I Miss You, Lee Ji Eun….

August 18, 2011 at 3:10 PM 3 comments


Author : pinky_girl
Main Cast : Park Jiyeon ( T-ara), Lee Ji Eun ( IU )
Another Cast : Enjung ( T-ara ), Ahn Suk Hwan as Ji Eun’s Father, Lee Hye Young as Ji Eun’s Mother, Jung Hye Young as Jiyeon’s Mother, Oh Kyung So as Jiyeon’s Father
Genre : Friendship, Life
Rating : G
Type : Chaptered
Backsound : Alexander Ryback – Song From a Secret Garden, Download Here
Poster by YeonNia Art ( thanks adee..^^)

Prologue Here

PLEASE…PLEASE…..COMMENT YAH…^^ Buat yang komentar nanti dapet pahala lho, kan sekarang bulan puasa…*maksa…;*
IU POV

Flashback…..

“Suk Hwan, aku dan keluargaku akan pindah ke Amerika minggu depan karna aku di pindah tugaskan ke sana dari kantorku”

“Jinja?? Kenapa mendadak begini?” tanay Ayahku kaget.

“Sebenarnya berita ini sudah lama, hanya saja  kepastiannay baru di beritaukan kemarin, jadi aku juag baru memberitau mu sekarang”

“Berapa lama kalian akan tinggal di sana? Jiyeon ikut juga dengan kalian?” tanya ibuku.

“Ya,,,Jiyeon ikut dengan kami, kami akan tinggal lama di sana” jawab Ibu Jiyeon mulai meneteskan air matanya lalu Ibuku memeluknya.

“Kami akan sangat merindukan kalian” ucap Ibu Jiyeon.

——————————-

Itulah pembicaraan yang sempat aku dengar saat Ayah Jiyeon memberitaukan rencana kepindahannya ke Amerika pada Ayah dan Ibuku.

“Apa?? Amerika?? Jiyeon akan pindah ke Amerika?? Kenapa dia tidak bilang padaku?

“Ngomong2 dimana dia sekarang?? Apa dia di rumahnya?”

Aku langsung berlari ke rumah Jiyeon, aku masuk ke kamarnya tapi dia tidak ada di sana. Akhirnya aku menemukan dia di taman, tempat di mana dia sedang sedih dan selalu ingin sendiri. Yah, aku tau kenapa dia ada di sana, dia juga pasti sedih karna harus pindah ke Amerika.

“Sudah aku duga kau ada di sini. Kenapa kau hanya berdiam diri di sini?  Memangnya kau tidak mau mengucapkan salam perpisahan padaku,eoh?” tanyaku menahan tangis.

“Apa kau ingin aku melakukan itu? Kau ingin aku pergi?”

“Hahaha…babo, memangnya apa yang bisa aku lakukan untuk bisa menahanmu di sini?? Opso..” jawabku mencoba menyembunyikan rasa sedihku.

Jiyeon tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya menunduk, aku melihat jelas kesedihan dari wajahnya. Seandainya memang ada yang bisa ku lakukan untuk tidak membiarkan dia pergi, pasti akan aku lakukan karna aku tidak ingin kehilangan sahabat terbaik seperti dia.

“Jika aku pergi, apa kau akan merindukanku? Apa suatu saat kau akan menunggu aku kembali ke sini??”

“Aku yakin kau pasti sudah tau jawabannya tanpa aku jawab”

“Mwo?? Aku ingin mendengar sendiri jawabannya darimu, supaya aku yakin kalo suatu saat aku akan kembali ke sini untuk menemuimu lagi”

“Memangnya kau akan tinggal di sana berapa lama??”

“Molla…”

“Pergilah, dan aku akan selalu menunggumu sampai nanti kau kembali”

Jiyeon memelukku, erat. Bagiku, Jiyeon sudah seperti adik kandungku, padahal usia kami sama bahkan kami lahir di hari yang sama. Tapi sifat dia sangat manja, dan kadang lebih kekanak-kanakan di banding aku. Setiap kali ada yang mengejeknya atau mengganggunya di sekolah, dia selalu mengadu padaku.

“Ji Eun-ah, boleh aku menginap di rumahmu malam ini?”

“Pasti”

“Ah..jamkkanmanyo”

“Mwo?”

“Ada yang lupa aku ambil”

***

“Ji Eun-ah”

“Eoh..”

“Apa kau sudah tidur?”

“Anhi, wae?”

“Pakailah ini” ucap Jiyeon bangun dari tidurnya dan menunjukkan sebuah kalung padaku.

“Ige mwoya??”

“Ini adalah kalung hadiah ulang tahun dari ibuku 2 tahun yang lalu. Ibuku memberi sepasang kalung ini agar aku menyimpannya dan menyuruhku memberi kalung yang satunya pada siapapun yang aku anggap penting dalam hidupku. Dan sekarang aku akan memberikannya padamu, karna bagiku kau sangat penting. Pakailah.”

Jiyeon memakaikan kalung dengan liontin gembok padaku dan dia sendiri memakai kalung dengan liontin kunci.

“Dengan kalung ini, berarti kau dan aku sudah saling mengunci, jadi sejauh apapun jarak yang memisahkan kita, hati kita tidak akan pernah jauh, arasso?” ucapnya sambil menyatukan kalung yang dia pakai dengan kalung yang aku pakai.

End of Falshback…

Itulah saat terakhir aku bertemu dengan Jiyeon sebelum dia pergi ke Amerika 11 taun yang lalu. Pada awalnya dia rajin menghubungiku lewat surat, tapi beberapa bulan kemudian sudah tidak ada kabar lagi darinya bahkan sampai sekarang. Yah, karna sekarang aku juga sudah pindah rumah, dan mungkin Jiyeon tidak tau alamat rumah baruku. Jujur aku sangat merindukannya sekarang, aku ingin berkeluh kesah padanya, walopun dia memang sedikit manja, tapi dia adalah pendengar setiaku setiap kali aku berkeluh kesah dulu padanya. Jiyeon-ah, nan nomu bogoshippo.

“Jie Eun-ah, ayo makan dulu,nak” teriakan ibuku membangunkan aku dalam lamunanku.

“Ne,eomma…” jawabku

Tapi tiba2 saja kepalaku pusing, sangaaat pusing.

“Arrgghhttt….kenapa kepalaku pusing sekali?? Eom…ma…” ucapku lirih mencoba memanggil ibuku, namun aku tidak tau apa yang terjadi setelah itu.

Di Rumah Sakit…

“Ji Eun-ah, kau sudah sadar,nak? Ini ibu sayang” ucap Ibuku dengan wajah khawatir saat aku terbangun dari tidurku.

“Eomma, aku di mana?? Aahh…kepalaku”

“Kau jangan bangun dulu,nak. Berbaringlah, sekarang kau ada di Rumah Sakit, tadi kau pingsan lalu Ibu membawamu ke sini”

“Pingsan? Yah, aku ingat, tadi saat Ibu memanggilku untuk makan, tiba2 saja kepalaku sakit, bu”

“Ia, nak makannya Ibu membawamu ke sini”

“Tapi, darimana uangnya buat biaya Rumah Sakit ini,bu? Sudahlah, kita pulang saja, Ji Eun tidak apa2 ko..” aku coba untuk bangun, tapi tiba2 sakit kepalaku menyerang lebih hebat lagi.

“Ji Eun-ah, sudahlah, kau jangan pikirkan biaya Rumah Sakitnya, yang terpenting sekarang kau sembuh dulu, biar Dokter memeriksa penyakitmu,eoh?”

“Tapi,bu..”

“Tolong dengarkan Ibu,nak. Jangan biarkan Ibu kehilanganmu seperti Ibu kehilangan Ayahmu, jebal..”

“Ibu…” aku memeluk Ibu, seketika hatiku terasa sakit saat Ibu mengatakan hal itu.

***

“Ji Eun-ah, Ibu mau pulang dulu bawa baju2 mu, kau ingin di bawakan apa?”

“Tidak usah bawa apa2, bu”

“Baiklah, kalo begitu Ibu pulang dulu yah”

“Ne, hati2 yah, bu”

“Ye..”

Dalam sesaat Ibuku menghilang dari balik pintu, dan tidak lama kemudian Dokter datang.

“Maaf, di mana Ibumu?”

“Ibuku sedang pulang dulu ke rumah, ada apa Dokter?”

“Ah, tidak, aku hanya ingin berbicara sebentar dengan Ibumu”

“Tentang apa? Apa tentang penyaiktku?”

Dokter itu tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya menunduk.

“Dokter, katakan saja padaku, apa sebenarnya penyakitku?”

“Tapii…saya harus mengatakannya pada Ibumu dulu”

“Tidak, Dokter katakan saja padaku, kenapa? Ada apa denganku sebenarnya?” tanyaku semakin memaksa.

“Maaf sebelumnya,kalo saya harus memberimu kabar buruk, hasil dari CT Scamu adalah, kau terkena Kanker Otak stadium akhir”

“Apaa??” ucapku lemas, seakan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Dokter padaku,apa?? Kanker Otak??

Aku teringat kata2 Ibuku tadi, saat Ibuku bilang, “Tolong dengarkan Ibu,nak. Jangan biarkan Ibu kehilanganmu seperti Ibu kehilangan Ayahmu, jebal..”

Ayahku dulu meninggal karna Kanker Otak juga, dan sekarang akuu..? Anhia,,,,itu tidak boleh terjadi, aku tidak boleh meninggalkan Ibuku sendirian.

Ya Tuhan, jawab aku, ini hanya mimpi kan?? Ku mohon, jangan ambil aku sekarang, jangan biarkan Ibuku hidup sendirian nantinya. Ku mohon Tuhan…

“Lalu, berapa lama lagi aku bisa bertahan, Dokter?” tanyaku dengan pasrah.

“Kami tidak bisa memastikan, tapi kemungkinannya hidupmu hanya bisa bertahan dalam beberapa bulan ke depan saja. Tapi semoga ada keajaiban datang padamu, kuatkanlah dirimu”

Aku terdiam, masih tidak percaya dengan kenyataan yang sekarang ini ada di hadapanku.

“Baiklah, saya permisi dulu, banyaklah istirahat”

“Jamkkan manyo…”

“Ne…” jawab Dokter itu berbalik saat dia akan melangkah pergi dari kamarku.

“Boleh aku meminta sesuatu padamu, Dokter?”

“Katakanlah…”

“Aku mohon, jangan bilang pada Ibuku tentang hal ini, bilang saja kalo aku hanya sakit biasa, aku tidak mau membuat Ibuku khawatir, aku mohon Doketr, kau bisa membantuku untuk ini, kan?”

“Hmm…tapii….”

“Jebal…” ucapku memohon dengan wajah yang memelas.

“Ne, arasso”

“Gomawoyo…”

1 Jam kemudian…..

“Ji Eun-ah, Ibu datang sayang” ucap Ibuku dengan wajah yang sangat berbinar.

Ya Tuhan aku melihat senyum Ibu, membuat hatiku terasa hangat sekaligus sakit. Mengingat usiaku yang mungkin tidak akan lama lagi, berapa lama lagi aku bisa merasakan kehangatan seperti ini? Berapa lama lagi aku bisa melihat senyum Ibu?

Apa yang akan terjadi, jika nanti Tuhan benar2 mengambilku?? Apakah mungkin senyum itu masih bisa terpancar dari wajah Ibu?? Siapa yang bisa membuatnya tersenyum lagi?? Ya Tuhan, jika nanti kau benar2 mengambilku, tolong berilah Ibu seseorang sebagai penggantiku, yang akan selalu menemaninya, tolong jangan biarkan dia sendirian.

“Ji Eun-ah, kenapa kau menangis?? Apa terjadi sesuatu?”

Pertanyaan Ibu membuatku kaget, karna tanpa sadar aku meneteskan air mataku.

“Ah..anhia,,Nan gwancahanyo eomma”

“Lalu kenapa kau menangis??”

“Aku hanya senang saja melihat senyum Ibu lagi, aku bahagia Ibu, berjanjilah untuk terus tersenyum seperti itu untukku”

“Ji Eun-ah, kau yakin kalo kau baik2 saja?? Tidak ada yang kau sembunyikan dari Ibu kan??” ucap Ibuku mulai penasaran, mungkin Ibu bisa menangkap dari kata2 ku, seolah aku menyembunyikan sesuatu dari Ibu.

“Ibu, tentu saja aku baik2 saja, tidak ada yang aku sembunyikan, percayalah”

“Tapi kata2 mu tadi, benar2 aneh”

“Sudahlah Ibu, lupakan saja. Ibu sini tidur denganku yah, aku ingin tidur dengan Ibu” ucapku manja sambil menepuk2 kasurku menyuruh Ibu tidur di sampingku.

“Ku benar2 aneh, kenapa tiba2 kau manja seperti ini??”

“Ah..Ibu cerewet sekali, aku kan sedang sakit jadi aku pasti manja,hehe..”

“Ah..ye,,gurae..gurae..”

Aku memeluk Ibu erat, seolah aku tidak ingin melepaskan pelukanku, hangat yang aku rasakan bisa di samping Ibu. Tapi tiba2 kepalaku pusing lagi, dan semakin pusing.

“Aarrggghhttt….” ucapku lirih sambil menahan sakit kepalaku yang sebenarnya tidak bisa aku tahan, tapi aku tidak ingin sampai membuat Ibu terbangun. Aku hanya bisa menggigit bibirku, dan mengerang kesakitan.

Ke esokan harinya…

“Eomma…” ucapku saat Ibu terbangun yang tidur di sampingku dan mata kami berpandangan.

“Kau sudah bangun?”

“Ehm…apa Ibu tidur neynyak??”

“Ye…entah kenapa semalam Ibu tidur nyenyak sekali”

“Karna aku tidur di samping Ibu, makannya Ibu bisa tidur nyenyak, kan??”

“Auuww….nappeun eomma” ucapku kesakitan saat Ibu mencetakkan jarinya di keningku. Dan saat itu kepalaku sakit lagi.

“Kau kenapa Ji Eun?? Apa Ibu terlalu keras memukulnya??”

“Ah..anhi eomma, aku tidak apa2”

“Kau yakin?”

“Ne….” ucapku dengan memasang senyum termanisku hanya untuk menutupi  rasa sakitku dari Ibu.

“Eomma, aku ingin tidur sebentar lagi dengan Ibu, sini aku peluk”

Tok..tok..tok..

Suara sesorang mengetuk pintu kamarku. Dan ternyata Dokter yang datang.

“Maaf, aku harus memeriksa putri anda Nyonya”

“Ah..ya,,maaf, silahkan Dokter”

“Bagaimana keadaan putriku, Dokter? Sebenarnya dia sakit apa?” tanya Ibuku dan aku langsung menatap Dokter, berharap dia memegang janjinya untuk tidak memberitau Ibu tentang penyakitku yang sebenarnya.

“Ah..dia hanya kelelahan saja, apa mungkin belakangan ini dia bekerja yang berat?”

“Bekerja yang berat? Yang aku ingat dia tidakpernah bekerja yang berat2 Dokter, karna aku tidak mungkin membiarkan putriku melakukan hal2 yang berat”

“Oh,,kalo begitu dia mungkin memang kondisi dia saja yang sedang tidak fit, jadi saat dia melakukan hal yang ringan pun bisa sampai lelah”

“Benarkah??”

“Ye…”

“Ah,,baiklah. Aku akan menjaga putriku baik2”

“Terima kasih Dokter keu memegang janjimu”  ucapku dalam hati.

Keesokan harinya lagi….

“Dokter…aku ingin pulang saja”

“Pulang? Tapi kondisimu belum stabil, kau masih harus di control”

“Kemungkinanku untuk hidup berapa persen?”

“Kami tidak bisa begitu memastikan, tapi melihat hasil dari diagnosamu, mungkin hanya 5 persen saja” ucap Dokter itu melemah.

“5 persen?? Jadi hidupku hanya bergantung pada 5 persen itu?”

Dokter itu tidak menjawab pertanyaanku.

“Kalo begitu aku lebih baik pulang saja, toh aku di rawat di sini pun hasilnya akan tetap sama kan? Aku akan mati” ucapku pasrah.

“Tapi…”

“Aku tidak ingin memberatkan Ibuku dengan biaya Rumah Sakitnya, jadi lebih baik aku pulang saja, tolong biarkan aku pulang Dokter”

“Baiklah kalo memang menurutmu begitu, tapi tetap kau harus meminum obat2 mu untuk mengurangi rasa sakitmu”

“Ne arasso”

3 jam kemudian….

“Kau yakin Ji Eun, kau ingin pulang saja? Memang kau benar2 sudah baikan?” Tanya Ibuku sambil membantuku membereskan baju2 ku.

“Ne eomma, aku sudah sehat, lihat aku sehat, kan?” ucapku dengan penuh semangat sambil mengangkat kedua tanganku seolah aku benar2 sehat.

“Ah..baiklah, kalo itu maumu”

“Sesampai di rumah tolong masakan aku bulgogi ya bu, aku kangen sekali ingin makan itu,hehe…”

“Ye..ye….”

Di rumah…

Aku menyimpan tas pakaianku, dan aku tidur di kasurku, dingin begitu dingin. Ibu sedang pergi ke pasar untuk membeli bahan bulgogi yang ingin di buatkan untukku. Aku membuka buku diary ku yang sudah mulai usang karna sudah lama aku tidak membukanya sejak beberapa taun lalu. Aku menulis sesuatu di sana, sampai tidak terasa Ibu sudah pulang lagi dari pasar.

“Ji Eun-ah, Ibu pulang,nak”

“Ne eomma, ah..aku sudah tidak sabar untuk makan masakan Ibu lagi” ucapku sambil mengahmpiri Ibu dan memeluknya dari belakang.

“Hei..semakin hari kau semakin aneh, kau bikin bulu kuduk Ibu berdiri jika seperti ini”

“Ibu, memangnya aku hantu bisa membuatmu merinding seperti itu?” aku memasang wajah cemberutku.

“Ah..bukan itu maksud Ibu, tapi kau memang aneh belakangan ini, dan..”

“Ibu, ayo cepat masakan ini untukku aku sudah lapar” ucapku sambil memegang perutku pura2 lapar, dan aku mencoba memotong ucapan Ibu karna aku tidak mau Ibu mulai menangkap sesuatu yang aneh dariku.

“Ya..ya baiklah…kau tunggu saja di kamarmu, nanti kalo sudah jadi Ibu panggil kau ke kamar”

“Neee…..eomma….”

Setengah jam kemudian….

“Ji Eun-ah, masakannya sudah jadi,nak ayo makan. Ji Eun-ah…”

————————

Aku berkeliling memutari komplek rumahku, memang tidak terlalu jauh2 karna aku tidak ingin sampai kelelahan, walo bagaimana pun penyakitku ini tidak boleh kambuh di depan Ibuku. Saat mulai lelah, aku pulang. Aku tidak sabar ingin makan masakan Ibu.

“Ibu….apakah bulgoginya sudah jadi?? Aku sudah lapar nih”

Tidak ada jawaban dari Ibu, aku melihat ke dapur tidak ada Ibu di sana, aku melihat ke kamarnya juga tidak ada, sampai aku melihat pintu kamarku terbuka, sedangkan saat aku pergi tadi, aku ingat sekali aku menutupnya.

“Jangan2….?” Aku bergegas menghampiri kamarku dan aku melihat Ibu benar ada di sana dan…

“Hasil diagnosaku ada di tangan Ibu? Berarti Ibu sudah tau penyakitku?” ucapku dalam hati.

“Ibuu….bulgoginya sudah jadi ko tidak memanggilku?” tanyaku seolah aku pura2 tidak tau Ibu sedang memegang hasil diagnosaku.

Ibu tidak menjawab, dia hanya menunduk sambil menangis.

“Ibu..kenapa Ibu menangis???”

“Kau ini, kenapa kau tega berbohong pada Ibumu sendiri,nak? Kenapa kau menderita sendirian??” ucap Ibu dan tangisnya semakin keras sambil memukul2 tanganku.

“Mianhaeyo eomma, choengmal mianhaeyo…” tangisku tak dapat ku bendung lagi dan aku memeluk Ibu erat.

“Ya Tuhaaan, kenapa sekarang kau beri penyakit ini pada putri tersayangku, sudah cukup dulu kau ambil Suamiku karna penyakit ini, apa sekarang Kau mau ambil putriku juga dengan penyakit yang sama?? Jangan, aku mohon jangan ambil putriku” Ibu terus memelukku lebih erat lagi, seolah dia takut untuk kehilanganku.

“Ibu, jika ada hal yang bisa membuatku untuk tetap bisa bertahan menemani mu di sini, pasti akan ku lakukan, tapi Dokter bilang kemungkinanku untuk hidup hanya 5 persen saja, apa mungkin aku tetap bisa sembuh? Ibu, aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian” tangisku mulai memuncak dan tiba2 saja hal yang tidak aku inginkan terjadi, sakit kepalaku menyerang lebih hebat lagi dari sebelumnya dan itu terjadi di depan Ibuku.

“Arrgght..Eom..ma,,kepa..la..ku…eomma,,nappeun eomma…tol..ong akuu…” ucapku mengerang kesakitan.

“Ji Eun-ah, kau kenapa sayang? Apa kepalamu sakit lagi?? JI Eun-ah, bertahanlah, Ibu akan bawa kau ke Dokter, Ji Eun-ah bangun sayang..”

Di Rumah Sakit..

“Ji Eun-ah, kau sudah sadar?? Syukurlah Ibu sangat mengkhawatirkanmu sayang”

“Ibu aku di mana?”

“Kau di Rumah Sakit, nak”

“Ibu, kenapa kau membawaku ke sini? Tidak ada gunanya bu aku di rawat di sini, hanya menghabiskan uang saja, pada hasilnya aku akan tetap tidak akan sembuh” ucapku lemas.

“Andwae..kau tidak boleh bicara seperti itu, nak. Berharaplah ada keajaiban datang padamu, kau akan sembuh”

“Aku takut, bu. Aku takut jika berharap pada sebuah keajaiban, jika pada akhirnya keajaiban itu tidak pernah datang padaku, sama seperti saat kita berharap akan adanya keajaiban datang pada Ayah saat itu dan pada kenyataanya, Ayah tidak sembuh dan sekarang sudah meninggalkan kita”

“Tapi Ibu akan terus memohon pada Tuhan untuk bisa menyembuhkanmu, nak. Percayalah kali ini Tuhan pasti mendengar do’a kita”

Aku tidak menjawab, aku hanya terdiam, dalam hati ingin rasanya aku memiliki keyakinan kuat seperti Ibu, untuk percaya bahwa aku pasti bisa sembuh, tapi aku benar2 takut, takut walo hanya untuk berharap.

2 hari sudah aku di rawat di Rumah Sakit, saat Ibu membawaku ke Rumah Sakit ini untuk yang kedua kalinya. Ibu sedang tidak ada, dan aku merasa bosan, aku meminta suster untuk menemani ku ke taman, aku melihat banyak pasien2 lain yang berada di sana juga dengan berbagai macam penyakit mereka. Ada satu sosok yang menarik perhatianku, seorang yeoja yang duduk di kursi roda sendirian dengan kedua matanya yang di perban, sambil memegang sesuatu di tangannya. Lalu aku menyuruh suster untuk mendorong kursi rodaku menghampiri yeoja itu.

“Suster, bisakah kau meninggalkanku dengan yeoja ini berdua saja, nanti kalo aku ingin masuk ke kamarku, akan ku panggil lagi”

“Ah..ya,baiklah”

“Kamshamnida”

“Annyeong haseyo..” sapaku pada yeoja itu, dan dia langsung menoleh ke arah suaraku.

“Annyeong haseyo…duguseyo??” tanyanya ramah.

“Ah,ye naneun Ji Eun imnida”

“Ah, choneun Eunjung imnida”

“Maaf, tadi aku memperhatikanmu dari jauh, kau duduk di sini sendirian sambil terus mengelus kertas yang kau pegang, boleh aku melihatnya?”

“Ne? Ah, ini lukisanku” ucapnya sambil menyerahkan lukisannya padaku.

“Omo..yeppeota, choengmal yeppeota” ucapku kagum melihat hasil lukisannya yang memang benar2 indah.

“Jinja?”

“Ye,,geroum”

Sesaat langsung wajah sedih terpancar dari yeoja itu.

“Waeyo?”

“Ini adalah lukisan terakhir yang aku lukis sebelum aku kehilangan penglihatanku sekarang”

“Ah,,mian. Kalo boleh tau kenapa kau kehilangan penglihatanmu? Kau mengalami kecelakaan?”

“Ya, beberapa minggu yang lalu, saat aku akan menyerahkan lukisanku ini ke pameran lukisan, aku tertabrak oleh sebuah mobil, dan sekarang lah keadaanku”

“Tapi apa Dokter bilang penglihatanmu tidak akan pernah kembali lagi?”

“Dokter bilang, jika ada seseorang yang rela menyumbangkan kedua matanya untukku dan cocok, mungkin aku bisa melihat lagi dan aku bisa meraih impianku lagi untu menjadi seorang pelukis hebat”

“Jinja? Memangnya kau kenapa ingin menjadi seorang pelukis?”

“Ayahku dulu adalah seorang pelukis hebat, dia bisa membiayai kami dengan hasil menjual lukisan2 nya, dan bisa menyekolahaknku samapi ke Perguruan Tinggi, tapi Ayah meninggal 2 taun yang lalu, dan sebelum meninggal, Ayah berpesan padaku untuk bisa meneruskan impiannya menjadi seorang pelukis terkenal. Tapi melihat keadaanku yang sekarang, bagaimana mungkin aku bisa memenuhi permintaan terakhir ayah itu?”

***

Aku termenung sendiri di kamarku, aku kembali terpikirkan apa yang di katakan Eunjung kemarin.  Betapa besar impiannya untuk bisa menjadi seorang pelukis, tapi sekarang keadaan membuat dia harus melepaskan impiannya itu? Tidak, tidak boleh, dia hanya kehilangan penglihatannya dan dia masih ada kemungkinan untuk sembuh lagi, sedangkan aku??

2 hari ini aku sering bertemu Eunjung di taman, kami banyak bercerita dan aku benar2 kagum pada semangatnya yang ingin sembuh. Dan dalam batinku berkata, aku berjanji untuk membantumu bisa melihat lagi Eunjung-ssi. Supaya kau bisa meraih impianmu dan memenuhi permintaan terakhir Ayahmu, yah, setidaknya ini yang bisa aku lakukan sebelum aku benar2 pergi nanti.

Aku kembali menulis di buku harianku, dan tiba2 saja kepalaku sakit,lebih sakit lagi. Aku sempat melihat suster, Dokter dan Ibu, masuk ke kamarku, menghampiriku dengan penuh cemas dan setelah itu semuanya gelap.

Jiyeon POV

6 bulan kemudian…

Hari  ini aku tiba di Korea, tempat kelahiranku. Huaahh,,senangnya aku bisa menginjakkan kakiku di Negara tercinta ini lagi, dan yang paling membuatku semangat kembali ke sini adalah, aku tidak sabar untuk menemui sahabatku, Ji Eun. Aku langsung pergi ke rumah yang dulu kami tinggali, banyak sekali perubahan, dan aku benar2 hampir tidak mengenali tempat itu lagi. Yah, 11 taun aku tidak ke sini.

Tok..tok..tok…

“Ji Eun-ah, Ji Eun-ah…” panggilku di depan Rumah Ji Eun yang dulu.

Tidak lama kemudian keluar ahjumma yang tidak aku kenal.

“Maaf, kau mencari siapa yah?”

“Ah,,ahjumma, mianhaeyo. Jiyeon imnida, apakah benar ini rumahnya Ji Eun??”

“Ji Eun??”

“Ah, maksudku yang dulu tinggal di sini?”

“Oh,,maksudmu keluarga Ahn Suk Hwan?”

“Ah,,ya benar. Apakah kau mengenalnya? Mereka masih tinggal di sini kan?” tanyaku dengan semangat

“Ah,,anhi, aku mengenal mereka saat dulu aku membeli rumah ini beberapa taun yang lalu, lagipula Ahn Suk Hwan sudah meninggal jadi Istri dan anaknya pindah rumah dan menjual rumah ini”

“Mwo? Paman sudah meninggal? Lalu bibi dan Ji Eun pindah kemana?”

“Aku tidak tau mereka pindah kemana, aku tidak sempat menanyakannya”

Badanku terasa lemas, usahaku untuk menemui Ji Eun, tenyata gagal. Di mana dia sekarang? Paman sudah meninggal? Apakah mereka hidup dengan baik?? Ji Eun-ah, dimana kau sekarang?? Nan nomu bogoshipta…

Aku pulang, berjalan menyusuri jalan, sambil menunggu Ayah dan Ibuku menjemput, tapi di tengah jalan aku melihat seseorang yang akan menyebrang dan hampir tertabrak, aku lari dan langsung menarik tangannya.

Teeeeeeeeeeeettt…..(?)

Suara klakson mobil itu membuat semua orang yang berjalan menoleh ke arah kami.

“Agashi, gwaenchana?” tanyaku pada yeoja yang baru ku selamatkan.

“Ah, ne gwaenchana. Gomapseumnida kau telah menyelamatkanku” ucapnya dengan penuh rasa terima kasih.

“Astaga, mata itu, sepertinya aku mengenal mata itu, kenapa tatapan matanya terasa tidak asing bagiku?” tanyaku dalam hati saat mataku dan mata yeoja itu bertatapan.

“Agashi, waeyo? Kenapa kau menatapku seperti itu?”

“Ah,,anhio. Ye, choenmaneyo, syukur kalo kau tidak apa2”

“Ye, sekali lagi terima kasih, kau telah menyelamatkanku. Kalo begitu aku permisi dulu” ucapnya sambil membungkuk mengucapkan terima kasih dan pergi.

“Jamkkanmanyo..” ucapku menghentikan langkah yeoja itu.

“Ye..?”

“Agashi, boleh aku menanyakan sesuatu?”

“Ne, geroum…Mwo??”

“Kalung itu, apa kau membelinya? Ah..emm,maksudku sepertinya aku mengenal kalung itu, Ibuku pernah memberikannya padaku sepasang dan aku memberikan satu laginya pada sahabatku sejak kecil, dan ah,,ini pasangannya” ucapku sambil menunjukkan kalung ku padanya.

“Kalo begitu, kauu…Jiyeon?”

“Ye..?? Ah,,ne,aku Jiyeon. Bagaimana bisa kau mengenalku?”

“Aku Eunjung, ikutlah denganku ke rumah, ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu”

“Ne? Ke rumahmu? Untuk apa?”

“Sesampai di rumahku nanti, kau akan tau”

Aku tidak banyak bicara lagi, aku hanya menurutinya untuk ikut dengannya ke rumahnya. Aku langsung mengirim Ibu ku SMS, supaya aku tidak usah di jemput.

@Enjung’s House

“Igo..” ucap Eunjung sambil memberikanku sebuah diary.

“Ige mwoya?”

“Ini adalah diary milik Ji Eun”

“Ji Eun?? Bagaimana bisa kau mengenalnya? Kau temannya? Di mana dia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya, aku merindukannya, tolong antarkan aku bertemu dengannya, jebal..” ucapku berentetan (?)

“Bacalah diary itu dan kau akan tau di mana dia sekarang” ucapnya datar.

“Apa maksudmu?”

Eunjung tidak menjawab lagi, dan aku menurutinya untuk membaca diary itu. Aku membuka cover dari diary itu.

Ji Eun’s Life…

Fighting…..*(^_^)*

Dan aku membuka lagi lembaran selanjutnya.

19 Agustus 2010

     Jiyeon-ah, dimana kau sekarang? Aku merindukanmu. Kenapa kau tidak mengirimiku surat lagi? Apakah karna aku pindah rumah ya jadi kau tidak tau alamat rumah baruku?? Yah, mian, kalo aku tidak memberitaumu sebelumnya alamat rumah baruku.

    Jiyeon-ah, apakah kau merindukanku juga? Kapan kau kembali?? Aku membutuhkanmu sekarang, aku ingin memelukmu, berkeluh kesah padamu. Aku rindu tawamu, aku rindu bercanda denganmu, dan aku rindu melihat tingkah manjamu yang bisa membuatku selalu ingin menggodamu. Cepat kembali, karna aku tidak tau apakah aku masih sempat bertemu denganmu lagi atau tidak.

    Kau tau, hari ini Dokter mem-vonis ku terkena Kanker Otak, seperti Ayahku dulu. Dan Dokter bilang, kemungkinanku untuk bisa bertahan hidup hanya 5 persen. Dan waktu hidupku tidak akan lama lagi. Kau tau apa yang aku rasakan saat mendengarnya??? Aku seperti sedang bermimpi, dan jika itu benar2 mimpi, aku ingin terbangun dari mimpi itu dan membuat mimpi itu agar tidak terjadi. Tapi saat aku terbangun, ternyata itu bukan mimpi, karna sakit yang aku rasakan di kepalaku terasa begitu nyata. Apa yang harus ku lakukan sekarang Jiyeon-ah?? Aku ingin hidup, ingin hidup lebih lama lagi, menemani Ibuku, dan bertemu denganmu. Tapi apakah semua itu mungkin??

20 Agustus 2010

Ibuku mengetahui tentang penyakitku yang sebenarnya, padahal aku tidak ingin Ibu tau, karna aku tidak ingin membuatnya sedih. Tapi tenyata, Ibu membaca hasil diagnosaku dan tentu saja Ibu menangis histeris saat tau penyakitku. Ibu ketakutan, takut untuk kehilanganku, karna Ibu sudah di tinggalkan Ayah karna penyakit ini juga. Bukan hanya Ibu yang takut, tapi aku juga, takut jika aku harus meninggalkan Ibu sendirian.Siapa yang akan menemani Ibu nanti setelah aku pergi??

23 Agustus 2010

     Aku bertemu dengan seseorang di taman Rumah Sakit, namanya Eunjung. Dia gadis muda yang sangat berbakat, dia punya impian besar untuk bisa menjadi seorang pelukis terkenal, meneruskan impian Ayahnya yang sudah meninggal. Tapi dia kehilangan penglihatannya karna sebuah kecelekaan. Walopun begitu, semangatnya untuk sembuh sangat tinggi dan aku kagum untuk hal itu. Saat aku mendengar ceritanya, dalam hatiku berjanji kalo aku ingin menyumbangkan kedua mataku untuknya nabti, setidaknya dengan kedua mataku ini, nanti aku bisa menemuimu Jiyeon, walopun lewat tubuh Eunjung. Dan Eunjung bisa meraih impian besarnya.

24 Agustus 2010

Seperti cinta yang tidak pernah di ketahui kapan datangnya…

Begitu juga dengan ajalmu,,Kau tidak akan pernah tau kapan ajalmu tiba..

Hanya Tuhan yang Tau and hanya Dia yang bisa menentukan kapan datangnya

Kau bisa  menolak?? Tidak…

Sama seperti jika kau harus mencintai seseorang, maka kau pasti akan mencintainya

Jika kau harus membenci seseorang , maka kau pasti akan membencinya

Dan jika kau harus kehilangan seseorang, maka kau juga pasti akan kehilangannya

Suatu saat nanti, jika waktunya telah tiba….

Dan sekarang waktu dari akhir kehidupanku hampir tiba

Aku hanya bisa menunggu sampai waktu itu benar2 datang,aku tak punya pilihan

Aku hanya bisa meminta semoga Tuhan memberiku waktu yang lebih panjang lagi

Tapi apa hasilnya nanti?? Aku tidak tau…

Jika saatnya tiba nanti aku benar2 pergi, aku ingin orang2 yang mencintaiku dan aku cintai

Bisa mengiringi kepergianku dengan senyuman keikhlasan agar aku pun bisa pergi dengan tenang

Dan aku ingin ada sosok yang bisa menggantikan ku untuk menemani Ib dan membahagaikannya…

Jiyeon-ah, mungkin ini adalah tulisan terakhir yang aku tulis dalam diaryku ini, dan mungkin saat kau membacanya nanti, aku sudah tidak ada di dunia ini lagi, aku sudah berada di dunia yang lain denganmu. Tapi ada satu hal yang ingin aku ucapkan padamu, terima kasih karna kau telah menjadi sahabatku, walo hanya 7 taun kebersamaan kita, tapi bagiku kau  tetap sahabat terbaikku untuk selamanya. Selama ini aku selalu memakai kalung pemberianmu, tapi maaf jika sekarang aku tidak bisa memakainya lagi. Dan aku akan menitipkan kalung ini pada Eunjung.

Aku sudah bilang pada Dokterku, jika nanti aku mati, aku ingin kedua mataku ini di berikan pada Eunjung, agar nanti dia bisa menemuimu dan memberikan kalung ini padamu. Aku yakin kau pasti akan kembali ke sini, dan aku yakin kau pasti bisa bertemu dengan Eunjung. Dan saat kau melihat matanya, kau akan merasakan kehadiranku karna seperti yang kau bilang, bahwa hati kita sudah saling mengunci sejauh apapun jarak yang memisahkan kita, itu tidak akan pernah mengurangi rasa kedekatan kita.

Dan Jiyeon-ah, ada satu permintaan terakhir dariku untukmu. Jika aku pergi nanti, Ibuku pasti hidup sendirian, jadi maukah kau menggantikan ku untuk menjaga Ibu?? Aku yakin Ibuku pun sudah menganggapmu sebagai putrinya, jadi anggap saja dia seperti Ibu mu sendiri. Aku mohon Jiyeon-ah, penuhilah permintaan terakhirku ini, agar aku bisa hidup dengan tenang di dunia baruku nanti. Aku tidak ingin Ibu hidup sendirian setelah Ayah dan aku meninggalkannya. Kau mau kan memenuhi permintaanku??

—————————————————

Aku menutup diary itu, badanku terasa lemas, tidak percaya dengan apa yang aku baca.

“Jadi selama ini Ji Eun banyak menderita, tapi aku sebagai sahabatnya tidak ada di sampingnya?? Sahabat apa aku ini??” ucapku menangis sambil memukul-mukul kepalaku.

“Jiyeon-ssi sudahlah, kau tidak perlu menyalahkan dirimu seperti itu. Aku yakin Ji Eun juga tidak suka melihatmu seperti ini, jangan membuatnya sedih. Dia pasti sudah beristirahat dengan tenang di sana, kau hanya perlu memenuhi permintaan terakhirnya saja, aku yakin itu sudah cukup membuatnya bahagia di sana”

“Kau benar, untuk menebus kesalahanku, aku harus bisa memenuhi permintaan terakhirnya. Eunjung-ssi, boleh aku menatapmu dan memelukmu? Biar aku merasakan kehadiran Ji Eun di sini walopun hanya lewat matanya yang ada padamu sekarang”

“Tentu saja, kenapa tidak”

Aku memeluk Eunjung erat, aku seolah sedang memeluk Ji Eun, aku benar2 merindukan saat2 seperti ini, walopun pada kenyataanya aku tidak bisa benar2 memeluk Ji Eun yang sebenarnya.

Ke esokan harinya…

Aku mendatangi alamat yang di berikan Ji Eun di diarynya, itu alamat rumahnya yang sekarang.

Tok..tok..tok….

“Ahjumma….apa kau di dalam??” ucapku saat berada di depan pintu rumah.

Tidak lama kemudian keluar seseorang yang sudah agak tua dan aku mengenalnya.

“Ahjumma…..” ucapku lirih menahan tangis.

“Mian, kau siapa yah??”

“Ahjumma, aku Jiyeon, apakah kau masih ingat padaku??” ucapku sambil memeluknya erat dan menangis.

“Jiyeon-ah?? Benarkah ini kau??” Tanya ahjumma tidak percaya dan menatap wajahku cermat.

“Ne ahjumma, ini Jiyeon, aku sudah kembali”

“Omooo…kemana saja kau selama ini, nak? Bibi merindukanmu”

“Ne, nado ahjumma. Maaf karna aku baru bisa menemuimu sekarang”

“Ah,,tidak apa2, kau sudah datang pun bibi sudah sangat senang, nak. Tapii,,,Ji Eun-ah” ucapnya mulai melemah.

“Ne ahjumma, aku sudah tau tentang Ji Eun, bahkan aku tau alamat rumah ini darinya”

“Jinja? Bagaimanan mungkin? Kapan kau bertemu dengannya??”

“Ah,,anhio, aku tidak bertemu dengannya, ahjumma bolehkah aku masuk ke dalam?”

“Astaga, maafkan bibi,nak. Saking  tidak percayanya bahwa ini benar2 kau, bibi sampai lupa menyuruhmu masuk. Ayo masuklah, anggap seperti rumahmu sendiri”

“Ah,,ye ahjumma”

Aku melihat sekeliling rumahnya, sangat kusam, dan agak berdebu. Astaga, apakah selama ini Ji Eun tinggal di rumah yang seperti ini?? Dan bibi tinggal sendirian dalam rumah yang sudah kusam ini??

“Kau ingin minum apa?”

“Ah,,tidak usah bibi, tidak usah repot2. Bibi, kemarilah, ada yang ingin aku tunjukkan padamu”

Bibi duduk di sebelahku dan mulai membuka diary yang aku tunjukkan padanya.

Beberapa menit kemudian setelah bibi selesai membaca diary itu, dia hanya menangis, dan aku memeluknya.

“Ji Eun-ah…..” ucapnya berteriak memanggil nama Ji Eun.

Aku tidak bisa menahan air mataku, aku bisa merasakan kesedihan yang di rasakan bibi saat itu, pasti sangat sakit.

“Bibi, tinggalah denganku sekarang, ini adalah permintaan terakhir Ji Eun padaku, untuk menjaga bibi. Aku akan menjaga bibi dengan baik2, aku mohon tinggalah di rumahku.

“Tidak, nak. Bibi tinggal di sini saja, bibi tidak ingin merepotkanmu dan keluargamu”

“Bibi, selama ini aku tidak pernah ada saat Ji Eun membutuhkanku, sekarang saatnya aku membantunya, memenuhi permintaan terakhirnya, aku mohon ini demi Ji Eun”

“Tapii…”

“Benar Lee Hye Young tinggalah dengan kami, bukankah kita adalah keluarga???” ucap Ayahku yang tidak lama kemudian masuk dan menghampiriku dan bibi.

“Jung Hye Young, Oh Kyung So?”

“Lee Hye Young maaf kami baru menemuimu sekarang, aku turut berduka atas meninggalnya Ji Eun, maaf aku tidak ada di sini menemanimu saat dia pergi” ucap Ibuku sambil memeluk bibi dan mereka menangis.

Setelah aku, Ibu dan Ayahku membujuk, akhirnya bibi mau tinggal bersama kami. Aku berjanji dalam hatiku, aku akan menjaga bibi dengan baik, seperti Ibuku sendiri, demi memenuhi  permintaan terakhir Ji Eun, walopun aku tau mungkin ini tidak cukup untuk menebus semua penderitaan Ji Eun saat dia membutuhkanku di sampingnya.

Di makam Ji Eun…

“Ji Eun-ah, aku datang. Maaf aku baru menemuimu sekarang, lihat aku datang bersama orang tuaku dan Ibumu. Aku janji aku akan menjaganya dengan baik, dan kau harus berjanji, kau akan hidup dengan tenang di sana. Kau tidak perlu khawatir dengan Ibumu, aku akan menggantikanmu untuk bisa membuatnya bahagia”

Sesaat terasa angin yang sangat dingin melintas di belakangku, mungkinkah itu pertanda kehadiran Ji Eun di sana?? Aku tau, mungkin kau ingin memberitau bahwa kau sudah berisitirahat dengan tenang sekarang di sana Ji Eun, dan harus kau tau aku akan selalu merindukanmu, bahkan sekarang, aku sangat merindukanmu, Ji Eun…Selamat Jalan…

~ The End ~

 

Image and video hosting by TinyPic

Entry filed under: Ahn Suk Hwan, FanFiction, Friendship, G, Indonesia, IU, Jung Hye Young, Lee Hye Young, Life, Oh Kyung So, T-ara. Tags: .

I Love You Baby Message on The Bottle

3 Comments Add your own

  • 1. Mieyonn - 신아미  |  August 20, 2011 at 11:45 PM

    wah, sedih banget TT_____________TT

    Reply
    • 2. pinky_girl  |  August 21, 2011 at 1:12 AM

      ia de,,ka bkinnya az merinding,,amit” klo ampe kya gtu,heuheu…

      Reply
  • 3. nothing :)  |  December 26, 2012 at 2:44 PM

    di awal2 ada beberapa typo ._. ,tapi keren lah sedihh :’)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 513,030 hits

Day by Day

August 2011
M T W T F S S
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: