depan orang-orang. Dia pun paling benci dianggap lemah oleh orang-orang. Itulah sebabnya, Rae Eun hanya mampu menjadi diri sendiri di saat orang-orang sudah terlelap dalam tidurnya.

Setelah puas meluapkan emosinya dengan menangis, Rae Eun mengangkat kepalanya. Dihapusnya jejak-jejak air mata yang masih menempel di kulit pipinya itu hingga kering. Dan seperti biasanya, Rae Eun mengambil sebuah pin berbentuk stroberi yang terletak di dalam dompetnya. Gadis itu tersenyum memperhatikan pin stroberri yang tergenggam di tangannya dengan dada yang terasa semakin sesak. “Kapan pemilikmu akan mengenaliku, eh?” gumamnya pelan.

Rae Eun kembali menelungkupkan wajahnya, dengan tangan yang masih menggenggam pin stroberi. “Lee Hyukjae pembohong! Kau bilang kau akan mengenaliku kalau aku menghampirimu. Mana buktinya? Kenapa kau tidak juga mengenaliku? Kenapa kau malah bersikap acuh kepadaku? Kenapa?” Rae Eun kembali terisak. Jantungnya serasa di remas-remas hingga membuatnya kesulitan bernafas.

Rae Eun kembali mengingat-ngingat pertemuan pertamanya dengan Eunhyuk delapan tahun silam. Air matanya kembali mengalir setiap kali potongan kejadian itu diputar ulang oleh otaknya.

Saat itu, di tahun 1999. Rae Eun bertemu dengan Eunhyuk di pinggiran sungai Han. Keadaan Rae Eun pada saat itu tidak begitu baik. Orang tuanya baru saja memutuskan untuk bercerai karena alasan yang tidak dia mengerti. Tentu saja karena pada saat itu usianya masih terlalu kecil untuk memahami arti dari sebuah perceraian. Saat itu dia masih berumur sebelas tahun dan yang dia tau dari kata ‘bercerai’ hanyalah bahwa dia sudah tidak bisa bersama-sama lagi dengan ayah dan ibunya.

Rae Eun sedih dan benar-benar terpukul. Dia tidak sanggup membayangkan, apa yang akan terjadi jika ayah dan ibunya tidak lagi bersama? Hatinya hancur. Tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Satu-satunya hal yang dia pikirkan pada saat itu hanyalah melarikan diri dari rumah. Dan sungai Han adalah satu-satunya tempat yang ada dipikirannya.

Pada saat yang bersamaan, ternyata Eunhyuk pun mendatangi sungai Han dalam kondisi yang tidak baik. Sedih, kecewa, putus asa. Itulah yang dia rasakan pada saat itu.

Eunhyuk gagal masuk audisi SM sementara sahabatnya sedari kecil, Junsu berhasil. Kenyataan seperti itu cukup membuatnya terpukul. Menjadi artis adalah salah satu impiannya dari kecil. Dia sudah menaruh harapan yang begitu besar pada audisi tersebut. Tapi sebuah kegagalan membuat harapannya musnah seketika.

Eunhyuk yang tertekan akhirnya memutuskan untuk meluapkan emosinya di sungai Han. Dan saat itulah dia bertemu dengan Han Rae Eun.

Pertemuan pertama mereka bisa di bilang cukup aneh.  Dua orang yang tertekan bertemu untuk tujuan yang sama. Bunuh diri.

Rae Eun selalu ingin tertawa setiap kali mengingat kejadian itu. Mereka bahkan sempat saling mendorong dan memberikan semangat agar berani melompat ke sungai Han yang dikenal cukup dalam. Tapi satu jam berlalu, dan yang terjadi adalah Eunhyuk dan Rae Eun yang berdiri di pinggir sungai dengan wajah ketakutan. Lama mereka terdiam disana hingga sebuah guyuran hujan yang turun dengan deras membuat keduanya akhirnya membatalkan niat bunuh diri itu.

Saat itu entah bagaimana caranya, Rae Eun dan Eunhyuk tiba-tiba saja sudah merasa dekat. Mereka berdua saling bercerita mengenai alasan kenapa ingin bunuh diri. Mereka menangis bersama setelah puas mencurahkan isi hati masing-masing. Dan di saat itulah mereka saling menguatkan. Kalau di awal mereka saling menguatkan untuk menumbuhkan keberanian bunuh diri. Maka kali ini, mereka saling menguatkan untuk berani menjalani hidup dan terus melakukan yang terbaik agar kehidupan mereka tidak sia-sia.

Eunhyuk dan Rae Eun pun saling menghibur diri mereka dengan memakan es krim dan berfoto bersama di sebuah foto box yang ada di pinggir toko. Saat itu mereka bersenang-senang dan berusaha melupakan kesedihan mereka untuk sesaat. Kebersamaan yang mereka lewati benar-benar sangat indah.

Hingga malam tiba, Rae Eun dan Eunhyuk akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Mereka berdua saling berjanji satu sama lain, bahwa mereka akan hidup dengan baik dan tidak akan pernah melakukan aksi nekat dengan melakukan percobaan bunuh diri lagi.

Rae Eun semakin terisak saat mengingat kembali kejadian itu.

Tangisannya semakin pecah begitu Rae Eun menyadari kebodohan yang telah dilakukannya saat itu. Saat dia dengan bersikukuhnya tidak ingin memberi tahu nama aslinya kepada Eunhyuk. Rae Eun tidak tau apa alasannya. Yang jelas, dari dulu dia memang tidak senang memberitahukan nama aslinya pada orang yang baru dikenal. Rae Eun hanya bisa tersenyum miris dibalik tangisannya atas keputusan yang dilakukannya saat itu. Karena tindakan bodohnya itulah Eunhyuk sekarang malah mengenali orang yang salah. Menganggap Yeongmi sebagai gadis yang dikenalnya delapan tahun yang lalu.

Rae Eun masih ingat dengan jelas bagaimana ekspresi kesal Eunhyuk pada saat itu karena dia tidak mau memberi tau nama aslinya. Rae Eun hanya bilang, “Ingatlah sungai Han, maka kau pasti akan selalu bisa mengenaliku.”

Rae Eun mengucapkan itu sebagai sebuah tanda bahwa nama dirinya berkaitan erat dengan sungai Han. Bahwa namanya, berawalan Han. Tapi sayangnya, Eunhyuk tidak memahami tanda yang diberikannya itu.

Saat itu, Eunhyuk berjanji akan mengikuti audisi SM di tahun depan. Dia juga berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa dia pasti akan lolos dan menjadi artis yang terkenal. “Saat aku sudah sukses menjadi artis, temuilah aku. o’ ?” Rae Eun tertawa saat mendengar permintaan konyol Eunhyuk. “Bagaimana kita bisa saling mengenal? Saat itu, wajah kita pasti sudah berbeda jauh.” Mendengar perkataan Rae Eun yang terkesan polos, Eunhyuk hanya tersenyum. Rae Eun masih ingat dengan jelas senyuman Eunhyuk pada saat itu. Senyuman gusi yang membuat wajahnya terlihat semakin tampan. Senyum yang dia kukuhkan sebagai satu-satunya senyum favoritnya.

Eunhyuk menyerahkan hasil foto box dan sebuah gantungan kunci pada Rae Eun lalu berkata, “Tunjukkanlah dua benda ini, maka aku pasti akan mengenalimu. Tapi aku yakin, tanpa kau menunjukkan itu pun aku pasti bisa mengenalimu.” Eunhyuk menangkupkan kedua tangannya pada wajah Rae Eun. “Wajahmu, sudah kupotret oleh kedua mataku dan akan selalu kusimpan di otakku. Jadi seperti apapun wajahmu kelak, aku pasti akan mengenalimu.”

Dengan bodohnya, Rae Eun mempercayai kata-kata Eunhyuk itu.

Benar. Dia bodoh. Sangat Bodoh.

Kenapa dia harus mempercayai Eunhyuk?

Dan kenapa dia harus menepati janjinya dengan menemui laki-laki itu jika pada akhirnya hanya kekecewaan dan rasa sakit yang dia dapatkan?

=O=

Eunhyuk menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sementara kakinya terus berjalan mondar-mandir tidak sabar. Menunggu di luar ruangan dengan cuaca musim dingin seperti ini memang bukan pilihan yang tepat. Tapi apa boleh buat, Eunhyuk tidak punya pilihan lain. Rasa penasaran telah membuatnya mendadak kebal terhadap cuaca dingin. Sesekali Eunhyuk melirik ke arah jam tangannya, lalu beralih ke arah gedung asrama SM. Nafasnya menghembuskan kekesalan setiap kali usahanya itu tidak memunculkan wajah seseorang yang ditunggunya. Eunhyuk hampir saja akan menyerah dengan kembali ke dorm-nya saat suara seorang Yeoja menghentikan langkahnya. “OPPA!” Eunhyuk berbalik ke belakang.

“Mianhe. Apa kau sudah menunggu lama?” Yeongmi berlari-lari kecil menghampiri Eunhyuk dengan raut wajah menyesal.

Eunhyuk tersenyum. Kekesalannya langsung menguap begitu melihat wajah Yeongmi. “Gwenchana. Kenapa lama sekali? Aku hampir membeku karena menunggumu disini selama hampir satu jam, kau tau?” Eunhyuk mengulurkan tangan kanannya untuk merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah kekasihnya itu.

Yeongmi memasang tampang aegyo lalu bergelayut manja di lengan Eunhyuk. “Mianheee~ tadi aku harus menunggu Jungri eonni tidur dulu baru bisa keluar. Oppa tau sendiri kan kalau aturan asrama untuk para trainee sangat ketat belakangan ini?”

“Ne. Ne. Ne. Arraseoyo! Kita ke cafe sekarang?” Eunhyuk mengarahkan tangannya ke depan menunggu uluran tangan Yeongmi untuk menggenggam tangannya. Tidak butuh waktu lama, Yeongmi segera menyambut tangan Eunhyuk lalu mereka berdua pun langsung melesat ke arah cafe yang terletak di dekat asrama SM. Eunhyuk dan Yeongmi segera memesan secangkir coklat hangat dan sandwich daging asap untuk menghangatkan tubuh mereka yang mulai menggigil karena terpaan angin malam yang cukup menusuk.

“Jadi oppa, apa yang ingin kau tanyakan padaku sampai bela-bela datang kesini tengah malam?” Yeongmi mulai membuka percakapan.

“Tadi siang aku bertemu dengan Rae Eun.” Eunhyuk melihat Yeongmi mengernyit seolah-olah berkata ‘memang tiap hari kau bertemu dengannya kan?’ Tapi Eunhyuk mengabaikan kebingungan Yeongmi lalu kembali melanjutkan. “Sesuai permintaanmu, sejak hari itu aku selalu menjauhi gadis itu. Tapi tadi siang, entah kenapa aku merasa penasaran padanya. Maksudku, kenapa selama aku mengacuhkannya dia malah bersikap biasa-biasa saja tanpa keheranan ataupun protes atas sikap burukku. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia masih tetap bersikap baik padaku seolah-olah aku tidak pernah bersikap sinis padanya.” Eunhyuk menghela napas sejenak, lalu kembali melanjutkan, “Aku datang menghampirinya untuk mengetes apa yang ada di otaknya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Tadi siang, malah aku yang dites habis-habisan sampai dibuat terkejut olehnya. Entahlah Yeongie-ah, ucapan yang dikatakannya siang ini malah membuatku merasa bersalah padanya.” Eunhyuk mengusap wajahnya pelan diliputi oleh kebingungan yang sangat.

“Jangan terperdaya olehnya oppa.” Eunhyuk segera mengangkat wajahnya menatap Yeongmi. “Jangan terperdaya olehnya.” Ulang Yeongmi dengan tegas.

Yeongmi menyesap coklat panasnya sedikit, lalu kembali berkata “Han Rae Eun, adalah gadis yang penuh tipu daya. Seperti yang pernah kukatakan padamu, kalau dia selalu memiliki cara untuk membuat mangsanya merasa tertarik padanya. Akalnya licik oppa. Mungkin kelak kau akan menemukan dirinya yang bertingkah mirip dengan sikapku di masa lalu. Atau bisa jadi, suatu saat dia malah mengaku-ngaku kalau orang yang kau temui delapan tahun yang lalu itu adalah dia, bukan aku. Segalanya bisa menjadi mungkin kalau Han Rae Eun yang melakukannya. Karena seperti yang pernah kukatakan padamu berulang kali, dia itu tamak dan licik.” Yeongmi meraih kedua telapak tangan Eunhyuk yang terasa dingin di tangannya, lalu tersenyum. “Jangan terperdaya pada tipu muslihatnya oppa. Yang harus kau lakukan hanyalah menatapku dan teruslah mempercayaiku. o’ ? Tidak perlu merasa bersalah padanya karena itu hanya akan membuatmu semakin terjebak dalam rencana busuknya. Tutuplah telinga dan matamu. Jangan biarkan kedua akses itu membuatmu goyah karena gadis itu. Kau… bisa melakukannya kan, oppa?” Yeongmi menatap kedua mata Eunhyuk dan menguncinya dengan kedua matanya. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Eunhyuk hingga sebuah anggukan dari laki-laki itu membuat Yeongmi menghembuskan napas yang secara tidak sadar telah ditahannya dari tadi.

“Arrasseo. ” Eunhyuk bergumam dengan nada yang sulit untuk dipahami bahkan untuk dirinya sendiri.

=O=

Seunghwan masuk ke kamar Rae Eun, lalu menutup pintunya rapat. Matanya menatap ke arah gadis yang sedang meringkuk di atas kasurnya dengan tangan yang memain-mainkan sebuah pin berbentuk stroberri. Seunghwan menarik napas berat. “Mau sampai kapan kau bermalas-malasan seperti ini, gadis Han ku sayang? Disini jabatanmu adalah sebagai asisten Super Junior. Bukan Han Rae Eun si anak manja. O’ ?”

Rae Eun diam.

Gadis itu terlihat tidak berminat menjawab ucapan Seunghwan apalagi hanya untuk sekedar membalikkan badannya menatap Seunghwan. Tangannya tetap asik memainkan pin stroberri seolah-olah hanya ada dia dan pin tersebut yang mengisi ruangan ini.

Seunghwan mendesah. “Han Rae Eun….” geramnya pelan tapi sarat akan emosi.

Rae Eun masih bergeming.

“Yaaa!” Seunghwan membalikkan tubuh keponakannya itu dengan kasar dan langsung tersentak begitu melihat wajah Rae Eun yang pucat. “Astaga! Kau sakit?”

Rae Eun menggeleng masih dengan mulut yang terkunci rapat. “Badanmu demam! Astaga. eotthokke? Kita ke dokter ya? sekarang kita ke dokter.”

Rae Eun masih menggeleng. “Gwenchana Ajjjuhssi. Aku hanya butuh sendirian sebentar”

“Han Rae Eun! Kau tau dengan jelas, sakit sedikit saja bisa berakibat fa—-”

“Aku tahu” potong Rae Eun cepat. “Tapi aku akan baik-baik saja.” Lanjutnya

“Kau bukan dokter!” Tukas Seunghwan -tidak mampu menyembunyikan nada emosi dalam suaranya-

“Tapi aku yang memiliki tubuh ini. Dokter sehebat apapun tidak akan pernah bisa memahami tubuhku sebaik diriku sendiri.” Rae Eun menatap Seunghwan tajam. “Hanya aku yang tau apa yang tubuhku butuhkan.”

“Rae-ya..” Nada seunghwan mulai melunak kali ini. “Maksudku bukan begitu.”

“Aku lelah Ajjuhssi. Aku hanya ingin dianggap sehat. Setidaknya untuk saat ini aku masih sehat. Jadi kumohon biarkanlah aku menikmati tubuh ini selagi bisa. Biarkan aku mengontrol tubuhku sendiri selagi tubuhku baik-baik saja.”

“Rae-ya” Seunghwan mengulurkan tangannya mengusap puncak kepala keponakannya dengan lembut. “Mianhe.”

Rae Eun menggeleng untuk yang kesekian kalinya. “Tidak perlu meminta maaf  Ajjuhssi. Aku mengerti kalau sifatmu itu memang seperti nenek-nenek kekurangan gigi palsu. Cepat panik dan gegabah Hehehe”

“Ish, kau ini.” Seunghwan menyentil dahi Rae Eun pelan. “Yaaa! aku ini sedang sakit ajjuhssi~~” Rae Eun meringis, tapi Seunghwan malah tertawa menyepelekan. “Aigo.. Aigo.. baru beberapa detik yang lalu kau bilang sehat, dan sekarang mengaku sakit. Berisi apa otakmu itu gadis Han?” Seunghwan menyindir.

“Otakku berisi kegalauan. Puas?” Rae Eun duduk dengan menyandarkan punggungnya pada bahu ranjang.

“Kau ini. Jadi karena galau makanya tubuhmu demam? Tidak keren sekali~”

Rae Eun merengut. Mulutnya maju beberapa senti membuat Seunghwan mau tidak mau tertawa juga. “Apa yang membuatmu galau? LHJ?” tanya Seunghwan akhirnya. Dan menyingkat nama Lee Hyukjae menjadi LHJ adalah salah satu kebiasaan Seunghwan kalau sudah melihat keponakannya ini terlihat menyedihkan -ya, seperti sekarang-

“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang diucapkan Yeongmi sampai membuat si bocah LHJ bodoh itu menjauhiku dan bersikap sinis habis-habisan.” Rae Eun memeluk bantalnya lalu menyimpan kepalanya disana dengan arah menyamping, menatap Seunghwan. “Padahal malam itu dia sangat baik padaku. Setidaknya, dia masih mau memperlihatkan senyumannya di depanku. Tapi kenapa sekarang malah seperti ini?” Rae Eun meniup poninya sebal.

“Malam itu? Malam yang mana?” Seunghwan bertanya tidak mengerti.

“Malam pertama—“

“Mwoyaa? K—kau.. Kau melakukan malam pertama? Dengannya?”

Rae Eun memutar bola matanya dan langsung melemparkan bantal yang tadi dipeluknya itu ke arah kepala Seunghwan. “Dasar pria tua bodoh! Bukan malam pertama yang itu. Kau pikir aku gila hah?”

“Siapa yang pria tua? Dan asal kau tau saja gadis Han yang terhormat, kata ‘malam pertama’ selalu memiliki subjek yang negatif. Jadi jangan mengucapkan kata itu kalau kau tidak ingin aku berpikiran negatif!”

Rae Eun melengos. “Itu kan karena otakmu saja yang sudah berisi hal-hal negatif. Dasar! Kau boleh berpikir begitu kalau aku sudah menikah. Barulah malam pertama yang kumaksud akan sama dengan apa yang ada di pikiranmu!”

Seunghwan tertawa. Melihat keponakannya sudah bisa marah-marah membuatnya menghembuskan nafas lega. “Baiklah, baiklah.. Aku kalah.” Seunghwan mengangkat dua tangannya sambil tetap tertawa. “Jadi, apa yang kau lakukan di malam pertama?” Tanyanya dengan nada menggoda.

Rae Eun menghembuskan napas berat. Tapi tidak berapa lama, dia kembali memasang wajah ceria. “Kami makan bersama. Kau tau, dia ternyata cukup pandai membuat spagetthi.” Rae Eun kembali menyandarkan punggungnya lalu melanjutkan, “Malam itu benar-benar menyenangkan. Aku seperti melihatnya dalam wujud delapan tahun yang lalu.”Rae Eun kembali menatap Seunghwan dengan mata berbinar. “Aku yakin kau pasti akan terkejut. Malam itu, kami bahkan makan spagetthi sepiring berdua.”

Sesuai dugaan Rae Eun, Seunghwan membulatkan matanya tidak percaya. “Wow? Sejauh pengamatanku, bukankah dia paling tidak suka berbagi makanan dengan orang lain? Dan kau bisa makan sepiring berdua dengannya? Menakjubkan! Bahkan Yeongmi sekalipun belum pernah melakukan itu dengannya.”

“Benarkah Yeongmi tidak pernah melakukan itu?Jangan sok tau, Ajjuhsi~”

Seunghwan mendecak. “Aku ini manajernya gadis Han sayang, tentu saja aku tau karena dia yang mengatakannya padaku. Saat itu Shindong mau mengambil makanan yang ada di piringnya, tapi dia tidak mengijinkannya sedikitpun. Lalu Donghae pernah memaksa mengambil makanan yang ada di piringnya, dan yang terjadi adalah dia marah dan tidak mau menghabiskan makanannya.”

Rae Eun mengernyit tidak mengerti. “Kenapa bisa begitu?”

“Dia bilang, dia tidak suka membagi apa yang telah menjadi miliknya. Termasuk dalam hal makanan. Dan yah, dia bahkan berkata kalau seorang Hyeo Yeongmi sekalipun tidak pernah dia ijinkan mengambil makanan yang ada di piringnya.” Seunghwan lalu tersenyum penuh arti. “Itu artinya kau gadis pertama yang sudah berbagi makanan dengannya. Bukankah itu menakjubkan? Ahahah~”

Rae Eun akui, ada perasaan bahagia yang menyelimuti hatinya saat mendengar penjelasan Seunghwan barusan. Tapi itu hanya terjadi beberapa detik saja karena setelah itu Rae Eun kembali merengut. “Tapi sekarang keadaannya berbeda Ajjuhssi. Kurasa dia sudah terpengaruh ucapan Yeongmi dan benar-benar membenciku.”

“Dan kau ingin menyerah?”

Rae Eun membulatkan matanya dan langsung berseru,”Tentu saja tidak!”Gadis itu kembali menghela napas berat. “Aku hanya menjadi tidak percaya diri. Terlebih saat melihatnya kemarin. Matanya benar-benar menyiratkan kebencian yang sangat padaku. Kemarin aku memang masih bisa bertahan. Tapi hari ini dan hari-hari selanjutnya aku merasa tidak yakin.”

“Dan kau ingin menyerah?”

“Ajjuhssi!!” Rae Eun memberengut kesal sementara Seunghwan hanya terkekeh pelan. Rasanya cukup menyenangkan bisa membuat Rae Eun memasang tampang kekanakkan seperti itu.

Seunghwan mengacak-ngacak rambut Rae Eun pelan. “Satu hal yang harus kau garis bawahi, jangan pernah terlalu banyak mengharapkan sesuatu yang belum pasti. Lakukanlah apa yang bisa kau lakukan dan jangan pedulikan hasil. Bukankah tujuanmu kesini hanya karena tidak ingin mengenal kata ‘menyesal’  ?”

Rae Eun mengangguk. “Kalau begitu jangan pedulikan sikap LHJ-mu itu. Kau tetaplah fokus dengan langkahmu. Dan Rae-ya, saat kau mencintai seseorang, cintailah ia dengan tulus tanpa mengharapkan timbal balik. Dengan begitu hatimu tidak akan merasa terlalu sakit saat cintamu tidak berbalas.”

“Itukah yang kau lakukan pada Yeongmi?”

Seunghwan tersenyum tapi tidak menjawab apapun. Pria itu lalu berdiri dan menepuk-nepuk pundak keponakannya pelan. “Istirahatlah. Aku harus pergi sekarang. Nanti aku akan menyuruh wokkie untuk mengirimkan makanan untukmu.”

Selesai mengucapkan kalimat itu, Seunghwan langsung keluar kamar dan mengabaikan dengusan kecil Rae Eun.

Rae Eun kembali merebahkan badannya selepas kepergian Seunghwan. Tangannya menyentuh kening untuk memastikan kalau demamnya tidak semakin parah. Dan hembusan napas lega langsung keluar dari mulutnya begitu Rae Eun merasakan keningnya yang mulai menghangat. Tidak sepanas tadi pagi.

Rae Eun membalikkan tubuhnya ke samping menghadap tembok. Melihat pin berbentuk stroberri yang terletak di samping bantalnya membuat Rae Eun mau tidak mau kembali membayangkan wajah Eunhyuk. Dan otaknya kembali menerka-nerka apa yang saat ini ada di bayangan Eunhyuk tentang dirinya. Apa yang sudah Yeongmi katakan sampai laki-laki itu bisa langsung berubah seratus delapan puluh derajat hanya dalam waktu yang singkat.

Rae Eun yakin, kalau apa yang terjadi saat ini bukan sepenuhnya keinginan Eunhyuk. Perkara Eunhyuk tidak mengenalinya dan bersikap acuh padanya belakangan ini, tentu saja karena peran serta seseorang. Hyeo Yeongmi.

Adik tirinya itulah yang memiliki peran penting di balik sikap sinis Eunhyuk.

Rae Eun menarik napas berat. Gadis itu sama sekali tidak menyangka kalau kesalahan yang pernah dilakukannya di masa lalu dapat berakibat fatal seperti sekarang ini.

Dulu hubungan Rae Eun dan Yeongmi sangat baik. Mereka berdua saling menyayangi dan mendukung satu sama lain layaknya saudara kandung. Mereka jarang sekali bertengkar. Bahkan kalaupun ada kesalahpahaman, pasti tidak akan bertahan lama karena keduanya akan saling memaafkan satu sama lain.

Tapi itu dulu.

Semuanya mulai berubah saat Yeongmi menginjak usia remaja dan tertarik dengan lawan jenis. Rae Eun tidak pernah mempermasalahkan seandainya laki-laki yang disukai Yeongmi adalah laki-laki yang baik. Gadis itu bahkan akan ikut senang jika melihat adiknya senang.

Namun sayangnya, kenyataan saat itu selalu berbanding terbalik dengan harapan Rae Eun.

Yeongmi, selalu memilih laki-laki yang salah. Setidaknya begitulah yang tertangkap mata Rae Eun. Penilaian itu tentu saja terjadi bukan tanpa alasan. Rae Eun seringkali melihat laki-laki yang menjadi pacar Yeongmi adalah laki-laki brengsek yang hanya memanfaatkan kekayaan ayah Yeongmi. Tidak jarang juga Rae Eun memergoki Yeongmi berbohong pada ayahnya demi mendapatkan uang untuk membelikan pacarnya barang mewah.

Saat itu Rae Eun geram tapi tidak bisa berbuat apa-apa setiap kali melihat raut wajah bahagia Yeongmi. Yang bisa gadis itu lakukan hanyalah memperhatikan Yeongmi diam-diam dan mengawasi pacar adik tirinya itu tanpa sepengetahuan Yeongmi.

Saat Rae Eun merasa pacar Yeongmi sudah melakukan hal yang kelewat batas, seperti menyelingkuhi Yeongmi dengan gadis lain atau memanfaatkan materi adiknya dengan berlebihan, maka saat itu jugalah Rae Eun akan langsung merebut pacar Yeongmi dan berbalik mempermainkan laki-laki yang sudah mempermainkan adik tirinya tersebut dengan cara yang tidak kalah licik.

Yeongmi marah, tentu saja. Tapi Rae Eun sudah tidak lagi peduli dengan kemarahan Yeongmi. Yang ada di pikiran Rae Eun saat itu hanyalah bagaimana caranya menjauhkan Yeongmi dari semua laki-laki yang memiliki potensi membuat adiknya terluka. Rae Eun memang sangat protektif saat itu. Rasa sayang yang berlebih membuat Rae Eun tidak rela jika harus melihat Yeongmi terluka karena laki-laki brengsek yang tidak pantas mendapatkan kasih sayang adiknya.

Selama Rae Eun menjauhkan laki-laki brengsek dari jangkauan Yeongmi, selama itu pula kebencian Yeongmi terhadap dirinya semakin bertambah besar. Pada saat itu Rae Eun memang tidak pernah memberikan penjelasan apapun kepada Yeongmi mengenai alasan dibalik sikap protektifnya itu. Rae Eun pun selalu membiarkan anggapan Yeongmi yang men cap-nya sebagai gadis perebut kekasih orang lain. Rae Eun diam karena dia tidak ingin membuat adiknya terluka jika mengetahui orang yang disayanginya ternyata tidak sebaik yang ia lihat. Rae Eun diam karena dia tidak sanggup kalau harus membeberkan kebusukan yang dimiliki laki-laki yang disayangi adiknya itu.

Bagi Han Rae Eun, lebih baik dia dibenci Yeongmi daripada harus melihat adik satu-satunya itu dipermainkan oleh pria lain.

Rae Eun lebih memilih dibenci Yeongmi daripada harus melihat adik satu-satunya itu dimanfaatkan oleh pria lain.

Bodohkah ia? Tentu saja. Rae Eun juga sadar akan hal itu. Tapi sayangnya, Rae Eun jauh lebih memilih menjadi orang bodoh selama Hyeo Yeongmi –adik satu-satunya itu- bisa terhindar dari orang-orang yang akan menyakitinya.

Rae Eun menatap langit-langit kamarnya dengan mata yang kembali sembab. Mengingat masa lalunya membuat dia merasa menyesal. Seandainya dia bisa mengelola perasaan sayangnya saat itu, mungkin Yeongmi tidak akan membencinya sampai sebesar ini. Mungkin, kejadian itu tidak akan terjadi. Dan mungkin, dia bisa mengakui jati dirinya kepada Eunhyuk dengan lebih mudah.

Mungkin….

Kemungkinan apa lagi yang bisa didapatnya?

Rae Eun menarik napas panjang. Kemungkinan-kemungkinan yang berkelebat di otaknya saat ini malah membuat dadanya semakin sesak.

===TBC===

Entry filed under: Angst, FanFiction, Indonesia, Romance, Sad Romance, Super Junior, Two Shoot. Tags: .

(FF Chapter) Harfie Your Smile (Part 8)

1 Comment Add your own

  • 1. Jae Rha  |  January 18, 2016 at 10:13 PM

    Apa Rae Eun punya penyakit parah?
    Ternyata begitu alasan knapa Rae Eun merebut pacar Yeongmi, adudu semoga Eunhyuk sadar yah mana cewe yg dulu di temuinya itu.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,714 hits

Day by Day

February 2012
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: