[FF/1S/PG-16] Under The Rain

August 29, 2011 at 10:53 PM 2 comments

Title : Under The Rain

Author : Sarah Sucia Adler

Rating : PG-16

Main Casts : Kim Ki Bum and Park Chae Rin

Other Casts : Choi Minho, Goo Hara, and other

Genre : Romance

Length : 1 Shots

***

Aku melangkahkan kakiku menuju kelas. Kubenarkan letak tas gendongku yang hanya ku singkapkan pada sebelah bahuku. Aku melewati kelasnya. Kelas adik kelasku yang selalu ceria dan membuat teman-temannya tertawa. Dia belum datang. Teman-temannya sedang mengobrol ringan tiba-tiba. Bruk. Terdengar suara benda jatuh dari arah belakangku. Sontak aku menoleh. Dan ku lihat dia terduduk dilantai dengan buku-buku yang dia bawa jatuh berserakan. Aku memutar tubuhku dan berjalan mendekatinya. Aku membantunya membereskan buku-bukunya. Dia nyengir padaku.

“Gomawoyo sunbae. Maaf pagi-pagi merepotkan.” ujarnya.

“Tidak apa-apa. Bukankah kau memang seringkali merepotkanku?” godaku, dia memanyunkan bibirnya. Membuatku gemas melihatnya.

“Jadi sunbae tidak suka nih menolongku?”

“Hahahaha aku bercanda,” aku mengacak rambutnya. Dia kembali tersenyum manis padaku “Kenapa bisa terjatuh?”

“Entahlah.. aku agak sedikit pusing pagi ini. Dan aku memang ceroboh jadi memang sering terjatuh sendiri” ocehnya. Sedang pusing saja segini ributnya apalagi tidak? Hahaha apa yang kupikirkan.

“Kau sakit Chae Rin?” aku menyentuh keningnya dengan punggung tanganku.

“Hanya kurang tidur sunbae. Gwenchana” ia berdiri dan akupun mengikutinya.

Aku mengantar dia ke kelasnya.

“Ini bukumu.” aku menyerahkan buku-buku yang sejak tadi kubawa.

“Gomawoyo..”

“Aku kekelas dulu ya..” aku mengacak rambutnya lagi. Aku berbalik dan mulai berjalan menjauh darinya.

“Ki Bum sunbae,” teriaknya aku kembali menatapnya sambil tersenyum, “Terima kasih.”

“Kembali kasih. Masuk sana.” dia tersenyum dan segera masuk ke kelasnya. Tak lama, kelasnya sudah berisik sekali.

***

Akhirnya waktu pulang tiba juga. Anak-anak kelas tiga memang pulang lebih lambat kerena harus mengikuti pelajaran tambahan. Aku berdiri dari bangkuku yang menghadap ke taman dan mataku mendapati dia sedang duduk sendirian. Wajahnya sendu, bukan pertama kali aku melihatnya seperti itu. Jika dia sedang sendirian dia kan terlihat sangat sedih. Tapi jika ada seseorang saja didekatnya dia akan jadi orang paling ceria yang pernah aku kenal.

Hatiku terpanggil untuk menemuinya. Aku bersiap turun dari kelasku yang berada di lantai tiga. Tapi ada seseorang yang mendekatinya. Tentu saja ku tak dapat mendengar percakapan mereka dari sini. Ah itu kan Choi Minho anak 3 A. Minho menutup mata Chae rin. Minho membuat Chae Rin tertawa. Minho memeluk Chae Rin dari belakang. Minho mencium ubun-ubun Chae Rin yang tengah terduduk. Bodoh.. kenapa aku merasa sakit saat melihatnya. Minho mencium bibir Chae Rin. Gadis itu menikmatinya. Tanpa sadar aku mengepal tanganku. Telapak tanganku sakit karena tertekan kuku. Tapi hatiku lebih sakit lagi. Akupun memutuskan menghentikan menikmati pemandangan menyakitkan ini. Aku keluar dengan gontai dari dalam kelas.

“Kenapa kau?” Tanya Kevin setelah menepuk bahuku. Dia ikut berjalan bersamaku.

“Tidak apa-apa.” jawabku lemas.

“Benarkah? Tidak biasanya..” Kevin masih saja menyelisik. Membuatku risih saja.

Ah sial. Kenapa pintu gerbang harus melewati taman dulu sih? Aku jadi harus melihat mereka dari dekat.

“Ki bum sunbae…” Chae Rin melambai padaku. Kevin mendekati mereka. Dan dengan sangat terpaksa aku ikut mendekat.

“Minho-ah besok latihan ya. Jangan pacaran terus.”

“Iya.. jam 2 kan?”

“Ne.”

“Ki Bum-ah kau juga datang saja.” ujar Minho.

“Tidak. Aku sudah lama keluar. Tidak enak tiba-tiba datang.”

“Memangnya dulu kau anak basket sunbae?” tanya Chae Rin.

“Iya, tidak kelihatan ya?” ucapku dengan senyum yang dipaksakan.

“Begitulah.. kau lebih terkenal sebagai ketua OSIS yang tampan.” goda Chae Rin. Ku harap dia sungguh-sungguh  mengatakan itu.

“Yaa.. Chae Rin-ah, pacarmu ada disini.” Minho menjitak kepala Chae Rin.

Kevin, Minho dan Chae rin tertawa sementara aku hanya bisa tersenyum.

***

Minggu siang. Kulihat di dompetku hanya tersisa 1000 won. Dengan malas ku ambil jaket hitamku dan bergegas menuju mesin ATM yang terdapat di pusat perbelanjaan. Karena tidak terlalu jauh aku berjalan kaki. Ku ambil berapa ya? Emm 50000 won cukup mungkin. Nanti kalau sudah habis kan bisa ambil lagi. Setelah mendapatkan uang yang ku butuhkan aku keluar. Ketika aku menatap langit. Langit menjatuhkan butiran-butiran kecil air. Hujan mulan membasahi tanah disekitarku. Menghasilkan bau hujan yang menarik untukku.

Di sebrang jalan kulihat gadis yang sepertinya ku kenal. Dia baru saja keluar dari restoran fast food. Dia tersenyum melihat hujan turun. Dia menutup matanya dan menarik napas panjang. Dia tidak ingin melewatkan sedikitpun bau hujan. Dia membuka mata dan bukannya berteduh dia malah berjalan dengan sangat lambat di bawah hujan. Dalam beberapa menit saja tubuhnya sudah kuyup. Aku melihat nya mengigil. Dengan cepat ku tarik dia ke tempat aku berteduh.

“Anak bodoh. Kenapa malah hujan-hujanan?” tanyaku padanya.

“Aku tidak hujan-hujanan sunbae. Aku hanya merindukan hujan.”

“Merindukan?” aku sama sekali tak mengerti.

“Ya, sudah lama aku tidak bertemu hujan. Hujan yang selalu menemaniku.” dia menunduk.

“Kenapa?”

“Apanya yang kenapa?”

“Aku tahu disini,” aku menepuk pelan kepalanya yang basah “pasti banyak masalah. Kenapa tidak pernah bilang? Kalau tidak percaya padaku, kau kan bisa cerita pada teman-temanmu. Atau pada Minho,” tenggorokanku sedikit tercekat menyebutkan namanya

“Sunbae sok tahu..” dia menjulurkan lidahnya kemudian tertawa. Jelas itu tawa terpaksa.

“Sudahlah jangan berpura-pura lagi.” dia menghentikan tawanya dan menatapku dengan tatapan paling sendu yang pernah ku lihat, “Kau tidak bisa menyembunyikannya dariku” aku melepaskan jaketku yang tidak basah dan menyingkapkannya di bahunya. Sudut matanya mulai mengeluarkan butiran-butiran bening. “Jangan hanya menceritakan masalahmu pada hujan. Dia hanya dapat menyamarkan tangismu bukan menghapusnya. Arraso?”

“Sunbae…” suara paraunya hanya menyebutkan kata itu. Aku mengangkat dagunya dan menghapus airmatanya dengan jemariku.

“Lain kali, kalau kau kau ingin menagis, tidak perlu menunggu hujan. Datang saja kekelasku. Atau teriakkan namaku, aku akan datang menghampirimu. Okey?” dia mengangguk.

“Apakah dengan itu kau akan datang?” tanyanya heran.

“Tentu saja” Dia mulai menggigil sampai gertakan giginya terdengar olehku. “Tuh kan..” aku memeluk erat tubuhnya “Apakah hangat?”

“Masih dingin…” aku mengelus punggungnya.

Hujan mulai berhenti. Aku melepaskan pelukanku. “Kau basah sekali. Ikut ke rumahku dulu ya, kau pakai bajuku saja dulu. Aku takut kau sakit.” dia menangguk pelan.

Kami berjalan ke rumahku. Tidak ada orang. Hyun jun hyung pasti sedang ke rumah temannya. Dia duduk di sofa ruang tamu. Aku ke kamar untuk menyiapkan dia baju. Ku ambil sepotong kaos dan jaket cokelat tua. Emm.. celana olah ragaku saja deh.

“Chae Rin-ah mandilah dulu. Sementara aku membuat makanan untukmu. Kau bisa pakai ini.” aku memberikan handuk dan baju yang aku siapkan tadi.

“Sunbae.. maaf merepotkanmu terus..” wajahnya kelihatan menyesal.

“Tidak. Kau tidak pernah merepotkanku. Sudah sana mandi. Pakai air hangat jika kau mau.”

“Ne.” dia masuk ke kamar mandi sementara aku membuatkannya sup ayam.

Beberapa menit kemudian ia keluar sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Dia melihatku mengaduk teh.

“Sunbae..” ujarnya.

“Kalau kau hanya mau minta maaf aku tidak mau dengar.” ujarku.

“Tidak,” dia menjulurkan lidah, “Aku mau bererima kasih..” dia tersenyum tulus.

“Kembali kasih…”

“Sunbae ini kebesaran.“

“Tentu saja.. tubuhku kan lebih besar dari tubuhmu. ini minum dulu” aku menyerahan secangkir teh manis padanya, dan menyodorkan semangkuk sup ayam. Aku memakan bagianku.

“Kenapa kau baik sekali padaku sunbae?” tanyanya aku menatap matanya yang indah.

“Hatiku yang menginginkannya” dia terdiam dan kembali memakan sup ayamnya. Dia milik Minho, Ki Bum.. apa yang kau pikirkan… “Emm.. kau mau cerita padaku sesuatu?” ujarku mengalihkan pembicaraan.

“Entahlah…”

“Kau tadi makan sendirian di fast food?”

“Aku hanya beli es krim saja.”

“SendirIan? Minho dimana?”

“Ada urusan katanya” aku mengacak rambutnya.

***

Chae Rin sedang duduk di taman. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Segera dia angkat.

“Chae rin kau dimana?” tanya seseorang di sebrang sana.

“Aku di taman dekat sekolah. Ada apa Min Mi?”

“Aku melihat Minho di Café Bean.”

“Dia memang biasa main disana. Lalu?”

“Bersama seorang wanita. Kalau tidak salah Go Hara sunbae.”

“Mungkin habis mencari tugas. Mereka sekelas bukan?”

“Kalau tidak saling mencium dan memeluk sih, aku tak akan sampai meneleponmu.”

“Begitu ya? Aku akan segera kesana.”

Chae Rin menutup telponnya dan bergegas menuju Café Bean. Dari sebrang jalan saja dia sudah dapat melihat kemesraan Minho dan Go Hara.  Dengan hati panas Chae Rin menghampiri mereka.

“Hai Minho oppa pacarku sayang. Tugasmu sudah selesai?” Minho terbelalak atas kedatangan Chae Rin.

“Chae Rin-ah.. kau kenapa ada disini?”

“Harusnya aku yang tanya. Kenapa dia ada disini bersamamu?” Chae Rin menunjuk wajah Go Hara.

“Siapa dia oppa? Lancang sekali menunjuk-nunjukku seperti itu.”

“Dia.. dia..” Minho gelagapan.

“Dia pacarmu?”

“Tidak lagi. Karena sekarang aku dan dia putus!” Chae Rin meninggalkan Minho dan Go Hara.

“Chae Rin.. tunggu..” Minho mengejar Chae Rin, sementara Chae Rin terus berjalan tanpa mempedulikan teriakan di belakangnya.

“Jangan lagi mengejarku!”

“Chae Rin jebal.. aku hanya..”

“Cukup oppa maksudku sunbae. Tolong tinggalkan aku dan tidak perlu menghubungiku lagi. Selamat sore Minho sunbae.”

Chae Rin berlari dengan cepat. Dia menangis meninggalkan Minho yang masih tercengang. Dia duduk di bangku taman sambil tetap terisak. Tak terasa malam mulai menyapa. Dengan mata sembab dan kepala pening kaerena habis menangis Chae Rin berjalan menyusuri kota. Dia tahu itu bukan jalan menuju rumahnya dia terus berjalan. Dua orang pria menantinya di ujung jalan. Melihat kejanggalan itu Chae Rin menghentikan langkahnya kemudian berbalik. Tapi ada dua pria lain yang menghadangnya.

“Malam-malam sendirian nona? Mau kutemani?”

“Tidak terima kasih.” jawab Chae Rin ketus.

“Tapi kami mau kau menemani kami.”

***

Hyun Jun hyung memintaku membeli beberapa makanan kecil. Sebagai adik yang baik aku menurutinya dan keluar untuk membelinya. Aku menyusuri jalanan kota yang terlihat ramai. Aku mencari toko yang biasa aku dan kakakku kunjungi untuk membeli cemilan. Tapi sialnya tutup. Akupun melangkahkan kaki mencari toko lain. Tidak ketemu juga. Apa yang harus aku lakukan kini?

“Ki Bum sunbae…” ada yang meneriakkan namaku. Entah dimana dan entah siapa. Aku menengok ke belakang. Tidak ada siapapun.

“Ki Bum sunbae… tolong..” lagi, aku mengenal suara itu. Aku berlari sekencang mungkin, mataku tak lepas mencari sumber suara. Tidak ketemu. Sial. Diamana sebenarnya dia. Ada sebuah gang kecil. Aku masuk tanpa ragu. Segerombolan pemuda tengah asik tertawa.

“Mau apa kau kesini?” tanya salah satu dari mereka aku sama sekali tidak menghiraukan pertanyaannya. Mataku menyelisik tubuh terduduk yang bersandar pada tembok bagunan. Pakaian atasnya terobek parah. Tangannya diikat dan disudut bibirnya terdapat darah segar.

“Lepaskan gedis itu.” ujarku.

“Mau sok jaogan? Siapa kau?”

“Aku? Aku kekasihnya mau apa?”

“Bocah tengik..” pria itu memukul wajahku. Tidak mau kalah aku balas memukul wajahnya. Seorang lainnya menendang perutku membuatku jatuh tersungur ke tanah. Dengan sisa tenaga yang kumiliki aku bangkit mengambil kayu yang tergeletak disampingku. Kupukuli satu per satu manusia-manusia tak bermoral ini. Ada satu orang yang mengkomando mereka untuk pergi. Dan mereka meninggalkan kami berdua.

Rintik hujan mulai membasahi tubuh letih kami. Tetes-tetesnya memudarkan darah pekat yang menghiasi wajah kami. Hujan membelai kami lembut. Perlahan kudengar isakannya menggema di telingaku. Membekaskan jejak bersalah dalam diriku. Aku mengampirinya yang masih pada posisinya. Aku buka ikatan tangannya. Ku lepaskan jaketku dan menutupi tubuhnya yang kini terlihat jelas olehku.

“Mereka tidak berbuat lebih dari ini kan?” tanyaku. Dia menggeleng lemah.

“Sunbae.. aku.. aku takut..”

“Sudah.. tenang saja, semua akan baik-naik saja. Aku sudah ada bersamamu.” aku memeluk tubuh lemahnya yang tak berdaya. Dia menangis dalam dekapanku “Uljima..” ujarku. Aku mengangkat tubuhnya. Lengannya melingkar di leherku. Dia menyandarkan kepalanya di dadaku. Aku membawanya ke rumahku. Dan hujan menemani kami. Hujan tanpa petir menuntunnya untuk tidur dalam pelukku.

***

Dia terbangun saat aku meletakkan tubuhnya di ranjangku. Aku tersenyum meski bibirku sakit bekas dipukul.

“Sunbae..”

“Aku lebih suka kau memanggilku oppa.”

“Emm.. Ki Bum oppa..” aku mengambil kotak P3K.

“Pinjam tanganmu.” dia menyodorkan lengannya yang penuh lecet. Ku lihat sebentar dan ku taruh di atas pahaku. Ku ambil bulatan-bulatan kecil kapas dan ku tuangkan sedikit revanol di atasnya. Aku bersihkan lukanya sedikit demi sedikit “Tidak sakit bukan?” dia menggeleng.

“Sunbae.. maksudku oppa..” aku menahan bibirnya dengan telunjukku,

“Aku tahu kau akan bilang maaf merepotkan dan terima kasih.” dia   terdiam dan menunduk setelah kedua lengannya selesai ku obati. Aku mengangkat dagunya membuatnya menatap wajahku. Ku bersihkan darah yang mulai mengering di sudut bibirnya dengan air hangat. Ku plester luka di pipinya. “Sudah. Istirahatlah dulu. Nanti aku yang telponkan ke rumahmu agar orang tuamu tidak khawatir.” ujarku sambil membelai pipinya yang tidak dihiasi luka.

“Tidak perlu oppa. dirumah tidak ada orang. Appa dan umma sudah lama bercerai. Dan jam segini appa pasti belum pulang.” oh itu masalahnya.

“Baiklah.. biar kau disini selama yang kau  mau”

“Oppa.. kau mau menjadi hujanku?”

“Ne.. menangislah..” dia memelukku dan benar dia menangis sendu padaku.

“Hari ini aku memerogoki Minho sunbae dengan Go Hara sunbae sedang bermesraan. Tanpa pikir panjang aku memutuskan Minho sunbae. Aku sangat sedih hingga aku berjalan entah kemana dan aku bertemu pria-pria jahat itu…” dia kembali terisak.

“Kau menyesal meninggalkan Minho?”

“Entahlah..” aku mengelus puncak kepalanya. Dia melepaskan pelukannya. Dan duduk di ranjang menghadapku. Aku menyeka air matanya.

“Sekarang ada aku yang menjagamu.” dia mengangguk.

“Lukamu belum diobati” ujarnya. Sekarang gantian dia yang mengobatiku. Aku membiarkan dia yang dengan cekatan merawatku. Aku tak lepas menatap wajahnya.

“Terima kasih..” ujarku

“Atas semua yang telah kau lakukan padaku kau tidak sepantasnya berterimakasih.” aku hanya dapat dersenyum dan mengacak rambutnya.

“Istirahatlah. Untung besok libur. Jadi aku tidak perlu repot”

“Jadi aku merepotkanmu?” ujarnya dengan logatnya yang biasa

“Begitulah…” candaku, dia hanya cemberut aku keluar dari kamar dan mematikan lampu.

“Oppa..” ujarnya lagi saat aku hendak menutup pintu dari luar “Aku tidak mau dengar kau bilang maaf merepotkan dan terima kasih.”

“Lalu? Apa yang harus ku katakan?”

“Cobalah belajar bilang saranghae..” aku tersenyum dan menutup pintu. Membiarkan dirinya terhanyut dalam kebingungan yang menyenangkan. Semoga kau mengerti Chae Rin..

***

Jampelajaran telah usai. Aku bergegas pulang. Tapi ditengah perjalanan ponselku bordering.

“Yoboseyo.. baik aku segera kesana.”

Sesuatu yang buruk terjadi pada hyungku. Semoga ia baik-baik saja.

Seseampainya di rumah sakit kulihat hyungku sudah tidak bedaya. Dia mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah.

“Dokter bagaimana keadaan hyungku?” tanyaku pada doter yang baru saja keluar dari kamar rawat kakakku

“Lukanya cukup parah. Aku tidak dapat memberimu jaminan dia akan sembuh total.” aku menelan ludah.

“Begitu ya.. tapi presentase kesembuhannya?”

“Sangat kecil.”

“Baik. Gamsahamnida.” dokter itu meninggalkanku sendirian.

Kuharap hujan turun hari ini. Agar ia menyamarkan tagisku. Agar dia menemaniku dalam keterpurukanku.

Aku memberanikan diri melihat keadaan hyungku. Dan memang keadaannya sungguh mengenaskan. Beberapa tulangnya patah dan beberapa bagian tubuhnya robek. Aku tak habis pikir, kenapa orang baik seperti ia dapat mengalami kejadian seperti ini.

“Hyung.. kau dapat mendengarku?”

“…” tidak ada jawaban memang sungguh bodoh aku bertanya padamya yang bahkan belum sadarkan diri.

“Hyung kumohon sadarlah.. jangan biarkan aku sendirian di Korea. Hyung..”

“…” tetap hening. Aku tahu aku hanya bicara sendiri. Tapi tiba-tiba mesin pendeteksi detak jantung yang terpasang pada tunuh hyungku berbunyi keras. Ku lihat di monitornya hanya ada garis lurus. Aku berlari ke luar.

“sus tolong sus.. pasien dikamar ini..” aku tak dapat menyelesaikan kalimatku. Dan suter itupun telah mengerti. Dia masuk bersama dokter dan mulai mengejutkan jantung Jun hyung.

Aku menunggu di luar kamar dengan hati cemas dan harapan yang menggantung. Aku menghentakkan kakiku karena tak dapat menghalau gelisah. Sampai dokter dan beberapa perawat itu keluar.

“Bagaimana keadaan hyungku?” tanyaku pada dokter.

“Maaf. Tuhan punya rencana lain. Kuharap kau bersabar.” perkataan dokter itu sungguh menjadi duri di hariku. Aku yang tadinya berdiri terduduk lemas saat mendengrnya. Jun hyung. Kau tega meninggalkanku sendirian?

Kulihat hujan turun lagi. Dia mulai datang paaku yang memang sudah membutuhkannya. Aku berjalan sedikit demi sedikit ke luar rumah sakit. Membiarkan tubuhku dialiri air hujan. Aku menelpon seseorang yang juga mencintai hujan.

“Chae Rin-ah maukah kau menjadi hujanku?”

“Kau dimana oppa?”

“Kang Nam Hospital. Kumohon, cepatlah datang..”

“Ne, tunggulah sebentar.”

Tubuhku sudah kuyup sekali sekarang. Tapi aku tidak peduli dan tetap menutup mataku agar hujan mencumbuku. Sampai tiba-tiba ada yang memelukku. Aku membuka mata dan melihat wajah khawatirnya.

“Ada apa?” tanyanya yang kini mulai dibasahi hujan.

“Hyungku pergi meninggalkanku. Aku sendirian sekarang.”

“Bagaimana bisa?” dia mulai menepuk-nepuk punggungku layaknya menenangkan anak kecil yang sedang menangis.

“Hyung kecelakaan. Aku tidak mengerti bagaimana kronologisnya.”

“Kau menangis oppa?” tanyanya lembut.

“Entahlah.. hatiku yang menangis.”

“Kalau begitu aku tidak dapat menghapus tangismu dengan jemariku,” dia melepaskan pelukannya, “tapi dengan ini..” dia mengecup bibirku singkat. Hanya beberapa detik.

“Terima kasih” ujarku.

“Jangan bilang terima kasih. Belajarlah bilang saranghae..”

“Saranghae. Aku mencintaimu. I Love You. Cukupkah? Aku telah belajar mengatakannya sejak lama.”

“Bodoh.. kenapa tidak bilang?”

“Mungkin aku belum pandai. Bolehkah aku memintamu satu hal?”

“Katakan.”

“Chae Rin-ah, mulai sekarang maukah kau menjadi hujanku? Menemaniku disetiap sedihku, apa kau mau?”

“Tentu saja. aku mau menjadi hujanmu. Bahkan aku mau jadi pelangimu. Yang membuatmu terus tersenyum dan memikirkan semua penatmu. Aku akan disampingmu. Selamanya.”

“Terima kasih.” ujarku yang langsung memeluknya.

“Aku mencintaimu.” ujarnya manis.

“Aku juga.”

Bahagianya aku. Aku mendapatkan hujan dan pelangi secra bersamaan.
Apakah kalian telah menemukan hujan kalian?
Hujan dari langit hanya dapat menyamarkan tangis
Sementara hujan dari Tuhan dapat menghapus tangis
Aku beruntung dapat memiliki keduanya
Sungguh aku mencintai hujan
Karena dibawah hujan aku menangis
Dan diibawah hujan pula aku mencinta

The End

Entry filed under: FanFiction, Indonesia, One Shoot, PG, Romance. Tags: .

Puasa ala Suju Chapter 6 ‘Hari Kemenangan’ When Regret Comes Over Part 1

2 Comments Add your own

  • 1. princessmelody  |  September 7, 2011 at 6:39 PM

    kereen~~~ romantis.. hihihihihi

    Reply
  • 2. someone  |  December 26, 2012 at 5:44 PM

    so sweetttttttt >,<

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 513,030 hits

Day by Day

August 2011
M T W T F S S
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: