[FF/CHAPTERED/PG-16] Psycho Chap 3

September 20, 2011 at 7:14 PM 6 comments

Title : Psycho

Author : Sarah Sucia Adler

Rating : PG-16

Casts : Cho Kyuhyun, Park Chae Rin, Song Joong Ki and other

Genre : Romance

Length : ? shot

Part : 3 of ?

Disclamer : I don’t own the Super Junior characters here. They belong to God and themselves.  This story is only a fiction. So please don’t sue me.

A/N : yang kasih komen saya sumpahin ketemu bias.

***

“Sudah belajar integral ‘kan di fisika?” tanyanya. Aku mengangguk cepat. “Kalau kau faktorkan itu bisa makan waktu lama, untuk yang seperti ini di integral saja. cobalah,” aku berkutat kembali dengan soal-soal. Sebenarnya malas sekali belajar matematika.

Ting Tong. Bel apartemen Kyuhyun sunbae berbunyi. Dia beranjak dan membukakan pintu. Aku meneruskan pekerjaanku yang tadi diinterupsi.

“Keluar!” teriak Kyuhyun sunbae. Ada apa sih?

“Kyu-ya, kau tidak bisa begini terus, cepat pulang!” aku mendengar suara wanita dari luar. Pelan-pelan aku berjalan ke sumber keributan.

“Kau saja, kau tahu aku sudah tidak tahan ada di sana. Kau saja yang pulang, jangan urusi urusanku, Noona.” Kulihat wanita yang di panggil noona oleh Kyuhyun sunbae. Rasanya aku pernah melihat wajah itu sebelumnya. Ah ya, di foto waktu mereka masih kecil. Wanita itu menatapku.

“Siapa dia?” tanyanya.

“Bukankah sudah kubilang untuk tidak mengurusi urusanku, huh? Pergi!” suara Kyuhyun sunbae meninggi. Dia kumat.

Ya! Cho Kyuhyun, sejak kapan kau jadi begini tak sopan? Katakan siapa dia? Oh, kau tidak mau pulang karena ada wanita ini? Biar kalian bisa seenaknya melakukan apapun di sini? Pelacur dari mana yang kau bawa?” lagi, aku dianggap jalang oleh seseorang. Aku membereskan barang-barangku dan keluar.

“Permisi,” ujarku dan berlalu melewati mereka yang bertengkar di depan pintu.

“Kau… dia pacarku, dan dia cuma belajar di sini. Sepertinya pikiran kotor appa telah turun padamu, Cho Ahra.” Aku masih sempat mendengar itu. Sebelum naik lift.

Ah, berapa lama lagi harus begini? Aku sudah malas dengan semuanya. Jangan menangis Chae… jangan menangis… sialan mataku tak kenal kompromi, dalam beberapa detik saja mataku sudah basah dan aku menangis sesenggukan. Saat pintu lift akan tertutup, ada tangan yang menahannya. Dengan cepat aku menghapus sisa-sisa air mataku.

“Jangan pergi,” ujarnya –Kyuhyun sunbae. Aku tidak menjawab. “Kubilang jangan pergi!” teriaknya kasar.

“Apa kau pikir dengan cara itu kau bisa menahanku? Pabo!” ujarku parau.

“Turuti kataku!”

Shireo! Kenapa aku harus mengikuti semua perkataanmu? Kau gila, Sunbae, kau sakit,”

“Aku gila karenamu, jadi kau harus bertanggung jawab.”

“Apa yang telah aku lakukan padamu? Kita bahkan tidak saling kenal! Kau yang bilang love at first sight. Aku tidak pernah mau punya urusan denganmu!” aku keluar dari lift dan berjalan menuju tangga. Dia mencengkeram tanganku dengan kuat dan menarikku kasar. “Sunbae… sakit… sunbae…” aku memukuli tangannya dengan tanganku yang bebas.

“Jangan banyak bicara!” dia terus menarikku kembali ke apartemennya menghempaskanku ke sofa lalu mengunci pintu. Kuncinya dia masukkan ke dalam kantong celananya. Kenapa dia sebegini kasar tiap kali marah?

Aku berusaha mengambil kunci yang ada di dalam tas, tapi dia menarik tasku dan melemparnya ke lantai. Aku buru-buru berjongkok untuk membereskannya tapi dia menendang tasku hingga semua isinya berhamburan ke banyak arah.

Sunbae! Aku mau pulang!”

“Tidak tanpa izinku. Bukankah sudah kubilang kamu itu milikku? Jadi turuti semua perkataanku!”

“Lalu sekarang kau mau apa? Kita sudah tidak mungkin belajar dalam keadaan seperti ini!”

“Jangan berteriak padaku!”

“Oh jadi kau yang boleh berteriak padaku? Jadi hanya kau yang boleh berbuat apapun terhadapku? Kau anggap aku ini apa? Boneka? Kau pikir…” dia membungkamku dengan ciumannya. Kedua tangannya memegangi kedua tanganku di samping tubuhku. Aku berontak, ini bukan saatnya untuk berciuman, aku tidak mau lagi disentuh olehnya, tapi semakin aku bergerak semakin keras dia berusaha menciumku. Akhirnya aku diam, aku menangis, dia melepaskan ciumannya dan pengangannya padaku. Aku beringsut ke lantai sambil terisak. Dia ikut berjongkok di depanku, memegangi pipiku, dan mulai menciumku dengan lembut.. aku tidak mau membalasnya. Aku tidak mau.

“Maafkan aku…” lagi, dia selalu begini. Kau gila, Sunbae… kau gila.

***

“Hey, kenapa tadi tidak masuk?” Joong Ki sudah ada di pintu kamarku dan duduk di ranjangku. “Kau benar sakit?” dia memegang keningku. “Tapi tidak panas, ada apa?”

“Aku sakit Joong-ah… di sini,” aku memegangi dadaku.

Sunbae itu lagi?” aku tersenyum lemah. “Kau mau aku berbuat sesuatu?”

Anni, jangan, biarkan saja.”

“Tapi, kalau begini terus, kau bisa benar-benar gila gara-gara dia,” Joong Ki mengelus rambutku.

“Aku juga tidak tahu apa yang kurasa terhadapnya, Joong-ah,” bisikku.

“Iya aku mengerti, kau sudah bicara tentang ini sebelumnya… ah, dia sudah ke sini?”

Anni,”

Jinja? Tapi tadi dia bahkan tidak mencarimu ke kelas,”

“Begitukah?” kenapa agak sedih ya mendengarnya?

“Tapi tadi dia masuk kok, aku berpapasan dengannya di toilet, tapi dia tidak menanyakanmu padaku.”

“Biarkan saja, mungkin dia sudah bosan denganku,”

“Seenaknya sekali kalau begitu,” aku mengangkat bahu.

***

Ini sudah hari kedua tanpa gangguan dari Kyuhyun sunbae, entah aku merasa nyaman atau aku merindukannya. Aku tidak bertemu dengannya di kantin, di lapangan, di ruang guru, di manapun. Apa dia tidak masuk?

Aku pulang bersama Joong Ki, dia diam saja melihatku murung. Mungkin sudah tahu apa yang mengganggu pikiranku.

“Joong-ah, hari ini kau ke rumahku ya? Kita main PS,” ujarku sok ceria. Dia menatapiku skeptis.

“Em? Tidak ah, lebih baik kau istirahat, tidur yang cukup, sepertinya kau agak terganggu hari ini,”

Anni, aku tidak apa-apa,”

“Kau tidak bisa membohongi Song Joong Ki, ingat?” aku menghela napas panjang. Dia benar.

“Kau benar, Joong-ah…”

“Kau merindukan sunbae itu ya?” aku menoleh padanya, tidak menjawab. “Kau mulai membutuhkannya,” bisik Joong Ki.

“Aku lebih membutuhkanmu, Joong-ah…” aku merangkul bahunya. Dia tersenyum terpaksa. “Joong-ah aku duluan…” aku masuk ke rumah.

Saat aku memutar kunci ternyata tidak bisa, apa di dalam ada orang? Tumben sekali. Kuputar knop pintu.

Na waseo…” teriakku. Aku melihat kamar orang tuaku, sepertinya salah satu dari mereka sedang di rumah. “Umma?”

“Chae… kau sudah pulang?”

Ne, urusanmu sudah selesai di Jepang?” sebelum umma menjawab aku mendengar suara deru mesin, itu pasti appa pulang. aku berlarian ke pintu untuk menyambutnya. “Appa…” pekikku. Aku langsung memeluknya cepat. “Appa aku merindukanmu…” kataku manja.

Na do, Chae… umma sudah pulang?” tumben sekali dia menanyakan umma.

“Sudah,” aku membawakan tas appa, umma sudah duduk di sofa.

Appa, umma, bisakah kita jalan-jalan hari ini? Aku sangat merindukan kalian…”

“Maaf Chae, tidak bisa, kami harus pergi untuk mengurus perceraian,” umma mengatakan itu seolah itu adalah perkataan biasa.

Ne? per… ceraian…” aku mendelik menatap appa.

Mian, Chae… appa sudah berusaha mempertahankan…”

“Jadi… kalian… kalian pulang hanya untuk ini?” tanyaku parau. “Lebih baik kalian tidak usah pulang saja sekalian!” aku berteriak. Aku berlari menaiki tangga. “Ah ya satu lagi, kalau prosesnya sudah selesai, aku tidak mau tinggal bersama salah satu di antara kalian, biarkan aku tinggal di sini bersama bibi Hwang.”

“Chae…” appa mengejarku ke kamar. “Chae, mianhae…”

“Bisakah kalian tidak mengatakannya di depanku? bisakah kalian diam-diam bercerai lalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa, pura-pura keluar negeri, pura-pura ada kerjaan agar aku tidak tahu? Kalian cukup membiarnku tidak tahu dan itu tak akan menyakitiku…” isakku pada appa. Air mataku sudah keluar sejak tadi.

Mianhae, Chae… kami bilang ini karena kami anggap kau sudah besar dan bisa menerimanya…”

“Menerima apa? Menerima bahwa kalian egos dan mementingkan emosi masing-masing?”

“Bukan begitu, Chae…”

“Sudahlah…” aku turun dan berpapasan dengan umma.

“Kau mau ke mana Chae?”

“Bukan urusanmu, urus saja perceraian kalian…”

***

Kenapa aku di sini? Kenapa aku malah ke tempat ini dan bukan ke rumah Joong Ki? Aku tidak tahu. Aku tidak punya alasan. Aku tersadar pintunya terkunci, sedangkan kunci yang kumiliki tertinggal waktu dia menendang tasku. Bagaimana ini? Aku mengangkat keset dan dia sudah menaruhnya lagi di situ. apa ini artinya dia mau aku kemari untuk menemuinya?

Kubuka pintunya dan aku masuk tanpa kata. Dia sedang di beranda, menatapi pemandangan kota. Perlahan aku mendekatinya. Tadinya dia tidak sadar kalau aku ada di sana, tapi isakanku memanggilnya, dia menoleh dan membalikkan badannya ke arahku. Menatapiku yang menangis tersedu dengan nanar.

“Chae, kau kenapa?” tanyanya lembut. Aku beruntung, dia sedang sadar.

Sunbae…” aku makin menangis. Dia mendekatiku dan memelukku, lembut, nyaman, menenangkan.

“Chae ada apa? Apa yang terjadi?”

“Kenapa mereka egois sekali? Mengapa mereka tidak pernah memikirkan perasaanku? Sunbae… mereka jahat… mereka…” perkataanku terhenti, isakanku makin tidak bisa dikendalikan. Dadaku sesak hingga aku tak mampu bicara. Dia memelukku makin erat. Mengelus punggungku. “Su… sunbae aku… lemas…” kami terduduk di lantai.

“Menangislah dulu, bicara lagi nanti,” aku menurutinya aku menangis dan membuat kaus hijaunya basah. Dia hanya bisa mengelus punggungku atau sesekali mencium ubun-ubunku.  Aku merasa memilikinya sekarang, setelah sekian lama kedekatan kami akhirnya aku merasa pertemuan kami bukanlah suatu kesialan.

Entry filed under: Chaptered, FanFiction, Indonesia, PG, Romance, Super Junior. Tags: .

[FF REQUEST] Saying I Love You [FF] Barbie Girl – part 1

6 Comments Add your own

  • 1. balqisariyum95  |  October 18, 2011 at 9:01 PM

    baru nyadar! tulisan psiko yang bener itu bukanya physco ya?
    ini psycho, psy – CHO
    huahahaha, ternyataaa…

    ada apa dgn keluarganya abang kyu ya?

    Reply
    • 2. sarahsuciaadler  |  October 18, 2011 at 9:15 PM

      hahaha see later ya

      Reply
  • 3. r13eonnie 강 하이에나  |  October 20, 2011 at 12:29 AM

    dee..kyunya knp tuh tiba2 ngilang pas chaerin skit??aahh,,kyu gmn sih, pdhal berharap bgt nengok chae..tp gpp deh, suka bgt pas chae dtg k apartement kyu wktu dy nerima knytaan ortunya mu cerai,,untung kyu nya lg waras, hehe..;D

    Reply
  • 4. Alfi elf  |  October 25, 2011 at 9:00 PM

    Adem rsany wktu kyu baik.
    Ksian cherin. .

    Reply
  • 5. Liezteukie  |  October 26, 2011 at 6:46 AM

    Koq kyu g nyari2 chae wkt skt n wkt dsklh..
    apa kyu lg ada mslh ma kluarga.a..

    Reply
  • 6. chiee  |  December 24, 2012 at 9:04 AM

    andai kyu bs trs brsikap manis….
    aaaaah

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,626 hits

Day by Day

September 2011
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: