[JUARA 3] My New Year

January 6, 2012 at 1:20 PM Leave a comment

Author : Rifka Annisa / QuinAegyoMin

Main Cast :

– Kim Jonghyun

– Park Ji Eun

Genre : Sad, Romance

Rating : General

Lenght : 3.013 Words

 

***

‘Pesawat Korea Airlines akan mendarat di Bandara Incheon 30 menit lagi. Mohon bagi penumpang untuk menggunakan sabuk yang sudah tersedia demi keamanan dan keselamatan. Terima kasih.’ kata seorang pramugari yang berdiri di sudut. Kemudian dia memberikan instruksi selanjutnya.

Aku pun segera mengikuti instruksi pramugari itu. Sesekali aku melirik ke arah pramugari yang berdiri di depan itu. ‘Wajahnya mirip dengan Ji Eun’ pikir ku.

Sesekali pramugari itu tersenyum pada penumpang, namun sesekali juga dia terlihat serius ketika menjelaskan kembali instruksi darinya tadi kepada penumpang.
Aku pun dibuat senyum karenanya, karena dia mirip dengan Ji Eun.

Akhirnya pesawat mendarat juga di Bandara Incheon. Setelah mengambil semua barang-barangku aku langsung menghubungi eomma.

“eomma. Aku sudah sampai. Ya, di kedatangan luar negeri. Oke.” aku memutus telepon dengan eomma, lalu segera membawa barang-barang ku menuju tempat tunggu. dengan sabar aku menunggu eomma menjemputku. Tak sabar aku ingin pulang, menepati janjiku pada yeojachinguku. Ingin aku memeluknya, membelainya dan melakukan hal lebih banyak dengannya.

Senyumku merekah ketika kudapati seorang ibu bersama anaknya sedang mencari seseorang.

“eomma! Noona!!” Teriak ku sambil melambaikan tangan ke arah mereka berdua.

“Jonghyun-ah! Anakku!” teriak eomma. Mereka menghambur ke arahku, lalu memelukku.
“kau semakin tampan.” puji eomma. Aku hanya tersenyum simpul.

Kemudian noona mengajakku masuk ke mobil. Noona meminta ku untuk menyetir sampai rumah. Dengan terpaksa aku pun mau.
“kenapa jalan nya kering? Apa belum turun salju?” tanya ku sambil tetap menatap lurus ke arah jalanan Korea ini.

“entahlah, mungkin akan turun terlambat.” kata noona. Semoga saja saljunya cepat turun. Aku sangat ingin menikati salju di tahun baru ini, karena di Florida tak ada salju meskipun di tahun baru.

Akhirnya sampai juga di rumah. Tak ada yang berubah jika terlihat dari teras rumah. Hanya saja sekarang rumah ku di cat warna putih dan sekeliling nya banyak tanaman hias yang mulai gugur menjelang musim dingin ini. Ini pasti ulah noona.
Aku segera menjinjing barang-barang ku ke kamar. Cukup banyak yang harus kubawa sehingga aku harus bolak-balik dari mobil ke kamar.

“huft … ” desahku ketika mendapati kamarku berdebu. Mungkin tak pernah dibersihkan karena sama sekali tak ada yang berubah dari kamarku. Kemudian aku keluar untuk protes pada noona ku.

“nuna, kau tak membersihkan kamarku ya?” tanya ku.
“menyentuh pintu nya saja tak pernah, haha.” dia beralasan. Dasar. Nuna ku ini memang pemalas.

Lalu aku masuk ke kamar dan memutuskan untuk membersihkan nya.
Sekalian juga aku mengeluarkan isi dari koper ku. Kupungut sebuah benda yang terletak di paling atas bagian koper. Sebuah kotak kecil yang tiada berarti bersama benda kecil di dalamnya.

Kuamati benda kecil di dalam kotak itu. Isinya tak indah memang. Hanya dua buah cincin berwarna putih polos. Di lingkaran bagian dalam nya terukir sebuah kata. Ukiran kata yang sangat familiar di benakku. ‘JongAndEun’

Ya, Jong berarti Jonghyun yaitu aku. Dan Eun dari nama belakang Park Ji Eun, yeojachingu ku. Benar, aku akan melamar Ji Eun.
Sudah lama memang keinginan ku untuk melamar nya. Tapi, selalu saja ada penghalang. Mungkin sekarang adalah waktu yang paling tepat, Aku harap begitu.

Namun, aku merasakan ada sesuatu yang terjadi pada Ji Eun. Seminggu belakangan ini, aku berulang kali mencoba menghubunginya tapi sama sekali tak ada jawaban darinya. Apa dia tahu kalau aku akan pulang dan dia berusaha mempermainkan ku??

Aku menyambar ponsel yang tergeletak di meja, lalu kukirim sebuah pesan pada Ji Eun.

To : Ji Eun

Chagi, aku sudah kembali ke Korea. Tunggulah aku di mercusuar di pantai seperti biasa.
Saranghae~

Terkirim sudah pesan ku padanya. Semoga dia mau menunggu ku disana.

Aku pun segera bersiap-siap. Kupakai baju ku yang terbaik. Kusemprotkan parfum di tubuhku. Tak lupa juga kubawa cincin itu.

Namun sudah 10 menit dia tak kunjung membalas. Apa dia ingin bermain-main dengan ku? Dasar …
Aku segera turun dan meminta izin pada eomma untuk pergi.

Tak sabar rasanya hati ini bertemu dengan Ji Eun. Ingin sekali aku membelai rambut cokelat nya yang indah dan menikmati senyum nya. Apa sekarang dia berubah? Apa dia sekarang jadi lebih cantik dari yang dulu?Aku sangat penasaran bagaimana wajahnya saat aku memperlihatkan cincin itu padanya. Hanya itulah hal yang terus berputar di akal ku.

Tak terasa, aku sudah sampai di pantai. Rumah ku memang dekat dengan pantai.
Pantai nya masih belum berubah. Masih banyak ilalang yang menjuntai ria menghiasi pesisir. Batu-batu laut juga masih berjejer di pinggiran. Hari ini begitu sepi, mungkin karena hari ini malam tahun baru baru.
Tanpa kusadari, bibir ku tertarik membentuk seulas senyum ketika melihat menara mercusuar yang menjulang tinggi dengan gagahnya di kanan pesisir pantai itu. Spontan aku langsung berlari ke arah bangunan jangkung itu.

Seketika aku berhenti tepat di samping di mercusuar ketika aku tak menemukan sosok Park Ji Eun disana. Kemana dia? Kenapa dia belum datang?

“Ji Eun-ah, kau bersembunyi?” ucap ku dengan penuh hati-hati. Namun hanya bunyi ilalang yang saling bergesekan yang menjawab.

“ayolah, jangan bercanda Ji Eun-ah!” aku mulai berteriak jengkel. Namun tetap tak ada jawaban. Aku pun menyerah, mungkin dia memang belum datang. Aku berdiri dan bersandar di pagar pembatas mercusuar untuk menunggunya.

Hampir 20 menit sudah aku menunggunya. Tak ada seorang yeoja berambut cokelat itu yang mendekati mercusuar ini. Sudah berkali-kali aku berusaha menghubungi nya namun tetap tak ada jawaban. Kuputuskan untuk menunggunya sebentar kalau-kalau dia datang.
Namun dia tetap tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Setelah berpikir sebentar, aku berjalan pergi ke rumah Ji Eun dan meninggalkan mercusuar karena aku yang juga sudah kedinginan.

Aneh sekali. Ada apa dengan Ji Eun? Dia tak membalas pesan ku dan tak bisa di hubungi. Bahkan dia tak menampakkan dirinya di depan ku. Apa dia membenci ku karena aku meninggalkan nya selama 2 tahun??

Tok tok tok !

Kuketuk pintu depan rumah Ji Eun. Tak ada respon apapun. Kuketuk lagi dengan lebih keras karena aku juga mulai kedinginan.

“ne.. Sebentar.” akhirnya ada yang menjawab dari dalam. Aku langsung menghela napas lega, meskipun aku tahu kalau itu bukan suara Ji Eun.

Ternyata Soo Eun, kakak perempuan nya Ji Eun yang membuka nya. Aku langsung menunduk kepadanya dan tersenyum, “annyeonghasseo.” kata ku.

“J.. Jo..Jonghyun?!!” ucap nya tergagap ketika mengetahui bahwa aku yang bertamu di rumah nya. Wajahnya begitu panik dan bingung ketika melihat ku.

Seketika wajahnya berubah pucat dan kelihatan sedih, seperti sedang teringat sesuatu ketika melihat ku. “nuna gwaenchana?” tanya ku berusaha peduli.

“Ani, masuklah.” dia mempersilahkan. Dia setengah berlari ketika masuk ke dalam rumah nya.
Aku berusaha untuk diam dan bersikap biasa menghadapi tingkah laku nya.

Aku mengamati rumah yang terakhir kali kukunjungi dua tahun lalu. Sudah sedikit berubah karena bertambah sebuah mobil ber-cat biru gelap terparkir di samping pintu masuk. Kemana bunga-bunga yang dirawat Ji Eun itu? Pikirku karena sama sekali tak ada tumbuhan kesukaan Ji Eun disana, yaitu daisy dan mawar. Apa Ji Eun sudah tak suka bunga lagi?

“Jonghyun-ah … ” bisik sebuah suara, begitu tipis suara. Hampir-hampir aku tak mendengarnya. Spontan aku langsung menoleh dengan senang, karena kupikir itu suara Ji Eun.

Ternyata eomma nya Ji Eun. Di belakangnya berdiri appa Ji Eun dan nuna Soo Eun, dan tanpa Ji Eun. Wajah mereka kelihatan begitu sendu. Suasana hatiku jadi sedikit berubah. Dengan terpaksa aku tersenyum palsu ke arahnya. Mungkin bisa dibilang itu senyuman kecewa. Kemana Ji Eun?

Keluarga Ji Eun mempersilahkan ku masuk dan duduk di ruang tamunya.

“selamat tahun baru ahjumma.” Ucapku ramah. “dimana Ji Eun?’ lanjutku.

Tapi, mereka hanya diam, tak merespon. Mereka saling menatap satu sama lain, sepertinya memperhitungkan jawaban yang akan di berikan padaku. Kelihatan mereka menyembunyikan sesuatu.

“dimana Ji Eun?” tanya ku lagi. eomma Ji Eun menunduk sedih, tetap tak menjawab pertanyaan ku. Aku semakin tak mengerti pada mereka bertiga.

“mianhae, Jonghyun-ah..” hanya itu kalimat yang keluar dari bibir eomma Ji Eun.
“wae ahjumma?” tanya ku semakin tak mengerti.

Tangan kecil dan sedikit keriput milik eomma Ji Eun itu perlahan-lahan mendekati tangan ku yang berada di atas meja, kemudian menggenggam nya.

Sungguh, wajahnya menampakkan sebuah tekanan batin yang begitu berat.

***

Aku berjalan pulang ke rumah dengan lunglai. Kaki ku begitu lemas sampai-sampai aku tak bisa melangkah dengan benar. Jalanku sempoyongan bagai orang mabuk. Orang-orang memandang ku dengan pandangan aneh, tapi aku tak peduli.

 

“maafkan aku Jonghyun-ah, kami tak memberitahu mu lebih awal….” kata ahjumma sambil menatap ku dengan mata sayu nya.

“Dua minggu lalu … Tiba-tiba Ji Eun terkena serangan stroke. Dia koma sampai dibawa ke rumah sakit…”
“lalu seminggu lalu.. Dia meninggal karena stroke itu… Maafkan ahjumma Jonghyun-ah … ”

Kalimat yang panjang dari ahjumma itu terus terngiang di kepalaku.
Kalimat yang sama sekali tak terpikirkan akan terucap dari mulut ahjumma. Kalimat yang sama sekali tak ingin kudengar dari semua orang di dunia ini.

Sebuah benda putih jatuh tepat di atas rambut ku. Dingin dan lembut. Aku pun langsung mendongak.

‘salju … ‘ pikir ku. ‘benar. Ini tahun baru seperti waktu itu.’

Memori-memori indah yang sudah terkubur jauh ke dalam pikiran ku kini mulai tergali kembali. Memori tentang Ji Eun dan tahun baru.

Salju di tahun baru … 3 tahun lalu …
ku mulai ingat kalau kau adalah saksi saat aku dan Ji Eun berjumpa untuk pertama kali nya.
Perjumpaan yang disebut takdir itu …

***

Tok tok tok !

Seseorang mengetuk pintu kamarku, “masuk.” perintah ku.

Pintu pun terbuka. Ternyata eomma. Eomma meminta ku untuk membeli bahan makanan di minimarket.

“tapi hari ini malam tahun baru. Toko pasti tutup.”  Aku beralasan. Lalu aku kembali fokus pada komputer ku.

“tidak. di blok sebelah buka kok.” Kata eomma.

Dengan terpaksa aku pun beranjak dari kursi dan mengambil uang dan daftar belanja dari tangan eomma.

“hati-hati” pesan eomma waktu. Aku hanya mengangguk dan melesat pergi dengan sepeda nuna menuju minimarket yang terletak di blok sebelah.

Sesampainya di minimarket, aku segera mengambil keranjang dan membaca dengan cermat daftar belanja yang diberikan eomma, kemudian mengambil barang yang ditulis di daftar belanja itu. Setelah itu aku segera membayar ke kasir yang paling sepi untuk membayar barang belanjaan ku.

Semuanya kulakukan dengan cepat sehingga tak sampai 15 menit aku sudah keluar dari minimarket itu dengan membawa dua buah tas plastik yang berisi barang belanjaan ku.
Aku menaruhnya di keranjang sepeda.  Kupandang sejenak jalanan sebelum kukayuh sepedaku.
Salju turun cukup deras dan menutupi hampir seluruh badan jalan.
“kenapa turun cepat sekali?” gumam ku jengkel. Dengan modal nekat aku menerobos hujan salju itu.

Jalanan seketika berubah berwarna putih sampai mataku tak mampu melihat apapun. Namun aku tetap menerobos. Terdengar dari arah depan, seseorang juga sedang mengayuh sepedanya dengan pelan. Tapi aku tak dapat melihat apapun.

Didepan mulai kelihatan bayangan yeoja tengah mengayuh ke arah ku dengan lambat. Kutekan rem ku untuk menghentikan sepeda ku agar kami tak bertabrakan, tapi ternyata rem ku tak berfungsi. Aku mulai panik dan kehilangan kendali.

“Kyaaa … !!” terdengar suara teriakan yeoja itu bersamaan dengan terjadinya tabrakan antara kami berdua. Aku dan belanjaan ku terjatuh di atas tumpukan salju.

“aduuh..” rintihku sambil mencoba berdiri. Setelah berdiri aku segera membersihkan jaket ku dari salju.

Oh iya, dimana yeoja itu?

Aku segera berjalan ke depan dan menajamkan penglihatan ku untuk mencari yeoja itu.
kutemukan dia terbaring di atas salju sambil meringis kesakitan.
“hei, agasshi. Kau tak apa?” tanya ku panik lalu aku memegang pipinya.
“uukkh … ” dia mengerang. Kubantu dia untuk berdiri.
“aku tak apa-apa.” katanya lemah dan mencoba tersenyum padaku.

Seketika hujan saljunya berhenti. Keadaan sekarang jadi lebih cerah.

“mianhae.” kataku sambil membantu nya mendirikan sepedanya. Dia tersenyum.
“siapa namamu? Aku Kim Jonghyun.” kataku sambil mengulurkan tangan.

“Park Ji Eun.” dia menjabat tangan ku. Tiba-tiba perasaan dan badanku berubah menjadi lebih hangat ketika dia menjabat tangan ku.

***

salju tahun baru …

Kau memang penghubung takdir antara aku dan Ji Eun …

Kau yang yang membawa Ji Eun … untuk menjadi milikku …

***

keadaan di luar rumah begitu gelap. Awan gelap menggantung di atas Korea, seakan bersiap menurunkan salju sebanyak-banyaknya hingga kami terkubur didalamnya. Tapi aku ingin sekali keluar dari rumah yang membosankan ini.

“eomma. Aku pergi ke rumah Minho.“ Ijinku. Eomma menggeleng, “tidak boleh. Mendungnya sangat gelap. Sepertinya akan ada badai salju.“ Kata eomma sambil menyeruput tehnya.

Aku tak memperdulikan ucapan eomma dan langsung saja keluar dari rumah. Kudengar sekilas eomma berteriak marah kepadaku.

Udara diluar benar-benar dingin. Angin nya juga cukup kencang hingga aku sulit untuk berjalan.
Benar kata eomma, belum sampai 10 menit aku keluar dari rumah. Hujan salju nya mulai turun dan cukup deras. Akhirnya aku memutuskan untuk berteduh di halte.
Beruntung sekali aku bertemu dengan Ji Eun di halte. Udara di sekitar ku jadi lebih hangat.

“annyeong, Ji Eun-ah, kenapa kau disini?” tanya ku berbasa-basi.
“Aku menunggu bus. Kau?” dia bertanya balik.
“aku mau ke rumah teman ku. Ngg.. Aku rasa bus tak beroperasi hari ini karena ini tahun baru.” kata ku.

“jinjja?” dia sedih dan bingung bagaimana caranya untuk pulang. “kau.. Akan disini sampai saljunya reda kan?” dia memastikan. Aku mengangguk dan tersenyum. Akhirnya aku punya kesempatan berdua dengannya.
20 menit kemudian, hujan salju nya pun perlahan-lahan mulai reda. Ji Eun terlihat lega.

“Ji Eun-ah, ada yang mau kukatakan padamu.” kata ku sebelum dia pamit pulang.

“ne?” dia memandang ku dengan mata indahnya, itu membuat ku gugup, “ngg… Aku.. Aku.. aku..” aku begitu gugup hingga aku tak berani mengungkapkan perasaanku.
“hmm… hujan saljunya sudah reda. Aku pulang dulu.” sepertinya dia sudah jengkel dan ingin segera pulang.

“Aku menyukaimu Park Ji Eun!!” teriak ku spontan.
Seketika dia menghentikan langkahnya dan tetap diam di tempat, lalu berbalik ke arahku.

“apa?” dia meminta ku mengulangi ucapanku.

Aku berjalan mendekatinya, “aku mencintaimu, Park Ji Eun. Apa kau mau menjadi pacarku?” ulangku.
Dia tersipu, pipinya yang kemerahan semakin merah. “ada yang juga ingin kubicarakan dengan mu.” katanya. Dia berhenti sejenak mengambil napas dan berkata, “aku.. Aku juga menyukaimu Kim Jonghyun.” katanya.

Aku tak percaya apa yang diucapkannya. Tak kusadari mulutku menganga.
“Jonghyun-ah, kau tak apa?” tanyanya sambil mengibaskan tangannya didepan wajahku. Aku mengangguk.

Salju dari atas jatuh ke kepalaku dan banyak. Lalu turun semakin banyak, diiringi dengan angin kencang, ternyata terjadi badai salju.
Spontan aku menarik tangan Ji Eun menuju halte kembali.

“Aku takut.” bisik Ji Eun padaku. Kemudian aku memasukkan tangannya ke kantong jaket ku untuk menenangkannya.

Itulah awal kisah cintaku dengan Ji Eun.

***

Tahun baru … Satu tahun lalu ..
Mungkin itu yang terburuk …
Karena aku harus mengucapkan selamat tinggal pada Ji Eun …
Berhenti mengukir kisah cinta di buku cinta ku bersama Ji Eun …

***

“Jonghyun-ah… Apa yang kau katakan tadi?” dia bertanya lagi seakan tak percaya perkataan yang keluar dari mulut ku tadi.
“mianhae chagiya … Aku harus pergi ke Florida.” ulang ku dengan perasaan bersalah.

Dia terdiam dan menunduk. tetes demi tetes air keluar dari mata indahnya dan jatuh ke tanah.
Aku mencoba mengangkat wajahnya.
“jangan menangis chagiya … Kau membuatku semakin sedih..” pinta ku, air mata ku pun ikut mengalir.
Tangisnya semakin menjadi, nafasnya sampai tak teratur.

Aku pun langsung memeluknya erat.

“gwaenchana, Ji Eun-ah. Aku tak akan lama.” kataku sambil terisak. Dia masih menangis. Aku memeluknya hingga tangisnya reda. Salju turun tiba-tiba mengiringi tangis kami berdua.

Setelah dia berhenti terisak, aku melepaskan pelukan ku. “saat tahun baru tahun depan, datanglah ke pantai. Aku akan datang dan memberikan mu sesuatu.” kata ku sambil menggenggam pundaknya. Dia mengangguk sambil berusaha tersenyum padaku.

“saranghaeyo~” kata ku lalu mengecup keningnya lama.

***

Dan sekarang …
Sungguh … Kalau saja aku tak berkata hal itu …
Kalau saja aku pulang lebih cepat …
Kalau saja aku tak pergi meninggalkan nya sendiri … Dalam dunia kelam ini,
Mungkin aku bisa bersamanya lebih lama …
Bersamanya mengukir cinta kembali …

Atau …
Setidaknya aku dapat menemani nya saat hari terakhirnya …
Mungkin itu sudah cukup untukku …

Nyanyian lagu tahun baru mulai didendangkan di gereja oleh segerombol anak-anak. Orang-orang yang sedang berjalan di sekelilingku terlihat bersuka cita menyambut tahun baru. Beberapa oraang lainnya masuk ke dalam gereja untuk berdoa atau untuk menyaksikan anaknya bernyanyi.

Suara anak-anak yang bernyanyi semakin jelas tatkala aku berdiri di depan pintu gereja. Kemudian aku masuk dan duduk diantara orang tua yang mendampingi anaknya.
Selesai menyanyikan lagu tahun baru, aku menutup mataku dan berdoa.

Tuhan, kalau kau benar-benar ada, kabulkan keinginanku. aku ingin bertemu Ji Eun untuk yang terakhir kalinya di tahun baru ini.’ Itulah doaku. Aku membuka mataku selesai berdoa, dan ruangan berubah kosong. Anak-anak paduan suara,orang tua yang ada di sampingku, semuanya lenyap dan begitu sunyi. Kemana mereka?

Tiba-tiba dari balik dinding muncul sebuah cahaya putih, semakin lama cahaya itu berubah menjadi sesosok manusia.

“Ji Eun-ah?” panggilku memastikan.

Cahaya yang berubah menjadi manusia itu tersenyum padaku, kemudian dia mendekatiku. Awalnya aku ketakutan dan berusaha menghindar, tapi dia menggenggam tanganku agar aku tak lari. Tangannya tak terasa suhu maupun denyut nadinya.

“ini aku, Ji Eun. Mianhae.” Katanya. Aku berbalik kemudian memeluknya, “jeongmal bogoshippo.” Kataku sambil terisak. Dia menepuk-nepuk bahuku.

“mianhae Jonghyun-ah, aku tak bisa menepati janjiku. Tapi setidaknya aku bisa menghiburmu meskipun cuma sebentar.” Katanya.

“kenapa kau harus meninggalkanku secepat ini?” tanyaku. Dia tersenyum penuh rasa bersalah, “ini sudah takdir, mianhae …” katanya.

Tiba-tiba dia melepaskan pelukanku.

“aku harus pergi Jonghyun-ah.” Katanya terburu-buru. Aku menahannya, “kalau begitu, bawalah ini, kumohon.“ Kataku menyerahkan sebuah cincin yang sudah kupersiapkan sebelumnya. Dia agak ragu menerimanya, tapi kupaksa, “jebal, untuk yang terakhir kali.“ Kataku. Dia mengambil cincin itu dari tanganku, “selamat tinggal. Saranghae.“ Katanya, kemudian menghilang.

“saranghaeyo …“ balasku dalam sunyi.

Aku menghirup nafas berat karena harus melepaskannya, tapi aku lega karena dapat bertemu dengannya. Setelah dia benar-benar menghilang, aku keluar dari gereja.

Aku mendongak, menatap langit yang masih tergantung awan putih. Tak kusadari aku memasang wajah bahagia.

‘Ji Eun-ah, aku tahu, kau belum mati. Kau masih hidup di alam sana. Terima kasih kau sudah mau menemuiku, meskipun untuk yang terakhir kali. Saranghaeyo Ji Eun-ah, jeongmal.

Selamat tahun baru. Selamat tinggal.’ Batinku sambil tersenyum ke arah langit.

Aku berjalan menuju rumah. Memulai lembaran kehidupan tanpa Ji Eun.

Tuhan …

Kau sungguh membuatku percaya kalau kau benar-benar ada …

Apa kau mau mengabulkan permintaanku di tahun baru ini ? sekali lagi ?

Bisakah kau membawaku juga? Membawaku ke sisi Mu. Bisakah?

Agar aku dapat terus bersama Ji Eun …

Agar aku dapat terus menikmati tahun baru dengan Ji Eun …

Kumohon …

 

-THE END-

Penilaian Juri…

* Juri 1 :

– Ide Cerita : 30% x 90 = 27

– Alur / Plot : 25% x 85 = 21,25

– Penggambaran Karakter : 20% x 80 = 16

– Diksi / Pemilihan Kata : 20% x 90 = 18

– Teknik Menulis : 5% x 65 = 3,25

Total = 85,5

=========================

* Juri 2 :

– Ide Cerita : 30% x 85 = 25,5

– Alur / Plot : 25% x 80 = 20

– Penggambaran Karakter : 20% x 90 = 18

– Diksi / Pemilihan Kata : 20% x 85 = 17

– Teknik Menulis : 5% x 60 = 3

Total = 83,5

=========================

* Juri 3 :

– Ide Cerita : 30% x 85 = 25,5

– Alur / Plot : 25% x 80 = 20

– Penggambaran Karakter : 20% x 90 = 18

– Diksi / Pemilihan Kata : 20% x 85 = 17

– Teknik Menulis : 5% x 65 = 3,25

Total = 83,75

=========================

Hasil : 85,5 + 83,5 + 83,75 = 252,75 : 3 = 84, 25

Entry filed under: G, Genre, Indonesia, K-Pop, Language, One Shoot, Rating, Sad Romance, SHINee, Type. Tags: .

[JUARA 2] Happiness Is in You [FF/CHAPTERED/PG-13] Hope, Love, and Passion Chap 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,714 hits

Day by Day

January 2012
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: