[JUARA 2] Happiness Is in You

January 6, 2012 at 1:20 PM Leave a comment

Author : Song Chae Hyeong

Main Cast : Lee Soonkyu (a.k.a Sunny Girls Generation)

Support Cast :

Lee Sungmin (Super Junior)

Jung Jessica (Girls Generation)

Kim Taeyeon (Girls Generation)

Genre : Life, Friendship, Romance

Rating : K+

Lenght : 3.913 Words


Happiness is in You

Dingin, aku kedinginan. Kurasakan sensasi maha nyeri di dadaku. Aku mengernyit, sendi-sendiku terasa begitu kaku, tidak dapat digerakkan. Dengan segenap tenaga yang tersisa, aku berusaha bangun, berusaha membuka kelopak mataku. Sambil berusaha mengumpulkan kesadaran, kuamati keadaan di sekelilingku. Di kursi pengemudi, ada appa. Ia sama tidak berdayanya denganku, darah mengalir dari pelipisnya. Aku mengernyit, mual. Tidak kuasa menahan gejolak di perutku. Cairan merah segar itu selalu berhasil membuatku berkunang-kunang. Namun, kusadari bahwa aku juga berdarah. Kuangkat tangan kiriku, dan kusentuh pelipis kiriku. Perutku semakin tak karuan saat kutemukan darah yang sama segarnya dengan darah di pelipis appa. Lalu, kualihkan pandangan pada wanita di sebelahku. Eomma. Ia tergeletak tidak berdaya, tidak bergerak satu senti pun. Ia terlihat seperti seseorang yang bertemu dengan malaikat maut yang hampir mencabut nyawanya. Setelah kesadaranku hampir sepenuhnya terkumpul, aku tersadar bahwa di depanku, di samping kursi pengemudi, ada adik laki-lakiku. Aku tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana keadaannya. Tapi, aku sudah cukup mual melihat darah di mana-mana.

Sejenak aku tenggelam dalam pikiranku. Seperti pemutaran film perdana yang tidak diputar di bioskop mana pun. Aku, ibu, ayah dan adikku dengan mobil ini, mobil yang sama tidak berdayanya dengan kami, tengah melaju di jalan raya Seoul. Meluncur dengan kecepatan penuh saat tiba-tiba, aku mendengar jeritan adik laki-lakiku. Dengan penuh waspada, aku melepas headsetku, mencari-cari apa gerangan yang terjadi. Namun, semuanya terlambat. Saat ayah berusaha menginjak rem semaksimal yang ia mampu, saat itulah terjadi guncangan maha dahsyat. Semuanya berubah hitam. Tidak jelas dan tidak beraturan.

Aku masih dapat menemukan headset yang tadi kugunakan. Lengkap dengan Ipod kesayanganku. Namun, aku tidak berdaya, aku terlalu lemah. Pikiranku campur aduk. Entah apa yang kupikirkan, seolah tidak dapat dikendalikan oleh otakku. Soonkyu-ahh, kau harus keluar. Cari bantuan! Kata batinku meledak-ledak. Mendesak sekujur tubuhku untuk berteriak minta bantuan. Dengan segenap sisa kekuatan, kuraih handle pintu mobil. Berusaha membuka pintu, merangsak di jalan untuk sebuah pertolongan. Namun, sebelum aku berhasil membuka pintu, seseorang dari luar telah terlebih dahulu melakukannya. Orang asing, tidak kukenal. Seorang pria paruh baya dengan mantel hitamnya, berteriak memanggil beberapa orang lain dan sesaat kemudian, mereka berkerumun sambil menatapku dengan panik. Kemudian, kepalaku pusing bukan kepalang. Seperti sesuatu menusuk dan menimpa kepalaku. Perlahan, rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuhku. Memberikan sensasi yang tidak tertahankan yang sempat terhenti di dadaku. Lalu, semua berubah hitam, gelap dan aku tak sadarkan diri.

***

Rasa pening semakin terasa seiring kubuka mataku. Namun beberapa detik kemudian, rasa itu berangsur hilang. Kutemukan langit-langit dengan sinar silau dari sebuah lampu. Saat kuedarkan pandanganku, hanya seseorang berbaju putih yang kutemukan. Seorang pria yang tengah berbincang dengan seorang wanita berbaju putih pula. Kemudian, wanita itu memberikan isyarat, membuat si pria mengalihkan pandangannya padaku. Setelah pria itu berjalan menghampiriku, aku baru sadar bahwa ia adalah seorang dokter. Dan wanita itu adalah suster.

Dokter itu tersenyum padaku sambil berkata, “kau sudah sadar? Baguslah. Ada baiknya kau istirahat sejenak di sini. Tulang rusukmu perlu beberapa hari untuk pemulihan.”

Aku menatap dokter itu sambil mengernyit, menahan rasa perih di dadaku. Tersadar bahwa ada sesuatu yang kurang, namun kepalaku terlalu sakit untuk mengingatnya. Ayah, ibu dan Sungjin! “Di mana? Di mana mereka?” tanyaku sambil menatap lekat pada dokter itu. “Di mana ayah, ibu dan adikku?!” aku meledak. “Di mana mereka?!”

Dokter itu tidak menjawab. Ia hanya menunduk, tapi aku dapat membaca matanya yang penuh rasa penyesalan. Aku punya firasat buruk. Hal yang paling tidak ingin kudengar dalam hidupku. Hal yang paling tidak ingin kualami selama hidupku. Tidak. Tidak mungkin. Tidak mungkin hari ini!

“Maafkan kami. Kami sudah berusaha semampu kami. Tapi, Tuhan berkehendak lain,” jawab dokter itu sambil mengangkat wajahnya. Menatapku dengan penuh rasa bersalah.

Dadaku terasa semakin sakit. Sakit yang tidak tertahankan. Aku meringis, mencengkramnya dengan tangan kananku. Ini sungguh sulit dipercaya. Aku sudah menyiapkan segala sesuatunya, Bu. Aku sudah mempersiapkan diriku untuk menyambut tahun baru bersamamu, Yah. Sungjin-ahh, aku telah membeli terompet untuk perayaan tahun baru kita. Apa kalian tidak menghargaiku? Kalian tidak ingin merayakan tahun baru bersamaku? Meninggalkanku sendiri di tempat ini. Kita tidak pergi untuk itu kan?

Dadaku terasa semakin sesak. Aku sama sekali tidak percaya dengan omongan dokter sialan itu. Tanpa peduli dengan peringatan dari dokter dan suster, aku bangkit dari tempat tidur, berlari menyongsong koridor rumah sakit untuk menemukan keluargaku. Aku yakin, mereka masih ada di suatu tempat. Aku yakin, mereka pasti menungguku untuk melihat pertunjukan kembang api. Mereka tidak akan tega meninggalkanku sendirian. Tidak akan!

Kemudian, yang kudengar adalah bunyi roda-roda yang menggesek permukaan lantai. Aku berpaling, dan menemukan ranjang dorong. Tiga ranjang dorong. Dengan tergesa-gesa, beberapa petugas menggiring ranjang dengan tiga orang pasien tersebut. Membiarkanku terpana saat ketiga ranjang dorong tersebut lewat di depan mataku.

“Permisi.. permisi..” ujar salah satu petugas sambil menyingkirkanku dari koridor utama. Aku mengerang dan mendesak untuk melihat wajah salah satu pasien. Pasien pada ranjang dorong yang terdepan, seolah memimpin dua pasien yang lain. Hal terburuk yang pernah kubayangkan memang benar-benar terjadi. Dadaku terasa semakin nyeri. Jika aku adalah sebuah balon, maka aku akan benar-benar meledak.

“Appa!” aku berteriak histeris.

Kemudian, dua ranjang dorong yang lain berlalu di depanku. Ada luapan emosi tak tertahankan dalam dadaku. Aku berteriak, menjerit sejadi-jadinya. “Eomma! Sungjin!!” Bendunganku jebol. Jebol tanpa pertahan yang berarti. Air bah menyeruak keluar, membasahi kedua mataku. Dengan kaki-kakiku yang gemetar, aku berlari kecil mengiringi keluargaku. Berteriak menyebut-nyebut mereka. Namun, tidak ada berubah. Mereka tetap diam tak bernyawa. Mereka tetap seperti itu, hingga mobil ambulance membawa mereka menjauh dari jangkauanku. Aku menangis, berteriak histeris, menyerukan mereka sekencang-kencangnya. Sama sekali tidak peduli jika ada yang menganggapku gila. Aku memang gila! Gila karena ditinggalkan oleh keluargaku. Gila karena mereka pergi tanpaku!

Tidak ada lagi kecupan sayang dari seorang ibu saat aku pergi sekolah, tidak ada lagi petuah panjang dari seorang ayah yang bijaksana, tidak ada lagi keributan yang disebabkan oleh seorang adik laki-laki. Lalu, apa yang tersisa? Hanya aku yang sia-sia. Hanya aku bodoh dan rapuh. Apa yang bisa kulakukan tanpa mereka? Pikiranku kacau balau. Sama kacaunya seperti kondisi tubuhku. Tapi aku sama sekali tidak peduli. Sama sekali!

Ditengah emosi yang meluap-luap, terdengar suara terompet bersahut-sahutan dari jauh. Suara letupan kembang api di udara juga tidak ketinggalan. Dokter dan suster, bahkan pasien di rumah sakit itu, bersorak pada satu sama lain, mengucap selamat datang untuk tahun yang baru. Namun, aku bergeming. Membiarkan tubuhku menggigil di tengah angin musim dingin. Air mata masih senantiasa membasahi kedua pipiku. Kakiku gemetar, tak mampu lagi menahan beban tubuhku. Aku pun roboh, tersungkur di atas lantai yang dingin. Setetes air meluncur dari ujung mataku, aku membuka mulut berusaha bergumam dengan lemah tak berdaya.

“Appa, eomma, Sunjin-ahh.. Selamat tahun baru. Saranghae~” suaraku bergetar dan dadaku semakin sesak. Kurasakan ada sentuhan lembut dipunggungku. Sentuhan yang selalu aku rasakan, penuh dengan kasih sayang. Mungkin aku berhalusinasi. Tapi, aku benar-benar merasakan kehadiran ibu. Apakah itu kau? “Eomma..” aku bergumam.

“Soonkyu-ssi. Sebaiknya kita kembali ke kamar. Kau harus istirahat.” Bukan. Itu bukan eomma. Hanya seorang suster. Air mataku kembali menyeruak, aku menangis tanpa suara. Telah tersadar sepenuhnya bahwa eomma telah pergi. Appa, Sungjin. Semuanya. Dengan sabar, suster itu membantuku berdiri. Ia membopongku menuju kamar pasien. Aku hanya menurut, menyeret langkahku yang terasa terlalu berat. Lagipula, tidak ada lagi yang bisa kuperbuat. Tidak ada mereka, tidak ada mereka lagi.. Keluargaku, yang telah menjadi alasan aku masih bertahan hidup. Namun kini, entahlah.. Aku layaknya setangkai bungan tanpa warna, sebatang pohon tanpa akar atau seekor burung tanpa sayap.

***

Sudah setahun sejak kepergian keluargaku. Aku masih dapat mengingat bagaimana mereka mengisi hidupku, bagaimana mereka membuat hidupku lebih berwarna. Bahkan, masih terekam dengan jelas di otakku bagaimana kecelakaan maut itu terjadi. Dimulai dari sangat awal. Saat kami mempersiapkan segala sesuatu untuk tahun baru. Saat aku dan Sungjin menjejalkan semua kudapan dan minuman hangat ke jok mobil. Kami pergi menuju Jongno-gu. Aku telah membuat rencana, setelah ke salah satu restoran di daerah itu, kami akan ke Bosingak. Menunggu lonceng berdenting tiga puluh tiga kali sebelum kami bersorak selamat tahun baru dan menikmati pertunjukan kembang api. Namun, rencanaku hancur berantakan. Alih-alih mendapat kebahagiaan, aku harus mendekap di kamar rumah sakit yang memuakkan. Seminggu lamanya aku terkurung dalam ruangan serba putih tersebut sebelum kemudian ajuma menjemput dan membawaku ke rumahnya. Namun, air mataku belum kering. Aku masih menangis sejadi-jadinya saat menatap foto keluargaku yang terpajang di depan rak-rak penyimpan abu.

“Soonkyu-ah!” Aku terlonjak. Hampir saja aku menumpahkan coklat panas di genggamanku. Tersadar dari lamunan masa lalu, aku berkedip, menyadari bahwa Taeyeon eonni telah memanggilku berkali-kali.

“N..ne?” sahutku.

Taeyeon eonni adalah seniorku di Universitas Korea. Baru beberapa bulan aku mulai kuliah, namun ia sudah begitu baik padaku. Bahkan ia menganggapku seperti seekor kelinci. Katanya, aku punya wajah yang sangat imut seperti kelinci. Baiklah, aku percaya. Karena ia adalah orang ke seribu sekian yang mengatakan hal itu. Ia memiliki rambut pendek sebatas bahu yang menurutku sangat modis. Setiap hari, ia selalu punya cara untuk membuat orang kagum akan penampilannya. Kali ini, ia mengenakan plaid dress yang ditutupi oleh blazer hitam. Lehernya dililit oleh checked scraft. Ia juga mengenakan celana panjang yang dibungkus dengan boots hitam.

Aku tidak hanya duduk bersama Taeyeon eonni. Jessica, teman seangkatanku juga ikut bergabung. Rambutnya yang dicat pirang, berpadu dengan mantel musim dingin birunya. Sambil menyesap coklat panasnya, ia memejamkan mata. Menikmati tiap teguk kehangatan minuman itu. Sekian detik kemudian, ia telah berhasil menghabiskan satu gelas coklat. Kemudian, ia meletakkan gelas kosong itu di atas meja sambil mendesah lega.

“Soonkyu-ahh. Jadi, apa yang akan kau lakukan untuk menyambut tahun baru 2012 ini?” tanyanya.

“Hmm.. entahlah.” Aku menggeleng.

“Kau belum punya rencana? Omo.. lihatlah aku. Aku bahkan telah menyiapkan rencana ini sejak tahun lalu. Aku berencana akan pesta kembang api kecil-kecilan di depan rumahku, pesta daging asap, meniup terompet, dan tentu saja berkumpul bersama keluarga. Pasti menyenangkan! Aku tidak dapat menunggu lebih lama lagi!”

Semenjak kejadian tahun lalu, aku mengklaim tahun baru sebagai hal yang paling kubenci setelah darah. Bahkan aku benci melihat orang bersenang-senang di tahun baru. Aku benci dengan segala tetek bengek tahun baru. Mereka terlalu berisik dan menggangu. Mereka sama sekali tidak peduli dengan orang semacam aku ini. Mereka bersenang-senang dengan kembang api konyol dan bunyi-bunyian yang memekakan telinga, saat orang lain tengah mengalami penderitaan terbesar sepanjang hidupnya. Sungguh. Mereka hanya orang-orang yang tidak punya hati. Tak bisakah mereka membayangkan bagaimana rasanya, menangis pilu di tengah kehingar-bingaran tahun baru? Tidak! Mereka tidak tahu rasanya. Mereka tidak pernah merasakannya!

Lamunanku kembali buyar saat Taeyeon eonni menyahut, “aku juga akan menghabiskan akhir tahun bersama appa dan eomma. Kami akan makan di restoran dan pergi ke Bosingak.”

Appa.. eomma.. Sungjin.. Bosingak. Perlahan memori masa laluku tersusun kembali bagaikan potongan-potongan puzzle.

Appa! Eomma! Sungjin! Jangan tinggalkan aku!.. aku meneriakkan kata-kata itu di rumah sakit. Membiarkan wajahku banjir oleh air mata. Jeritan yang membahana dan penyesalan yang tiada arti terus menggerogotiku.

Appa, eomma, Sungjin. Kalian pergi terlalu cepat. Aku masih ingin merasakan kehangatan tahun baru bersama kalian. Appa, aku masih membutuhkan sorak sorai itu. Eomma, aku masih ingin kudapan tahun baru yang kau buat. Sungjin-ahh, apa kau ingin makan semua jatah kudapanku? Aku akan memberikannya, Sungjin-ahh.. Tapi di mana kau? Di mana eomma dan appa? Kalian tidak ada! Kalian meninggalkanku sendiri di dunia yang kejam ini. Kalian membiarkanku mendengarkan kisah konyol rencana tahun baru orang-orang ini. Kalian tidak peduli apa yang dapat kukisahkan pada mereka tentang rencana tahun baruku! Apa yang kalian lakukan di sana? Apa?! Kalian pergi saat aku masih terlalu membutuhkan kalian!

Bendunganku jebol. Air bah menyeruak, membanjiri pipiku yang dingin. Pikiranku sama kacaunya seperti setahun yang lalu. Air mataku sama derasnya ketika aku berlari dan menjerit saat melihat kalian tak bernyawa di rumah sakit. Sesak.. dadaku sesak.

“Soonkyu-ahh.. gwaenchana?” Jessica menatap mata nanarku. Aku membalasnya dengan tatapan menusuk. Kemudian, aku bangkit dari tempatku semula duduk. Sama sekali tidak peduli dengan pertanyaan menyebalkannya. Aku berlari. Berlari sekencang-kencangnya di bawah hujan salju. Pura-pura tidak mendengar saat dua orang itu memanggil-manggil namaku. Mereka jahat! Hanya sama jahatnya seperti musim dingin yang telah membunuh keluargaku! Aku benci semuanya. Aku benci musim dingin! Hal-hal yang membuatku kehilangan keluargaku, aku benci semuanya!

Aku terus berlari. Tak peduli pada pandangan heran orang pada seorang gadis berlari seperti orang gila ini. Ya! Aku memang gila! Lalu, apa yang akan kalian lakukan kalau aku gila?! Batinku menjerit. Memaki orang-orang kejam itu.

***

Kubuka pintu rumah dengan nafas terengah-engah. Lari marathon dengan beban emosional sungguh lebih melelahkan dari apa pun yang pernah kau bayangkan. Kalau boleh jujur, aku termasuk siswi yang disegani guru olah raga waktu SMA. Tapi itu sama sekali tidak penting. Yang terpenting saat ini adalah, aku sama sekali tidak peduli dengan perayaan tahun baru. Titik. Aku berani bertaruh, mata dan hidungku merah semerah-merahnya. Dan aku yakin, wajahku terlihat lebih buruk dari apa pun juga. Aku lelah. Terlalu lelah. Dengan nafas tersenggal-senggal, aku buru-buru menuju kamar. Melempar tasku di lantai dengan acuh tak acuh sambil membanting tubuhku ke atas ranjang.

Tiba-tiba, terdengar suara menggelegar dari ruang tengah. “Soonkyu-ahh! Kau kah itu?!” seru ajuma. Nada bicaranya berbeda dari biasanya.

Semampu yang kubisa, aku menyahut, “ne, ajuma!”

Lalu, aku menatap sesosok wanita tua dengan sebotol soju. Melangkah sempoyongan melewati pintu kamar yang terbuka. Rambut ikalnya acak-acakan, bau alkohol menyeruak ke mana-mana. Aku mengernyit. Menjijikkan. Ini pertama kalinya ia terlihat sebegitu menyedihkan setelah setahun aku tinggal bersamanya.

“Kenapa kau baru pulang, huh?!” serunya sambil menghentikan langkahnya. Menatapku dengan sayu. Aku berusaha pura-pura masa bodoh. Lagi pula, meladeninya hanya sama seperti meladeni orang tidur. Namun, suaranya terlalu nyaring untuk tidak dipedulikan. “Kau harusnya di sini! Menemaniku. Kau tahu, seharusnya kau membalas budi terhadap apa yang sudah kuberikan padamu. Sudah untung aku mau merawatmu. Kau dengar ya! Ini semua gara-gara si tua brengsek itu. Gara-gara ia tidak becus menyetir, ia mati, dan malah membebankan anaknya padaku!” Ajuma melempar botol sojunya hingga pecah berkeping-keping. Menumpahkan sisa soju di lantai kamar.

Aku terbelalak. Bukan karena pecahan botol soju. Tapi karena ia menyebut-nyebut appa brengsek dan menyumpah. Jika aku adalah air yang direbus, maka aku akan mendidih dan meletup-letup, memercikkan air panas ke sekitarku. Sungguh. Emosiku membara. Aku sudah cukup menderita dengan kepergiaan tiga anggota keluargaku sekaligus. Dan sekarang… apa yang ia katakan? Ucapan sampah.

Aku pun bangkit, menatap wanita itu dengan tatapan seolah ingin mencincangnya. Namun aku tidak mengatakan apa pun. Karena sebelum sempat membuka mulutku, wanita itu pingsan dengan mata setengah terbuka. Tangannya mengenai pecahan botol dan berdarah. Tapi aku sama sekali tidak peduli. Wanita itu telah memaki appa. Memaki orang yang paling kucintai!

“AAAAAHHH!!” aku menjerit histeris. Memporak porandakan semua barang yang ada di atas meja di samping tempat tidur. Kuambil pecahan botol soju. Kemudian menatap nanar pada cermin rias. Tampak pantulan seorang gadis liar, rambut berantakan, wajah menyedihkan, sama sekali tak kukenal. “Jadi, inilah Soonkyu yang sesungguhnya?” aku menyeringai sebelum kemudian melemparkan pecahan botol soju itu ke cermin. Membiarkan darah mengalir dari tanganku.

***

Hari sudah malam. Orang-orang yang lalu lalang sibuk membicarakan tahun baru. Sedangkan aku, hanya menatap mereka dari bangku taman. Duduk dengan tangan bersimbah darah. Aku tidak melakukan apa pun pada luka itu. Hal tersebut hanya membuatku mual dan pening. Dengan emosi yang masih menggebu-gebu, aku membiarkan diriku terlihat tampak lebih menyedihkan.

Hari ini aku benar-benar mengalami gelombang emosi yang dahsyat. Mendengar cerita Taeyeon eonni dan Jessica saja sudah membuatku hampir meledak. Apalagi ditambah dengan umpatan dan makian si wanita mabuk menyebalkan itu. Aku tahu orang mabuk memang seperti itu. Tapi, aku tidak bisa memaafkan siapa pun yang menghina keluargaku. Termasuk orang mabuk.

“AAAAAHH!!” Sekali lagi aku berteriak. Mengacak-ngacak rambutku seperti orang gila.

“Soonkyu-ahh?” Tiba-tiba seseorang memanggilku. Aku mendongak, mendapati wajah seseorang yang sangat kukenal tengah berdiri menatapku dengan khawatir. Seorang pemuda. Dengan mantel musim dingin hitam dan celana panjangnya. Ditengah kondisiku yang menyedihkan, pemuda itu duduk di sebelahku. Menatap wajahku dengan cemas sambil mengangkat tanganku yang berdarah. Aku kenal sentuhan ini.. aku mengenalnya..

“Su..sungmin oppa?” suaraku bergetar.

“Kau kenapa? Apa yang terjadi?” tanyanya cemas.

Lee Sungmin. Bisa dibilang, ia kekasihku sekaligus seniorku di Universitas Korea. Ya Tuhan.. bagaimana aku bisa lupa kalau aku masih memilikinya. Setidaknya, aku masih punya tempat untuk bersandar dan menenangkan diri. Untuk pertama kalinya dalam hari ini, aku merasa aman dan nyaman.

“A.. aku..” Aku tergagap, berusaha menjelaskan apa yang terjadi.

“Biar aku antar kau pulang.”

“Aniyo!” seruku. “Tidak saat ini.”

Rupanya ia mengerti. “Baiklah, kalau begitu, ayo ke rumahku. Obati dulu lukamu ini. Setelah itu, kau bisa cerita semuanya.”

Aku mengangguk. Membiarkannya menuntunku menuju mobil pribadinya.

***

“Aku mengerti perasaanmu. Aku bisa membayangkan itu. Tapi, itu bukan berarti kau harus membenci semua orang yang bersenang-senang saat tahun baru kan?” ucap Sungmin oppa sambil melilit telapak tanganku dengan perban. Aku mengernyit kesakitan. Tapi ia hanya tersenyum kecil sambil terus membalut dengan telaten.

“Oppa, mereka jahat. Mereka bersenang-senang saat orang lain tengah merasakan kesulitan. Terlebih lagi, mereka memamerkan kesenangan mereka itu.”

Ia telah selesai merawat lukaku. Kemudian, dengan kedua mata tulusnya, ia menatapku. “Bukankah kau juga sering melakukannya? Bersenang-senang saat orang lain menderita?” Ia mengangkat alisnya sambil tersenyum. Memberi kesempatan padaku untuk berpikir tentang kebenaran ucapannya. Aku tak berani mengakui secara gamblang. Tapi, ia memang betul. Sering kali aku menikmati makanan yang begitu sedap sementara di luar sana masih ada orang-orang yang bahkan tidak tahu apa yang harus dimakan. Aku hanya menunduk malu. Sadar bahwa akulah yang bertindak konyol.

“Lagipula..” Sungmin oppa melanjutkan. “Appa, eomma dan Sungjin, tidak akan senang melihatmu terus bersedih. Mereka ingin kau bahagia. Ini bukan salah tahun baru atau apa pun dan siapa pun. Tapi ini kehendak Tuhan, Soonkyu-ahh.. Tidak ada yang dapat menyebabkan apa pun selain Dia.”

Ucapannya begitu tulus dan penuh kasih sayang. Satu hal yang telah sejak lama aku rindukan. Tanpa bisa dikendalikan lagi, air mataku menyeruak, mengalir di kedua pipiku. Membayangkan kehadiran appa, eomma dan Sungjin malam ini. Membayangkan mereka ada di sisiku untuk merayakan tahun baru bersama-sama. Appa, eomma, Sungjin, apa kalian baik-baik saja di sana? Kuharap begitu. Maafkan aku karena telah bertindak konyol dan berlebihan. Aku berjanji tidak akan mengecewakan kalian lagi. Aku berjanji akan menjadi kebanggaan kalian.. Yaksokhae..

Aku sesenggukan. Tak kuasa menahan air bah yang terus membanjiri wajahku. Tapi, anehnya, aku merasa lega dan tenang.

“Sudahlah.. jangan menangis lagi. Mereka tidak akan senang melihatmu menangis,” ujar Sungmin oppa sembari mengelus kepalaku seperti seekor induk kucing pada anaknya. Kemudian, tangannya beralih ke pipiku. Menghapus air mata yang mengalir di sana.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Menatap matanya yang menenangkan.

“Bukankah kau terlihat cantik seperti ini?”

Aku merona sesaat sebelum kemudian berkata, “oppa, ayo kita ke Busingak. Satu jam lagi bel akan berdenting.” Kutarik tangannya dengan tanganku yang tidak diperban. Sambil tersenyum sumringah, ia menurut dan kami pergi bersama menuju Busingak. Bersiap menyambut tahun baru dengan penuh kebahagiaan.

***

Lautan manusia berkerumun di Bosingak. Aku dan Sungmin oppa juga berada diantara kumpulan manusia itu. Kebahagiaan tak henti-hentinya menggerogotiku. Dengan penuh antusias, aku menunggu bunyi dentingan bel di menara itu.

Beberapa detik kemudian, muncullah beberapa orang penting dari berbagai bidang mengelilingi bel super besar di dalam menara. Semua itu terlihat dengan jelas pada layar proyektor yang memang dipasang untuk memudahkan para pengunjung mengetahui apa yang terjadi di dalam Bosingak. Kemunculan orang-orang itu, diiringi dengan sorak sorai yang membahana. Dengan aba-aba dari salah satu orang di menara, para pengunjung mulai menghitung mundur. Aku pun sama antusiasnya dengan orang-orang di sekelilingku. Aku berteriak sekencang-kencangnya, menumpahkan emosi yang sempat meluap-luap sepanjang hari. Sungmin oppa juga tak mau kalah. Ia ikut bergabung dalam paduan suara yang tidak terorganisir tersebut. Menghitung mundur mulai sepuluh.

“Sip! Gu! Pal! Chil! Yuk! O! Sa! Sam! I! Il!!! YEEEEAAAA!!!!!”

Bosingak pun dipenuhi dengan sorak sorai kegembiraan. Semua orang tak henti-hentinya berteriak ‘selamat tahun baru!’. Kembang api mulai diluncurkan ke udara. Menambah meriah malam tahun baru. Aku terpana menatap langit malam yang penuh warna. Inilah yang selama ini kuinginkan. Melihat kembang api di Bosingak bersama orang yang kucintai.

Kualihkan pandangan dari langit meriah. Memandang Sungmin oppa yang tersenyum lebar. Dengan penuh kegembiraan, kupeluk pemuda itu. Memeluknya dengan penuh kasih sayang. “Oppa, saengilcukhae. Saranghaeyo..” ujarku. Jika orang-orang berbahagia karena pergantian tahun, berbeda dengan Sungmin oppa yang berbahagia karena dua momen sekaligus. Pergantian tahun, dan pertambahan satu tahun umurnya. Yap! Ulang tahunnya tepat dengan hari pertama di bulan Januari.

Pemuda itu membalas pelukan. “Soonkyu-ahh, gomawo. Nado saranghae,” ucapnya lembut.

Kuakui, aku sangat beruntung memiliki Sungmin oppa sebagai kekasihku. Aku tersenyum dalam pelukannya. Mengubur kepalaku di dadanya. Dengan penuh kelembutan, dilonggarkan pelukannya. Menatap mataku dengan penuh kasih sayang sebelum kemudian mendaratkan sebuah ciuman ke keningku. Kupejamkan mataku. Merasakan kebahagiaan yang menjalari tubuhku. Aku mengklaim tahun baru kali ini sebagai tahun baru terbaik sepanjang hidupku. Aku percaya appa, eomma dan Sungjin pasti juga berbahagia di sana. Mereka pasti juga tersenyum dan sama bahagianya denganku. Appa, eomma, Sungjin.. Saehaebok manhi badeuseyo.. Saranghaeyo…

***

Aku berlari dengan sumringah. Baru saja melewatkan malam tahun baru yang menyenangkan bersama Sungmin oppa. Kubuka pintu rumah dengan penuh kegembiraan. Tiba-tiba, hidungku mencium sesuatu yang menggoda. Bau yang sangat kukenal. Daging asap! Aku segera berlari ke halaman belakang. Dan benar saja. Aku mendapati ajuma, Teayeon eonni dan Jessica di sana. Rupanya, selama aku pergi, ajuma telah sadar dari mabuknya dan bahkan mengadakan pesta tahun baru kecil-kecilan dengan dua sahabatku di halaman belakang.

“Soonkyu-ahh! Ke mana saja kau? Kau tahu, tadi ajumma pingsan. Beruntung kami datang dan menyelamatkannya,” cerocos Jessica sambil mengambil potongan daging asap dan melahapnya.

“Taeyeon eonni, Jessica.. Bukankah kalian punya acara tahun baru bersama keluarga?” tanyaku bingung.

“Kami khawatir padamu. Kau terlihat kesal dan sedih setelah minum coklat tadi. Jadi, kami memutuskan untuk merayakan malam tahun baru bersamamu,” jelas Taeyeon eonni sembari sesekali membalik daging asap di atas pembakaran.

“Lagipula, kau dan ajuma juga keluarga kami. Iya, kan?” sahut Jessica. Aku tersenyum mendengar ucapannya. Iya, benar. Jessica dan Taeyeon eonni adalah keluargaku juga. Merekalah sahabatku..

“Soonkyu-ahh, maafkan aku tadi. Aku sama sekali tidak sadarkan diri. Maklumlah, itu pertama kalinya aku mencoba soju dan rasanya sama sekali tidak enak. Aku pasti bicara yang tidak-tidak ya?” ajuma menatapku dengan tatapan bersalah. “Tapi.. lihatlah! Aku punya daging asap spesial tahun baru untukmu,” katanya sambil menyodorkan sepiring daging asap di hadapanku. Senyumnya begitu tulus hingga membuatku yakin bahwa kata-kata sumpah yang ia ucapkan tadi hanyalah ucapan orang mabuk yang tidak berarti semata.

Aku tersenyum. Dan tanpa membuang waktu, segera menyambar dan menyuap sepotong daging asap. “Hmm.. enak!” kataku sambil memejamkan mata penuh nikmat.

“Jadi, tadi kau pergi ke mana?” tanya Jessica.

Aku yang masih sibuk mengunyah daging asap, bertindak seolah tidak mendengar pertanyaannya.

“Soonkyu-ahh! Kau dengar aku tidak?” suaranya naik satu oktaf. Namun kemudian, ia menunjukkan wajah penuh keceriaan. “Ahh… aku tahu. Kau pasti pergi bersama Sungmin oppa ya?” Dan aku tersedak. Tebakannya benar seratus persen. “Tuh, kan! Tebakanku benar!” seru Jessica puas.

Aku pun melotot padanya. Berpura-pura akan memasukannya ke pembakaran jika ia bicara lebih banyak. Tapi ia tidak peduli. Alih-alih berhenti bicara, ia terus menggodaku. Berkicau tentang malam tahun baru yang romantis antara Lee Soonkyu dan Lee Sungmin. Taeyeon eonni tertawa, ia bahkan ikut menggodaku. Sementara itu, ajuma hanya mengernyit karena tidak tahu menahu tentang siapa Sungmin oppa itu.

Ahh… hari ini, batinku tersenyum. Ini semua karena aku dapat merasakan kehadiran orang-orang yang kucintai di sekelilingku. Sungmin oppa, ajuma, Jessica, Taeyeon eonni, bahkan appa, eomma dan Sungjin. Kehadiran merekalah yang membuatku semangat. Bahkan, disaat beberapa dari mereka tidak ada lagi di dunia ini, aku percaya mereka masih ada di hatiku. Aku percaya mereka masih mengawasi dan mencintaiku. Hmm.. aku peringati kau satu hal. Kegembiraan tidak akan lari darimu. Kaulah yang mengontrol kegembiraan itu sendiri. Kau yang membuatnya pergi dan kau pula yang membuatnya datang. Bahkan di saat tidak ada siapa pun di sekitarmu, percayalah bahwa masih ada orang-orang yang mencintaimu. Ingatlah mereka. Dan aku yakin, kegembiraan itu akan tumbuh subur dengan sendirinya. HAPPY NEW YEAR!! ^-^

~ The End ~

Penilaian Juri…

* Juri 1 :

– Ide Cerita : 30% x 95 = 28,5

– Alur / Plot : 25% x 90 = 22,5

– Penggambaran Karakter : 20% x 95 = 19

– Diksi / Pemilihan Kata : 20% x 90 = 18

– Teknik Menulis : 5% x 85 = 4,25

Total = 92,25

=========================

* Juri 2 :

– Ide Cerita : 30% x 80 = 23

– Alur / Plot : 25% x 80 = 20

– Penggambaran Karakter : 20% x 85 = 17

– Diksi / Pemilihan Kata : 20% x 85 = 17

– Teknik Menulis : 5% x 70 = 3,5

Total = 80,5

=========================

* Juri 3 :

– Ide Cerita : 30% x 80 = 24

– Alur / Plot : 25% x 80 = 20

– Penggambaran Karakter : 20% x 80 = 16

– Diksi / Pemilihan Kata : 20% x 90 = 18

– Teknik Menulis : 5% x 90 = 4,5

Total = 82,5

=========================

Hasil : 92,25 + 80,5 + 82,5 = 252,25 : 3 = 85

Entry filed under: Boyband, FanFiction, Friendship, Genre, Girlgroup, Indonesia, K, K-Pop, Language, Life, One Shoot, Rating, Romance, SNSD, Super Junior, Type. Tags: .

[JUARA 1] Her Salient Platonic Love [JUARA 3] My New Year

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,626 hits

Day by Day

January 2012
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: