[FF/2S/PG-16] Way Back Into Love

November 26, 2011 at 10:17 AM Leave a comment

Title : Way Back Into Love

Author : Sarah Sucia Adler

Rating : PG-16

Main Casts : Cho Kyuhyun / Marcus Cho, Song Qian / Victoria Song, Oh Yang Guan Nan / Sarah Adler

Other Casts : Hangeng / Joshua Tan, Jia, Amber

Genre : Romance

Length : 2 shot

Part : 1 of 2

Disclamer :  I don’t own the  characters here. They belong to  themselves and God.  Oh Yang Guan Nan is belong to me. This story is only a fiction. So please don’t sue me.

Summary : Guan Nan pernah pacaran sama Kyuhyun waktu dia belajar dii Korea, tapi Kyuhyun dijodohkan sama Song Qian, Guan Nan lari ke London, setelah 5 tahun Guan Nan disuruh orang tuanya bantuin perusahaan advertaising mereka di New York

A/N : ini settingnya di New York. jadi jangan bingung kalau karakter disini suka nyebut pake nama baratnya. pada dasarnya nama mereka tetep Cho Kyuhyun, Song Qian, Guan Nan, etc. happy reading :D

saya bikin ini pake hati banget gara-gara cemburu sama Kyutoria *curhat* jadi komen yaa….

Your comment is my spirit :D

Follow my twitter @sarahchoadler

add my FB Sarah Sucia

***

Welcome to New York, Sarah. Kata-kata itulah yang muncul di benakku saat aku turun dari pesawat dan menjejakkan kaki di New York. Well, kalau bukan karena ide busuk kedua orang tua dan kakakku aku mungkin masih tenang di London. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin sudah saatnya aku membantu dad mengurusi perusahaannya di sini dan mengubur semua kenangan pahit yang telah membuatku lari meninggalkan China ke London.

Kutelepon kakakku yang seharusnya sudah stand by semenjak sepuluh menit yang lalu. Pandanganku mengedar dan kudapati sosok yang sangat tidak ingin kulihat sepanjang sisa hidupku. Aku terperangah melihatnya. Semakin lama dia semakin mendekat. Aku mencoba berlari tapi dia menahan tanganku.

“Kenapa menghindariku?” tanyanya datar. Aku ingin menutup telinga untuk tidak mendengar suaranya.

“Lepaskan aku!” desisku sambil menatapinya tajam.

“Kenapa kau tidak datang waktu itu? Kenapa kau tidak mencegahnya?”

“Kenapa aku harus mencegahnya?” tanyaku balik.

“Kau…”

“Guan Nan…” pekik seseorang yang suaranya sangat kukenal. Aku menarik tanganku dari cengkeramannya. “Aku sangat merindukanmu,” Victoria memelukku cepat.

“Oh come on, jangan panggil aku seperti itu, ini New York, Vic.”

“Baiklah, Miss Sarah,” godanya. “Ah aku sangat merindukanmu, sudah lima tahun kau di London dan sama sekali tidak memberi kabar pada kami, kutelepon juga tidak bisa. Kau seperti menghilang,” ujarnya panjang lebar.

Sorry,cuma mau konsen,” jawabku singkat.

“Oh ya sampai lupa, kenalkan, Marcus Cho, my fiancé,”

“Kami sudah berkenalan tadi,” bohongku.

“Begitukah? Ya sudah. Kau akan tinggal di apartemenku ‘kan?”

“Kurasa tidak, aku akan tinggal bersama temanku –dari China juga,” jawabku cepat.

“Kenapa? Kau benar-benar tidak merindukanku, heh?”

“Bukan, bukan, hanya saja aku tidak ingin mengganggu jika fiancé-mu datang untuK mengencanimu,” aku melirik ke arah Marcus.

***

Well, hari pertamaku bekerja lumayan juga. Setidaknya presentasiku pada para investor bisa dibilang memuaskan, semoga saja mereka jadi mendanai project ini.

Good job,” ujar Dennis –seniorku.

“Siapa dulu… Sarah.”

“Jangan bangga dulu, mereka belum men-deal project ini.”

Yup, tapi sepertinya kita akan dengar kabar bagus, sebentar lagi.”

“Percaya diri sekali,” kata Dennis skeptis.

We’ll see,” Dennis meninggalkan ruangan meeting sementara aku membereskan berkas berkasku.

Congrats,” Kyuhyun mendekatiku dan menyodorkan tangannya untuk menjabat.

Thanks,” ujarku kemudian berlalu menjauhinya.

“Kita belum selesai bicara, Guan Nan!” dia menahan lenganku.

Hey! di sini tidak ada Guan Nan dan lepasan aku, Tuan Marcus Cho!”

“Guan Nan, Sarah, atau siapa pun namamu, kau tetaplah pabo-ku,”

“Itu cerita lama, ingat kau itu calon kakak iparku, cerita kita sudah lewat, kau sudah bertunangan dengan Victoria, itu pilihanmu dan kau harus bertanggung jawab akan itu.”

Please, dengarkan aku dulu.”

“Aku tidak punya banyak waktu,”

“Guan Nan, kumohon.”

“Berhenti menatapku dengan tatapan seperti itu,”

“Aku masih mencintaimu.” Aku menutup kedua telingaku. Padahal kata-kata itu yang selalu kutunggu terucap dari bibirnya, tapi aku tak mau mendengarnya sekarang. “Dengarkan aku, Guan Nan.”

Pabo… Cho Kyuhyun pabo…” aku beringsut ke lantai dan dia berlutut di hadapanku. sepertinya mataku basah.

“Aku tahu kau juga,” wajahnya mulai mendekat, mungkin dia akan menciumku. Aku diam, tidak berontak, tidak mengelak.

“Marcus… Sarah… apa yang kalian lakukan?” mataku beralih ke pintu, sudah ada Victoria di sana menatapi kami dengan bingung. Aku menggosok mataku.

“Bukan apa-apa, tadi aku kelilipan dan dia mencoba membantuku… meniup… debunya…” ujarku terputus.

“Ah, kukira apa, wanna go lunch?” aku dan Kyuhyun berdiri. Aku merapikan blezerku dan sesekali mencuri pandang ke arahnya. Dia tidak berubah, mukanya makin bodoh.

Sorry, ada janji setelah ini, aku duluan ya,” aku bergegas meninggalkan mereka. Victoria pasti akan bermanja-manja pada Kyuhyun.

***

“Lumayan, Dad, ternyata pekerjaan ini cukup menyenangkan… Song Qian? Dia baik-baik saja, makin gemuk malah, sepertinya dia bahagia… ah aku tahu arah pembicaraan ini, Dad… suruh saja dia menungguku sampai aku siap menikah… iya aku mengerti, bye, Dad,” aku menghela napas setelah mematikan sambungan. “Sejak kapan sih dad jadi bawel begitu?” gumamku.

“Sejak Victoria bertunangan dan kau masih belum mau menerima Josh,” jawab Jia yang ternyata mendengar perkataanku.

“Lucu sekali mendengarnya dipanggil Joshua oleh orang China, panggil saja dia Hangeng,” aku menyelonjorkan kaki di sofa. “Tadi dad bilang Hangeng melamarku –lagi.”

Okay, listen, Sarah. Ini sudah kali ketiga Hangeng melamarmu, kenapa kau tidak juga menerimanya?”

“Bagaimana bisa kau menikahi orang yang selama hidupmu hanya kau anggap sebagai seorang kakak? Aku tidak bisa, Ji,”

Come on, aku tahu itu cuma spekulasi, kau masih mencintainya. Perlukah kusebut namanya di hadapanmu?”

“Cho Kyuhyun,” gumamku.

See? Don’t tricking your self, Honey.”

No, Ji, dia tunangan Victoria, kakakku sendiri.”

“Tadinya dia kekasihmu, atau haruskah kubilang, seharusnya dia tunanganmu,”

“Ji, please don’t be like that, jangan membuatku berpikir untuk menusuk kakakku dari belakang.”

“Tapi Vic sudah menusukmu dari belakang.”

Enough, aku mau ke diskotek, aku pusing,” aku mengganti bajuku dengan mini dress hitam dan heels merah. “Aku berbohong pada Victoria, kubilang aku tinggal bersamamu selama di New York.”

“Kenapa kau tidak mau tinggal bersamanya?”

“Kau pikir aku bisa tahan melihatnya bermanja-manja pada Kyuhyun? Atau aku harus mendengar suara imutnya yang bilang ‘ah, Marcus, aku tidak bisa melakukan ini’ atau ‘oh ni indah sekali’ atau ‘Marcus aku mencintaimu’ oh please, lebih baik aku mati.”

“Ck, gengsimu sangat tinggi, Nona.”

“Peduli apa? Biar saja begini.”

“Terserah kau saja. Eh setelah kau siap kita ke apartemenku dulu ya.”

“Buat apa?”

“Aku ikut kau ke diskotek,” aku menyeringai dan berdandan.

“Jia,” panggilku.

“Em?”

“Victoria bilang dia ingin aku menjadi pendamping saat pernikahannya,”

“Sepertinya dia akan membunuhmu pelan-pelan,”

***

Jia sudah menghilang entah ke mana, terlalu bersemangat jika sudah melihat dance floor, padahal aku yang punya masalah, tapi malah dia yang bersenang-senang. Aku duduk di kursi dekat bartender sambil (mencoba) menikmati musik.

“Mau pesan apa?” tanya bartender sopan.

“Em… aku…”

Virgin marry dua, yang satu garamnya agak banyak,” aku menoleh. “Tadinya kupikir kau akan ke Lincoln Center dulu,” ujarnya.

“Aku mau ke mana, bukan urusanmu,”

Virgin marry, silahkan,” ujar bartender itu.

“Kau masih suka ini? Dengan garam yang agak banyak.”

“Kau mau menunjukkan bahwa kau masih ingat apa yang aku suka?”

“Aku memang tidak bisa melupakanmu, Guan Nan.”

Stop call me like that. Aku tidak suka kau memanggilku begitu!”

“Karena kau akan mengingat semua kenangan kita? Iya?”

“Urusi saja hidupmu Tuan Marcus Cho,” aku beralih pada bartender, “Martini please,”

“Dan berpura-pura tak acuh padamu? sementara kau ada di hadapanku?”

“Bukankah kau pernah berhasil melakukannya beberapa tahun lalu?”

“Martini, silakan,” aku menenggak martini itu oneshot.

“Tolong,” aku menyodorkan gelas kosong itu pada bartender dan tidak beberapa lama dia memenuhinya.

“Aku dijodohkan, Guan Nan. Aku tidak tahu kalau wanita itu adalah Victoria, kakakmu,”

“Apa peduliku?” aku menenggak lagi martini kesukaanku. “Gelas ketiga,” aku meminta lagi dan bartender itu memenuhinya kembali.

“Kalau saja waktu itu kau datang dan menghentikan pertunangan kami, tentu kami tidak akan sejauh ini. Tapi kau malah lari ke London,”

“Asal kau tahu, jauh sebelum aku tahu orang yang akan dijodohkan dengan Song Qian jie jie itu adalah kau dia selalu bercerita tentang calon tunangannya dengan wajah berseri apa kau pikir aku tega menghancurkan pertunangannya hanya demi keegoisanku sendiri?”

“Tapi kau menyakiti dirimu sendiri… dan juga aku.”

“Kau? Tersakiti? Satu-satunya yang tersakiti hanya aku. Kalau kau memang tidak setuju dengan pertunaganmu kau bisa saja menolak, atau bilang kau punya kekasih, tapi sepertinya berpikiran ke arah sana pun tidak!”  aku menenggak segelas lagi dan kembali minta tambah.

“Aku sudah bilang pada orang tuaku, tapi mereka bersikeras. Aku sebagai anak bisa apa? Kalau saja mereka mau mendengarkanku, kalau saja mereka tahu kekasihku adalah anak dari keluarga yang sama, tentu kita sudah menikah sekarang,”

“Cih, aku…” pandanganku kabur. Aku memegangi kepalaku dan seketika semuanya menjadi hitam.

***

“Nnggh… badanku sakit sekali,” aku membuka mata sambil menggeliat di atas ranjang, dan tak sengaja tanganku menyentuh sesuatu. Kubuka selimut yang menutupinya dan “Aaaaa…. Kenapa kau ada di sini? Kyuhyun bangun! Apa yang telah kau lakukan padaku? Kenapa kau tidak pakai baju?”

Hey! Calm down, berisik sekali sih pagi-pagi,”

“Jawab semua pertanyaanku, pabo!”

“Kemarin kau sok-sokan minum banyak, mabuk jadinya aku membawamu ke sini dengan Jia,” jelasnya santai, dia masih berbaring dan bicara sambil menutup mata.

“Lalu? Kenapa kau tidak pakai baju? Apa yang telah kau lakukan padaku,”

“Aku tidak melakukan apa-apa padamu, bajumu saja masih lengkap begitu.” Aku menatap ke arah tubuhku, dia benar. “Semalam panas sekali, tadinya aku mau menyalakan AC tapi ‘kan kau tidak kuat dingin, daripada kau bersin-bersin hari ini lebih baik aku yang kepanasan kemarin,”

“Bagaimana kau bisa masuk ke sini? Jia ‘kan tidak tahu password-nya,”

“Tanggal ulang tahunku ‘kan? Dari dulu juga selalu itu yang kau gunakan untuk password,” aku menunduk. “Kau masih mencintaiku ‘kan? Jangan berbohong padaku atau setidaknya jangan berbohong pada dirimu sendiri, Guan Nan.”

“Ya! Iya aku masih mencintaimu, tapi setelah mendengar itu apa itu akan mengubah statusmu sebagai calon suami kakakku? Tidak, Kyuhyun, tidak!” aku menangis. Dia memelukku, sudah lama sekali aku tidak merasakan pelukan ini. Wangi tubuhnya masih sama, pelukannya masih sama, dia Cho Pabo-ku hanya milikku.

I Love you,”

Love you too,” bisikku, aku menjawab pernyataan cintanya. Aku telah jujur pada diriku sendiri bahwa aku masih mencintainya dan akan tetap mencintainya. Dia memegangi pipiku, melepaskan pelukannya dan melumat bibirku. Aku memegangi dadanya yang polos. Dadanya bidang, dia sudah mature sekarang. Tidak seperti beberapa tahun lalu. Ciuman seperti ini, sudah lama sekali. Bibirnya masih manis, tidak berubah. Dia masih pandai melakukan French kiss. Aku jujur pada diriku sendiri bahwa aku membutuhkannya, membutuhkan setiap deru napasnya, membutuhkan hangat tubuhnya, membutuhkan manis ciumannya. Aku tidak bisa hidup tanpanya atau berpura-pura seolah tak mengenalnya. Aku mencintainya. Ciuman Kyuhyun sudah sampai di leherku, dia mengecup dan menghisapnya kuat-kuat. Aku terbuai, aku makin membutuhkannya. Sampai bel apartemenku berbunyi.

“Sarah… kau di dalam?”

“Victoria?” aku menatap Kyuhyun lekat dengan tatapan bertanya. “Bagaimana ini?”

“Biarkan saja dia masuk,”

“Kau gila? Dia bisa mati berdiri, cepat kau sembunyi,”

“Tidak perlu, Guan Nan,”

“Tutup mulutmu! Pakai baju dan cepat sembunyi, aku akan membukakan pintu.”

“Kau ini, santai saja.”

“Bagaimana bisa? Cepat sana masuk ke kamar mandi, eh jangan, ke lemari saja,” setelah melihat Kyuhyun masuk aku membukakan pintu. “Hai, tumben,” ujarku basa-basi.

“Lama sekali sih buka pintunya,”

“Aku masih tidur tadi, ada apa?”

“Hanya berkunjung, sambil melihat-lihat apartemenmu, aku ‘kan belum pernah kemari sejak kau datang,”

“Emm..”

“Ah ya, dad menelepon tadi dia bilang…”

“Hangeng melamarku, dan kapan aku akan menerima lamarannya, kau kemari atas itu ‘kan?” telisikku.

Dad meneleponmu juga?”

“Tentu saja,”

“Kenapa sih kau tidak menerima Hangeng?”

Well, mungkin… mungkin belum siap, nanti saja, kau duluan yang menikah baru aku,” Tuhan,  sakit sekali bicara seperti itu.

“Oh iya benar, by the way, Marcus di mana ya? Sejak kemarin teleponku tidak diangkat,” dia bersama adikmu ini sejak semalam, Vic.

“Mana kutahu,” jawabku singkat. “Mau minum?”

“Teh,”

“Gula dua setengah sendok teh,”

Like usual,” dia tersenyum. “Eh ya, itu lehermu,” Mati, kiss mark Kyuhyun.

“Biasa, seperti tidak pernah saja,” ujarku asal.

“Kami memang tidak pernah melakukannya,”

Really?”

“Selalu aku yang menciumnya, sepertinya dia tidak mencintaiku,” aku tertegun. “Kau tidak boleh dekat-dekat Marcus ya, nanti dia jatuh cinta padamu,” aku terdiam.

“Makanya jaga dia dengan baik, atau aku akan segera membawanya ke gereja untuk kunikahi,”

“Itu tidak lucu tahu,” aku terkekeh. Kutaruh teh itu di atas meja.

“Kau, bahagia dengannya?”

“Aku mencintainya, meski kelihatannya dia tidak, tapi memilikinya sudah membuatku sangat bahagia.”

“Begitu ya…”

“Kenapa kau kelihatan kecewa?”

“Tidak, sudah sana pulang, kau kemari disuruh dad ‘kan? Sekarang kau semakin memihaknya dan tidak memedulikan kebebasan adikmu lagi,”

“Kau mengusirku? Anak nakal. Aku ‘kan juga bilang aku mau melihat-lihat.” Dia benar-benar menyusuri apartemenku, dapur, beranda, kamar mandi. Dia lalu masuk ke kamar, Kyuhyun jangan keluar, please. “Kau bilang kau tinggal dengan Jia, mana dia?” mati.

“Dia… em… sedang bekerja… em… mungkin pulang sore nanti.” Vic duduk di ranjangku yang berantakan.

“Bukankah hari ini Sabtu? Dia tidak libur?”

“Tidak tahu.”

“Jangan terlalu apatis terhadap orang.”

“Jangan terlalu peduli terhadap orang, kau bisa sakit hati karenanya,”

“Em? Dasi?” mati itu dasi Kyuhyun, kenapa dia melepasnya sembarangan sih? “Sepertinya aku kenal dasi ini.” Aku segera mengambilnya.

“Ini… hadiah yang kubeli untuk temanku,” bohongku.

“Seleramu sama dengan Marcus, kalian pasti sangat cocok kalau ngobrol. Jangan sampai kau jatuh cinta padanya ya.”

“Eng?” aku tergelak. Ponsel Victoria berbunyi.

Hallo… oh iya aku sampai lupa, thanks sudah mengingatkan, Jess,”  dia menutup teleponnya dan meminum tehnya. “Aku harus pergi, aku ada janji jam sepuluh.” Aku mengangguk, dari tadi juga aku inginnya kau cepat pergi, Vic. “Ah iya, Amber bilang dia melihatmu dengan seorang pria di diskotek, siapa dia?’ tanyanya saat kami sudah di depan pintu.

“Em… bukan siapa-siapa,”

“Kukira dia pacarmu,” dia tunanganmu, Vic. “Aku pergi, bye.” Vic mencium pipiku dan pergi. Aku menutup pintu dan menguncinya dengan perasaan bersalah. Aku masuk ke kamar dan membuka lemariku.

“Kau bisa keluar,” aku berlalu meninggalkan Kyuhyun tapi dia malah memelukku dari belakang. Kubiarkan tangannya melingkar di perutku dan dagunya di bahuku. Aku tidak bisa mengelak, aku menginginkannya. “Bukankah kau sudah dengar tadi? Dia mencintaimu…”

“Bukankah kau juga sudah dengar tadi? Aku tidak mencintainya.”

“Lalu kita harus bagaimana sekarang?”

“Biarkan saja begini dulu, biarkan dia tidak tahu, dan biarkan kita bersama. Itu adil bukan?”

“Tapi itu tidak akan berlangsung lama, Kyuhyun. Cepat atau lambat kamu harus memilih, tetap bersamanya atau bersamaku.”

“Kamu sudah tahu jawabannya tidak perlu lagi bertanya.” Aku terdiam. Aku memalingkan wajahku ke arahnya, menatap matanya. Berharap aku akan mendapatkan sedikit saja kebohongan di matanya. Tapi aku tahu itu sia-sia, hanya ada keyakinan dan kejujuran dalam binar matanya. Dia menciumku (lagi) untuk hari ini. Aku benar-benar merasa memilikinya setelah lima tahun aku lari darinya.

Benarkah aku akan mencurangi Victoria seperti ini? Aku benar-benar takut.

TBC

Entry filed under: Chaptered, FanFiction, Indonesia, PG, Romance, Super Junior, Type. Tags: .

[STEP 1] The Pain of This Marriage [FF] I WILL FORGET YOU [prolog]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 513,030 hits

Day by Day

November 2011
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: