[STEP 1] The Pain of This Marriage

November 25, 2011 at 5:38 PM 4 comments

Title : The Pain of This Marriage [Step 1]
Author : Vania Lee / Vania_MinKey0923 (@van_alexasntani)
Genre : AU, romance, angst, tragedy, friendship, family, life
Length : chapter
Rating : PG15
Main cast :

  • Choi Minho SHINee
  • Kim Hyunra (OCs)
  • Kim Jonghyun SHINee
  • Ahn Myongri (OCs)
  • Kim Keybum SHINee
  • Ahn Jae Kyo (OCs/Ajni Unnie)
  • Jung Hyorim (OCs/Echa Unnie)

Support cast :

  • Choi Sooyoung SNSD
  • Seo Joo-Hyun (Seohyun) SNSD
  • Seungri Bigbang

Other cast : find by yourself!
Disclaimer : the story and the cover just mine. Jung Hyorim is Echa unn, Ahn Jae Kyo is Ajni unn. No plagiarism!
Summary : aku tidak mencintainya, begitupun dirinya. Tetapi, aku tidak mengerti kenapa kami bisa menikah dan kenapa kami selalu bertemu dengan wanita misterius itu? Belum lagi aku selalu ditekan oleh mereka. Ini menyakitkan.
A/N : mian baru aku publish lagi, padahal di wp sendiri udah sampe step 3B .____.v mian ya~! Hope you like this!

***

THE PAIN OF THIS MARRIAGE – STEP 1

Sinar matahari langsung ‘menyerang’ ketika ia perlahan mulai membuka matanya yang indah tersebut. Dihirupnya udara segar yang masuk melalui jendela yang sengaja dibuka. Matanya menjelajahi langit-langit kamar putih nan bersih di hadapannya dan mengernyit ketika menyadari sebuah keganjilan.

Dugaannya semakin kuat ketika terdengar gemericik air yang berasal dari kamar mandi di dalam kamar itu. Hyunra mengerjapkan matanya beberapa kali dan menyadari bahwa ia tidak berada di dalam flatnya. Sudah cukup lama ia tinggal di flatnya, tidak mungkin ia tidak mengenali flatnya.

Lalu, kalau bukan di flatnya, sekarang ia di mana? Pertanyaan itu yang berputar di benak Hyunra. Yeoja itu kemudian bangkit dan masih dalam posisi duduk, ia mengamati berkeliling kamar ini.

Yeoja itu kemudian melihat ke dalam selimut dan masih menemukan dirinya terbalut rapi oleh pakaiannya tadi malam, yang berbeda hanyalah blazer yang tergeletak di atas meja di sudut ruangan dengan rapinya.

“Aku di mana?” gumamnya sambil mencari-cari orang yang bisa ia tanya dan matanya berhenti pada pintu kamar mandi yang dibaliknya pastilah ada orang sedang mandi. “Kuharap ia wanita, jika namja, jangan-jangan… anhi, anhi…” bisiknya sambil memegangi kepalanya yang terasa berat akibat pengaruh alkohol semalam.

Samar-samar, ia mengingat kepingan kejadian tadi malam. Apa saja yang ia lakukan meski tidak semuanya mampu ia ingat. Terakhir kali yang ia ingat adalah, ia jatuh pingsan karena terlalu banyak minum. Konyol memang, ia minum sebanyak itu hanya karena kesal melihat Minho ada di ruangan yang sama dengannya, lagi.

Harum sabun menyeruak ketika pintu kamar mandi terbuka. Seorang lelaki yang hanya memakai boxer keluar dari sana sembari mengeringkan rambut dengan handuk kecilnya yang berwarna putih.

Hyunra menoleh dan kedua mata mereka bertemu. Satu detik, dua detik, tiga detik, dan detik keempat suasana mulai berubah menjadi sedikit ‘gaduh’.

“AAAAAA~!!!” jerit Hyunra sambil memejamkan matanya sampai kedua indera penglihatan itu menyipit dan kulit wajahnya ikut tertarik. Minho yang terkejut sampai melepaskan handuknya dan kemudian berdecak kesal.

“Aish~ kau ini mau membunuhku dengan suara melengkingmu yang jauh dari kata ‘indah’ itu, hah?” sindir Minho sambil memakai kaus putih kesayangannya dan kemudian mendekati yeoja yang masih terlihat shock itu.

“K-kenapa …”

Sebelum sempat yeoja itu bertanya, Minho sudah menyelanya terlebih dahulu, “Lebih baik kau tidak menambah masalahku terlebih dahulu. Aku akan menjelaskannya setelah kau siap. Oleh karena itu, cepat mandi dan temui aku di ruang makan. Well, sebenarnya bersama Sooyoung noona juga.”

Beberapa detik kemudian, Hyunra masih belum beranjak dari sana. Matanya masih terpaku pada namja di depannya dengan pandangan bertanya. Wajahnya tampak polos dan saat itu juga pandangan penuh kebencian yang biasanya selalu tersirat setiap melihat Minho-sirna begitu saja.

“Tch, wajahmu konyol,” ledek Minho sambil menjauh dari gadis itu, berjalan menuju ke pintu. Saat ia memegang handle pintunya, namja itu berbalik lagi dan kemudian mengangkat bahunya, “Sebaiknya kau bersiap, Miss Kim. Kita bahkan sudah terlambat ke kantor. Dalam sejam kita harus sudah di kantor dan tentunya masalah harus sudah selesai. Kau boleh pakai kamar mandiku jika mau. Annyeong!” Namja dingin itu kembali menghadap pintu dan membuka papan yang tingginya hampir sama dengannya itu untuk keluar dari sana.

Butuh waktu cukup lama bagi Hyunra untuk segera sadar dengan apa yang terjadi. Berbagai pikiran negatif menguasai pikirannya.

“Tch, sialan. Aku tak dapat mengingat penyebab mengapa aku bisa di kamar si Tiang Jemuran itu,” gerutunya sambil menurunkan kedua kakinya, disusul dengan badannya yang langsing dan ideal itu. Dengan langkah berat dan lambat, Hyunra berjalan menuju ke kamar mandi yang ada di kamar tersebut.

“Awas saja kalau ternyata dia macam-macam denganku, tak akan luput kau dari bogem mentahku,” dumelnya sambil menutup pintu kamar mandi yang bahkan terbuat dari sebuah kayu yang kuat dan mahal. Rumah ini rupanya benar-benar bukan sembarang rumah. Pemiliknya sungguh menginginkan tempat yang nyaman dan lux.

~~~

Minho menunduk ketika matanya bertemu dengan mata Sooyoung yang menatapnya demikian tajam. Yeoja itu sedang memasang tampang muram ketika sang adik sampai di ruang makan. Sooyoung yang sedang makan memang langsung berhenti ketika melihat Minho masuk ke dalam ruangan. Segera saja ia memasang wajah menyeramkannya. Ia memang kesal karena di matanya, Minho telah merebut masa depan seorang gadis, tak peduli apa alasan namja itu.

Minho menarik kursi di hadapan Sooyoung. Masih sambil menunduk, namja itu mulai mendudukkan dirinya di atas kursi tersebut.

Hening. Suasana terasa mencekam dan panas bagi Minho. Udara di sekitarnya memang memanas ketika Sooyoung memancarkan aura ‘seram’-nya ketika marah. Entahlah, Sooyoung benar-benar kesal.

“Hhh, aku tak menyangka kau bisa melakukan hal seperti itu. Budaya Barat, huh? Jika kau penganut Budaya Barat yang bebas sebebas-bebasnya, maka Noona sama sekali tidak! Noona tidak setuju jika kau menghancurkan masa depan orang lain. Apalagi aku melihat ia dalam keadaan mabuk. Kenapa kau membawanya kemari, huh? Kau sengaja melakukan itu, hah?” Sooyoung memecah keheningan dengan berderet kalimat panjang lebar yang membuat Minho mendongak dan menatap tidak percaya kepada Sooyoung.

“Mwoya?! Kenapa Noona jadi menuduhku yang tidak-tidak, sih?” protes Minho kesal. “Aku sudah dua puluh empat tahun, sudah memimpin perusahaan pula. Bisakah kau tidak mengatur hidupku?” tukas Minho kesal. Dilemparnya serbet yang baru saja ia pegang ke atas meja dengan gusar.

Sooyoung menatap tajam kepada Minho, “Kau diam saja. Aku Noonamu. Setua apapun dirimu, aku tetap lebih tua darimu dan berhak mengaturmu karena kau adikku. Mana yeoja itu? Aku harus membicarakan ini!” sergah Sooyoung kesal. Yeoja cantik itu melirik ke pintu ruang makan dan kembali menatap Minho, “Masih untung tidak langsung aku laporkan kepada Shinri ahjumma, bagaimana kalau ia mendengar? Kau yakin nyawamu masih utuh, ah?”

“Aish~” dumel Minho sambil melipat tangan di depan dada dan menatap kesal kepada Sooyoung. Inilah kerjaan mereka ketika mereka masih kecil dulu, bahkan sampai sekarang kadang-kadang mereka masih punya waktu bertengkar.

“A-annyeonghasseo…” Terdengar sebuah suara yang menyejukkan hati menyapa keduanya, ah, lebih tepatnya kepada Sooyoung. Sooyoung menoleh dan tersenyum ramah kepada gadis cantik itu. Minho mendengus kesal melihat hal itu. Melihat betapa ramahnya Sooyoung pada gadis itu dan betapa menyebalkannya Sooyoung kepadanya.

Aish, sebenarnya dia kakakku apa bukan, sih? Menyebalkan! gerutu hatinya kesal sekali.

“Duduklah, hmm…?” Sooyoung tampak kesulitan menyebutkan nama Hyunra karena ia belum tahu namanya. Meskipun ia tahu persis siapa yeoja di depannya itu-yang notabene ‘musuh’ adiknya-ia tak pernah tahu nama gadis itu karena Minho hanya menyebut ‘Si Cerewet’ di depan Sooyoung.

“Hyunra, Kim Hyunra imnida, Unnie.ya. Bangapseumnida,” balas Hyunra cepat sambil membungkukan badannya. Yeoja itu melirik sinis kepada Minho yang sedang menoleh dan melihat dengan tatapan tidak suka kepadanya.

“Ah, Hyunra.ya. Duduklah. Aku mau bicara denganmu.” Sooyoung mempersilakan Hyunra duduk. Dengan amat terpaksa, yeoja itu duduk di samping Minho karena kursi yang tersedia hanya ada empat, sementara kursi di samping Sooyoung tidak berani ia duduki.

Perasaan Hyunra mengatakan bahwa sesuatu yang akan ia dengar adalah sesuatu yang buruk. Yeoja itu tak mampu memandangi Sooyoung dan mengalihkan fokus kepada semangkuk sup jagung di tengah meja dan juga nasi goreng kimchi. Tatapan Sooyoung terlalu menusuk, bahkan mungkin bisa menelusuri pikirannya yang sebenarnya sulit untuk ditebak siapapun.

… dan benar saja, dalam sepuluh menit, ketiganya duduk dan bicara dengan formal, layaknya Konferensi Meja Bundar yang membuat Belanda dan Indonesia harus membuat keputusan untuk kemerdekaan Indonesia sendiri yang menghasilkan keputusan bahwa Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat (?) Oke, memang sedikit melantur. Namun, memang begitulah situasinya.

Hyunra harus berusaha menahan rasa kesalnya kepada Minho yang telah membuatnya terseret dalam sebuah keputusan menyebalkan sedunia yang tidak bisa ia bantah meski sudah puluhan bahkan ratusan kali (?) ia tolak mentah-mentah dan jelaskan apa yang terjadi semalam.

Sooyoung memang keras kepala, tetapi sebenarnya ia dapat menerima penjelasan Hyunra mengenai kejadian semalam. Sayangnya, ia tidak memperlihatkan kepercayaannya itu dan sengaja memaksa keduanya untuk segera mengikat benang merah.

“Baiklah, kita akan bicarakan ini nanti. Sekarang sebaiknya kalian ke kantor. Aku juga mau bekerja,” ujar Sooyoung sambil berdiri dan kemudian meninggalkan keduanya setelah tersenyum kepada Hyunra dan melempar tatapan sinis kepada Minho yang merasa seperti terdakwa.

Sooyoung yang sudah berjalan melewati mereka terkekeh pelan, “Hihihi, makanya adikku sayang, jangan pernah menyepelekan kakakmu ini. Aku memang pintar.” Yeoja itu tersenyum puas sambil berjalan menuju ke kamarnya untuk bersiap pergi ke kantornya. Ya, Sooyoung sengaja menutup telinga dalam artian tidak mau menerima penjelasan Hyunra dan memaksa keduanya menikah karena ia ingin Minho mengikat janji bersama seorang yeoja yang sangat Sooyoung suka dan sangat ingin ia jadikan adik ipar. Yeoja itu tak lain adalah Kim Hyunra.

“Ini semua karena kau,” cibir Hyunra sambil membuang muka ke samping kanannya, tak mau melihat wajah Minho. Yeoja itu dapat mendengar Minho mendesis kesal.

“Enak saja. Jelas-jelas kau yang salah. Kau yang tidak biasa mabuk, sok-sok-an minum sebotol soju. Bergaya keren, padahal tidak. Masih untung aku rela tempat tidurku digunakan olehmu sedangkan aku harus di sofa. Aish~ untung ketampananku tidak menghilang karena tidur di tempat sempit itu. Salahmu juga, menyebut nama seseorang dan mendekatkan wajahmu yang menakutkan itu padaku,” balas Minho panjang lebar dengan sarkastiknya.

“MWO?! Kau menyalahkanku, Nappeun Namja?!” pekik Hyunra dengan suara 5 oktafnya yang bisa membuat orang ilfeel jika digunakan pada kesempatan yang salah.

Minho menoleh dan menatap kesal, “Apa katamu?! ‘Nappeun Namja’?! Kau benar-benar…”

“Apa, hah?” tantang Hyunra sambil berdiri dan berkacak pinggang. Tatapannya benar-benar mengundang orang untuk berkelahi dengannya. “Kau mau berkarate denganku? Begini-begini aku pemegang sabuk hitam, tau!?”

“Cih! Aku yang memegang sabuk pelangi saja tidak sombong!” tukas Minho hiperbolis.

Wajah Hyunra mulai memerah karena emosinya sudah sampai ubun-ubun, “Heh, dasar nappeun namja menyebalkan! Kau…”

“STOPP!!!” Tiba-tiba Sooyoung yang sudah berganti pakaian santainya dengan kemeja dan blazer menyeruduk (?) masuk ke dalam ruang makan karena mendengar kegaduhan dua manusia yang sepanjang hidupnya ini selalu saja bertengkar di tiap kesempatan.

Dua manusia itu langsung bungkam dan menunduk.

***

Berlin, Germany
Lelaki itu memandang dengan puas sebuah kopor dan sebuah ransel yang kini tampak ‘gemuk’ karena telah berisi berbagai macam barang miliknya yang akan ia angkut ke negara asalnya. Sudut bibirnya tertarik semakin ke atas, membentuk sebuah senyum lebar ketika di benaknya terlintas wajah keluarganya yang sangat ia cintai itu.

Namja berwajah tampan, manly, dan rambut yang digel sehingga membentuk rambut yang keren itu mengambil BlackBerry miliknya. Dengan sigap, kelima jarinya mengetikan beberapa pesan BlackBerry Messenger kepada adik tercintanya. Ia kembali tersenyum setelah mengirim pesan tersebut.

‘Naui saengi, oppa akan berangkat ke Seoul hari ini. Kau pasti sudah merindukanku, kan? Kekekeke~ don’t miss me, saengi. I don’t miss you. Kekeke~ bercanda, kau tahu betul aku merindukanmu. Jika sudah sampai, aku akan mengirim pesan lagi padamu. Jangan lupa jemput aku, yeobo~ bogoshippo, Kim Hyunra!’

Sebuah senyum terus mengembang di sana. Ia benar-benar menyayangi adiknya tersebut dan ia yang selalu ada di sampingnya ketika Hyunra down saat kekasihnya lenyap entah ke mana.

“Well, ayo kita berangkat sekarang. Kau sudah merindukan keluargamu, kan? Penerbangan dijadwalkan dua jam lagi,” ucap seseorang masuk ke dalam kamar flat namja tadi.

Namja itu tersenyum, “Ne. Ayo, Seungri.ya kita pergi.” Dua namja yang sama-sama berwajah tampan itu berjalan keluar dari flat tersebut. Sebelumnya, kakak Hyunra itu memeriksa apakah ada barang yang tertinggal atau tidak. Setelah yakin tidak ada barang miliknya yang tertinggal kecuali kulkas yang sengaja ia tinggal, namja itu kemudian keluar dari sana sambil menarik pintu flatnya dan menutup pintu itu.

Ia memandanginya lama, sudah sekitar 2 tahun ia di sini, cukup banyak pengalaman yang ada di sini. Senyum lebar kembali tersungging di bibirnya. Namja itu kemudian mengangguk dan menoleh kepada Seungri yang sedang mengutak-atik ponselnya.

“Ayo, Seungri.ya!” ajaknya sambil mendekati Seungri.

“Ne, hyung.” Seungri kemudian berjalan beriringan dengan namja itu sambil membahas apapun yang dianggap seru dan ramai oleh mereka.

“Oya, hyung,” panggil Seungri ketika sebuah taksi berhenti di depan mereka. Keduanya masuk ke dalam dan Seungri kembali membuka mulutnya, “Apakah kau masih mengingatnya? Ke mana yeoja itu?”

Namja itu menoleh dan mengernyitkan dahinya, “Nuguya? Myongri maksudmu?” tanya namja itu tersendat. Ahn Myongri, sahabat sekaligus belahan dan separuh jiwa namja itu memiliki kenangan yang tidak pernah akan ia lupakan. Kenyataan itu membuatnya sangat sedih. Sedih sekali.

“Ne, hyung. Mian kalau menyinggungmu, aku hanya bertanya.”

“Kenapa memangnya?”

“Hanya bertanya. Just answer, hyung,” balas Seungri sedikit memaksa.

“Well, tentu saja. Aku tak akan pernah melupakan yeoja sebaik dia,” balasnya sambil menghela nafas panjang. “Apa kau butuh pengalamanku? Kau mengalami hal serupa?” tanyanya bertubi-tubi. Seungri tidak menjawab, hanya menyeringai kecil dan menggeleng.

“Ada deh, hyung.”

“Awas saja kau, aku akan mengetahuinya,” canda namja itu sambil menoleh ke depan.

“Memangnya kau siapa, hyung? Cenayang?” Seungri terkekeh setelah berkata seperti itu dan semakin terkekeh mendengar jawaban namja pintar di sampingnya itu. Namja yang sangat perhatian kepada yeoja dan mantan playboy SMA.

“Bukan. Namaku bukan Cenayang, tetapi Kim Jonghyun…”

***

Seoul, South Korea
11.45 KST

Kesibukan di kantor itu seakan tidak akan pernah berhenti. Lihat saja, banyak sekali yang berlalu lalang di koridor dengan langkah tergesa, bahkan sampai berlarian kecil dengan setumpuk kertas di tangan. Ada juga beberapa yeoja yang memakai sepatu ber’tongkat’ atau yang biasa kita sebut hak dengan ujung kecil tajam, terpeleset begitu saja. Akibatnya juga beragam. Mulai dari punggung dan bokong sakit, sampai keseleo dan haknya patah. Well, itu pemandangan biasa. Perusahaan besar nan sibuk itu memang harus bekerja cepat dalam segala hal.

“Hyunra.ya! Apakah aku ada jadwal setelah makan siang?” tanya seorang namja bertubuh tinggi yang sedang menenteng jaketnya dan berhenti di depan meja sang sekretaris. Namja itu baru saja bertemu beberapa tamu penting di bawah. Baru sekarang ia selesai dan kini bertanya kepada Hyunra mengenai jadwal berikutnya.

Hyunra yang sedang berkutat dengan beberapa lembar kertas mendongak dan kemudian meraih sebuah buku tebal berisi jadwal-jadwal sang direktur yang notabene adalah musuhnya juga. Tetapi dalam bekerja, kita harus profesional bukan?

Yeoja itu lalu melirik komputer di sampingnya, mengetikkan beberapa huruf di keyboard. Setelah mendapat jawaban, ia kembali melihati Minho yang masih berdiri tegak bagaikan menara Eiffel.

“Untuk hari ini, ada. Kau punya meeting dengan Creative Factory Company, pukul 14.15 KST di Incheon. Kali ini kau akan berhadapan dengan presdirnya.” Hyunra menjawab dengan ekspresi datar tanpa ada kesan ramah sedikit pun. Untuk yang satu ini, ia memang tidak bisa merubahnya. Berada di hadapan namja itu membuatnya bete selalu dan itu penyebab ekspresi kakunya.

Minho menelengkan kepalanya, “Siapa presdirnya? Dia tidak pernah bertemu denganku dan aku belum mengenalnya. Baru sebulan ini kami bekerja sama dan aku hanya bertemu wakilnya.” Informasi yang sama sekali tak penting itu terlontar begitu saja dari mulut namja itu.

Hyunra mengangkat alisnya, “Mollayo. Harusnya kau tahu, kan, sajangnim?” sindir Hyunra sambil berdiri dan kemudian melengos begitu saja. Namun, tangannya ditarik oleh Minho, membuat yeoja itu berbalik dan memasang tampang paling kaku yang pernah bisa ia keluarkan abad ini (?)

“Ada lagi yang mau kau sampaikan?” tanya Hyunra malas. Namja itu berdecak sebal saat ditanya seperti itu. Benar-benar yeoja dan namja yang sama-sama keras kepala dan tak mau mengalah.

“Bisakah kau sopan sedikit? Aku ini bosmu, babbo!” tegur Minho kesal sekali. Emosinya kadang bisa tak terkontrol bila di dekat yeoja ini. Yeoja yang bisa dikatakan : ‘ada Minho pasti ada Hyunra’. Well, memang itu kenyataannya.

Kini giliran Hyunra yang berdecak kesal, “Ck! Dasar namja menyebalkan, sudah mengatakan kau bosnya, mengataiku pula. Meski kau bosku, tetap saja Shinri ahjumma yang berhak memutuskan mengenai status kerjaku di sini. Babbo!” Yeoja itu memutar sendiri tangannya dengan keras sehingga tangannya terlepas dari cengkeraman Minho.

Hyunra berputar 360 derajat dan berjalan cepat, membuat helaian-helaian rambut panjangnya berkibas ke kanan dan ke kiri. Entah mengapa, melihat hal itu seakan melenyapkan kekesalan Minho. Namja itu jadi diam di tempatnya menatapi punggung gadis itu yang kini hilang di balik pintu yang telah ditutup. Barulah ia sadar dan bergumam heran, “Kenapa juga aku ini?” gerutunya sambil berbalik dan kemudian berjalan menuju kursinya.

~~~

Eunrin tertawa terbahak-bahak sampai air mata menetes keluar dari kedua matanya. Pipinya memerah, sementara mata sipitnya jadi tampak hilang karena terlalu kuat ditekan oleh tawanya. Sementara itu, kedua tangannya memegangi perutnya yang terasa sakit akibat tertawa. Tingkahnya berbeda sekali dengan Hyunra yang duduk di depannya dan memasang wajah bete. Yeoja itu mengalihkan pandangannya ke jendela di sebelahnya, melihati orang-orang maupun kendaraan yang berlalu lalang di sana.

“Aish~ bisakah kau diam? Kau ini sahabatku apa bukan sih?” tukas Hyunra saat sudah 3 menit lebih Eunrin tertawa puas sekali. Nada bicara Hyunra benar-benar terdengar seperti orang marah karena memang itu kenyataannya. Dia kesal sekali kepada Eunrin yang malah mentertawakannya.

Eunrin akhirnya berusaha untuk berhenti meski rasa menggelitik itu masih ada di dalam perasaannya, “Hahaha, aish, haha, mianhae… hahhaaha, habisnya ini benar-benar lucu… hahahaha~” Eunrin akhirnya benar-benar berhenti tertawa. Yeoja itu mengelap matanya yang sudah basah dengan tisu di depannya dan senyum lebar menghiasi wajahnya. “Chukkae!”

Hyunra mengerutkan keningnya, sementara alisnya berkerut. Kenapa dengan yeoja ini? Apa ada yang salah dengan syaraf otaknya? pikir Hyunra melihat sahabatnya menjadi tidak jelas begini.

“Hahahah! Chukkae karena kau akan menikahi namja itu. Hahaha, aku harap kalian rukun. Well, kau akan menyusulku rupanya. Ahahahah~” Eunrin hendak tertawa lagi tak memedulikan Hyunra yang sudah cemberut sedemikian rupa (?) namun tak jadi saat merasakan seseorang duduk di sebelahnya.

Eunrin tersenyum semakin lebar saat melihat calon suaminya sudah duduk di sebelahnya dengan memamerkan senyumnya. Percayalah, saat kedua orang itu tertawa, mata keduanya akan sama-sama ‘hilang’.

“Annyeong, oppa!” sapa Hyunra dan Eunrin bersamaan. Jinki tersenyum sangat manis di hadapan keduanya, sementara Eunrin melihati pesona calon suaminya dengan kagum.

Tanpa disuruh sama sekali, Eunrin langsung menceritakan apa yang membuatnya tertawa kepada Jinki dan kontan membuat namja itu juga tertawa walau hanya sebentar, tidak selama Eunrin.

“Sudah, sudah. Lihat wajah sahabatmu,” ujar Jinki menengahi tawa calon istrinya yang sangat keras dan puas itu. Eunrin mengangguk-angguk dan kemudian menatap Hyunra serius.

“Kapan kalian menikah?” tanyanya. Hyunra berdecak, kemudian mengangkat cangkir kopinya dan meneguk isinya dengan gusar.

“Bisakah kau tidak bertanya dulu soal itu? Ini juga belum pasti. Semoga Sooyoung unnie bisa merubah keputusannya. Lagipula belum ada persetujuan dari Shinri ahjumma dan suaminya yang notabene paman dan bibi mereka.” Hyunra mengeluh dengan kesal. Eunrin terkekeh dan kemudian menelan makanannya dengan tenang.

“Kalian sendiri kapan?” tanya Hyunra sambil melihati Eunrin dan Jinki bergantian.

Namun, pasangan yang sama-sama ‘sangtae’ ini hanya saling berpandangan dan kemudian terkekeh bersama. Hyunra mengerutkan alis melihat tingkah dua manusia yang sebentar lagi akan menjadi sepasang suami istri ini.

“Kami? Kami bulan depan! Kau wajib datang bersama Minho, oke? Kalau tidak, kami akan mengusirmu dari gereja kami jika kau tidak datang bersamanya, ara?” Eunrin tertawa puas setelah berkata begitu. Hyunra menekuk wajahnya sebal.

“Kalian benar-benar kekanakan! Sahabat sendiri diusir? Benar-benar tidak manusiawi!” cibir Hyunra kesal.

Jinki tertawa kecil dan akhirnya mewakili Eunrin untuk berbicara karena yeoja itu sama sekali tak mau menghentikan tawanya, “Begini, Hyunra.ya, kami hanya ingin kalian rukun. Itu saja.”

Hyunra tak berkomentar, wajah dinginnya sudah dikeluarkan dan itu berarti dia kesal sekali.

“Hmm, tapi, apakah kau percaya dengan takdir?” tanya Eunrin tiba-tiba. Tawanya mendadak berhenti sama sekali dan tatapannya begitu serius.

Hyunra yang sedang meneguk kopinya kembali langsung mem-pause gerakannya dan mengangkat alisnya heran, “Apa? Takdir? Kenapa dengan dirimu, huh?” tanya Hyunra balik.

“Just answer~”

“Aish! Tentu saja aku percaya, Eunrin.ssi. Takdir itu yang selalu menentukan hidup kita. Sudahlah, jangan menambah rasa pusingku!” tukas Hyunra kesal.

Mengabaikan omongan Hyunra, Eunrin malah melanjutkan omongannya, “Percaya tidak kalau Minho adalah takdirmu?”

***

13.45 KST

Hyunra menggerutu kesal karena telah berhasil kembali ke kantornya hampir sejam dari waktu yang seharusnya. Seharusnya ia kembali dari makan siangnya sekitar jam 13.00 KST, tapi kini ia berhasil sampai 45 menit setelahnya hanya karena omongan Eunrin yang memanjang.

Tring!

Pintu lift terbuka dan dengan rusuhnya, Hyunra menyeruduk keluar dari box berukuran 4×4 meter itu. Saking rusuhnya, yeoja itu sampai terpelanting (?) ke depan karena hak sepatunya mendadak menclong (?) dari tempatnya.

“Aish!” pekik Hyunra saat merasakan kakinya kesakitan luar biasa. “Haduh, si bos cerewet itu pasti akan memberikan setumpuk tugas mengerikan jika sudah telat begini. Aish!!” keluhnya komat-kamit.

Bukan itu saja, file-file yang telah ia susun rapi di dalam sebuah map berhamburan dengan bebasnya ke lantai, membuatnya berserakan.

Tepat sekali di saat lorong ini sepi!! dumel hati Hyunra sambil berusaha mengumpulkan berkas-berkas penting yang harusnya sudah lengkap karena pukul 14.15 KST ia harus mendampingi Minho meeting.

“MWOYA?! 14.15?!” pekiknya sambil melihat jam tangannya. Waktu kini menunjukkan pukul 13.59 dan itu berarti waktunya sempit sekali. Saking paniknya, Hyunra lupa bahwa kakinya keseleo. Ia berdiri secara cepat dan itu menyebabkan urat-uratnya tertarik.

“AAAA!” serunya kencang saat merasakan sakit luar biasa di pergelangan kakinya.  “Aduh, aduh…” ringisnya sambil terduduk di lantai berkarpet tersebut. Air matanya sudah mengembang di pelupuk matanya. Benar-benar perih, itulah rasanya.

Hyunra memejamkan matanya kuat-kuat sampai air mata yang sudah mengembang itu langsung turun begitu saja. Ia benci keseleo. Yeoja itu merasa ada seseorang yang kini ada di dekatnya dan mungkin sedang memunguti filenya. Membantu dirinya yang tengah kesakitan, tapi yeoja itu tak peduli.

“Makanya hati-hati…” gumam seseorang tepat di telinga yeoja itu. Belum habis rasa kekagetan Hyunra, orang itu bahkan mengangkatnya dengan Bridal Style sambil membawakan map miliknya.

Yeoja itu tertegun, lidahnya yang biasa dipakai untuk menyangkal orang yang sedang menggendongnya ini mendadak kelu.

~~~

Minho melihati jam dan meja sekretarisnya bergantian dengan gelisah. Mereka akan meeting, sementara Hyunra sama sekali belum nampak batang hidungnya.

Namja itu akhirnya berdiri dan kemudian meremas rambutnya, “Aish! Kau memang selalu membuatku kesal, Kim Hyunra,” gerutunya sambil berdecak. Namja itu menyambar jasnya dan kemudian berjalan keluar. Dia tahu betul di mana biasanya Hyunra makan siang.

“Hash, sepi sekali lorong ini,” ujarnya saat melihat semua orang sibuk di ruangan besar yang ada di seberang ruangannya dan lorong begitu sepi. Semuanya tampak konsentrasi dengan komputer di depan mereka. Adapun beberapa orang yang menyadari keluarnya si Bos langsung manggut kecil lalu kembali melihat komputer di balik kacamata mereka.

“Ke mana yeoja itu? Huh, jika saja Shinri ahjumma tidak begitu membanggakannya, aku sudah memecatnya duluan…”

Kaki panjang namja itu terus melangkah sampai akhirnya terhenti ketika dilihatnya seorang yeoja sedang terduduk dengan sebelah kaki terselonjor dan air mata menuruni kedua pipi gadis cantik itu. Belum lagi kertas-kertas tampak berserakan di sana.

Tanpa pikir panjang namja itu langsung menghampiri yeoja yang tengah menutup erat matanya itu. Entah apa yang merasukinya, ia membereskan kertas-kertas yang berceceran tersebut, merapikannya, dan memasukkannya ke dalam map.

“Makanya hati-hati…” gumamnya tanpa sadar dan menyelipkan tangannya di leher dan lipatan lutut kaki yeoja itu, persis seperti kemarin. Menggendongnya ala Bridal dan berhasil membungkam yeoja itu.

Hyunra tertegun melihat hal ini. Tidak disangkanya bahwa orang yang menurutnya menyebalkan itu tiba-tiba melakukan hal ini.

Matanya terpaku pada namja itu-yang kini sedang menggendongnya dengan gaya yang cukup riskan itu.

“K-kau…”

“Diamlah. Kau ini, sudah telat masih mau ngomong lagi!” potong Minho tegas, mengeluarkan semua karismanya yang sukses membuat Hyunra terdiam. Namja itu membawanya ke ruangan mereka dan itu menarik perhatian banyak orang.

Pasalnya ini merupakan keajaiban. Di mana biasanya si Sir Choi dan si Miss Kim ini selalu berantem, sekarang berada dalam posisi ini.

Pintu ruangan itu ditutup perlahan. Seiring tatapan iri dan benci yang terlempar dari seorang yeoja berambut panjang dan berwajah manis.

“Kenapa mesti yeoja itu yang berada dalam posisi itu? Kenapa bukan aku?” gerutunya sambil kembali fokus pada pekerjaan. Percuma, ia tak dapat fokus sekarang.

“Seohyun!” panggil seseorang membuyarkan lamunan yeoja itu.

Seohyun berbalik dan memandang malas kepada seseorang yang baru saja memanggilnya, “Ne, Changmin oppa?” tanyanya sambil menunduk dan mengerjakan kembali apa yang baru saja ia abaikan.

“Jangan terlalu banyak berharap pada Choi sajangnim. Sepertinya aku tahu siapa yang dia suka…”

Seohyun langsung mengangkat wajahnya dan menemukan Changmin sudah pergi meninggalkannya. Yeoja itu menghela nafas panjang dan kemudian menekan-nekankan bolpoinnya dengan penuh nafsu.

***

Creative Factory Company
14.30 KST

Seorang yeoja dengan rambut yang terurai, kacamata bening, make up tipis, blazer berwarna hitam beserta kemeja berwarna putih sedang duduk dengan wajah dingin dan datar. Dagunya naik sedikit, menandakan bahwa dia berkuasa di sini. Aura angkuhnya nampak terasa.

Berulang kali ia melihati jam, namun orang yang ditunggu tak kunjung datang.

“Siapa sih memangnya direktur Choi Incorporation itu?” gerutunya sambil mengetuk-ngetuk kakinya di atas lantai.

Pintu ruangan itu akhirnya terbuka. Para pemegang saham yang telah duduk berkeliling termasuk sang presdir cantik itu menoleh bersamaan. Seorang namja bertubuh tinggi nan tegap didampingi seorang yeoja yang jalannya agak pincang, berjalan mendekati mereka. Selain mereka, dua orang itu diikuti oleh beberapa staf lainnya yang terlibat dalam rapat.

“Annyeonghasseo, maaf kami terlam…” Ucapan Minho terhenti ketika melihat seorang yeoja yang tengah berdiri dengan postur tubuh angkuh tengah menatapnya dengan pandangan yang tak dapat diartikan.

Hyunra langsung mengambil alih, “Maafkan karena kami terlambat, Miss. Jalanan sangat macet dan kami benar-benar tidak…” Ucapannya terhenti saat yeoja itu melambaikan tangannya.

“Gwenchana,” potongnya sambil tersenyum, ah, lebih tepatnya menyeringai penuh arti. “Choi Minho, sudah lama kita tidak berjumpa, ne?” Nada suaranya terdengar sangat amat tenang dan halus. Mengandung maksud tertentu yang tidak diketahui siapapun kecuali Minho.

Minho sadar bahwa beberapa pasang mata dari beberapa orang penting tengah melihatinya. Namja itu kemudian bersikap biasa. Kekagetan yang tadi terlihat sekilas kini hilang begitu saja.

“Ehem,” dehamnya sambil menyodorkan tangan yang langsung disambut oleh yeoja manis itu. “Jung Hyorim, sudah lama tidak berjumpa…”

Yeoja itu-Jung Hyorim-tertawa kecil dan mempersilakan rekan bisnisnya tersebut duduk di tempatnya. Sedangkan Minho menatap dengan penuh perasaan campur aduk yang tidak dapat dijelaskan.

Hyunra yang menangkap hal itu mengerutkan dahinya, namun tidak mau terlalu banyak ingin tahu. Rapat itu dilanjutkan dengan suasana yang mendadak ‘aneh’ yang tercipta dari dua orang pemimpin besar itu…

***

Hyunra’s flat
19.45 KST

Hyunra memandang langit kamarnya dengan gusar. Kejadian tadi siang masih terbayang jelas di benaknya. Saat di mana Minho menggendongnya dan bahkan memijit pergelangan kakinya sampai lumayan baik daripada sebelumnya.

Flashback-

“Kau ini, makanya jangan ceroboh!” omel Minho ketika sudah meletakkan Hyunra di atas sofa yang tersedia di ruangan mereka.

“Aish, aku kan terburu-buru…” bantah Hyunra sambil memalingkan wajahnya. Yeoja itu berusaha menenangkan hatinya yang mendadak ketar ketir dan degup jantungnya yang mendadak melonjak.

Tak lama, ia merasakan kakinya dipijit halus oleh seseorang yang tak lain Minho, rival abadinya itu.

“K-kau…” Hyunra merasa tenggorokannya sakit sekali, tak dapat bicara. Ini aneh!

Minho tersenyum tipis, “Biar kali ini saja. Kita kan bertengkar sudah berbelas-belas tahun, ya, biar saat ini aku baik padamu.”

Hyunra terperangah, otaknya korslet, kah?

Yeoja itu tak mampu berkata-kata, hanya mampu melihati Minho yang dengan telaten memijitinya.

“Selesai!” seru Minho girang.

“K-kamsa…” Mata mereka bertemu. Hyunra tertegun saat menemukan sinar khawatir dan sinar lain di mata namja itu. Namun, tiba-tiba saja sinar itu hilang dan tersembunyikan. Membuatnya berpikir apa ia yang salah atau kenapa…

Namja itu kemudian melihat jam dan terperanjat saat melihatnya. “Hyaaa! Kita sudah hampir telat! Ini karena kau!” pekik Minho.

“Hyaaa! Kenapa? Aku kan tak sengaja!”

Well, acara romantis itu akhirnya ditutup dengan pertengkaran kecil, lagi.

Flashback off-

“Astaga,” gumam Hyunra sambil tersenyum kecil kemudian bangkit dari ranjangnya. Ia teringat akan Jonghyun, oppanya yang akan pulang besok dan ia akan dapat memeluknya lagi seperti dulu. “Ah, oppa! Bogoshippo!”

***

Jonghyun tengah asyik membaca sebuah buku novel yang menjadi buku favoritnya tersebut. Sementara itu, Seungri, teman seperjuangannya itu sedang asyik melihati langit dari jendela kecil burung besi tersebut.

“Aaaa~ aku tak sabar ingin cepat sampai Korea!” celetuk Seungri sambil menoleh dan ia berdecak kesal saat menemukan Jonghyun tengah asyik berkutat dengan bukunya. “Buku apa sih?” Namja itu merebut buku tersebut.

“YA!” pekik Jonghyun tak terima. Namja itu kembali merebutnya, namun tidak berhasil. Seungri membaca apa judulnya.

“Wow, novel remaja. Karangan siapa?” tanya namja itu sambil mencari-cari nama pengarangnya.

“Karangan Ahn Jae Kyo. Dia penulis dari Korea yang sangat kufavoritkan. Karya-karyanya sangat bagus. Aku ingin bertemu dengannya,” sambar Jonghyun cepat.

“Kau mau bertemu dengannya?” tanya Seungri sambil mengembalikan buku itu.

“Ne.”

“Ahn Jae Kyo itu sepupu jauhku. Woah, aku bahkan tak tahu ia menjadi penulis.”

Mata Jonghyun tampak berbinar, “Jinjjayo?” tanyanya sambil menatap penuh harap kepada Seungri. Persis seperti seekor puppy kepada induknya.

“Aish!” Seungri mengibas-ngibas tangannya. “Jangan menatapku begitu. Ne, akan kukenalkan kau pada Jae Kyo.”

***

Kediaman Keluarga Choi

Minho menunduk saat Shinri ahjumma dan Hoongki ahjussi menatapnya kesal. Sooyoung baru saja membawa keduanya ke rumah dan menceritakan duduk perkaranya. Sooyoung sangat ingin adiknya menikah secepatnya.

“Kau meniduri orang, huh? Tak kasihan kepadanya?” tanya Shinri ahjumma kesal. “Hyunra itu yeoja baik-baik, sekarang kau nodai pula. Apa…”

“Aish! Aku tak melakukan itu kepadanya. Berhentilah menuduhku!” potong Minho jengah.

“Jangan membantah!” seru Sooyoung dengan semangat 45 (?)

Minho mendesis dan menatap jengkel kepada noonanya yang satu itu. Noona yang keras kepala dan tak mau kalah, persis sepertinya.

“Sudahlah, Shinri.ya! Mungkin yeoja itu yang kegenitan,” bela Hoongki ahjussi. Minho mendongak dan menatap tak suka kepada ahjussinya karena baru berkata begitu. Hal itu ia lakukan di luar kesadarannya. Sooyoung tersenyum simpul melihat adiknya.

Shinri menoleh, “YA! Jangan katakan hal itu! Hyunra gadis baik! Aku mengenalnya.”

Hoongki mendesis sinis, “Cih. Aku lebih suka kalau Hyorim saja yang menjadi istri Minho. Aku tak suka Hyunra, cankam itu.”

“Mwo?! Kau harus menerimanya! Minho harus bertanggung jawab!”

… dan dua orang itu bertengkar di hadapan Minho dan Sooyoung yang memasang wajah datar, seakan sudah terbiasa dengan pertengkaran mereka. Hal yang persis seperti yang pernah terjadi pada orang tua mereka dulu sebelum mereka meninggal dunia.

Minho berdiri dan meninggalkan ruang tamu itu, disusul oleh Sooyoung yang mengikutinya.

“Minho.ya, apa kau kesal?”

“Kenapa?”

“Karena Hoongki ahjussi menyebut ‘Hyorim’?” jawab Sooyoung sambil menatap adiknya.

Minho mengangkat bahu, “Entahlah. Jangan bahas itu sekarang, Noona. Cathrine dan aku sudah tak ada hubungan.” Minho berjalan menuju kamarnya dan kali ini Sooyoung tak mengikutinya.

“Aigo, aku harap kau tidak mencintainya lagi. Aku tak mau hal itu terulang lagi…”

To be continued 

***

Entry filed under: Angst, Big Bang, Boyband, Chaptered, Family, FanFiction, Friendship, Indonesia, K-Pop, Life, PG, Romance, SHINee, SNSD. Tags: .

[FF] Live will never flat (2/…) [FF/2S/PG-16] Way Back Into Love

4 Comments Add your own

  • 1. elynd  |  December 1, 2011 at 2:35 PM

    akhirny ff yg qu tggu” kluar jd penasaran klnjutnny….bgus bgt critany…

    Reply
  • 2. aliya  |  December 17, 2011 at 8:11 PM

    Haha awal yg bagus… romantisnya minho! Lanjuuuttt

    Reply
  • 3. taemfallin  |  November 14, 2013 at 4:18 AM

    Ini keren ffnya
    Ŧǻρί lanjutannya mana Ɣää?

    Reply
  • […] [STEP 1] The Pain of This Marriage […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,956 hits

Day by Day

November 2011
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: