[JUARA 1] Her Salient Platonic Love

January 6, 2012 at 12:44 AM 3 comments

Author : Actinis Muqsitha Paradista

Main Cast :

– Super Junior Kyuhyun

– 2NE1 Iris Lee ( OC )

Genre : Romance

Rating : PG-15

Lenght : 3.399 Words

Original Cover credit : prettyfashionchic.tumblr.com

 

***

First thing first, let’s meet Cho Kyuhyun

Untuk pertama kali setelah bertahun-tahun merasa dunianya berputar hanya untuk Super Junior dan ELF, dia jatuh cinta pada sosok cantik bermata hazel itu. Semuanya terasa begitu sempurna, setidaknya ketika nama dewi pelangi itu selalu terngiang di dalam kepalanya untuk menghiasi hari-harinya yang berwarna.

Then let us meet Iris Lee

Ketika ditanya apakah hal yang membuatnya begitu menyukai Kyuhyun, dia hanya bisa tersenyum sambil menjawab dengan pelan, tapi penuh dengan kepastian, “Karena dia Cho Kyuhyun,” kemudian dia tertawa dan menyilangkan lengannya di depan wajah, meminta Leeteuk untuk berhenti bertanya sementara Kyuhyun tergelak di kursinya dengan puas. Iris mengatakannya terus terang, tapi di saat yang sama berusaha menutupi kegugupan yang membuat jantungnya berdetak begitu kencang.

Kyuhyun dan Iris mungkin tidak pernah merasa memperlihatkan keintiman persahabatan mereka secara gamblang, tapi tanpa mereka menyadarinya begitu banyak orang yang menangkap sinyal berbeda yang terjadi di antara mereka berdua. Mereka saling jatuh cinta, tapi tidak seperti pasangan lain yang memilih untuk saling menyatakan perasaannya, satu di antara mereka memutuskan untuk merahasiakannya.

* * *

 “Semua orang menanyakan apa yang terjadi denganmu karena pesan yang kau tulis di twitter hari Natal kemarin,” ujar Ahra di sampingnya seraya membalik daging sapi yang sedang dipanggang,

“—Seorang gadis menolaknya dan dia membuat orang-orang bertanya kenapa hari Natal tahun ini tidak menyenangkan bagi Cho Kyuhyun, dia pintar sekali mencari perhatian orang, kan,” tambah gadis itu ketika ayah mereka menanyakan apa yang terjadi, Kyuhyun memutar bola matanya tidak peduli.

Beginilah yang terjadi bila dia berada di tengah keluarganya, dengan kakak yang tidak pernah berhenti menggodanya, dan orang tua over-attentive dengan rasa ingin tau yang terlalu besar. Dia sudah cukup terbiasa menjadi seorang maknae, dia biasa dibully.

Maka begitulah, ayahnya tertawa. Menertawakan fakta bahwa putra satu-satunya yang paling tampan dan dianggapnya sangat pintar baru saja ditolak seorang gadis, dan dia menemukan hal ini begitu lucu.

“Aku tadinya berpikir bahwa, sebagai seorang anggota Supe Junior yang terkenal, Cho Kyuhyun pasti memiliki karisma tersendiri untuk menarik perhatian para wanita di seluruh pelosok Seoul. Aku tidak menyangka ternyata masih ada saja yang tidak menyukaimu, ..”

Kyuhyun mendengus, merasa ironis mendengar kata-kata ayahnya dan kemudian melihat kenyataan yang terbentar di depan matanya, hingga ikut menertawakan dirinya sendiri.

“Apakah ini tentang Iris Lee itu?” ibunya menyahut.

Baiklah, bila ibunya sudah mulai ikut bicara itu berarti memang yang terjadi saat ini sudah cukup serius, terutama karena hal semacam ini tidak pernah dia bicarakan pada siapapun sebelumnya bersama siapapun, kecuali Siwon, dan kakaknya sendiri.

“Ah, Umma, bagaimana kau tau soal itu?” kakaknya bertanya.

“Sungmin yang memberitauku kemarin saat di kafe. Katanya Kyuhyunnie sedang sangat tergila-gila pada seorang gadis dari YG, gadis yang ternyata banyak digilai para pria juga. Kau tau, putrinya Lee Youngjung.” Katanya kemudian pada suaminya.

“Lee Youngjung? .. Ah, Lee Iris, ya ya, aku pernah bertemu dengannya. Kau menyukai gadis yang benar, Nak, dia luar biasa.”

Tentu saja, Kyuhyun mengangkat alis menjawab kalimat ayahnya. Dia lalu mendesah pelan, kenapa dari semua hal yang tidak ingin dibicarakannya harus muncul sebagai topik bahasan di dalam keluarganya. Dalam sekejap saja, memori yang sedang berusaha ditepisnya muncul kembali di ruang kosong dalam benaknya, menyebut-nyebut nama Iris Lee penuh dengan kefrustasian.

Terulang kembali kenangan di dalam kepala Kyuhyun saat pertama kali dia bertemu dengan Iris Lee, sebuah kisah yang tidak pernah diceritakannya pada siapapun, sebuah adegan yang selalu teringat dibenaknya tiap malam sebelum tidur, sebuah rahasia penanda keprivasian yang terjaga hanya di antara mereka berdua.

Hari itu di pertengahan bulan kedua di musim panas tahun 2009, hari keduanya berlibur sebagai turis solo di kota yang tak pernah mati. Ketika semua temannya di Super Junior berlibur ke pantai dan beberapa kota di belahan dunia lain menikmati hangatnya musim panas, dia memilih untuk berjemur di bawah terik matahari kota New York. Tidak pernah terbayang di kepalanya bahwa musim panas di daerah timur laut Amerika tidaklah sepanas yang dia duga, atau yang biasa dirasakannya saat di Korea. Baiklah, keadaannya mungkin akan berbeda bila saat itu memilih untuk pergi ke Los Angeles, tapi entah kenapa Kyuhyun menyukai ke’tidak panas’an hawa musim panas ini, rasanya pas sekali dengan moodnya kali itu.

Tadinya dia berniat untuk berjalan kaki ke Metropolitan Museum of Art, tapi karena jaraknya cukup jauh dari hotelnya di Central Park South, maka atas saran resepsionis, hari itu Kyuhyun menyewa sepeda untuk membawanya menyusuri Central Park melalui 5th avenue sejauh 30an blok hingga sampai di tempat tujuannya. Setelah menikmati ratusan karya seni yang dipamerkan di museum, Kyuhyun kembali mengayuh sepedanya menyusuri promenade di taman sambil menikmati pemandangan pepohonan hijau dan keramaian di pinggir sebuah danau hingga dia berhenti begitu menemukan sebuah teater terbuka berdiri megah tak jauh dari danau itu.

Kyuhyun memarkir sepedanya di pinggir teater, mengamati keramaian di sekitarnya dengan seksama dan sesekali mengabadikan saat-saat yang terasa asing itu dengan kameranya, termasuk kumpulan beberapa anak muda yang sedang berlatih drama di atas panggung teater, sambil tetap berhati-hati membenarkan topinya agar tidak terlalu menarik perhatian orang atas keberadaannya.

Excuse me, can you help, please? Take my picture?” katanya dengan bahasa Inggris patah-patah pada seorang gadis yang duduk di sebuah bangku di sudut anak tangga.

Gadis itu mengangkat wajahnya dari buku yang sedang dia baca – Catcher in the Rye karya JD Salinger, begitulah yang tertulis di halaman depan ketika dia menutupnya. Kyuhyun teringat pernah membaca buku itu untuk kelas sastra saat masih SMA, tapi dia tidak begitu menyukai bukunya karena tidak mengerti apa sebenarnya inti cerita dari seorang remaja pria yang krisis identitas dan permimpi menjadi seorang catcher, in the rye (padang gandum).

Sure,” gadis itu lalu melepas sunglassesnya setelah beberapa saat menatap Kyuhyun dalam diam, mengambil kamera dari tangan Kyuhyun dan mengambil fotonya dengan latar belakang panggung teater, lalu undakan anak tangga di belakang mereka.

Dua foto, kemudian gadis itu mengembalikan kameranya.

Are you Korean?” tanya gadis itu begitu memakai kaca matanya kembali saat melihat Kyuhyun menunduk sekilas ketika mengucapkan terima kasihnya.

“Ya, kau bisa bahasa Korea?”

“Sedikit, .. ayahku orang Korea, tapi dia tumbuh dewasa di sini. Jadi aku tidak begitu menguasai bahasanya, .. but now I’m working on it.” Kata gadis itu bangga, dengan sedikit senyum yang tersungging di sudut bibirnya.

Kyuhyun mengangguk mengerti, antara terkejut dan kagum. Lepas dari warna matanya yang jarang dimiliki oleh orang Korea, dia memang bisa melihat lekuk garis ras Asia di wajah gadis itu. Kepalanya yang kecil, rahang oval, dan mata sedang dengan garis kelopak mata yang dalam, pesona kecantikan natural yang tidak dimiliki oleh keturunan orang Korea kebanyakan.

So, what are you running away from?” tanya gadis itu kembali ingin tau. Sebuah pertanyaan yang sempat membuat Kyuhyun penasaran apakah gadis itu menanyakannya secara literal ataukah memang ada maksud lain dibaliknya, dia jadi bertanya-tanya bila gadis itu tidak mengenal wajahnya.

People,” jawabnya pendek, membuat dua alis gadis itu terangkat tapi dia tidak mempermasalahkannya lebih lanjut, seolah mengerti dengan apa yang dirasakannya saat itu.

“—Kau pernah berkunjung ke Korea?” tanyanya lagi, dengan nada biasa saja tapi penuh intrik.

Gadis itu mengangguk, lalu dia tersenyum, “Aku suka Korea, banyak hal menarik yang kutemukan di sana. Makanannya juga enak,” katanya tenang, seolah dia berhasil mengendalikan emosinya untuk tidak terlalu terlihat begitu antusias.

“Kalau kau berkunjung ke lagi ke Korea, kau pasti akan mengenaliku. Aku cukup terkenal di sana,”

“Begitukah,” gadis itu tertawa merespon kata-katanya.

Sebenarnya Kyuhyun masih ingin lebih banyak mengobrol dengan gadis itu, menemukan seseorang yang bisa diajak mengobrol dengan santai tanpa perlu khawatir lawan bicaranya akan berteriak histeris ketika mengenalinya, membuat hatinya merasa damai. Selain itu karena gadis itu pun begitu menyenangkan, terutama ketika dia berusaha menjawab pertanyaan Kyuhyun dengan bahasa Korea yang patah-patah, tapi dengan aksen yang sempurna. Dia merasa tidak pernah tertawa senyaman itu ketika bicara dengan seorang gadis.

Iris! Let’s go!

Kedua pasang mata mereka tertuju pada suara yang sama dari atas panggung, kerumunan anak muda itu membubarkan diri begitu menyelesaikan latihan mereka.

“Aku harus pergi, .. senang bertemu denganmu!” gadis itu lalu beranjak dan menyusul teman-temannya pergi bersama mereka setelah menunduk sekilas berpamitan dan melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan,

“—Selamat berlibur!”

Kyuhyun mengangkat tangannya membalas lambaian gadis itu. Dan Iris, adalah nama yang terus terngiang di telinganya selama beberapa hari ke depan dia menghabiskan liburannya di New York.

Dia tidak lagi pernah melihat gadis itu ke manapun dia pergi selama berjalan-jalan menyusuri kota dan benar-benar kehilangan jejaknya, hingga setahun kemudian dia melihat gadis yang sama berdiri di tengah anggota girl group andalan YG Entertainment. CEO Yang Hyun Suk mengenalkannya sebagai anggota kelima 2NE1, melengkapi kegenapan empat anggota bandnya, yang dengan cepat menarik perhatian seluruh pria di pelosok Seoul dengan kemisteriusannya.

~

Wae, Hyung?” Kyuhyun bertanya curiga melihat ekspresi di wajah Siwon setelah dia bercerita tentang Iris. Siang itu Siwon menjemputnya di rumah selesai berkumpul dengan keluarga seusai misa Natal, setelah sejam sebelumnya Kyuhyun mengirimkan pesan pendek melalui sms bahwa ada hal yang ingin dibicarakannya.

“—Hyung, wae irae?”katanya lagi menanyakan arti dari keheningan Siwon begitu Kyuhyun menceritakan kembali tiap detail pertemuannya dengan Iris tiga hari sebelumnya, sebuah pembicaraan paling serius yang pernah dilakukannya, dengan melibatkan kemantapan dan ketulusan hatinya yang terdalam, saat Kyuhyun mengungkapkan segala perasaannya pada gadis bermata hazel itu, hanya untuk menemukan bahwa sang gadis tidak memiliki perasaan yang sama dengannya, atau setidaknya begitulah yang gadis itu katakan.

Siwon merapatkan bibirnya, menghindari kedua mata Kyuhyun seraya mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Setelah lebih dari lima tahun mengenal hyung-nya yang satu itu, Kyuhyun cukup mengerti untuk bisa mengartikan bahwa gestur yang ditunjukkannya saat itu menunjukkan bahwa memang ada suatu yang Siwon sembunyikan darinya, dan dia sedang menyusun kata-kata agar bisa memberitaukannya pada Kyuhyun tanpa membuat keadaan menjadi lebih rumit.

“Err, .. ada sesuatu yang harus kau tau. Tapi setelah mendengar hal ini, berjanjilah untuk membicarakannya baik-baik dengan orang-orang yang akan kusebut namanya.”katanya kemudian, memulai penjelasannya.

“Orang-orang? Itu berarti lebih dari satu?”

Siwon menyeruput kembali caramel macchiato di hadapannya, lalu menaruhnya di atas meja sebelum kembali menatap Kyuhyun dengan serius,

“Dua minggu yang lalu Hyukjae hyung memberitauku bahwa dia sempat bicara dengan Iris hanya berdua, tentang hal yang serius. Setelah itu Donghae, dia bercerita tentang hal yang sama, seminggu yang lalu ..” katanya mengingat-ingat, “Ini berarti sebelum kau menyatakan perasaanmu pada Iris, Hyukjae Hyung dan Donghae telah mendahuluimu.”

Kyuhyun kembali mendengus ketika obrolannya dengan Siwon terputar di dalam kepalanya. Dari semua hal yang diinginkannya hari itu, dia tidak pernah menyangka bahwa kebenaran semacam ini yang diberikannya oleh dua orang yang dihormatinya di dalam grup sebagai hadiah Natal.

“Setelah Natal yang menyedihkan …”

Begitulah dia kemudian menulis di twitternya, karena tidak tau lagi bagaimana menunjukkan rasa kesal dan frustasinya dengan apa yang didengarnya hari itu.

Ini tidak adil! Kyuhyun mengumpat di dalam hati.

Kini dia mengerti kenapa Iris terlihat sedikit menjaga jarak dengannya sejak beberapa minggu sebelumnya, ketika dia menghubungi gadis itu saat sedang berada di Taiwan atau ketika membalas pesannya lewat sms. Saat tadinya dia berpikir hal itu dikarenakan tekanan beberapa fans yang menyadari kedekatan mereka mulai menganggu ketenangan Iris, dia tidak menyangka ternyata ada penyebab lain yang memicu perubahan sikapnya.

Dia memang tidak pernah membicarakan hal ini dengan para hyungnya sebelumnya. Sebagai orang yang cenderung tertutup untuk masalah tentang hatinya, Kyuhyun cenderung untuk menyimpannya hanya untuk dirinya sendiri. Tapi tadinya dia mengira bahwa semua hyungnya cukup mengerti tentang garis besar eforianya terhadap gadis itu dengan seringkali menandai dominasinya, dengan mengatakan “Iris Lee milikku,” tiap kali gadis itu muncul di layar kaca, atau terdengar namanya di antara mereka ketika menjadi sebuah topik bahasan.

Para anggota Super Junior pernah memiliki peraturan tidak tertulis yang mengatakan bahwa mereka tidak boleh “mengincar” orang yang sama, karena itulah Kyuhyun tidak pernah berpikir bahwa akan ada yang mendahuluinya mengejar sosok berwajah peri itu. Dan meskipun begitu, Kyuhyun tidak berniat untuk membicarakannya dengan baik-baik bersama Donghae dan Hyukjae. Lebih tepatnya, dia sama sekali tidak tertarik untuk membahasnya lebih lanjut, karena apapun yang terjadi Iris telah menetapkan jawaban pasti kepada mereka bertiga.

“Tidakkah kau berpikir kalau itu alasannya dia menolakmu? Kenapa kau tidak mau mengakui kenyataan bahwa Iris Lee memang tidak menyukaimu, daripada segala prasangka  tentang Donghae atau Hyukjae yang juga mengutarakan perasaan mereka di saat bersamaan?”

Pertanyaan kakaknya membuat Kyuhyun mengernyit, apakah perlu dia menjawab pertanyaan itu?

“Apakah saat itu kau mengenaliku? Ketika aku memintamu mengambil fotoku diteater, atau saat kita mengobrol setelahnya?” tanya Kyuhyun ketika hanya tinggal mereka berdua saja setelah menurunkan Minho dan Kibum di depan kantor SM.

Hari itu mereka baru selesai menonton the Harry Potter bersama dengan anak-anak SM yang lain,untuk pertama kalinya Kibum berhasil mengajak Iris pergi bersama mereka dan pertama kalinya pula Kyuhyun bertemu dengannya secara informal di luar panggung.

“Aku mengenalimu,” jawab gadis itu tenang sambil sekilas menoleh pada Kyuhyun sebelum mengalihkan wajahnya kembali keluar jendela.

“Kenapa kau tidak mengatakannya, kalau kau mengenaliku saat itu?”

Iris memiringkan kepalanya, berpikir, “Kurasa karena Oppa tidak menginginkannya. Saat itu kau mengatakan padaku bahwa kau sedang menghindari keramaian, aku hanya memberimu apa yang kau inginkan. Privasi.”

Tadinya Kyuhyun tidak pernah berpikir untuk menyukai Iris Lee, atau lebih tepatnya, gadis itu telah membuatnya jatuh cinta. Sejak awal kehadirannya di layar kaca industri musik, orang-orang mulai banyak membicarakan latar belakang sejarah kehidupannya. Dari yang Kyuhyun dengar dari obrolan para staffnya di kantor, sebelum Iris bergabung bersama YG, gadis itu cukup terkenal di Amerika sebagai seorang debater internasional dan aktivis sosial yang aktif dalam mengkampanyekan pentingnya pendidikan dini bagi anak-anak di bawah 15 tahun sejak gadis itu masih duduk di bangku SD. Dia hidup berdua hanya dengan ayahnya setelah ibunya meninggal bertahun-tahun yang lalu ketika melahirkan adik bungsunya, menjadikannya sebagai satu-satunya keturunan William Lee Youngjung, seorang profesor Advance Law pemilik Lembaga Bantuan Hukum yang cukup besar di kota New York.

Iris Lee, meskipun disibukkan dengan jadwalnya yang segudang bersama 2NE1, terkenal sebagai seorang mahasiswa berprestasi di kelasnya. Berkuliah di jurusan International Affair kelas internasional Universitas Kyunghee, dan dari yang Kyuhyun dengar (sekali lagi, dari mencuri-curi dengar obrolan para staffnya) gadis itu bahkan tidak pernah melewatkan kelasnya dan selalu meminta rekaman kegiatan belajar bila dia tidak bisa hadir secara langsung di dalam kelas atau mengikuti kegiatan belajar mengajar melalui teleconference. Bulan September lalu dia bahkan menjadi salah satu delegasi Korea Selatan untuk menghadiri konferensi internasional One Young World di Zurich selama 4 hari, di tengah kesibukannya menyiapkan konser  NOLZA bersama anggota bandnya yang lain.

Pria manapun di dunia ini pasti mendambakan gadis seperti Iris Lee, dan di saat yang sama merasa rendah diri hanya dengan membayangkan wajah gadis itu di dalam benak mereka. Atau setidaknya begitulah yang Kyuhyun rasakan.

Dia begitu menyukai Iris dengan segala kelebihan dan kekurangan yang gadis itu miliki, dan menginginkan gadis itu menjadi hanya miliknya seorang. Tapi di saat yang sama, dia merasa tidak memiliki apapun untuk mengimbangi kesempurnaan peri cantiknya itu.

“Iris Lee adalah penyebab para anggota 2NE1 terlihat seperti orang-orang yang sangat susah didekati. Mereka masing-masing memiliki karisma yang tak akan bisa kau tolak, dan seperti yang terlihat di luar, memang tidak mudah menaklukkan seorang Iris. Dia menyukai pria yang cerdas, .. bila kau masih membutuhkan lebih dari 2 detik untuk mencari jawaban 8×4, jangan harap dia akan melirikmu,” ujar Kibum dalam sebuah episode di Strong Heart ketika membicarakan tentang Iris Lee, sebagai seorang teman yang dikenal paling dekatnya dari semua selebritis di Korea.

Dahinya berkerut ketika mendengar kalimat itu terucap dari mulut Kibum. Persyaratannya sangat berat, begitulah respon yang diserukan oleh tamu lain yang datang, tapi di pihak lain kalimat itu membuatnya tertawa terbahak-bahak, dan dengan begitu dia memberanikan diri untuk bicara langsung dengan Iris dan meminta nomor ponselnya ketika 2NE1 berkunjung ke Sukira beberapa hari berikutnya.

Benarkah Iris tidak menyukainya?

Bahkan Kyuhyun sendiri ragu apakah dia harus mempercayai kata-kata itu. Gadis itu menjawab pesan smsnya dengan cepat begitu dia mengucapkan selamat tidur di hari yang sama rekaman radio Sukiranya. Iris selalu membalas menghubunginya bila tidak sempat mengangkat telpon ketika sedang terlalu sibuk melakukan sesuatu, mereka seringkali berbalas pesan melalui direct message di twitter, dan tidak segan tertawa terbahak di depannya ketika dia melakukan hal lucu saat berkumpul bersama teman-teman mereka.

Bila semua hal yang Iris lakukan bukanlah karena gadis itu memiliki perhatian lebih untuknya, lalu alasan logis apa lagi yang bisa menjelaskan semua ini.

~

“Bila seperti itu, kurasa aku akan menyuruhnya untuk mengikuti kemana hatinya pergi. Entah itu kau, atau pria lain yang dipilihnya.” Kata kakaknya lagi seraya memotong daging yang telah matang ke atas piring dengan guntingnya.

“Tapi bukankah dengan begitu malah bagus? Ibu malah berpikir, kalau memang Iris menolak kalian bertiga karena kalian datang dari satu grup, itu berarti dia tidak egois. Dia tidak membiarkan dirinya terbawa oleh perasaan hanya untuk menyenangkan dirinya sendiri, tapi dia memikirkan kau dan teman-temanmu. Dia hanya berusaha untuk tidak menempatkan kalian bertiga dalam keadaan sulit hanya karena memilih salah satu di antara kalian, menganggap persahabatan kalian lebih penting daripada hatinya sendiri, dan itu sangatlah luar biasa. … Bila, dia memang menyukai salah satu di antara kalian.” Ibunya menambahkan dengan penjelasan panjang.

Kyuhyun mengisi kembali gelasnya yang kosong dengan wine hingga setengah penuh, kemudian meneguknya habis dalam tiga kali telan. Setelah memikirkannya berulang kali, begitu mendengar kata-kata ibunya, Kyuhyun merasa sangat egois. Selama ini dia hanya memikirkan perasaannya sendiri tanpa pernah berpikir bahwa mungkin Iris merasa tertekan dengan segala tudingan dari para Sasaeng fans yang terlalu fanatik menindak lanjuti kedekatan mereka. Dia merasa begitu jahat menuding dua sahabatnya sendiri berkhianat hanya karena melakukan sesuatu yang tidak pernah mereka bicarakan bersama sebelumnya. Kyuhyun tidak bisa menyalahkan mereka tentu saja, karena dalam hal ini dialah yang tidak pernah jujur dengan perasaannya sendiri. Kyuhyun tidak pernah mengakui secara gamblang keseriusan perasaannya terhadap Iris, dia tidak mempercayai sembilan saudara pria yang dia tau akan selalu hadir untuknya, untuk mengatasi bersama apapun permasalahan yang mengganggu ketenangan hatinya. Kapanpun, di manapun.

Ketika di saat yang sama Kyuhyun merasa hatinya hancur berkeping-keping dengan kenyataan bahwa keegoisannya telah menyakiti tidak hanya dirinya sendiri, tapi juga dua sahabatnya, .. dan kemungkinan juga hati gadis itu.

Dan satu-satunya hal yang bisa dilakukannya saat ini untuk menebus kesalahannya, adalah dengan mengelak.

Saat ini lebih mudah baginya menerima bahwa Iris memang tidak memiliki perasaan apapun padanya, atau kedua sahabatnya, daripada berpikir bahwa gadis itu menolaknya karena berusaha melindungi ikatan persahabatan di dalam keeratan persaudaraan Super Junior. Gadis itu masih terlalu muda, dia hanya membutuhkan lebih banyak waktu untuk berpikir kembali menentukan prioritasnya, dan melihat siapakah pria terbaik yang akan mendampinginya nanti, siapapun itu.

Kyuhyun beranjak dari kursinya dan bersandar di pagar pembatas, menatap kerlap kerlip lampu rumah-rumah di sekitarnya. Sambil menghitung mundur detik demi detik di dalam hati, Kyuhyun mulai menyusun beberapa hal yang ingin dilakukannya tahun depan.

4 ..

Misi perjalanan solo ke Amerika Selatan, mengaransemen satu lagu untuk dimasukkan ke dalam album Super Junior,

3 ..

membantu mengajar musik di akademi ayah tanpa pemberitaan media, mengurangi minum alkohol, ..

2 ..

Umm, .. belajar bermain cello supaya bisa berduet dengan nuna …

1 ..

“Selamat tahun baru!!”

Kepala Kyuhyun terdongak ke atas langit, di mana warna-warni kembang api memenuhi langit tinggi gelap jauh dari Banpo Bridge. Dari dalam saku mantelnya dia merasa beberapa kali ponselnya bergetar, mungkin beberapa sms yang dikirimkan oleh teman-temannya mengucapkan salam dan harapan tahun baru. Dia membiarkan ponselnya terus bergetar tanpa suara, tidak berniat untuk melihat pesan siapa saja yang datang untuknya.

Sambil menatap kembang api terpecah begitu indah di angkasa, Kyuhyun tersenyum lebar membayangkan hal-hal menarik yang akan terjadi begitu tahun berganti dengan penuh harapan,

“Apa yang ingin kau lakukan tahun ini?” tanya kakaknya yang entah sejak kapan telah berdiri di sampingnya, sekilas menoleh padanya sebelum kemudian menatap hal sama di atas kepala mereka.

“Aku ingin mengejarnya kembali. Tahun lalu aku terlalu terburu-buru bertindak, .. tahun ini, aku akan melakukannya dengan lebih cerdas dan tertata, dengan begitu suatu saat nanti dia akan melihatku sebagai seseorang yang berbeda.” Kyuhyun menoleh menatap kakaknya dan tersenyum simpul,

“—Kukatakan padamu bahwa aku benar-benar menyukainya, dan aku akan mengatakan hal ini sekali lagi agar semua orang mengetahuinya.”

* * *

Saat yang sama, di sudut belahan bumi yang lain, .. hujan salju akhirnya berhenti turun setelah semalaman membekukan kota New York. Ketika Iris keluar rumah pagi-pagi sekali, bersama ayahnya berjalan kaki dari apartemennya menyusuri 79th Street Transverse, menatap anak-anak TK dari Philosophy Day School yang bermain di pinggir Turtle Pond, menikmati hari yang cerah di akhir penghujung tahun. Mereka baru berhenti di Delacorte Theater, duduk di tengah anak tangga, menonton beberapa pekerja membangun panggung yang akan digunakan untuk pertunjukkan Open Air Movie yang selalu diadakan di malam pergantian tahun. Dari poster yang dipasang di beberapa tempat di sekitar Central Park, kali ini mereka akan menayangkan salah satu film andalan Fassbinder, Querelle, yang merupakan kesukaan ayahnya, jadi mereka berniat untuk menonton film itu bersama malam ini, menghabiskan waktu hanya untuk mereka berdua saja.

Iris mengedarkan pandangannya ke semua arah sejauh matanya memandang, mengamati orang-orang berlalu lalang di atas panggung, sepasang suami istri yang sedang duduk beristirahat dan mengobrol penuh canda membicarakan anjing mereka yang baru saja melahirkan 5 anak anjing yang lucu sekaligus memperdebatkan nama-nama calon orang tua baru bagi mereka, seolah anjing-anjing ini adalah bayi yatim-piatu yang membutuhkan kasih sayang orang dewasa dengan penuh tanggung jawab.

Senyumnya sekilas muncul di sudut bibirnya, membayangkan bagaimana keadaannya bila saat itu ibunya masih berada di antara mereka, perdebatan macam apa yang diributkan kedua orang tuanya, lalu obrolan ‘khusus wanita’ macam apa yang akan mereka lakukan tiap malam sebelum tidur, atau tiap kali ibunya menelpon disela kesibukannya bersama 2NE1. Hingga matanya tertuju pada suatu sudut di ujung anak tangga yang membuat memorinya kembali terputar di dalam kepalanya.

Sepertinya baru kemarin di duduk di sana, berusaha menamatkan Catcher in the Rye yang telah dia tunda selama hampir tiga bulan sejak pertama kali membelinya karena terlalu sibuk berlatih sebagai trainee di YG. Satu-satunya hal yang berbeda dari pemandangan dua tahun yang lalu hanyalah tumpukan salju yang menutupi beberapa tempat undakan teater dan hawa yang jauh lebih dingin daripada hangatnya sinar matahari saat musim panas tahun itu.

“Haah, .. saat ini pasti sudah tahun baru di Seoul,” kata-kata ayahnya membubarkan lamunan Iris, membuatnya tidak sadar menegakkan kembali punggungnya dan kembali tersenyum,

“—Tidak menghubungi teman-temanmu mengucapkan selama tahun baru?”

“Aku meninggalkan ponselku di rumah, ..”

“Ada apa? Apa yang kau pikirkan?”

Iris mengangkat bahunya,

“Aku bertemu dengannya di sini dua tahun yang lalu, .. saat itu, ketika keadaannya tidak serumit ini.”

“Kurasa keadaannya tidak pernah serumit apapun itu. Kalau kau memang menyukainya, kenapa tidak kau katakan saja padanya apa yang kau rasakan?”

“Dad, jika saja aku bisa melakukannya hanya untuk melindungi perasaanku sendiri. Tapi yang terjadi bukan hanya tentangku atau dia, .. dunia kami berputar di poros yang berbeda,”

“Aku tidak mengerti kenapa kau menyiksa dirimu sendiri seperti ini, .. Kyuhyun pria yang baik, dia pintar, aku kenal orang tuanya. You will make a good couple together, ..”

Some people are meant to fall in love with each other, Dad, but not meant to be together. .. As for our case, we’re just simply not.” Iris mengatakannya dengan senyum mengembang di wajahnya, tapi di saat yang sama dia menghapus air mata yang mengalir di pipinya.

I’m fine, Dad, .. aku akan melupakannya. Aku pasti bisa …”

Ayahnya mengangguk, menepuk punggungnya pelan. Dan dengan begitu, tanpa Iris bisa mengendalikannya lebih lama, air matanya mengalir deras membasahi wajahnya. Hari itu dia hanya ingin menangis sampai puas, karena tidak ada lagi yang bisa membuatnya lebih baik selain menangisi kepingan hatinya yang tidak akan pernah tertata kembali seperti semula.

Dan begitulah Iris menghindari kenyataan dan pergolakan yang terjadi di dalam hatinya. But once and for all, knowing her heart never changes, that man will always be her most salient platonic love, without him to know; and without her knowing the biggest present prepared as she walks back down that road.

~ The End ~

Penilaian Juri…

* Juri 1 :

– Ide Cerita : 30% x 95 = 28,5

– Alur / Plot : 25% x 80 = 20

– Penggambaran Karakter : 20% x 90 = 18

– Diksi / Pemilihan Kata : 20% x 95 = 19

– Teknik Menulis : 5% x 80 = 4

Total = 89,5

=========================

* Juri 2 :

– Ide Cerita : 30% x 85 = 25,5

– Alur / Plot : 25% x 90 = 22,5

– Penggambaran Karakter : 20% x 90 = 18

– Diksi / Pemilihan Kata : 20% x 90 = 18

– Teknik Menulis : 5% x 90 = 4,5

Total = 88,5

=========================

* Juri 3 :

– Ide Cerita : 30% x 80 = 24

– Alur / Plot : 25% x 85 = 21,25

– Penggambaran Karakter : 20% x 85 = 21,25

– Diksi / Pemilihan Kata : 20% x 85 = 17

– Teknik Menulis : 5% x 85 = 4,25

Total = 82,5

=========================

Hasil : 89,5 + 88,5 + 82,5 = 260,5 : 3 = 86, 8

Entry filed under: Boyband, FanFiction, Genre, K-Pop, One Shoot, PG, Rating, Romance, Super Junior, Type. Tags: .

[FREELANCE] Don’t Don’t Part 3 [JUARA 2] Happiness Is in You

3 Comments Add your own

  • 1. shalina'okkey  |  January 7, 2012 at 5:53 PM

    menarik banget, ide ceritanya jarang ada. Bahasanya memang bagus banget. pokoknya menyentuh. chukkae ya!

    Reply
  • 2. ChoiCho98  |  January 10, 2012 at 6:20 PM

    kayak novel-novel inggris gitu, yah, bahasanya xD ! Chukkae ^^. keep writing🙂.

    Reply
  • 3. moveontime  |  July 10, 2012 at 3:52 PM

    wajar menang,, fresh idea of ff..
    ^_^

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,626 hits

Day by Day

January 2012
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: