[FREELANCE] Winter Melody

January 3, 2012 at 3:09 AM 2 comments

Title: (FREEFICTION) Winter Melody

Auhtor : flow

Casts: Cho Kyuhyun, Park Min Rin (Oc), Park Gyuri

Rating: PG-13

Genre: Romance

Length: One-shoot

Summary: Kau itu seperti salju…

Warning!: Maaf kalau banyak typo-nya. Semoga suka sama casts dan alurnya. Thanks!

***

Kau itu seperti salju…

Salju itu dingin tapi bisa menyejukkan hatiku. Ingin kugenggam selamanya, tapi tak bisa, karena sudah terlanjur mencair.

Kau itu dingin tapi bisa menyejukkan hatiku. Ingin kumiliki selamanya, tapi tak bisa, karena sudah terlanjur pergi.

Pusat Kota Seoul masih terlihat ramai dengan masih banyaknya pejalan kaki yang meramaikan pinggiran jalan, taman, toko, café, dan tempat kunjungan lainnya. Butiran salju yang turun cukup deras, tak mengurungkan niat seorang pun untuk tetap berjalan-jalan di luar. Bahkan ada beberapa orang yang khusus keluar untuk menikmati indahnya salju yang turun. Jalanan pun terlihat ramai mobil maupun bus. Saat lampu merah menyala, terlihat sekelompok orang-orang sibuk untuk menyebrang jalan. Beberapa toko yang menjual item-item berbau natal pun terlihat ramai dikunjungi banyak keluarga, untuk memeriahkan suasana natal mereka.

Tak lepas dari musim yang disandang Kota Seoul sekarang, semua orang pun terlihat berbalutkan komposisi pakaian yang sama. Baju atau blous sebagai dalaman, kemudian mantel ataupun jaket tebal di luarnya, celana panjang berbahan hangat, syal rajutan  yang lembut, kupluk, dan tak lupa boot dengan berbagai model sebagai alas kaki. Di taman terlihat anak-anak sibuk berlomba membuat boneka salju yang lucu bahkan ada yang aneh, atau ada juga yang sedang perang, saling melempar bola salju.  Dinginnya butiran salju membuat hidung dan pipi putih mereka merah, tapi sepertinya anak-anak itu tak peduli dengan keadaan wajahnya.

Seorang pria baru saja keluar dari sebuah tempat kursus piano. Dia berjalan semakin menjauhi tempat itu sambil tetap memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel hitamnya, menjaganya agar tetap hangat. Semakin lama dia semakin mempercepat langkahnya menuju halte, karena salju dirasanya semakin deras turun. Ketika dia melewati taman yang dipenuhi anak-anak yang bermain, langkah kakinya terhenti. Pria itu terdiam sesaat melihat tingkah serta tawa dari anak-anak itu. Matanya tak berkedip memperhatikan mereka. Ditambah lagi, melihat anak-anak itu membuat otaknya diperintahkan untuk memutar seluruh ingatannya. Sedetik kemudian, tanpa perintah otaknya, kedua bibirnya tertarik membentuk senyuman lalu berubah menjadi tawa kecil. Pria itu mengeluarkan tangan kanannya dari saku. Tangan telanjangnya dia tengadahkan ke atas  dan sebutir salju pun jatuh di sana. Aneh, dia tidak merasa dingin sedikit pun. Justru salju itu membuatnya mengingat kembali kenangan indah dan hangat itu. Kenangan yang akan abadi di otaknya.

***

            Kyuhyun baru saja menyelesaikan pekerjaannya sebagai guru vocal dan piano. Dia melangkahkan kakinya keluar dari tempat kursus itu. Baru saja satu langkah kakinya menginjak jalan di luar, satu per satu salju mulai turun. Kyuhyun menengadahkan kepalanya keatas dan sebutir salju jatuh tepat di hidungnya. Dia ingin mengambilnya tapi salju itu sudah terlanjur menjadi air. “Welcome winter!” Bisiknya pelan sambil tersenyum polos. Kyuhyun sangat menyukai musim dingin. Entahlah mengapa, tapi menurutnya musim dingin itu indah dan menyejukkan hati.

Kyuhyun melanjutkan berjalan untuk menuju halte. Tadi Eomma-nya sudah menelepon dan menyuruhnya untuk datang ke rumahnya, karena ada acara makan malam bersama keluarga besar Cho. Namun langkahnya terhenti begitu saja saat melewati sebuah taman. Diam-diam, Kyuhyun terlihat begitu antusias memandang pemandangan di taman itu. Padahal bagi banyak orang itu bukanlah sesuatu yang menarik, tapi tidak menurut Kyuhyun.

Seorang gadis berambut ikal dan panjang terlihat bersama beberapa anak-anak yang kira-kira berusia 5-8 tahun. Gadis itu sedang bermain bersama anak-anak itu. Mereka terlihat riang bermain dengan butiran salju yang turun. Anak-anak itu lari kesana kemari dan gadis itu mengejar mereka semua sambil tertawa renyah. Begitu manis dan polos, batin Kyuhyun.

“Ibu Guru, salju indah sekali bukan?” Kata seorang anak perempuan berambut pendek.

“Ne. Bu Guru, aku suka sekali musim dingin, karena bisa bermain salju seperti ini.” Kata seorang anak lagi yang kali ini anak laki-laki.

“Ibu Guru juga sangat suka musim dingin kan?” Tanya salah seorang dari anak-anak itu.

Dengan senyum yang amat manis, gadis itu menjawab, “Ne. Ibu Guru suka musim dingin dan salju. Suka sekaliii!” Dia lalu tertawa yang membuat matanya hanya tinggal segaris saja.

Itulah yang menarik perhatian Kyuhyun. Mendengar percakapan mereka pun membuat Kyuhyun tersenyum. Melihat gadis itu tersenyum hati Kyuhyun terasa sejuk. Kyuhyun seperti melihat malaikat-malaikat yang turun dari nirwana. Sekilas Kyuhyun melirik jam tangannya, “Astaga! Aku lupa harus cepat-cepat.” Tanpa pikir panjang, Kyuhyun langsung beranjak dari tempatnya berdiri, tapi kemudian dia berhenti dan membalikkan badannya, kembali melihat kearah gadis dan anak-anak itu. Semoga, kita bertemu lagi, doa Kyuhyun dalam hati.

***

            Keesokan harinya, saat Kyuhyun selesai bekerja, dia kembali menyempatkan diri untuk melihat pemandangan yang sama di taman kemarin. Sampai tiga hari berturut-turut pun demikian, dia selalu menantikan dirinya melihat mereka. Tidak bukan mereka semua, tapi gadis itu. Gadis yang selalu bersama anak-anak di taman dan menemani mereka bermain salju. Dari awal Kyuhyuh melihatnya, dia sudah tertarik dengan gadis itu. Hatinya sudah dipikat begitu saja oleh kepolosan gadis itu. Gadis itu mengingatkannya padahal satu hal, dan itu…

“Permisi, Hyung! Apa yang Hyung lakukan disini?” Suara seorang anak menyadarkannya. Kyuhyun memperhatikan anak itu, sepertinya dia mengenal anak ini.

“Oh, tidak ada. Hyung hanya tertarik pada boneka salju ini.” Kata Kyuhyun sambil menunjuk boneka salju yang berada di sebelahnya.

“Ini boneka salju buatanku, Hyung. Aku membuatnya dengan Bu Guru Min Rin.” Balasnya sambil memegang puncak kepala boneka itu.

“Nuguya (siapa)? Min Rin?” Tanya Kyuhyun memastikan.

“Ne.  Bu Guru Min Rin.” Anak itu mengangguk mantap.

“Apakah dia gadis yang sering menemani kalian bermain di sini?”

“Ne.Dia adalah guru dan teman bermain kami. Dia sangat baik, cantik pula. Dia seperti bidadari.” Jawab anak itu sambil tersenyum sehingga menampakkan kedua gigi kelincinya. Begitu lucu.

Kyuhyun mengangguk. “Lalu, sekarang kemana dia? Hyung tidak melihatnya.”

Anak itu langsung tertunduk lemas, dia menghembuskan nafasnya panjang dan menggembungkan kedua pipinya yang chubby itu. Kyuhyun berjongkok dan merangkul pundak anak itu. “Wae?”

“Ibu Guru sedang sakit. Dia sering sekali sakit, kami sedih kalau belajar dan bermain bukan dengannya.”

Kyuhyun hanya terdiam dan tak tahu harus mengatakan apalagi. Tapi, dia menyempatkan untuk menanyakan dimana anak itu bersekolah dan yang pasti itu adalah tempat bekerjanya gadis itu, gadis bernama Min Rin.

***

            Esoknya, Kyuhyun pergi ke sebuah sekolah, dan baru dia sadari, ternyata di sana adalah sekolah khusus bagi penderita kanker. Anak-anak dengan harapan hidup yang tak pasti. Dia merasa miris, ternyata dibalik tawa riang anak-anak yang selama ini dilihatnya di taman itu, mereka semua menyimpan penyakit yang kapan saja bisa merenggut nyawa mereka.

Setelah bertanya-tanya, ternyata memang benar gadis bernama Min Rin itu bekerja di sana. Min Rin merupakan salah satu guru di tempat itu. Kyuhyun pun mendapat informasi bahwa sudah dua hari ini Min Rin tidak masuk kerja karena sakit. Segera saja Kyuhyun meminta alamat rumah sakit tempat Min Rin dirawat. Dia begitu antusias untuk mengenal gadis itu lebih jauh lagi.

Sampainya dia  di rumah sakit itu, Kyuhyun langsung bertanya pada pegawai yang ada di bagian informasi dimana kamar rawat Park Min Rin. “Di lantai 3, kamar 133.” Jawab si pegawai. Setelah mengucapkan terima kasih, Kyuhyun bergegas naik lift menuju lantai 3. Dan disinlah Kyuhyun berdiri, tepat di depan pintu bernomor 133 atas nama Park Min Rin. Kyuhyun memegang knop pintunya, memutarnya, dan jantungnya berdetak kencang sekali. Dia menarik nafas sebentar dan mengumpulkan keberanian. Dia takut gadis itu akan teriak dan mengusirnya. Terang saja, dia kan tidak mengenal Kyuhyun.  Tapi, Kyuhyun tetap memberanikan diri dan masuk, dan hasilnya… nihil. Tak ada seorang pun di kamar itu. Dia keluar lagi dan mengecek apa benar di kamar ini, dan hasilnya benar, kamar ini memang atas nama Park Min Rin. Tapi dimana gadis itu?

Kyuhyun melangkah keluar kamar itu dengan lemas. Lemas karena tujuannya datang kesini tak ditemuinya. Lebih baik pulang saja, pikirnya. Melangkahlah dia menuju pintu keluar rumah sakit itu. Saat melewati taman rumah sakit, matanya menangkap sosok yang dikenalinya. Gadis manis dengan rambut panjangnya yang ikal. Itu Park Min Rin! Hati Kyuhyun bagaikan melayang di awan, ketika pada akhirnya dia berhasil bertemu gadis itu. Kyuhyun memperhatikannya dari jarak yang cukup jauh. Gadis itu sedang duduk di bangku taman yang panjang, tepat berada di bawah sebuah pohon yang sudah putih tertutup salju. Tanpa sadar, kakinya melangkah begitu saja semakin mendekati gadis  itu. Saat jarak mereka sudah dekat, baru dia sadari bahwa gadis itu hanya berbalutkan piyama rumah sakit yang bahannya tidak tebal. Apa dia tidak kedinginan? Batin Kyuhyun.

“Kalau kamu duduk di situ terus hanya dengan pakaian yang seperti itu, sakitmu akan bertambah parah.” Kyuhyun mendekati gadis itu dan duduk di sebelahnya. Gadis itu kaget karena kedatangan Kyuhyun. Kyuhyun melihatnya dan tersenyum. “Hi!” Namun yang didapatinya bukan balasan senyuman juga, malah gadis itu langsung beranjak pergi.

“Yah! Mau kemana?” Tak ada tanggapan, gadis itu tetap berjalan menjauh tanpa mau berbalik sedikitpun. “Huh… Gadis aneh.”

Hari-hari dimana Kyuhyun datang mengunjungi Min Rin di rumah sakit pun terus berlanjut. Setiap hari Kyuhyun datang, baik sebelum dia pergi bekerja atau terkadang setelah jam kerjanya selesai. Kyuhyun selalu datang, walaupun tidak ditanggapi sama sekali. Sejak dia menemui gadis itu dan mengajaknya berkomunikasi, gadis itu tak pernah sekalipun menjawab Kyuhyun. Dia pasti akan langsung pergi meninggalkan Kyuhyun. Kyuhyun sampai heran, apa yang terjadi? Apa gadis itu bisu? Dia rasa tidak. Dia ingat betul, dia pernah melihat gadis itu bicara pada anak-anak di taman waktu itu, tapi mengapa sekarang jadi seperti orang bisu?

Kyuhyun memandang senang benda di tangannya. Sekotak ice-cream choco-strawberry yang dibungkus dengan tas khusus yang dapat menjaga agar ice-cream itu cepat mencair. Dia berjalan menyusuri koridor rumah sakit hendak menuju ke taman. Mengunjungi kunjungan wajibnya belakangan ini. Seperti biasa, dilihatnya gadis itu sedang duduk merenung di bangku taman. Kyuhyun duduk di sebelahnya dan menyodorkan ice-cream bawaannya. “Ini. Aku dengar dari murid-muridmu, kalau kamu suka ice cream. Makanlah, itu akan membuat perasaanmu jauh lebih baik.”

Lagi, gadis itu hanya diam dan langsung beranjak pergi. Kali ini Kyuhyun tidak tinggal diam. Ditahannya lengan gadis itu, “Sebentar! Kenapa selalu menghindariku, huh? Apa aku ada salah? Tolong sekali ini jangan pergi, hanya tetap duduk disini dan menemaniku, itu sudah cukup.” Kyuhyun melepaskan pegangannya. Min Rin diam, tapi kemudian langsung berbalik dan kembali duduk di bangku itu. Dia membuka kotak ice cream itu dan mulai menikmatinya.

“Gomawo.” Kyuhyun tersenyum senang dan kembali duduk lagi. Dia senang gadis itu mau mendengarnya.

***

            Min Rin duduk di pinggiran ranjang sambil memeluk kedua lututnya. Berkali-kali dia menghembuskan  nafas panjang. Dia bosan setengah mati hari ini. Rasanya dia ingin cepat-cepat keluar dari sini. Dia sudah muak dengan pemandangan rumah sakit ini. Ruangan tua yang hanya bercat putih kusam, bau obat-obatan dimana-mana, jarum suntik yang mengerikan, dia sudah muak dengan semuanya. Rasanya dia ingin keluar dan menghirup udara bebas. Tapi ada satu alasan utama yang membuat bosan hari ini. Sudah dua hari ini, pria itu tidak mengunjunginya. Yah, pria yang sudah seminggu ini selalu mengunjunginya. Min Rin tidak mengenalnya, tapi dia seperti tahu banyak tentang Min Rin. Seperti Min Rin menyukai ice-cream misalnya. Pria itu selalu datang dan tak menyerah walaupun aku tidak menanggapinya sama sekali, batin Min Rin. Lama-lama Min Rin jadi terbiasa dengan kehadiran pria itu. Kalau sudah mengunjunginya, pria itu sering bercerita tentang apa saja. Walaupun tidak pernah ditanggapinya, diam-diam Min Rin menyimak setiap cerita pria itu. Yang dia ingat pria itu bernama Cho Kyuhyun dan dia adalah seorang guru vocal dan piano. Loh, kenapa aku jadi kepikiran dia sih? Batin Min Rin.

Min Rin turun dari ranjangnya dan berjalan keluar kamar. Dia berjalan pelan dan mengendap-endap. Berusaha agar tidak ketahuan oleh siapa pun. Dia ingin kabur sebentar. Ingin menghirup udara bebas sebentar saja. Beruntung, Min Rin berhasil melancarkan aksinya. Dia berhasil keluar dari rumah sakit itu. Di bawah gelapnya langit, dia berjalan menyusuri tepi jalan kota yang sudah cukup sepi. Dia tidak peduli ini sudah jam berapa yang penting rencana berhasil. Senyum yang terlukis di bibirnya jelas sekali menunjukkan bahwa hatinya sangat bahagia sekarang. Min Rin terus berjalan tanpa tujuan diiringi dinginnya angin musim dingin di malam hari. Apalagi dia hanya menggunakan piyama, tak heran dia merasa kedinginan. Namun, tiba-tiba saja pandangannya terasa bergoyang, kepalanya berdenyut, semakin lama denyutan itu semakin menekan kepalanya. Rasanya sakit sekali. Min Rin tak mampu lagi menumpu berat badannya dan dia hampir saja tersungkur di pinggiran jalan kalau tidak sepasang tangan menangkapnya.

“Min Rin-ssi, kamu tidak apa-apa?” Kyuhyun menangkap tubuh Min Rin yang telah tumbang dengan panik. Dibalik pandangannya yang sudah kabur, Min Rin bisa mengenali wajah pria yang ada di depannya. Dia juga mengenali suara pria itu. Dalam hitungan detik pandangan Min Rin gelap dan dia pingsan dalam pelukan Kyuhyun.

“Yah! Min Rin-ssi, bangunlah!”

***

“Unggg…” Min Rin berusaha membuka matanya yang berat. Cahaya lampu di atasnya, membuat matanya sedikit sakit.

“Kamu sudah sadar?” Suara Kyuhyun membuat Min Rin mengalihkan pandangannya kearah pria itu. “Kamu pingsan di pinggir jalan. Kenapa keluar sendirian malam-malam begini sih? Kamu kan sedang sakit.”

Pria ini selalu saja cerewet dan suka mengurusi urusan orang, batin Min Rin dalam hati. Namun sebenarnya ada sedikit rasa senang dalam hati Min Rin karena bisa melihat pria itu lagi. Entah mengapa? Dia sendiri tak mengerti perasaannya itu

“Maaf, dua hari ini aku tidak mengunjungimu. Aku harus menemani murid-murid kursus vokalku untuk berlomba di Daegu, dan kamu tahu? Kami memenangkannya.” Ucap Kyuhun bersemangat.

“Apakah aku bertanya tentang itu? Pulanglah ini sudah larut.” Kali ini Min Rin angkat bicara.

“Kamu… Barusan sungguh bicara?” Kyuhyun tak percaya kalau pada akhirnya Min Rin mau bicara padanya. “Akhirnya. Baiklah aku pulang dulu. Jangan coba-coba kabur lagi. Istirahatlah dengan baik. Aku pergi!” Kyuhyun melambai dan berjalan menuju pintu.

“Tunggu!” Langkah kaki Kyuhyun terhenti. Dia berbalik lagi menghadap Min Rin.

“Apa?”

“Eumm.. Gomawo atas pertolonganmu.”

“Selalu.”

Semenjak hari itu, hubungan Kyuhyun dan Min Rin semakin dekat. Setiap kali Kyuhyun datang mengunjungi Min Rin pun suasana baru telah tercipta. Min Rin tidak lagi mendiamkannya seperti dulu. Walaupun belum banyak cerita, Min Rin masih mau menanggapi dengan jawaban kecil atau paling tidak dengan anggukan kepala. Min Rin tidak mengira, Kyuhyun itu lebih menyenangkan dari yang dia bayangkan. Dia senang dengan hari-harinya sekarang bersama Kyuhyun. Tiap malam, dia selalu tidak sabar menanti akan tibanya hari esok, hari dimana dia bisa bertemu Kyuhyun.

Sama halnya dengan Kyuhyun. Kyuhyun begitu senang karena pada akhirnya dia bisa akrab dengan Min Rin. Di luar dugaannya juga, kalau Min Rin itu sebenarnya gadis yang ceria dan menyenangkan, karena awalnya Min Rin sangat dingin padanya. Tapi dia tidak peduli lagi dengan yang dulu, yang penting adalah yang sekarang.

Hari ini Kyuhyun telah berjanji akan menemui Min Rin setelah jam kerjanya usai. Dia berlari-lari kecil menyusuri koridor runah sakit karena dia sudah telat dari waktu yang dijanjikannya dengan gadis itu. Sambil membawa sebuket mawar putih, dia berlari menuju lantai 3 rumah sakit itu. Tepat saat ingin memasuki lift, Kyuhyun tidak sengaja berpapasan dengan Park Gyuri yang kebetulan baru mau keluar dari lift itu. Gyuri,  gadis yang kecantikannya seperti dewi ini, merupakan temannya saat di SMA dulu. “O, Gyuri-ya!”

“Cho Kyuhyun? Hei, apa kabar?”

“Baik. Bagaimana denganmu? Lama tidak berjumpa.”

“Baik sekali. Ne. Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku mau menemui temanku yang sakit.”

“Nugu (Siapa)?”

“Namanya Park Min Rin. Kau pasti tidak mengenalnya.”

“Park Min Rin?”

“Ne.”

“Aku rasa kita harus bicara sebentar.”

***

            Kyuhyun berjalan lunglai dengan kepala tertunduk. Dia bahkan terus-terusan menabraki orang berjalan berlawanan arah darinya. Kakinya terhenti tepat di depan pintu bernomor 133 itu. Dari kaca yang tertempel di pintu itu, dia bisa melihat Min Rin sedang tertidur pulas di ranjangnya. Wajahnya hari ini cukup meyakinkan. Tidak pucat seperti hari-hari sebelumnya. Mungkin dia senang bisa bertemu teman lamanya kembali. Sebelah tangan Kyuhyun yang tidak memegang buket bunga terangkat menyentuh kaca itu dan seolah-olah sedang menyentuh tubuh gadis itu.

Aku mengenal Park Min Rin. Dia temanku saat di universitas dulu.

Dia anak yang baik, ceria, dan bisa menularkan kebahagiaan ke orang-orang di sekitarnya.

Tapi, sayang penyakit itu harus bersarang di tubuhnya.

Dia menderita kanker otak.

Semenjak itu, hidupnya menderita. Selain yatim piatu, pacarnya juga meninggalkannya saat tahu dia mengidap penyakit itu.

Itulah mengapa Min Rin dingin pada orang yang baru dikenalnya, terutama pria.

Ini merupakan suatu keajaiban dia bisa bertahan sampai detik ini. Karena dulu dokter pernah mendiagnosis bahwa umurnya hanya tinggal 3 bulan lagi saat dia berusia 19 tahun.

Kata-kata Gyuri tadi kembali terputar di kepalanya dengan berurut. Kyuhyun baru sadar, bahwa hal yang paling penting ini dia lupakan. Tentang penyakit gadis itu, kenapa baru terpikirkan sekarang?  Sekarang, dia mengerti semuanya. Kenapa Min Rin sangat dingin padanya saat awal dia mendekati gadis itu. Rasanya dia ingin menghakimi pria yang telah menyakiti dan meninggalkan Min Rin. Kenapa malah meninggalkannya, di saat dia butuh orang di sampingnya?

Kyuhyun menatap lagi Min Rin dari balik  kaca yang berbentuk persegi itu. Airmata Kyuhyun jatuh. Dia merasa sakit saat mengetahui kenyataan seorang Min Rin. Mengapa? Mengapa harus gadis sebaik Min Rin? Rasanya dia ingin berteriak pada Tuhan. Apakah dia telah berbuat dosa besar? Sampai harus dihukum seperti itu. Kyuhyun berusaha menahan emosinya yang meluap-luap. Tangannya yang memegang buket bunga, kepalnya kuat-kuat sambil menahan gertakan rahangnya.

“Aku tidak akan seperti pria pengecut yang telah meninggalkanmu hanya karena penyakit itu. Aku akan menjagamu dan tetap bersamamu. Aku janji.”

***

“Selamat datang kembali Ibu Guru Min Rin.” Sorak riang murid-murid di sekolah itu menyambut kembali kepulangan guru kesayangan mereka yang selama 2 minggu dirawat di rumah sakit.

“Gomawoyo. Ibu senang sekali bisa kembali berkumpul bersama kalian.” Min Rin tersenyum haru melihat tingkah anak-anak itu. “Oh iya, Ibu membawakan sebuah kejutan untuk kalian. Mau lihat?”

“Mau bu, mau!!” Anak-anak itu terlihat sangat antusias.

Min rin pun memberikan sebuah kode dengan gerakan tangannya, dan muncullah pria tampan dengan tinggi sempurna dari balik pintu. Dia adalah Kyuhyun. “Ini dia kejutannya!”

“Annyeong haseyo! Cho Kyuhyun imnida.”

Semua anak diam dan memasang muka datar. Suasana pun hening seketika. “Ibu Guru, siapa Ahjussi (Paman) ini?” Seorang anak bertanya.

“Mwo (Apa)? Ahjussi? Aish anak ini, umurku masih 23 tahun. Panggil aku Hyung/Oppa.”

“Sudah. Jonghyun-ah, panggil dia Hyung, ara (mengerti)? Oke, Hyung/Oppa ini adalah teman Ibu Guru. Dia secara special datang kesini untuk menemani dan mengajari kalian bernyanyi dan bermain piano bersama. Gimana, kalian suka?”

“Ne, Ibu Guru.” Jawab semua anak-anak itu serempak.

Dan terciptalah suasana riang dan hangat di sekolah yang khusus untuk pengidap penyakit kanker itu. Walaupun mereka semua sakit, tapi tak satu pun dari mereka yang menunjukkan wajah kesakitan atau patah semangat. Padahal penyakit itu bisa sesukanya merebut nyawa mereka semua, tapi sepertinya anak-anak ini tidak peduli dan tidak takut sama sekali. Mereka seperti memegang keyakinan, nikmatilah apa yang ada sekarang, karena mungkin kau tidak akan mendapatkannya lagi.

Kyuhyun menyanyikan lagu ‘Puff the Magic Dragon’ diiringi alunan piano.  Seluruh anak-anak dan Min Rin tentunya, mengelilingi dan menyaksikan piawainya seorang Kyuhyun dalam bernyanyi dan bermain piano. Mereka semua bernyanyi, bahkan beberapa anak menari dengan gerakan seadanya. Semuanya tertawa seakan tak ada beban apapun di pikiran mereka semuanya. Kyuhyun sesekali mencuri pandang pada Min Rin yang tertawa bersama murid-murid. Tawanya begitu indah. Gyuri benar, hanya dengan melihat dia tertawa, dia mampu menularkan kebahagiaannya pada orang-orang di sekitarnya.

Kyuhyun duduk di sudut ruang kelas melihat bagaimana  Min Rin mengajari murid-muridnya itu. Dia mengajari anak-anak itu berhitung, membaca, dan bercerita kepada anak-anak itu, layaknya sedang curhat pada teman sebaya.

“Walaupun kalian semua mengidap penyakit itu, kalian harus tetap bersemangat. Jangan hanya karena penyakit yang ada di tubuh kalian, kalian jadi anak yang pemalas. Ibu Guru tidak suka anak yang malas, paham?”

“Paham Bu!!”

“Kalian harus tetap tersenyum dan menjalani hari-hari layaknya orang sehat. Jangan tunjukkan kepada orang-orang bahwa kalian itu sakit! Kalian harus tunjukkan bahwa kalian kuat dan hebat!”

Kyuhyun tertegun mendengar semua perkataan Min Rin. Bagaimana bisa gadis itu berkata demikian sementara dia juga mengidap penyakit yang sama, dan terkadang dia sering lemah karena penyakit itu. Bagaimana mungkin dia bisa meyakinkan anak-anak itu, seolah-olah dia tidak apa-apa.  Mungkin Min Rin memang tidak tahu, bahwa Kyuhyun telah mengetahui semuanya. Kyuhyun menundukkan kepalanya. Dia tidak ingin Min Rin melihat wajahnya dengan kedua matanya yang sudah basah.

Malamnya, Kyuhyun mengantar Min Rin pulang ke rumahnya. Selama di perjalanan pulang, baik saat di bus maupun ketika berjalan kaki menuju rumah Min Rin, mereka bercerita banyak hal. Tentang keluarga, kehidupan mereka, apa saja yang terlintas di otak mereka. Hanya satu yang tidak tersebutkan. Tentang penyakit Min Rin. Baik Min Rin maupun Kyuhyun, tidak ada yang mencoba membicarakan hal itu. Kyuhyun bersikap seolah-olah dia tidak tahu yang sebenarnya. Dia hanya menunggu saat yang tepat untuk membicarakannya pada Min Rin.

“Sudah sampai. Terima kasih mau mengantarku.”

“Ne. Oh, ada satu hal yang mau kusampaikan. Mulai besok dan sebulan ke depan, kita tidak bisa bertemu dulu. Aku dan murid-murid di kursus akan mengikuti perlombaan antar Negara di Cina.”

“Araso (Aku mengerti). Semoga berhasil.”

“Gomawo. Masuklah, angin malam ini sangat dingin. Aku pergi ya!”

“Hati-hati!”

Baru dua langkah Kyuhyun melangkah, suara Min Rin menghentikannya.”Tunggu!” Kyuhyun berbalik badan dan secepat kilat Min Rin mencium pipi kanan Kyuhyun. “Sekali lagi, terima kasih untuk hari ini. Aku senang sekali. Aku masuk dulu, hati-hati!”

Kyuhyun masih belum bergerak, bahkan dia sempat menahan nafasnya sebentar. Semenit kemudian, barulah dia sadar. Dia menyentuh pipi kanannya dan tersenyum.

***

Sebulan kemudian…

Sinar mentari pagi menyusup di celah-celah ventilasi dan memantul di dinding bercatkan putih kusam itu. Sampai pada akhirnya seluruh sinar itu masuk, setelah gorden dan jendela ruangan tersebut dibuka. Si pasien yang tengah tertidur di ranjangnya pun, mulai menggerakkan kedua bola matanya yang terganggu sinar matahari itu.

“Selamat pagi Min Rin-ssi! Bagaimana perasaanmu hari ini?” Sapa seorang suster yang lengkap dengan seragam serba putihnya dan sebuah buku catatan di pegangannya.

Si pasien yang bernama Min Rin itu pun berhasil membuka kedua matanya dan berusaha untuk duduk. “Selamat pagi, Suster. Aku merasa seperti hari-hari biasanya.”

“Baiklah, sebentar lagi makan pagimu akan segera diantar. Sebaiknya kamu cepat beres-beres dulu.”

“Baiklah.”

Min Rin melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar rawatnya. Dia mengambil sikat gigi dan menggosok giginya sambil menghadap cermin oval di depannya. Selesainya menggosok gigi, Min Rin membasuh wajah dengan air yang mengucur dari keran. Ditatapnya pantulan dirinya di cermin yang hanya memantulkan sampai batas dadanya itu. Dia menatap datar. Menatap dirinya yang terlihat sangat kasihan. Menatap wajahnya yang sudah putih pucat, menatap kepalanya yang tidak lagi dihiasi rambut-rambut ikalnya yang tebal, menatap pipinya yang sudah mengecil, menatap rahangnya yang sudah mencekung. Tiba-tiba saja sebutir airmata jatuh yang kemudian berlanjut pada isak tangis yang luar biasa. Min Rin memukul cermin di depannya dengan kedua tangannya yang di kepal, hingga cermin itu pecah dan darah segar mengalir di sisi tangannya.  Tak cukup itu saja, Min Rin membanting, melempar apa saja yang terlihat oleh matanya. Dia marah, sedih, dan hancur melihat keadaan dirinya yang seperti ini. Dalam hati  dia berteriak, mengapa harus aku? Apa salahku?

Sampai pada akhirnya beberapa orang perawat mendapati Min Rin dan berusaha menahannya. Min Rin masih berusaha memberontak dengan sedikit tenaga yang dia miliki, tapi dia kalah dalam jumlah dan tenaga dengan perawat-perawat itu. Min Rin terduduk di lantai kamar mandi, di pelukan seorang perawat yang sudah sangat akrab dengannya. “Suster Han, mengapa harus aku?” Sementara si suster hanya mampu mengelus-elus kepala Min Rin. Dia tidak tahu harus menjawab apa.

Keadaan Min rin sebulan ini memang semakin memburuk, tepatnya saat Kyuhyun tidak ada di sampingnya. Min Rin tidak menyalahkan Kyuhyun sama sekali, karena pria itu hampir setiap saat menanyakan kabarnya, atau mengirimi pesan hanya sekedar mengingatkan untuk makan. Setiap Kyuhyun menanyakan kabarnya, setiap itupula Min Rin selalu berbohong dengan mengatakan dia baik-baik saja. Padahal sebaliknya, keadaan Min Rin semakin memburuk. Dia semakin sering merasakan kepala sakit, batuk dan berakhir dengan muntah darah, pingsan, hampir setiap hari dia mengalami itu. Kondisi fisiknya pun makin memburuk. Tubuhnya makin kurus, satu per satu rambutnya habis, kulitnya makin pucat, dan wajahnya semakin mencekung. Tragis memang jika melihat keadaannya sekarang. Tapi dia tidak pernah memberitahu Kyuhyun yang sebenarnya, karena Kyuhyun pasti akan langsung pulang ke Korea dan gagal dalam kompetisinya. Dia tidak mau menghancurkan karir Kyuhyun hanya karena keegoisannya.

“Dokter, apakah umurku masih panjang?” Min Rin bertanya pada Dokter Kim yang selama ini menangani penyakitnya. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut sang dokter.

“Arata, tapi sepertinya akan lebih menyenangkan jika umurku masih panjang. Aku bisa menjalani hari-hari yang manis bersama orang yang kusuka. Dokter Kim, apa dokter tahu? Pria itu sangat baik. Dia tetap peduli padaku walaupun dulu aku sering mengacuhkannya. Dia orang yang selalu menemukanku di saat aku sedang jatuh dan sendiri. Dia… dia…” Kata-kata Min Rin terhenti oleh tangisannya.

“Aku cinta padanya, Dokter Kim. Tapi, kasihan dia kalau punya pacar yang penyakitan sepertiku.”

***

At Beijing Marriott City Wall Hotel, China

Kyuhyun duduk di beranda kamar sambil menikmati angin sore yang bertiup sepoi-sepoi. Dia tidak sabar menunggu besok. Yah, besok dia akan pulang ke Korea. Besok dia akan kembali bertemu dengan Min Rin, orang yang paling dirindukannya saat ini. Tanpa sadar, dia tersenyum sendiri saat membayangkan dia bisa bertemu kembali dengan gadis itu.

Shining star.. Like a little diamond.. Makes me love..

“Yeoboseyo!”

“…”

“O, Gyuri-ya! Ada apa?”

“…”

“Gawat? Apa yang gawat?”

“…”

“APA?! Baiklah aku akan pulang sekarang juga. Tunggulah disana dan temani dia!”

Seketika itu juga Kyuhyun melompat dan mengambil tasnya. Bahkan dia tak sempat berganti baju. Dia berlari sekencang yang dia bisa sampai tidak memerdulikan panggilan rekan-rekan kerjanya. Langsung di stop-nya taksi yang ada, “To airport!”

Min Rin, tunggulah aku!

***

            Min Rin duduk termenung di ranjangnya. Baru beberapa saat yang lalu dia bisa mengendalikan emosinya yang tadi sempat meluap-luap. Dia teringat Kyuhyun. Dia tidak bisa bohong kalau dia merindukan pria itu. Karena selama ini Kyuhyunlah yang selalu menemaninya. Saat dia masuk rumah sakit yang terakhir kali sebelum sekarang ini, hanya Kyuhyunlah satu-satunya orang yang menjenguknya tiap hari. Walaupun diabaikan olehnya, pria itu tetap datang dan mengajak bercerita. Sesungguhnya dia sangat senang saat itu, karena memilki teman, tapi dia tidak ingin menunjukkannya.

“Min Rin-ah…” Suara Gyuri membuyarkan lamunannya. “Ada yang ingin bertemu denganmu.”

“Nu—nugu?”

“Kyuhyun. Aku menghubunginya dan memberitahu keadaanmu. Mendengarnya dia langsung pulang kesini. Maaf, tapi aku tidak tahan melihatnya keadaanmu.”

“Gyuri-ya, kenapa harus? Aku sudah memintamu untuk tidak memberitahunya. Jangan biarkan dia masuk.”

“Tapi Min Rin-ah, aku…”

“Keluar!”

“Aku…”

“Aku bilang keluar Park Gyuri! Bawa Kyuhyun pulang. Aku tidak sanggup menemuinya dengan keadaan seperti ini.”

Gyuri mengalah. Dia mengerti tekanan batin temannya ini. Gyuri pun keluar dari ruangan itu dan kembali menutupnya. Min Rin diam-diam menguncinya dari dalam dan menguping pembicaraan mereka. “Bagaimana? Aku boleh masukkan?” Dia dapat mendengar suara Kyuhyun. Suara yang sangat dirindukannya.

“Mianhe (Maaf).” Hanya itu yang terlontar dari mulut Gyuri.

“Wae (Mengapa)? Dia tidak ingin bertemu denganku? Minggir Gyuri-ya, aku akan bicara langsung dengannya.” Kyuhyun pun membuka knop pintu, tapi tidak bisa. Dia mulai memukul-mukul pintu itu. “Min Rin-ah, ini aku Kyuhyun. Aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin bicara denganmu. Ayo bukalah pintunya!”

Namun tidak ada jawaban dari dalam. Min Rin hanya berdiri menyandar pada pintu itu sambil menahan air matanya. “Yah! Park Min Rin, kamu mendengarkan aku kan? Ayo, bukalah pintunya. Aku sangat ingin melihat wajahmu lagi. Aku merindukanmu.”

“Aku.. bagiku tidak masalah apa yang terjadi padamu, bagaimana penampilanmu sekarang, penyakit apa kau derita, aku tidak permasalahkan itu. Aku ingin bertemu denganmu. Hanya biarkan aku melihat wajahmu. Aku mohon…” Kyuhyun meronta dan meminta sampai tidak mampu menahan emosinya. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang memperhatikannya. Dia hanya perlu untuk melihat wajah gadis itu kembali.

Sementara di dalam Min Rin sudah bersimbah air mata. Dia sebenarnya tidak ingin membuat Kyuhyun mengemis seperti itu padanya, tapi dia tidak ingin Kyuhyun melihat penampilannya yang sekarang. Sekarang dia bukan lagi Park Min Rin yang cantik seperti dulu. Dia pun sangat merindukan Kyuhyun dan sangat ingin melihat wajahnya.

“Aku.. aku mencintaimu, Min Rin-ah, dengan segala kelebihan maupun kekuranganmu. Aku mohon, bukalah pintunya dan biarkan aku melihatmu.” Mendengar perkataan Kyuhyun yang terakhir itu, pertahanan Min Rin runtuh. Dia akhirnya mau membukakan pintu. Dilihatnya Kyuhyun sudah dalam posisi berlutut sambil menangis.

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan berdiri. Dia langsung memeluk tubuh kurus Min Rin. “Aku sangat merindukanmu, Park Min Rin. Terima kasih sudah membukakan pintunya.”

Mereka berdua duduk di sofa yang di kamar rawat Min Rin. Kyuhyun memandangi Min Rin yang sudah berubah drastis, tapi itu tidak membuat hatinya berubah terhadap Min Rin. “Kenapa selama ini berbohong kepadaku, mengatakan kalau kamu baik-baik saja, huh?”

“Aku tidak ingin membuatmu panik.”

“Tapi…”

“Sudahlah. Itu sudah berlalu, yang penting sekarang kita bisa bertemu kan?”

“Ne, kamu benar. Kelak, aku tidak akan pergi jauh-jauh lagi dan akan selalu menemanimu. Janji!”

Min Rin tertawa. “Kyuhyun-ah, aku ingin melihatmu bermain piano lagi, boleh?”

“Tentu.”

Diam-diam pun mereka berdua kabur dari rumah sakit menuju tempat Kyuhyun mengajar kursus pianonya. Salju yang turun malam itu menjadi saksi bisu besarnya perasaan mereka satu sama lain. Sampai di tempat tujuan, Kyuhyun langsung membawa Min Rin ke piano yang setiap  hari dimainkannya itu.  Mereka duduk bersebelahan.

“Kamu mau aku memainkan lagu apa?”

“Eumm… Apa kamu punya lagu ciptaan sendiri?”

“Ada, judulnya Winter Melody. Ini lagu yang terinspirasi dari pertemuan kita dan ini lagu untukmu.”

“Benarkah? Aku sangat ingin mendengarnya.”

Kyuhyun mulai mendentingkan tuts-tuts piano itu dan mulai mengalunkan lirik lagunya dengan suaranya yang indah. Min Rin memperhatikan pria di sampingnya dengan kagum dan tersenyum. Tuhan, aku memang sangat menyukainya, bisiknya dalam hati. Min Rin kemudian merubah posisinya menjadi menghadap ke depan dan kepalanya bersandar pada bahu Kyuhyun. Kyuhyun sempat menghentikan aktifitasnya karena kaget.

“Tidak apa-apa, hanya merasa lebih nyaman dengan posisi yang seperti ini. Ayo, lanjutkan bernyanyinya, aku sangat menyukainya.”

Kyuhyun merasakan sesuatu yang tidak enak. Perasaannya tiba-tiba merasa cemas. Seperti akan merasa kehilangan. Namun, Kyuhyun tetap melanjutkan untuk bernyanyi dan memainkan pianonya. Di sela-sela nyanyiannya dia mendengar Min Rin berbisik. “Kyuhyun-ah, aku ingin tidur.” Entah mengapa, Kyuhyun seperti sudah mengerti situasinya. Dengan ragu, dia mencoba menyentuh denyut nadi di lengan gadis itu. Sudah tidak ada denyutan di sana. Air mata Kyuhyun jatuh membasahi pipinya, dipeluknya Min Rin yang sudah tidak bernyawa lagi dengan rasa sayang.

Min Rin telah pergi untuk selamanya. Alunan lagu Winter Melody dan turunnya  salju malam itu, mengiringi kepergian Min Rin.

***

Kau itu seperti salju…

Salju itu dingin tapi bisa menyejukkan hatiku. Ingin kugenggam selamanya, tapi tak bisa, karena sudah terlanjur mencair.

Kau itu dingin tapi bisa menyejukkan hatiku. Ingin kumiliki selamanya, tapi tak bisa, karena sudah terlanjur pergi.

Kyuhyun meletakkan sebuket mawar putih yang dibawa di atas nisan batu putih yang bertuliskan ‘Park Min Rin’. Kyuhyun memandang nisan di depannya kemudian tersenyum. Walaupun ada seberkas rasa sedih di hatinya, tapi dia sadar dia tidak boleh terlarut dalam semua itu.

“Hi, Min Rin-ah! Bagaimana kabarmu? Apakah kamu bahagia di sana? Sudah setahun ya berlalu, tidak terasa. Oh ya, apa kamu tahu? Sekarang sedang musim dingin. Ini kembali mengingatkanku padamu.”

Kyuhyun bercerita panjang lebar pun, tidak akan ada jawaban yang terlontar dari lawan bicaranya. Yang tak lain adalah sebuah benda mati. “Baiklah, aku pergi dulu. Kamu harus bahagia disana.” Kyuhyun berjalan menjauhi makam Min Rin dan keluar dari daerah pemakaman umum tersebut.

-THE END-

Ps:  Annyeong! Aku author freelance baru di sini. Makasih yah buat yang udah baca, tetap di comment ya, biar aku ngerti bagus/buruknya dimana. Aku terima segala kritik dan sarannya, and buat nambah motivasi aku untuk nulis. Buat kenal lebih lanjut boleh contact aku di @myAegyo atau di wp aku>> flowsroom95.wordpress.com. Salam kenal buat semuanyaa! Chu~

Entry filed under: Boyband, FanFiction, Freelance, Genre, Girlgroup, Indonesia, K-Pop, KARA, Language, One Shoot, PG, Rating, Romance, Super Junior, Type. Tags: .

Your Smile (Part 3) [FREELANCE] My Rainbow

2 Comments Add your own

  • 1. elynd kyuevil  |  January 3, 2012 at 6:28 AM

    wah g happy ending,tp gpp ceritany bgus chingu salut sm kyuhyun yg tabah ditggal sm min rin untuk selamanya….

    Reply
  • 2. LucifeRain  |  January 4, 2012 at 9:50 PM

    Wahhhh mengharukan…
    Lumayan lah jalan ceritanya
    Keep writing thor!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 513,030 hits

Day by Day

January 2012
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: