[CHAPTER 5] My Beloved Girl

October 21, 2011 at 12:49 AM Leave a comment

Author : r13eonnie 강 하이에나 a.k.a Pinky Girl

Rating : R / PG-15

Genre : Romance, Life, Angst, Friendship, Family

Lenght : Chaptered

Main Cast :

↔ Vania Alexandria Sentani / Lee RaeHee / Vania Lee ( OC )

↔ Lee Jeong Hoon ( HITZ )

↔ Hangeng

Support Cast :

↔ Lee Hong Ki

↔ Ghun ( X-5 )

↔ Jo Twins ( Jo Kwangmin n Jo Youngmin )

↔ Stevanny Jessica Manoach / Song Hyun Won ( OC )

↔ Anastasia Hannas / Lee ChaeRi ( OC )

↔ Jung Ilyeon ( OC )

↔ Jung Yeon Hee ( OC )

↔ Bae Eunsun ( OC )

↔ Kim Eun Ki ( OC )

and Other…

Backsong : Endless Moment – super Junior

Author Note : Oya sekedar WARNING, di part ini agak2 ada Yadongnya dikit yah, hehe…;D

 

Have a great Day for READER and SIDER

Happy Reading

*kalo ga mau denger lagunya bisa di pause, kalo mau di ulang bisa klik play lagi..;)

Vania masih terdiam, tidak tau apa yang harus dia jawab. Vania menunduk pelan.

“Eonni,,siapa yang paling berarti dalam hidupmu??” Chaeri ikut mendesak Vania.

“Mian, aku tidak bisa menjawabnya” sekarang Jeong Hoon menatap ke arah Vania.

“Eonni, tapi kau harus menjawabnya, ini kan sudah aturan dari permainan ini”

“Mian Yeon Hee-ah, aku tidak bisa menjawabnya, lebih baik aku melakukan tantangan daripada harus menjawab pertanyaan itu, choengmal mianhae”

Suasana hening seketika, sampai akhirnya paman Hwan angkat bicara.

“Ah..sudahlah…sudahlah, kalau Vania tidak mau menjawabnya jangan paksa dia, baiklah kalau begitu ayo kita lanjut ke putaran ke tiga”

“Ahh…Chaeri-ah sekarang giliranmu, ayo ambil gulungan kertasnya” ucap paman Hwan semangat.

“Dare…” ucap Chaeri saat membuka gulungan kertas yang dia pilih.

“Kau harus bernyanyi lagu SNSD GEE, berikut dengan tariannya, hahaha…” Kwangmin dengan semangat membaca isi tantangan dari gulungan kertas yang di ambil Chaeri.

“Ayo, Chaeri-ah, kau harus bernyanyi dan menari” rayu bibi Gae Hwa dan paman Hwan.

“Ah,,anhio, aku tidak bisa menyanyi, suaraku sangat jelek, aku juga tidak bisa menari, shiro, aku tidak mau melakukannya”

“Yaa..ayolah ini kan hanya permainan, anggap saja kau memberi hadiah pada paman dan bibi, eoh??”

“Ayo, eonni, kau harus bernyanyi dan menari yah, hehe…” Yeon Hee menarik tangan Chaeri untuk berdiri di tengah2 mereka.

Dengan terpaksa akhirnya Chaeri mulai menyanyikan lagu itu dan sedikit menari walaupun dengan wajah yang tersipu.

“Youngminie, kau temani dia menyanyi, ayo..” paman Hwan menarik tangan Youngmin dan mendorongnya ke arah Chaeri, sontak mereka berdua jadi salah tingkah.

Chaeri menyelesaikan nyanyi dan tariannya dan semua orang nampak bahagia dan bisa tertawa lepas, tapi tidak dengan Vania dan Jeong Hoon yang hanya tersenyum tipis meski orang2 di sekitar mereka saat itu tertawa terbahak-bahak.

“Yaahhh..paman sekarang giliranmu, ayo ambil gulungan kertasnya” Kwangmin sedikit berteriak semangat saat botol yang dia putar berhenti di paman Hwan.

“Baiklah,,baiklah…”

“Truth” paman Hwan memasang wajah pasrahnya saat kertas yang dia ambil ternyata berisi ‘Truth’

“Ah,,,sekarang giliranku yang memberikan pertanyaan” ucap bibi Gae Hwa dengan penuh semangat.

“Yak….yobo, apakah selama ini kau pernah main hati dengan wanita lain di belakangku, huh?? Ayo jawab yang jujur, atau kalau tidak kau tidak boleh tidur sekamar denganku lagi” bibi Gae Hwa menatap garang ke arah suaminya itu.

“Yaakkk….kau ini pertanyaan apa itu??”

“Wae?? Apa kau takut untuk menjawabnya??”

Semua orang sekarang ikut tegang melihat ke arah paman Hwan, apa yang akan di jawab paman Hwan nanti?? Rasa takut dan khawatir tampak di wajah mereka, takut jawaban paman Hwan nanti akan menimbulkan pertengkaran di antara paman dan bibi Gae HWa.

“Baiklah, aku akan bicara jujur, chagia, memang selama ini aku suka usil melihat wanita2 seksi, cantik atau bahkan sesekali aku menggoda mereka, tapi kau tau itu hanya bercanda dan aku tidak menggunakan nafsuku, kau tau dari dulu aku memang seperti itu kan, jauh sebelum kita menikah, jadi percayalah aku tidak pernah main hati dengan wanita lain atau berusaha untuk selingkuh di belakangmu, meskipun kita belum juga di karuniai seorang anak, aku akan tetap mencintaimu, aku ingin hanya kau yang menemani hidupku sampai aku mati nanti. Kalau kau tidak percaya, jika semua ucapanku ini bohong, dalam 3 hari ke depan mungkin Tuhan mengambil nyawaku” paman Hwan menggenggam tangan bibi Gae Hwa dan menatap matanya lekat.

“Yaak,,,kau jangan bicara seperti itu, siapa bilang aku tidak percaya padamu?? Yobo mianhaeyo jika aku pernah memiliki pikiran buruk padamu”

“Maafkan aku juga yah jika aku pernah membuatmu kesal dengan kebiasaan burukku itu” paman memeluk bibi Gae Hwa erat.

“Aahh..akhirnya, aku kira akan ada perang dunia ke 4 tadi, hehe..”

PLETAK…

“Aauuww..yaak, eonni-ah kenapa kau suka sekali memukulku sih?? Sakit tau” Yeon Hee mengusap-ngusap kepalanya yang di pukul Ilyeon.

“Yeon Hee, mana yang sakit, sini biar aku usap” Kwangmin mencoba menyentuh kepala Yeon Hee namun Yeon Hee meolaknya.

“Shiro, lepaskan tanganmu dari kepalaku” ucap Yeon Hee ketus.

“Wah,,paman, bibi kalian romantis sekali, aku juga mau di peluk” Kwangmin lagi2 menggoda Yeon Hee, dia mengarahkan tubuhnya untuk memeluk Yeon Hee, namun lagi2 Yeon Hee menolak.

“Yaaak….kalau dekat2 lihat ini apa??” Yeon Hee mengepalkan tangannya dan mengarahkannya tepat di depan wajah Kwangmin.

“Haha,,ya sudahlah aku peluk diriku sendiri saja” Kwangmin melingkarkan kedua tangannya ke tubuhnya sendiri.

“Baiklah, sekarang ayo putar lagi botolnya”

“Biar aku yang putar”

“Oppa, botolnya berhenti padamu” ucap Yeon Hee saat botol yang di putar Ilyeon berhenti tepat mengarah pada Hangeng.

“Dare…” Hangeng membuka gulungan kertasnya dan menyebutkan isi dari gulungan kertas itu dengan datar.

“Biar aku yang baca tantangannya. Kamu harus mencium bibir orang yang ada di sebelahmu, baik pria atau wanita” Ilyeon membaca isi tantangan di kertas yang di ambil Hangeng, namun semua orang sekarang terdiam memandang ke arah Hangeng dan Vania bergantian, karna saat itu yang ada di sebelah Hangeng bukanlah Vania, melainkan Hyun Won dan bibi Gae Hwa.

*posisi duduknya kursi ngebentuk U, Jeong Hoon sama Vania sama2 duduk di ujung, berati mereka duduk saling berhadapan tapi bersebrangan, sebelah Jeong Hoon ada paman Hwan, bibi Gae Hwa, Hangeng, Hyun Won, Kwangmin, Yeon Hee, Ilyeon, Youngmin, Chaeri dan Vania.

“Oppa, kau tidak mungkin mencium bibi Gae Hwa kan, jadi kau haruuus….” Ilyeon tidak melanjutkan ucapannya, Vania menatap Hangeng lekat tanpa berkedip, apa yang akan di lakukan oleh Hangeng, apakah dia akan benar2 mencium Hyun Won di depan semua orang, atau justru dia tidak mau melakukannya??

Semua orang juga terdiam, Hyun Won menatap Hangeng menunggu pria itu akan melakukan apa, Hangeng dan Jeong Hoon menatap Vania.

Dalam hitungan detik, air mata Vania tiba2 terjatuh saat Hangeng akhirnya benar2 melakukan tantangan itu, Hangeng mencium bibir Hyun Won beberapa detik. Jeong Hoon masih menatap Vania, semua orang yang ada di sana terbelalak melihat apa yang barusan mereka melihat. Tubuh Vania seolah terpaku, dia tidak bisa menggerakan tubuhnya sama sekali, dia ingin beranjak tapi seakan tubuhnya itu kaku, badannya bergetar,keringat dingin menyerang sampai terasa ke seluruh tubuhnya.

“Eonni kalian mau ke mana??” tanya Chaeri karna tiba2 Jeong Hoon menarik tangan Vania untuk pergi dari sana.

Hangeng melepaskan ciumannya dari Hyun Won dan mencoba mengejar Vania dan Jeong Hon.

“Jeong Hoon-ah jamkkaman, Rae Hee-ah biarkan aku menjelaskan dulu semuanya, ini tidak seperti yang kau pikirkan” Hangeng menarik tangan Vania, namun Vania tetap tidak bicara, air matanya masih terus menetes di pelupuk kedua matanya dan dia juga tidak berusaha menepis Hangeng yang menggenggam tangannya sekarang.

“Gege,,ah anhi, oppa, mungkin sekarang sudah waktunya aku akan melepaskanmu, memberikanmu kebebasan untuk bisa dekat dengan wanita yang kau inginkan, temukanlah wanita yang bisa membahagiakanmu. Mulai sekarang aku tidak akan selalu berada di sisimu untuk menganggu hidupmu lagi, aku tidak akan menjadi Vania yang manja lagi padamu, maafkan aku oppa karna selama ini aku selalu menyusahkanmu, terima kasih untuk semuanya” derai air mata Vania semakin deras, setelah menyelesaikan ucapannya, Vania berlari meninggalkan Hangeng, Hangeng mencoba mengejarnya, namun Jeong Hoon menahannya.

“Biar aku yang menemaninya, biarkan dia menjernihkan dulu pikirannya, nanti aku akan memberikan penjelasan padanya, kau jangan khawatir”

“Gomawo Hoon-ah, aku titip dia, sampaikan maafku padanya”

“Ehmm,,akan aku sampaikan” Jeong Hoon menyentuh pundak Hangeng dan berlari mengejar Vania yang sudah lebih dulu keluar dari pub.

“Oppa, bagaimana eonni ku??” tanya Chaeri panik.

“Dia pergi tapi Jeong Hoon menyusulnya, Chaeri-ah mianhae”

“Oppa, kau tidak perlu minta maaf padaku, itu adalah urusan kalian, aku tidak ada hak untuk ikut campur, kau tidak usah merasa bersalah seperti itu, kalian sudah sama2 dewasa, semoga eonni ku juga bisa mengerti”

“Hyun Won-ah, sebaiknya kita pulang saja sudah malam, kau masih harus banyak istirahat”

“Ah,,ne. Semuanya aku permisi pulang duluan yah, karna aku harus istirahat. Terima kasih untuk malam ini, aku bahagia bisa ikut bergabung dengan kalian. Sampai jumpa” Hyun Won membungkukkan badannya pamit pada semua orang yang kelihatannya sudah tidak seceria tadi.

“Ye,,,sampai jumpa, hati2 yah” ucap mereka serempak.

“Semuanya aku juga pulang lebih dulu, aku akan mengantar Hyun Won pulang, kalian bersenang-senanglah, terima kasih untuk malam ini, annyeong”

“Ne,,Hangeng-ah, hati2”

“Mianhe Hyun Won-ah untuk hal tadi” ucap Hangeng saat mereka berada di dalam mobil menuju ke apartement Hyun Won.

“Kau tidak perlu minta maaf, lagipula aku juga tau kau melakukan hal tadi hanya karna kau ingin melakukan tantangan itu saja, kan? Untuk menghargai mereka?? Kau jangan khawatir aku tidak akan memiliki anggapan apapun” Hyun Won memalingkan pandangannya ke jendela mobil, air mata mulai mengalir dari kedua pipinya namun dengan cepat dia mengusapnya, dia tidak mau Hangeng melihatnya menangis.

“Mianhe Hyun Won, sebenarnya aku juga tidak tau kenapa hatiku tergerak untuk melakukan itu, aku tidak tau apakah memang hanya karna aku ingi nmelakukan tantangan itu atau karna aku sudah memiliki perasaan padamu?? Entahlah aku benar2 tidak tau…” Hangeng menatap lurus ke jalan, namun hatinya tak berhenti bergumam.

***

“Bicaralah sesuatu jangan diam seperti itu, aku tidak bisa melihatmu seperti ini” ucap Jeong Hoon pada Vania yang masih tidak mau bicara sepanjang jalan saat Jeong Hoon membawa Vania ke pantai.

“Apa yang harus aku katakan?? Aku sendiri juga tidak tau harus bicara apa” Vania terisak tanpa menoleh ke arah Jeong Hoon.

“Vania, lihat aku, jika kau ingin menangis, menangislah sekeras mungkin, jika kau ingin berteriak, berteriaklah sekencang-kencangnya, kalau itu bisa membuatmu merasa jauh lebih baik. Jangan hanya menahan air matamu seperti ini dan diam seperti patung” Jeong Hoon mengarahkan wajah Vania untuk menatap kedua matanya.

“Jeong Hoon-ah, mianhae. Aku juga benar2 tidak tau sebenarnya apa yang sedang aku rasakan. Siapa yang benar2 aku cintai?? Apakah Hangeng atau kau?? Aku benar2 tidak tau, aku juga benci pada diriku yang plin plan seperti ini, kadang aku merasa nyaman berada di sisimu, tapi kadang aku juga masih tidak rela menerima kenyataan jika Hangeng ternyata sekarang sudah bukan milikku lagi seutuhnya” Vania jatuh di pelukan Jeong Hoon, namun dia hanya mampu berucap pada hatinya sendiri, dia masih belum yakin dengan perasaannya, maka dari itu dia belum bisa mengatakan apapaun pada Jeong Hoon.

—————-

“Vania-ah, kita sudah sampai” Jeong Hoon membangunkan Vania saat sampai di flat mereka, namun ternyata Vania sudah tertidur lelap.

Jeong Hoon mendekati wajah Vania, menatap wajahnya lekat, menyisirkan poni Vania yang menutupi matanya.

“Vania-ah, kau sangat cantik jika di lihat dekat seperti ini. Matamu yang indah ini seharusnya hanya menampakkan kecerianmu, bukan kesedihanmu. Apa yang bisa aku lakukan untuk bisa menghiburmu di saat kau sedih seperti ini?? Jika aku bisa, aku akan menjadi sapu tangan yang bisa menghapus setiap tetesan air mata kesedihan yang mengalir di kedua mata indahmu ini, aku rela menjadi tongkat bagimu untuk menjadi topanganmu saat kau rapuh, aku juga rela memberikan pundakku untuk kau bersandar setiap kali kau bersedih dan menangis seperti tadi. Vania-ah, aku mencintaimu, sangat mencintaimu, apa kau bisa mendengar isi hatiku???” tanpa Jeong Hoon sadari, untuk pertama kalinya dia meneteskan air mata, menahan rasa sakit dalam hatinya, mencintai seorang wanita sedalam ini.

Setelah mencoba untuk membangunkan Vania berkali-kali namun dia masih tertidur, akhirnya Jeong Hoon menggendong Vania di punggungnya dan membawanya ke kamar Vania.

“Oppa, kalian sudah pulang?” Chaeri tampak lega karna akhirnya Jeong Hoon sudah membawa eonninya pulang.

“Ehm…Chaeri-ah, boleh aku masuk?”

“Ah,,ye oppa, baringkan saja eonni di sini”

“Aahh..ternyata eonni mu berat juga yah, hehe…”

“Oppa, gomawo sudah mengantar eonni ku dalam keadaan baik”

“Choenmaneyo Chaeri-ah, tolong gantikan baju eonni mu, biar dia nyaman tidurnya”

“Eoh…”

“Baiklah kalau begitu, aku ke kamarku dulu”

“Oppa jamkkaman”

“Wae??”

“Anhi….annyeong jumuseyo”

“Annyeong…”

“Jeong Hoon-ah, bagaimana Vania?? Aku sangat mengkhawatirkannya, apa kalian sudah pulang??”

“Ne….kami baru tiba di flat, dia sudah tidur, semoga besok pagi dia sudah tenang, kau jangan khawatir, sebaiknya untuk beberapa hari ini kau jangan menemuinya dulu, dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya”

“Kau benar, aku akan menunggu waktu sampai nanti aku bisa menemuinya dan menjelaskan semuanya padanya, karna aku sudah sangat mengenal dia seperti apa. Terima kasih kau sudah menjaganya”

“Ne,,sama2. Oya Hangeng-ah, apa aku boleh bertanya sesuatu??”

“Mwo??”

“Apa yang kau rasakan pada Vania sekarang?? Apa tadi kau mencium Hyun Won karna kau memiliki perasaan padanya atau hanya untuk melakukan tantangan itu saja??”

“Aku juga tidak tau Hoon-ah, aku bingung dengan perasaanku sekarang”

“Baiklah kalau begitu, aku tidak akan bertanya lagi, kau istirahatlah”

“Eoh…kau juga, sampai jumpa besok di kantor”

“Ye…”

BIP

Hangeng menutup telfonnya setelah menghubungi Jeong Hoon.

“Rae Hee-ah, apa yang harus aku lakukan sekarang??? Kenapa kau tiba2 memanggilku oppa?? Apa kau tau apa yang aku rasakan saat tadi kau memanggilku oppa?? Hatiku terasa di besit oleh pisau yang sangat tajam, hatiku benar2 sakit, apa kau sudah tidak membutuhkanku lagi di sisimu?? Apa aku sudah tidak akan berarti lagi untukmu?? Mianhae Rae Hee-ah, mianhae karna aku sudah membuatmu terluka sekarang dan inilah yang paling aku takutkan di saat aku memutuskan untuk mencintaimu, aku takut akhirnya aku akan melukaimu, mianhae, choengmal mianhae”

***

“Eunsun-ah, aku benar2 minta maaf yah, 2 hari ini aku tidak bisa siaran, jadi kau harus menggantikan acaraku, kau tidak apa2 kan??”

“Eoh,,,gwaenchana eonni, kau perginya hati2 yah, oya kau jangan macam2 dengan yobo ku yah”

“Haha,,kau ini bicara apa, mana mungkin aku…Jamkkaman, kau bilang apa tadi?” Vania menatap Eunsun heran dengan ucapan Eunsun yang dia dengar tadi.

“Yaakk,,,Eunsun-ah, maksud ucapanmu tadi apa?? Maksudmu yobo mu itu adalah….”

Eunsun tersenyum dan mengangguk menjawab pertanyaan Vania.

“MWO???? CHOENGMALIA??? Apa maksudmu, kau dan si Bos….”

“Ye,,eonni-ah, aku dan si Bos sudah jadian, tepatnya beberapa hari yang lalu, hehe…”

“Ya,,ya..ya..bagaimana ceritanya?? Omo…Eunsun-ah, mianhae sepertinya kita sudah terlalu jauh yah sampai2 aku tidak tau kalau kau dan si Bos selama ini sedang PDKT”

“Kau tau kan, saat si Bos memberi kita oleh2 saat dia pulang dari Singapur waktu itu??”

“Eoh, aku ingat, wae??”

“Aku datang ke ruangannya mengambil oleh2 untukku, dan kau tau oleh2 apa yang dia berikan untukku??”

“Anhi, mwo??”

“Igo..”

“Aigo…Eunsun-ah, kalungnya cantik sekali”

“Eoh,,aku juga berpikiran yang sama denganmu, kalung ini sangat cantik. Awalnya aku juga kaget sekaligus tidak percaya kenapa si Bos memberiku kalung ini, dan setelah itu dia mengajakku pulang bersama, kan?? Nah malam itu dia langsung membawaku ke Restaurant yang sangat romantis, eonni aku benar2 tidak percaya dengan apa yang si Bos lakukan padaku, aku merasa seperti sedang bermimpi, bagaimana mungkin si Bos bisa menyukaiku, membayangkannya saja aku tidak pernah. Setelah itu aku jadi semakin dekat dengannya, dia sering mengajakku pulang bersama dan makan malam. Dan 3 hari yang lalu tepatnya, dia menyatakan cintanya padaku. Aahh..eonni, aku benar2 bahagia sekali, aku seperti seorang Cinderella yang mendapatkan seorang pangeran tampan, hihi..”

“Jinja?? Huaaa…Eunsun-ah, chukkae eoh, aku juga sangat senang mendengarnya, aku berharap kalian bisa melanjutkan hubungan kalian ke arah yang lebih serius lagi yah, omo..aku jadi ingin menangis saking bahagianya”

“Eoh,,eonni, aku juga ingin sekali menangis, menangis karna bahagia”

“Hei..hei..apa yang kalian lakukan?? Ini tempat kerja bukan tempat untuk bermesra-mesraan seperti itu” Mr. Hong tiba2 muncul, Vania dan Eunsun yang sedang berpelukan dan menangis bahagia, langsung melepaskan pelukan mereka.

“Yak,,Bos, kenapa kau tidak bilang2 kalau kau dan Eunsun sudah jadian??”

“Apa aku harus memberikan pengumuman?? Aku bukan artis yang harus mengumbarkan berita2 tentang diriku kan??”

“Eiihh…kau ini, oya Bos aku tidak menyangka kalau ternyata kau menyukai Eunsun, aku kira selama ini kau menyukaiku, karna kau kan selalu lebih memanjakan aku daripada Eunsun, sampai2 Eunsun pernah cemburu padaku, hihi..”

“Yaak,,eonni-ah, kau jangan bilang2 tentang itu”

“Wae?? Dia kan sudah menjadi pacarmu, jadi untuk apalagi kau malu, ia kan Bos?? Hehe…auww..auw..” Vania kesakitan saat Eunsun mencubit kecil pahanya.

“Sudahlah, Vania ayo kita pergi sekarang, nanti keburu sore”

“Ah,,baiklah, Eunsun-ah, aku pinjam pacarmu dulu yah, kau tenang saja, aku tidak akan merebutnya darimu ko, hehe..”

“Chagi, aku pergi dulu yah, kau gantikan acara Vania besok”

“Omoo….aku tiba2 jadi ingin punya pacar juga melihat kalian mesra seperti ini, huhuhu…” Vania memasang wajah pura2 menangisnya saat melihat Mr. Hong mencium kedua pipi Eunsun dan keningnya untuk pamitan.

“Baiklah Eunsun-ah, kami pergi dulu yah, annyeong” Vania sekarang memeluk Eunsun.

Keesokan harinya…

“Baiklah listeners, kita hadir lagi di acara ‘Tell Me Your Wish’ sore kita hari ini, tapi ada yang lain nih hari ini, solanya bukan Vania eonni yang bawain acaranya tapi saya Eunsun, hehe..Tapi kalian tetap akan mendengarkan acara ini kan walaupun bukan penyiar favorit kalian yang membawakannya?? Haha…Oya kalau kalian bertanya kenapa Vania eonni tidak bisa membawakan acara ini hari ini, karna kemarin Vania eonni harus ke Pulau Jeju karna ada urusan kantor dan akan kembali besok pagi, jadi kalian tidak usah khawatir yah Vania eonni pasti akan kembali lagi membawakan acara ini ko, tidak akan di gantikan olehku, hehe..”

“Ya sudahlah, aku juga tidak mau banyak bicara, dan membuat kalian kesal, hehe..Yah, hari ini ada satu surat yang membuat aku penasaran sekali dengan pengirimnya, dia seorang namja yang mengirim surat untuk seseorang yang sangat dia cintai tapi dia belum pernah menyatakan cintanya secara langsung dan dia juga tidak mau menyebutkan namanya, hmm..baiklah siapapun kau aku akan tetap membaca suratmu…”

From : Mr. J

“Sore itu, aku baru tiba dari Jepang ke negara kelahiranku ini, Korea. Sudah lama ternyata aku tidak ke negara ini lagi, terakhir saat aku akan pindah ke Jepang, usiaku saat itu sekitar 13 tahunan. Aku tiba dari Bandara Incheon, tidak langsung menuju apartement yang sudah ku booking sebelumnya lewat telfon, tapi aku mengunjungi sebuah cafe yang jaraknya tidak terlalu jauh dari apartementkku. Aku duduk di dekat jendela Cafe yang mengarah ke jalan, ada sesuatu yang menarik perhatianku untuk akhirnya duduk di sana. Seorang yeoja yang sedang duduk menghadap ke jendela, memegang gelas yang mungkin berisi teh hangat dan meneguk teh itu sedikit demi sedikit. Sesekali lidahnya menjulur dan dia meniup-niup lidahnya yang mungkin teh itu masih panas tapi dia seolah tidak sabar untuk meminumnya. Aku sempat tertawa kecil sendiri melihat tingkahnya itu, kau tau wajah polosnya sangat lucu. Tapi setelah itu dia menyimpan gelas teh nya dan memandang lagi ke arah jendela, sambil terpejam seolah menikmati sinar matahari yang mulai menghilangkan jejaknya. Cahaya petang menyinari wajahnya yang sangat cantik, tiupan angin kecil dari jendela menggeserkan setiap sisir poni yang menutupi keningnya. Wajahnya, yang menurutku sangat berbeda dari yeoja2 lain yang biasa ku temui selama ini. Matanya sangat indah, rambutnya yang kemerahan di ikat tinggi dengan ikat rambut berbulu lembut, kulitnya yang putih terkena sinar petang itu juga tidak menyurutkan keindahan kulitnya yang semakin terlihat tampak mulus. Rasanya, aku mulai penasaran dengan yeoja ini, ingin sekali saat itu aku menghampirinya, menyapanya dan mengajaknya berkenalan tapi aku juga tidak mau gegabah, aku takut dia adalah tipe wanita yang membenci pria yang sok dekat seperti itu. Sampai akhirnya setelah dia puas menikmati sinar petang itu menyoroti wajahnya, dia beranjak dan pergi dari Cafe itu. Aku ingin mengejarnya, tapi langsung ku urungkan niatku. Jika dia takdirku, aku yakin Tuhan akan mempertemukan aku lagi tanpa aku minta. Dan yah ternyata Tuhan benar2 mempertemukan lagi aku dengannya. Keesokan harinya aku datang ke sebuah pub, sekedar ingin menghilangkan penatku karna lelah menempuh perjalanan Korea – Jepang kemarin. Sebenarnya kedatanganku ke Korea karna aku ada pekerjaan di sini dan aku sudah memutuskan untuk pindah ke Korea. Aku juga akan menemui temanku di Korea, tapi aku sengaja tidak langsung menemuinya karna aku ingin menikmati dulu hariku di sini sendirian. Saat aku tiba di pub itu, ternyata cukup ramai, ada sekelompok orang yang sepertinya sedang merayakan Ulang Tahun di sana. Belum aku menghampiri meja bartender, aku melihat sosok yang sepertinya tidak asing bagiku, kecantikannya terasa lain di banding kemarin, dia sangat cantik malam itu meskipun sedang tertunduk dan mabuk, tapi aku masih bisa melihat aura kecantikan dalam wajahnya. Astaga dia hampir jatuh, dengan cepat aku menangkap tubuhnya yang hampir jatuh ke lantai, haha..ternyata dia sudah mabuk berat. Aku mendengar dia memaki seseorang dan menyebut-nyebut nama seseorang yang mungkin dia maki itu, dia mengigau dalam keadaan mabuk. Kata sang bartender, itu pertama kalinya dia mabuk seperti itu, dan itu karna dia sedang cemburu pada seseorang yang dia sebut2 namanya tadi. Aku sempat kecewa mendengarnya, ternyata mungkin dia sudah memiliki kekasih atau seseorang yang dia cintai. Tapi hal itu tidak membuatku tidak jadi mengantarnya pulang malam itu, dengan alamat yang di berikan oleh sang bartender, aku mengantarnya pulang. Di perjalanan, aku terus memandangi wajahnya, ternyata dia benar2 cantik, wajahnya yang sedang tertidur lelap dan mabuk itu ternyata bisa membuatku tertawa kecil lagi, wajahnya sangat lucu. Sampai akhirnya aku bisa benar2 dekat dengannya, tapi entah kenapa semakin ke sini apa yang aku alami dengannya sama seperti apa yang aku alami saat aku bersama seseorang yang dulu pernah aku cintai, namun dia tiba2 meninggalkanku. Aku sempat berusaha untuk menjauhinya tapi semakin aku berusaha untuk menjauhinya, aku semakin tidak bisa menahan diriku untuk selalu berada di dekatnya, melihat wajahnya dan melihat senyumannya. Entah kenapa saat itu dalam hatiku berkata, aku ingin mendapatkan hatinya, sesulit apapun, aku akan berusaha untuk mendapatkan hatinya. Tapi ternyata sampai sekarang aku masih belum bisa melakukannya, dia sepertinya masih mencintai seseorang. Aku bukannya ingin menyerah, tapi aku sadar aku tidak mau memaksa dia untuk mencintaiku dan harapanku adalah aku ingin melihat dia bahagia karna selama dia bahagia, aku juga bahagia”

P.S : Oya tolong putarkan lagu Endless Momet dari Super Junior yah, ini lagu khusus untuknya. Aku merindukannya…

“Wow…Mr. J kau sepertinya namja yang sangat romantis sekali yah, kalau begitu aku juga nanti mau seperti wanita itu ah, pura2 diam di dekat jendela Cafe dan memandangi matahari, lalu aku pura2 mabuk, aku berharap ada seorang namja tampan menolongku juga, hahaha..Aku bercanda, karna sekarang aku sudah punya namjachingu yang jauh lebih tampan dari pangeran2 di dongeng, hehehe..Baiklah Mr. J ini lagu aku putar khusus untukmu, semoga kau suka dan semoga kau benar2 bisa mendapatkan hati dari gadis itu, HWAITING…”

***

“Miss Lee waegurae?? Kenapa kau menangis??” tanya Mr. Hong saat menghampiri Vania di mobil setelah membeli sedikit makanan untuk makan malam mereka nanti di penginapan saat pulang dari meeting bersama beberapa orang kantor lain.

“Ah,,anhi Bos, aku..aku tidak menangis”

“Kau baru mendengar acara mu?? Memang siapa yang mengirim suratnya?? Apa kau kenal??”

“Anhi Bos, aku menangis karna isi dari surat itu memang sangat mengharukan, hehe…” Vania menyeka air matanya yang tak mau berhenti mengalir.

Di penginapan, Vania membaringkan tubuhnya, dia mengambil Handphonenya untuk menghubungi seseorang.

“Yoboseyo, eonni-ah waegurae??”

“Chaeri-ah, mwo haseyo??”

“Aku sedang bersama double Twins di kamar Jung Twins, wae eonni?? Kau sedang apa??

“Aku sedang di kamarku sendirian”

“Bagaimana meetingmu??”

“Berjalan lancar”

“Kau kenapa?? Sepertinya kau sedang tidak bersemangat”

“Ah,,anhi, mungkin aku hanya kelelahan, kau tidak bersama paman, bibi dan,,,”

“Dan Jeong Hoon oppa?? Oh,,Jeong Hoon oppa daritadi pulang kerja tidak keluar2 lagi eonni, sepertinya dia berada di kamar terus, wae apa kau merindukannya??”

“Yaakk..sejak kapan kau jadi sok tau seperti itu??”

“Sok tau?? Benarkah aku sok tau?? Jadi kau tidak merindukannya?? Padahal kan sudah beberapa hari ini kalian jarang bertemu?”

“Sudahlah, sana lanjutkan obrolanmu dengan si kembar, aku mau istirahat dulu, kau hati2 yah, mian aku belum sempat mengajakmu pergi ke mana-mana selama di Korea, lain kali aku akan mengajakmu liburan”

“Jinja?? Haha,,ne eonni, aku bisa mengerti ko, kau kan sibuk bekerja, baiklah kalau begitu kau juga jaga dirimu di sana yah, saranghae eonni-ah”

“Nado saranghae Chaeri-ah”

BIP

“Jeong Hoon-ah, apakah pengirim surat tadi sore itu adalah kau??? Apakah yeoja yang kau temui di Cafe itu adalah aku?? Dan kau yang menolongku saat aku mabuk?? Aku seperti pernah mengalami semua itu, dan aku juga ingin meyakini kalau pengirim surat itu adalah kau dan yeoja yang kau maksud itu benar2 aku. Tapi aku takut jika perkiraanku itu salah, padahal aku juga ingin sekali menanyakannya langsung padamu saat ini juga, tapi mungkin akan terlihat aneh jika aku tiba2 menanyakannya padamu padahal belakangan ini kita sudah jarang bertemu dan bicara. Jeong Hoon-ah, bogoshippo…” Vania meneteskan lagi air matanya.

Keesokan harinya…

“Eonni kau sudah kau pulang?” tanya Chaeri yang menyambut eonninya itu.

“Eoh…ehm,,Chaeri-ah, kenapa kamar Jeong Hoon sepi sekali?? Apa dia masih belum keluar kamar juga??”

“Ah,,eonni, sebenarnya semalam aku tidak bilang padamu kalau…”

“Kalau apa?”

“Aduuh,,aku bilang jangan yah pada eonni” ucap Chaeri yang kebingungan.

“Yaak,,,Chaeri-ah, cepat katakan, semalam kau ingin bilang apa padaku tentang Jeong Hoon??” Vania mulai penasaran sebenarnya apa yang akan di ucapkan Chaeri.

“Jeong Hoon oppa…akan kembali ke Jepang hari ini” Chaeri menundukkan kepalanya.

“MWO??? Yak,,Chaeri-ah, kau pasti bohong kan?? Kau..kau pasti sedang bercanda kan?? Jawab aku Chaeri??”

“Aku tidak bohong eonni, aku benar, semalam Jeong Hoon oppa sendiri yang bilang pada kami, dia hari ini akan kembali ke Jepang dengan penerbangan siang ini”

“Lalu di mana dia sekarang?? Kenapa dia tidak bilang padaku??” mata Vania mulai memerah, menahan tangisnya.

“Bukannya beberapa hari ini kau yang seolah menjaga jarak dengannya?? Makannya dia merasa dia tidak perlu mengatakannya padamu, lagipula dia bilang dia itu bukan siapa2 mu, dia mungkin tidak penting bagimu, makannya waktu acara Truth and Dare waktu itu, kau tidak mau menjawab pertanyaan Yeon Hee kan?? Jadi untuk apa dia memberitaumu kalau dia akan kembali ke Jepang??”

“Memang apa alasan dia ingin kembali ke Jepang??”

“Dia bilang dia ingin menjalani hidupnya yang seperti dulu, sebelum dia mengenalmu dan kita semua di sini”

“Nappeun namja, apa hanya karna itu dia kembali ke Jepang?? Aku akan buat perhitungan dengannya”

“Eonni, kau mau ke mana?”

“Aku akan ke Bandara menysulnya, aku akan memakinya dulu sebelum dia kembali ke Jepang” Vania langsung berlalu dari Chaeri dengan perasaan marah bergejolak di dalam dadanya.

“Eonni, kau mau ke mana??” tanya Yeon Hee saat Vania melintas di depan kamarnya.

“Aku mau memberi pelajaran pada pria bodoh itu”

“Pria bodoh?? Maksudmu, siapa??”

“Siapa lagi kalau bukan pria yang bersarang di kamar sebelahku??”

“Bersarang?? Memangnya Jeong Hoon oppa serangga (?) eonni bersarang?? Hehe…Oya eonni, sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu”

“Apalagi?? Tadi Chaeri tiba2 ingin mengatakan sesuatu padaku dan sekarang kau??”

“Eonni, kau jangan galak begitu aku jadi takut. Tarik nafas eonni tenangkan dirimu”

“Huft…baiklah, lalu apa yang ingin kau katakan??” Vania menghela nafas dan mengaturnya untuk lebih tenang.

“Sebenarnya aku ingin mengatakannya dari dulu, tapi aku sudah terlanjur janji pada Jeong Hoon oppa”

“Sudah jangan berputar-putar, langsung saja pada intinya”

“Jadi begini, sebenarnya sehari sebelum Jeong Hoon oppa tinggal di sini, dia pernah mengantarmu ke flat ini dalam keadaan mabuk”

“Mwo??”

“Tenang eonni, kau jangan berkomentar dulu sampai aku selesai bicara”

“Baiklah teruskan”

“Ia kebetulan malam itu aku sedang di depan kamar menerima telfon dari temanku, lalu Jeong Hoon oppa meminta tolong padaku untuk mengantarnya membawa eonni ke kamar eonni. Karna dia bilang dia belum mengenal eonni, jadi tidak sopan rasanya kalau dia mengantar eonni masuk ke kamar tanpa ada orang yang tau. Saat dia sudah membaringkan eonni di kasur, dan kami keluar, dia melihat kertas yang di tempel di daun pintu kamar sebelah eonni. Dia bertanya padaku apa kamar kosong itu sudah di tempati atau belum, aku jawab belum dan akhirnya dia meminta nomor telfon Ibu pemilik flat ini. Dan sebelum dia pulang, dia juga menyuruhku untuk tidak memberitahumu tentang itu, mulai dari dia yang mengantarmu pulang dan menanyakan nomot telfon Ibu pemilik flat”

“Babo-ah….” air mata Vania akhirnya mengalir dengar deras setelah mendengar ucapan dari Yeon Hee.

“Yeon Hee-ah, gomawo sudah memberitauku, aku pergi dulu”

“Ye eonni hati2” teriak Yeon Hee pada Vania yang sudah berlari keluar dari flat dan memanggil taksi.

@Bandara Incheon

Vania berlari ke dalam Bandara, mencari sosok Jeong Hoon di tengah orang2 yang berlalu lalang di sana. Dia berharap Jeong Hoon belum pergi, meskipun akhirnya Jeong Hoon benar2 harus kembali ke Jepang, tapi setidaknya dia masih mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Setelah berlari selama 15 menit, akhirnya Vania menemukan Jeong Hoon yang sedang duduk di dekat tempat penukaran tiket.

“Jeong Hoon-aaaaahhhh” Vania berteriak kencang, membuat semua orang yang ada di sana hampir memandang aneh ke arahnya.

Jeong Hoon langsung beranjak, terbelalak melihat Vania yang sekarang berlari ke arahnya.

“Yaak..nappeun namja, babo-ah, kenapa kau jadi pengecut seperti ini, hah?? Kau akan meninggalkanku begitu saja tanpa mengungkapkan isi hatimu padaku?? Kalau kau memang mencintaiku, kau ingin mendapatkan hatiku, kenapa tidak kau lakukan?? Kenapa kau hanya melakukannya setengah2?? Kau pikir aku ini apa?? Wanita yang tidak mempunyai perasaan huh?? Kenapa kau sekarang malah mau kabur setelah kau berhasil mendapatkan hati wanita yang kau cinta itu, wanita yang kau temui di Cafe pertama kali kau tiba di Korea dan wanita yang….”

Vania belum sempat meneruskan ucapannya, sampai akhirnya Jeong Hoon menghentikan ucapan Vania yang panjang lebar (?) itu dengan melumat bibir Vania dengan lembut dan Vania langsung memejamkan kedua matanya, menyambut ciuman Jeong Hoon yang cukup lama itu.

Lalu apakah setelah itu Jeong Hoon akan benar2 kembali ke Jepang?? Meninggalkan Vania yang ternyata sudah yakin bahwa dirinya mencintai Jeong Hoon?? Atau justru Jeong Hoon mengurungkan niatnya untuk kembali ke Jepang dan memilih tinggal di Korea dan menjalin hari2 yang indah bersama Vania??

Tunggu kelanjutannya di My Beloved Girl part 6…;)

~ TBC ~

Entry filed under: Angst, Boyfriend, Chaptered, Family, FanFiction, Friendship, FT Island, Genre, Hangeng, HITZ, Indonesia, Language, Life, PG, R, Rating, Romance, Type, X-5. Tags: .

[FF/CHAPTERED/PG-16] Psycho Chap 5 [CHAPTER 6] My Beloved Girl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,956 hits

Day by Day

October 2011
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: