[FF//HOW CAN I ?//ONE SHOOT]

August 9, 2011 at 9:27 AM 3 comments

Tittle                : HOW CAN I..??
Main Cast        : Park Jiyeon
Other Cast       : Choi Minho
Genre              : Angst, Tragedy
Length             : One Shoot
Rating                         : PG – 15
Author             : Qisthi Nur Amalia
Note                : FF kali ini terinspirasi dari sebuah dorama jepang yang berjudul ‘One Liter Of Tears’. Ini dorama keren banget, sampai bikin aku nangis *curcol. Disini saya memfokuskan pada penyakitnya. So, jangan protes kalau kisah cintanya saya percepat, oke

***

Kala senja mulai menyongsong

Menyambut datangnya sang rembulan yang berselimut awan hitam

Kilauan bintang berpedar jenaka

Sangat cantik..

Sejenak, ku pandang lekat langit malam hari itu. Begitu indah dan sangat cantik, dengan cahaya bintang yang terhampar di atas sana. Ku hela napas panjang dan tak lupa kembali tersenyum. Kemudian ku gapai pena yang sempat ku biarkan tergeletak di atas diaryku. Ku coba untuk menggerakan lengan, namun sulit. Semakin keras ku coba namun justru itu semakin membuatku tersiksa.

Seoul 25 Mei 2008

Tersenyum.

Ya, mungkin itu yang bisa aku lakukan

Saat perlahan ‘hal ini’ semakin membuatku mati rasa

Membunuh seluruh organ tubuhku secara perlahan

Rasanya sakit

Namun aku hanya bisa tersenyum

Karena aku tahu, ada hal baik yang Tuhan sembunyikan untukku.

***

Huft !

Sangat lelah, namun ini cukup membuatku bisa bernafas lega. Ya, mungkin hanya hal ini yang dapat aku lakukan. Mengisi lembar demi lembar kertas di diaryku. Mengisi kertas itu dengan hal yang aku lakukan setiap harinya.

Hem !

Ini konyol bukan ?

Namun, hanya inilah yang dapat aku lakukan. Karena ternyata, umurku saja dapat di prediksi. ‘Spinocerebellum Degeneration’ sebuah penyakit yang kini tengah bersarang di tubuhku. Menghancurkan setiap organ tubuhku secara perlahan namun pasti.

-Flash Back-

 

20 Maret 1998

Hari ini, seperti biasanya aku bangun lebih awal dari seluruh orang yang ada dirumahku. Segera mengambil kedelai dari lemari es dan mencucinya sampai bersih. Ya, beginilah keseharianku, membantu ayahku untuk membuat tahu.

“Jiyeon~aa, kau sudah bangun nak ?” Ucap ayahku pagi itu. Mengusak rambutku lembut.

Emm~

Aku menyukainya. Lalu, aku hanya mengangguk dan memberikan kedelai yang telah di cuci pada ayahku.

Tak berapa lama, adikku bangun dan menghampiri kami. Dia hanya diam di sudut ruangan dan melihat apa yang tengah kami kerjakan.

“Mavin~aa, kau mau membantu kakak, eoh ?” Tanyaku pada Mavin yang dengan cepat mengangguk dan datang menghampiriku.

“Perlu bantuan apa dari Mavin, kak ?” Tanyanya, dengan senyum yang terhias di wajahnya.

“Berikan tahu yang sudah di cuci ini pada ibu, yah !” Perintahku yang langsung di sambut anggukan semangat darinya.

Namun,

‘BRUK’

Semua tahu yang hendak ku berikan pada Mavin, tak sengaja ku jatuhkan. Entah apa yang terjadi padaku, namun aku tak memperdulikannya dan kembali bekerja. Setelah sebelumnya meminta ma’af pada ayah atas kelalaianku.

22 Maret 1999

Hari ini, aku terjatuh saat hendak berangkat kesekolah seperti biasanya. Dan anehnya, akhir-akhir ini hampir setiap hari aku terjatuh dan kehilangan keseimbangan. Saat menyadari aku terjatuh dan mengalami pendarahan di sekitar dagu, dengan cepat ibu membawaku ke rumah sakit. Aku di obati seperti biasanya, namun yang membuatku aneh adalah permintaan dokter yang menyuruhku untuk tes berjalan.

Pertama, aku hanya di suruh berjalan lurus dan tentu saja aku bisa melakukan itu. Lalu, setelah itu aku disuruh berdiri dengan satu kaki, dan ternyata itu membuatku beberapa kali hampir oleng terjatuh dan tak dapat mengkonsentrasikan keseimbangan tubuh.

“Kau harus sering check up yah..!” Perintah dokter.

Aku tertegun sejenak mendengar ucapan dokter. Apakah penyakitku parah ? bukankah aku hanya jatuh ? lalu mengapa harus sering check up ?. Segera aku menoleh kea rah ibuku yang hanya mengangguk seolah menyuruhku untuk mengikuti keinginan dokter.

“Kau juga harus menulis setiap hal yang kau lakukan dalam sebuah buku ! “ Sambung dokter itu lagi.

Dan lagi-lagi aku hanya mengangguk. Setelah selesai di periksa aku pun pulang bersama ibuku.

***

Saat sedikit demi sedikit

Kau mulai merenggut masa indahku

Hati ini hancur

Kau biarkan aku terjatuh.

Dan merasakan sakit itu sendiri.

29 Oktober 1990

 

Hari ini beberapa kali aku jatuh dan merasa jika tanganku mati rasa dan tak dapat aku gerakan.

“Minum obat dulu nak..!” Perintah ibuku, lalu aku hanya mengangguk dan segera meminum obatnya.

“Bagaimana hasil kesehatanku, bu ?”

“Kau sehat, tenang saja..” Jelas ibuku, namun entah mengapa aku melihat raut wajah sedih darinya.

“Kenapa bu, ada apa sebenarnya denganku ?”

Aku semakin mendesak ibuku, namun ia hanya menangis terisak dan itu semakin membuatku bertanya-tanya.

“Kau baik-baik saja Jiyeon, tenanglah….” Tegas ibuku, lalu bergegas pergi meninggalkanku yang hanya termenung dengan sejuta tanya.

Ada apa ?

Apa yang terjadi padaku sebenarnya ?

***

1 April 1990

 

Aku mulai melanjutkan lagi hidupku seperti biasa dan melupakan kejadian itu begitu saja.

Namun, lagi dan lagi aku tak mengerti dengan diriku sendiri. Saat tiba-tiba tanganku mati rasa saat aku menulis. Namun, hal itu tak berlangsung lama karena setelah beberapa menit tanganku bisa bergerak dengan benar lagi.

Sepulang sekolah, aku pergi dulu ke toko buku untuk membeli beberapa buku yang harus aku beli untuk mengerjakan beberapa tugas sekolah.

Namun, lagi-lagi aku merasa limbung dan kembali terjatuh dan ternyata ini lebih menyakitkan.

“appo….” Aku meringis seraya memegangi dahiku yang mengelurkan banyak darah.

Tuhan ! Ada apa denganku ?

Apa sebenarnya penyakitku ?

2 April 1990

Dengan tergesa, ku buka laci meja rias ibuku. Entah apa yang membawaku untuk datang ke tempat ini. Hanya saja, aku ingin tahu apa sebenarnya hasil tes kesehatanku.

‘DEG’

‘Spinocerebellum Degeneration’

“Penyakit apa ini ?”

Aku sedikit bingung, aku hanya baru pertama kali mendengar nama penyakit seperti ini dan aku harap ini bisa di sembuhkan. Aku berjalan cepat menuju ruang keluarga untuk menemui ibuku.

“Ibu, apa maksudnya ini ?” tanyaku padanya seraya menyerahkan hasil tesku.

Ibuku tak menjawab, dia hanya menangis dan merengkuh tubuhku dengan sangat erat.

“Ma’af sayang…..Ma’af karena ibu berbohong selama ini….” Tutur ibuku.

Aku semakin heran. “Maksudnya apa, bu ? Sebenarnya apa yang terjadi padaku ?”

“Spinocerebellum Degeneration, itulah penyakitmu, nak …” Ucap ibuku dengan linangan air mata yang tak henti menetes dari matanya yang akhir-akhir ini sering terlihat bengkak dan sembab.

“penyakit apa itu, bu ?” tanyaku pada ibuku yang kini mulai menghela nafas .

“penyakit ini akan sedikit demi sedikit menyebabkan penderita kehilangan keseimbangan tubuh, dan pada akhirnya akan lumpuh dan—-

“dan apa, bu ?” tanyaku lagi, saat ibuku tiba-tiba berhenti berbicara….

Ibuku menunduk dalam dan kembali terisak. “ berujung kematian “

‘Deg’

Dengan cepat aku menggeleng dan mulai menangis.

“inikah penyakitku ? inilah penyakitku ? mengapa tuhan memilihku untuk menanggung penyakit ini, bu…? Mengapa “

Aku semakin menangis terisak, ibuku dengan cepat merengkuh tubuh ini yang semakin bergetar .

Saat perlahan aku tak bisa berdiri dan berjalan dengan benar.

Saat tangan ini tak dapat menulis dengan baik.

Saat pengelihatanku mulai rabun dan terasa berputar.

Saat aku tak bisa dengan jelas berbicara.

Saat semua sarafku tak dapat bekerja dengan baik.

Saat aku hanya terbaring di ranjang dengan huruf alpabetik yang membantuku berbicara.

SPINOCEREBELLAR DEGENERATION..

Kerusakan pada otak.

***

Aku hanya gadis 15 tahun

Hanya gadis 15 tahun

Masihkah kau tega membiarkanku menanggung penyakit ini tuhan ?

Rasanya sakit dan menyiksa.

Saat semua orang tersenyum memaknai hidup dengan kebahagian.

Sementara aku,

Hanya mencoba tersenyum  dalam tangis dan jeritnya hati.

Menahan perih dan rasa sakit yang perlahan membuatku semakin mati rasa.

Lalu perlahan….

Aku pun mati.

25 Desember 1990

Ku seret langkah kaki ini walau sedikit terasa beku.

“aku mohon, jangan kambuh sekarang…huks..” rancauku, sambil terus menyeret langkah kaki yang semakin tearsa beku.

Kau tahu rasanya sangat sakit. Aku ingin berteriak sekencang mungkin, namun aku tahu itu percuma. Karena toh, pada akhirnya penyakit ini tak akan sembuh dan tak ada obatnya.

‘Bruk’

Hanya bisa meringkuk di atas aspal panas yang tersengat mentari siang itu. Tak bisa bergerak ataupun bangkit. Penyakit ini telah total membuat seluruh tubuhku mati rasa dan beku tak adapt aku gerakan.

Tuhan !

Aku hanya gadis 15 tahun yang masih ingin hidup dan merasakan indahnya masa remaja.

Mengapa ?

Mengapa kau pilih aku untuk menanggung penyakit ini ?

Mengapa ?

Mengapa harus cerebellum degeneration.

Penyakit aneh yang tak akan pernah ada obatnya.

Karena aku hanya gadis 15 tahun..

Yang rapuh dan sebentar lagi akan hancur berkeping.

 

29 April 2000

 

Hari ini, usiaku genap 16 tahun. Semua keluargaku dengan semangat membuat pesta untukku. Aku hanya dapat menangis terharu melihat mereka semua begitu mencintaiku dengan tulus, berusaha membuatku tetap semangat dalam menjalani hidup ini.

“kak, selamat ulang tahun….” Ujar mavin adikku satu-satunya.

Lagi-lagi aku hanya dapat tersenyum melihat tingkah adikku yang satu ini. walaupun dia masih berumur 6 tahun, namun dia begitu mengerti akan keadaanku.

Jadi,

Bagaimana bisa aku mati jika aku harus meninggalkan semua orang yang begitu mencintaiku ?

Sungguh, aku tak ingin melihat mereka semua menangis….==’

“terima kasih, sayang…” ucapku, seraya mengecup keningnya yang hanya terkekeh dan menyerahkan sebuah kotak yang dibalut bungkus kado motif bunga berwarna ungu muda. Sangat cantik, di padu dengan pita kupu-kupu dengan warna yang senada.

Tuhan,

Lihatlah adikku ini.

Aku mohon jagalah dia,

Jika nanti kau panggil aku untuk menuju tempatmu..

“ayo buka, kak ! aku harap kau suka, hhe..” kekehnya lagi seraya mengerjap-ngerjapkan matanya lucu.

Ku buka bungkus itu perlahan dan mulai membuka kotak kecil berwarna cokelat didalamnya.

“kalung ?”

Aku tertegun sesaat menatap kalung cantik yang di berikan mavin untukku. Sebuah kalung emas putih dengan bandul berbentuk bintang yang sangat cantik.

“kak, suka ? “ tanyanya antusias.

Aku mengangguk mantap, kemudian merengkuk tubuh mungil dihadapan itu dengan erat.

“terima kasih, sayang…terima kasih..huks..”

Lagi dan lagi aku hanya menangis menahan haru yang teramat sangat. Bahkan anak sekecil ini pun dapat membuatku merasa lebih menikmati hidupku yang tinggal beberapa tahun ini.

“aku harap kakak suka, aku juga berharap kakak bisa terus tersenyum seperti bintang yang selalu berpedar cantik dengan kilatan cahaya yang sangat indah jika mulai menyinari malam. Karena aku tahu senyuman kakak adalah hal yang paling indah dari bintang untukku…mavin sayang sekali sama kakak….” Tuturnya panjang lebar.

Sementara aku hanya mengangguk dan semakin menangis terisak. Mengecup kening mavin lagi dan lagi.

“terima kasih….kau tahu, kau membuat kakak kembali menikmati apa arti hidup. Terima kasih, Mavin !”

Lihatlah Tuhan.

Bahkan kini Malaikat kecilku pun begitu menyayangiku.

Kini aku sadar, ada hal yang indah yang kau sembunyikan di balik penyakitku.

Cinta dari semua orang yang tulus menyayangiku.

Membuatku mampu mengahadapi Hidup ini..

Karena kini aku tahu..

Akan ada uluran tangan yang membantuku,,

Jika suatu waktu aku terjatuh J

5 November 2002

 

Semakin hari penyakit itu semakin membuatku frustasi dan merasakan sakit yang luar biasa. Bahkan kini aku hanya dapat duduk di kursi roda tanpa bisa lagi menggerakan kakiku yang kini telah mati total. Kalian tahu, semakin hari penyakit ini semakin membuatku taku, takut karena aku masih  saja rapuh dan tak dapat berdiri dan melangkah ke depan.

“ mavin, bisa antar kakak ketaman kota eum ?”

Aku mulai mendorong kursi rodaku untuk mendekati mavin yang saat ini tengah belajar di sebuah meja di kamarku.

Yah, memang akhir-akhir ini ibu dan ayahku menyuruh mavin untuk sekamar denganku. Mungkin, karena mereka terlalu takut jika tiba-tiba penyakitku kabuh.

“ayo, kakak mau jalan-jalan yah…” ujarnya.

Aku hanya memanggangguk dan kembali diam. Bahkan saat mavin mendorong kursi rodaku untuk keluar rumah dan menyusuri jalan menuju taman yang tak terlalu jauh dari rumah kami. Lagi dan lagi aku hanya dapat tersenyum, melihat gadis-gadis remaja seumuranku yang tengah bercanda dan bersenda gurau dengan sahabt-sahabat mereka.

Jujur, jauh di dalam hatiku aku sangat iri. Namun aku harus tetap kuat, kuat agar membuat orang-orang di sekitaku pun kuat dan selalu tersenyum.

Walau hatiku kini menangis dan menjerit, namun bibir ini hanya mampu tersenyum.

“terima kasih..” ucapku, saat mavin mengelus pundakku seolah berkata supaya aku untuk tetap tegar.

Ku hirup udara seoul sore itu dalam-dalam. Menatap senja yang mulai menyongsong. Saat perlahan mentari terbenam di ufuk barat dengan warna jingga keunguan yang menghiasi awan senja kini.

Aku termenung, menikmati indahnya senja ini. begitu indah dan menakjubkan.

“kak, mavin beli air minum dulu yah ? kakak baik-baik disini oke !” nasihat mavin yang membuatku hanya terkekeh.

Anak ini selalu saja berlebihan jika sudah mengkhwatirkanku. Aku tak pernah marah jika dia bertindak seperti ini, karena aku tahu dia hanya sangat menyayangiku.

Ku gerakan kursi roda menyusuri taman yang agak ramai. Mungkin karena ini hari libur jadi banyak sekali pasangan yang memenuhi taman hari ini.

‘Bruk’

Tiba-tiba saja aku terjatuh saat tanganku lagi-lagi mati rasa, membuat kursi rodaku tak terkendali, lalu oleng dan terjatuh.

Ingin sekali aku bangkit dan berdiri. Namun terasa sulit karena kini seluruh saraf di tubuhku mulai tak berfungsi. Sampai seseorang mengulurkan lengannya untuk menolongku. Aku hanya diam, bahkan hanya untuk menggerakan lengan ini saja sangat sulit. Sangat beku.

“KAKAK….!” Teriakan mavin setidaknya dapat membuatku lega dan berusaha tersenyum walau kini tetesan bening itu kembali membasahi pipiku.

Mavin kemudian membantuku berdiri dan di bantu oleh seorang pria yang tadi mengulurkan tangannya untuk membantuku.

“terima kasih sudah membantu kami, kak,,,” ujar mavin seraya membungkuk pada namja yang kini hanya tersenyum.

Kyeopta ! Jeongmal.

Saat mata elang itu berpedar dan bibir itu melengkung dengan sempurna membentuk seulas senyuman.

“biar aku antar kalian sampai kerumah yah…!” ucap namja itu, lalu mengantarkami menuju rumah.

“terima kasih…”

Kali ini ku coba untuk berbicara walau aku tahu namja yang kini tengah berjalan di samping mavin menatapku heran.

“sama-sama. Aku minho..”

Namja itu mengulurkan tangannya ke arahku, dengan susah payah ku coba untuk mengangkat lengan ini dan membalas uluran lengannya.

“park jiyeon, kau bisa memanggilku jiyeon..”

“senang bertemu denganmu…”

Hari ini.

Kau kirim lagi seorang malaikat untukku Tuhan.

Kini, aku sangat tahu jika kau punya rencana yang sangat baik untukku.

Terima kasih,

Karena mulai sekarang aku akan terus tersenyum, melangkah kedepan dan tetap berjuang.

***

19 Agustus 2007

Semakin lama, kini aku mulai bisa menerima penyakit yang ia titipkan lewat tubuhku ini. kini aku mulai menikmati sisa hidupku walau terkadang aku harus merasakan sakit yang luar biasa. Namun lagi dan lagi genggaman tangan itu mampu membuatku kuat dan terus tersenyum. Walau hati ini menangis dan menjerit tapi bibir ini tetap tersenyum. Walau air mata terus mengalir, walau rasa sesak itu terus menghimpitku namun bibir ini lagi dan lagi hanya tersenyum.

[ “ maukah kau menjadi pacarku ?”

“kau yakin ? aku ini cacat dan sebentar lagi mungkin akan mati “

“aku tak perduli, karena untukku kau itu sempurna. Tak ada cacat walau sedikit. Aku mencintaimu tulus, aku hanya ingin terus menjagamu saat kau terjatuh, jiyeon…”

“kau yakin ?”

“I’am sure, will you be my girlfriend..?”

“yes, I will..” ]

Potongan manis itu masih dapat ku ingat walau itu sudah 1 tahun yang lalu. Yah, aku mungkin gadis yang bisa di bilang beruntung karena dapat di cintai dengan tulus olehnya – Minho. Namja yang dengan setia menemaniku setiap saat. Bahkan dia tak pernah mengeluh saat aku tiba-tiba tak dapat menggerakan seluruh organ tubuhku.

Aku mencintainya.

Sangat mencintainya.

Tuhan,

Jagalah dia. Karena kini aku tahu jika dia adalah nafas untukku.

***

28 Agustus 2008

Penyakit itu semakin hebat membuat seluruh bagian tubuhku kini benar-benar mati. Saat kini aku hanya dapat terbaring di rumah sakit tanpa bisa bergerak. Hanya wajahku yang dapat bergerak dan jariku yang masih berfungsi untuk menujuk huruf alpabetik yang membantuku untuk berbicara.

Sementara minho dan semua keluargaku dengan setia menemaniku setiap waktu tanpa kenal lelah.

Ku kerjapkan mataku saat cahaya mentari masuk lewat celah jendela yang sengaja di buka.  Ku tolehkan wajahku kearah samping dan mendapat minho yang tertidur sembari menggenggam lenganku. Menangis, yah lagi dan lagi aku hanya bisa menangis. Sungguh, aku hanya gadis tak berguna yang hanya dapat menyusahkan orang lain. Bahkan tega membuat minho lelah untuk mengurusiku yang sebentar lagi mungkin akan mati.

“hey kau sudah bangun eum “

Aku hanya mengangguk dan tersenyum, saat minho mengusak rambutku dan mengecup keningku.

Tes tes~

Lagi dan lagi air mata itu mengalir di pipiku. Dengan segera minho mengambil huruf alpabetik untuk membantuku berbicara, namun dengan segera ku tepis dengan perlahan.

“se..sela…matkan..a..aku..mi..n..nho…” ujarku walau sangat terbata.

Kini minho mulai merengkuh tubuhku erat dan semakin erat saat ku rasakan punggungku hangat oleh air matanya.

“aku akan menyelamatkanmu jiyeon…aku berjanji….”

“a…aku….me…men…cintai..m..mu…”

“aku juga…bahkan sangat jiyeon. Bertahanlah, aku mohon bertahanlah untukku ne…!”

Aku hanya dapat mengangguk walau aku tahu itu sangat tidak mungkin.

“hey,  will you marry me ?”

Aku tercengang mendengar penuturannya, namun aku yakin jika dia bersungguh-sungguh saat ia mengecup keningku dan memperlihatkan sepasang cincin emas putih yang sangat cantik.

Aku menangis, ingin sekali mengatakan ia namun aku tahu itu sama saja dengan aku menyakitinya, aku hanya tak ingin jika ia suatu saat menyesal menikah denganku yang sebentar lagi mungkin akan mati.

Dengan cepat aku menggeleng dan kembali menunduk. Namun tangan minho menarik daguku agar mataku dapat melihat matanya.

“aku yakin jiyeon. Aku mohon, aku hanya ingin kau menjadi milikku seutuhnya…aku tak perduli jika suatu saat orang mencemoohku karena perbuatanku namun ini semua aku lakukan karena aku sangat mencintaimu, jiyeon. will you marry me…”

Aku mengangguk, dan dengan terbata aku berkata. “ i…wi..will..”

Dan tak berapa lama dari situ kami pun menikah dan resmi menjadi sepasang suami istri yang sah. Aku bahagia, sungguh bahagia. Karena kini aku tahu jika minho memang dengan tulus mencintaiku. Seorang yeoja rapuh dan sangat lemah.

“bisakah kau mengajakku ke sungai han ?”

Lalu minho mengangguk dan menggendongku di punggungnya. Hem~ seperti inilah dia memanjakan aku. Terkadang aku merasa menyesal karena telah menikah dengannya. Bukan menyesal karena aku tak lagi mencintainya tapi menyesal karena ternyata aku tak dapat menjadi seorang istri yang dapat membahagiakan suaminya. aku sangat mencintai minho lebih dari segalanya dan aku juga tahu jika minho pun sangat mencintaiku.

Setelah sampai di sungai han, dia mendudukanku di antara hamparan rumput yang berwarna hijau. Lalu dia duduk di belakangku seraya memelukku dari arah belakang. Menumpu dagu lancipnya di bahuku.

Tuhan~

Aku mencintainya.

Sangat mencintainya.

Aku mohon jagalah dia dengan baik jika suatu saat kau bawa aku.

Biarkanlah ia untuk tetap tersenyum, karena aku tak ingin dia menangis.

“minho..?”

“eum, wae ?”

“ani..”

Hening.

“minho..”

“kenapa ? ada yang sakit eum ?” ujarnya seraya mengelus  pipiku dengan jemari kokohnya.

“maukah kau mengabulkan permintaanku ?”

“apa pun maumu, jiyeon..”

“carilah penggantiku, jika suatu saat aku mati..”

‘Grep’

Hangat saat tiba-tiba minho memelukku lebih erat, semakin menyurukan kepalanya di leher sebelah kananku.

“tak akan pernah jiyeon, tak akan pernah aku mengabulkan permintaanmu…”

“wae ?”

“aku tak bisa, aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu…jangan berbicara seperti itu..!” tegasnya seraya membalikan tubuhku dan menghadapkannya tepat kea rah dirinya.

“aku hanya tak ingin kau sedih minho, aku sangat mencintaimu. Berjanjilah untukku…jebal…” rajukku lagi

“jiyeon, kau tahu mengapa aku tak bisa mengabulkan permintaanmu eum ?” tanyanya, lalu aku hanya menggeleng

“karena tak akan pernah ada yeoja lain yang mampu mencintaiku seperti kau mencintaiku dan tak akan pernah ada yeoja manapun yang dapat memiliki besarnya cintaku padamu. Karena sampai kapanpun kaulah yang terbaik…..lalu, bagaimana mungkin aku bisa mencintai yang lain selain kamu..”

Ku peluk tubuhnya erat.

Tuhan ~

Mengapa kau kirimkan malaikat sebaik dia.

Yang mencintaiku dengan tulus.

Kini aku semakin sadar.

Jika apa pun yang kau berikan pasti ada kebaikan didalamnya.

Thanks GOD J

Hening.

Cukup lama kami berdiam diri di tempat itu, sampai sesuatu yang aneh mulai mengusikku.

“erghhtggght…appo…”

Aku mulai meringis, saat tiba-tiba kepalaku sangat sakit. Terasa tertusuk beribu jarum tajam yang kasat mata. Mencabik-cabik isi kepalaku dan seluruh bagian tubuhku dengan kuat. Rasanya SANGAT SAKIT.

“jiyeon~aa, kau baik-baik saja ?” minho mulai terlihat panic, saat melihatku mengerang seraya memegangi kepalaku.

“sakit..rasanya mau pecah….sakit minho…erghhht..~~” ku cengkram kemeja minho erat-erat berharap rasa sakit ini akan menghilang, namun ternyata, NIHIL.

“aku bawa kau kerumah sakit yah..”

Ku tepis lengannya cepat, saat ia hendak mengangkat tubuhku.

“aku ingin tetap di sini…erght…aku..erght…mohon…”

“tapi kau sakit…”

“mungkin ini sudah waktunya minho…”

“STOP ! JANGAN BICARA SEPERTI ITU…!!!” minho membentakku cukup keras membuatku menangis terisak seraya menahan sakit yang teramat sangat. Lalu minho memelukku erat dan mengelus rambutku penuh sayang.

“menjeritlah jika kau mau jiyeon….sebutlah namaku dengan keras….”

“MINHO…..ERGHT…APPO….SARANGHAE…..”

“naddo….nan saranghae jeongmal…”

***

-Author POV-

Hembusan angin sore itu begitu dingin dan terasa menyesakan. Menyisakan dedaunan kuning yang terjatuh di atas hamparan rumput hijau yang menjadi saksi bisu. Terbenamnya mentari di ufuk barat sangat indah, seiring dengan hembusan nafas terakhir seorang yeoja cantik yang kini  terpejam dalam damainya alam mimpi yang akan sangat panjang. Sementara seorang namja yang sedari tadi memeluk yeoja itu hanya tersenyum. Menyisipkan anak poni yeojanya yang kini tertidur untuk selamanya. Mengecup kedua mata cantik yeoja itu, beralih ke hidungnya, pipinya lalu berakhir di bibirnya yang terasa dingin.

Berbisik mesra di telinga sang yeoja yang masih asik terpejam.

“saranghae yeongwonhie…nan saranghae jeongmal…”

END

Jelek ? Tak apalah, hhe

Saya saja kurang begitu dapet feel dengan nie FF J

Entry filed under: Angst, FanFiction, Indonesia, Life, One Shoot, PG, SHINee, T-ara, Tragedy. Tags: .

I Miss You, Lee Ji Eun ( Prologue ) Pasar Am in Loph ( I’m in Love )

3 Comments Add your own

  • 1. pinky_girl  |  August 9, 2011 at 11:16 AM

    adeee…bagus ko first FF nya di sini….;) jgn lupa bwt d share lg yah…..thumbs up…^^

    Reply
  • 2. della  |  August 10, 2011 at 1:41 PM

    wah…. keren keren…
    sebenernya belum pernah nonton one letter of tears tapi pernah denger ceritanya..
    mavin jadi inget sama t-ara hello baby.. haha🙂

    Reply
  • 3. DHiyah Zt DoUx  |  October 14, 2011 at 10:23 AM

    bkin mewek =(

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat datang di Miss Fanfiction, dunianya para Fanfiction Loverz...
Sekedar informasi kalau blog ini di buat pada tanggal 29 July 2011 dan di buat khusus untuk para kalian yang punya hobi nulis FF ataupun suka baca FF.

Blog Stats

  • 512,714 hits

Day by Day

August 2011
M T W T F S S
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

❖ Folder ❖

Recent Posts

Affiliation

Kodak Loverz Indo Boyfriend Indonesia Shawol - ELF Indo Breathe Park Jiyeon FanFiction Korean Fanfiction Indo Korean Indo Zone : Life Love happiness 501Island 우리 Dream World Indonesia Fanfiction Kpop Quinnie’s Rainbow yoonfany Shivia_Khea World Komunitas Pecinta Korea SMTown Lovers Indonesia

Join Us on Facebook

Don’t be a Plagiarism…;)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 184 other followers


%d bloggers like this: