[FF/2S/PG-16] Way Back Into Love End Chap

November 28, 2011 at 7:11 AM 5 comments

Title : Way Back Into Love

Author : Sarah Sucia Adler

Rating : PG-16

Main Casts : Cho Kyuhyun / Marcus Cho, Song Qian / Victoria Song, Oh Yang Guan Nan / Sarah Adler

Other Casts : Hangeng / Joshua Tan, Jia, Amber

Genre : Romance

Length : 2 shot

Part : 2 of 2

Disclamer :  I don’t own the  characters here. They belong to  themselves and God.  Oh Yang Guan Nan is belong to me. This story is only a fiction. So please don’t sue me.

Summary : Guan Nan pernah pacaran sama Kyuhyun waktu dia belajar dii Korea, tapi Kyuhyun dijodohkan sama Song Qian, Guan Nan lari ke London, setelah 5 tahun Guan Nan disuruh orang tuanya bantuin perusahaan advertaising mereka di New York

A/N : ini settingnya di New York. jadi jangan bingung kalau karakter disini suka nyebut pake nama baratnya. pada dasarnya nama mereka tetep Cho Kyuhyun, Song Qian, Guan Nan, etc. happy reading :D

saya bikin ini pake hati banget gara-gara cemburu sama Kyutoria *curhat* jadi komennya ya….

Your comment is my spirit :D

Follow my twitter @sarahchoadler

add my FB Sarah Sucia

***

“Terima kasih atas kedatangan Anda,” aku menjabat tangan Mr. Hilton. “Perusahaan kami menunggu kabar bagus dari Anda,” godaku.

“Kami akan segera memberi tahu Anda,” balasnya. “Presentasi yang bagus,” tambahnya lagi.

Thank you.”

“Saya duluan,” dia lalu meninggalkan ruang meeting. Begitu pula beberapa temannya.

See? We’ll get the project hahaha,” aku tertawa puas sementara Marcus, Dennis, Aiden, dan Spencer menatapiku sambil tersenyum.

You are the best,” ujar Aiden.

That’s me,” aku merapikan berkasku, juga mematikan notebook milikku.

“Kenapa tidak dari dulu sih kau di sini?” tanya Aiden.

“Apa urusanmu?”

“Apa ada waktu setelah ini? Diner bersamaku mau?” godanya.

What? Seorang Aiden mengajakku diner?” aku balas menggodanya. “Tapi sayangnya aku ada janji, Sudah sana pergi,” ujarku sambil mendorongnya keluar ruangan meeting, kami memang suka bercanda. Dennis dan Spencer hanya menggeleng menatapi tingkah kami yang masih seperti bocah, kemudian mereka keluar dan hanya ada aku dan Marcus di sini. Inilah saat yang aku tunggu, hanya berdua dengannya.

What a great girl that I have,” dia memelukku erat, melingkarkan tangannya di pinggangku.

Please, ini kantor,” aku berusaha mendorong tubuhnya, tapi aku tidak bisa.

So?” dia makin mempererat pelukannya. “Kiss me, please,”

No, Marcus…”

“Itu satu-satunya cara agar aku bisa melepasmu, cepatlah sebelum Victoria datang.”

“Kau mengancamku?”

We don’t have a lot of time, do it quickly.”

Noen jeongmal, nappeun namja,” wah, lidahku masih fasih berbahasa Korea, padahal sudah lama sekali.

Yes, I am,” bisiknya. “Ppali… kisseu,” ujarnya manja. Aku melihat sekeliling ruangan. Oh Tuhan, bahkan pintu tidak ditutup. Aku harus menyelesaikan ini dengan cepat. Aku menempelkan bibirku di bibirnya dan menciumnya dalam, yah kami sama-sama pandai berciuman. Aku menarik wajahku dan dia kelihatan kesal. “Sudah?”

You said ‘do it quickly’. She will come in a few minutes. So, get off.” Marcus melepas pelukannya dan menjauh dariku. Dia kembali ke kursinya, merapikan berkas-berkas miliknya, begitu pula aku.

Pabo,” panggilnya aku menoleh. “Don’t wear stuff like that later,”

Why?”

You look too sexy and I don’t like other guy seeing you like Aiden did.”

Are you jealous?”

Of course.”

“Sssst… She’s come.” Benar saja Vic datang sambil tersenyum.

Hello everyone, Hey lil sista,” dia mengacak rambutku.

Don’t do that, Vic” kecamku. Dia tertawa dan menghampiri Marcus. “Kudengar kau melakukannya dengan baik hari ini,” ujarnya sambil duduk di sebelah Marcus.

What thing that I can’t do?” Vic membetulkan dasi Marcus yang sedikit berantakan. “Even I can make you fiancé love me, If I want.” Marcus menatapiku heran. Yah, aku kelepasan bicara begitu.

It’s not funny,” desisnya. “Sepertinya aku harus menelepon Josh agar dia cepat-cepat menikahimu, daripada kau mengganggu fiancé-ku terus.”

It won’t work, Honey.” Aku mendekap semua berkasku dan mengambil tas kecilku. “I will go to Lincoln Center,” sebenarnya aku memberitahukan itu pada Marcus agar dia menemuiku setelah ‘urusannya’ dengan Victoria selesai. “Bye, Marcus,” aku mencium telapak tanganku dan meniupnya. Kulihat dia tersenyum senang sementara Victoria menatapiku tajam.

How dare you…” pekiknya, aku sudah kabur saja.

Haaah… apa yang akan dia lakukan jika tahu kalau aku dan Marcus ada main di belakang?

***

“Kau tidak mau masuk dulu?” tanya Victoria pada Marcus.

No, thanks. I must go now. I’ve another schedule,” schedule untuk bertemu Sarah.

Okay,”

Go in,” Victoria tersenyum. “Bye,” Marcus berbalik tapi Victoria mencegahnya hingga sekarang mereka berhadapan lagi.

“Ini New York,” ujar Vic, dia menarik dasi Marcus agar mereka lebih dekat. “Biasanya jika seorang pria dan wanita habis kencan… lalu si pria mengantarkan wanitanya pulang ke rumah… biasanya si pria… akan…” omongan Victoria terputus karena wajah Marcus makin mendekat ke wajahnya, sekarang wajah mereka tinggal beberapa senti saja.

“Akan?”

“Akan… mencium wanitanya…”bisik Vic malu.

“Tapi, kita tidak habis kencan, kita habis bekerja… jadi…” Marcus makin mendekatkan wajahnya sementara Victoria menutup kedua matanya. “Selamat malam,” Marcus berjalan meninggalkan Victoria yang masih bingung. Vic masuk dengan wajah kecewa.

“Apa kau benar-benar tidak mencintaiku?” tanya Vic.

***

Bel apartemenku berbunyi. Itu pasti Kyuhyun. Aku membukanya dan dia segera memelukku.

“Lama sekali sih?” tanyaku.

“Mau bagaimana lagi?” jawabnya pasrah. “Kau tidak mau tahu apa yang kami lakukan?”

“Apa untungnya untukku? Malah bikin sakit hati,” aku melepaskan pelukannya dan mengunci pintu. “Mandi dulu, aku akan membuatkanmu makanan, belum makan ‘kan?”

“Buatkan aku Korean food,” pintanya manja.

Homesick, huh?”

“Kangen kenangan kita di Korea,”

“Ho… jangan menggombal terus, cepat sana mandi, sepertinya aku bisa membuat kimbab dengan bahan yang ada sekarang,”

“Mana kenyang,”

“Memang kalian tidak makan malam tadi?”

“Apa untungnya untukmu tahu apa yang aku dan dia lakukan?”

“Hey…” aku bertolak pinggang.

“Hahaha, tidak, aku yakin kau akan membuatkanku makanan,”

“Ck, sudah kubilang berhenti menggombal. Sekarang kau mandi dulu, aku sudah membeli kaus dan celana untukmu, menginap di sini ‘kan?” dia mengangguk.

Gomawo jagi-ya,” ujarnya.

Just say ‘thanks’ in English,”

Shireo, aku mau pakai Hangeuk hari ini,” dia masuk ke kamar mandi.

Whatever,” desisku.

***

Hallo, Vic… ada apa pagi-pagi?” tanyaku sambil menguap saat mengangkat teleponnya.

Mom and dad akan ke sini hari ini. Kita jemput ke bandara jam 11.35.”

Okey, tapi ini masih jam delapan, Vic.”

“Kalau aku tidak membangunkanmu sekarang, kau akan tidur sampai jam dua belas,” sergahnya.

Yeah,”

“Kau tahu di mana Marcus?” dia tiba-tiba bertanya seperti itu. Aku menatapi Kyuhyun yang masih tertidur pulas di hadapanku.

“Ti… tidak tahu, kenapa kau bertanya padaku?”

“Entahlah, aku cemas sekali, sejak mengantarku pulang ponselnya mati, aku jadi khawatir.”

“Tenanglah, dia pasti baik-baik saja,” aku mengelus pipi Kyuhyun dan dia menggeliat.

“Kenapa kau seyakin itu?”

Oh come on, dia sudah dewasa, apa yang kau pikir akan terjadi padanya? Sudahlah jangan terlalu cemas, mungkin dia sedang tidur pulas searang,”

“Mungkin kau benar,”

“Kau tenang saja, kita ketemu di bandara ya,“

Okay, bye…” ditutup.

Sekarang aku sangat merasa bersalah pada Victoria, aku benar-benar mengkhianatinya, dia cemas pada tunangannya sementara tunagannya ada bersamaku sejak semalam. Oh Tuhan maafkan aku.

Aku mengelus kepala Kyuhyun, dia terbangun dan menatapiku.

“Sudah bangun dari tadi?” tanyanya. Aku mengangguk. “Morning kiss,” pintanya.

Oh come on… Kyu, kenapa sih kau selalu minta cium,”

“Makanya jangan terlalu pandai berciuman,” pernyataan macam apa itu? Aku menatapinya skeptis.

“Kenapa kau selalu tidak pakai baju sih kalau tidur bersamaku? Aku ‘kan jadi kaget ketika bangun, kupikir kita…” aku menghentikan bicaraku.

“Panas,” jawabnya singkat. “Tenanglah, aku tahu prinsipmu, no sex before married,”

That’s why I love you this much,” aku mengecup bibirnya singkat. “Your morning kiss,” aku beranjak dari ranjangku. Kuambil ponsel Kyu yang terletak di meja tak jauh dari ranjang. Aku menyalakan ponselnya. “Kau mematikan ini sejak kemarin?” dia mengangguk.

“Supaya tidak ada yang mengganggu,” aku tersenyum hambar. “Sejujurnya, supaya kau tidak merasa bersalah pada dia,” ujarnya lagi.

“Dia sangat cemas,”

“Aku tahu, tapi aku tidak peduli,”

“Kau tidak bisa tidak peduli,” setelah perkataanku ponsel Kyuhyun bergetar. Dua puluh tujuh pesan dan tiga belas missed call dan semuanya dari Victoria. “Urusi dia dulu, aku mau mandi dan menyiapkanmu makanan.” Kuserahkan ponselnya.

“Guan Nan…”

“Em?”

Mianhae… harusnya tidak begini…”

Naneun gwenchanajeo jeongmal… “ ponsel Kyuhyun bergetar –telepon dari Victoria. “Angkat,” titahku.

Hallo…” jawabnya datar. Aku masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Well, aku merasa jadi manusia paling jahat di dunia. Apa yang akan Vic lakukan jika dia tahu? Apa yang mom and dad katakan padaku? Apa yang akan orang tua Kyuhyun lakukan nanti? Ah entahlah, aku tidak mau memikirkannya.

Setelah entah berapa lama aku keluar dari kamar mandi. Kyuhyun tidak ada di kamar, mungkin dia mandi di kamar mandi depan. Aku mengenakan summer dress-ku dan keluar dari kamar. Kulihat dia sudah segar dan sedang mencoba membaca sesuatu di notebook dengan celemek di tubuhnya.

Try to make something?” tanyaku sambil terkekeh.

Beijing fried rice, but I don’t think I can,” aku tergelak.

Just lemme do it for you,” aku memeluk tubuh tegapnya dari belakang.

Lemme try,” ucapnya serius menatapi resep di notebook. Aku tertawa.

Even you can’t made ramyeon for your hyung,” dia menatapiku defensif. “What did you say to her?” tanyaku.

“Kubilang aku di rumah dan lupa men-carg ponselku,”

You are not good at lie,” gumamku.

You must proud about it, it’s mean I can’t lying to you,” aku tergelak.

Did she tell you?”

Yeah, your parents will come,”

It’ll be hard to us,” dia mengangguk. Aku melepaskan pelukanku dan duduk tak jauh darinya. Aku menatapi Kyu yang mencoba memasak. Biar saja, paling pada akhirnya hanya tersedia telur goreng dan sosis.

***

Kubiarkan Kyuhyun menjemput Victoria, sementara aku sendirian ke bandara, Oh Tuhan… sampai kapan harus begini? Ponselku bergetar.

From: Victoria

Sudah sampai?

To: Victoria

Aku ada di pintu bandara, cepatlah datang, ini panas sekali. Belikan aku soda dingin.

From: Victoria

Bawel, tunggu sebentar.

Entah berapa lama aku menunggu, mereka datang dengan plastik putih di tangan Marcus. Mereka menghampiriku yang sedang terduduk di bangku dalam bandara.

“Soda dingin untukmu, Nona,” goda Vic.

Thanks,” aku mengambilnya dan segera meneguknya. “Kapan mereka datang sih?” tanyaku lagi.

“Sepuluh menit lagi, bersabarlah.”

“Menunggu itu menyebalkan,” Victoria duduk di sebelahku. Marcus juga malah duduk di sebelahku bukan Victoria. Aku menatapnya dan menyuruhnya pindah tanpa kata. Dia lalu duduk di sebelah Vic. Untung Vic tidak terlalu peduli tadi.

“Kau sudah makan?” tanya Victoria.

“Sudah,” jawab Marcus singkat.

“Em… begitu…” wajah Vic terlihat agak kecewa. “Entah mengapa, aku merasa kau menjadi lebih dingin belakangan ini,” gumamnya. Tiba-tiba saja jantungku berdebar kencang.

“Hanya perasanmu saja, bukankah aku memang begini dari dulu?”

“Entahlah…” Vic menyandarkan kepalanya di bahu Marcus. Oh aku ingin sekali berteriak ‘He’s my man!’ Marcus menatapku, aku langsung membuang muka.

“Aku ke toilet sebentar,” ujar Vic. Kemudian dia pergi. Marcus mendekatiku.

Sorry,” ujarnya. Aku mengangguk.

“Itu agak sedikit, menjengkelkan… I don’t wanna see it soon.” Aku menatapnya. “So, sebelum aku datang kau tidak sedingin ini?” tanyaku.

“Itu penilaiannya, mana kutahu,” aku memutar bola mataku. “Aku tidak suka, kalau ada dia kau dingin,” ujarnya.

“Haruskah aku bermanis-manis di depannya? Kau mau kita ketahuan?”

“Tapi itu menyebalkan…”

“Bersabarlah…”

“Guan Nan…” panggil seorang aku menoleh.

“Hangeng gege… kau… di sini?”

Yeah, orang tuaku ingin aku kemari bersama orang tuamu, aku juga bingung kenapa,”

“Eh?” pekikku. Tentu saja mereka ingin gege dan aku bersama supaya kami cepat menikah.

“Kenapa? Kau tidak suka dengan kedatanganku?”

“Ah? Em..” aku tidak bisa menjawab.

“Peluk dulu gege-mu ini…” aku berdiri dan memeluknya canggung. “Kau kenapa sih? Seperti melihat orang lain saja,”

“Kau kemari bukan untuk menikahiku ‘kan?” tanyaku skeptis.

“Aku? Menikahimu? Bocah tengik ingusan macam kau?” beginilah gege yang kukenal. Tapi lamaran itu?

“Han gege…” Victoria datang dan memeluk gege. “Kau kemari bersama orang tuaku? Mana mereka?”

They buy some stuff there,” tunjuknya.

“Oh aku bahagia kau kemari,” ujar Victoria.

“Benarkah?” Han tersipu. “Guan Nan saja tidak,” ujarnya lagi.

“Yah, karena itu berarti kalian akan menikah sebentar lagi, dan si nona satu ini tidak akan mengganggu fiancé-ku lagi,”

“Menikah?” tanya Han.

“Kau tidak tahu?” tanyaku.

“Tahu apa? Apa sih yang kalian bicarakan?”

Dad bilang kau melamarku, tiga kali.”

What?”

“Kau tidak tahu?” tanyaku lagi.

“Tidak,”

How can?” dad dan mom datang. kami berpelukan dan mengobrol singkat. Aku tidak bertanya soal pernikahan dengan gege. Well, setidaknya belum. Nanti saja di apartemen Victoria.

***

Hangeng menelepon orang tuanya di beranda, jadi kami tidak mendengar apa yang dia bicarakan. Victoria duduk bersama Marcus di sofa begitu pula mom dan dad. Aku mengambilkan minum untuk mereka –harusnya Vic yang melakukan ini.

Well, sepertinya aku tahu maksud kalian datang ke sini,” kataku cepat.

“Hey, ucapan macam apa itu?” tanya Vic. “Mom dan dad kangen padamu yang kabur ke London selama lima tahun,”

“Yah, kurasa itu adalah alasan ke sekian, alasan pertama ya soal pernikahan, rite?”

“Kau sudah tahu, kenapa kau tidak juga menerimanya?” tanya mom.

“Aku tidak mungkin menikahinya, Mom,” aku duduk di sebelah Marcus. “Tapi kalau kalian ingin aku menikah, nikahkan saja aku dengannya,” aku mendekap tangan Marcus dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Dia kelihatan bingung.

Mom… lihat tuh dia menggoda calon suamiku,” pekik Vic. Apa dia bilang? Calon suami?

“Guan Nan…” mom selalu saja membela Vic. Hangeng masuk ke dalam dengan wajah frustrasi.

“Aku baru tahu tentang…” omongannya terhenti. “Kau sudah tahu, Guan Nan?”

“Yup, mereka bilang kau melamarku, tiga kali. You don’t know about it?”

I dunno,” Han duduk di sebelahku. “Aku harus menikahimu? Itu konyol,” sergahnya.

See? Aku dan gege tidak mungkin menikah. Kami sudah seperti saudara. Aku sudah tahu busuk-busuknya gege.” Han menatapiku. “Jelek sekali sih, jangan melihatku begitu,” aku menoyor kepalanya. “Mom, dad, please…”

“Lebih baik kalian konsen pada pernikahan Victoria dulu,” ujar gege. Stupid, apa yang dia katakan sih? Aku tidak sengaja menyandarkan kepalaku di bahu Marcus.

“Hey! Apa-apaan kau?” Vic mendorong kepalaku agar menjauh.

“Tidak sengaja,” ujarku pelan.

“Bukankah dia itu pacarmu?” bisik gege.

“Harusnya aku yang menikahinya,” bisikku.

“Apa yang terjadi?”

“Ceritanya panjang, nanti saja kau ke apartemenku,”

“Kenapa kalian berbisik seperti itu sih?” tanya Vic.

***

“Begitulah ceritanya, dan sekarang aku dan Marcus menjalin hubungan di belakang Victoria,” Han menatapku penuh tanya. “Ah aku tahu aku jahat, tapi bagaimana lagi? Aku dan Marcus saling mencintai.”

“Tapi itu salah, kau harus jujur pada keluargamu, bilang kalau memang kalian saling mencintai. Kalau begini jadi susah.”

“Aku tahu, tapi… aku takut, aku terlalu pengecut untuk bicara…”

TING TONG. Bel apartemenku berbunyi. Itu pasti Kyuhyun. Aku membuka pintu.

Afternoon, Honey… ada tamu?”

“Hangeng,” dia mengecup pipiku dan masuk.

“Hai,” ujarnya pada Han. “Apa Guan Nan sudah cerita padamu?”

“Sudah,”

“Bagaimana menurutmu?”

“Entahlah, ini sudah rumit, belum lagi masalah orang tuaku yang melamar Guan Nan,” jawab Han.

“Kau mengantarnya pulang hari ini?”

“Tentu saja,” aku mengelus pipi Kyuhyun.

“Mandilah dulu,” dia mengangguk dan meninggalkan aku dan Han.

“Kalian tidur bersama?” tanyanya hati-hati.

“Hanya sekedar tidur, tanpa embel-embel lain, kau tahu prinsipku ‘kan?”

Yeah, kukira New York sudah mengubahmu. Ah well, masalah orang tuaku bisa aku atasi, tapi Victoria?”

“Aku tidak tahu, aku tidak tega, aku menyayanginya sama seperti aku menyayangimu, tapi aku mencintai tunangannya,”

***

“Lembur, Honey?” Kyuhyun sudah ada di dalam ruanganku membawa dua gelas cokelat panas.

Yeah, don’t call me ‘honey’ at the office,” desisku. Dia menaruh segelas di mejaku dan segelas lagi masih di tangannya. “Thanks,”

“Oh come on… hanya ada kita berdua di kantor, bahkan office boy sudah kusuruh pulang,”

“Oh ya?” jawabku asal. Aku sedang sibuk menyiapkan presentasiku. Aku menyeruput cokelat panasnya.

Babe… kita harus menyelesaikan masalah ini segera, atau orang tua kita akan menikahkanku dengan Victoria dalam waktu dekat ini. Aku sudah menunda pernikahan terlalu sering.” Aku memutar kursiku ke arahnya.

“Aku mengerti, tapi aku tidak tahu dari mana harus memulai,” ujarku. Kyuhyun duduk di atas mejaku. “Dan Victoria? Dia pasti akan sangat kecewa.”

“Anggap saja itu membalas rasa sakit hatimu, kalian impas ‘kan?”

“Itu tidak semudah kelihatannya, Honey.” Aku mengelus pipinya. Entah siapa yang memulaii tapi kini kami sudah saling menautkan bibir. Saling melumat dan menghisap lidah. Aku berdiri dari tempat dudukku yang tentu saja lebih rendah darinya –karena dia duduk di meja– untuk menciumnya lebih dalam. Sudah kubilang ‘kan? Kami sama-sama pandai berciuman. Entah kenapa ciuman kali ini lain, mungkin karena kami sama-sama sedang gamang. Dia menciumku terlalu dalam hingga membuatku limbung, tapi hasratku menolak untuk melepaskannya. Aku ingin memilikinya lebih dari biasanya. Dia membuka satu per satu kancing kemeja kerjaku dan menciumi bahuku, aku hanya bisa memeluknya. Sampai tiba-tiba…

“Marcus… Sarah… apa yang kalian lakukan?” kami  kembali tersadar. Victoria menatapi kami dengan  tatapan geram. Aku melepaskan pelukanku pada Kyuhyun.

“Vic aku…”

Plak. Satu tamparan keras mengenai pipiku. Sakit sekali.

“Apa-apaan kau?” sergah Kyuhyun.

“Kalian yang apa-apaan! Jadi ini yang kalian lakukan di belakangku?” teriaknya di wajah Kyuhyun. Aku memegangi pipiku yang masih panas.

“Iya, memang ini yang kami lakukan di belakangmu, kau bahkan tidak tahu kalau setiap hari aku pulang ke apartemennya. Aku tidur di sana, mandi di sana, makan di sana, itu yang kulakukan di belakangmu, puas?” teriak Kyuhyun makin keras. Victoria menangis.

“Kau jalang! Murahan! B!cth! beraninya kau berhubungan dengan tunangan kakakmu sendiri! Kami sebentar lagi akan menikah dan kau merusaknya!”

“Victoria cukup! Keluar kau sekarang!” bentak Kyuhyun. “Keluar!”

“Oh kau mengusirku? Lihat seminggu lagi kita menikah, dan kau akan jadi milikku selamanya!”

“Kau tidak akan bisa memilikiku!”

“Kita lihat saja,” Vic pergi. Aku menangis, dadaku sakit, sesak sekali,terlalu memilukan seperti ada lubang besar di dadaku.

Gwenchanayo?” tanyanya dengan bahasa Korea. Aku mengangguk, dia melepaskan tanganku di pipiku. “Berdarah, dia menamparmu terlalu keras. Ayo pulang, aku akan mengobatimu,” ujarnya lembut sangat berbeda dengan teriakannya untuk Victoria.

“Tinggalkan aku sendiri…”

“Apa?”

“Tinggalkan aku sendiri, jangan peduli padaku, jangan menyentuhku, jangan mencintaiku, pergi,” teriakku parau.

“Aku tidak bisa, aku tidak bisa tidak peduli padamu, aku tidak bisa tidak menyentuhmu, dan yang terpenting aku tidak bisa tidak mencintaimu.”

“Kumohon…” desahku.

“Sudah kubilang jangan pernah bohongi dirimu sendiri, kau boleh bohongi Victoria kau boleh bohongi keluargamu, kau boleh bohongi aku, tapi jangan bohongi dirimu sendiri. Kau mencintaiku. Kita bisa memperjuangkannya.”

“Aku tidak mencintaimu,” aku berbohong, pada diriku sendiri.

“Matamu tidak bilang begitu,” aku menunduk, menangis. Kyuhyun memelukku. “Pabo, kamu masih bodoh, kamu masih mementingkan kepentingan orang lain. Pabo.”

“Kubilang pergi! Jangan temui aku lagi! Nikahi Victoria! Asal kau tahu aku tadinya hidup damai di London tanpamu! Kau telah menghancurkan semua hidup indahku! Pergi!

“Sudah kubilang untuk…”

“Pergi!” aku mendorong tubuh Kyuhyun menjauh dariku. “Kalau kau tidak mau pergi aku yang akan pergi!” aku meninggalkan Kyuhyun di ruang kerjaku. Aku benar-benar meninggalkannya, aku pergi tanpa membawa apapun, tas, dompet, ponsel semua masih ada di ruang kerjaku. Tapi aku tidak peduli, biaran saja begini. Aku menangis di jalan. Aku bertemu Hangeng, kurasa dia sudah tahu, dia memelukku dan mengantarku ke apartemen.

***

Aku tahu aku mencintai Kyuhyun, tapi aku telah memilih melihatnya bersama Victoria. Aku keluar dari apartemenku yang lama dan mengganti nomor teleponku hingga Marcus –lebih baik aku memanggil dia Marcus sampai seterusnya– tidak bisa menghubungiku lagi. Sudah enam hari ini aku tidak masuk kerja. Aku di apartemen baruku sendirian. Meratapi kebodohanku untuk berhubungan dengannya kala itu.

“Guan Nan, makan dulu,” aku menoleh. Hangeng yang ada di hadapanku. Cih, apakah aku masih berharap ‘dia’ yang ada di sini dan memaksaku untuk makan.

“Tidak nafsu,” bisikku pelan, seperti bergumam.

“Nanti kau sakit, setidaknya jangan biarkan perutmu benar-benar kosong.” Han menyuapiku. “Apa kau sudah menerima pesan dari Song Qian?” aku menatapnya dan menggeleng. Dia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkannya padaku.

From: Song Qian

Apa Guan Nan bersamamu? Kalau ya tolong perlihatkan pesan ini.

Aku telah memaafkanmu, anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa. Anggap saja kau tidak pernah bertemu dengannya. Anggap saja kau baru datang dari London untuk menghadiri pernikahanku besok pagi. Kau akan jadi pendamping untuk calon suamiku. Aku, mom dan dad sudah cukup kehilanganmu selama lima tahun, jadi kumohon sekarang biarlah kita hidup tenang bersama sebagai keluarga yang sebenarnya.

Aku tersenyum sakit membacanya. Apa ini caranya menghukumku? Dia memintaku untuk berjalan beriringan dengan Marcus di acara pernikahannya. Apa dia tidak tahu betapa aku mencintai Marcus? Dadaku lagi-lagi sesak, aku memukulnya berharap rasa sakitnya hilang. Hangeng menahan tanganku dan memelukku.

“Nikahi aku, Gege… setelah pernikahan Victoria, tolong nikahi aku, anggap saja ini permintaan dari adik kecilmu yang bodoh, kumohon nikahi aku, dan bawa aku pergi jauh dari China, dari New York, aku akan ikut bersamamu ke mana pun kau pergi,” aku menangis, pelupuk mataku sudah tidak kuat menahan air mata.

***

Aku menghela napas ketika aku hendak memasuki salon tempat Victoria dan calon suaminya didandani. Kuberanikan diri mendorong pintu kaca itu dan aku tersenyum.

Hey everyone,” ujarku (sok) ceria.

“Sarah, cepat ganti bajumu, aku telah menyiapkan mini dress cantik untukmu,” seru Victoria semangat. Seorang wanita muda memberiku dress yang Vic maksud. Cantik sekali, sebuah mini dress putih tanpa lengan dengan aksen berlian imitasi. Aku diantar ke ruang ganti, segera kupakai. Cantik sekali, pujiku dalam hati, tapi buat apa? Toh aku hanya mendampingi calon suami kakakku. Setelah berpakaian aku dirias.

“Tolong make up aku lebih cantik dari pengantin wanitanya ya,” candaku.

No, no… aku yang akan jadi paling cantik,” ujar Vic. Tentu Vic aku tahu. Calon suami kakakku menatapi kami dengan tatapan datar. Seolah dia tidak mendengar apa yang kami bicarakan dari tadi. Dia sudah memakai tuxedo-nya dan dirias di sebelahku. “Hey, brother-in-law, selamat atas pernikahanmu,” kataku (sok) ramah. Dia menatapku dan kembali menatap cermin.

Thanks,” satu kata itu sangat menyakitkan. Aku ingin menangis tapi kutahan.

“Kau tampan juga dengan tuxedo itu, kuharap di kehidupan selanjutnya kau akan menikahiku,” aku tersenyum padanya dan dia menatapiku dengan tatapan marah. “Excuse me, aku mau ke toilet dulu sebentar,” aku berlari ke toilet dan menangis. Sial. Mengapa aku bicara begitu. Ini sangat menyakitkan. Aku mengelap air mataku dengan tisu. Menarik napas dan kembali. Aku tahu mataku sembab, jadi aku tak berani menatap matanya.

Are you okey? Kau kelilipan?” tanyanya. Oh bisa-bisanya dia.

Don’t mind,” aku kembali dirias. Setelah selesai aku menatapi Victoria dengan gaun pengantin panjang. Cantik, sangat malah. Seharusnya aku yang memakai gaun pengantin itu. Aku menepis pemikiranku, nanti juga aku akan memakainya di pernikahanku bersama Hangeng.

***

Tangan kiriku mendekap lengannya sementara yang kanan membawa buket bunga, di gereja, aku mendekap lengannya, dia dengan tuxedo putih seperti pangeran. Sedangkan aku? Aku Cuma Cinderella yang harus tahu diri, Cuma punya batas waktu sampai semua berubah menjadi busuk kembali. Aku berjalan dengan seluruh tubuh gemetar. Mengkin dia merasakannya tapi dia tidak bicara apapun. Dia diam, biasanya dia akan memelukku kalau aku gemetar begini. Tapi dia tak acuh. Dia sudah melupakanku dalam waktu satu minggu. Kuanggap kata-katanya dulu hanyalah omong kosong. Dia tidak benar-benar mencintaiku, dia hanya mempermainkanku.

Kami sudah sampai di altar, aku dengan berat hati meninggalkan dia, dia yang menunggu pengantin wanitanya datang, dan pengantin wanitanya bukan aku. Victoria datang bersama dad. Dia tersenyum, cantik sekali. Dia bahagia, aku pun akan mencoba bahagia untuknya meski aku harus membohongi diriku sendiri.

Mereka sudah ada di hadapan pastur. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Tadinya aku akan terus di situ sampai janji suci mereka terucap. Tapi aku tidak sanggup. Dengan perlahan aku keluar dari gereja. Aku menangis sejadi-jadinya di sana. Dadaku sakit sekali, lukaku makin menganga, aku sudah kehilangan dia untuk selamanya sekarang. Aku tak ada hak lagi untuk mencintainya atau sedikit berpikir tentangnya. Dia sudah menjadi kakak iparku. Ada yang memelukku. Aku mendongak, gege.

“Ayo masuk, sekarang giliran kita,” bisiknya.

“Apa maksudmu?” suaraku serak sekali.

“Bukankah kau memintaku menikahimu setelah pernikahan Victoria?” aku mengangguk dan dia membawaku ke altar. Semua orang tersenyum menatapi kami –aku dan Hangeng. Victoria dan suaminya ada di samping menatapi kami sambil tersenyum. Apakah dia benar-benar bahagia hingga tersenyum seperti itu?

Kami sampai di depan pastur. Aku menatap Hangeng yang sudah sangat siap. Tapi aku tidak kuat melihatnya ataupun melihat pastur di hadapanku. Aku menunduk menutup mataku. Semua orang yang tadinya bicara diam. Mungkin sudah saatnya.

“Cho Kyuhyun… “ ujar pastur itu, aku membuka mata dan memandang pria di sebelahku. Cho Pabo-ku sedang tersenyum manis di hadapanku. “Maukah kau menikah dengan Oh Yang Guan Nan? Menjaganya hingga ajal memisahkan?” tanya pastur itu. Aku masih menatapi wajah bodoh pria di hadapanku tanpa berkedip.

“Aku bersedia,” ujarnya.

“Oh Yang Guan Nan,” Kyuhyun menyikut lenganku kecil. “Maukah kau menikah dengan Cho Kyuhyun dan menjaganya hingga ajal memisahkan?”

“A… aku…” aku menatap Victoria dan Hangeng. Mereka mengangguk mantap. “Aku bersedia…” aku kemudian menangis. Aku sudah tidak dapat mendengar suara pastur itu lagi. Bahkan aku tak mendengar riuhnya para undangan yang hadir. Aku hanya bisa mendengar suara Kyuhyun.

Dia bilang. “Saranghae…”

Na do… pabo-ya, na do saranghae… I Love you…” aku memeluknya.

I’m yours, and we got married,” aku menciumnya. Dan kudengar lagi riuh orang berteriak. Ini bukan mimpi. Dan aku memilikinya seutuhnya. Marcus Cho, Cho Kyuhyun, Cho Pabo hanya milikku.

***

Epilog

“Yakin melepasnya?” tanya Han pada Victoria.

“Untuk kebahagiaan kita bersama, kalau aku menikah dengannya aku hanya memiliki raganya saja, tapi hatinya hanya untuk Guan Nan,”

Then?”

Nothing, aku bahagia,”

“Maukah kau menikah denganku?” tanya Han.

Are you kidding me?” pekik Victoria defensif.

Am I look like that?”

I don’t think so,”

So?”

Make me loving you,” ujar Victoria

Just gimme a week,” Victoria menatap Hangeng skeptis. Hangeng mencium Victoria, lama kelamaan Victoria membalasnya dan menaruh tangannya di pipi Hangeng. “See? Maybe three days enough,” ujarnya setelah ciuman mereka berakhir. Victoria tersipu malu. “Do you know something? I love you since six year ago.

THE END

***

well, saya ngerasa masih punya utang buat Psycho. so, tadinya mau bikin special stori buat Ahra-Joongki sama Fei-Yoochun, who’s exited? *kalo gada yang mau sih gapapa hahaha*

Entry filed under: Chaptered, FanFiction, Indonesia, PG, Romance, Super Junior. Tags: .

[FF] I WILL FORGET YOU [prolog] [FF Request] Special For You (Park Hye Mi)

5 Comments Add your own

  • 1. neneng rayhan ndhoet  |  December 1, 2011 at 12:21 PM

    hiks..hiks..hiks..bagus bgt ceritany..duh jd ga bs comment bnyk nich..lanjut ya tor..hwaiti..

    Reply
  • 2. elynd  |  December 1, 2011 at 1:50 PM

    iy bgus critany,jgn bosen ” ya thor bkin ff about kyuhyun bias ku..^^

    Reply
  • 3. Yopvie  |  December 23, 2011 at 8:42 AM

    ceritanya keren🙂
    ga nyangka vic punya hati yg sbar bgt, ckck 😀

    Reply
  • […] [FF/2S/PG-16] Way Back Into Love End Chap […]

    Reply
  • […] [FF/2S/PG-16] Way Back Into Love End Chap […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 513,074 hits

Day by Day

November 2011
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: